11 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

Cindy May Siagian by Cindy May Siagian
April 19, 2026
in Esai
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

Foto Sapardi Djoko Damono dan Puisi Hatiku Selembar Daun

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan problematika yang terjadi. Selain itu, karya sastra digunakan juga sebagai media menyampaikan kritik sosial, budaya, dan hal-hal yang melingkupi masyarakat.

Sementara itu, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan bahwa karya sastra adalah hasil sastra baik berupa puisi, prosa, maupun lakon.

Berdasarkan kedua pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa karya sastra adalah karya tulis yang dihasilkan melalui kreativitas seseorang yang memiliki kepentingan atau tujuan si penulis.

Salah satu jenis karya sastra yang dimiliki oleh Indonesia adalah puisi. Hudhana menyatakan bahwa puisi adalah karya sastra yang memiliki ciri khas pada bahasanya. Bahasa pada puisi mengandung estetika yang tinggi dan membutuhkan penafsiran yang mendalam untuk memahami isinya.

Secara berkala para penyair akan menciptakan puisi-puisi yang sesuai dengan aliran kesukaan mereka. Sebagai penulis puisi, saya meningkatkan pemahaman dengan membaca karya para penyair besar Indonesia. Salah satu puisi yang membuat saya jatuh cinta adalah puisi berjudul “Hatiku Selembar Daun” karya Sapardi Djoko Damono.

Mengapa saya jatuh cinta? Karena saya tertarik terhadap cara beliau memainkan kata-kata,  “kenapa Pak Sapardi menggunakan kata-kata yang menipu? Ini bukan makna yang sebenarnya?” Itu yang saya katakan setelah selesai membaca puisinya.

Sekilas tentang Sapardi Djoko Damono

Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono atau kerap disapa dengan SDD, seorang sastrawan era 1970-an kelahiran Surakarta pada tanggal 20 Maret 1940. Ia anak sulung dari pasangan suami-istri Sadyoko dan Saparian. Sapardi dan orang tuanya tinggal di Desa Ngadijayan, Jawa Tengah. Ia hidup hingga usia 80 tahun. Tepat pada 19 Juli 2020, sang sastrawan kebanggaan Indonesia tersebut meninggal dunia.

Apa yang Terjadi pada Puisi “Hatiku Selembar Daun”?

Hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput;
nanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring di sini
ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput;
sesaat adalah abadi sebelum kausapu tamanmu se
tiap pagi.


1. Memuat Kata Sederhana, tetapi Menyembunyikan Makna

Setiap kata sederhana pada puisi “Hatiku Selembar Daun”, berfungsi untuk mempermanis isi puisi, tetapi tidaklah mudah memahami isi puisinya jika hanya mengandalkan pemahaman dari arti kata-kata sederhana yang tertuang.

Sebenarnya setiap kata sederhana yang termuat di puisinya sangat familier dengan kehidupan sehari-hari, seperti kata “hatiku”, “selembar daun”, dan “melayang”. Selain kata-kata sederhana, Sapardi juga menggunakan gaya bahasa. Sang sastrawan pandai untuk mengajak para pembacanya melalui permainan kata supaya mereka berpikir untuk memaknai setiap kata yang ada.

2. Memuat Makna Majas Tersirat dalam Teks Tersurat

Salah satu unsur pembangun puisi adalah gaya bahasa (majas). Sapardi menggunakan majas pada puisinya sehingga harus dimaknai secara tersirat. Majas personifikasi diwujudkan melalui judul puisi “Hatiku Selembar Daun”. Tergolong majas personifikasi karena menganalogikan atau mempersamakan antara manusia dan benda mati. Dicerminkan lewat kata “hati” yang dimiliki manusia dan “daun” berupa benda mati.

Kutipan puisi “hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput” memuat majas hiperbola karena bersifat berlebihan. Jika berpikir secara logika, hati manusia tidak boleh dikatakan selembar daun karena setiap daun yang ada pasti berbeda-beda. Lalu, tidak masuk akal jika merujuk pada selembar daun yang tidak dideskripsikan lebih jelas.

Pernyataan “hati melayang jatuh di rumput” juga agaknya berlebihan dan tidak dapat diterima logika. Majas metafora pada kutipan “nanti dulu biar aku sejenak terbaring di sini, ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput;                                   sesaat adalah abadi sebelum kau sapu tamanmu setiap pagi.” Kalimat yang tertera tergolong gaya bahasa metafora karena mewakilkan maksud lain penulis dengan perbandingan yang implisit dan juga tanpa menggunakan kata penghubung.

Berdasarkan penggunaan majas ini, Sapardi menuntun para pembaca supaya tidak memaknai puisinya hanya berdasarkan kata yang tersurat. Pembaca didorong untuk berpikir secara kreatif. Kemudian, mereka dituntun untuk memaknai puisinya dengan makna tersirat melalui penghayatan yang diwujudkan lewat efek kiasan.

3. Kata-kata pada Puisi “Hatiku Selembar Daun” Bukan Makna Sebenarnya

Puisi “Hatiku Selembar Daun” memiliki dua jenis kata, yakni kata sederhana dan kata yang menggunakan gaya bahasa. Artinya bahwa kata-kata yang tertuang dalam puisi atau yang tersurat tidak dapat dimaknai hanya mengandalkan artian dari yang tersurat saja, tetapi harus dimaknai lagi dengan memikirkan apa makna yang tersirat pada kata-kata yang memuat majas.

Setelah dibantu dalam proses memakna setiap kata yang ada, saya menguraikan bahwa puisi Sapardi ini memiliki makna dengan tema ketuhanan. Puisi ini mencerminkan proses menuju kematian yang dibumbui penyesalan dan masih berharap untuk tetap hidup. Penulis merepresentasikan seseorang yang ingin memperbaiki perbuatan-perbuatannya sebelum meninggal. Selanjutnya, puisi ini menunjukkan bahwa hidup sering kali dilalui tanpa sadar akan pentingnya setiap momen kecil saat memperoleh kehidupan.

Puisi  Ini Bukan Hanya Sekadar Kata

Secara keseluruhan, puisi ini memberikan pelajaran yang dapat menjadi sebuah pengingat, yaitu bahwa setiap orang harus menghargai waktu, momen kecil yang tak disadari di didunia,  dan melakukan perbuatan-perbuatan yang baik supaya kelak tidak menyesal di saat ajal mendekat. Jika menerapkan ajaran ini, orang-orang dapat mencapai kehidupan yang lebih bermakna dan lebih tenang.

Misalnya, menghargai setiap momen kecil karena semua kejadian besar berawal dari momen kecil. Mengabaikan momen kecil dapat memicu peristiwa besar yang berdampak buruk. Selain itu, penyesalan dapat menjadi bahan renungan untuk memperbaiki diri dan berdamai dengan perubahan.

Artinya pada saat kita mengalami kejadian yang tidak sesuai dengan yang kita pikirkan, jangan langsung menganggap itu akhir dari segalanya. Sebaliknya, cobalah tenang dan terima keadaan supaya tidak meratapi diri lagi.

Referensi

Hura, D., Giawa, P. (2024). Analisis Gaya Bahasa dalam Puisi “Hatiku Selembar Daun” Karya Sapardi Djoko Damono. Indo-MathEdu Intellectuals Journal, 5 (3), 3342-3347.

Repository Syekhnurjati. Diakses pada 17 April 2026, dari https://repository.syekhnurjati.ac.id/5572/3/BAB II.pdf

Repository Stkippacitan. Diakses pada 20 April 2026, dari https://repository.stkippacitan.ac.id/id/eprint/1395/4Bab 2_Elly Nur Hayati_PBSI – Elly Nurhayati.pdf

Tags: PuisiSapardi Djoko Damono
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ruang Ketiga Peta Sastra Kebangsaan

Next Post

Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

Cindy May Siagian

Cindy May Siagian

Seorang penulis fiksi dan nonfiksi. Beberapa karyanya telah dimuat di sejumlah media. Ia menghadirkan tulisan yang menghibur dan memberi ruang refleksi bagi pembaca. Terhubung dan ikuti karyanya melalui akun Instagram @la_bel2e.

Related Posts

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails

Terbang di Atas Sepi

by Angga Wijaya
May 8, 2026
0
Terbang di Atas Sepi

“Kalau gak sabar, silakan terbang di atas sepi.” Tulisan di bak truk itu mungkin lahir dari kemacetan. Dari jalan yang...

Read moreDetails

Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama

by I Gede Joni Suhartawan
May 8, 2026
0
Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama

DATA BPS Februari 2026 membuat kita harus berhenti pura-pura tidak hirau: tingkat pengangguran terbuka lulusan SMK  8.62%..! Tertinggi dari semua...

Read moreDetails

Trio Brunkow, Ramsdell, dan Sakaguchi: Ketika Kolaborasi Ilmiah Mengubah Masa Depan Kemanusiaan

by Agung Sudarsa
May 8, 2026
0
Trio Brunkow, Ramsdell, dan Sakaguchi: Ketika Kolaborasi Ilmiah Mengubah Masa Depan Kemanusiaan

Jejak Kehidupan Tiga Ilmuwan Penjaga Sistem Imun Dunia ilmu pengetahuan sering melahirkan tokoh-tokoh besar yang bekerja dalam kesunyian laboratorium, jauh...

Read moreDetails

Deforestasi Sangat Ditabukan Suku Baduy

by Asep Kurnia
May 7, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

DUNIA saat ini sedang dilanda berbagai bencana alam yang mengerikan dan akan menghadapi suatu bencana yang amat sangat mengerikan bila...

Read moreDetails

Tengah Malam Rokok Habis                           

by Angga Wijaya
May 7, 2026
0
Tengah Malam Rokok Habis                           

HAL yang paling menyiksa bagi para perokok adalah ketika bangun tengah malam dan mendapati bungkus rokok kosong di atas meja....

Read moreDetails
Next Post
Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Monyet Cerdik dan Babi Hutan | Dongeng dari Jepang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Komunitas Seni Baturenggong Ulas Sejarah dan Keunikan Desa Mengwi Lewat Seni untuk PKB 2026
Panggung

Komunitas Seni Baturenggong Ulas Sejarah dan Keunikan Desa Mengwi Lewat Seni untuk PKB 2026

DESA Mengwi yang dulunya sebagai pusat kerajaan mewarisi berbagai kebudayaan, tradisi dan nilai-nilai luhur yang sangat penting bagi kehidupan bermasyarakat...

by Nyoman Budarsana
May 10, 2026
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca
Esai

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

by Angga Wijaya
May 10, 2026
Empat Perupa Bali Pamerkan ‘Vernal Artistic’ di Santrian Art Gallery: Pemaknaan atas Musim Semi
Pameran

Empat Perupa Bali Pamerkan ‘Vernal Artistic’ di Santrian Art Gallery: Pemaknaan atas Musim Semi

Jauh sebelum para undangan itu hadir, karya seni rupa berbagai ukuran sudah terpasang rapi pada dinding tembok putih. Lampu sorot...

by Nyoman Budarsana
May 10, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

MKN Bukan Tameng Impunitas: Notaris Berintegritas, Penegak Hukum  Taati Prosedur

MAHKAMAH Konstitusi melalui Putusan Nomor 65/PUU-XXIV/2026 menegaskan bahwa persetujuan Majelis Kehormatan Notaris (MKN) sebagaimana diatur dalam Pasal 66 Undang-Undang Nomor...

by I Made Pria Dharsana
May 9, 2026
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna
Esai

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
Puting Beliung | Cerpen Supartika
Cerpen

Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

by I Putu Supartika
May 9, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

by Sugi Lanus
May 9, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co