2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

Laurensia Junita Della by Laurensia Junita Della
April 19, 2026
in Tualang
Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul | Foto: Dok. penulis

“Tanpa seni, dunia jadi hambar.”

Saya tidak yakin dari mana saya mendapatkan kata-kata ini, tapi saya setuju.

Sebagai orang yang tak bisa hidup tanpa sentuhan seni, saya ingin membuat hidup ini punya aroma yang nyeni, bahkan dalam tugas kuliah.

Akhir 2025, angin kuliah menerbangkan saya ke Dusun Tengger di Gunung Kidul, karena saya harus menuliskan sesuatu tentang ”pedesaan.”

Dan pas sekali. Di sana, saya menemukan praktik kesenian yang menyatu dengan kehidupan sehari-hari, bahkan dalam kehidupan spiritual masyarakat setempat.

Di Dusun Tengger, seni bukanlah pajangan atau sekedar pertunjukan di panggung. Seni menjadi cara hidup, cermin jiwa, dan cara bertahan. Tak jauh-jauh, seni hadir di pendopo rumah, dan di malam yang penuh rasa kebersamaan.

Gagasan ini mengingatkan saya pada gagasan John Dewey yang melihat seni sebagai bagian dari keseharian manusia. Jadi, seni bukan benda eksklusif yang hanya bisa ditemui di tempat-tempat khusus. Apa yang ada di Dusun Tengger seolah menghidupkan gagasan ini.

Dalam kunjungan singkat saya ke Dusun Tengger, saya melihat bagaimana praktik kesenian setempat, khususnya macapatan, menjadi media penting dalam mengolah spiritualitas, melestarikan warisan, sekaligus mempertahankan identitas sosial warga yang masih menghayati kepercayaan leluhur.

Dusun Tengger dan Komunitas PPN

Dusun Tengger terletak di Kecamatan Rongkop, Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta. Letaknya tidak jauh dari Jalur Lintas Selatan (JLS), namun cukup tersembunyi dari lalu lintas jalan besar. Suasananya tenang, asri, dan terasa jauh dari hiruk-pikuk. Keramahan orang-orang di sana juga membuat saya jatuh hati dengan tempat ini.

Foto: Dok. penulis

Di samping itu, Dusun Tengger punya dinamika kepercayaan yang khas. Sebagian warganya masih setia menghayati ajaran leluhur. Mereka terafiliasi dengan komunitas Palang Putih Nusantara (PPN) “Kejawen Urip Sejati” yang berpusat di Yogyakarta. Anggota komunitas ini didominasi para sesepuh dusun yang sebagian besar berusia di atas lima puluh tahun.

Di tengah kuatnya arus budaya, tantangan regenerasi, dan tekanan identitas dari luar, anggota komunitas PPN Ranting Rongkop punya cara tersendiri untuk lebih mendalami serta mempertahankan keyakinan mereka. Mereka mempraktikkan kesenian untuk merawat nilai, ingatan, dan identitas komunitas.

Macapatan di Malam Senin

Setiap malam Senin, anggota komunitas PPN rutin berkumpul di salah satu rumah pendopo untuk menyanyikan tembang macapat. Mereka duduk melingkar, berbincang ringan, sesekali menyeruput teh hangat, lalu bersama-sama menyanyikan tembang macapat dengan penuh penghayatan.

Bagi yang belum familiar, macapat adalah salah satu cabang seni suara Jawa yang menyampaikan wejangan atau pesan-pesan luhur. Tembang Macapat mengandung pesan-pesan kehidupan yang mendalam. Kedalaman itu membuatnya menjadi jembatan spiritual bagi anggota komunitas.

Umumnya, tembang Macapat berisi pesan luhur tentang siklus hidup manusia. Salah satunya adalah tembang Maskumambang. Tembang ini menceritakan keadaan manusia ketika masih di dalam kandungan. Selain itu, tembang ini juga seolah menasihati kita akan sikap-sikap yang dapat diambil ketika berhadapan dengan orang yang lebih tua.

Tembang Maskumambang berpesan bahwa manusia perlu lebih berhati-hati dalam memilih panutan hidup dan mencontoh orang yang lebih tua. Karena usia yang lebih tua tak selalu menjamin kematangan jiwa dan kebijaksanaan. Itulah yang dikatakan Pak Sularto selaku ketua PPN Ranting Rongkop ketika berbincang ringan dengan saya.

Pesan-pesan seperti inilah yang terus dihidupkan melalui kegiatan macapatan.

Kegiatan macapatan biasanya dimulai pukul tujuh malam. Selama mengikuti kegiatan ini, saya merasakan kehangatan dan kebersamaan yang kuat. Keramahan dan keterbukaan semua orang yang hadir sungguh menyelamatkan saya dari perasaan kaku dan canggung selama mengikuti rangkaian kegiatan. Pak Sularto juga banyak membantu saya dalam menafsirkan pesan-pesan dalam tembang yang dinyanyikan.

Seni sebagai Jembatan Lahir dan Batin

Masih banyak yang perlu dibahas dalam tulisan ini. Pertama, mari kita beralih ke perspektif anggota komunitas PPN Ranting Rongkop tentang bagaimana mereka memaknai “seni.”

“Kalo menurut konsep sembilan bidang kebudayaan menurut Rama Wisnu atau PPN, seni itu ada di tengah-tengah. Ada pribadi, sosial, ekonomi, dan politik. Ada empat itu, di tengah ada seni. Baru nanti ada ilmu pengetahuan, mistik, ketuhanan, dan yang lain yang sifatnya spiritual. Jadi di sana seni niku ngge pembanding seimbang, jembatan antara lahir dan batin,” jelas Pak Sularto.

Artinya, seni memiliki kedudukan yang penting bagi komunitas PPN di Dusun Tengger. Ia berperan sebagai jembatan yang menghubungkan spiritualitas dengan kehidupan sehari-hari anggota komunitas.

Kemudian, Pak Sularto juga menambahkan, “Sebenarnya seni itu bukan bagian dari ekspresi spiritual. Tapi bagi kami, itu bagian dari cara kita menjiwai, cara olah rasa. Jadi, olah rasa itu juga bisa dilakukan dengan seni tari, karawitan, seni lukis.”

Kalimat itu menyentuh poin yang paling penting di sini. Bagi anggota PPN di Dusun Tengger, kesenian menjadi salah satu jalan yang paling banyak diambil untuk mematangkan kehidupan spiritual mereka. Dengan mempraktikkan seni, para anggota komunitas mengasah kebijaksanaan dan kepekaan batin mereka.

Tembang Macapat mengajarkan pitutur-pitutur luhur yang penting bagi kehidupan mereka. Dengan tembang Macapat, anggota komunitas mendapatkan panduan yang kaya untuk mengasah kebijaksanaan mereka. Selain itu, cara menyanyikan tembang Macapat yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan perhatian sangat membantu dalam mengasah rasa dan kepekaan batin.

Macapat dan Identitas Penghayat

Di dusun Tengger, seni juga berperan dalam menjaga kesinambungan budaya dan komunitas.

Bagi komunitas PPN di Dusun Tengger, kegiatan macapatan yang rutin dilakukan setiap malam Senin menjadi momen dimana para anggota saling memperdalam kebijaksanaan, berbagi pengalaman, dan mempertahankan nilai-nilai.

Tak hanya itu. Di tengah tantangan regenerasi anggota, kegiatan ini menjadi salah satu cara untuk menjaga keberlanjutan identitas mereka sebagai seorang penghayat kepercayaan leluhur. Identitas tidak mereka pertahankan melalui slogan yang muluk-muluk, tapi melalui praktik yang rutin dijalankan dan dihayati.

Sehingga, melalui kunjungan singkat ini, saya sadar bahwa masyarakat penghayat di Dusun Tengger tidaklah pasif ketika menerima benturan-benturan yang ada.

Saya diperlihatkan bagaimana ketangguhan anggota komunitas PPN di Dusun Tengger yang bersikap aktif dalam mengelola perbedaan dan dinamika sosial yang ada.

Ini sekaligus menunjukkan bahwa identitas bukan hanya label semata. Tapi, identitas menjadi bagian dari dinamika sosial-psikologis yang dapat terus dinegosiasikan. [T]

Tags: Dusun TenggerGunung KidulSeniYogyakarta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

Next Post

Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

Laurensia Junita Della

Laurensia Junita Della

Tinggal di Kedawung, Karanganyar, Jawa Tengah. Instagram @laurensia0222 @junii.gadogado

Related Posts

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails
Next Post
Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co