4 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Catatan Pentas “Maha Wasundari” Intur 2024: Perayaan dan Refleksi Keagungan Bumi

Jero Penyarikan Duuran Batur by Jero Penyarikan Duuran Batur
August 10, 2024
in Ulas Pentas
Catatan Pentas “Maha Wasundari” Intur 2024: Perayaan dan Refleksi Keagungan Bumi

Tarian Baris Jangkang di panggung pembukaan Indonesia Bertutur | Foto: tatkaka.co/Rusdy

MEMASUKI senja yang sejuk pada Rabu, 7 Agustus 2024, kepala demi kepala mulai menyesaki Lapangan Chandra Muka, Batubulan, Gianyar. Perbincangan demi perbincangan bermunculan di tengah lapangan yang telah didesain bak sepetak sawah besar. Perbincangan muncul dalam lingkaran besar maupun lingkaran kecil pemilik kepala.

Dialog mereka seolah berkompetisi dengan keriuhan kendaraan di sepanjang Jalan Raya Batubulan yang berada di timur lapangan besar itu. Beberapa dari mereka mengobrol seputar hal pribadi, tetapi banyak juga berbincang tentang “Maha Wasundari”, pergelaran pembuka mega festival Indonesia Bertutur (Intur) 2024 yang akan tersaji malam itu.

Usai digelar di kawasan Warisan Dunia Borobudur pada 2023, tahun 2024 Intur memilih Bali sebagai tuan rumah festival. “Beralih dari satu warisan dunia kewarisan dunia lain,” demikian dinyatakan dalam video teaser program, tahun ini Intur akan mewacanakan Warisan Dunia Subak. Ada 900 seniman yang akan terlibat selama 12 hari festival berjalan, yakni dari tanggal 7 s.d. 18 Agustus 2024.

Panggung utama pembukaan Indonesia Bertutur | Foto: tatkala.co/Rusdy

Subak memang dapat dikatakan sebagai salah satu capaian peradaban manusia Bali. Subak bukan sekadar siklus menanam padi pada petak sawah yang kian menyusut di Bali. Subak juga bukan kisah tentang air yang hanya mengalir dari terasering satu ke terasering lainnya. Subak jauh lebih dalam dan kompleks dari semua hal itu.

Setidaknya sejak abad ke-10, subak telah merajut megasistem kebudayaan Bali dengan beragam objek-objek kebudayaan turunannya. Subakhadir menghubungkan manusia Bali di satu titik dengan manusia Bali di titik lainnya, membangun tata kelola lingkungan hidup berkeadilan, hingga akhirnya membangun sistem kepercayaan yang demikian kompleks. Orang-orang modern mengkonsepsi konsep tersebut sebagai tri hita karana.

Pergelaran Maha Wasundari mencoba menghadirkan konsepsi tersebut dalam satu panggung rakyat penuh makna. Pembukaan festival nasional yang umumnya terkesan eksklusif dan hanya dapat dinikmati oleh para pejabat dan “orang-orang penting” dikembalikan sebagai hajatan rakyat yang inklusif untuk semua. Tidak ada banyak sambutan, tiap penonton pun duduk lesehan beralaskan tikar pandan menghadap ke panggung utama.

Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Pendidikan Tinggi, Hilmar Farid, menegaskan visi inklusivitas Maha Wasundari. Pada sambutan yang tidak lebih dari 3 menit itu ia menyatakan komitmen penyelenggaraan Intur sebagai ruang bersama memuliakan kebudayaan.

“Mereka yang hadir hari ini adalah mereka yang punya komitmen memajukan kebudayaan,” katanya sebelum membunyikan okokan bersama-sama.

Hilmar Farid mengatakan posisi kebudayaan dalam pembangunan nasional. Menurutnya, masa depan Indonesia yang cerah dapat ditempuh dengan jalan pemuliaan terhadap kebudayaan dan keanekaragaman hayati. Pernyataannya sejalan dengan prinsip tri hita karana, sebagai konsep mendasar entitas Warisan Dunia Subak di Bali.

Ni Luh Menek di panggung pembukaan Indonesia Bertutur | Foto: tatkala.co/Rusdy

“Malam hari ini kita akan menyaksikan sebuah pergelaran yang ingin mengingatkan kita semua tentang pentingnya kita, sebagai masyarakat, menghargai kebudayaan, menghargai keanekaragaman hayati yang kita miliki, karena sejatinya itulah inti kekuatan dari Indonesia ini. Memiliki keanekaragaman budaya, memiliki keanekaragaman hayati, dan kalau dua hal ini dipertemukan boleh dibilang Indonesia akan memiliki masa depan yang cerah,” katanya.

Mengalami Masa Lalu, Menumbuhkan Masa Depan

Maha Wasundari ‘Bumi yang Agung’ hadir mempertemukan sejumlah kebudayaan di titik-titik berbeda Pulau Bali. Pementasan yang sarat nuansa spiritualitas itu berupaya menyajikan imaji Bali yang liyan, Bali yang beragam. Alur pementasan itu kemudian dirajut melalui kebudayaan subak yang secara filosofis merupakan representasi atas entitas lima unsur dasar ‘panca maha buta’.

Maha Wasundari dimulai dari penghormatan orang Bali pada entitas semesta yang dicerminkan melalui pelaksanaan ritual prayascita-durmanggala. Ritual prayascita yang berarti ‘penyucian’ dilakukan oleh seluruh seniman yang terlibat serta penonton.

Doa dan mantra yang dihantarkan para pemangku serta tetua adat mengajak kita melakukan refleksi atas apa yang bisa dialami dari masa lampau dan apa yang bisa ditumbuhkan di masa depan, melalui kesadaran tentang apa yang sedang dialami saat ini.

Pementasan berlanjut dengan menyajikan film dokumenter ritual Sanghyang Dedari dari Desa Geriana Kauh, Karangasem. Sanghyang Dedari adalah ritual mahasakral yang diwarisi dan dijaga masyarakat Geriana Kauh sebagai bentuk ungkapan terima kasih atas limpahan anugerah Semesta dalam manifestasinya sebagai Ibu Bumi.

Foto: tatkala.co/Rusdy

Masyarakat Desa Geriana Kauh memiliki tradisi mempertahankan menanam padi Bali dengan siklus hidup setahun penuh. Tari Sanghyang Dedari dipentaskan hanya ketika padi telah memasuki fase keluarnya bulir dari batangnya. Masyarakat menyebutnya sebagai embud padi.

“Karena Sanghyang Dedari adalah tarian wali atau sakral, tidak bisa dipentaskan di sembarang tempat dan waktu, maka pada kesempatan ini yang ditampilkan adalah dokumentasi saja,” kata Jero Bendesa Geriana Kauh, I Nyoman Subrata.

Usai penonton disuguhkan kesakralan penari Sanghyang Dedari di dalam bidang gambar, pementasan beranjak pada energiknya Tari Baris Jangkang. Baris Jangkang berasal dari Desa Pelilit, Nusa Penida, Klungkung.

Nusa Penida yang secara geografis daratannya terpisah dengan Bali melahirkan nuansa seni yang juga khas. Gerak dan visual yang ditampilkan jauh dari imaji tari baris pada umumnya yang seolah-olah selalu bersumbu pada baris gede atau baris tunggal.

Tari Baris Jangkang seolah mempertunjukkan sikap keperwiraan di dalam kesederhanaan. Manusia seolah diajarkan bahwa seorang ksatria tidak harus lahir dalam gemerlap polesan sampul luar, tetapi komitmen dari dalam sanubari.

Menurut kepercayaan masyarakat, Tari Baris Jangkang diciptakan oleh seorang yang sangat setia kepada rajanya. Tarian ini menggambarkan kemenangan manusia melawan kejahatan karena kesetiaan dan keteguhannya.

Maestro tari Bali asal Jagaraga, Buleleng, Ni Luh Menek, selanjutnya mengambil perhatian di panggung utama melalui paduan tari dan seni suara dalam suguhan Tari Palawakya. Lantunan kalimat-kalimat yang diucapkan sang maestro hadir sebagai pengantar pementasan Wayang Wong Tejakula yang tersaji pada fragmen setelahnya.

Wayang Wong Tejakula di panggung pembukaan Indonesia Bertutur | Foto: tatkala.co/Rusdy

Apabila penonton menyaksikan penampilannya, sejatinya Ni Luh Menek tidak merapal Palawakya, tetapi melantunkan wirama beberapa bait Kakawin Ramayana yang terkenal.

Palawakya sejatinya merujuk pada aktivitas melantunkan narasi dari susastra parwa, misalnya Astadasa Parwa (Mahabarata Jawa Kuno) dan Sapta Kanda Ramayana. Baik parwa maupun kakawin kesusastraan Jawa Kuno yang kini diwarisi di Bali dan menjadi salah satu sumber falsafah manusia Bali.

Pementasan Wayang Wong Tejakula pada panggung Maha Wasundari berjudul “Wisnu Bhisama” yang mengambil cukilan kisah Situbanda dalam epos Ramayana. Ketika mengetahui Sita ditawan oleh Rawana di Alengkapura, Rama bersama aliansi pasukan kera di bawah panji Sang Sugriwa bersiap melakukan penggempuran.

Sayang, upaya tersebut terhambat oleh luasnya samudera. Melihat situasi itu, Rama segera mengambil gandewa-nya. Panah dibentangkan menuju samudera, sehingga laut mendadak surut.

Seluruh makhluk yang tinggal di samudera merana oleh surutnya air laut. Dewa Bharuna, penguasa samudera, murka atas tindakan Rama. Sang dewa kemudian mendatangi jelmaan Dewa Wisnu itu. Negosiasi terjadi di pesisir laut.

Dewa Baruna meminta Rama mengembalikan air laut dan memberi jalan agar Rama membangun jembatan menuju Alengka. Batu-batu akan dibuat lebih ringan sehingga dapat mengapung dan mempermudah pekerjaan bangsa kera. Jembatan itulah yang kelak disebut sebagai Situbanda.

Pementasan Wayang Wong Tejakula berupaya membawa pesan agar manusia senantiasa menghormati dan memuliakan alam. Tindakan egois hanya akan mendatangkan kesengsaraan bagi makhluk hidup yang lain.

Wayang Wong Tejakula juga salah satu tarian sakral dari Bali Utara, yakni Desa Tejakula di Buleleng Timur. Gede Komang, anggota senior dari sekaa tersebut, menyebut Wayang Wong Tejakula sudah ada sejak abad ke-16. Wayang Wong Tejakula yang asli disakralkan masyarakat, tidak boleh dipentaskan di luar desa dan pada waktu yang sembarangan.

Tarian Barong Ngelawang di panggung pembukaan Indonesia Bertutur | Foto: tatkala.co/Rusdy

Oleh karena keunikan wayang wong ini, barulah pada tahun 1980-an dibuatkan sekaa dengan tujuan yang lebih profan. “Wayang wong yang asli itu pentas 2 s.d. 3 kali dalam setahun di Pura Kahyangan Tiga Tejakula, Pura Segara, dan beberapa pura lain. Salah satunya dipentaskan saat Usaba Dangsil. Pementasan wayang wong terkait dengan pertanian.

Setelah dipentaskan, masyarakat berharap hujan akan turun bagus, pertanian berhasil bagus. (Pementasan) ini sekalian mohon agar Tejakula selalu diberi kesuburan dan kemakmuran,” katanya.

Tarian Barong Ngelawang mengambil panggung setelah itu. Ngelawang merupakan satu praktik kebudayaan di Bali yang biasanya dilaksanakan setelah Hari Suci Galungan dilaksanakan. Ngelawang dilakukan oleh anak-anak dengan datang dari satu pintu ke pintu rumah penduduk.

Secara tradisi ngelawang diyakini sebagai upaya tolak bala, yakni praktik memodifikasi energi disrupsi menjadi energi yang konstruktif sehingga bermanfaat bagi kehidupan manusia.

Tari Barong Ngelawang mewakili unsur api di dalam Maha Wasundari. Kehadiran elemen api ditandai dengan adanya semangat dan keceriaan, pikiran positif, dan kepercayaan diri yang menjadi inti kehadiran anak-anak. Anak-anaklah yang menjadi harapan bangsa untuk masa depan, sehingga mereka layak untuk diberi bekal yang baik.

Epilog Maha Wasundari menghadirkan proses ritual panglebar bakti. Panglebar bakti merupakan tanda berakhirnya segala upaya pemuliaan yang dilakukan ke hadapan Semesta. Apa yang dimulai harus diakhiri. Apa yang dibangun harus direbahkan kembali. Apa yang pernah dianugerahkan wajib dipersembahkan kembali. Itulah prinsip yadnya ‘pengorbanan’ dalam kultur Hindu Bali sebagai kesadaran penuh atas Semesta yang terus berputar.[T]

Tags: Indonesia BertuturIntur 2024
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Berimajinasi Bersama Repertoar “Canson” Karya Noé Clerc Trio dari Prancis

Next Post

Bukan Kondom Kalau Tanpa Kontroversi

Jero Penyarikan Duuran Batur

Jero Penyarikan Duuran Batur

Memiliki nama lahir I Ketut Eriadi Ariana. Pemuda Batur yang saat ini dosen di Prodi Sastra Jawa Kuna Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana. Senang berkegiatan di alam bebas.

Related Posts

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

by Helvi Carnelis
April 14, 2026
0
Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

SAYA merasakan dengan kuat budaya rantau hari ini, sebuah beban tanggung jawab yang tidak ringan dalam kebudayaan Minangkabau. Pengalaman itu...

Read moreDetails

Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

by Radha Dwi Pradnyani
March 30, 2026
0
Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

PEMAIN masuk arena secara bergiliran. Dengan gerakan berbeda-beda mereka berjalan tergesa, dinamis, kadang saling silang, kadang sejajar. Mereka bersuara meniru...

Read moreDetails

Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

by I Putu Ardiyasa
March 22, 2026
0
Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

MENYAKSIKAN perjalanan kultural di Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, selama empat tahun terakhir adalah pelajaran berharga tentang bagaimana estetika mampu...

Read moreDetails

Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

by I Gede Tilem Pastika
March 1, 2026
0
Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

MALAM itu, 28 Februari 2026, udara di Gedung Ksirarnawa Art Centre Denpasar terasa bergetar oleh ekspektasi yang tinggi. Sebagai sutradara...

Read moreDetails

Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

by Wahyu Mahaputra
February 28, 2026
0
Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

DERING telepon membangunkan saya dari tidur siang hari itu. Di seberang sambungan, suara Ariel Valeryan: sahabat dari Kuningan, Jawa Barat...

Read moreDetails

Pesan, Refleksi, dan Kritik Sosial dalam Drama Bali Modern di Bulan Bahasa Bali 2026

by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
0
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

DRAMA Bali modern atau teater berbahasa Bali yang dipentaskan oleh sejumlah kelompok teater dalam ajang Bulan Bahasa Bali 2026 menunjukkan...

Read moreDetails

Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

by Rusdy Ulu
February 25, 2026
0
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

EMPAT orang masing-masing membawa ember dan lap pel, lalu mengepel lantai panggung secara bersamaan. Mereka menarik lap pel dengan gerakan...

Read moreDetails

Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

by Kadek Sonia Piscayanti
February 16, 2026
0
Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

MUSIKAL Perahu Kertas di Ciputra Artpeneur Theater, Jakarta, hadir pada saat yang tepat, ketika banyak manusia bingung menemukan diri mereka,...

Read moreDetails

‘Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati’ di SMAN 1 Kuta Selatan —Dari Ide Tengah Malam hingga Panggung Bulan Bahasa Bali

by Angga Wijaya
February 16, 2026
0
‘Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati’ di SMAN 1 Kuta Selatan —Dari Ide Tengah Malam hingga Panggung Bulan Bahasa Bali

SAYA tidak duduk di kursi penonton ketika Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati dipentaskan dalam rangkaian Bulan Bahasa Bali...

Read moreDetails

Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

by Son Lomri
February 6, 2026
0
Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

ORANG-orang di Auditorium Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja itu diteror suara sirine yang keluar dari mulut tujuh aktor Teater Komunitas...

Read moreDetails
Next Post
Besakih dan Medsos

Bukan Kondom Kalau Tanpa Kontroversi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co