24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Iri Dulu, Berusaha Kemudian | Catatan Mahasiswa yang Biasa-Biasa Saja

Gusti Ayu Putu Sri Swandewi by Gusti Ayu Putu Sri Swandewi
April 7, 2022
in Esai
Iri Dulu, Berusaha Kemudian | Catatan Mahasiswa yang Biasa-Biasa Saja

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dari karya Nana Partha

Malu rasanya ketika melihat kawan-kawan sudah menyandang juara dan dicap sebagai mahasiswa berprestasi. Malu rasanya ketika mendengar nama-nama mereka disebut sebagai contoh penggerak lembaga.

Sedangkan saya ini apa? Memang saya sudah menjadi mahasiswa. Namun mahasiswa biasa-biasa saja, yang pakai seragam, lalu keluar-masuk kampus begitu saja. Tak ada yang memandang saya. Apalagi jadi mahasiswa terpandang. Bahkan  nama pun sering dilupa.

“Eh, itu yang duduk di pojok itu, siapa ya?” kata seorang dosen. Pertanyaan seperti itu tak hanya sekali, tak hanya dari satu dosen, tapi berkal-kali, dan dari banyak dosen.

Duh. Betapa menyedihkan. Tidak ada yang lebih menyedihkan dari nama-nama yang selalu dilupa. Tidak ada yang lebih memprihatinkan dari sosok yang senantiasa dianggap biasa-biasa saja.

Pernah saya berpikir mungkinkah proses yang biasa-biasa saja, yang saya jalani hari ini akan membuat saya menjadi orang sukses di masa depan? Apakah otak saya akan encer dengan sendirinya di kemudian hari?

Mungkinkah, dengan kuliah biasa-biasa saja, saya akan menjadi mahasiswa kritis dan memperoleh gelar cumlaude?

Tentu tidak. Egois rasanya jika menginginkan sesuatu tanpa dibarengi dengan aksi. Kita ada  di dunia nyata, bukan di negeri dongeng. Jika menginginkan sesuatu hanya dengan menggoyangkan tongkat ajaib, kemudian simsalabim abracadabra, sesuatu yang kita inginkan tiba-tiba muncul dengan sendirinya, jelaslah itu mimpi.

Heeei, bangun, Sister! 

Mungkin itu bisa terjadi karena ada jalur yang bernama keberuntungan. Namun apakah keberuntungan selalu datang di saat kita benar-benar membutuhkannya? Kemungkinannya sangatlah jauh.

Semua itu rencana Tuhan. Kita tidak tahu apa rencana Tuhan dan bagaimana Tuhan memberi jalan. Yang jelas keberuntungan itu layaknya permainan undian. Kita tidak tahu apakah nomor yang akan muncul sesuai dengan nomor yang kita pegang.

Covid-19, Paman Meninggal, Stres dan Meredakan Stres || Cerita Mahasiswa Rantau dari Undiksha

Ketika saya bertemu dengan mereka yang berprestasi, saya merasa jauh. Di sisi lain saya agak jengah juga mendengar jika seseorang dibangga-banggakan oleh banyak orang. Saya iri dan hanya bisa mengeluh.

Padahal saya tahu pencapaian yang mereka dapat tidak diperoleh secara instan. Mereka lakoni dengan proses latihan yang tidak kita ketahui.

Sebagai rekan yang dasarnya memiliki tujuan yang sama yaitu lulus dengan nilai yang memuaskan, saya ternyata tak punya usaha apa-apa. Beda dengan mereka. Mereka berusaha untuk terus berkembang dengan selalu berlatih, berani berpendapat dan menambah relasi.

Saya sibuk menyalahkan keadaan dan mengutuki diri.

Iri Dulu, Berusaha Kemudian

Tapi ngomong-ngomomg, wajar jika saya merasa iri. Karena iri itu manusiawi, meski iri juga dianggap sebagai tanda tidak mampu.

Namun, bolehlah iri dulu, tapi berusaha kemudian untuk membuat diri mampu. Artinya, bagaimana kita mengubah rasa iri itu menjadi motivasi untuk masa depan kita nanti tentunya.

Mahasiswa Berguna itu Tak Harus “Wah”, Minimal Bisa Memberantas Hoax di Grup WA Keluarga

Mengelola rasa iri menjadi motivasi juga bukanlah hal yang gampang. Tak semudah yang dipikirkan, apalagi kalau kita tidak tahu darimana harus memulai. Ditambah hal yang kita ambil bukan merupakan rencana yang telah kita susun sebelumnya, bukan hal yang kita bayangkan akan menjadi bagian dari hidup kita. Lebih-lebih hal yang sejak lama kita hindari.

Lucu rasanya mengingat sandiwara masa lalu. Saya pernah berjanji kepada orang tua saya. Jika saya kuliah, di tahun ke-3 mereka tidak perlu membayar uang perkuliahan saya lagi. saya akan mencari beasiswa dengan nilai saya.

Betapa gagah dan yakinnya diri saya di kala itu. Namun ketika memasuki dunia berkuliahan, nyali saya mulai menciut dan mulai kehilangan kepercayaan diri.

Saya dari kecil memang mudah tertarik akan banyak hal, namun juga mudah merasa bosan. Mungkin banyak dari anak-anak muda yang pernah merasa demikian atau sedang berada di fase itu. Sedangkan jika ingin mendapatkan hasil dari yang dikerjakan, sudah sewajarnya kita konsisten sampai hasil yang diinginkan tercapai.

Saya bukanlah orang yang kritis, Saya belum mampu mengembangkan argumen serta menanggapi pendapat seseorang secara matang. Ketakutan akan salah bicara juga memengaruhi saya untuk tidak berpendapat.

Niat Baik Mahasiswa dan Pesan Orang Tua

Ini pengalaman buruk. Dulu, waktu menginjak bangku SMP, saya bertanya akan suatu hal, apakah salah bicara atau bagaimana, saya ditanyakan balik mengenai hal itu dengan gaya yang menyeramkan, serta tatapan mengerikan dari teman-teman, saya merasa terbebani akan hal itu. Saya takut jika saya bertanya dan ditanyakan balik dan tidak bisa saya jawab.

Trauma semacam itu membuat saya susah mengelola motivasi. Tapi saya tetap berusaha, meski harus ditempuh secara perlahan-lahan. 

Jika menulis opini saat tugas perkuliahan, saya berusaha mengerjakan secara mandiri, Meski begitu, maafkan saja, saya juga masih sering mengutip dari berbagai situs di internet.

Terkadang saya hanya mengganti dengan kata atau bahasa yang hanya disekitatan itu saja. Misalnya: kata “menabung” diubah menjadi “mengumpulkan uang,”. Memang terlihat sama saja. Hal ini saya lakukan semata mata untuk menghindari plagiarisme.

Tapi, mau apa lagi. Untuk menciptakan susunan kata yang lahir dari pemikiran sendiri, saya belum sepenuhnya bisa kemas menjadi rangkaian kalimat yang pas. Terlepas dari itu, kita dituntut untuk mengajukan pertanyaan saat atau setelah materi disampaikan. Kemampuan otak untuk memuat materi tidak secepat itu.

Setelah menjelaskan materi, kalimat sederhana namun membebani pun saya dengar dari dosen, “Apakah ada yang bertanya?”

Duarr! Seketika saya berdoa semoga malaikat-malaikat yang berwujud seorang teman mengajukan pertanyaan dan saya bisa menjawab dengan lancar. Doa lainnya, semoga jam perkuliahan cepat berakhir.

Untuk itulah, plis, plis, plis. Bimbinglah saya.

Saya tahu betul bahwa menulis, seperti menulis esai atau artikel opini,dengan diikuti diskusi tanya-jawab, bisa mengembangkan dan melatih kemampuan otak seseorang. Namun, kita jarang mendapat bimbingan yang benar tentang bagaimana dan apa-apa yang harus dilakukan agar anak muda bisa menjadi remaja yang kritis. Tentu tak bisa berkembang otak ini jika hanya menonton video edukasi dan diberi teori.

Jadi, plis, plis, plis, bimbinganlah saya secara langsung dengan sabar.

Jangan hanya memberi bimbingan kepada orang yang sudah dianggap mampu saja, namun bimbing juga yang baru saja memulai untuk berusaha, seperti saya, agar memiliki kepercayaan diri.

Saya tahu, kenapa berpikir kritis itu penting. Karena dengan memiliki karakter yang kritis, lebih mudah menjabarkan pendapat seseorang dan tidak mudah terpengaruh.

Dan saya ingin mengasah agar saya bisa bersikap kritis, bukan nyinyir, bukan protes tanpa juntrungan, bukan pula sekadar berkeluh-kesah.

Obrolan Mahasiswa Matematika dan Sales Obat: Apa Artinya Dosis 3×1?

Saya memang sering menulis, namun tulisan yang saya hasilkan masih belum murni hasil karya saya. Tujuan awal saya berkuliah, untuk mencari beasiswa. Pilihan untuk lanjut berkuliah, berasal dari hasutan seseorang. Jika ditanya saya masih belum tahu menjadi apa, mungkin bisa ke media penyiaran, periklanan, humas, dan sejenisnya.

Spesifikmya saya masih belum tahu mau ke mana secara pasti. Namun jika saya disuruh memilih saya berniat menjadi seorang penulis. Walau di bidang akademik saya masih kurang, namun saya cukup aktif dalam organisasi.

Pengetahuan dan pengalaman bukan hanya didapat dari satu sumber namun dari banyak sumber. Bagaimana kita menaruh interest atau  ketertarikan terhadap suatu hal. Bertanggung jawab, terhadap apa yang kita pilih sebagai sebuah konsekuensi adalah salah satu faktor yang dapat mempengaruhi pola pikir kita. Rasa tanggung jawab itu akan menimbulkan semangat untuk menjalaninya.

Jangan khawatir.Keluhan-keluhan yang saya sampaikan ini tidak akan membuat saya ingin berhenti kuliah, apalagi sampai membuat saya ingin bunuh diri. Tidak. Justru ini membuat saya menjadi semangat untuk kuliah, keinginan untuk membuktikan diri mendorong saya untuk bertahan. Saya mengikuti berbagai kegiatan berhubungan dengan prodi yang saya ambil. Alhasil saya bisa menulis ini, pertama kalinya saya tidak mengutip dari berbagai situs. Ini hasil dari argumen dan pemikiran saya.

Jadi tekanan untuk menjadi terbaik atau setara dengan yang telah dikenal dan dianggap sebagai salah satu yang terbaik memang susah. Namun bagaimana cara kita mengerti akan situasi yang ada. Belajar untuk menerima lingkungan sekitar.  Hal yang terjadi belum tentu sesuai dengan ekspektasi kita. Belajarlah dari orang lain, bukan meniru orang lain. [T]

Tags: Cara Menulis EsaimahasiswamenulisSTAHN Mpu Kuturan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ajaran “Panca Satya”, Hubungannya dengan Pelayanan Rumah Sakit yang Ramah yang Datang dari Hati

Next Post

Cerpen “Sumur” Eka Kurniawan: Soal Alam dan Hari Ini

Gusti Ayu Putu Sri Swandewi

Gusti Ayu Putu Sri Swandewi

Mahasiswa Jurusan Dharma Duta, Ilmu Komunikasi, STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Cerpen “Sumur” Eka Kurniawan: Soal Alam dan Hari Ini

Cerpen “Sumur” Eka Kurniawan: Soal Alam dan Hari Ini

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co