23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dewi Sri dan Spirit Kemerdekaan dalam Pameran Seni Rupa di Undiksha Singaraja

Son Lomri by Son Lomri
August 15, 2024
in Ulas Rupa
Dewi Sri dan Spirit Kemerdekaan dalam Pameran Seni Rupa di Undiksha Singaraja

Lukisan Sri Devi karya Wayan Sudiarta

DI sebuah tembok, di ruang pameran itu, ada satu lukisan terpasang dengan begitu anggun, dengan gambar yang menarik perhatian. Lukisan itu berukuran 130 cm x 200 cm. Judulnya, “Sri Devi”.

Sri Devi, atau Dewi Sri, adalah dewi yang berhubungan dengan padi, dan secara luas berhubungan dengan dunia pertanian. Sehingga dari lukisan itu, pikiran jadi mengembara ke berbagai perasaan tentang dunia tani: Dewi Sri dengan citraan yang cantik, juga alih fungsi lahan, pestisida, gagal panen, harga gabah murah dan petani makin langka.

Kecantikan seorang dewi, dan keprihatinan yang bertubi-tubi, adalah paradoks dalam kehidupan kita kini.

Barangkali paradoks semacam itulah yang ingin ditampilkan dalam Pameran Seni Rupa yang dilakukan dosen dan mahasiswa Program Studi (Prodi) Seni Rupa di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) dan perupa lainnya, di ruang pameran Galerry Paduraksa, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Undiksha, yang dibuka 12 Agustus dan akan berakhir 30 Agustus 2024.

Pameran seni rupa di Undiksha Singaraja | Foto: tatkala.co/Son

Pameran dengan tema “First Action” itu dibuka Prof. Dr. I Wayan Lasmawan, M.Pd. dalam suasana yang hangat. Memasuki perayaan bulan kemerdekaan, kata Lasmawan, kegairahan itu terasa menyala juga di ruang kecil Galerry Paduraksa ini.

Pameran ini, lanjut Lasmawan, adalah satu gerakan di bulan Agustus yang dilakukan para civitas akademika dalam mengimplementasikan nilai-nilai patriotisme baru untuk bangsa ini.

“Kami percaya bahwa seluruh civitas akademik Prodi Seni Rupa dan seluruh jejaringnya di medan seni akan terus bersinergi mengimplementasikan nilai-nilai patriotisme baru untuk untuk Indonesia maju,” kata Lasmawan.

Lasmawan mengatakan, ia menyambut sangat baik dan penuh semangat pergelaran pameran seni rupa ysng diberi tema ”FIRST ACTION” ini.

“Karena dari tema yang ditetapkan tersirat kesan makna bahwa ini adalah langkah permulaan untuk memulai menempuh serangkain agenda agenda sistematis untuk mencapai tujuan-tujuan besar di masa akan datang pada bidang seni rupa baik di ranah kependidikan maupun ranah kreatifitas penciptaan dan produksi karya seni rupa yang disemangati oleh jiwa entrepreneurship,“ ucap Lasmawan.

Pameran itu diisi oleh 39 peserta yang diantaranya adalah dosen dan alumni. I Wayan Sudiarta, Dewa Agung Mandala Utama, Dayu Sartika B, Putu Dudik Ariawan, Gede Sarantika, I Ketut Andi Palwika, I Nyoman Suta Kadik Purtama, I Wayan Juni Antara, I Made Kartiyoga, Dewa Made Johana, I Nyoman Arisana, Nyoman Wijaya, A. A Istri Ratih Aptiwidyari, I Kadek Septa Adi, Tri Akta Bagus Prasetya, I Putu Yoga Satyadhi Mahardika, dan Vincent Chandra.

Kemudian ada I Wayan Trisnayana, I Made Sutarjaya, Putra Wali Aco, I Nyoman (Poleng) Rediasa, Gusti Nyoman Widnyana, I Putu Suhartawan, Made Astangga Wahyu, I Made Santika (Omo), Hardiman, I Gusti Ngurah Sura Ardana, I Ketut Supir, I Ketut Sudita, I Nyoman Sila, Joning, Luh Suartini, I Made Jendra, Kadek Darma Negara, Satya Pradana, Gegeut Pangestu, dan I Made Satya Hariwirma turut serta memamerkan karyanya.

Nama-nama itu merupakan para seniman yang banyak melakukan pameran baik di Bali maupun di luar Bali. Salah satunya adalah seniman dan dosen I Wayan Sudiarta. Lukisan Sri Devi itu adalah karya Wayan Sudiarta.

Sudiarta dan lukisan Sri Devi | Foto: tatkala.co/Son

Sudiarta adalah dosen yang lahir di Peliatan, 23 April 1969. Sejak 1990 sampai sekarang masih aktif menjadi peserta pameran bersama di Bali dan luar Bali. Seperti di Museum Negeri NTB, di Kampus Undiksha dan beberapa hotel di kawasan Lovina Singaraja, di beberapa gallery dan museum seni di Ubud, gallery di Denpasar. Beberapa kali ia ikut pameran di arena Pesta Kesenian Bali di Denpasar.

Lukisan Sri Devi dibuatnya tahun sekarang, 2024.  Dengan teknik impasto. Lulusan ISI Denpasar itu hendak menyampaikan sesuatu melalui caranya menyapukan cat pasta tebal pada kanvas dengan menggunakan pisau palet. Teknik ini membentuk garis atau bidang yang lebih tebal. Teknik tersebut agaknya lebih ekspresif sebagaimana Vincent Van Gogh menciptakan cahaya begitu dalam, dan lingkaran yang terkesan bergerak pada lukisannya yang berjudul The Stary Night.

Tentu, pada goresannya yang tampak nyata pada lukisan Devi Sri milik Sudiarta itu, juga memiliki kesan kuat secara gambar dan karakter terutama pada garis dan pola. Pemilihan warna emas yang lebih dominan misalnya, sebagaimana padi menguning emas—padi di lukisannya juga tampak bergelombang, menari, dan menarik untuk didekati untuk dilihat. Juga warna lain pada aksesoris pakaian tubuh Dewi Sri, menjadikan lukisannya tampak realis jika ditinjau dari kejauhan, dan jika dekat, tak bisa diduga jika warna itu menggurat—menonjol selain nyata dipandang juga cenderung abstrak. Sangat terasa jika Sudiarta melukis dengan penuh ekspresi saat menarikan pisau paletnya di kanvas.

Mengapa Dewi Sri?

“Tentang Dewi Sri. Lebih kepada dewi kemakmuran, makanya di lukisan ini terdapat ikonik seperti padi yang menguning emas, atau dengan pertanian. Saya kira, kenapa saya melukis seperti ini sekarang, karena saya berharap, melalui lukisan orang kembali merasakan optimisme. Karena sumber-sumber kesedihan, sumber kekhawatiran terlalu banyak, baik di dunia nyata maupun di dunia maya semacam media sosial yang sekarang lebih banyak dikonsumsi,” jelas Sudiarta yang sekaligus menjadi koordinator dalam pameran itu.

Dalam hal lukisan, memang ia lebih banyak menggambar hal-hal tradisional. Pada lukisannya berjudul “Perselisihan Antar Saudara” tahun 2017 misalnya. Dengan tema yang sama “tradisional”, ia juga melukis menggunakan teknik impasto.

Lukisan karya Ketut Supir | Foto: tatkala.co/Son

Di pameran ini, tak hanya Sudiarta dengan teknik impasto dalam melukis, Hardiman dengan lukisannya berjudul “Jalak Bali” yang dibuatnya di sela-sela covid tahun 2020 itu juga menggunakan teknik yang sama yaitu impasto. Selebihnya saya tak tahu apakah ia menggunakan teknik yang lain sebab  pada lukisannya tampak lebih menonjol pewarnaannya terutama pada garis bidang dan polanya, melebihi milik Sudiarta.

Menyusul “Kilin dan Kawannya” lukisan tahun 2020 milik I Ketut Supir juga menggunakan pisau palet dalam impasto, tentu dengan polesannya agak tipis dari Hardiman.

Tapi barangkali nilai apa yang hendak disampaikan oleh ketiga pelukis itu berbeda. Pada lukisan Sudiarta misalnya, setelah berbincang tak lama di pameran itu, ia menjelaskan sedikitnya bahwa teknik impasto yang ia gunakan memberikannya semacam spirit saat mengerjakannya, saat membuat simbol-simbol dalam lukisan. Karena ia memoleskan begitu penuh emosional atas apa yang hendak ia imajinasikan, diekspresikan.

Lukisan karya Hardiman | Foto: tatkala.co/Son

Dan barangkali, apa yang telah Sudiarta katakan bahwa lukisan Dewi Sri dilatarbelakangi juga oleh pikiran tentang bangsa ini yang sudah terlalu banyak diisi kecemasan, kebencian, kemunduran—yang disimbolkannya pada tikus atau jro ketut di samping Dewi Sri yang sedang memberi berkat.

Sehingga apalagi yang membuatnya ingin lebih bergairah selain memupuk percaya diri tentang hal-hal positif kepada diri sendiri dan tentunya orang-orang di sekitarnya. Untuk mengisi kemerdekaan dengan optimisme itu, barangkali juga tak hanya di bulan kemerdekaan—tetapi juga seterusnya selama manusia masih bergerak. Selama negeri ini merdeka. [T]

Editor: Adnyana Ole

Tulang, Tubuh, dan Puisi dalam Ruang-Waktu | Dari Pameran Seni Instalasi Sampi Duwe di Desa Tambakan
Sisa-Sisa yang Menjadi Rupa : Catatan Pameran Tunggal Sidzia Madvox di Warung Kota, Kota Mataram
Hardiman; Sekali Lagi, Jalak Bali
Tags: Pameran Seni RupaSeni RupaUndiksha
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengenal “Body Massage” dan Manfaat untuk Kesehatan

Next Post

Menikmati Sensasi Baru Menu “Uraban Nyawan” atau “Lawar Lebah” di Desa Tambakan-Buleleng

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

by Emi Suy
October 19, 2026
0
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

Read moreDetails

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
0
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

Read moreDetails

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

by Made Chandra
October 10, 2026
0
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

Read moreDetails

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails
Next Post
Menikmati Sensasi Baru Menu “Uraban Nyawan” atau “Lawar Lebah” di Desa Tambakan-Buleleng

Menikmati Sensasi Baru Menu “Uraban Nyawan” atau “Lawar Lebah” di Desa Tambakan-Buleleng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co