2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

TikTok, Generasi Muda, dan Identitas Digital yang Terkonstruksi

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
December 7, 2024
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

JIKA kita bicara tentang generasi muda saat ini, maka tak akan lepas dari persoalan media sosial. Salah satu platform media sosial yang paling populer di Indonesia saat ini adalah TikTok. Bahkan pengguna tertinggi TikTok di planet ini ada di nusantara.

Tidak lagi hanya sebagai aplikasi hiburan semata, kini platform TikTok telah menjadi simbol zaman yang baru, dia mendefinisikan cara Generasi Z mengekspresikan diri di era digital. Dengan miliaran pengguna aktif yang datang dengan berbagai kepentingan dan motivasi, TikTok telah menjelma menjadi arena pertemuan dan pertempuran identitas digital, ekspresi kreativitas, dan bahkan tekanan sosial.

Namun, di balik semua hiruk-pikuk tarian, kelucuan, dan tren viral, ada pertanyaan yang mendasar bagi generasi muda kita saat ini, yaitu mengenai dampak penggunaan dan keterlibatan mereka dengan media tersebut hubungannya dengan kesehatan mental, kreativitas, dan bagaimana generasi muda kita memahami serta membangun identitas digital diri mereka sendiri.

TikTok tidak hanya sekadar menjadi aplikasi populer, tetapi juga membentuk suatu budaya baru tersendiri. Platform ini, dengan fitur-fitur yang sederhana, segera saja memungkinkan siapa pun untuk menjadi kreator, dan mempopulerkan segala hal mulai dari tarian, jualan, kampanye politik, tarian hingga meme.

Dampak positifnya memang ada, karena media ini mampu memberikan ruang bagi kreativitas untuk berkembang tanpa batas. Tetapi di sisi lain yang menarik, algoritma TikTok yang sangat canggih memang dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna, hal inilah yang relate dengan konsep “ekonomi perhatian”. Herbert A. Simon (1971), dalam pernyataannya yang terkenal “A wealth of information creates a poverty of attention”. Algoritma ini dirancang untuk menjaga yang disebut perhatian pengguna, artinya menyasar dan memberikan para penggunanya jenis video yang “tepat” di waktu yang “tepat”.

Melalui mekanisme pengolahan big data, algoritma ini tidak hanya mempromosikan konten yang relevan secara personal, tetapi juga menciptakan “filter bubble” yang membuat pengguna terus terjebak dalam siklus konsumsi konten serupa (Pariser, 2011). Generasi muda kita, sebagai pengguna dominan, menghadapi tekanan sosial yang luar biasa untuk terus bisa tetap relevan.

Mereka tidak hanya berkompetisi dengan sesama pengguna, tetapi juga berkompetisi dengan ekspektasi tak kasat mata yang diciptakan oleh algoritma ini. Dalam dunia industri ada semacam quality control,  yang harus dipenuhi serta standar agar bisa tetap relevan.

Identitas Digital: Antara Otentisitas dan Artifisialitas

TikTok telah menjadi cermin bagi generasi muda kita, suatu tempat dimana mereka menyerap referensi, membentuk dan memamerkan kembali suatu identitas digital mereka. Tetapi, apakah identitas yang mereka tampilkan benar-benar identitas otentik, yang benar-benar mencerminkan diri mereka?

Identitas digital generasi muda kita sering kali menjadi representasi yang lebih “ideal” dibandingkan diri mereka yang sebenarnya. Menurut Sherry Turkle (2011), seorang psikolog dan profesor di MIT, media sosial seperti TikTok mendorong pengguna untuk menciptakan suatu identitas diri atau persona yang didasarkan pada apa yang ingin dilihat orang lain. Hal ini menyebabkan banyak pengguna kehilangan kontak dengan diri sejati mereka.

Hal ini selanjutnya menimbulkan suatu tekanan, untuk selalu memuaskan ekspektasi audiens. Ketika perhatian beralih dari “siapa saya” ke “apa yang diinginkan orang lain dari saya,” generasi muda kita terjebak dalam lingkaran konstruksi identitas yang artifisial.  Di tengah eksplorasi identitas ini, TikTok menjadi medan perang antara keaslian dan kebutuhan akan validasi eksternal.

 Fenomena ini sangat relevan dan berhubungan erat dengan konsep “presentasi diri” yang dijelaskan oleh Erving Goffman (1959). Jika dikaitkan dengan perkembangan digital saat ini, maka hal ini berkenaan di mana setiap individu memainkan peran tertentu untuk memenuhi norma sosial di platform digital.

Generasi muda kita sering kali merasa cemas jika konten mereka tidak mendapatkan cukup “likes” atau “views.” Konsep ini berakar pada apa yang disebut sebagai “fear of missing out” atau FOMO (Przybylski et al., 2013), di mana pengguna merasa cemas jika tidak ikut serta dalam tren atau mendapatkan cukup perhatian.

Tekanan ini dapat memengaruhi kesehatan mental, menciptakan kecemasan, bahkan depresi pada pengguna muda (Twenge, 2017). Jean M. Twenge menemukan hubungan yang kuat antara peningkatan penggunaan media sosial dan kemunduran kesejahteraan mental, termasuk peningkatan tingkat depresi, kecemasan, dan perasaan kesepian.

Kesehatan Mental dan Kreativitas yang Dibingkai Algoritma

Kebutuhan agar menjadi viral adalah bagian yang tak terhindarkan dari asyiknya pengalaman di TikTok. Di sisi kreativitas, TikTok memberikan peluang besar bagi eksplorasi ide baru. Namun, algoritma di media sosial sering kali membawa audiens ke prinsip homogenitas. Kreator yang mengikuti tren cenderung mendapatkan lebih banyak perhatian dibandingkan mereka yang mencoba sesuatu yang baru atau berbeda.

Hal ini menciptakan apa yang disebut sebagai “kreativitas algoritmik” di mana inovasi dibatasi oleh preferensi sistem.  TikTok memberikan ruang bagi generasi muda kita untuk menemukan komunitas, membangun identitas, dan mengekspresikan bakat yang mungkin lebih sulit diakses di dunia nyata. Namun bagaimana pun juga, ada harga yang harus mereka bayar. Kehilangan otentisitas, adanya tekanan sosial secara digital agar terus relevan, dan ketergantungan pada algoritma adalah beberapa konsekuensinya.

 Hal tersebut membuat platform seperti TikTok menciptakan lingkungan yang penuh paradoks: mereka menawarkan kebebasan berekspresi, tetapi sekaligus membatasi dan menilai bagaimana ekspresi itu akan diterima.  Dengan kata lain, generasi muda kita memiliki peluang untuk menunjukkan kreativitas, namun mereka juga terjebak dalam lingkaran validasi yang diciptakan oleh algoritma.

Refleksi dan Solusi

Di tengah paradoks ini, kesadaran digital menjadi kunci untuk menghadapi tantangan. Literasi digital bukan hanya soal kemampuan teknis, tetapi juga pemahaman yang kritis tentang bagaimana teknologi memengaruhi cara kita berpikir dan bertindak (Livingstone, 2004). Refleksi kritis, seperti yang diusulkan oleh Foucault (1988), penting untuk membantu generasi muda kita memahami diri mereka sendiri di tengah tekanan sosial.

Mereka perlu diberikan pemahaman untuk memprioritaskan otentisitas daripada viralitas. Selain itu, orang tua dan pendidik memiliki peran besar dalam membimbing mereka agar dapat menyeimbangkan kreativitas dengan kesehatan mental.

Sangat penting untuk dapat menciptakan lingkungan yang mendukung di mana generasi muda kita dapat mengeksplorasi identitas secara sehat dan memunculkan kreativitas tanpa tekanan sosial yang berlebihan. Misalnya, membangun komunitas di luar media sosial yang menghargai keaslian dan bakat individu, dapat menjadi solusi untuk membantu generasi muda kita menjaga keseimbangan antara dunia digital dan dunia nyata.

TikTok adalah cerminan dunia modern, penuh peluang sekaligus tantangan. Untuk generasi muda kita, platform ini adalah ruang kreatif sekaligus arena perjuangan identitas. Pada akhirnya, pertanyaannya bukan lagi tentang bagaimana TikTok memengaruhi kita, tetapi bagaimana kita dapat memanfaatkan TikTok tanpa kehilangan kendali atas diri kita sendiri.

Apakah generasi muda kita akan menjadi kreator yang otentik, atau hanya bayangan dari algoritma yang mengatur mereka? Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan bagaimana kita, sebagai masyarakat, memahami hubungan antara teknologi, kreativitas, dan identitas di era digital ini. Happy Scrolling! [T]

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Memaknai Foto sebagai Narasi Identitas, Sosial, dan Budaya
Candu Media Sosial dan Kesehatan Mental
Merandai Cakrawala Sinema: Membangun Karakter Generasi Milenial hingga Alpha
ASMR: Hiburan, Manipulasi, dan Refleksi atas Kehidupan Modern
Transformasi Radio: Menolak Mati dalam Gelombang Digitalisasi

Tags: generasi mudamedia sosialtiktok
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Warung Nasi Lawar Dugong 21: Kuliner Legendaris dari Guwang dan Kisahnya yang Jarang Diketahui

Next Post

“When Cening Meets Kawa, the Magical Forest” Tayang Perdana di JAFF ke-19: Angkat Budaya Bali dan Fantasi Anak-anak

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
“When Cening Meets Kawa, the Magical Forest” Tayang Perdana di JAFF ke-19: Angkat Budaya Bali dan Fantasi Anak-anak

"When Cening Meets Kawa, the Magical Forest" Tayang Perdana di JAFF ke-19: Angkat Budaya Bali dan Fantasi Anak-anak

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co