14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Han Kang, Penulis Perempuan Korea Selatan, Peraih Nobel Sastra 2024

Jaswanto by Jaswanto
October 11, 2024
in Persona
Han Kang, Penulis Perempuan Korea Selatan, Peraih Nobel Sastra 2024

Han Kang | Foto: EL PAÍS

“SAYA sempat berbicara dengan Han Kang lewat telepon,” kata sekretaris Swedish Academy Mats Malm setelah mengumumkan pemenang Nobel Sastra 2024, sebagaimana dikutip The Guardian, Jumat (10/10/2024). “Dia tampak menjalani hari yang biasa saja—baru saja selesai makan malam dengan putranya,” lanjutnya.

Hadiah Nobel dalam bidang sastra telah diberikan kepada novelis Korea Selatan berusia 53 tahun bernama Han Kang, sebagaimana banyak diberitakan di media massa di internet, atas “prosa puitisnya yang intens” yang menghadapi trauma historis dan mengungkap kerapuhan kehidupan manusia yang kompeks. Karya-karyanya meliputi The Vegetarian, The White Book, Human Acts, dan Greek Lessons.

Tetapi, bisa jadi, Han dikenal luas berkat novel pertamanya yang berjudul The Vegetarian (2007), yang memenangkan Man Booker International Prize—walaupun ia memulai debut sastranya pada tahun 1993, dengan serangkaian lima puisi yang diterbitkan di majalah Korea Literature and Society.

Pada 1994, ia memenangkan kontes sastra musim semi Seoul Shinmun dengan sebuah cerita, Red Anchor. Dan tahun berikutnya Han menerbitkan kumpulan cerita pendek pertamanya, Love of Yeosu. Pada tahun 1998, ia berpartisipasi dalam Program Penulisan Internasional Universitas Iowa selama tiga bulan, yang didukung oleh Dewan Kesenian Korea.

Han lahir di Gwangju, sebuah kota di barat daya Korea Selatan, pada tahun 1970. Saat berusia 10 tahun, keluarganya pindah ke daerah Suyu-dong di Seoul. Ia belajar sastra Korea di Universitas Yonsei di ibu kota tersebut.

Tapi ia memang lahir dari “rahim” sastra. Ayahnya, Han Seung-won, merupakan novelis Korea Selatan yang sering menulis tentang orang-orang yang berjuang melawan nasib di Jangheung—sebuah daerah yang terletak di lepas pantai selatan semenanjung Korea, tanah kelahirannya.

Sama seperti ayahnya, Han Kang menganggap menulis tentang pembantaian adalah sebuah perjuangan. “Saya adalah orang yang merasakan sakit saat melemparkan daging ke api,” katanya.

Han, sebagaimana Claire Armitstead mendeskripsikannya, adalah wanita yang sangat bijaksana dan karismatik, yang menulis sendiri bagian akhir Human Acts untuk menjelaskan mengapa ia merasa terdorong untuk menceritakan kisah tersebut. “Saya berusia sembilan tahun pada saat Pemberontakan Gwangju,” begitulah awalnya.

Gwangju, sebuah kota di bagian selatan negara itu, telah menjadi rumahnya hingga empat bulan sebelum pembantaian, ketika ayahnya berhenti dari pekerjaannya sebagai guru dan memutuskan memilih menjadi penulis penuh waktu dan memindahkan keluarganya ke ibu kota Seoul.

Dia menemukan pembantaian itu saat berusia 12 tahun. Di rak paling atas—rak buku keluarganya—tersimpan album kenangan yang diedarkan secara rahasia, yang berisi foto-foto yang diambil oleh jurnalis asing. Album itu ditumpuk dengan bagian punggung menempel ke dinding untuk mencegah Han dan saudara-saudaranya menemukannya. Penemuan yang mengejutkan itu mengubah trauma publik menjadi trauma yang sangat pribadi.

“Saya ingat momen ketika pandangan saya tertuju pada wajah seorang wanita muda yang dimutilasi, wajahnya diiris dengan bayonet,” tulis Han. “Secara diam-diam, dan tanpa keributan, sesuatu yang lembut di dalam diri saya hancur. Sesuatu yang, sampai saat itu, bahkan tidak saya sadari keberadaannya.”

Claire menuilis, tiga dekade kemudian, ia menyadari bahwa foto-foto itu telah melemparkannya ke dalam krisis eksistensial yang akan terus menghantuinya. “Jika saya berusia 20 tahun saat melihat foto-foto itu, mungkin saya bisa memfokuskan kebencian saya pada rezim militer, tetapi saya masih sangat muda dan saya merasa manusia itu menakutkan—dan saya salah satunya,” kata Han sebagaimana Claire mengutipnya.

Pemberontakan Gwangju—dan rentetan peristiwanya—adalah episode yang jarang diceritakan di Korea Selatan. Dan peristiwa tersebut membuat Han merasa bersalah karena selamat, yang ia bagikan kepada seluruh keluarganya, ditambah dengan “dua teka-teki yang tidak terpecahkan: bagaimana manusia bisa begitu kejam dan bengis, dan apa yang dapat dilakukan orang untuk melawan kekerasan ekstrem seperti itu?”

Alih-alih mencari jawaban dari orang lain, ia beralih ke buku, tulis Claire lagi. “Saat remaja, saya dihinggapi pertanyaan-pertanyaan umum: mengapa sakit, mengapa mati? Saya pikir buku menyimpan jawabannya, tetapi anehnya saya menyadari bahwa buku hanya berisi pertanyaan. Penulisnya lemah dan rentan seperti kita,” ujar Han.

Saat berusia 14 tahun, ia tahu bahwa ia ingin menjadi seorang penulis—seperti ayahnya. Maka ia menempuh pendidikan dari sekolah ke universitas, di mana ia belajar sastra Korea kontemporer. Saat itu, kediktatoran yang bertanggung jawab atas pembantaian tersebut telah digulingkan, dan Korea Selatan telah menjadi negara demokrasi. “Saya sangat beruntung menjadi bagian dari generasi bebas—generasi yang tidak harus berfokus pada isu-isu sosial,” katanya.

Kini, Han menjadi penulis perempuan pertama yang meraih Novel Sastra sejak 2022, saat penghargaan tersebut diberikan kepada penulis Prancis, Annie Ernaux. Dan ia juga menjadi penerima Nobel perempuan pertama tahun ini.

Euforia, Pujian-Pujian

“Saya sangat terkejut dan benar-benar merasa terhormat,” kata Han, dalam wawancara telepon yang dibagikan oleh Swedish Academy—yang juga banyak dikutip oleh media. “Saya tumbuh besar dengan sastra Korea, yang sangat dekat dengan saya. Jadi saya harap berita ini baik bagi para pembaca sastra Korea, dan teman-teman saya serta para penulis,” Han melanjutkan.

Menurut laporan beberapa media di Korea Selatan, saat Han ditetapkan sebagai pemenang hadiah Nobel Sastra, beberapa toko buku daring ditutup karena lonjakan pengunjung, dan beberapa sidang dengar pendapat pemerintah bahkan dihentikan sementara karena para pejabat bersorak gembira atas berita tersebut.

Dalam sebuah wawancara, Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol mengucapkan selamat kepada Han. “Anda mengubah luka menyakitkan dari sejarah modern kita menjadi karya sastra yang hebat,” katanya. “Saya menyampaikan rasa hormat kepada Anda karena telah mengangkat nilai sastra Korea.”

Novel, novela, esai, dan kumpulan cerita pendek karya Han telah mengeksplorasi berbagai tema patriarki, kekerasan, kesedihan, dan kemanusiaan. “Empatinya terhadap kehidupan yang rentan, yang sering kali dialami oleh perempuan, sangat terasa, dan diperkuat oleh prosa yang sarat dengan metafora,” kata Anders Olsson, Ketua Komite Nobel. Menurut Olsson, Han memiliki kesadaran unik akan hubungan antara tubuh dan jiwa, yang hidup dan yang mati, dan dengan gaya puitis dan eksperimental telah menjadi inovator dalam prosa kontemporer.

Selain Olsson, pujian juga datang dari seorang novelis, Deborah Levy. “Saya sudah lama tahu bahwa Han Kang adalah salah satu penulis paling hebat dan terampil yang berkarya di panggung dunia kontemporer,” katanya. “Bagus sekali, Han Kang tersayang, saya sangat senang Anda menjadi penerima Nobel 2024 kami,” sambungnya, sebagaimana dikutip dari The Guardian.

Novelis Max Porter, yang menyunting terjemahan Smith dari The Vegetarian, mengatakan Han adalah “suara yang hidup dan penulis dengan kemanusiaan yang luar biasa. Karyanya adalah anugerah bagi kita semua. Saya sangat gembira dia telah diakui oleh komite Nobel. Pembaca baru akan menemukan—dan diubah oleh—karyanya yang menakjubkan.”

“Ini adalah pencapaian yang sangat pantas” dari Han, kata penulis dan penerjemah Bora Chung, yang kumpulan cerita pendeknya berjudul Cursed Bunny diterjemahkan dari bahasa Korea oleh Anton Hur, masuk dalam daftar pendek untuk penghargaan International Booker tahun 2022. “Kami sangat bangga padanya!” ujar Bora.

Pujian juga datang dari Simon Prosser, direktur penerbitan di Hamish Hamilton—penerbit Han di Inggris. “Dalam tulisan yang sangat indah dan jelas, ia menghadapi pertanyaan menyakitkan tentang apa artinya menjadi manusia – menjadi spesies yang mampu melakukan tindakan kejam dan cinta secara bersamaan. Ia melihat, berpikir, dan merasakan sesuatu yang tidak dimiliki penulis lain,” ujar Simon.

Sedangkan menurut novelis Eimear McBride, Han adalah salah satu penulis terhebat yang masih hidup. “Ia adalah suara bagi kaum perempuan, bagi kebenaran dan, yang terpenting, bagi kekuatan sastra. Ini adalah kemenangan yang sangat pantas,” lanjut Eimear.

Kini, Han telah menerbitkan karya-karyanya dalam lebih dari 30 bahasa, dan saat ini ia mengajar penulisan kreatif di Seoul Institute of the Arts sembari menulis novel keenamnya.[T]

NB: artikel ini diolah dari berbagai sumber

Jon Fosse, Nobel Sastra, dan Karya Minimalismenya
Perempuan Peraih Nobel Sastra itu adalah Annie Ernaux
Hadiah Nobel Sastra 2021, Apresiasi Terhadap Sastra Kontekstual
Tags: apresiasi sastraHan KangKorea SelatanNobelNobel Sastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tukad Itu Bernama Sekumpul, Sebuah Alasan untuk Kembali

Next Post

Pembaharuan Hukum Agraria di Era 4.0, Mengantisipasi Perkembangan Ekonomi Globalisasi

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
0
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

Read moreDetails

Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
March 13, 2026
0
Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

DI dalam stan pameran Kasanga Festival 2026 di Lapangan Puputan Badung, Denpasar, deretan ogoh-ogoh mini berdiri rapi menunggu penilaian. Suasana...

Read moreDetails

Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

RASA senang dan bangga tampak dalam wajahnya. Ketika namanya disebut untuk menerima penghargaan Bali Kerthi Nugraha Mahottama, kakinya melangkah dengan...

Read moreDetails

Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

by Made Adnyana Ole
February 28, 2026
0
Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

SUDAH sejak lama Wahyu Ardi dikenal sebagai sutradara dan penulis naskah drama modern, baik berbahasa Bali maupun bahasa Indonesia. Lalu,...

Read moreDetails

Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

ANA seorang siswi yang tidak disebutkan secara jelas sekolahanya tidak menyukai bahasa Bali, bahkan tidak pernah memakai Bahasa itu dalam...

Read moreDetails

I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

I Made Sunaryana terpilih sebagai Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali dalam ajang Bulan Bahasa Bali VIII. Itu artinya, karya...

Read moreDetails

Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
0
Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

Sakewala, ada ané makleteg di tangkahné. “Bagus Sutedja sané nuwé panjak akéh, tur sugih, prasida  kamatiang, apa buin kulawargan tiangé, rumasuk Ngurah, pasti sing...

Read moreDetails
Next Post
Perjanjian Pengalihan dan Komersialisasi Paten dalam Teori dan Praktek

Pembaharuan Hukum Agraria di Era 4.0, Mengantisipasi Perkembangan Ekonomi Globalisasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co