4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Catatan Pentas “Maha Wasundari” Intur 2024: Perayaan dan Refleksi Keagungan Bumi

Jero Penyarikan Duuran Batur by Jero Penyarikan Duuran Batur
August 10, 2024
in Ulas Pentas
Catatan Pentas “Maha Wasundari” Intur 2024: Perayaan dan Refleksi Keagungan Bumi

Tarian Baris Jangkang di panggung pembukaan Indonesia Bertutur | Foto: tatkaka.co/Rusdy

MEMASUKI senja yang sejuk pada Rabu, 7 Agustus 2024, kepala demi kepala mulai menyesaki Lapangan Chandra Muka, Batubulan, Gianyar. Perbincangan demi perbincangan bermunculan di tengah lapangan yang telah didesain bak sepetak sawah besar. Perbincangan muncul dalam lingkaran besar maupun lingkaran kecil pemilik kepala.

Dialog mereka seolah berkompetisi dengan keriuhan kendaraan di sepanjang Jalan Raya Batubulan yang berada di timur lapangan besar itu. Beberapa dari mereka mengobrol seputar hal pribadi, tetapi banyak juga berbincang tentang “Maha Wasundari”, pergelaran pembuka mega festival Indonesia Bertutur (Intur) 2024 yang akan tersaji malam itu.

Usai digelar di kawasan Warisan Dunia Borobudur pada 2023, tahun 2024 Intur memilih Bali sebagai tuan rumah festival. “Beralih dari satu warisan dunia kewarisan dunia lain,” demikian dinyatakan dalam video teaser program, tahun ini Intur akan mewacanakan Warisan Dunia Subak. Ada 900 seniman yang akan terlibat selama 12 hari festival berjalan, yakni dari tanggal 7 s.d. 18 Agustus 2024.

Panggung utama pembukaan Indonesia Bertutur | Foto: tatkala.co/Rusdy

Subak memang dapat dikatakan sebagai salah satu capaian peradaban manusia Bali. Subak bukan sekadar siklus menanam padi pada petak sawah yang kian menyusut di Bali. Subak juga bukan kisah tentang air yang hanya mengalir dari terasering satu ke terasering lainnya. Subak jauh lebih dalam dan kompleks dari semua hal itu.

Setidaknya sejak abad ke-10, subak telah merajut megasistem kebudayaan Bali dengan beragam objek-objek kebudayaan turunannya. Subakhadir menghubungkan manusia Bali di satu titik dengan manusia Bali di titik lainnya, membangun tata kelola lingkungan hidup berkeadilan, hingga akhirnya membangun sistem kepercayaan yang demikian kompleks. Orang-orang modern mengkonsepsi konsep tersebut sebagai tri hita karana.

Pergelaran Maha Wasundari mencoba menghadirkan konsepsi tersebut dalam satu panggung rakyat penuh makna. Pembukaan festival nasional yang umumnya terkesan eksklusif dan hanya dapat dinikmati oleh para pejabat dan “orang-orang penting” dikembalikan sebagai hajatan rakyat yang inklusif untuk semua. Tidak ada banyak sambutan, tiap penonton pun duduk lesehan beralaskan tikar pandan menghadap ke panggung utama.

Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Pendidikan Tinggi, Hilmar Farid, menegaskan visi inklusivitas Maha Wasundari. Pada sambutan yang tidak lebih dari 3 menit itu ia menyatakan komitmen penyelenggaraan Intur sebagai ruang bersama memuliakan kebudayaan.

“Mereka yang hadir hari ini adalah mereka yang punya komitmen memajukan kebudayaan,” katanya sebelum membunyikan okokan bersama-sama.

Hilmar Farid mengatakan posisi kebudayaan dalam pembangunan nasional. Menurutnya, masa depan Indonesia yang cerah dapat ditempuh dengan jalan pemuliaan terhadap kebudayaan dan keanekaragaman hayati. Pernyataannya sejalan dengan prinsip tri hita karana, sebagai konsep mendasar entitas Warisan Dunia Subak di Bali.

Ni Luh Menek di panggung pembukaan Indonesia Bertutur | Foto: tatkala.co/Rusdy

“Malam hari ini kita akan menyaksikan sebuah pergelaran yang ingin mengingatkan kita semua tentang pentingnya kita, sebagai masyarakat, menghargai kebudayaan, menghargai keanekaragaman hayati yang kita miliki, karena sejatinya itulah inti kekuatan dari Indonesia ini. Memiliki keanekaragaman budaya, memiliki keanekaragaman hayati, dan kalau dua hal ini dipertemukan boleh dibilang Indonesia akan memiliki masa depan yang cerah,” katanya.

Mengalami Masa Lalu, Menumbuhkan Masa Depan

Maha Wasundari ‘Bumi yang Agung’ hadir mempertemukan sejumlah kebudayaan di titik-titik berbeda Pulau Bali. Pementasan yang sarat nuansa spiritualitas itu berupaya menyajikan imaji Bali yang liyan, Bali yang beragam. Alur pementasan itu kemudian dirajut melalui kebudayaan subak yang secara filosofis merupakan representasi atas entitas lima unsur dasar ‘panca maha buta’.

Maha Wasundari dimulai dari penghormatan orang Bali pada entitas semesta yang dicerminkan melalui pelaksanaan ritual prayascita-durmanggala. Ritual prayascita yang berarti ‘penyucian’ dilakukan oleh seluruh seniman yang terlibat serta penonton.

Doa dan mantra yang dihantarkan para pemangku serta tetua adat mengajak kita melakukan refleksi atas apa yang bisa dialami dari masa lampau dan apa yang bisa ditumbuhkan di masa depan, melalui kesadaran tentang apa yang sedang dialami saat ini.

Pementasan berlanjut dengan menyajikan film dokumenter ritual Sanghyang Dedari dari Desa Geriana Kauh, Karangasem. Sanghyang Dedari adalah ritual mahasakral yang diwarisi dan dijaga masyarakat Geriana Kauh sebagai bentuk ungkapan terima kasih atas limpahan anugerah Semesta dalam manifestasinya sebagai Ibu Bumi.

Foto: tatkala.co/Rusdy

Masyarakat Desa Geriana Kauh memiliki tradisi mempertahankan menanam padi Bali dengan siklus hidup setahun penuh. Tari Sanghyang Dedari dipentaskan hanya ketika padi telah memasuki fase keluarnya bulir dari batangnya. Masyarakat menyebutnya sebagai embud padi.

“Karena Sanghyang Dedari adalah tarian wali atau sakral, tidak bisa dipentaskan di sembarang tempat dan waktu, maka pada kesempatan ini yang ditampilkan adalah dokumentasi saja,” kata Jero Bendesa Geriana Kauh, I Nyoman Subrata.

Usai penonton disuguhkan kesakralan penari Sanghyang Dedari di dalam bidang gambar, pementasan beranjak pada energiknya Tari Baris Jangkang. Baris Jangkang berasal dari Desa Pelilit, Nusa Penida, Klungkung.

Nusa Penida yang secara geografis daratannya terpisah dengan Bali melahirkan nuansa seni yang juga khas. Gerak dan visual yang ditampilkan jauh dari imaji tari baris pada umumnya yang seolah-olah selalu bersumbu pada baris gede atau baris tunggal.

Tari Baris Jangkang seolah mempertunjukkan sikap keperwiraan di dalam kesederhanaan. Manusia seolah diajarkan bahwa seorang ksatria tidak harus lahir dalam gemerlap polesan sampul luar, tetapi komitmen dari dalam sanubari.

Menurut kepercayaan masyarakat, Tari Baris Jangkang diciptakan oleh seorang yang sangat setia kepada rajanya. Tarian ini menggambarkan kemenangan manusia melawan kejahatan karena kesetiaan dan keteguhannya.

Maestro tari Bali asal Jagaraga, Buleleng, Ni Luh Menek, selanjutnya mengambil perhatian di panggung utama melalui paduan tari dan seni suara dalam suguhan Tari Palawakya. Lantunan kalimat-kalimat yang diucapkan sang maestro hadir sebagai pengantar pementasan Wayang Wong Tejakula yang tersaji pada fragmen setelahnya.

Wayang Wong Tejakula di panggung pembukaan Indonesia Bertutur | Foto: tatkala.co/Rusdy

Apabila penonton menyaksikan penampilannya, sejatinya Ni Luh Menek tidak merapal Palawakya, tetapi melantunkan wirama beberapa bait Kakawin Ramayana yang terkenal.

Palawakya sejatinya merujuk pada aktivitas melantunkan narasi dari susastra parwa, misalnya Astadasa Parwa (Mahabarata Jawa Kuno) dan Sapta Kanda Ramayana. Baik parwa maupun kakawin kesusastraan Jawa Kuno yang kini diwarisi di Bali dan menjadi salah satu sumber falsafah manusia Bali.

Pementasan Wayang Wong Tejakula pada panggung Maha Wasundari berjudul “Wisnu Bhisama” yang mengambil cukilan kisah Situbanda dalam epos Ramayana. Ketika mengetahui Sita ditawan oleh Rawana di Alengkapura, Rama bersama aliansi pasukan kera di bawah panji Sang Sugriwa bersiap melakukan penggempuran.

Sayang, upaya tersebut terhambat oleh luasnya samudera. Melihat situasi itu, Rama segera mengambil gandewa-nya. Panah dibentangkan menuju samudera, sehingga laut mendadak surut.

Seluruh makhluk yang tinggal di samudera merana oleh surutnya air laut. Dewa Bharuna, penguasa samudera, murka atas tindakan Rama. Sang dewa kemudian mendatangi jelmaan Dewa Wisnu itu. Negosiasi terjadi di pesisir laut.

Dewa Baruna meminta Rama mengembalikan air laut dan memberi jalan agar Rama membangun jembatan menuju Alengka. Batu-batu akan dibuat lebih ringan sehingga dapat mengapung dan mempermudah pekerjaan bangsa kera. Jembatan itulah yang kelak disebut sebagai Situbanda.

Pementasan Wayang Wong Tejakula berupaya membawa pesan agar manusia senantiasa menghormati dan memuliakan alam. Tindakan egois hanya akan mendatangkan kesengsaraan bagi makhluk hidup yang lain.

Wayang Wong Tejakula juga salah satu tarian sakral dari Bali Utara, yakni Desa Tejakula di Buleleng Timur. Gede Komang, anggota senior dari sekaa tersebut, menyebut Wayang Wong Tejakula sudah ada sejak abad ke-16. Wayang Wong Tejakula yang asli disakralkan masyarakat, tidak boleh dipentaskan di luar desa dan pada waktu yang sembarangan.

Tarian Barong Ngelawang di panggung pembukaan Indonesia Bertutur | Foto: tatkala.co/Rusdy

Oleh karena keunikan wayang wong ini, barulah pada tahun 1980-an dibuatkan sekaa dengan tujuan yang lebih profan. “Wayang wong yang asli itu pentas 2 s.d. 3 kali dalam setahun di Pura Kahyangan Tiga Tejakula, Pura Segara, dan beberapa pura lain. Salah satunya dipentaskan saat Usaba Dangsil. Pementasan wayang wong terkait dengan pertanian.

Setelah dipentaskan, masyarakat berharap hujan akan turun bagus, pertanian berhasil bagus. (Pementasan) ini sekalian mohon agar Tejakula selalu diberi kesuburan dan kemakmuran,” katanya.

Tarian Barong Ngelawang mengambil panggung setelah itu. Ngelawang merupakan satu praktik kebudayaan di Bali yang biasanya dilaksanakan setelah Hari Suci Galungan dilaksanakan. Ngelawang dilakukan oleh anak-anak dengan datang dari satu pintu ke pintu rumah penduduk.

Secara tradisi ngelawang diyakini sebagai upaya tolak bala, yakni praktik memodifikasi energi disrupsi menjadi energi yang konstruktif sehingga bermanfaat bagi kehidupan manusia.

Tari Barong Ngelawang mewakili unsur api di dalam Maha Wasundari. Kehadiran elemen api ditandai dengan adanya semangat dan keceriaan, pikiran positif, dan kepercayaan diri yang menjadi inti kehadiran anak-anak. Anak-anaklah yang menjadi harapan bangsa untuk masa depan, sehingga mereka layak untuk diberi bekal yang baik.

Epilog Maha Wasundari menghadirkan proses ritual panglebar bakti. Panglebar bakti merupakan tanda berakhirnya segala upaya pemuliaan yang dilakukan ke hadapan Semesta. Apa yang dimulai harus diakhiri. Apa yang dibangun harus direbahkan kembali. Apa yang pernah dianugerahkan wajib dipersembahkan kembali. Itulah prinsip yadnya ‘pengorbanan’ dalam kultur Hindu Bali sebagai kesadaran penuh atas Semesta yang terus berputar.[T]

Tags: Indonesia BertuturIntur 2024
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Berimajinasi Bersama Repertoar “Canson” Karya Noé Clerc Trio dari Prancis

Next Post

Bukan Kondom Kalau Tanpa Kontroversi

Jero Penyarikan Duuran Batur

Jero Penyarikan Duuran Batur

Memiliki nama lahir I Ketut Eriadi Ariana. Pemuda Batur yang saat ini dosen di Prodi Sastra Jawa Kuna Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana. Senang berkegiatan di alam bebas.

Related Posts

Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

by Asmaran Dani
September 4, 2026
0
Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

Catatan pendek, sebagai pengantar diskusi menonton ulang dokumentasi pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot melalui Youtube, Sabtu 05 Septemper 2026 di...

Read moreDetails

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

by Yanik Parta
August 24, 2026
0
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

Read moreDetails

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
0
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

Read moreDetails

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails
Next Post
Besakih dan Medsos

Bukan Kondom Kalau Tanpa Kontroversi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co