2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Laklak Beras Merah Jatiluwih: Tradisi dan Inovasi dalam Satu Gigitan

Jaswanto by Jaswanto
October 10, 2024
in Kuliner
Laklak Beras Merah Jatiluwih: Tradisi dan Inovasi dalam Satu Gigitan

Laklak beras merah Jatiluwih | Foto: Dok. Agus

“RASANYA legit, gurih, dan lebih bertekstur,” ujar I Wayan Agus Saputra di suatu siang yang mendung di Kantor Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan. Pria yang dipercaya Kepala Desa Jatiluwih sebagai Daya Desa sekaligus Kawil Banjar Gunung Sari ini sedang mencoba menjelaskan sekilas tentang rasa jajanan tradisional Jatiluwih, laklak beras merah.

Di sebuah loyang ukuran standar, puluhan laklak beras merah berbungkus daun pisang ditata sedemikian rupa. Sekilas dari bungkusnya, tampilannya mirip lemper—meski ukurannya tampak lebih besar. Kudapan yang terasa manis dan gurih itu dihidangkan dalam sebuah acara yang diselenggarakan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XV di Jatiluwih. Tampaknya, dari sekian rupa jajanan yang disuguhkan, laklak beras merah ini yang jadi primadonanya.

Barangkali itu karena rasanya, tapi mungkin juga oleh sebab bahan bakunya. Kita tahu, di luaran sana, biasanya laklak dibikin dari tepung beras biasa—yang putih. Tapi di Jatiluwih, panganan yang memiliki sejarah panjang ini dibuat dari adonan beras merah yang sudah dihaluskan. Dan ini bukan tanpa sebab. Mengingat, di Bali, Jatiluwih dikenal sebagai—atau menjadi—salah satu desa penghasil beras merah dengan produktivitas yang tinggi, di samping Wongaya Gede dan desa sekitarnya di lereng Batukaru.

Laklak beras merah Jatiluwih | Foto: tatkala.co/Jaswanto

“Di Jatiluwih, laklak beras merah ini kami percaya sudah ada sejak tahun 1890,” terang Agus, meski ia tak menyebutkan dari mana angka tahun itu diperoleh.

Tahun 1890, tentu saja, Bali masih penuh misteri. Tak banyak hal yang terungkap dan tercatat. Kisaran tahun itu, peneliti-peneliti asing macam Dr. H.N. van der Tuuk dan Dr. J.L.A Brandes masih berkeliaran di Julah, Sukasada, dan di desa-desa lain di Buleleng. Tapi sepertinya kedua peneliti tersebut, sebagai contoh, memang tak pernah merasakan kelegitan laklak beras merah cendana Jatiluwih—begitu pula, mungkin, para peneliti berkulit pucat yang datang setelahnya.

Beras merah, sebagai bahan utama laklak di Jatiluwih, merupakan unsur pembeda dari laklak Bali pada umumnya. Bahan baku ini juga berpengaruh, bukan saja dari segi rasa, pula tampilannya. Ia berwarna merah yang luntur, pudar. Bagi orang yang tidak tahu akan mengira bahwa itu karena pewarna makanan.

Oleh karena, sekali lagi, terbuat dari beras merah cendana, laklak beras merah tentunya memiliki wangi dan rasa yang khas—yang berbeda dari yang lain. Menurut I Wayan Wiranata, salah satu pemilik rumah makan di kawasan wisata Jatiluwih, dari sisi bentuknya, laklak ini memang sedikit berbeda jika dibandingkan dengan laklak yang ada di pasaran.

Laklak beras merah Jatiluwih | Foto: Dok. Agus

“Laklak pada umumnya memiliki lubang-lubang seperti sarang semut dan biasanya berwarna putih atau hijau, dan dibuat dengan menggunakan cetakan. Tapi kalau laklak beras merah Jatiluwih, bentuknya lebih mirip dengan pancake—karena dibuat tanpa cetakan, hanya dipanggang pada plat baja dengan bentuk pipih seperti pancake,” jelasnya.

Laklak yang tak biasa bagi orang luar Jatiluwih ini dibuat dari campuran tepung beras merah, air, sedikit garam, dan minyak kelapa, yang diuleni hingga membentuk adonan sedikit encer. Selanjutnya adonan dipanggang di atas plat baja menggunakan tungku kayu dengan api yang besar.

“Untuk kayu bakarnya, biasanya kami menggunakan kayu kopi karena panasnya merata, sehingga adonan bisa matang dalam waktu dua menit,” ujar Wiranata. Tapi sebagaimana laklak biasanya, laklak Jatiluwih juga diberi parutan kelapa dan gula merah sebagai pelengkap (topping).

Namun, berbeda dengan Wiranata yang mengatakan bahwa laklak Jatiluwih dimasak di plat baja, menurut keterangan Agus, laklak beras merah Jatiluwih biasa dimasak dengan menggunakan alat tradisional yang disebut keren dan kekeb—yang terbuat dari tanah liat. “Keren itu alat untuk memasak laklak; sedangkan kekeb sebagai penutupnya,” kata Agus, menjelaskan.

Laklak beras merah Jatiluwih | Foto: Dok. Agus

Tetapi, terlepas dari itu semua, selain dijual dan dikonsumsi sendiri, menurut Agus, laklak beras merah ini juga dijadikan sebagai hidangan khusus dalam upacara-upacara keagamaan di Jatiluwih. “Kami biasa menghaturkan laklak ini kepada Sang Pencipta karena atas karunia-Nya kami dapat kembali menanam padi,” terang Agus.

Pada saat menanam padi untuk pertama kalinya, petani Jatiluwih menyuguhkan laklak beras merah sebagai bekal kudapan di sawah. Selain itu, panganan ini juga kerap hadir di acara pernikahan.

Sampai di sini, saat Anda berkunjung ke Jatiluwih, sempatkanlah mencicipi laklak beras merah. Pada setiap suapan, dalam satu gigitan, akan mengingatkan Anda betapa kaya hasil bumi Nusantara ini. Pula membuat Anda lebih mengalami budaya dan tradisi Jatiluwih. Itu.[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Menikmati Sensasi Baru Menu “Uraban Nyawan” atau “Lawar Lebah” di Desa Tambakan-Buleleng
Klipes Sune Cekuh, Kumbang Air Goreng Khas Desa Kedis
Menikmati Sate Keladi Khas Pedawa yang Unik
Ayam Gecok: Kuliner Khas Desa Wisata Cikakak di Banyumas
Tags: jatiluwihkue laklakkuliner khas balilaklak beras merahPenebeltabanan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tradisi Mepeed: Kearifan Lokal Desa Guwang yang Tak Lekang Kemajuan Zaman

Next Post

Tukad Itu Bernama Sekumpul, Sebuah Alasan untuk Kembali

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
0
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

Read moreDetails

Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
September 4, 2026
0
Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

MATAHARI pagi belum genap sejengkal naik ketika sebuah gerobak biru berhenti di pinggir Jalan Merak, Singaraja. Di belakangnya, truk-truk besar...

Read moreDetails

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

by Nyoman Budarsana
September 1, 2026
0
Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

UDARA pagi terasa panas ketika rangkaian Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 memasuki penghujung acara. Usai menutup festival,...

Read moreDetails

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

by Tri Nugroho Adi
August 9, 2026
0
Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

"BU, kulo mung mbekto kuluban godhong kates nggih? Lha ya mung niku sing wonten teng  nggriyo ." (Bu, saya hanya...

Read moreDetails

Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

by Jaswanto
June 17, 2026
0
Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan,...

Read moreDetails

Serangga dalam Piring Makan Kita

by Jaswanto
April 25, 2026
0
Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

Read moreDetails

Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
April 12, 2026
0
Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

MATAHARI baru saja mengintip di ufuk timur Kota Singaraja. Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 WITA, namun denyut nadi di Jalan...

Read moreDetails

Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

by Jaswanto
April 2, 2026
0
Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

“BELAJAR jualan dari ibu.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari sosok perempuan yang sedang berdiri di belakang lapak dagangannya. Pagi...

Read moreDetails

Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

by Tobing Crysnanjaya
March 15, 2026
0
Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

Jogja, perjalanan yang tak singkat. Menghabiskan waktu hingga 9 jam lamanya. Beberapa kali singgah di Rest Area sepanjang Toll Cipali,...

Read moreDetails

Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026: Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

by Nyoman Budarsana
February 27, 2026
0
Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026:  Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

Satu hal yang baru dalam perhelatan Bulan Bahasa Bali VIII tahun 2026 adalah pameran kuliner yang berlokasi sebelah barat Gedung...

Read moreDetails
Next Post
Tukad Itu Bernama Sekumpul, Sebuah Alasan untuk Kembali

Tukad Itu Bernama Sekumpul, Sebuah Alasan untuk Kembali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co