DI suatu hari yang entah kapan, ia ingin mengajak saya ke sebuah tukad—katanya tempat itu sungguh indah, tempat yang tak jauh dari rumah. Sekumpul, begitu ia menyebutnya, sebuah air terjun yang letaknya di Desa Sekumpul, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng.
Kenapa Sekumpul? Sungguh, ini pertama kalinya saya mendengar tempat ini; tapi tanpa pikir panjang saya pun langsung mengiyakan ajakannya.
Manis Galungan telah berlalu, hari menuju Minggu pada pertengahan September menuju akhir, selepas sarapan dengan secangkir teh hangat juga kebis—jajanan tradisional khas Bali berupa adonan tepung beras berwarna hijau bulat berisi ketan, juga parutan kelapa lengkap dengan siraman gula merah, teman mengobrol melengkapi pagi ini—, setelah pamitan, kami berangkat dari Batur.
“Selamat pagi alam raya,” begitu kata saya, sambil duduk di boncengan pada satu hari yang mulai hangat, dan ia mulai memacu kendaraan menuju destinasi wisata Air Terjun Sekumpul.
Selama beberapa hari terakhir saya lihat Batur tak henti-hentinya bergerak. Sekian mobil dan motor memadati jalanan sampai rasanya membuat para pejalan kaki sesak tak punya pijakan. Untuk itu ingin rasanya sejenak lepas dari kemacetan sebab hari raya, ke utara kaki kami melangkah.
Jalanan lenggang dan berkelok mulai menyapa kami. Agar tidak kesiangan kami memutuskan untuk mempersingkat perjalanan dengan melewati Desa Mengening, ia cukup tahu tentang jalan alternatif yang bisa dilalui agar cepat sampai ke tujuan kami.

Tidak sedikit kami jumpai jalanan sempit, penuh tikungan dan turunan, lalu tiba di satu persimpangan ia memilih jalan dengan konstruksi beton, yang mana pada kanan dan kirinya terlihat sebuah pohon dengan aroma khas yang tak asing bagi indra penciuman ini.
Ya, pohon itu tak lain adalah cengkeh, yang lekat dengan keseharian saya karena menjadi obat mujarab bagi mereka yang sedang mengalami sakit gigi—di kedokteran gigi kami mengenalnya dengan sebutan eugenol. Sebuah rempah mahal dengan beragam khasiat di dalamnya.
Tak berselang lama kami melihat seorang lelaki yang topinya diterbangkan angin, lalu kami membantu mengambilkannya. Lelaki itu berterimakasih pada kami lalu melanjutkan perjalanannya. Dari bahasa yang ia gunakan, kami langsung mengenali bahwa ia bukan penduduk daerah ini, melainkan pendatang yang sedang bekerja memanen cengkeh.
“Lihatlah, betapa sulitnya sekarang mencari buruh untuk panen, sampai-sampai kita mendatangkan orang agar mau melakukan pekerjaan ini,” kata Doi.
***
Tidak terasa kami telah tiba di daerah Tamblang, lalu belok kiri menuju Desa Pakisan. “Aku pernah ke sini tahun lalu,” saya berkata kepadanya. Pada waktu itu Desa Batur nyenengin saat digelar sebuah upacara di Desa Pakisan. Itu karena Batur memiliki kedekatan hubungan yang sudah terjalin sejak lama dengan Desa Pakisan—yang merupakan jejaring subak.
Perjalanan terus berlanjut, melewati desa-desa di kaki bukit. Sebentar lagi kami sampai. Kami tiba di Kecamatan Sawan, melewati jalanan mulus dan bagus tapi bergelombang dan tak sedikit warga yang menjemur biji kakao di depan rumahnya.
Kami berpikir beberapa kemungkinan yang mungkin saja menjadi penyebab jalanan tidak rata, bisa saja karena dananya kurang, kurang banyak masuk kantong maksudnya, atau bisa saja karena kontur tanah—apalagi kanan dan kiri adalah ladang persawahan. “Ah, entahlah, yang terpenting adalah, kita sampai di Sekumpul,” saya berkata.
Tibalah kami di tempat tujuan. Seorang anak kecil dengan sepeda motor bermurah hati mengantarkan kami hingga lokasi parkir menuju Air Terjun Sekumpul. Tapi dengan hati yang ragu karena jalanan mulai turun menukik dan sempit akhirnya kami memutuskan untuk memarkirkan sepeda motor kami di salah satu rumah warga yang menyambut kami dengan senyum ramah penuh kehangatan.
Lalu kaki kami mulai berjalan. Tiba di sebuah pemberhentian kami membeli tiket lengkap dengan penjelasannya. Tiket tersebut seharga 20.000 untuk satu orang, dan untuk menuju air terjun lainnya kami juga harus membayar dengan jumlah yang sama.
Dengan sedikit berjalan lebih lama kami bisa melihat air terjun dari kejauhan, tak lupa kami mengambil beberapa foto juga video untuk mengabadikan sebuah momen. Jejak tumbuhan hutan yang tak sulit dikenali, memberi udara, menyimpan air untuk keberlangsungan hidup manusia, mengisi ulang cadangan oksigen. Segala obat ada di sini, penyangga kehidupan. Tak henti kami mengucap pujian dengan semangat penuh.
Rambut ini sudah terjalin rapi lalu mulai saya kenakan topi seadanya, setidaknya bisa melindungi kepala dari sengatan matahari. Kami berjalan lagi, menuruni anak tangga yang cukup banyak dan seringkali curam.
Kami menempuh jalan yang cukup nyaman dilalui. Sesekali kami juga harus menyeberangi sungai penuh bebatuan, airnya setinggi lutut dan aliran sungai yang tidak terlalu deras. Di sana juga ada seutas tali sebagai pegangan. Air begitu jernih hingga ikan-ikan kecil tak malu-malu menampakan dirinya.
Naungan langit pagi nan rupawan, duhai suara-suara yang terdengar nyaring mewartakan kedatangan, rintik air yang jatuh dari langit dan memercik ke wajah kami. Sambutan itu melintang, layaknya angin mempermainkan helai rambut saya sekenanya lalu ia mulai merapikannya. Kami larut dalam kekaguman yang sama dan berbagi ruang lamunan.
Kami menyadari diri ini juga butuh ruang untuk berelaksasi, ini menjadi satu dari sekian tempat yang wajib disinggahi, meski jauh dari hiruk-pikuk kota dan sinyal ponsel juga kian menghilang. Tapi di situlah kenikmatan lainnya. Tampaknya kami sudah terlalu lena dengan kebisingan dan hiruk-pikuk dunia maya.
Seperti merasa pulang, kami begitu nyaman. Di sini sangat cocok bagi mereka yang rindu ketenangan. Merujuk pada kegemaran dan ketertarikan yang sama membuat kami ingin kembali.

Momen seperti ini harus kami abadikan dalam frame sederhana yang ingin ditampilkan secara sederhana pula—sesederhana potret kami berdua. Di sana jarang kami jumpai warga lokal, lebih banyak wisatawan manca negara alias bule dan sedikit pemandu wisata mereka.
Dan tak tanggung-tanggung, kini kami mulai merepotkan seorang bule asal Ukraina untuk mengambil beberapa foto dan video kebersamaan kami. Terima kasih karena sudah berkenan kami repotkan, ucap kami.
***
Setelah puas berswafoto, kami berdua duduk di sebuah batu, memulai beragam obrolan, baik itu kekhawatiran, kegelisahan juga obrolan tentang masa depan. Bercakap dengannya itu—sungguh suaranya masih begitu jelas di kepala—membuat hati bungah. Ia bagian yang bikin senyum-senyum sedang saya kehabisan kata-kata. Serupa ruang bicara dengar, sepenuhnya berarti bagi si pencerita membuat diri enggan beranjak. Kami tenggelam dalam obrolan sedang yang lain dalam keasyikan mereka.
Mentari kian meninggi, kami putuskan tuk berjalan lagi menuju air terjun di sebelahnya dengan melewati rute yang nyaris sama. Sekumpul Waterfall, seperti namanya, air tejun ini terdiri dari kumpulan beberapa air terjun yang berdekatan—dan dua yang paling dekat membuat tempat ini sering dijuluki sebagai Sevent Points Waterfall. Tujuhkah jumlah air terjun itu? Apakah kau bersedia menghitung bersamaku? Begitulah kami yang tak pernah berhenti pada tanda tanya.
Melihat bayangan sendiri di air mengingatkan diri bahwa kita tidak sempurna dan dalam ketidaksempurnaan itu kita berusaha tetap sadar dan hadir pun tersenyum lebih banyak, segala yang samar amati dengan bijak. Bukankah kita berasal dari partikel-partikel alam?
Lamunan saya seketika buyar, perut kami mengisyaratkan bunyi-bunyi kelaparan. Menikmati sedikit cemilan sepertinya cukup ampuh untuk meredakan lapar. Tapi sayangnya saya tak sempat memasak nasi goreng atau bahkan sekadar membawa sepotong roti juga sebotol air minum. Ini namanya sebuah kekonyolan dalam ketergesaan. Sejatinya saya masih ingin berlama-lama berdiam di sini. Namun perut kosong tak mungkin sanggup diajak berkompromi.
Makan tentu saja bukan semata urusan mengenyangkan perut di saat seperti ini. Maka kami terus melangkah meregangkan sendi-sendi yang kaku, kali ini jalur mulai menantang diri untuk tetap bertahan saat lelah, napas yang kacau oleh tanjakan sedang kaki terasa pegal, konsentrasi memudar dan jantung agak berdebar memaksa saya berhenti lalu duduk sejenak, tapi ada dia yang selalu menguatkan.
Saya teringat akan sesuatu yang harusnya saya berikan di tempat tadi, sebuah jawaban menyangkut perasaan yang saya tulis dalam bentuk puisi. Perlahan saya ambil tas lalu terdengar suara renyah dari plastik tempat tisu yang ia kira itu adalah cemilan. Benar saja, rupanya ia sangat lapar. Sepertinya kami harus makan agar daya terisi ulang dan tetap waras.
Saya serahkan sebuah kertas dan ia pun tertawa. Dengan terburu-buru kami lanjutkan langkah, melewati satu per satu anak tangga itu. Hingga wajah saya memerah seperti tomat. Di sebuah pemberhentian dua orang wanita lokal mungkin mengira saya sebagai tamu Cina. Mereka mulai tersenyum dan berkata, “Hello”. Saya balik tersenyum dan sedikit terdiam juga berpikir lalu tertawa terbahak bersama.
Perjalanan tadi rasanya lunas terbayar. Di sisa sore itu seketika sinyal ponsel mulai penuh dan makanan sudah di depan mata. Namun ada sedikit percik konflik, ada rasa marah bercampur khawatir, lalu kami baik-baik saja. Kepada kamu yang bersetia pada kesabaran percayalah telah kuserahkan diri ini pada setiamu.
Memang ya, suasana hati dan isi kepala cukup mudah dibaca lewat sorot mata bagi mereka yang saling mengenali, betapa kami merindukan banyak momen di sana. Perjalanan pulang memang agak melelahkan meski berbekal peluh dan kulit yang tersengat matahari.
Kelana hari itu ditutup dengan demam semalaman sebab beberapa hari belakang selalu minim tidur dan kondisi yang memang kurang fit. Tapi tak apa, lain kali ajak saya ke sana lagi ya! Salam beribu cinta, terima kasih.[T]
Editor: Jaswanto





























