2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Iri Dulu, Berusaha Kemudian | Catatan Mahasiswa yang Biasa-Biasa Saja

Gusti Ayu Putu Sri Swandewi by Gusti Ayu Putu Sri Swandewi
April 7, 2022
in Esai
Iri Dulu, Berusaha Kemudian | Catatan Mahasiswa yang Biasa-Biasa Saja

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dari karya Nana Partha

Malu rasanya ketika melihat kawan-kawan sudah menyandang juara dan dicap sebagai mahasiswa berprestasi. Malu rasanya ketika mendengar nama-nama mereka disebut sebagai contoh penggerak lembaga.

Sedangkan saya ini apa? Memang saya sudah menjadi mahasiswa. Namun mahasiswa biasa-biasa saja, yang pakai seragam, lalu keluar-masuk kampus begitu saja. Tak ada yang memandang saya. Apalagi jadi mahasiswa terpandang. Bahkan  nama pun sering dilupa.

“Eh, itu yang duduk di pojok itu, siapa ya?” kata seorang dosen. Pertanyaan seperti itu tak hanya sekali, tak hanya dari satu dosen, tapi berkal-kali, dan dari banyak dosen.

Duh. Betapa menyedihkan. Tidak ada yang lebih menyedihkan dari nama-nama yang selalu dilupa. Tidak ada yang lebih memprihatinkan dari sosok yang senantiasa dianggap biasa-biasa saja.

Pernah saya berpikir mungkinkah proses yang biasa-biasa saja, yang saya jalani hari ini akan membuat saya menjadi orang sukses di masa depan? Apakah otak saya akan encer dengan sendirinya di kemudian hari?

Mungkinkah, dengan kuliah biasa-biasa saja, saya akan menjadi mahasiswa kritis dan memperoleh gelar cumlaude?

Tentu tidak. Egois rasanya jika menginginkan sesuatu tanpa dibarengi dengan aksi. Kita ada  di dunia nyata, bukan di negeri dongeng. Jika menginginkan sesuatu hanya dengan menggoyangkan tongkat ajaib, kemudian simsalabim abracadabra, sesuatu yang kita inginkan tiba-tiba muncul dengan sendirinya, jelaslah itu mimpi.

Heeei, bangun, Sister! 

Mungkin itu bisa terjadi karena ada jalur yang bernama keberuntungan. Namun apakah keberuntungan selalu datang di saat kita benar-benar membutuhkannya? Kemungkinannya sangatlah jauh.

Semua itu rencana Tuhan. Kita tidak tahu apa rencana Tuhan dan bagaimana Tuhan memberi jalan. Yang jelas keberuntungan itu layaknya permainan undian. Kita tidak tahu apakah nomor yang akan muncul sesuai dengan nomor yang kita pegang.

Covid-19, Paman Meninggal, Stres dan Meredakan Stres || Cerita Mahasiswa Rantau dari Undiksha

Ketika saya bertemu dengan mereka yang berprestasi, saya merasa jauh. Di sisi lain saya agak jengah juga mendengar jika seseorang dibangga-banggakan oleh banyak orang. Saya iri dan hanya bisa mengeluh.

Padahal saya tahu pencapaian yang mereka dapat tidak diperoleh secara instan. Mereka lakoni dengan proses latihan yang tidak kita ketahui.

Sebagai rekan yang dasarnya memiliki tujuan yang sama yaitu lulus dengan nilai yang memuaskan, saya ternyata tak punya usaha apa-apa. Beda dengan mereka. Mereka berusaha untuk terus berkembang dengan selalu berlatih, berani berpendapat dan menambah relasi.

Saya sibuk menyalahkan keadaan dan mengutuki diri.

Iri Dulu, Berusaha Kemudian

Tapi ngomong-ngomomg, wajar jika saya merasa iri. Karena iri itu manusiawi, meski iri juga dianggap sebagai tanda tidak mampu.

Namun, bolehlah iri dulu, tapi berusaha kemudian untuk membuat diri mampu. Artinya, bagaimana kita mengubah rasa iri itu menjadi motivasi untuk masa depan kita nanti tentunya.

Mahasiswa Berguna itu Tak Harus “Wah”, Minimal Bisa Memberantas Hoax di Grup WA Keluarga

Mengelola rasa iri menjadi motivasi juga bukanlah hal yang gampang. Tak semudah yang dipikirkan, apalagi kalau kita tidak tahu darimana harus memulai. Ditambah hal yang kita ambil bukan merupakan rencana yang telah kita susun sebelumnya, bukan hal yang kita bayangkan akan menjadi bagian dari hidup kita. Lebih-lebih hal yang sejak lama kita hindari.

Lucu rasanya mengingat sandiwara masa lalu. Saya pernah berjanji kepada orang tua saya. Jika saya kuliah, di tahun ke-3 mereka tidak perlu membayar uang perkuliahan saya lagi. saya akan mencari beasiswa dengan nilai saya.

Betapa gagah dan yakinnya diri saya di kala itu. Namun ketika memasuki dunia berkuliahan, nyali saya mulai menciut dan mulai kehilangan kepercayaan diri.

Saya dari kecil memang mudah tertarik akan banyak hal, namun juga mudah merasa bosan. Mungkin banyak dari anak-anak muda yang pernah merasa demikian atau sedang berada di fase itu. Sedangkan jika ingin mendapatkan hasil dari yang dikerjakan, sudah sewajarnya kita konsisten sampai hasil yang diinginkan tercapai.

Saya bukanlah orang yang kritis, Saya belum mampu mengembangkan argumen serta menanggapi pendapat seseorang secara matang. Ketakutan akan salah bicara juga memengaruhi saya untuk tidak berpendapat.

Niat Baik Mahasiswa dan Pesan Orang Tua

Ini pengalaman buruk. Dulu, waktu menginjak bangku SMP, saya bertanya akan suatu hal, apakah salah bicara atau bagaimana, saya ditanyakan balik mengenai hal itu dengan gaya yang menyeramkan, serta tatapan mengerikan dari teman-teman, saya merasa terbebani akan hal itu. Saya takut jika saya bertanya dan ditanyakan balik dan tidak bisa saya jawab.

Trauma semacam itu membuat saya susah mengelola motivasi. Tapi saya tetap berusaha, meski harus ditempuh secara perlahan-lahan. 

Jika menulis opini saat tugas perkuliahan, saya berusaha mengerjakan secara mandiri, Meski begitu, maafkan saja, saya juga masih sering mengutip dari berbagai situs di internet.

Terkadang saya hanya mengganti dengan kata atau bahasa yang hanya disekitatan itu saja. Misalnya: kata “menabung” diubah menjadi “mengumpulkan uang,”. Memang terlihat sama saja. Hal ini saya lakukan semata mata untuk menghindari plagiarisme.

Tapi, mau apa lagi. Untuk menciptakan susunan kata yang lahir dari pemikiran sendiri, saya belum sepenuhnya bisa kemas menjadi rangkaian kalimat yang pas. Terlepas dari itu, kita dituntut untuk mengajukan pertanyaan saat atau setelah materi disampaikan. Kemampuan otak untuk memuat materi tidak secepat itu.

Setelah menjelaskan materi, kalimat sederhana namun membebani pun saya dengar dari dosen, “Apakah ada yang bertanya?”

Duarr! Seketika saya berdoa semoga malaikat-malaikat yang berwujud seorang teman mengajukan pertanyaan dan saya bisa menjawab dengan lancar. Doa lainnya, semoga jam perkuliahan cepat berakhir.

Untuk itulah, plis, plis, plis. Bimbinglah saya.

Saya tahu betul bahwa menulis, seperti menulis esai atau artikel opini,dengan diikuti diskusi tanya-jawab, bisa mengembangkan dan melatih kemampuan otak seseorang. Namun, kita jarang mendapat bimbingan yang benar tentang bagaimana dan apa-apa yang harus dilakukan agar anak muda bisa menjadi remaja yang kritis. Tentu tak bisa berkembang otak ini jika hanya menonton video edukasi dan diberi teori.

Jadi, plis, plis, plis, bimbinganlah saya secara langsung dengan sabar.

Jangan hanya memberi bimbingan kepada orang yang sudah dianggap mampu saja, namun bimbing juga yang baru saja memulai untuk berusaha, seperti saya, agar memiliki kepercayaan diri.

Saya tahu, kenapa berpikir kritis itu penting. Karena dengan memiliki karakter yang kritis, lebih mudah menjabarkan pendapat seseorang dan tidak mudah terpengaruh.

Dan saya ingin mengasah agar saya bisa bersikap kritis, bukan nyinyir, bukan protes tanpa juntrungan, bukan pula sekadar berkeluh-kesah.

Obrolan Mahasiswa Matematika dan Sales Obat: Apa Artinya Dosis 3×1?

Saya memang sering menulis, namun tulisan yang saya hasilkan masih belum murni hasil karya saya. Tujuan awal saya berkuliah, untuk mencari beasiswa. Pilihan untuk lanjut berkuliah, berasal dari hasutan seseorang. Jika ditanya saya masih belum tahu menjadi apa, mungkin bisa ke media penyiaran, periklanan, humas, dan sejenisnya.

Spesifikmya saya masih belum tahu mau ke mana secara pasti. Namun jika saya disuruh memilih saya berniat menjadi seorang penulis. Walau di bidang akademik saya masih kurang, namun saya cukup aktif dalam organisasi.

Pengetahuan dan pengalaman bukan hanya didapat dari satu sumber namun dari banyak sumber. Bagaimana kita menaruh interest atau  ketertarikan terhadap suatu hal. Bertanggung jawab, terhadap apa yang kita pilih sebagai sebuah konsekuensi adalah salah satu faktor yang dapat mempengaruhi pola pikir kita. Rasa tanggung jawab itu akan menimbulkan semangat untuk menjalaninya.

Jangan khawatir.Keluhan-keluhan yang saya sampaikan ini tidak akan membuat saya ingin berhenti kuliah, apalagi sampai membuat saya ingin bunuh diri. Tidak. Justru ini membuat saya menjadi semangat untuk kuliah, keinginan untuk membuktikan diri mendorong saya untuk bertahan. Saya mengikuti berbagai kegiatan berhubungan dengan prodi yang saya ambil. Alhasil saya bisa menulis ini, pertama kalinya saya tidak mengutip dari berbagai situs. Ini hasil dari argumen dan pemikiran saya.

Jadi tekanan untuk menjadi terbaik atau setara dengan yang telah dikenal dan dianggap sebagai salah satu yang terbaik memang susah. Namun bagaimana cara kita mengerti akan situasi yang ada. Belajar untuk menerima lingkungan sekitar.  Hal yang terjadi belum tentu sesuai dengan ekspektasi kita. Belajarlah dari orang lain, bukan meniru orang lain. [T]

Tags: Cara Menulis EsaimahasiswamenulisSTAHN Mpu Kuturan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ajaran “Panca Satya”, Hubungannya dengan Pelayanan Rumah Sakit yang Ramah yang Datang dari Hati

Next Post

Cerpen “Sumur” Eka Kurniawan: Soal Alam dan Hari Ini

Gusti Ayu Putu Sri Swandewi

Gusti Ayu Putu Sri Swandewi

Mahasiswa Jurusan Dharma Duta, Ilmu Komunikasi, STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Cerpen “Sumur” Eka Kurniawan: Soal Alam dan Hari Ini

Cerpen “Sumur” Eka Kurniawan: Soal Alam dan Hari Ini

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co