2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mahasiswa Berguna itu Tak Harus “Wah”, Minimal Bisa Memberantas Hoax di Grup WA Keluarga

Made Agus Panji Sujaya by Made Agus Panji Sujaya
January 11, 2021
in Esai
“Kamu kan Anak TI. Plis, Benerin Laptop Pacarku Dong!” – Uh, Sakitnya…

Siapa yang nggak pernah ikut lomba?

Pasti semuanya pernah. Dari berlomba menjadi yang tercepat menggapai sel telur sebagai sel sperma yang bersaing melawan jutaan kompetitor dari pabrikan yang sama; hingga lomba makan kerupuk yang menjengkelkan karena talinya digoyang-goyangin panitia dan akhirnya gregetan terus kerupuknya dipegang dengan tangan.

Dari berlomba-lomba siapa yang menikah duluan, siapa yang isi duluan; hingga lomba akademik dengan tingkatan yang beragam seperti lomba akademik tingkat keluarga, keluarga besar, banjar, desa adat, tingkat galaksi melawan alien yang “wah”, “hebat”, “bergengsi” dan tingkatan yang terakhir “meningkatkan akreditasi” padahal fasilitasnya… ups. hehehe.

Hidup kita tidak pernah lepas dari yang namanya lomba dan gengsi, bahkan manusia yang paling bodoamat pun masih mempunyai harga diri…seperti saya “Masak anak seniman yang dari kecil liat bapaknya gondrong, sekarang malah nggak gondrong mumpung pandemi?” hehehe.

Saking tidak bisa lepasnya dari kedua kata tersebut, hingga pandemi pun masih banyak yang berlomba-lomba apalagi di kalangan mahasiswa dengan embel embel generasi muda yang bertugas merekonstruksi bangsa di kenormalan baru…udah ngantuk ketika kuliah daring, mobilitas terbatas, pusing mikirin skripsi yang standarnya setinggi harapan perempuan bisa menikah sama personil BTS, sekarang ditawari lomba ini itu yang meningkatkan kuantitas uban dan gugurnya rambut di kepala bagian depan hingga tengah…hareudangg hareudangg akhirnya kehidupan sehari-harinya seperti kamera dengan lensa bokeh yang menerima banyak objek dalam satu frame, alias gak fokus! Hihihi.

Padahal kita mahasiswa tidak harus berbuat yang “wah” “hebat” “keren” untuk memperbaiki negara, tidak harus menciptakan vaksin paling mutakhir, alat paling canggih yang bisa dipamerkan di sosial media…hati-hati kepala yang terus dipompa hingga terlalu besar bisa meletus jika dibiarkan! hihihi.

Karena semuanya sudah ada tugasnya dalam merekonstruksi negara, ilmuwan di bidang dan instansinya bertugas mengembangkan vaksin; insinyur, developer, teknisi kondang di bidang dan instansinya bertugas mengembangkan alat paling canggih sejagat raya untuk kenormalan baru, mereka yang dipilih saat pilkades, pileg, pilkada, dan pil pil lainnya (tidak termasuk Pria Idaman Lain ataupaun Perempuan Idaman Lain ya hehehe) sebagai pemangku kebijakan bertugas mengatur strategi menurunkan angka penyebaran virus di kenormalan baru ini, masyarakat juga bertugas mengawasi kinerja pemangku kebijakannya dan mengikuti strategi yang dicanangkan oleh pemangku kebijakan itu.

Lalu mahasiswa tugasnya apa? Buka e-learning pilih mata kuliah yang dituju lalu cek pengumuman tentang tugas kita, bingung mengenai penyelesaian tugasnya? Ya belajar, udah belajar tapi bingung juga? Ya minta penjelasan kepada teman yang lebih mampu, masih bingung juga? Tidur sebentar mungkin kamu lelah, sudah tidur sebentar tapi masih bingung juga? Ya sudah, minta jawaban teman dengan catatan belajar, nggak usah buka e-learning teman untuk mencuri jawaban hihihi.

Selain belajar, mahasiswa juga bertugas mengembangkan berpikir kritis, lalu bersedia terlibat (membantu) ilmuwan, insinyur dan profesi lainnya di masa kenormalan baru, dan menjadi jembatan tambahan antara masyarakat dengan semua yang diatasnya atau dengan kata lain mensosialiasikan dan mengedukasi masyarakat.

Mensosialisasikan dan mengedukasi masyarakat? Pentingkah itu? Bukankah masyarakat sudah bisa buka internet semua? Ya pentinglah, kita ambil saja contoh kasus hoax yang kuantitasnya berbanding lurus dengan pesan singkat “sayang aku kangen” …banyak! hal ini membuktikan bahwa masyarakat yang sudah mendapat akses internet belum tentu dapat mengedukasi dirinya sendiri, oleh karena itu diperlukan gerakan yang gratis, masif, sporadis, dan akurat untuk mengedukasi masyarakat…gerakan itu siapa yang bisa melakukan? Mahasiswa dong.

Mengedukasi masyarakat tidak usah jauh-jauh, minimal di grup whatsapp keluarga masing-masing bebas dari hoax saja udah cukup sebagai langkah awal…selanjutnya bergerak ke keluarga besar, teman-teman 1 circle, pacar / pasangan dan lebih luas lagi. Bayangkan jika hoax dibiarkan begitu saja, ada vaksin A yang benar-benar ampuh malah dituduh membawa penyakit baru lah cetik versi 2021 lah; ada alat B yang benar-benar canggih dituduh bisnis korporat lah…jeg megenep! Lebih baik menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap hoax dahulu, nanti ketika saatnya tiba mulailah berinovasi…nyak sing asane to?

Pandemi ini memang memberatkan seluruh lapisan masyarakat. Setiap mahasiswa tidak harus memaksa diri dengan berlomba-lomba membuat alat, atau vaksin atau implementasi teori perkuliahan ini itu yang “wah” untuk membantu akreditasi lembaga dan kesulitan negara. Bagi yang memiliki ide, kemampuan dan kesempatan silahkan berkarya, bagi mahasiswa lain minimal tidak bolos saat perkuliahan daring, sadar untuk menerapkan protokol kesehatan dan memberantas hoax di grup whatsapp keluarga saja sudah cukup membuktikan bahwa kita ini mahasiswa. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pandemi, dan Petugas Parkir yang Kemudian Menjamur

Next Post

1,4 Juta Laklak Sudah Dimakan Artis, Pejabat dan Orang Biasa di Warung Djadja Laklak Pancasari

Made Agus Panji Sujaya

Made Agus Panji Sujaya

Tinggal di Singaraja. Sarjana Pendidikan Teknik Informatika Undiksha

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
1,4 Juta Laklak Sudah Dimakan Artis, Pejabat dan Orang Biasa di Warung Djadja Laklak Pancasari

1,4 Juta Laklak Sudah Dimakan Artis, Pejabat dan Orang Biasa di Warung Djadja Laklak Pancasari

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co