13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Han Kang, Penulis Perempuan Korea Selatan, Peraih Nobel Sastra 2024

Jaswanto by Jaswanto
October 11, 2024
in Persona
Han Kang, Penulis Perempuan Korea Selatan, Peraih Nobel Sastra 2024

Han Kang | Foto: EL PAÍS

“SAYA sempat berbicara dengan Han Kang lewat telepon,” kata sekretaris Swedish Academy Mats Malm setelah mengumumkan pemenang Nobel Sastra 2024, sebagaimana dikutip The Guardian, Jumat (10/10/2024). “Dia tampak menjalani hari yang biasa saja—baru saja selesai makan malam dengan putranya,” lanjutnya.

Hadiah Nobel dalam bidang sastra telah diberikan kepada novelis Korea Selatan berusia 53 tahun bernama Han Kang, sebagaimana banyak diberitakan di media massa di internet, atas “prosa puitisnya yang intens” yang menghadapi trauma historis dan mengungkap kerapuhan kehidupan manusia yang kompeks. Karya-karyanya meliputi The Vegetarian, The White Book, Human Acts, dan Greek Lessons.

Tetapi, bisa jadi, Han dikenal luas berkat novel pertamanya yang berjudul The Vegetarian (2007), yang memenangkan Man Booker International Prize—walaupun ia memulai debut sastranya pada tahun 1993, dengan serangkaian lima puisi yang diterbitkan di majalah Korea Literature and Society.

Pada 1994, ia memenangkan kontes sastra musim semi Seoul Shinmun dengan sebuah cerita, Red Anchor. Dan tahun berikutnya Han menerbitkan kumpulan cerita pendek pertamanya, Love of Yeosu. Pada tahun 1998, ia berpartisipasi dalam Program Penulisan Internasional Universitas Iowa selama tiga bulan, yang didukung oleh Dewan Kesenian Korea.

Han lahir di Gwangju, sebuah kota di barat daya Korea Selatan, pada tahun 1970. Saat berusia 10 tahun, keluarganya pindah ke daerah Suyu-dong di Seoul. Ia belajar sastra Korea di Universitas Yonsei di ibu kota tersebut.

Tapi ia memang lahir dari “rahim” sastra. Ayahnya, Han Seung-won, merupakan novelis Korea Selatan yang sering menulis tentang orang-orang yang berjuang melawan nasib di Jangheung—sebuah daerah yang terletak di lepas pantai selatan semenanjung Korea, tanah kelahirannya.

Sama seperti ayahnya, Han Kang menganggap menulis tentang pembantaian adalah sebuah perjuangan. “Saya adalah orang yang merasakan sakit saat melemparkan daging ke api,” katanya.

Han, sebagaimana Claire Armitstead mendeskripsikannya, adalah wanita yang sangat bijaksana dan karismatik, yang menulis sendiri bagian akhir Human Acts untuk menjelaskan mengapa ia merasa terdorong untuk menceritakan kisah tersebut. “Saya berusia sembilan tahun pada saat Pemberontakan Gwangju,” begitulah awalnya.

Gwangju, sebuah kota di bagian selatan negara itu, telah menjadi rumahnya hingga empat bulan sebelum pembantaian, ketika ayahnya berhenti dari pekerjaannya sebagai guru dan memutuskan memilih menjadi penulis penuh waktu dan memindahkan keluarganya ke ibu kota Seoul.

Dia menemukan pembantaian itu saat berusia 12 tahun. Di rak paling atas—rak buku keluarganya—tersimpan album kenangan yang diedarkan secara rahasia, yang berisi foto-foto yang diambil oleh jurnalis asing. Album itu ditumpuk dengan bagian punggung menempel ke dinding untuk mencegah Han dan saudara-saudaranya menemukannya. Penemuan yang mengejutkan itu mengubah trauma publik menjadi trauma yang sangat pribadi.

“Saya ingat momen ketika pandangan saya tertuju pada wajah seorang wanita muda yang dimutilasi, wajahnya diiris dengan bayonet,” tulis Han. “Secara diam-diam, dan tanpa keributan, sesuatu yang lembut di dalam diri saya hancur. Sesuatu yang, sampai saat itu, bahkan tidak saya sadari keberadaannya.”

Claire menuilis, tiga dekade kemudian, ia menyadari bahwa foto-foto itu telah melemparkannya ke dalam krisis eksistensial yang akan terus menghantuinya. “Jika saya berusia 20 tahun saat melihat foto-foto itu, mungkin saya bisa memfokuskan kebencian saya pada rezim militer, tetapi saya masih sangat muda dan saya merasa manusia itu menakutkan—dan saya salah satunya,” kata Han sebagaimana Claire mengutipnya.

Pemberontakan Gwangju—dan rentetan peristiwanya—adalah episode yang jarang diceritakan di Korea Selatan. Dan peristiwa tersebut membuat Han merasa bersalah karena selamat, yang ia bagikan kepada seluruh keluarganya, ditambah dengan “dua teka-teki yang tidak terpecahkan: bagaimana manusia bisa begitu kejam dan bengis, dan apa yang dapat dilakukan orang untuk melawan kekerasan ekstrem seperti itu?”

Alih-alih mencari jawaban dari orang lain, ia beralih ke buku, tulis Claire lagi. “Saat remaja, saya dihinggapi pertanyaan-pertanyaan umum: mengapa sakit, mengapa mati? Saya pikir buku menyimpan jawabannya, tetapi anehnya saya menyadari bahwa buku hanya berisi pertanyaan. Penulisnya lemah dan rentan seperti kita,” ujar Han.

Saat berusia 14 tahun, ia tahu bahwa ia ingin menjadi seorang penulis—seperti ayahnya. Maka ia menempuh pendidikan dari sekolah ke universitas, di mana ia belajar sastra Korea kontemporer. Saat itu, kediktatoran yang bertanggung jawab atas pembantaian tersebut telah digulingkan, dan Korea Selatan telah menjadi negara demokrasi. “Saya sangat beruntung menjadi bagian dari generasi bebas—generasi yang tidak harus berfokus pada isu-isu sosial,” katanya.

Kini, Han menjadi penulis perempuan pertama yang meraih Novel Sastra sejak 2022, saat penghargaan tersebut diberikan kepada penulis Prancis, Annie Ernaux. Dan ia juga menjadi penerima Nobel perempuan pertama tahun ini.

Euforia, Pujian-Pujian

“Saya sangat terkejut dan benar-benar merasa terhormat,” kata Han, dalam wawancara telepon yang dibagikan oleh Swedish Academy—yang juga banyak dikutip oleh media. “Saya tumbuh besar dengan sastra Korea, yang sangat dekat dengan saya. Jadi saya harap berita ini baik bagi para pembaca sastra Korea, dan teman-teman saya serta para penulis,” Han melanjutkan.

Menurut laporan beberapa media di Korea Selatan, saat Han ditetapkan sebagai pemenang hadiah Nobel Sastra, beberapa toko buku daring ditutup karena lonjakan pengunjung, dan beberapa sidang dengar pendapat pemerintah bahkan dihentikan sementara karena para pejabat bersorak gembira atas berita tersebut.

Dalam sebuah wawancara, Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol mengucapkan selamat kepada Han. “Anda mengubah luka menyakitkan dari sejarah modern kita menjadi karya sastra yang hebat,” katanya. “Saya menyampaikan rasa hormat kepada Anda karena telah mengangkat nilai sastra Korea.”

Novel, novela, esai, dan kumpulan cerita pendek karya Han telah mengeksplorasi berbagai tema patriarki, kekerasan, kesedihan, dan kemanusiaan. “Empatinya terhadap kehidupan yang rentan, yang sering kali dialami oleh perempuan, sangat terasa, dan diperkuat oleh prosa yang sarat dengan metafora,” kata Anders Olsson, Ketua Komite Nobel. Menurut Olsson, Han memiliki kesadaran unik akan hubungan antara tubuh dan jiwa, yang hidup dan yang mati, dan dengan gaya puitis dan eksperimental telah menjadi inovator dalam prosa kontemporer.

Selain Olsson, pujian juga datang dari seorang novelis, Deborah Levy. “Saya sudah lama tahu bahwa Han Kang adalah salah satu penulis paling hebat dan terampil yang berkarya di panggung dunia kontemporer,” katanya. “Bagus sekali, Han Kang tersayang, saya sangat senang Anda menjadi penerima Nobel 2024 kami,” sambungnya, sebagaimana dikutip dari The Guardian.

Novelis Max Porter, yang menyunting terjemahan Smith dari The Vegetarian, mengatakan Han adalah “suara yang hidup dan penulis dengan kemanusiaan yang luar biasa. Karyanya adalah anugerah bagi kita semua. Saya sangat gembira dia telah diakui oleh komite Nobel. Pembaca baru akan menemukan—dan diubah oleh—karyanya yang menakjubkan.”

“Ini adalah pencapaian yang sangat pantas” dari Han, kata penulis dan penerjemah Bora Chung, yang kumpulan cerita pendeknya berjudul Cursed Bunny diterjemahkan dari bahasa Korea oleh Anton Hur, masuk dalam daftar pendek untuk penghargaan International Booker tahun 2022. “Kami sangat bangga padanya!” ujar Bora.

Pujian juga datang dari Simon Prosser, direktur penerbitan di Hamish Hamilton—penerbit Han di Inggris. “Dalam tulisan yang sangat indah dan jelas, ia menghadapi pertanyaan menyakitkan tentang apa artinya menjadi manusia – menjadi spesies yang mampu melakukan tindakan kejam dan cinta secara bersamaan. Ia melihat, berpikir, dan merasakan sesuatu yang tidak dimiliki penulis lain,” ujar Simon.

Sedangkan menurut novelis Eimear McBride, Han adalah salah satu penulis terhebat yang masih hidup. “Ia adalah suara bagi kaum perempuan, bagi kebenaran dan, yang terpenting, bagi kekuatan sastra. Ini adalah kemenangan yang sangat pantas,” lanjut Eimear.

Kini, Han telah menerbitkan karya-karyanya dalam lebih dari 30 bahasa, dan saat ini ia mengajar penulisan kreatif di Seoul Institute of the Arts sembari menulis novel keenamnya.[T]

NB: artikel ini diolah dari berbagai sumber

Jon Fosse, Nobel Sastra, dan Karya Minimalismenya
Perempuan Peraih Nobel Sastra itu adalah Annie Ernaux
Hadiah Nobel Sastra 2021, Apresiasi Terhadap Sastra Kontekstual
Tags: apresiasi sastraHan KangKorea SelatanNobelNobel Sastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tukad Itu Bernama Sekumpul, Sebuah Alasan untuk Kembali

Next Post

Pembaharuan Hukum Agraria di Era 4.0, Mengantisipasi Perkembangan Ekonomi Globalisasi

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
0
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

Read moreDetails
Next Post
Perjanjian Pengalihan dan Komersialisasi Paten dalam Teori dan Praktek

Pembaharuan Hukum Agraria di Era 4.0, Mengantisipasi Perkembangan Ekonomi Globalisasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co