12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Iri Dulu, Berusaha Kemudian | Catatan Mahasiswa yang Biasa-Biasa Saja

Gusti Ayu Putu Sri Swandewi by Gusti Ayu Putu Sri Swandewi
April 7, 2022
in Esai
Iri Dulu, Berusaha Kemudian | Catatan Mahasiswa yang Biasa-Biasa Saja

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dari karya Nana Partha

Malu rasanya ketika melihat kawan-kawan sudah menyandang juara dan dicap sebagai mahasiswa berprestasi. Malu rasanya ketika mendengar nama-nama mereka disebut sebagai contoh penggerak lembaga.

Sedangkan saya ini apa? Memang saya sudah menjadi mahasiswa. Namun mahasiswa biasa-biasa saja, yang pakai seragam, lalu keluar-masuk kampus begitu saja. Tak ada yang memandang saya. Apalagi jadi mahasiswa terpandang. Bahkan  nama pun sering dilupa.

“Eh, itu yang duduk di pojok itu, siapa ya?” kata seorang dosen. Pertanyaan seperti itu tak hanya sekali, tak hanya dari satu dosen, tapi berkal-kali, dan dari banyak dosen.

Duh. Betapa menyedihkan. Tidak ada yang lebih menyedihkan dari nama-nama yang selalu dilupa. Tidak ada yang lebih memprihatinkan dari sosok yang senantiasa dianggap biasa-biasa saja.

Pernah saya berpikir mungkinkah proses yang biasa-biasa saja, yang saya jalani hari ini akan membuat saya menjadi orang sukses di masa depan? Apakah otak saya akan encer dengan sendirinya di kemudian hari?

Mungkinkah, dengan kuliah biasa-biasa saja, saya akan menjadi mahasiswa kritis dan memperoleh gelar cumlaude?

Tentu tidak. Egois rasanya jika menginginkan sesuatu tanpa dibarengi dengan aksi. Kita ada  di dunia nyata, bukan di negeri dongeng. Jika menginginkan sesuatu hanya dengan menggoyangkan tongkat ajaib, kemudian simsalabim abracadabra, sesuatu yang kita inginkan tiba-tiba muncul dengan sendirinya, jelaslah itu mimpi.

Heeei, bangun, Sister! 

Mungkin itu bisa terjadi karena ada jalur yang bernama keberuntungan. Namun apakah keberuntungan selalu datang di saat kita benar-benar membutuhkannya? Kemungkinannya sangatlah jauh.

Semua itu rencana Tuhan. Kita tidak tahu apa rencana Tuhan dan bagaimana Tuhan memberi jalan. Yang jelas keberuntungan itu layaknya permainan undian. Kita tidak tahu apakah nomor yang akan muncul sesuai dengan nomor yang kita pegang.

Covid-19, Paman Meninggal, Stres dan Meredakan Stres || Cerita Mahasiswa Rantau dari Undiksha

Ketika saya bertemu dengan mereka yang berprestasi, saya merasa jauh. Di sisi lain saya agak jengah juga mendengar jika seseorang dibangga-banggakan oleh banyak orang. Saya iri dan hanya bisa mengeluh.

Padahal saya tahu pencapaian yang mereka dapat tidak diperoleh secara instan. Mereka lakoni dengan proses latihan yang tidak kita ketahui.

Sebagai rekan yang dasarnya memiliki tujuan yang sama yaitu lulus dengan nilai yang memuaskan, saya ternyata tak punya usaha apa-apa. Beda dengan mereka. Mereka berusaha untuk terus berkembang dengan selalu berlatih, berani berpendapat dan menambah relasi.

Saya sibuk menyalahkan keadaan dan mengutuki diri.

Iri Dulu, Berusaha Kemudian

Tapi ngomong-ngomomg, wajar jika saya merasa iri. Karena iri itu manusiawi, meski iri juga dianggap sebagai tanda tidak mampu.

Namun, bolehlah iri dulu, tapi berusaha kemudian untuk membuat diri mampu. Artinya, bagaimana kita mengubah rasa iri itu menjadi motivasi untuk masa depan kita nanti tentunya.

Mahasiswa Berguna itu Tak Harus “Wah”, Minimal Bisa Memberantas Hoax di Grup WA Keluarga

Mengelola rasa iri menjadi motivasi juga bukanlah hal yang gampang. Tak semudah yang dipikirkan, apalagi kalau kita tidak tahu darimana harus memulai. Ditambah hal yang kita ambil bukan merupakan rencana yang telah kita susun sebelumnya, bukan hal yang kita bayangkan akan menjadi bagian dari hidup kita. Lebih-lebih hal yang sejak lama kita hindari.

Lucu rasanya mengingat sandiwara masa lalu. Saya pernah berjanji kepada orang tua saya. Jika saya kuliah, di tahun ke-3 mereka tidak perlu membayar uang perkuliahan saya lagi. saya akan mencari beasiswa dengan nilai saya.

Betapa gagah dan yakinnya diri saya di kala itu. Namun ketika memasuki dunia berkuliahan, nyali saya mulai menciut dan mulai kehilangan kepercayaan diri.

Saya dari kecil memang mudah tertarik akan banyak hal, namun juga mudah merasa bosan. Mungkin banyak dari anak-anak muda yang pernah merasa demikian atau sedang berada di fase itu. Sedangkan jika ingin mendapatkan hasil dari yang dikerjakan, sudah sewajarnya kita konsisten sampai hasil yang diinginkan tercapai.

Saya bukanlah orang yang kritis, Saya belum mampu mengembangkan argumen serta menanggapi pendapat seseorang secara matang. Ketakutan akan salah bicara juga memengaruhi saya untuk tidak berpendapat.

Niat Baik Mahasiswa dan Pesan Orang Tua

Ini pengalaman buruk. Dulu, waktu menginjak bangku SMP, saya bertanya akan suatu hal, apakah salah bicara atau bagaimana, saya ditanyakan balik mengenai hal itu dengan gaya yang menyeramkan, serta tatapan mengerikan dari teman-teman, saya merasa terbebani akan hal itu. Saya takut jika saya bertanya dan ditanyakan balik dan tidak bisa saya jawab.

Trauma semacam itu membuat saya susah mengelola motivasi. Tapi saya tetap berusaha, meski harus ditempuh secara perlahan-lahan. 

Jika menulis opini saat tugas perkuliahan, saya berusaha mengerjakan secara mandiri, Meski begitu, maafkan saja, saya juga masih sering mengutip dari berbagai situs di internet.

Terkadang saya hanya mengganti dengan kata atau bahasa yang hanya disekitatan itu saja. Misalnya: kata “menabung” diubah menjadi “mengumpulkan uang,”. Memang terlihat sama saja. Hal ini saya lakukan semata mata untuk menghindari plagiarisme.

Tapi, mau apa lagi. Untuk menciptakan susunan kata yang lahir dari pemikiran sendiri, saya belum sepenuhnya bisa kemas menjadi rangkaian kalimat yang pas. Terlepas dari itu, kita dituntut untuk mengajukan pertanyaan saat atau setelah materi disampaikan. Kemampuan otak untuk memuat materi tidak secepat itu.

Setelah menjelaskan materi, kalimat sederhana namun membebani pun saya dengar dari dosen, “Apakah ada yang bertanya?”

Duarr! Seketika saya berdoa semoga malaikat-malaikat yang berwujud seorang teman mengajukan pertanyaan dan saya bisa menjawab dengan lancar. Doa lainnya, semoga jam perkuliahan cepat berakhir.

Untuk itulah, plis, plis, plis. Bimbinglah saya.

Saya tahu betul bahwa menulis, seperti menulis esai atau artikel opini,dengan diikuti diskusi tanya-jawab, bisa mengembangkan dan melatih kemampuan otak seseorang. Namun, kita jarang mendapat bimbingan yang benar tentang bagaimana dan apa-apa yang harus dilakukan agar anak muda bisa menjadi remaja yang kritis. Tentu tak bisa berkembang otak ini jika hanya menonton video edukasi dan diberi teori.

Jadi, plis, plis, plis, bimbinganlah saya secara langsung dengan sabar.

Jangan hanya memberi bimbingan kepada orang yang sudah dianggap mampu saja, namun bimbing juga yang baru saja memulai untuk berusaha, seperti saya, agar memiliki kepercayaan diri.

Saya tahu, kenapa berpikir kritis itu penting. Karena dengan memiliki karakter yang kritis, lebih mudah menjabarkan pendapat seseorang dan tidak mudah terpengaruh.

Dan saya ingin mengasah agar saya bisa bersikap kritis, bukan nyinyir, bukan protes tanpa juntrungan, bukan pula sekadar berkeluh-kesah.

Obrolan Mahasiswa Matematika dan Sales Obat: Apa Artinya Dosis 3×1?

Saya memang sering menulis, namun tulisan yang saya hasilkan masih belum murni hasil karya saya. Tujuan awal saya berkuliah, untuk mencari beasiswa. Pilihan untuk lanjut berkuliah, berasal dari hasutan seseorang. Jika ditanya saya masih belum tahu menjadi apa, mungkin bisa ke media penyiaran, periklanan, humas, dan sejenisnya.

Spesifikmya saya masih belum tahu mau ke mana secara pasti. Namun jika saya disuruh memilih saya berniat menjadi seorang penulis. Walau di bidang akademik saya masih kurang, namun saya cukup aktif dalam organisasi.

Pengetahuan dan pengalaman bukan hanya didapat dari satu sumber namun dari banyak sumber. Bagaimana kita menaruh interest atau  ketertarikan terhadap suatu hal. Bertanggung jawab, terhadap apa yang kita pilih sebagai sebuah konsekuensi adalah salah satu faktor yang dapat mempengaruhi pola pikir kita. Rasa tanggung jawab itu akan menimbulkan semangat untuk menjalaninya.

Jangan khawatir.Keluhan-keluhan yang saya sampaikan ini tidak akan membuat saya ingin berhenti kuliah, apalagi sampai membuat saya ingin bunuh diri. Tidak. Justru ini membuat saya menjadi semangat untuk kuliah, keinginan untuk membuktikan diri mendorong saya untuk bertahan. Saya mengikuti berbagai kegiatan berhubungan dengan prodi yang saya ambil. Alhasil saya bisa menulis ini, pertama kalinya saya tidak mengutip dari berbagai situs. Ini hasil dari argumen dan pemikiran saya.

Jadi tekanan untuk menjadi terbaik atau setara dengan yang telah dikenal dan dianggap sebagai salah satu yang terbaik memang susah. Namun bagaimana cara kita mengerti akan situasi yang ada. Belajar untuk menerima lingkungan sekitar.  Hal yang terjadi belum tentu sesuai dengan ekspektasi kita. Belajarlah dari orang lain, bukan meniru orang lain. [T]

Tags: Cara Menulis EsaimahasiswamenulisSTAHN Mpu Kuturan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ajaran “Panca Satya”, Hubungannya dengan Pelayanan Rumah Sakit yang Ramah yang Datang dari Hati

Next Post

Cerpen “Sumur” Eka Kurniawan: Soal Alam dan Hari Ini

Gusti Ayu Putu Sri Swandewi

Gusti Ayu Putu Sri Swandewi

Mahasiswa Jurusan Dharma Duta, Ilmu Komunikasi, STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Cerpen “Sumur” Eka Kurniawan: Soal Alam dan Hari Ini

Cerpen “Sumur” Eka Kurniawan: Soal Alam dan Hari Ini

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co