4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tulang, Tubuh, dan Puisi dalam Ruang-Waktu | Dari Pameran Seni Instalasi Sampi Duwe di Desa Tambakan

Son Lomri by Son Lomri
August 13, 2024
in Ulas Rupa
Tulang, Tubuh, dan Puisi dalam Ruang-Waktu | Dari Pameran Seni Instalasi Sampi Duwe di Desa Tambakan

Dek Geh atau Tegeh Maheri menari di atas monumen sapi duwe | Foto: tatkala.co

PAMERAN Seni Instalasi Partisipatif Teo-Ekologis Sampi Duwe karya I Nyoman “Polenk” Rediasa di Desa Tambakan, Kubutambahan, Buleleng, Selasa, 6 Agustus 2024, benar-benar dibuka dalam suasana sakral, mirip-mirip ritual dalam tradisi khas desa.

Kesakralan itu tak hanya terasa dari apa yang telah Polenk Rediasa perbuat pada tulang belulang sapi duwe itu, melainkan juga pada apa yang kemudian terjadi pada tulang sapi duwe itu. Tulang itu adalah sisa-sisa dari ritual adat istiadat yang tertinggal sejak puluhan tahun silam, barangkali ratusan tahun silam.

Ia mengumpulkan kembali tulang belulang bersama warga dalam membentuk karya seni instalasi. Mereka, baik Polenk maupun warga itu, adalah seniman. Dengan pendekatan partisipatif teo-ekologis, kiranya Polenk berhasil membawa suasana intim pada karyanya selain hubungannya dengan manusia di Desa Tambakan, pula masyarakat dengan leluhurnya melalui seni instalasi ini. Polenk sendiri adalah seniman yang lahir di Desa Tambakan.

Sebelum benar dipastikan karya itu diujikan dalam bentuk disertasi pada hari yang sama, karya itu juga dipersembahkan untuk masyarakat, dan bagaimana karya seni instalasi itu diresmikan dengan upacara tak biasa. Dalam satu waktu yang bersamaan ada pertunjukan tarian tubuh bisu, bisa disebut tari kontemporer, dan pembacaan syair-syair puisi terkait leluhur, alam, dan lingkungan sekitar.

Tegeh alias Dek Geh menrai di sela instalasi bambu dan tulang karya Polenk Rediasa | Foto: tatkala.co/Hizkia

Pameran ini kiranya bisa memperkuat akar tradisi di Desa Tambakan dengan seni instalasi karya Polenk. Dan, sebagai sebuah karya seni, karya Polenk ini memang terasa lain.. Maksudnya, lebih hidup, lebih punya jiwa, punya roh, juga kekuatan untuk menyihir.

Di tengah upacara misalnya, ada kleneng atau genta dibunyikan seperti pada upacara adat umumnya. Tegeh, atau bernama lengkap I Made Tegeh Okta Maheri, menari di sela-sela suara genta, dan tariannya bergerak mengikuti bentuk konstruk tanah yang bergelombang, menanjak dan miring. Ia menari seperti dibawa angin dan roh suci dari arah monumen sampi duwe yang berdiri dengan bentuk yang lebih besar karya Polenk itu.

Menyusuri bunyi lonceng dan mantra, air tirta yang terpercik ke tanah bersama doa, ia berjalan begitu teatrikalnya. Sebuah semiotis jika ia menari, menujukkan tubuhnya untuk leluhur, pula—mempersembahkan jika kehidupan adalah mengakar, mengikuti tanah dimana manusia dilahirkan dan dibesarkan bersama leluhur.

Tulang kepala sampi duwe dalam seni instalasi karya Polenk Rediasa | Foto: tatkala.co/Hizkia

Seni Instalasi Partisipatif Teo-Ekologis Sampi Duwe adalah bagian utama dari desertasi Polenk Rediasa untuk diuji, untuk mendapatkan gelar doktor dari kampusnya, Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Setelah pameran dibuka, dan pertunjukkan dipertunjukkan, tim penguji dari ISI Denpasar langsung menggelar ujian tertutup. Hadir dalam tim salah satunya Rektor ISI Denpasar Prof. Dr. Wayan “Kun” Adnyana.

***

Polenk dalam disertasinya ini, menambah rasa “hidup” dari sebuah tradisi—yang tak hanya terus dilakukan, tapi juga bagaimana pandangan masyarakat terhadap sebuah tradisi yang tidak bisa hanya diagungkan, melainkan juga mengakar sehingga orang melakukannya terus-menerus.

Dan, akar semacam itulah yang membaut Polenk, dengan  sangat dalam hendak menjelaskan melalui bahasa—dalam bentuk nyata seni instalasi ini. Di samping, karyanya akan dijumpai banyak wisatawan suatu hari nanti, karena seni instaladi itu memang akan jadi monumen yang berdiri terus di desa itu sepanjang waktu.

Ini bagus, karena tradisi masyarakat di sana akan lebih dikenal, tentunya—lebih terakar jelas ada kehidupan yang berarti di balik gunung.

“Melalui pendekatan eko-art, seni instalasi ini mengungkapkan; apa dan ada apa dibalik ritual. Membuka tafsir baru yang selama ini cenderung bermakna vertical common sense dan tak terbantahkan. Dengan karya seni instalasi membedah makna ritual yang yang dapat mencerna rasio. Adapun proses perwujudan seni instalasi interaktif di ruang publik Desa Tambkan ini, melibatkan banyak masyarakat desa sebagai pelaku seni dan pemberi makna terhadap seni itu sendiri,” kata Polenk.

Dek Geh menari di sekitar monumen Sampi Duwe yang merupakan bagian dari seni instalasi karya Polenk Rediasa | Foto: tatkala.co/Hizkia

Dalam pertunjukan satu waktu antara upacara, tarian dan pembacaan puisi, hanya ada instrument bunyi dalam pengiringan Tegeh—yang berhubungan antara dirinya dengan tarian bisu itu. Hanya ada suara angin, sunyi penonton tertegun, bunyi lonceng kekhusyukan pada upacara, dan kata-kata—“Sapi peliharaan dewa-dewi//dituntun makhluk samar baik hati..” dari penyair Made Adnyana Ole.

Adnyana Ole membacakan puisinya yang berjudul Sapi Dewa-Dewi pada pementasan itu setelah I Wayan Redika selesai membaca dalam satu pertunjukan.

“..Dia ingat siapa yang melepasliarkan tubuhnya dalam kandungan rimba raya dan semak belukar kehidupan..” kata Adnyana Ole, penyair paruh baya itu.

Tegeh mengelilingi orang-orang suci yang merapal mantra dan doa, melewati penyair sedang membacakan puisi sepenuh usia. Tariannya semakin bisu dan panas menimpanya membayang, tetapi udara gunung menyecap dingin.

Tarian bisu itu digiringnya dari tubuh yang lentur, ia menyelinap pembatas pohon—yang di setiap sampingnya adalah tulang kepala sapi leluhur yang dijadikan sebuah seni instalasi.

Rektor ISI Denpasar Wayan “Kun” Adnyana memasang tulang kepala sebagai tanda dibukanya pameran seni instalasi sampi duwe karya Polenk Rediasa | Foto: tatkala.co/Hizkia

Matanya meresapi bagaimana serat dan kerasnya tulang sapi itu menempel di depan matanya sangat dekat, ia menemukan harapan. Sesekali ia menonjolkan wajahnya seperti keluar dari jendela dengan setengah tubuh di ruas pagar. Ia memanjat ke atas setinggi pohon baru ditanam. Tariannya bisu, tapi dapat kita rasakan jika Tegeh melemparkan satu percakapan bahwa ia sedang diberkati leluhur di dalam itu.

Tidak lama, ia keluar dari pagar pohon yang mengitari tubuhnya. Ia kembali ke tanah setelah memanjat itu dan kembali menari di tanah—membawa berkat. Ia bagi dengan tarian indah menuju patung besar sebuah monumen Sampi Duwe. Ia naik kembali ke atas untuk memandang alam Desa Tambakan dengan hamparan luas gunung dan hutan, juga kebun jeruk yang subur di bawah patung.

Puisi Made Adnyana Ole, terdengar… “Kuberi kau daging empuk, serat protein//Tulang batu gunung dan kulit penahan dingin//Maka hiduplah segala ritual dan kata-kata//Nyaring semua permintaan, licin seluruh pemberian!..” [T]


Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

Seni Instalasi Karya Polenk Rediasa Dibuat Dari Tulang Tengkorak “Sapi Duwe” di Desa Tambakan-Buleleng
Catatan Pentas “Maha Wasundari” Intur 2024: Perayaan dan Refleksi Keagungan Bumi
Berimajinasi Bersama Repertoar “Canson” Karya Noé Clerc Trio dari Prancis
Tags: bulelengDesa TambakanISI DenpasarPolenk Rediasaseni pertunjukanSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Belajar Kebermaknaan Hidup di PKP Community Centre, di Payangan-Gianyar

Next Post

Aneka Rasa di Tanah Kaldera

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails
Next Post
Aneka Rasa di Tanah Kaldera

Aneka Rasa di Tanah Kaldera

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co