2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Niat Baik Mahasiswa dan Pesan Orang Tua

Agus Wiratama by Agus Wiratama
July 6, 2020
in Esai
Sanggah Setengah Jadi dan Ritual yang Kembali Sederhana

Agus Wiratama || Ilustrasi tatkala.co || Nana Partha

Setelah pulang dari Singaraja, Grudug tiba-tiba tergelitik oleh perkataan, “Mahasiswa pulang kampung pasti lupa dengan idealismenya”. Istilah yang agak kasar tentang itu, “otaknya ditinggal”. Tidak mau terlibat dalam kategori yang meninggalkan “anu”nya itu, Grudug berinisiatif melakukan sesuatu yang bermanfaat. Tapi sayangnya dia merasa gagal. Bahkan patah hati.

Mendengar kabar belajar dari rumah, ia berpikir akan melakukan sesuatu untuk kampung, khususnya keluarga atau tetangga. Alasannya pun sederhana, agar tak dianggap meninggalkan pemikiran. Ia berencana mengkampanyekan menanam banyak pohon seperti yang ia lakukan kala Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Hal itu ia pilih karena mendengar banyak kabar tentang sawah atau ladang yang berubah fungsi menjadi penginapan. Padahal, Ketika ia mendengar kabar alih fungsi lahan itu, kampungnya belum mengalami hal serupa.

Ketika sudah di kampung, Grudug melihat pamannya membawa batang singkong. Lengkap dengan sebuah jaring. Grudug bertanya pamannya mau ke mana. Pamannya kemudian mengatakan akan ke belakang rumah.

“Bikin kandang bebek yang dipagari ketela pohon. Setelah bebek kita terjual, singkong bisa kita cabut satu per satu untuk dimakan,” jawab pamannya gembira.

Grudug paham, batang singkong itu akan dijadikan tiang pembatas sekaligus tempat pengikat jaring. Di dalam jaring yang dibentuk menjadi kandang akan ditaruh bebek untuk dipelihara. Perbincangan pun putus, namun tidak di dalam hati Grudug. Keraguan mulai muncul. Ia bertanya-tanya dalam hati tentang pilihan ide yang akan dia lakukan. Sambil jalan, dia berniat menguji idenya di awal itu.

Meski bertanya-tanya, Grudug berusaha tegar dengan ide awalnya. “Yang penting diuji dulu,” pikirnya dalam hati. Ia masih bersikeras mau menyiarkan bahwa mencintai lingkungan dengan menanam pohon itu sangat penting.

Suatu hari Grudug pergi ke ladang yang rupanya masih hijau bersama pamannya. Rimbun dengan pohon berbagai jenis. Yang membuatnya kemudian mulai lesu adalah ketika melihat kandang sapi. Kandang itu terbuat dari pohon dadap yang masih hidup dan jerami yang disusun sebagai atapnya.

Grudug lalu bertanya pada pamannya mengapa pakai batang pohon hidup untuk tiang kandang, pamannya bilang, “Nanti kalau atap kandang ini rusak kita tidak perlu buat tiang baru,” kata pamannya enteng. Merasa punya kesempatan bertanya, Grudug kemudian bersikap, “Kalau sudah tidak pelihara sapi pasti pohon ini ditebang kan?”

Pamannya yang sibuk memotong rumput untuk pakan sapi menjawab santai, “Buat apa ditebang? Daun dadap itu tak usah dipotong, kan selalu dibutuhkan saat upacara.”

Merasa gagal menyelipkan pesan-pesan yang direncanakan dalam percakapan, Grudug langsung menghadap pagar yang dibuat dari rimbun tanaman, alias pagar hidup. Di sana tanaman tumbuh tanpa seleksi. Nampak liar. Tumbuhannya pun beragam, ada pohon andong, ketela pohon, bunga kembang sepatu, dan lain-lain.

“Paman,” sapa grudug. “Pohon untuk pagar ini pasti nanti akan diganti bata. Ini bagus paman, jangan sampai dipotong, lagi pula tumbuhan dan lingkungan…” ucapan grudug segera saja dipotong oleh pamannya.

“Grudug, ketela itu paman yang tanam, biasa dicabut satu per satu untuk makanan, lalu paman tanami lagi. Andong itu untuk upacara terutama galungan, bunga itu untuk sembahyang, dan yang lain itu tumbuh liar tapi sering dipakai untuk kelengkapan upacara. Buat apa dipotong? Lagi pula kalau beli, semua itu membutuhkan uang yang cukup banyak. Bukan hanya itu, bibimu pasti marah-marah kalau sampai pagar ini dipotong.” Sebenarnya arah percakapan itu jelas. Grudug hanya ingin mencoba melakukan sosialisasi sekaligus menguji hal yang akan ia lakukan. Tetapi, berhubung belum jelas, ia perlu memikirkan lagi ide itu.

Lama rasanya termenung soal ide itu, Grudug justru menghayal ke mana-mana. Di tengah hayalan, tiba-tiba muncul kegelisahannya. Sesunguhnya Grudug pulang dengan beban pikiran, sebab ia akan segera tamat kuliah. Ia berpikir keras tentang pekerjaan dan rumah tangga.

Dalam urusan karir ia selalu diingatkan cita-cita oleh orang tuanya agar menjadi PNS, padahal ia pesimis tentang cita-cita itu. Ia tahu, banyak orang yang bermimpi menjadi PNS dan setelah gagal merasa hidupnya yang gagal. Tapi, orang tua Grudug tak mau tahu soal itu. Yang jelas harus PNS. Tentu saja ini menjadi beban yang bisa muncul kapan saja dalam pikirannya.

Selain itu, ia juga memikirkan masalah rumah tangga. Ia pernah berkata pada ibunya, kelak jika pekerjaannya tak menghasilkan banyak uang, ia tak ingin menikah. Tapi, ibunya berkata, “kalau kau tak menikah, siapa yang akan membantu ibumu yang sudah mulai renta ini?” Grudug paham, menikah itu bukan pilihan, tapi keharusan.

Sementara itu ia bertekad kalau sudah berumah tangga ia harus berumah di Denpasar, biar kelak anaknya jadi orang kota. Tetapi, berhubung harga tanah yang melambung, ia merasa tak akan mampu mencapai mimpi itu. Apalagi jadi PNS, tentu gajinya akan serak bila dipakai nyicil pembayaran rumah di sana. “Hidup ini banyak susahnya,” pikir Grudug.

Tiba-tiba saja pamannya memotong lamunan Grudug karena rumput dirasa sudah cukup, saatnya pulang. Grudug terkejut hingga melontarkan begitu saja gelisahnya itu pada pamannya.

Pamannya tertawa lalu memberi saran, “Kau buat rumah di sini saja, kan seperti villa-villa di Ubud.”

Sontak Grudug menolak tapi mungkin karena hanyut dengan kegelisahannya, ia berkata bahwa tempat itu tidak cocok dibangun rumah. “Viewnya memang bagus, di depan terhampar sawah yang luas, di bagian belakang sungai dengan airnya yang jernih menyejukkan, tapi biaya buat jalan pasti mahal. Membangun jadi sulit karena kendaraan tak bisa ke sana. Harus menyewa tenaga yang banyak. Ongkos akan membengkak,” Alis Grudug mengkerut menceritakan itu semua.

Sebuah ide tiba-tiba melintas, membuatnya bersemangat. Ia berkata, “Paman. Aku dengar-dengar, Ubud sudah sangat sumpek, villa dan penginapan mulai menyasar desa kita yang masih sepi dan asri. Bagaimana kalau tanah yang luas ini dijual untuk beli rumah di Denpasar. Lagi pula harga tanah di sini sudah mulai naik.”

Pamannya yang memegang ranting, spontan memukul kepala Grudug dan berkata, “memang kau mau dikutuk leluhur? Kapan kamu membeli tanah ini sampai berniat menjualnya?”

Grudug tersipu malu. Sambil cengengesan ia berkata, “Semua itu hanya candaan, lagi pula warisan kan harus tetap dijaga,” katanya sambil memalingkan wajah karena tersipu malu.

Sejak saat itu, ia merasa topik yang dia pikir di awal tidak tepat ia bawakan. Setelah menguji ide, ia mendapat kesimpulan bahwa ia sendiri yang belum lulus menggunakan ide itu. Tapi, hingga pemerintah mengumumkan new normal, jalan mulai ramai, orang bekerja berangsur-angsur normal, Grudug belum juga melakukan sesuatu di kampungnya. [T]

Tags: kampungkampung halamanmahasiswa
Share14TweetSendShareSend
Previous Post

Aturan Baru, Kenapa Masih Bosan di Rumah?

Next Post

Teater Sastra Welang Rilis Video Puisi Kolaborasi oleh 5 Seniman Muda

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Teater Sastra Welang Rilis Video Puisi Kolaborasi oleh 5 Seniman Muda

Teater Sastra Welang Rilis Video Puisi Kolaborasi oleh 5 Seniman Muda

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co