24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Niat Baik Mahasiswa dan Pesan Orang Tua

Agus Wiratama by Agus Wiratama
July 6, 2020
in Esai
Sanggah Setengah Jadi dan Ritual yang Kembali Sederhana

Agus Wiratama || Ilustrasi tatkala.co || Nana Partha

Setelah pulang dari Singaraja, Grudug tiba-tiba tergelitik oleh perkataan, “Mahasiswa pulang kampung pasti lupa dengan idealismenya”. Istilah yang agak kasar tentang itu, “otaknya ditinggal”. Tidak mau terlibat dalam kategori yang meninggalkan “anu”nya itu, Grudug berinisiatif melakukan sesuatu yang bermanfaat. Tapi sayangnya dia merasa gagal. Bahkan patah hati.

Mendengar kabar belajar dari rumah, ia berpikir akan melakukan sesuatu untuk kampung, khususnya keluarga atau tetangga. Alasannya pun sederhana, agar tak dianggap meninggalkan pemikiran. Ia berencana mengkampanyekan menanam banyak pohon seperti yang ia lakukan kala Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Hal itu ia pilih karena mendengar banyak kabar tentang sawah atau ladang yang berubah fungsi menjadi penginapan. Padahal, Ketika ia mendengar kabar alih fungsi lahan itu, kampungnya belum mengalami hal serupa.

Ketika sudah di kampung, Grudug melihat pamannya membawa batang singkong. Lengkap dengan sebuah jaring. Grudug bertanya pamannya mau ke mana. Pamannya kemudian mengatakan akan ke belakang rumah.

“Bikin kandang bebek yang dipagari ketela pohon. Setelah bebek kita terjual, singkong bisa kita cabut satu per satu untuk dimakan,” jawab pamannya gembira.

Grudug paham, batang singkong itu akan dijadikan tiang pembatas sekaligus tempat pengikat jaring. Di dalam jaring yang dibentuk menjadi kandang akan ditaruh bebek untuk dipelihara. Perbincangan pun putus, namun tidak di dalam hati Grudug. Keraguan mulai muncul. Ia bertanya-tanya dalam hati tentang pilihan ide yang akan dia lakukan. Sambil jalan, dia berniat menguji idenya di awal itu.

Meski bertanya-tanya, Grudug berusaha tegar dengan ide awalnya. “Yang penting diuji dulu,” pikirnya dalam hati. Ia masih bersikeras mau menyiarkan bahwa mencintai lingkungan dengan menanam pohon itu sangat penting.

Suatu hari Grudug pergi ke ladang yang rupanya masih hijau bersama pamannya. Rimbun dengan pohon berbagai jenis. Yang membuatnya kemudian mulai lesu adalah ketika melihat kandang sapi. Kandang itu terbuat dari pohon dadap yang masih hidup dan jerami yang disusun sebagai atapnya.

Grudug lalu bertanya pada pamannya mengapa pakai batang pohon hidup untuk tiang kandang, pamannya bilang, “Nanti kalau atap kandang ini rusak kita tidak perlu buat tiang baru,” kata pamannya enteng. Merasa punya kesempatan bertanya, Grudug kemudian bersikap, “Kalau sudah tidak pelihara sapi pasti pohon ini ditebang kan?”

Pamannya yang sibuk memotong rumput untuk pakan sapi menjawab santai, “Buat apa ditebang? Daun dadap itu tak usah dipotong, kan selalu dibutuhkan saat upacara.”

Merasa gagal menyelipkan pesan-pesan yang direncanakan dalam percakapan, Grudug langsung menghadap pagar yang dibuat dari rimbun tanaman, alias pagar hidup. Di sana tanaman tumbuh tanpa seleksi. Nampak liar. Tumbuhannya pun beragam, ada pohon andong, ketela pohon, bunga kembang sepatu, dan lain-lain.

“Paman,” sapa grudug. “Pohon untuk pagar ini pasti nanti akan diganti bata. Ini bagus paman, jangan sampai dipotong, lagi pula tumbuhan dan lingkungan…” ucapan grudug segera saja dipotong oleh pamannya.

“Grudug, ketela itu paman yang tanam, biasa dicabut satu per satu untuk makanan, lalu paman tanami lagi. Andong itu untuk upacara terutama galungan, bunga itu untuk sembahyang, dan yang lain itu tumbuh liar tapi sering dipakai untuk kelengkapan upacara. Buat apa dipotong? Lagi pula kalau beli, semua itu membutuhkan uang yang cukup banyak. Bukan hanya itu, bibimu pasti marah-marah kalau sampai pagar ini dipotong.” Sebenarnya arah percakapan itu jelas. Grudug hanya ingin mencoba melakukan sosialisasi sekaligus menguji hal yang akan ia lakukan. Tetapi, berhubung belum jelas, ia perlu memikirkan lagi ide itu.

Lama rasanya termenung soal ide itu, Grudug justru menghayal ke mana-mana. Di tengah hayalan, tiba-tiba muncul kegelisahannya. Sesunguhnya Grudug pulang dengan beban pikiran, sebab ia akan segera tamat kuliah. Ia berpikir keras tentang pekerjaan dan rumah tangga.

Dalam urusan karir ia selalu diingatkan cita-cita oleh orang tuanya agar menjadi PNS, padahal ia pesimis tentang cita-cita itu. Ia tahu, banyak orang yang bermimpi menjadi PNS dan setelah gagal merasa hidupnya yang gagal. Tapi, orang tua Grudug tak mau tahu soal itu. Yang jelas harus PNS. Tentu saja ini menjadi beban yang bisa muncul kapan saja dalam pikirannya.

Selain itu, ia juga memikirkan masalah rumah tangga. Ia pernah berkata pada ibunya, kelak jika pekerjaannya tak menghasilkan banyak uang, ia tak ingin menikah. Tapi, ibunya berkata, “kalau kau tak menikah, siapa yang akan membantu ibumu yang sudah mulai renta ini?” Grudug paham, menikah itu bukan pilihan, tapi keharusan.

Sementara itu ia bertekad kalau sudah berumah tangga ia harus berumah di Denpasar, biar kelak anaknya jadi orang kota. Tetapi, berhubung harga tanah yang melambung, ia merasa tak akan mampu mencapai mimpi itu. Apalagi jadi PNS, tentu gajinya akan serak bila dipakai nyicil pembayaran rumah di sana. “Hidup ini banyak susahnya,” pikir Grudug.

Tiba-tiba saja pamannya memotong lamunan Grudug karena rumput dirasa sudah cukup, saatnya pulang. Grudug terkejut hingga melontarkan begitu saja gelisahnya itu pada pamannya.

Pamannya tertawa lalu memberi saran, “Kau buat rumah di sini saja, kan seperti villa-villa di Ubud.”

Sontak Grudug menolak tapi mungkin karena hanyut dengan kegelisahannya, ia berkata bahwa tempat itu tidak cocok dibangun rumah. “Viewnya memang bagus, di depan terhampar sawah yang luas, di bagian belakang sungai dengan airnya yang jernih menyejukkan, tapi biaya buat jalan pasti mahal. Membangun jadi sulit karena kendaraan tak bisa ke sana. Harus menyewa tenaga yang banyak. Ongkos akan membengkak,” Alis Grudug mengkerut menceritakan itu semua.

Sebuah ide tiba-tiba melintas, membuatnya bersemangat. Ia berkata, “Paman. Aku dengar-dengar, Ubud sudah sangat sumpek, villa dan penginapan mulai menyasar desa kita yang masih sepi dan asri. Bagaimana kalau tanah yang luas ini dijual untuk beli rumah di Denpasar. Lagi pula harga tanah di sini sudah mulai naik.”

Pamannya yang memegang ranting, spontan memukul kepala Grudug dan berkata, “memang kau mau dikutuk leluhur? Kapan kamu membeli tanah ini sampai berniat menjualnya?”

Grudug tersipu malu. Sambil cengengesan ia berkata, “Semua itu hanya candaan, lagi pula warisan kan harus tetap dijaga,” katanya sambil memalingkan wajah karena tersipu malu.

Sejak saat itu, ia merasa topik yang dia pikir di awal tidak tepat ia bawakan. Setelah menguji ide, ia mendapat kesimpulan bahwa ia sendiri yang belum lulus menggunakan ide itu. Tapi, hingga pemerintah mengumumkan new normal, jalan mulai ramai, orang bekerja berangsur-angsur normal, Grudug belum juga melakukan sesuatu di kampungnya. [T]

Tags: kampungkampung halamanmahasiswa
Share14TweetSendShareSend
Previous Post

Aturan Baru, Kenapa Masih Bosan di Rumah?

Next Post

Teater Sastra Welang Rilis Video Puisi Kolaborasi oleh 5 Seniman Muda

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Teater Sastra Welang Rilis Video Puisi Kolaborasi oleh 5 Seniman Muda

Teater Sastra Welang Rilis Video Puisi Kolaborasi oleh 5 Seniman Muda

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co