23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

TikTok, Generasi Muda, dan Identitas Digital yang Terkonstruksi

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
December 7, 2024
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

JIKA kita bicara tentang generasi muda saat ini, maka tak akan lepas dari persoalan media sosial. Salah satu platform media sosial yang paling populer di Indonesia saat ini adalah TikTok. Bahkan pengguna tertinggi TikTok di planet ini ada di nusantara.

Tidak lagi hanya sebagai aplikasi hiburan semata, kini platform TikTok telah menjadi simbol zaman yang baru, dia mendefinisikan cara Generasi Z mengekspresikan diri di era digital. Dengan miliaran pengguna aktif yang datang dengan berbagai kepentingan dan motivasi, TikTok telah menjelma menjadi arena pertemuan dan pertempuran identitas digital, ekspresi kreativitas, dan bahkan tekanan sosial.

Namun, di balik semua hiruk-pikuk tarian, kelucuan, dan tren viral, ada pertanyaan yang mendasar bagi generasi muda kita saat ini, yaitu mengenai dampak penggunaan dan keterlibatan mereka dengan media tersebut hubungannya dengan kesehatan mental, kreativitas, dan bagaimana generasi muda kita memahami serta membangun identitas digital diri mereka sendiri.

TikTok tidak hanya sekadar menjadi aplikasi populer, tetapi juga membentuk suatu budaya baru tersendiri. Platform ini, dengan fitur-fitur yang sederhana, segera saja memungkinkan siapa pun untuk menjadi kreator, dan mempopulerkan segala hal mulai dari tarian, jualan, kampanye politik, tarian hingga meme.

Dampak positifnya memang ada, karena media ini mampu memberikan ruang bagi kreativitas untuk berkembang tanpa batas. Tetapi di sisi lain yang menarik, algoritma TikTok yang sangat canggih memang dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna, hal inilah yang relate dengan konsep “ekonomi perhatian”. Herbert A. Simon (1971), dalam pernyataannya yang terkenal “A wealth of information creates a poverty of attention”. Algoritma ini dirancang untuk menjaga yang disebut perhatian pengguna, artinya menyasar dan memberikan para penggunanya jenis video yang “tepat” di waktu yang “tepat”.

Melalui mekanisme pengolahan big data, algoritma ini tidak hanya mempromosikan konten yang relevan secara personal, tetapi juga menciptakan “filter bubble” yang membuat pengguna terus terjebak dalam siklus konsumsi konten serupa (Pariser, 2011). Generasi muda kita, sebagai pengguna dominan, menghadapi tekanan sosial yang luar biasa untuk terus bisa tetap relevan.

Mereka tidak hanya berkompetisi dengan sesama pengguna, tetapi juga berkompetisi dengan ekspektasi tak kasat mata yang diciptakan oleh algoritma ini. Dalam dunia industri ada semacam quality control,  yang harus dipenuhi serta standar agar bisa tetap relevan.

Identitas Digital: Antara Otentisitas dan Artifisialitas

TikTok telah menjadi cermin bagi generasi muda kita, suatu tempat dimana mereka menyerap referensi, membentuk dan memamerkan kembali suatu identitas digital mereka. Tetapi, apakah identitas yang mereka tampilkan benar-benar identitas otentik, yang benar-benar mencerminkan diri mereka?

Identitas digital generasi muda kita sering kali menjadi representasi yang lebih “ideal” dibandingkan diri mereka yang sebenarnya. Menurut Sherry Turkle (2011), seorang psikolog dan profesor di MIT, media sosial seperti TikTok mendorong pengguna untuk menciptakan suatu identitas diri atau persona yang didasarkan pada apa yang ingin dilihat orang lain. Hal ini menyebabkan banyak pengguna kehilangan kontak dengan diri sejati mereka.

Hal ini selanjutnya menimbulkan suatu tekanan, untuk selalu memuaskan ekspektasi audiens. Ketika perhatian beralih dari “siapa saya” ke “apa yang diinginkan orang lain dari saya,” generasi muda kita terjebak dalam lingkaran konstruksi identitas yang artifisial.  Di tengah eksplorasi identitas ini, TikTok menjadi medan perang antara keaslian dan kebutuhan akan validasi eksternal.

 Fenomena ini sangat relevan dan berhubungan erat dengan konsep “presentasi diri” yang dijelaskan oleh Erving Goffman (1959). Jika dikaitkan dengan perkembangan digital saat ini, maka hal ini berkenaan di mana setiap individu memainkan peran tertentu untuk memenuhi norma sosial di platform digital.

Generasi muda kita sering kali merasa cemas jika konten mereka tidak mendapatkan cukup “likes” atau “views.” Konsep ini berakar pada apa yang disebut sebagai “fear of missing out” atau FOMO (Przybylski et al., 2013), di mana pengguna merasa cemas jika tidak ikut serta dalam tren atau mendapatkan cukup perhatian.

Tekanan ini dapat memengaruhi kesehatan mental, menciptakan kecemasan, bahkan depresi pada pengguna muda (Twenge, 2017). Jean M. Twenge menemukan hubungan yang kuat antara peningkatan penggunaan media sosial dan kemunduran kesejahteraan mental, termasuk peningkatan tingkat depresi, kecemasan, dan perasaan kesepian.

Kesehatan Mental dan Kreativitas yang Dibingkai Algoritma

Kebutuhan agar menjadi viral adalah bagian yang tak terhindarkan dari asyiknya pengalaman di TikTok. Di sisi kreativitas, TikTok memberikan peluang besar bagi eksplorasi ide baru. Namun, algoritma di media sosial sering kali membawa audiens ke prinsip homogenitas. Kreator yang mengikuti tren cenderung mendapatkan lebih banyak perhatian dibandingkan mereka yang mencoba sesuatu yang baru atau berbeda.

Hal ini menciptakan apa yang disebut sebagai “kreativitas algoritmik” di mana inovasi dibatasi oleh preferensi sistem.  TikTok memberikan ruang bagi generasi muda kita untuk menemukan komunitas, membangun identitas, dan mengekspresikan bakat yang mungkin lebih sulit diakses di dunia nyata. Namun bagaimana pun juga, ada harga yang harus mereka bayar. Kehilangan otentisitas, adanya tekanan sosial secara digital agar terus relevan, dan ketergantungan pada algoritma adalah beberapa konsekuensinya.

 Hal tersebut membuat platform seperti TikTok menciptakan lingkungan yang penuh paradoks: mereka menawarkan kebebasan berekspresi, tetapi sekaligus membatasi dan menilai bagaimana ekspresi itu akan diterima.  Dengan kata lain, generasi muda kita memiliki peluang untuk menunjukkan kreativitas, namun mereka juga terjebak dalam lingkaran validasi yang diciptakan oleh algoritma.

Refleksi dan Solusi

Di tengah paradoks ini, kesadaran digital menjadi kunci untuk menghadapi tantangan. Literasi digital bukan hanya soal kemampuan teknis, tetapi juga pemahaman yang kritis tentang bagaimana teknologi memengaruhi cara kita berpikir dan bertindak (Livingstone, 2004). Refleksi kritis, seperti yang diusulkan oleh Foucault (1988), penting untuk membantu generasi muda kita memahami diri mereka sendiri di tengah tekanan sosial.

Mereka perlu diberikan pemahaman untuk memprioritaskan otentisitas daripada viralitas. Selain itu, orang tua dan pendidik memiliki peran besar dalam membimbing mereka agar dapat menyeimbangkan kreativitas dengan kesehatan mental.

Sangat penting untuk dapat menciptakan lingkungan yang mendukung di mana generasi muda kita dapat mengeksplorasi identitas secara sehat dan memunculkan kreativitas tanpa tekanan sosial yang berlebihan. Misalnya, membangun komunitas di luar media sosial yang menghargai keaslian dan bakat individu, dapat menjadi solusi untuk membantu generasi muda kita menjaga keseimbangan antara dunia digital dan dunia nyata.

TikTok adalah cerminan dunia modern, penuh peluang sekaligus tantangan. Untuk generasi muda kita, platform ini adalah ruang kreatif sekaligus arena perjuangan identitas. Pada akhirnya, pertanyaannya bukan lagi tentang bagaimana TikTok memengaruhi kita, tetapi bagaimana kita dapat memanfaatkan TikTok tanpa kehilangan kendali atas diri kita sendiri.

Apakah generasi muda kita akan menjadi kreator yang otentik, atau hanya bayangan dari algoritma yang mengatur mereka? Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan bagaimana kita, sebagai masyarakat, memahami hubungan antara teknologi, kreativitas, dan identitas di era digital ini. Happy Scrolling! [T]

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Memaknai Foto sebagai Narasi Identitas, Sosial, dan Budaya
Candu Media Sosial dan Kesehatan Mental
Merandai Cakrawala Sinema: Membangun Karakter Generasi Milenial hingga Alpha
ASMR: Hiburan, Manipulasi, dan Refleksi atas Kehidupan Modern
Transformasi Radio: Menolak Mati dalam Gelombang Digitalisasi

Tags: generasi mudamedia sosialtiktok
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Warung Nasi Lawar Dugong 21: Kuliner Legendaris dari Guwang dan Kisahnya yang Jarang Diketahui

Next Post

“When Cening Meets Kawa, the Magical Forest” Tayang Perdana di JAFF ke-19: Angkat Budaya Bali dan Fantasi Anak-anak

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
“When Cening Meets Kawa, the Magical Forest” Tayang Perdana di JAFF ke-19: Angkat Budaya Bali dan Fantasi Anak-anak

"When Cening Meets Kawa, the Magical Forest" Tayang Perdana di JAFF ke-19: Angkat Budaya Bali dan Fantasi Anak-anak

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co