2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

Cindy May Siagian by Cindy May Siagian
April 19, 2026
in Esai
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

Foto Sapardi Djoko Damono dan Puisi Hatiku Selembar Daun

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan problematika yang terjadi. Selain itu, karya sastra digunakan juga sebagai media menyampaikan kritik sosial, budaya, dan hal-hal yang melingkupi masyarakat.

Sementara itu, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan bahwa karya sastra adalah hasil sastra baik berupa puisi, prosa, maupun lakon.

Berdasarkan kedua pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa karya sastra adalah karya tulis yang dihasilkan melalui kreativitas seseorang yang memiliki kepentingan atau tujuan si penulis.

Salah satu jenis karya sastra yang dimiliki oleh Indonesia adalah puisi. Hudhana menyatakan bahwa puisi adalah karya sastra yang memiliki ciri khas pada bahasanya. Bahasa pada puisi mengandung estetika yang tinggi dan membutuhkan penafsiran yang mendalam untuk memahami isinya.

Secara berkala para penyair akan menciptakan puisi-puisi yang sesuai dengan aliran kesukaan mereka. Sebagai penulis puisi, saya meningkatkan pemahaman dengan membaca karya para penyair besar Indonesia. Salah satu puisi yang membuat saya jatuh cinta adalah puisi berjudul “Hatiku Selembar Daun” karya Sapardi Djoko Damono.

Mengapa saya jatuh cinta? Karena saya tertarik terhadap cara beliau memainkan kata-kata,  “kenapa Pak Sapardi menggunakan kata-kata yang menipu? Ini bukan makna yang sebenarnya?” Itu yang saya katakan setelah selesai membaca puisinya.

Sekilas tentang Sapardi Djoko Damono

Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono atau kerap disapa dengan SDD, seorang sastrawan era 1970-an kelahiran Surakarta pada tanggal 20 Maret 1940. Ia anak sulung dari pasangan suami-istri Sadyoko dan Saparian. Sapardi dan orang tuanya tinggal di Desa Ngadijayan, Jawa Tengah. Ia hidup hingga usia 80 tahun. Tepat pada 19 Juli 2020, sang sastrawan kebanggaan Indonesia tersebut meninggal dunia.

Apa yang Terjadi pada Puisi “Hatiku Selembar Daun”?

Hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput;
nanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring di sini
ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput;
sesaat adalah abadi sebelum kausapu tamanmu se
tiap pagi.


1. Memuat Kata Sederhana, tetapi Menyembunyikan Makna

Setiap kata sederhana pada puisi “Hatiku Selembar Daun”, berfungsi untuk mempermanis isi puisi, tetapi tidaklah mudah memahami isi puisinya jika hanya mengandalkan pemahaman dari arti kata-kata sederhana yang tertuang.

Sebenarnya setiap kata sederhana yang termuat di puisinya sangat familier dengan kehidupan sehari-hari, seperti kata “hatiku”, “selembar daun”, dan “melayang”. Selain kata-kata sederhana, Sapardi juga menggunakan gaya bahasa. Sang sastrawan pandai untuk mengajak para pembacanya melalui permainan kata supaya mereka berpikir untuk memaknai setiap kata yang ada.

2. Memuat Makna Majas Tersirat dalam Teks Tersurat

Salah satu unsur pembangun puisi adalah gaya bahasa (majas). Sapardi menggunakan majas pada puisinya sehingga harus dimaknai secara tersirat. Majas personifikasi diwujudkan melalui judul puisi “Hatiku Selembar Daun”. Tergolong majas personifikasi karena menganalogikan atau mempersamakan antara manusia dan benda mati. Dicerminkan lewat kata “hati” yang dimiliki manusia dan “daun” berupa benda mati.

Kutipan puisi “hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput” memuat majas hiperbola karena bersifat berlebihan. Jika berpikir secara logika, hati manusia tidak boleh dikatakan selembar daun karena setiap daun yang ada pasti berbeda-beda. Lalu, tidak masuk akal jika merujuk pada selembar daun yang tidak dideskripsikan lebih jelas.

Pernyataan “hati melayang jatuh di rumput” juga agaknya berlebihan dan tidak dapat diterima logika. Majas metafora pada kutipan “nanti dulu biar aku sejenak terbaring di sini, ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput;                                   sesaat adalah abadi sebelum kau sapu tamanmu setiap pagi.” Kalimat yang tertera tergolong gaya bahasa metafora karena mewakilkan maksud lain penulis dengan perbandingan yang implisit dan juga tanpa menggunakan kata penghubung.

Berdasarkan penggunaan majas ini, Sapardi menuntun para pembaca supaya tidak memaknai puisinya hanya berdasarkan kata yang tersurat. Pembaca didorong untuk berpikir secara kreatif. Kemudian, mereka dituntun untuk memaknai puisinya dengan makna tersirat melalui penghayatan yang diwujudkan lewat efek kiasan.

3. Kata-kata pada Puisi “Hatiku Selembar Daun” Bukan Makna Sebenarnya

Puisi “Hatiku Selembar Daun” memiliki dua jenis kata, yakni kata sederhana dan kata yang menggunakan gaya bahasa. Artinya bahwa kata-kata yang tertuang dalam puisi atau yang tersurat tidak dapat dimaknai hanya mengandalkan artian dari yang tersurat saja, tetapi harus dimaknai lagi dengan memikirkan apa makna yang tersirat pada kata-kata yang memuat majas.

Setelah dibantu dalam proses memakna setiap kata yang ada, saya menguraikan bahwa puisi Sapardi ini memiliki makna dengan tema ketuhanan. Puisi ini mencerminkan proses menuju kematian yang dibumbui penyesalan dan masih berharap untuk tetap hidup. Penulis merepresentasikan seseorang yang ingin memperbaiki perbuatan-perbuatannya sebelum meninggal. Selanjutnya, puisi ini menunjukkan bahwa hidup sering kali dilalui tanpa sadar akan pentingnya setiap momen kecil saat memperoleh kehidupan.

Puisi  Ini Bukan Hanya Sekadar Kata

Secara keseluruhan, puisi ini memberikan pelajaran yang dapat menjadi sebuah pengingat, yaitu bahwa setiap orang harus menghargai waktu, momen kecil yang tak disadari di didunia,  dan melakukan perbuatan-perbuatan yang baik supaya kelak tidak menyesal di saat ajal mendekat. Jika menerapkan ajaran ini, orang-orang dapat mencapai kehidupan yang lebih bermakna dan lebih tenang.

Misalnya, menghargai setiap momen kecil karena semua kejadian besar berawal dari momen kecil. Mengabaikan momen kecil dapat memicu peristiwa besar yang berdampak buruk. Selain itu, penyesalan dapat menjadi bahan renungan untuk memperbaiki diri dan berdamai dengan perubahan.

Artinya pada saat kita mengalami kejadian yang tidak sesuai dengan yang kita pikirkan, jangan langsung menganggap itu akhir dari segalanya. Sebaliknya, cobalah tenang dan terima keadaan supaya tidak meratapi diri lagi.

Referensi

Hura, D., Giawa, P. (2024). Analisis Gaya Bahasa dalam Puisi “Hatiku Selembar Daun” Karya Sapardi Djoko Damono. Indo-MathEdu Intellectuals Journal, 5 (3), 3342-3347.

Repository Syekhnurjati. Diakses pada 17 April 2026, dari https://repository.syekhnurjati.ac.id/5572/3/BAB II.pdf

Repository Stkippacitan. Diakses pada 20 April 2026, dari https://repository.stkippacitan.ac.id/id/eprint/1395/4Bab 2_Elly Nur Hayati_PBSI – Elly Nurhayati.pdf

Tags: PuisiSapardi Djoko Damono
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ruang Ketiga Peta Sastra Kebangsaan

Next Post

Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

Cindy May Siagian

Cindy May Siagian

Seorang penulis fiksi dan nonfiksi. Beberapa karyanya telah dimuat di sejumlah media. Ia menghadirkan tulisan yang menghibur dan memberi ruang refleksi bagi pembaca. Terhubung dan ikuti karyanya melalui akun Instagram @la_bel2e.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co