31 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

Laurensia Junita Della by Laurensia Junita Della
April 19, 2026
in Tualang
Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul | Foto: Dok. penulis

“Tanpa seni, dunia jadi hambar.”

Saya tidak yakin dari mana saya mendapatkan kata-kata ini, tapi saya setuju.

Sebagai orang yang tak bisa hidup tanpa sentuhan seni, saya ingin membuat hidup ini punya aroma yang nyeni, bahkan dalam tugas kuliah.

Akhir 2025, angin kuliah menerbangkan saya ke Dusun Tengger di Gunung Kidul, karena saya harus menuliskan sesuatu tentang ”pedesaan.”

Dan pas sekali. Di sana, saya menemukan praktik kesenian yang menyatu dengan kehidupan sehari-hari, bahkan dalam kehidupan spiritual masyarakat setempat.

Di Dusun Tengger, seni bukanlah pajangan atau sekedar pertunjukan di panggung. Seni menjadi cara hidup, cermin jiwa, dan cara bertahan. Tak jauh-jauh, seni hadir di pendopo rumah, dan di malam yang penuh rasa kebersamaan.

Gagasan ini mengingatkan saya pada gagasan John Dewey yang melihat seni sebagai bagian dari keseharian manusia. Jadi, seni bukan benda eksklusif yang hanya bisa ditemui di tempat-tempat khusus. Apa yang ada di Dusun Tengger seolah menghidupkan gagasan ini.

Dalam kunjungan singkat saya ke Dusun Tengger, saya melihat bagaimana praktik kesenian setempat, khususnya macapatan, menjadi media penting dalam mengolah spiritualitas, melestarikan warisan, sekaligus mempertahankan identitas sosial warga yang masih menghayati kepercayaan leluhur.

Dusun Tengger dan Komunitas PPN

Dusun Tengger terletak di Kecamatan Rongkop, Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta. Letaknya tidak jauh dari Jalur Lintas Selatan (JLS), namun cukup tersembunyi dari lalu lintas jalan besar. Suasananya tenang, asri, dan terasa jauh dari hiruk-pikuk. Keramahan orang-orang di sana juga membuat saya jatuh hati dengan tempat ini.

Foto: Dok. penulis

Di samping itu, Dusun Tengger punya dinamika kepercayaan yang khas. Sebagian warganya masih setia menghayati ajaran leluhur. Mereka terafiliasi dengan komunitas Palang Putih Nusantara (PPN) “Kejawen Urip Sejati” yang berpusat di Yogyakarta. Anggota komunitas ini didominasi para sesepuh dusun yang sebagian besar berusia di atas lima puluh tahun.

Di tengah kuatnya arus budaya, tantangan regenerasi, dan tekanan identitas dari luar, anggota komunitas PPN Ranting Rongkop punya cara tersendiri untuk lebih mendalami serta mempertahankan keyakinan mereka. Mereka mempraktikkan kesenian untuk merawat nilai, ingatan, dan identitas komunitas.

Macapatan di Malam Senin

Setiap malam Senin, anggota komunitas PPN rutin berkumpul di salah satu rumah pendopo untuk menyanyikan tembang macapat. Mereka duduk melingkar, berbincang ringan, sesekali menyeruput teh hangat, lalu bersama-sama menyanyikan tembang macapat dengan penuh penghayatan.

Bagi yang belum familiar, macapat adalah salah satu cabang seni suara Jawa yang menyampaikan wejangan atau pesan-pesan luhur. Tembang Macapat mengandung pesan-pesan kehidupan yang mendalam. Kedalaman itu membuatnya menjadi jembatan spiritual bagi anggota komunitas.

Umumnya, tembang Macapat berisi pesan luhur tentang siklus hidup manusia. Salah satunya adalah tembang Maskumambang. Tembang ini menceritakan keadaan manusia ketika masih di dalam kandungan. Selain itu, tembang ini juga seolah menasihati kita akan sikap-sikap yang dapat diambil ketika berhadapan dengan orang yang lebih tua.

Tembang Maskumambang berpesan bahwa manusia perlu lebih berhati-hati dalam memilih panutan hidup dan mencontoh orang yang lebih tua. Karena usia yang lebih tua tak selalu menjamin kematangan jiwa dan kebijaksanaan. Itulah yang dikatakan Pak Sularto selaku ketua PPN Ranting Rongkop ketika berbincang ringan dengan saya.

Pesan-pesan seperti inilah yang terus dihidupkan melalui kegiatan macapatan.

Kegiatan macapatan biasanya dimulai pukul tujuh malam. Selama mengikuti kegiatan ini, saya merasakan kehangatan dan kebersamaan yang kuat. Keramahan dan keterbukaan semua orang yang hadir sungguh menyelamatkan saya dari perasaan kaku dan canggung selama mengikuti rangkaian kegiatan. Pak Sularto juga banyak membantu saya dalam menafsirkan pesan-pesan dalam tembang yang dinyanyikan.

Seni sebagai Jembatan Lahir dan Batin

Masih banyak yang perlu dibahas dalam tulisan ini. Pertama, mari kita beralih ke perspektif anggota komunitas PPN Ranting Rongkop tentang bagaimana mereka memaknai “seni.”

“Kalo menurut konsep sembilan bidang kebudayaan menurut Rama Wisnu atau PPN, seni itu ada di tengah-tengah. Ada pribadi, sosial, ekonomi, dan politik. Ada empat itu, di tengah ada seni. Baru nanti ada ilmu pengetahuan, mistik, ketuhanan, dan yang lain yang sifatnya spiritual. Jadi di sana seni niku ngge pembanding seimbang, jembatan antara lahir dan batin,” jelas Pak Sularto.

Artinya, seni memiliki kedudukan yang penting bagi komunitas PPN di Dusun Tengger. Ia berperan sebagai jembatan yang menghubungkan spiritualitas dengan kehidupan sehari-hari anggota komunitas.

Kemudian, Pak Sularto juga menambahkan, “Sebenarnya seni itu bukan bagian dari ekspresi spiritual. Tapi bagi kami, itu bagian dari cara kita menjiwai, cara olah rasa. Jadi, olah rasa itu juga bisa dilakukan dengan seni tari, karawitan, seni lukis.”

Kalimat itu menyentuh poin yang paling penting di sini. Bagi anggota PPN di Dusun Tengger, kesenian menjadi salah satu jalan yang paling banyak diambil untuk mematangkan kehidupan spiritual mereka. Dengan mempraktikkan seni, para anggota komunitas mengasah kebijaksanaan dan kepekaan batin mereka.

Tembang Macapat mengajarkan pitutur-pitutur luhur yang penting bagi kehidupan mereka. Dengan tembang Macapat, anggota komunitas mendapatkan panduan yang kaya untuk mengasah kebijaksanaan mereka. Selain itu, cara menyanyikan tembang Macapat yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan perhatian sangat membantu dalam mengasah rasa dan kepekaan batin.

Macapat dan Identitas Penghayat

Di dusun Tengger, seni juga berperan dalam menjaga kesinambungan budaya dan komunitas.

Bagi komunitas PPN di Dusun Tengger, kegiatan macapatan yang rutin dilakukan setiap malam Senin menjadi momen dimana para anggota saling memperdalam kebijaksanaan, berbagi pengalaman, dan mempertahankan nilai-nilai.

Tak hanya itu. Di tengah tantangan regenerasi anggota, kegiatan ini menjadi salah satu cara untuk menjaga keberlanjutan identitas mereka sebagai seorang penghayat kepercayaan leluhur. Identitas tidak mereka pertahankan melalui slogan yang muluk-muluk, tapi melalui praktik yang rutin dijalankan dan dihayati.

Sehingga, melalui kunjungan singkat ini, saya sadar bahwa masyarakat penghayat di Dusun Tengger tidaklah pasif ketika menerima benturan-benturan yang ada.

Saya diperlihatkan bagaimana ketangguhan anggota komunitas PPN di Dusun Tengger yang bersikap aktif dalam mengelola perbedaan dan dinamika sosial yang ada.

Ini sekaligus menunjukkan bahwa identitas bukan hanya label semata. Tapi, identitas menjadi bagian dari dinamika sosial-psikologis yang dapat terus dinegosiasikan. [T]

Tags: Dusun TenggerGunung KidulSeniYogyakarta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

Next Post

Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

Laurensia Junita Della

Laurensia Junita Della

Tinggal di Kedawung, Karanganyar, Jawa Tengah. Instagram @laurensia0222 @junii.gadogado

Related Posts

Mereka Menunggu di Setia Darma 

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

Read moreDetails

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

by I Nyoman Tingkat
May 27, 2026
0
Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg,...

Read moreDetails

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

by Chusmeru
May 25, 2026
0
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa...

Read moreDetails

Kota Tua Tak Pernah Mati

by I Nyoman Tingkat
May 24, 2026
0
Kota Tua Tak Pernah Mati

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se- Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Jumat Paing...

Read moreDetails

Oleh-Oleh dari Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 23, 2026
0
Oleh-Oleh dari Baduy Luar

MENGIKUTI rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan Study Tiru ke Baduy Luar, Provinsi Banten, Jumat Paing Gumbreg 15 Mei 2026,...

Read moreDetails

Berguru ke Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 21, 2026
0
Berguru ke Baduy Luar

SETELAH rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan persembahyangan di Pura Aditya Jaya Rawangun Jakarta Timur pada Kamis Umanis Gumbreg, 14...

Read moreDetails

BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

by Julio Saputra
May 20, 2026
0
BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

Roses are red Violets are blue 106,20 KM? WTF is wrong with you? SEBUAH papan merah bertuliskan kata-kata di atas...

Read moreDetails

Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

by Chusmeru
April 30, 2026
0
Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

NAMA Kabupaten Banyumas selalu identik dengan bahasa “Ngapak” yang sering dijadikan lelucon dalam film dan komedi. Banyumas lantas seolah mendapat...

Read moreDetails

Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

by I Nyoman Tingkat
April 19, 2026
0
Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

JUMAT, 17 April 2026, sebanyak 67 siswa,  guru, dan tenaga kependidikan SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) melaksanakan pembelajaran di...

Read moreDetails

Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
April 14, 2026
0
Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

HARI itu adalah hari yang telah lama saya nantikan. Hari ketika akhirnya saya bisa menyaksikan dunia dari ketinggian 3.145 mdpl,...

Read moreDetails
Next Post
Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Radio Tua Kakek Panjul
Dongeng

Radio Tua Kakek Panjul

PAGI di Desa Muncuk Sari selalu datang dengan cara yang sama. Perlahan, lembut, seperti tangan yang membelai tanpa suara. Kabut...

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi
Cerpen

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu
Puisi

Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu

Kelambu Suatu hari, aku bicara dengan kelambuDia berkeluh kesah tentangmalam itu doa-doakutidak sengaja tersangkut di ketiaknyaIa bilang ia khilaf dan...

by Muammar Qadafi Muhajir
May 31, 2026
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya
Ulas Buku

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026
Awas Ada Pocong!
Esai

Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi
Esai

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Wisata Bahari di Negeri Maritim

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

by Chusmeru
May 31, 2026
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan
Esai

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
Membaca Racauan Arman Dhani
Ulas Buku

Membaca Racauan Arman Dhani

Judul               : 30 Tahun dan Gagal Penulis            : Arman Dhani Tahun terbit    : Februari 2026 Penerbit          : EA Books...

by Wayan Esa Bhaskara
May 30, 2026
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita
Cerpen

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya
Puisi

Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya

CANGKIR TEH YANG MENUA kita masuki rumah baru, AC yang tidak dinginrapikan dapur dan kamar, bersihkan kamar mandi: "au, kita...

by Eddy Pranata PNP
May 30, 2026
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha
Esai

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co