22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menikmati Sensasi Baru Menu “Uraban Nyawan” atau “Lawar Lebah” di Desa Tambakan-Buleleng

Hizkia Adi Wicaksnono by Hizkia Adi Wicaksnono
August 15, 2024
in Kuliner
Menikmati Sensasi Baru Menu “Uraban Nyawan” atau “Lawar Lebah” di Desa Tambakan-Buleleng

Uraban/lawar nyawan di Desa Tambakan, Buleleng | Foto: tatkala.co/Hizkia

APA yang biasa dikonsumsi dari lebah? Umunya orang akan jawab: madu. Namun, pernahkah Anda membayangkan bagaimana rasa dari lebah itu sendiri? Apakah rasanya seperti sengatan?

Pertanyaan itu yang terlintas dibenak saya saat ditawari menu uraban nyawan atau lawar nyawan atau lawar lebah di Desa Tambakan, Kubutambahan, Buleleng, Bali, Selasa, 6 Agustus 2024.

Saat itu, di Desa Tambakan, tepatnya di areal sekitar Pura Mrajapati, sedang digelar acara pembukaan pameran seni instalasi karya perupa Nyoman “Polenk” Redi

Saat acara makan siang usai seremonial pembukaan pameran, saya ditawari uraban nyawan, atau orang lebih banyak menyebutkan lawar nyawan. Uraban, atau lawar, adalah menu makanan khas Bali, biasanya terdiri dari campuran berbagai jenis sayur, bumbu lengkap dan parutan kelapa. Juga berisi campuran daging. Jika campurannya dadging babi, maka menu itu disebut lawar babi. Jika menggunakan daging sapi, maka disebut lawar sapi.

Nah, ini lawar nyawan, atau lawar lebah.  Artinya, lawar itu berisi daging lebah. Bisa dibayangkan, bagaimana lebah menjadi makanan untuk lauk-lauk.

Ketika ditawari, saya ragu-ragu.  Saya punya pengalaman masa kecil yang membuat saya sedikit trauma dengan serangga penyengat semacam lebah. Saya pernah iseng menyentuh tawon yang sudah mati dan saya tersengat tawon mati itu. Biarpun lebah tidak dapat menyengat dalam keadaan mati seperti tawon, tetap saja hal itu membangkitkan rasa cemas dan takut untuk memcicipi hidangan uraban nyawan itu.

Saya bayangkan, sengat lebah bisa saja menusuk bagian dalam mulut saya. Rasanya pasti akan sangat tidak bisa dibanggakan.

Namun, saya penasaran juga. Melihat orang lain yang baik-baik saja saat menyantap menu makanan yang unik itu, saya pun memberanikan diri untuk mencoba hidangan eksotik itu. Makan tanpa nasi bagi saya seperti hari raya Paskah tanpa telur paskah.

Saya menyantap hidangan itu dengan nasi yang dibungkus daun. Awalnya saya hanya menyantap nasi bungkus sambil menatap hidangan dari lebah itu. Saya mengunyahnya perlahan sambil terus menatap hidangan dari lebah itu. Sesuap, dua suap nasi bungkus tertelan hingga akhirnya keberanian saya terkumpul untuk mencoba uraban nyawan itu.

Mulanya hanya seujung sendok hidangan itu saya cicipi. Dengan perlahan suapan pertama itu saya dekatkan ke mulut saya. Sedikit merinding saat menatap sendok yang berisi sedikit olahan lebah itu mengarah ke mulut saya.

Namun, bagian menariknya adalah, sesampainya makanan itu di dalam mulut saya dan menyentuh lidah saya, terasa gurih. Orang Bali biasa menyebut nyangluh.  Barangkali rasa gurih itu muncul dari bumbu-bumbu yang dipakai untuk mengolah makanan itu.

Bukan hanya itu, ketika lebah-lebah mungil itu terkunyah dan lumer di mulut, ada sedikit rasa pahit bercampur manis, ditambah dengan rasa gurih dari bumbunya, membuat olahan unik itu memiliki rasa nikmat yang istimewa.

Santapan makan siang di pameran Seni Instalasi Partisipatif Teo-Ekologis Sampi Duwe karya Nyoman “Polenk” Rediasa di Desa Tambakan | Foto : tatkala.co/Sonhaji

Setelah uraban atau lawar nyawan masuk jadi suapan pertama di mulut saya,  saya tidak bisa berhenti lagi untuk terus melahapnya. Tak perlu waktu lama nasi bungkus dan uraban nyawan ituludes tanpa sisa di tangan saya.

Keunikan rasa dan tampilannya membuat saya penasaran untuk mengetahui bagaimana orang Desa Tambakan mengolah hidangan unik ini. Saya memutuskan untuk berbincang dengan Ni Komang Srinadi.  Ia adalah orang yang menawarkan menu itu kepada para pengunjung termasuk saya.

Srinadi mengatakan, hidangan ini sudah ada sejak  dulu di Desa Tambakan. Lebah-lebah yang menjadi bahan baku hidangan ini didapat saat warga mencari madu di hutan. Jika warga menjumpai sarang lebah yang berisi anak-anak lebah yang dirasa cukup untuk diolah, maka anak-anak lebah itulah yang kemudian mereka bawa kemudian diolah menjadi uraban nyawan.

Bahan utama uraban nyawan ini tentu saja nyawan atau lebah. Lebah yang masih bayi, atau lebah yang biasanya masih berada dalam gumpan sarangnya. Bukan lebah dewasa yang sudah bisa terbang dan menyengat.

Bumbu dan bahan lainnya berupa kencur, kelapa, garam, dan cabai yang dimasak selama kurang lebih 30 menit.

Ditengah perbincangan saya dengan Ni Komang Srinadi, datang seorang laki-laki berpakaian kemeja biru gelap dengan udeng di kepalanya bermaksud ikut berbincang soal uraban nyawan.

Laki-laki itu bernama Ketut Suliarta. Ia menjelaskan bahwa selain menjadi makanan konsumsi warga Desa Tambakan, uraban nyawan juga disajikan dan di-hatur-kan sebagai persembahan upacara Sakep Tilem yang dilaksanakan di Pura Dalem. Jadi, uraban nyawan ini juga dipersembahkan untuk Dewa.

Ni Komang Srinadi | Foto : tatkala.co/Sonhaji

Saya bukanlah satu-satunya orang yang pertama kali mencoba uraban nyawan ini saat acara pembukaan pameran seni di Desa Tambakan itu.

Banyak pengunjung lain yang juga baru kali itu merasakan hidangan dari lebah khas Desa Tambakan itu dan menyukainya. Salah satunya, teman saya Sonhaji, salah satu tim tatkala.co yang memang ke Desa Tambakan untuk meliput pembukaan pameran.

Menurutnya hidangan ini memiliki rasa yang unik. Sama seperti saya, awalnya dia juga takut dan ngeri melihat hidangan itu, namun setelah mencobanya dia mulai menyukainya. Menurutnya keunikan dan kekayaan rasa hidangan itu membuat nafsu makannya bertambah. Rasa gurih dari bumbu, dan anak-anak lebah itu terasa pahit, manis, dan asam menciptakan sensasi makan yang menyenangkan baginya.

Pengunjung menikmati nasi bungkus dengan tambahan menu lawar nyawan | Foto : tatkala.co/Sonhaji

Ni Komang Srinadi mengatakan banyak orang dari luar Desa Tambakan bahkan luar Buleleng yang gemar dengan uraban nyawan. Mereka kerap kali ke Desa Tambakan untuk membeli madu sekaligus anakan lebah yang nantinya diolah sendiri menjadi uraban nyawan. Tentu, jika tak mau repot, banyak juga yang membeli uraban nyawan yang sudah jadi. [T]

Reporter: Hizkia Adi Wicaksono
Penulis: Hizkia Adi Wicaksono
Editor: Adnyana Ole

Nikmatnya Kuliner Bandut dari Desa Pedawa
Subatah, Makanan Unik: Di Desa Pucaksari Subatah Biasa Digoreng, juga Bisa Di-nyatnyat
Gorengan Ores, Makanan Khas Masyarakat Desa Pucaksari, Busungbiu, Buleleng
Bu Yarsa, Sejak 50 Tahun Jual Laklak di Dajan Tugu Singa Desa Les
Klipes Sune Cekuh, Kumbang Air Goreng Khas Desa Kedis
Tags: Desa Tambakankulinerkuliner khas balikuliner lokalserangga
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dewi Sri dan Spirit Kemerdekaan dalam Pameran Seni Rupa di Undiksha Singaraja

Next Post

Merdeka, tetapi Belum!

Hizkia Adi Wicaksnono

Hizkia Adi Wicaksnono

Fotografer/Videografer tatkala.co

Related Posts

Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

by Rusdy Ulu
October 8, 2026
0
Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

BAGI orang Indonesia, keju bukan makanan yang hadir setiap hari di meja makan. Karena itu, ketika dua belas peserta berkumpul...

Read moreDetails

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
0
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

Read moreDetails

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
0
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

Read moreDetails

Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
September 4, 2026
0
Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

MATAHARI pagi belum genap sejengkal naik ketika sebuah gerobak biru berhenti di pinggir Jalan Merak, Singaraja. Di belakangnya, truk-truk besar...

Read moreDetails

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

by Nyoman Budarsana
September 1, 2026
0
Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

UDARA pagi terasa panas ketika rangkaian Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 memasuki penghujung acara. Usai menutup festival,...

Read moreDetails

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

by Tri Nugroho Adi
August 9, 2026
0
Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

"BU, kulo mung mbekto kuluban godhong kates nggih? Lha ya mung niku sing wonten teng  nggriyo ." (Bu, saya hanya...

Read moreDetails

Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

by Jaswanto
June 17, 2026
0
Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan,...

Read moreDetails

Serangga dalam Piring Makan Kita

by Jaswanto
April 25, 2026
0
Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

Read moreDetails

Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
April 12, 2026
0
Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

MATAHARI baru saja mengintip di ufuk timur Kota Singaraja. Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 WITA, namun denyut nadi di Jalan...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Merdeka, tetapi Belum!

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co