12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

Laurensia Junita Della by Laurensia Junita Della
April 19, 2026
in Tualang
Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul | Foto: Dok. penulis

“Tanpa seni, dunia jadi hambar.”

Saya tidak yakin dari mana saya mendapatkan kata-kata ini, tapi saya setuju.

Sebagai orang yang tak bisa hidup tanpa sentuhan seni, saya ingin membuat hidup ini punya aroma yang nyeni, bahkan dalam tugas kuliah.

Akhir 2025, angin kuliah menerbangkan saya ke Dusun Tengger di Gunung Kidul, karena saya harus menuliskan sesuatu tentang ”pedesaan.”

Dan pas sekali. Di sana, saya menemukan praktik kesenian yang menyatu dengan kehidupan sehari-hari, bahkan dalam kehidupan spiritual masyarakat setempat.

Di Dusun Tengger, seni bukanlah pajangan atau sekedar pertunjukan di panggung. Seni menjadi cara hidup, cermin jiwa, dan cara bertahan. Tak jauh-jauh, seni hadir di pendopo rumah, dan di malam yang penuh rasa kebersamaan.

Gagasan ini mengingatkan saya pada gagasan John Dewey yang melihat seni sebagai bagian dari keseharian manusia. Jadi, seni bukan benda eksklusif yang hanya bisa ditemui di tempat-tempat khusus. Apa yang ada di Dusun Tengger seolah menghidupkan gagasan ini.

Dalam kunjungan singkat saya ke Dusun Tengger, saya melihat bagaimana praktik kesenian setempat, khususnya macapatan, menjadi media penting dalam mengolah spiritualitas, melestarikan warisan, sekaligus mempertahankan identitas sosial warga yang masih menghayati kepercayaan leluhur.

Dusun Tengger dan Komunitas PPN

Dusun Tengger terletak di Kecamatan Rongkop, Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta. Letaknya tidak jauh dari Jalur Lintas Selatan (JLS), namun cukup tersembunyi dari lalu lintas jalan besar. Suasananya tenang, asri, dan terasa jauh dari hiruk-pikuk. Keramahan orang-orang di sana juga membuat saya jatuh hati dengan tempat ini.

Foto: Dok. penulis

Di samping itu, Dusun Tengger punya dinamika kepercayaan yang khas. Sebagian warganya masih setia menghayati ajaran leluhur. Mereka terafiliasi dengan komunitas Palang Putih Nusantara (PPN) “Kejawen Urip Sejati” yang berpusat di Yogyakarta. Anggota komunitas ini didominasi para sesepuh dusun yang sebagian besar berusia di atas lima puluh tahun.

Di tengah kuatnya arus budaya, tantangan regenerasi, dan tekanan identitas dari luar, anggota komunitas PPN Ranting Rongkop punya cara tersendiri untuk lebih mendalami serta mempertahankan keyakinan mereka. Mereka mempraktikkan kesenian untuk merawat nilai, ingatan, dan identitas komunitas.

Macapatan di Malam Senin

Setiap malam Senin, anggota komunitas PPN rutin berkumpul di salah satu rumah pendopo untuk menyanyikan tembang macapat. Mereka duduk melingkar, berbincang ringan, sesekali menyeruput teh hangat, lalu bersama-sama menyanyikan tembang macapat dengan penuh penghayatan.

Bagi yang belum familiar, macapat adalah salah satu cabang seni suara Jawa yang menyampaikan wejangan atau pesan-pesan luhur. Tembang Macapat mengandung pesan-pesan kehidupan yang mendalam. Kedalaman itu membuatnya menjadi jembatan spiritual bagi anggota komunitas.

Umumnya, tembang Macapat berisi pesan luhur tentang siklus hidup manusia. Salah satunya adalah tembang Maskumambang. Tembang ini menceritakan keadaan manusia ketika masih di dalam kandungan. Selain itu, tembang ini juga seolah menasihati kita akan sikap-sikap yang dapat diambil ketika berhadapan dengan orang yang lebih tua.

Tembang Maskumambang berpesan bahwa manusia perlu lebih berhati-hati dalam memilih panutan hidup dan mencontoh orang yang lebih tua. Karena usia yang lebih tua tak selalu menjamin kematangan jiwa dan kebijaksanaan. Itulah yang dikatakan Pak Sularto selaku ketua PPN Ranting Rongkop ketika berbincang ringan dengan saya.

Pesan-pesan seperti inilah yang terus dihidupkan melalui kegiatan macapatan.

Kegiatan macapatan biasanya dimulai pukul tujuh malam. Selama mengikuti kegiatan ini, saya merasakan kehangatan dan kebersamaan yang kuat. Keramahan dan keterbukaan semua orang yang hadir sungguh menyelamatkan saya dari perasaan kaku dan canggung selama mengikuti rangkaian kegiatan. Pak Sularto juga banyak membantu saya dalam menafsirkan pesan-pesan dalam tembang yang dinyanyikan.

Seni sebagai Jembatan Lahir dan Batin

Masih banyak yang perlu dibahas dalam tulisan ini. Pertama, mari kita beralih ke perspektif anggota komunitas PPN Ranting Rongkop tentang bagaimana mereka memaknai “seni.”

“Kalo menurut konsep sembilan bidang kebudayaan menurut Rama Wisnu atau PPN, seni itu ada di tengah-tengah. Ada pribadi, sosial, ekonomi, dan politik. Ada empat itu, di tengah ada seni. Baru nanti ada ilmu pengetahuan, mistik, ketuhanan, dan yang lain yang sifatnya spiritual. Jadi di sana seni niku ngge pembanding seimbang, jembatan antara lahir dan batin,” jelas Pak Sularto.

Artinya, seni memiliki kedudukan yang penting bagi komunitas PPN di Dusun Tengger. Ia berperan sebagai jembatan yang menghubungkan spiritualitas dengan kehidupan sehari-hari anggota komunitas.

Kemudian, Pak Sularto juga menambahkan, “Sebenarnya seni itu bukan bagian dari ekspresi spiritual. Tapi bagi kami, itu bagian dari cara kita menjiwai, cara olah rasa. Jadi, olah rasa itu juga bisa dilakukan dengan seni tari, karawitan, seni lukis.”

Kalimat itu menyentuh poin yang paling penting di sini. Bagi anggota PPN di Dusun Tengger, kesenian menjadi salah satu jalan yang paling banyak diambil untuk mematangkan kehidupan spiritual mereka. Dengan mempraktikkan seni, para anggota komunitas mengasah kebijaksanaan dan kepekaan batin mereka.

Tembang Macapat mengajarkan pitutur-pitutur luhur yang penting bagi kehidupan mereka. Dengan tembang Macapat, anggota komunitas mendapatkan panduan yang kaya untuk mengasah kebijaksanaan mereka. Selain itu, cara menyanyikan tembang Macapat yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan perhatian sangat membantu dalam mengasah rasa dan kepekaan batin.

Macapat dan Identitas Penghayat

Di dusun Tengger, seni juga berperan dalam menjaga kesinambungan budaya dan komunitas.

Bagi komunitas PPN di Dusun Tengger, kegiatan macapatan yang rutin dilakukan setiap malam Senin menjadi momen dimana para anggota saling memperdalam kebijaksanaan, berbagi pengalaman, dan mempertahankan nilai-nilai.

Tak hanya itu. Di tengah tantangan regenerasi anggota, kegiatan ini menjadi salah satu cara untuk menjaga keberlanjutan identitas mereka sebagai seorang penghayat kepercayaan leluhur. Identitas tidak mereka pertahankan melalui slogan yang muluk-muluk, tapi melalui praktik yang rutin dijalankan dan dihayati.

Sehingga, melalui kunjungan singkat ini, saya sadar bahwa masyarakat penghayat di Dusun Tengger tidaklah pasif ketika menerima benturan-benturan yang ada.

Saya diperlihatkan bagaimana ketangguhan anggota komunitas PPN di Dusun Tengger yang bersikap aktif dalam mengelola perbedaan dan dinamika sosial yang ada.

Ini sekaligus menunjukkan bahwa identitas bukan hanya label semata. Tapi, identitas menjadi bagian dari dinamika sosial-psikologis yang dapat terus dinegosiasikan. [T]

Tags: Dusun TenggerGunung KidulSeniYogyakarta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

Next Post

Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

Laurensia Junita Della

Laurensia Junita Della

Tinggal di Kedawung, Karanganyar, Jawa Tengah. Instagram @laurensia0222 @junii.gadogado

Related Posts

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
0
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

Read moreDetails

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
0
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

Read moreDetails
Next Post
Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co