22 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

Cindy May Siagian by Cindy May Siagian
April 19, 2026
in Esai
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

Foto Sapardi Djoko Damono dan Puisi Hatiku Selembar Daun

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan problematika yang terjadi. Selain itu, karya sastra digunakan juga sebagai media menyampaikan kritik sosial, budaya, dan hal-hal yang melingkupi masyarakat.

Sementara itu, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan bahwa karya sastra adalah hasil sastra baik berupa puisi, prosa, maupun lakon.

Berdasarkan kedua pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa karya sastra adalah karya tulis yang dihasilkan melalui kreativitas seseorang yang memiliki kepentingan atau tujuan si penulis.

Salah satu jenis karya sastra yang dimiliki oleh Indonesia adalah puisi. Hudhana menyatakan bahwa puisi adalah karya sastra yang memiliki ciri khas pada bahasanya. Bahasa pada puisi mengandung estetika yang tinggi dan membutuhkan penafsiran yang mendalam untuk memahami isinya.

Secara berkala para penyair akan menciptakan puisi-puisi yang sesuai dengan aliran kesukaan mereka. Sebagai penulis puisi, saya meningkatkan pemahaman dengan membaca karya para penyair besar Indonesia. Salah satu puisi yang membuat saya jatuh cinta adalah puisi berjudul “Hatiku Selembar Daun” karya Sapardi Djoko Damono.

Mengapa saya jatuh cinta? Karena saya tertarik terhadap cara beliau memainkan kata-kata,  “kenapa Pak Sapardi menggunakan kata-kata yang menipu? Ini bukan makna yang sebenarnya?” Itu yang saya katakan setelah selesai membaca puisinya.

Sekilas tentang Sapardi Djoko Damono

Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono atau kerap disapa dengan SDD, seorang sastrawan era 1970-an kelahiran Surakarta pada tanggal 20 Maret 1940. Ia anak sulung dari pasangan suami-istri Sadyoko dan Saparian. Sapardi dan orang tuanya tinggal di Desa Ngadijayan, Jawa Tengah. Ia hidup hingga usia 80 tahun. Tepat pada 19 Juli 2020, sang sastrawan kebanggaan Indonesia tersebut meninggal dunia.

Apa yang Terjadi pada Puisi “Hatiku Selembar Daun”?

Hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput;
nanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring di sini
ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput;
sesaat adalah abadi sebelum kausapu tamanmu se
tiap pagi.


1. Memuat Kata Sederhana, tetapi Menyembunyikan Makna

Setiap kata sederhana pada puisi “Hatiku Selembar Daun”, berfungsi untuk mempermanis isi puisi, tetapi tidaklah mudah memahami isi puisinya jika hanya mengandalkan pemahaman dari arti kata-kata sederhana yang tertuang.

Sebenarnya setiap kata sederhana yang termuat di puisinya sangat familier dengan kehidupan sehari-hari, seperti kata “hatiku”, “selembar daun”, dan “melayang”. Selain kata-kata sederhana, Sapardi juga menggunakan gaya bahasa. Sang sastrawan pandai untuk mengajak para pembacanya melalui permainan kata supaya mereka berpikir untuk memaknai setiap kata yang ada.

2. Memuat Makna Majas Tersirat dalam Teks Tersurat

Salah satu unsur pembangun puisi adalah gaya bahasa (majas). Sapardi menggunakan majas pada puisinya sehingga harus dimaknai secara tersirat. Majas personifikasi diwujudkan melalui judul puisi “Hatiku Selembar Daun”. Tergolong majas personifikasi karena menganalogikan atau mempersamakan antara manusia dan benda mati. Dicerminkan lewat kata “hati” yang dimiliki manusia dan “daun” berupa benda mati.

Kutipan puisi “hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput” memuat majas hiperbola karena bersifat berlebihan. Jika berpikir secara logika, hati manusia tidak boleh dikatakan selembar daun karena setiap daun yang ada pasti berbeda-beda. Lalu, tidak masuk akal jika merujuk pada selembar daun yang tidak dideskripsikan lebih jelas.

Pernyataan “hati melayang jatuh di rumput” juga agaknya berlebihan dan tidak dapat diterima logika. Majas metafora pada kutipan “nanti dulu biar aku sejenak terbaring di sini, ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput;                                   sesaat adalah abadi sebelum kau sapu tamanmu setiap pagi.” Kalimat yang tertera tergolong gaya bahasa metafora karena mewakilkan maksud lain penulis dengan perbandingan yang implisit dan juga tanpa menggunakan kata penghubung.

Berdasarkan penggunaan majas ini, Sapardi menuntun para pembaca supaya tidak memaknai puisinya hanya berdasarkan kata yang tersurat. Pembaca didorong untuk berpikir secara kreatif. Kemudian, mereka dituntun untuk memaknai puisinya dengan makna tersirat melalui penghayatan yang diwujudkan lewat efek kiasan.

3. Kata-kata pada Puisi “Hatiku Selembar Daun” Bukan Makna Sebenarnya

Puisi “Hatiku Selembar Daun” memiliki dua jenis kata, yakni kata sederhana dan kata yang menggunakan gaya bahasa. Artinya bahwa kata-kata yang tertuang dalam puisi atau yang tersurat tidak dapat dimaknai hanya mengandalkan artian dari yang tersurat saja, tetapi harus dimaknai lagi dengan memikirkan apa makna yang tersirat pada kata-kata yang memuat majas.

Setelah dibantu dalam proses memakna setiap kata yang ada, saya menguraikan bahwa puisi Sapardi ini memiliki makna dengan tema ketuhanan. Puisi ini mencerminkan proses menuju kematian yang dibumbui penyesalan dan masih berharap untuk tetap hidup. Penulis merepresentasikan seseorang yang ingin memperbaiki perbuatan-perbuatannya sebelum meninggal. Selanjutnya, puisi ini menunjukkan bahwa hidup sering kali dilalui tanpa sadar akan pentingnya setiap momen kecil saat memperoleh kehidupan.

Puisi  Ini Bukan Hanya Sekadar Kata

Secara keseluruhan, puisi ini memberikan pelajaran yang dapat menjadi sebuah pengingat, yaitu bahwa setiap orang harus menghargai waktu, momen kecil yang tak disadari di didunia,  dan melakukan perbuatan-perbuatan yang baik supaya kelak tidak menyesal di saat ajal mendekat. Jika menerapkan ajaran ini, orang-orang dapat mencapai kehidupan yang lebih bermakna dan lebih tenang.

Misalnya, menghargai setiap momen kecil karena semua kejadian besar berawal dari momen kecil. Mengabaikan momen kecil dapat memicu peristiwa besar yang berdampak buruk. Selain itu, penyesalan dapat menjadi bahan renungan untuk memperbaiki diri dan berdamai dengan perubahan.

Artinya pada saat kita mengalami kejadian yang tidak sesuai dengan yang kita pikirkan, jangan langsung menganggap itu akhir dari segalanya. Sebaliknya, cobalah tenang dan terima keadaan supaya tidak meratapi diri lagi.

Referensi

Hura, D., Giawa, P. (2024). Analisis Gaya Bahasa dalam Puisi “Hatiku Selembar Daun” Karya Sapardi Djoko Damono. Indo-MathEdu Intellectuals Journal, 5 (3), 3342-3347.

Repository Syekhnurjati. Diakses pada 17 April 2026, dari https://repository.syekhnurjati.ac.id/5572/3/BAB II.pdf

Repository Stkippacitan. Diakses pada 20 April 2026, dari https://repository.stkippacitan.ac.id/id/eprint/1395/4Bab 2_Elly Nur Hayati_PBSI – Elly Nurhayati.pdf

Tags: PuisiSapardi Djoko Damono
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ruang Ketiga Peta Sastra Kebangsaan

Next Post

Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

Cindy May Siagian

Cindy May Siagian

Seorang penulis fiksi dan nonfiksi. Beberapa karyanya telah dimuat di sejumlah media. Ia menghadirkan tulisan yang menghibur dan memberi ruang refleksi bagi pembaca. Terhubung dan ikuti karyanya melalui akun Instagram @la_bel2e.

Related Posts

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails

‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

by Pande Susan
June 18, 2026
0
‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

SAAT matahari mulai menuju satu garis lurus di atas kepala, derau ritmis mengisi ruang di bawah atap Bale Daja rumahku...

Read moreDetails
Next Post
Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026
Lubang | Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

by Asmaran Dani
June 21, 2026
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi
Puisi

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

by Mahesa Putra
June 21, 2026
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045
Esai

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
Esai

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

by Made Chandra
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co