3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

TikTok, Generasi Muda, dan Identitas Digital yang Terkonstruksi

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
December 7, 2024
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

JIKA kita bicara tentang generasi muda saat ini, maka tak akan lepas dari persoalan media sosial. Salah satu platform media sosial yang paling populer di Indonesia saat ini adalah TikTok. Bahkan pengguna tertinggi TikTok di planet ini ada di nusantara.

Tidak lagi hanya sebagai aplikasi hiburan semata, kini platform TikTok telah menjadi simbol zaman yang baru, dia mendefinisikan cara Generasi Z mengekspresikan diri di era digital. Dengan miliaran pengguna aktif yang datang dengan berbagai kepentingan dan motivasi, TikTok telah menjelma menjadi arena pertemuan dan pertempuran identitas digital, ekspresi kreativitas, dan bahkan tekanan sosial.

Namun, di balik semua hiruk-pikuk tarian, kelucuan, dan tren viral, ada pertanyaan yang mendasar bagi generasi muda kita saat ini, yaitu mengenai dampak penggunaan dan keterlibatan mereka dengan media tersebut hubungannya dengan kesehatan mental, kreativitas, dan bagaimana generasi muda kita memahami serta membangun identitas digital diri mereka sendiri.

TikTok tidak hanya sekadar menjadi aplikasi populer, tetapi juga membentuk suatu budaya baru tersendiri. Platform ini, dengan fitur-fitur yang sederhana, segera saja memungkinkan siapa pun untuk menjadi kreator, dan mempopulerkan segala hal mulai dari tarian, jualan, kampanye politik, tarian hingga meme.

Dampak positifnya memang ada, karena media ini mampu memberikan ruang bagi kreativitas untuk berkembang tanpa batas. Tetapi di sisi lain yang menarik, algoritma TikTok yang sangat canggih memang dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna, hal inilah yang relate dengan konsep “ekonomi perhatian”. Herbert A. Simon (1971), dalam pernyataannya yang terkenal “A wealth of information creates a poverty of attention”. Algoritma ini dirancang untuk menjaga yang disebut perhatian pengguna, artinya menyasar dan memberikan para penggunanya jenis video yang “tepat” di waktu yang “tepat”.

Melalui mekanisme pengolahan big data, algoritma ini tidak hanya mempromosikan konten yang relevan secara personal, tetapi juga menciptakan “filter bubble” yang membuat pengguna terus terjebak dalam siklus konsumsi konten serupa (Pariser, 2011). Generasi muda kita, sebagai pengguna dominan, menghadapi tekanan sosial yang luar biasa untuk terus bisa tetap relevan.

Mereka tidak hanya berkompetisi dengan sesama pengguna, tetapi juga berkompetisi dengan ekspektasi tak kasat mata yang diciptakan oleh algoritma ini. Dalam dunia industri ada semacam quality control,  yang harus dipenuhi serta standar agar bisa tetap relevan.

Identitas Digital: Antara Otentisitas dan Artifisialitas

TikTok telah menjadi cermin bagi generasi muda kita, suatu tempat dimana mereka menyerap referensi, membentuk dan memamerkan kembali suatu identitas digital mereka. Tetapi, apakah identitas yang mereka tampilkan benar-benar identitas otentik, yang benar-benar mencerminkan diri mereka?

Identitas digital generasi muda kita sering kali menjadi representasi yang lebih “ideal” dibandingkan diri mereka yang sebenarnya. Menurut Sherry Turkle (2011), seorang psikolog dan profesor di MIT, media sosial seperti TikTok mendorong pengguna untuk menciptakan suatu identitas diri atau persona yang didasarkan pada apa yang ingin dilihat orang lain. Hal ini menyebabkan banyak pengguna kehilangan kontak dengan diri sejati mereka.

Hal ini selanjutnya menimbulkan suatu tekanan, untuk selalu memuaskan ekspektasi audiens. Ketika perhatian beralih dari “siapa saya” ke “apa yang diinginkan orang lain dari saya,” generasi muda kita terjebak dalam lingkaran konstruksi identitas yang artifisial.  Di tengah eksplorasi identitas ini, TikTok menjadi medan perang antara keaslian dan kebutuhan akan validasi eksternal.

 Fenomena ini sangat relevan dan berhubungan erat dengan konsep “presentasi diri” yang dijelaskan oleh Erving Goffman (1959). Jika dikaitkan dengan perkembangan digital saat ini, maka hal ini berkenaan di mana setiap individu memainkan peran tertentu untuk memenuhi norma sosial di platform digital.

Generasi muda kita sering kali merasa cemas jika konten mereka tidak mendapatkan cukup “likes” atau “views.” Konsep ini berakar pada apa yang disebut sebagai “fear of missing out” atau FOMO (Przybylski et al., 2013), di mana pengguna merasa cemas jika tidak ikut serta dalam tren atau mendapatkan cukup perhatian.

Tekanan ini dapat memengaruhi kesehatan mental, menciptakan kecemasan, bahkan depresi pada pengguna muda (Twenge, 2017). Jean M. Twenge menemukan hubungan yang kuat antara peningkatan penggunaan media sosial dan kemunduran kesejahteraan mental, termasuk peningkatan tingkat depresi, kecemasan, dan perasaan kesepian.

Kesehatan Mental dan Kreativitas yang Dibingkai Algoritma

Kebutuhan agar menjadi viral adalah bagian yang tak terhindarkan dari asyiknya pengalaman di TikTok. Di sisi kreativitas, TikTok memberikan peluang besar bagi eksplorasi ide baru. Namun, algoritma di media sosial sering kali membawa audiens ke prinsip homogenitas. Kreator yang mengikuti tren cenderung mendapatkan lebih banyak perhatian dibandingkan mereka yang mencoba sesuatu yang baru atau berbeda.

Hal ini menciptakan apa yang disebut sebagai “kreativitas algoritmik” di mana inovasi dibatasi oleh preferensi sistem.  TikTok memberikan ruang bagi generasi muda kita untuk menemukan komunitas, membangun identitas, dan mengekspresikan bakat yang mungkin lebih sulit diakses di dunia nyata. Namun bagaimana pun juga, ada harga yang harus mereka bayar. Kehilangan otentisitas, adanya tekanan sosial secara digital agar terus relevan, dan ketergantungan pada algoritma adalah beberapa konsekuensinya.

 Hal tersebut membuat platform seperti TikTok menciptakan lingkungan yang penuh paradoks: mereka menawarkan kebebasan berekspresi, tetapi sekaligus membatasi dan menilai bagaimana ekspresi itu akan diterima.  Dengan kata lain, generasi muda kita memiliki peluang untuk menunjukkan kreativitas, namun mereka juga terjebak dalam lingkaran validasi yang diciptakan oleh algoritma.

Refleksi dan Solusi

Di tengah paradoks ini, kesadaran digital menjadi kunci untuk menghadapi tantangan. Literasi digital bukan hanya soal kemampuan teknis, tetapi juga pemahaman yang kritis tentang bagaimana teknologi memengaruhi cara kita berpikir dan bertindak (Livingstone, 2004). Refleksi kritis, seperti yang diusulkan oleh Foucault (1988), penting untuk membantu generasi muda kita memahami diri mereka sendiri di tengah tekanan sosial.

Mereka perlu diberikan pemahaman untuk memprioritaskan otentisitas daripada viralitas. Selain itu, orang tua dan pendidik memiliki peran besar dalam membimbing mereka agar dapat menyeimbangkan kreativitas dengan kesehatan mental.

Sangat penting untuk dapat menciptakan lingkungan yang mendukung di mana generasi muda kita dapat mengeksplorasi identitas secara sehat dan memunculkan kreativitas tanpa tekanan sosial yang berlebihan. Misalnya, membangun komunitas di luar media sosial yang menghargai keaslian dan bakat individu, dapat menjadi solusi untuk membantu generasi muda kita menjaga keseimbangan antara dunia digital dan dunia nyata.

TikTok adalah cerminan dunia modern, penuh peluang sekaligus tantangan. Untuk generasi muda kita, platform ini adalah ruang kreatif sekaligus arena perjuangan identitas. Pada akhirnya, pertanyaannya bukan lagi tentang bagaimana TikTok memengaruhi kita, tetapi bagaimana kita dapat memanfaatkan TikTok tanpa kehilangan kendali atas diri kita sendiri.

Apakah generasi muda kita akan menjadi kreator yang otentik, atau hanya bayangan dari algoritma yang mengatur mereka? Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan bagaimana kita, sebagai masyarakat, memahami hubungan antara teknologi, kreativitas, dan identitas di era digital ini. Happy Scrolling! [T]

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Memaknai Foto sebagai Narasi Identitas, Sosial, dan Budaya
Candu Media Sosial dan Kesehatan Mental
Merandai Cakrawala Sinema: Membangun Karakter Generasi Milenial hingga Alpha
ASMR: Hiburan, Manipulasi, dan Refleksi atas Kehidupan Modern
Transformasi Radio: Menolak Mati dalam Gelombang Digitalisasi

Tags: generasi mudamedia sosialtiktok
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Warung Nasi Lawar Dugong 21: Kuliner Legendaris dari Guwang dan Kisahnya yang Jarang Diketahui

Next Post

“When Cening Meets Kawa, the Magical Forest” Tayang Perdana di JAFF ke-19: Angkat Budaya Bali dan Fantasi Anak-anak

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
“When Cening Meets Kawa, the Magical Forest” Tayang Perdana di JAFF ke-19: Angkat Budaya Bali dan Fantasi Anak-anak

"When Cening Meets Kawa, the Magical Forest" Tayang Perdana di JAFF ke-19: Angkat Budaya Bali dan Fantasi Anak-anak

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co