13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tukad Itu Bernama Sekumpul, Sebuah Alasan untuk Kembali

Ni Luh Meisa Wulandari by Ni Luh Meisa Wulandari
October 10, 2024
in Tualang
Tukad Itu Bernama Sekumpul, Sebuah Alasan untuk Kembali

Penulis berpose di kawasan Air Terjun Sekumpul | Foto: Dok. Penulis

DI suatu hari yang entah kapan, ia ingin mengajak saya ke sebuah tukad—katanya tempat itu sungguh indah, tempat yang tak jauh dari rumah. Sekumpul, begitu ia menyebutnya, sebuah air terjun yang letaknya di Desa Sekumpul, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng.

Kenapa Sekumpul? Sungguh, ini pertama kalinya saya mendengar tempat ini; tapi tanpa pikir panjang saya pun langsung mengiyakan ajakannya.

Manis Galungan telah berlalu, hari menuju Minggu pada pertengahan September menuju akhir, selepas sarapan dengan secangkir teh hangat juga kebis—jajanan tradisional khas Bali berupa adonan tepung beras berwarna hijau bulat berisi ketan, juga parutan kelapa lengkap dengan siraman gula merah, teman mengobrol melengkapi pagi ini—, setelah pamitan, kami berangkat dari Batur.

“Selamat pagi alam raya,” begitu kata saya, sambil duduk di boncengan pada satu hari yang mulai hangat, dan ia mulai memacu kendaraan menuju destinasi wisata Air Terjun Sekumpul.

Selama beberapa hari terakhir saya lihat Batur tak henti-hentinya bergerak. Sekian mobil dan motor memadati jalanan sampai rasanya membuat para pejalan kaki sesak tak punya pijakan. Untuk itu ingin rasanya sejenak lepas dari kemacetan sebab hari raya, ke utara kaki kami melangkah.

Jalanan lenggang dan berkelok mulai menyapa kami. Agar tidak kesiangan kami memutuskan untuk mempersingkat perjalanan dengan melewati Desa Mengening, ia cukup tahu tentang jalan alternatif yang bisa dilalui agar cepat sampai ke tujuan kami.

Tidak sedikit kami jumpai jalanan sempit, penuh tikungan dan turunan, lalu tiba di satu persimpangan ia memilih jalan dengan konstruksi beton, yang mana pada kanan dan kirinya terlihat sebuah pohon dengan aroma khas yang tak asing bagi indra penciuman ini.

Ya, pohon itu tak lain adalah cengkeh, yang lekat dengan keseharian saya karena menjadi obat mujarab bagi mereka yang sedang mengalami sakit gigi—di kedokteran gigi kami mengenalnya dengan sebutan eugenol. Sebuah rempah mahal dengan beragam khasiat di dalamnya.

Tak berselang lama kami melihat seorang lelaki yang topinya diterbangkan angin, lalu kami membantu mengambilkannya. Lelaki itu berterimakasih pada kami lalu melanjutkan perjalanannya. Dari bahasa yang ia gunakan, kami langsung mengenali bahwa ia bukan penduduk daerah ini, melainkan pendatang yang sedang bekerja memanen cengkeh.

“Lihatlah, betapa sulitnya sekarang mencari buruh untuk panen, sampai-sampai kita mendatangkan orang agar mau melakukan pekerjaan ini,” kata Doi.

***

Tidak terasa kami telah tiba di daerah Tamblang, lalu belok kiri menuju Desa Pakisan. “Aku pernah ke sini tahun lalu,” saya berkata kepadanya. Pada waktu itu Desa Batur nyenengin saat digelar sebuah upacara di Desa Pakisan. Itu karena Batur memiliki kedekatan hubungan yang sudah terjalin sejak lama dengan Desa Pakisan—yang merupakan jejaring subak.

Perjalanan terus berlanjut, melewati desa-desa di kaki bukit. Sebentar lagi kami sampai. Kami tiba di Kecamatan Sawan, melewati jalanan mulus dan bagus tapi bergelombang dan tak sedikit warga yang menjemur biji kakao di depan rumahnya.

Kami berpikir beberapa kemungkinan yang mungkin saja menjadi penyebab jalanan tidak rata, bisa saja karena dananya kurang, kurang banyak masuk kantong maksudnya, atau bisa saja karena kontur tanah—apalagi kanan dan kiri adalah ladang persawahan. “Ah, entahlah, yang terpenting adalah, kita sampai di Sekumpul,” saya berkata.

Tibalah kami di tempat tujuan. Seorang anak kecil dengan sepeda motor bermurah hati mengantarkan kami hingga lokasi parkir menuju Air Terjun Sekumpul. Tapi dengan hati yang ragu karena jalanan mulai turun menukik dan sempit akhirnya kami memutuskan untuk memarkirkan sepeda motor kami di salah satu rumah warga yang menyambut kami dengan senyum ramah penuh kehangatan.

Lalu kaki kami mulai berjalan. Tiba di sebuah pemberhentian kami membeli tiket lengkap dengan penjelasannya. Tiket tersebut seharga 20.000 untuk satu orang, dan untuk menuju air terjun lainnya kami juga harus membayar dengan jumlah yang sama.

Dengan sedikit berjalan lebih lama kami bisa melihat air terjun dari kejauhan, tak lupa kami mengambil beberapa foto juga video untuk mengabadikan sebuah momen. Jejak tumbuhan hutan yang tak sulit dikenali, memberi udara, menyimpan air untuk keberlangsungan hidup manusia, mengisi ulang cadangan oksigen. Segala obat ada di sini, penyangga kehidupan. Tak henti kami mengucap pujian dengan semangat penuh.

Rambut ini sudah terjalin rapi lalu mulai saya kenakan topi seadanya, setidaknya bisa melindungi kepala dari sengatan matahari. Kami berjalan lagi, menuruni anak tangga yang cukup banyak dan seringkali curam.

Kami menempuh jalan yang cukup nyaman dilalui. Sesekali kami juga harus menyeberangi sungai penuh bebatuan, airnya setinggi lutut dan aliran sungai yang tidak terlalu deras. Di sana juga ada seutas tali sebagai pegangan. Air begitu jernih hingga ikan-ikan kecil tak malu-malu menampakan dirinya.

Naungan langit pagi nan rupawan, duhai suara-suara yang terdengar nyaring mewartakan kedatangan, rintik air yang jatuh dari langit dan memercik ke wajah kami. Sambutan itu melintang, layaknya angin mempermainkan helai rambut saya sekenanya lalu ia mulai merapikannya. Kami larut dalam kekaguman yang sama dan berbagi ruang lamunan.

Kami menyadari diri ini juga butuh ruang untuk berelaksasi, ini menjadi satu dari sekian tempat yang wajib disinggahi, meski jauh dari hiruk-pikuk kota dan sinyal ponsel juga kian menghilang. Tapi di situlah kenikmatan lainnya. Tampaknya kami sudah terlalu lena dengan kebisingan dan hiruk-pikuk dunia maya.

Seperti merasa pulang, kami begitu nyaman. Di sini sangat cocok bagi mereka yang rindu ketenangan. Merujuk pada kegemaran dan ketertarikan yang sama membuat kami ingin kembali.

Momen seperti ini harus kami abadikan dalam frame sederhana yang ingin ditampilkan secara sederhana pula—sesederhana potret kami berdua. Di sana jarang kami jumpai warga lokal, lebih banyak wisatawan manca negara alias bule dan sedikit pemandu wisata mereka.

Dan tak tanggung-tanggung, kini kami mulai merepotkan seorang bule asal Ukraina untuk mengambil beberapa foto dan video kebersamaan kami. Terima kasih karena sudah berkenan kami repotkan, ucap kami.

***

Setelah puas berswafoto, kami berdua duduk di sebuah batu, memulai beragam obrolan, baik itu kekhawatiran, kegelisahan juga obrolan tentang masa depan. Bercakap dengannya itu—sungguh suaranya masih begitu jelas di kepala—membuat hati bungah. Ia bagian yang bikin senyum-senyum sedang saya kehabisan kata-kata. Serupa ruang bicara dengar, sepenuhnya berarti bagi si pencerita membuat diri enggan beranjak. Kami tenggelam dalam obrolan sedang yang lain dalam keasyikan mereka.

Mentari kian meninggi, kami putuskan tuk berjalan lagi menuju air terjun di sebelahnya dengan melewati rute yang nyaris sama. Sekumpul Waterfall, seperti namanya, air tejun ini terdiri dari kumpulan beberapa air terjun yang berdekatan—dan dua yang paling dekat membuat tempat ini sering dijuluki sebagai Sevent Points Waterfall. Tujuhkah jumlah air terjun itu? Apakah kau bersedia menghitung bersamaku? Begitulah kami yang tak pernah berhenti pada tanda tanya.

Melihat bayangan sendiri di air mengingatkan diri bahwa kita tidak sempurna dan dalam ketidaksempurnaan itu kita berusaha tetap sadar dan hadir pun tersenyum lebih banyak, segala yang samar amati dengan bijak. Bukankah kita berasal dari partikel-partikel alam?

Lamunan saya seketika buyar, perut kami mengisyaratkan bunyi-bunyi kelaparan. Menikmati sedikit cemilan sepertinya cukup ampuh untuk meredakan lapar. Tapi sayangnya saya tak sempat memasak nasi goreng atau bahkan sekadar membawa sepotong roti juga sebotol air minum. Ini namanya sebuah kekonyolan dalam ketergesaan. Sejatinya saya masih ingin berlama-lama berdiam di sini. Namun perut kosong tak mungkin sanggup diajak berkompromi.

Makan tentu saja bukan semata urusan mengenyangkan perut di saat seperti ini. Maka kami terus melangkah meregangkan sendi-sendi yang kaku, kali ini jalur mulai menantang diri untuk tetap bertahan saat lelah, napas yang kacau oleh tanjakan sedang kaki terasa pegal, konsentrasi memudar dan jantung agak berdebar memaksa saya berhenti lalu duduk sejenak, tapi ada dia yang selalu menguatkan.

Saya teringat akan sesuatu yang harusnya saya berikan di tempat tadi, sebuah jawaban menyangkut perasaan yang saya tulis dalam bentuk puisi. Perlahan saya ambil tas lalu terdengar suara renyah dari plastik tempat tisu yang ia kira itu adalah cemilan. Benar saja, rupanya ia sangat lapar. Sepertinya kami harus makan agar daya terisi ulang dan tetap waras.

Saya serahkan sebuah kertas dan ia pun tertawa. Dengan terburu-buru kami lanjutkan langkah, melewati satu per satu anak tangga itu. Hingga wajah saya memerah seperti tomat. Di sebuah pemberhentian dua orang wanita lokal mungkin mengira saya sebagai tamu Cina. Mereka mulai tersenyum dan berkata, “Hello”. Saya balik tersenyum dan sedikit terdiam juga berpikir lalu tertawa terbahak bersama.

Perjalanan tadi rasanya lunas terbayar. Di sisa sore itu seketika sinyal ponsel mulai penuh dan makanan sudah di depan mata. Namun ada sedikit percik konflik, ada rasa marah bercampur khawatir, lalu kami baik-baik saja. Kepada kamu yang bersetia pada kesabaran percayalah telah kuserahkan diri ini pada setiamu.

Memang ya, suasana hati dan isi kepala cukup mudah dibaca lewat sorot mata bagi mereka yang saling mengenali, betapa kami merindukan banyak momen di sana. Perjalanan pulang memang agak melelahkan meski berbekal peluh dan kulit yang tersengat matahari.

Kelana hari itu ditutup dengan demam semalaman sebab beberapa hari belakang selalu minim tidur dan kondisi yang memang kurang fit. Tapi tak apa, lain kali ajak saya ke sana lagi ya! Salam beribu cinta, terima kasih.[T]

Editor: Jaswanto

Heha Sky View, Taman Langitnya Yogyakarta
Hotel Tua di Bedugul Berhenti Beroperasi, Kini Jadi Tempat Piknik Warga
Jatiluwih, Ritus Padi, dan Hal-Hal di Baliknya
Menggigil di Belantara Gunung Batukaru
Tags: Air Terjun SekumpulbulelengKecamatan Sawan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Laklak Beras Merah Jatiluwih: Tradisi dan Inovasi dalam Satu Gigitan

Next Post

Han Kang, Penulis Perempuan Korea Selatan, Peraih Nobel Sastra 2024

Ni Luh Meisa Wulandari

Ni Luh Meisa Wulandari

Lahir di Batur Tengah, 9 Mei 1998. Kini mahasiswa Jurusaan Kesehatan Gigi Poltekkes Denpasar

Related Posts

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

by Made Wirya
June 21, 2026
0
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

Read moreDetails

Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

by Wahyu Mahaputra
June 11, 2026
0
Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu...

Read moreDetails

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
0
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

Read moreDetails

Ke Pacet Mereka Kembali

by Jaswanto
June 2, 2026
0
Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

Read moreDetails

Mereka Menunggu di Setia Darma 

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

Read moreDetails

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

by I Nyoman Tingkat
May 27, 2026
0
Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg,...

Read moreDetails

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

by Chusmeru
May 25, 2026
0
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa...

Read moreDetails

Kota Tua Tak Pernah Mati

by I Nyoman Tingkat
May 24, 2026
0
Kota Tua Tak Pernah Mati

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se- Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Jumat Paing...

Read moreDetails

Oleh-Oleh dari Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 23, 2026
0
Oleh-Oleh dari Baduy Luar

MENGIKUTI rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan Study Tiru ke Baduy Luar, Provinsi Banten, Jumat Paing Gumbreg 15 Mei 2026,...

Read moreDetails

Berguru ke Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 21, 2026
0
Berguru ke Baduy Luar

SETELAH rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan persembahyangan di Pura Aditya Jaya Rawangun Jakarta Timur pada Kamis Umanis Gumbreg, 14...

Read moreDetails
Next Post
Han Kang, Penulis Perempuan Korea Selatan, Peraih Nobel Sastra 2024

Han Kang, Penulis Perempuan Korea Selatan, Peraih Nobel Sastra 2024

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana
Esai

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka
Esai

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co