25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Han Kang, Penulis Perempuan Korea Selatan, Peraih Nobel Sastra 2024

Jaswanto by Jaswanto
October 11, 2024
in Persona
Han Kang, Penulis Perempuan Korea Selatan, Peraih Nobel Sastra 2024

Han Kang | Foto: EL PAÍS

“SAYA sempat berbicara dengan Han Kang lewat telepon,” kata sekretaris Swedish Academy Mats Malm setelah mengumumkan pemenang Nobel Sastra 2024, sebagaimana dikutip The Guardian, Jumat (10/10/2024). “Dia tampak menjalani hari yang biasa saja—baru saja selesai makan malam dengan putranya,” lanjutnya.

Hadiah Nobel dalam bidang sastra telah diberikan kepada novelis Korea Selatan berusia 53 tahun bernama Han Kang, sebagaimana banyak diberitakan di media massa di internet, atas “prosa puitisnya yang intens” yang menghadapi trauma historis dan mengungkap kerapuhan kehidupan manusia yang kompeks. Karya-karyanya meliputi The Vegetarian, The White Book, Human Acts, dan Greek Lessons.

Tetapi, bisa jadi, Han dikenal luas berkat novel pertamanya yang berjudul The Vegetarian (2007), yang memenangkan Man Booker International Prize—walaupun ia memulai debut sastranya pada tahun 1993, dengan serangkaian lima puisi yang diterbitkan di majalah Korea Literature and Society.

Pada 1994, ia memenangkan kontes sastra musim semi Seoul Shinmun dengan sebuah cerita, Red Anchor. Dan tahun berikutnya Han menerbitkan kumpulan cerita pendek pertamanya, Love of Yeosu. Pada tahun 1998, ia berpartisipasi dalam Program Penulisan Internasional Universitas Iowa selama tiga bulan, yang didukung oleh Dewan Kesenian Korea.

Han lahir di Gwangju, sebuah kota di barat daya Korea Selatan, pada tahun 1970. Saat berusia 10 tahun, keluarganya pindah ke daerah Suyu-dong di Seoul. Ia belajar sastra Korea di Universitas Yonsei di ibu kota tersebut.

Tapi ia memang lahir dari “rahim” sastra. Ayahnya, Han Seung-won, merupakan novelis Korea Selatan yang sering menulis tentang orang-orang yang berjuang melawan nasib di Jangheung—sebuah daerah yang terletak di lepas pantai selatan semenanjung Korea, tanah kelahirannya.

Sama seperti ayahnya, Han Kang menganggap menulis tentang pembantaian adalah sebuah perjuangan. “Saya adalah orang yang merasakan sakit saat melemparkan daging ke api,” katanya.

Han, sebagaimana Claire Armitstead mendeskripsikannya, adalah wanita yang sangat bijaksana dan karismatik, yang menulis sendiri bagian akhir Human Acts untuk menjelaskan mengapa ia merasa terdorong untuk menceritakan kisah tersebut. “Saya berusia sembilan tahun pada saat Pemberontakan Gwangju,” begitulah awalnya.

Gwangju, sebuah kota di bagian selatan negara itu, telah menjadi rumahnya hingga empat bulan sebelum pembantaian, ketika ayahnya berhenti dari pekerjaannya sebagai guru dan memutuskan memilih menjadi penulis penuh waktu dan memindahkan keluarganya ke ibu kota Seoul.

Dia menemukan pembantaian itu saat berusia 12 tahun. Di rak paling atas—rak buku keluarganya—tersimpan album kenangan yang diedarkan secara rahasia, yang berisi foto-foto yang diambil oleh jurnalis asing. Album itu ditumpuk dengan bagian punggung menempel ke dinding untuk mencegah Han dan saudara-saudaranya menemukannya. Penemuan yang mengejutkan itu mengubah trauma publik menjadi trauma yang sangat pribadi.

“Saya ingat momen ketika pandangan saya tertuju pada wajah seorang wanita muda yang dimutilasi, wajahnya diiris dengan bayonet,” tulis Han. “Secara diam-diam, dan tanpa keributan, sesuatu yang lembut di dalam diri saya hancur. Sesuatu yang, sampai saat itu, bahkan tidak saya sadari keberadaannya.”

Claire menuilis, tiga dekade kemudian, ia menyadari bahwa foto-foto itu telah melemparkannya ke dalam krisis eksistensial yang akan terus menghantuinya. “Jika saya berusia 20 tahun saat melihat foto-foto itu, mungkin saya bisa memfokuskan kebencian saya pada rezim militer, tetapi saya masih sangat muda dan saya merasa manusia itu menakutkan—dan saya salah satunya,” kata Han sebagaimana Claire mengutipnya.

Pemberontakan Gwangju—dan rentetan peristiwanya—adalah episode yang jarang diceritakan di Korea Selatan. Dan peristiwa tersebut membuat Han merasa bersalah karena selamat, yang ia bagikan kepada seluruh keluarganya, ditambah dengan “dua teka-teki yang tidak terpecahkan: bagaimana manusia bisa begitu kejam dan bengis, dan apa yang dapat dilakukan orang untuk melawan kekerasan ekstrem seperti itu?”

Alih-alih mencari jawaban dari orang lain, ia beralih ke buku, tulis Claire lagi. “Saat remaja, saya dihinggapi pertanyaan-pertanyaan umum: mengapa sakit, mengapa mati? Saya pikir buku menyimpan jawabannya, tetapi anehnya saya menyadari bahwa buku hanya berisi pertanyaan. Penulisnya lemah dan rentan seperti kita,” ujar Han.

Saat berusia 14 tahun, ia tahu bahwa ia ingin menjadi seorang penulis—seperti ayahnya. Maka ia menempuh pendidikan dari sekolah ke universitas, di mana ia belajar sastra Korea kontemporer. Saat itu, kediktatoran yang bertanggung jawab atas pembantaian tersebut telah digulingkan, dan Korea Selatan telah menjadi negara demokrasi. “Saya sangat beruntung menjadi bagian dari generasi bebas—generasi yang tidak harus berfokus pada isu-isu sosial,” katanya.

Kini, Han menjadi penulis perempuan pertama yang meraih Novel Sastra sejak 2022, saat penghargaan tersebut diberikan kepada penulis Prancis, Annie Ernaux. Dan ia juga menjadi penerima Nobel perempuan pertama tahun ini.

Euforia, Pujian-Pujian

“Saya sangat terkejut dan benar-benar merasa terhormat,” kata Han, dalam wawancara telepon yang dibagikan oleh Swedish Academy—yang juga banyak dikutip oleh media. “Saya tumbuh besar dengan sastra Korea, yang sangat dekat dengan saya. Jadi saya harap berita ini baik bagi para pembaca sastra Korea, dan teman-teman saya serta para penulis,” Han melanjutkan.

Menurut laporan beberapa media di Korea Selatan, saat Han ditetapkan sebagai pemenang hadiah Nobel Sastra, beberapa toko buku daring ditutup karena lonjakan pengunjung, dan beberapa sidang dengar pendapat pemerintah bahkan dihentikan sementara karena para pejabat bersorak gembira atas berita tersebut.

Dalam sebuah wawancara, Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol mengucapkan selamat kepada Han. “Anda mengubah luka menyakitkan dari sejarah modern kita menjadi karya sastra yang hebat,” katanya. “Saya menyampaikan rasa hormat kepada Anda karena telah mengangkat nilai sastra Korea.”

Novel, novela, esai, dan kumpulan cerita pendek karya Han telah mengeksplorasi berbagai tema patriarki, kekerasan, kesedihan, dan kemanusiaan. “Empatinya terhadap kehidupan yang rentan, yang sering kali dialami oleh perempuan, sangat terasa, dan diperkuat oleh prosa yang sarat dengan metafora,” kata Anders Olsson, Ketua Komite Nobel. Menurut Olsson, Han memiliki kesadaran unik akan hubungan antara tubuh dan jiwa, yang hidup dan yang mati, dan dengan gaya puitis dan eksperimental telah menjadi inovator dalam prosa kontemporer.

Selain Olsson, pujian juga datang dari seorang novelis, Deborah Levy. “Saya sudah lama tahu bahwa Han Kang adalah salah satu penulis paling hebat dan terampil yang berkarya di panggung dunia kontemporer,” katanya. “Bagus sekali, Han Kang tersayang, saya sangat senang Anda menjadi penerima Nobel 2024 kami,” sambungnya, sebagaimana dikutip dari The Guardian.

Novelis Max Porter, yang menyunting terjemahan Smith dari The Vegetarian, mengatakan Han adalah “suara yang hidup dan penulis dengan kemanusiaan yang luar biasa. Karyanya adalah anugerah bagi kita semua. Saya sangat gembira dia telah diakui oleh komite Nobel. Pembaca baru akan menemukan—dan diubah oleh—karyanya yang menakjubkan.”

“Ini adalah pencapaian yang sangat pantas” dari Han, kata penulis dan penerjemah Bora Chung, yang kumpulan cerita pendeknya berjudul Cursed Bunny diterjemahkan dari bahasa Korea oleh Anton Hur, masuk dalam daftar pendek untuk penghargaan International Booker tahun 2022. “Kami sangat bangga padanya!” ujar Bora.

Pujian juga datang dari Simon Prosser, direktur penerbitan di Hamish Hamilton—penerbit Han di Inggris. “Dalam tulisan yang sangat indah dan jelas, ia menghadapi pertanyaan menyakitkan tentang apa artinya menjadi manusia – menjadi spesies yang mampu melakukan tindakan kejam dan cinta secara bersamaan. Ia melihat, berpikir, dan merasakan sesuatu yang tidak dimiliki penulis lain,” ujar Simon.

Sedangkan menurut novelis Eimear McBride, Han adalah salah satu penulis terhebat yang masih hidup. “Ia adalah suara bagi kaum perempuan, bagi kebenaran dan, yang terpenting, bagi kekuatan sastra. Ini adalah kemenangan yang sangat pantas,” lanjut Eimear.

Kini, Han telah menerbitkan karya-karyanya dalam lebih dari 30 bahasa, dan saat ini ia mengajar penulisan kreatif di Seoul Institute of the Arts sembari menulis novel keenamnya.[T]

NB: artikel ini diolah dari berbagai sumber

Jon Fosse, Nobel Sastra, dan Karya Minimalismenya
Perempuan Peraih Nobel Sastra itu adalah Annie Ernaux
Hadiah Nobel Sastra 2021, Apresiasi Terhadap Sastra Kontekstual
Tags: apresiasi sastraHan KangKorea SelatanNobelNobel Sastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tukad Itu Bernama Sekumpul, Sebuah Alasan untuk Kembali

Next Post

Pembaharuan Hukum Agraria di Era 4.0, Mengantisipasi Perkembangan Ekonomi Globalisasi

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
0
Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

Read moreDetails

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
0
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

Read moreDetails

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
0
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

Read moreDetails

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails
Next Post
Perjanjian Pengalihan dan Komersialisasi Paten dalam Teori dan Praktek

Pembaharuan Hukum Agraria di Era 4.0, Mengantisipasi Perkembangan Ekonomi Globalisasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co