2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Warung Nasi Lawar Dugong 21: Kuliner Legendaris dari Guwang dan Kisahnya yang Jarang Diketahui

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
December 7, 2024
in Kuliner
Warung Nasi Lawar Dugong 21: Kuliner Legendaris dari Guwang dan Kisahnya yang Jarang Diketahui

Ni Ketut Sami sedang membuat pesanan nasi bungkus | Foto: tatkala.co/Dede

SETIAP hari, Ni Ketut Sami akan mengaduk lawar sedari petang hingga menuju tengah malam, ia menyiapkan hidangan lawar untuk pelanggan-pelanggannya. Rutinitas itu sudah dilakoninya hampir 40 tahun, sejak memulai bisnis warung makan dari tahun 1980-an.

Dugong 21, begitulah orang-orang mengenal warung nasi lawar tersebut. Warung ini terletak di jalan raya Guwang, Sukawati. Tepatnya di sebelah utara Indomaret Guwang. Tentu, banyak orang yang penasaran mengapa nama Dugong 21 dipilih sebagai nama warung.

Ni Ketut Sami dan I Wayan Balik Dudug selaku owner menjelaskan, Dugong 21 memiliki makna yang mendalam, bukan sekadar nama belaka. Dugong merupakan satwa laut yang diartikan kerap jatuh-bangun, serta senantiasa berjuang untuk bangkit. Kemudian Dua Satu berarti Dudug dan Sami, diambil dari suku kata pertama Du-Sa.

Dugong 21 merupakan bisnis keluarga yang dijalankan langsung oleh satu keluarga, di bawah komando Ni Ketut Sami dan I Wayan Balik Dudug. Semua bahu-membahu membantu menyiapkan piranti untuk berjualan setiap harinya, mulai dari anak, cucu, hingga karyawan, semuanya bekerja sama.

Warung Nasi Lawar Dugong 21 | Foto: tatkala.co/Dede

Sebelum menjadi kuliner malam seperti sekarang, dahulunya warung Dugong 21 beroperasi pada pagi hari, dari jam 5 subuh sampai jam 10 pagi. Pada masa itu, nasi lawar Dugong 21 masih menjadi menu sarapan warga. Kini warung Dugong 21 buka dari jam 5 sore sampai jam 11 malam, atau sampai habis.

Luh Ayu Rai Sulaksmi, cucu dari Ketut Sami dan Balik Dudug mengatakan, warung ini mulai beroperasi pada malam hari sejak tahun 2020. “Awalnya karena buka pada malam Siwaratri, banyak anak-anak muda datang untuk membeli nasi. Bahkan sampai ada yang makan di dalam rumah, karena kehabisan tempat di depan. Sejak saat itu, warung Dugong 21 mulai berkembang, benar-benar menjadi rumah makan.”

“Sensasi makan di rumah itu yang banyak orang suka, mereka merasa lebih santai, seperti makan di rumah sendiri. Terkadang ada juga yang merasa seperti datang ke resepsi pernikahan,” kata Ayu Rai.

Semenjak berjualan pada malam hari, kini warung Dugong 21 semakin ramai dan memerlukan tenaga yang ekstra. Saat ini warung Dugong 21 turut dibantu oleh lima karyawan di luar anggota keluarga. Total orang yang terlibat sebanyak sebelas orang, enam anggota keluarga dan lima karyawan.

Tangan Ni Ketut Sami saat mengadon lawar | Foto: tatkala.co/Dede

Lawar adalah masakan khas Bali yang berupa campuran sayur-sayuran, bumbu Bali, dan Daging Cincang. Di Bali ada banyak jenis-jenis lawar, salah satunya adalah lawar plek. Perbedaan lawar plek dengan lawar-lawar lainnya adalah dari segi penggunaan daging cincang yang lebih banyak daripada sayur-sayuran, serta ditambah dengan campuran darah segar untuk menambah cita rasa.

Bagi Anda yang belum pernah mencoba, bisa langsung datang dan rasakan sendiri. Warung Nasi Lawar Dugong 21 bisa menjadi salah satu tempat untuk mengisi perut Anda ketika sedang melintas atau berkunjung ke desa Guwang.

Jika tidak suka dengan lawar plek, Anda bisa request jenis lawar yang Anda inginkan. Bisa lawar plek, lawar sedikit plek, lawar tidak plek (tidak pakai daging cincang), ataupun lawar putih (tanpa darah).

Jika berbicara soal harga, Anda tidak perlu khawatir, nasi lawar Dugong 21 sangatlah terjangkau. Hanya dengan menyiapkan uang 20 ribu rupiah, Anda sudah mendapatkan satu porsi nasi lawar lengkap dengan soto dan minuman.

Dua Porsi Nasi Lawar di Warung Dugong 21 | Foto: tatkala.co/Dede

Luh Ayu Rai Sulaksmi saat menyiapkan soto | Foto: tatkala.co/Dede

Anda juga bisa memilih, mau menyantap makanan di luar atau di dalam rumah. Ketika makan di dalam rumah, Anda akan diperlihatkan dengan rumah style Bali. Semua hal yang Anda lihat di rumah itu adalah hasil dari bisnis warung nasi itu, karena memang itulah mata pencaharian utama keluarga tersebut.

Menu yang selalu menjadi primadona selain lawar adalah soto dan sate. Orang-orang yang datang berbelanja tak selalu hanya membeli lawar. Ada juga yang hanya membeli sate ataupun soto untuk dijadikan lauk di rumah.

Soto Babi khas Warung Nasi Lawar Dugong 21 | Foto: tatkala.co/Dede

Aneka sate di Warung Nasi Lawar Dugong 21 | Foto: tatkala.co/Dede

Beberapa pelanggan juga tampak mencomot beberapa sate, sembari menunggu pesanan mereka disiapkan. Tetapi tentu, mereka harus membayar lebih untuk sate yang diambil di luar porsi utama.

Pelanggan Dugong 21 kini datang dari seluruh penjuru Bali. Banyak orang yang rela jauh-jauh ke desa Guwang hanya untuk mencicipi adukan lawar dari Ketut Sami. Tak hanya orang Bali, turis-turis mancanegara juga kerap terlihat membeli lawar di sana.

I Wayan Balik Dudug menyebutkan, Warung Nasi Lawar Dugong 21 menghabiskan 50 kilogram daging babi dan 40 kilogram beras setiap harinya. Ia juga mengatakan, Sebelum menjual lawar babi, warung Dugong 21 telah melewati banyak transformasi bisnis. Mulai dari menjual kaset, warung kopi, lawar penyu, lawar ayam, hingga lawar babi.

Suasana di dalam rumah Warung Nasi Lawar Dugong 21 | Foto: tatkala.co/Dede

Semua dimulai saat I Wayan Balik Dudug dan Ni Ketut Sami menikah pada tahun 1974. Setelah menikah, mereka mencoba memulai berbisnis. Kala itu, masih sedang tren kaset, jadi bisnis pertama yang dijalankan adalah menjual kaset. Selama sekian tahun menjual kaset, mereka dianugerahi lima putri, anak pertama lahir pada tahun 1975 sampai anak kelima lahir pada tahun 1984.

Sayangnya, bisnis kaset tersebut kandas ketika anak ketiga mereka meninggal dunia, saat masih duduk di bangku kelas tiga SD. Momen itu menjadi masa yang sulit dan bisnis mereka lambat laun mulai terpuruk, semua uang yang mereka punya habis untuk membeli obat dan biaya perawatan sang anak. Momen itu pula memberikan pukulan yang amat mendalam bagi mereka.

Tak lama setelah peristiwa itu, mereka memulai kembali berbisnis dari nol dengan membuka warung kopi dan menjual bensin eceran (premium). Tetapi karena pengeluaran dan pemasukan dirasa tidak stabil, akhirnya Dugong 21 beralih menjadi warung nasi dengan olahan penyu, dari sanalah Dugong 21 mulai menjadi warung nasi lawar.

Tampak depan Warung Nasi Lawar Dugong 21 | Foto: tatkala.co/Dede

Pada masa itu, penyu masih lazim dijadikan bahan makanan. Tetapi semenjak muncul peraturan daerah (Perda) yang melarang penangkapan penyu, akhirnya Dugong 21 beralih menjual lawar Ayam. Kemudian tak lama setelahnya, munculah isu flu burung, yang membuat Dugong 21 beralih menjual lawar babi, kemudian muncul lagi isu flu babi yang menyebabkan bisnis Dugong 21 menjadi mandet.

Seiring waktu berjalan, kondisi mulai berangsur membaik, Warung Dugong 21 pun konsisten menjual lawar babi sampai sekarang. {T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Bubuh Nyawan Dadong Rinten dari Blahkiuh, Bubur Bali dengan Cita Rasa Autentik
Ketut Suariani, Peramu Loloh Cemcem dari Desa Aan
Ikan Bakar Komel Pengambengan: Kelezatan di Balik Kesederhanaan
Rujak Cingur Bu Mah, Kuliner Hibrid yang Unik dan Legendaris di Pasar Atom Surabaya
Laklak Beras Merah Jatiluwih: Tradisi dan Inovasi dalam Satu Gigitan
Klipes Sune Cekuh, Kumbang Air Goreng Khas Desa Kedis
Menikmati Sate Keladi Khas Pedawa yang Unik
Tags: Desa GuwangGianyarkuliner khas balilawarlawar balimasakan tradisional
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tanah Kuburan Bapak | Cerpen Jaswanto

Next Post

TikTok, Generasi Muda, dan Identitas Digital yang Terkonstruksi

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
0
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

Read moreDetails

Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
September 4, 2026
0
Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

MATAHARI pagi belum genap sejengkal naik ketika sebuah gerobak biru berhenti di pinggir Jalan Merak, Singaraja. Di belakangnya, truk-truk besar...

Read moreDetails

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

by Nyoman Budarsana
September 1, 2026
0
Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

UDARA pagi terasa panas ketika rangkaian Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 memasuki penghujung acara. Usai menutup festival,...

Read moreDetails

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

by Tri Nugroho Adi
August 9, 2026
0
Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

"BU, kulo mung mbekto kuluban godhong kates nggih? Lha ya mung niku sing wonten teng  nggriyo ." (Bu, saya hanya...

Read moreDetails

Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

by Jaswanto
June 17, 2026
0
Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan,...

Read moreDetails

Serangga dalam Piring Makan Kita

by Jaswanto
April 25, 2026
0
Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

Read moreDetails

Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
April 12, 2026
0
Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

MATAHARI baru saja mengintip di ufuk timur Kota Singaraja. Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 WITA, namun denyut nadi di Jalan...

Read moreDetails

Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

by Jaswanto
April 2, 2026
0
Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

“BELAJAR jualan dari ibu.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari sosok perempuan yang sedang berdiri di belakang lapak dagangannya. Pagi...

Read moreDetails

Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

by Tobing Crysnanjaya
March 15, 2026
0
Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

Jogja, perjalanan yang tak singkat. Menghabiskan waktu hingga 9 jam lamanya. Beberapa kali singgah di Rest Area sepanjang Toll Cipali,...

Read moreDetails

Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026: Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

by Nyoman Budarsana
February 27, 2026
0
Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026:  Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

Satu hal yang baru dalam perhelatan Bulan Bahasa Bali VIII tahun 2026 adalah pameran kuliner yang berlokasi sebelah barat Gedung...

Read moreDetails
Next Post
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

TikTok, Generasi Muda, dan Identitas Digital yang Terkonstruksi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co