13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Niat Baik Mahasiswa dan Pesan Orang Tua

Agus Wiratama by Agus Wiratama
July 6, 2020
in Esai
Sanggah Setengah Jadi dan Ritual yang Kembali Sederhana

Agus Wiratama || Ilustrasi tatkala.co || Nana Partha

Setelah pulang dari Singaraja, Grudug tiba-tiba tergelitik oleh perkataan, “Mahasiswa pulang kampung pasti lupa dengan idealismenya”. Istilah yang agak kasar tentang itu, “otaknya ditinggal”. Tidak mau terlibat dalam kategori yang meninggalkan “anu”nya itu, Grudug berinisiatif melakukan sesuatu yang bermanfaat. Tapi sayangnya dia merasa gagal. Bahkan patah hati.

Mendengar kabar belajar dari rumah, ia berpikir akan melakukan sesuatu untuk kampung, khususnya keluarga atau tetangga. Alasannya pun sederhana, agar tak dianggap meninggalkan pemikiran. Ia berencana mengkampanyekan menanam banyak pohon seperti yang ia lakukan kala Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Hal itu ia pilih karena mendengar banyak kabar tentang sawah atau ladang yang berubah fungsi menjadi penginapan. Padahal, Ketika ia mendengar kabar alih fungsi lahan itu, kampungnya belum mengalami hal serupa.

Ketika sudah di kampung, Grudug melihat pamannya membawa batang singkong. Lengkap dengan sebuah jaring. Grudug bertanya pamannya mau ke mana. Pamannya kemudian mengatakan akan ke belakang rumah.

“Bikin kandang bebek yang dipagari ketela pohon. Setelah bebek kita terjual, singkong bisa kita cabut satu per satu untuk dimakan,” jawab pamannya gembira.

Grudug paham, batang singkong itu akan dijadikan tiang pembatas sekaligus tempat pengikat jaring. Di dalam jaring yang dibentuk menjadi kandang akan ditaruh bebek untuk dipelihara. Perbincangan pun putus, namun tidak di dalam hati Grudug. Keraguan mulai muncul. Ia bertanya-tanya dalam hati tentang pilihan ide yang akan dia lakukan. Sambil jalan, dia berniat menguji idenya di awal itu.

Meski bertanya-tanya, Grudug berusaha tegar dengan ide awalnya. “Yang penting diuji dulu,” pikirnya dalam hati. Ia masih bersikeras mau menyiarkan bahwa mencintai lingkungan dengan menanam pohon itu sangat penting.

Suatu hari Grudug pergi ke ladang yang rupanya masih hijau bersama pamannya. Rimbun dengan pohon berbagai jenis. Yang membuatnya kemudian mulai lesu adalah ketika melihat kandang sapi. Kandang itu terbuat dari pohon dadap yang masih hidup dan jerami yang disusun sebagai atapnya.

Grudug lalu bertanya pada pamannya mengapa pakai batang pohon hidup untuk tiang kandang, pamannya bilang, “Nanti kalau atap kandang ini rusak kita tidak perlu buat tiang baru,” kata pamannya enteng. Merasa punya kesempatan bertanya, Grudug kemudian bersikap, “Kalau sudah tidak pelihara sapi pasti pohon ini ditebang kan?”

Pamannya yang sibuk memotong rumput untuk pakan sapi menjawab santai, “Buat apa ditebang? Daun dadap itu tak usah dipotong, kan selalu dibutuhkan saat upacara.”

Merasa gagal menyelipkan pesan-pesan yang direncanakan dalam percakapan, Grudug langsung menghadap pagar yang dibuat dari rimbun tanaman, alias pagar hidup. Di sana tanaman tumbuh tanpa seleksi. Nampak liar. Tumbuhannya pun beragam, ada pohon andong, ketela pohon, bunga kembang sepatu, dan lain-lain.

“Paman,” sapa grudug. “Pohon untuk pagar ini pasti nanti akan diganti bata. Ini bagus paman, jangan sampai dipotong, lagi pula tumbuhan dan lingkungan…” ucapan grudug segera saja dipotong oleh pamannya.

“Grudug, ketela itu paman yang tanam, biasa dicabut satu per satu untuk makanan, lalu paman tanami lagi. Andong itu untuk upacara terutama galungan, bunga itu untuk sembahyang, dan yang lain itu tumbuh liar tapi sering dipakai untuk kelengkapan upacara. Buat apa dipotong? Lagi pula kalau beli, semua itu membutuhkan uang yang cukup banyak. Bukan hanya itu, bibimu pasti marah-marah kalau sampai pagar ini dipotong.” Sebenarnya arah percakapan itu jelas. Grudug hanya ingin mencoba melakukan sosialisasi sekaligus menguji hal yang akan ia lakukan. Tetapi, berhubung belum jelas, ia perlu memikirkan lagi ide itu.

Lama rasanya termenung soal ide itu, Grudug justru menghayal ke mana-mana. Di tengah hayalan, tiba-tiba muncul kegelisahannya. Sesunguhnya Grudug pulang dengan beban pikiran, sebab ia akan segera tamat kuliah. Ia berpikir keras tentang pekerjaan dan rumah tangga.

Dalam urusan karir ia selalu diingatkan cita-cita oleh orang tuanya agar menjadi PNS, padahal ia pesimis tentang cita-cita itu. Ia tahu, banyak orang yang bermimpi menjadi PNS dan setelah gagal merasa hidupnya yang gagal. Tapi, orang tua Grudug tak mau tahu soal itu. Yang jelas harus PNS. Tentu saja ini menjadi beban yang bisa muncul kapan saja dalam pikirannya.

Selain itu, ia juga memikirkan masalah rumah tangga. Ia pernah berkata pada ibunya, kelak jika pekerjaannya tak menghasilkan banyak uang, ia tak ingin menikah. Tapi, ibunya berkata, “kalau kau tak menikah, siapa yang akan membantu ibumu yang sudah mulai renta ini?” Grudug paham, menikah itu bukan pilihan, tapi keharusan.

Sementara itu ia bertekad kalau sudah berumah tangga ia harus berumah di Denpasar, biar kelak anaknya jadi orang kota. Tetapi, berhubung harga tanah yang melambung, ia merasa tak akan mampu mencapai mimpi itu. Apalagi jadi PNS, tentu gajinya akan serak bila dipakai nyicil pembayaran rumah di sana. “Hidup ini banyak susahnya,” pikir Grudug.

Tiba-tiba saja pamannya memotong lamunan Grudug karena rumput dirasa sudah cukup, saatnya pulang. Grudug terkejut hingga melontarkan begitu saja gelisahnya itu pada pamannya.

Pamannya tertawa lalu memberi saran, “Kau buat rumah di sini saja, kan seperti villa-villa di Ubud.”

Sontak Grudug menolak tapi mungkin karena hanyut dengan kegelisahannya, ia berkata bahwa tempat itu tidak cocok dibangun rumah. “Viewnya memang bagus, di depan terhampar sawah yang luas, di bagian belakang sungai dengan airnya yang jernih menyejukkan, tapi biaya buat jalan pasti mahal. Membangun jadi sulit karena kendaraan tak bisa ke sana. Harus menyewa tenaga yang banyak. Ongkos akan membengkak,” Alis Grudug mengkerut menceritakan itu semua.

Sebuah ide tiba-tiba melintas, membuatnya bersemangat. Ia berkata, “Paman. Aku dengar-dengar, Ubud sudah sangat sumpek, villa dan penginapan mulai menyasar desa kita yang masih sepi dan asri. Bagaimana kalau tanah yang luas ini dijual untuk beli rumah di Denpasar. Lagi pula harga tanah di sini sudah mulai naik.”

Pamannya yang memegang ranting, spontan memukul kepala Grudug dan berkata, “memang kau mau dikutuk leluhur? Kapan kamu membeli tanah ini sampai berniat menjualnya?”

Grudug tersipu malu. Sambil cengengesan ia berkata, “Semua itu hanya candaan, lagi pula warisan kan harus tetap dijaga,” katanya sambil memalingkan wajah karena tersipu malu.

Sejak saat itu, ia merasa topik yang dia pikir di awal tidak tepat ia bawakan. Setelah menguji ide, ia mendapat kesimpulan bahwa ia sendiri yang belum lulus menggunakan ide itu. Tapi, hingga pemerintah mengumumkan new normal, jalan mulai ramai, orang bekerja berangsur-angsur normal, Grudug belum juga melakukan sesuatu di kampungnya. [T]

Tags: kampungkampung halamanmahasiswa
Share14TweetSendShareSend
Previous Post

Aturan Baru, Kenapa Masih Bosan di Rumah?

Next Post

Teater Sastra Welang Rilis Video Puisi Kolaborasi oleh 5 Seniman Muda

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
Teater Sastra Welang Rilis Video Puisi Kolaborasi oleh 5 Seniman Muda

Teater Sastra Welang Rilis Video Puisi Kolaborasi oleh 5 Seniman Muda

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co