MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan problematika yang terjadi. Selain itu, karya sastra digunakan juga sebagai media menyampaikan kritik sosial, budaya, dan hal-hal yang melingkupi masyarakat.
Sementara itu, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan bahwa karya sastra adalah hasil sastra baik berupa puisi, prosa, maupun lakon.
Berdasarkan kedua pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa karya sastra adalah karya tulis yang dihasilkan melalui kreativitas seseorang yang memiliki kepentingan atau tujuan si penulis.
Salah satu jenis karya sastra yang dimiliki oleh Indonesia adalah puisi. Hudhana menyatakan bahwa puisi adalah karya sastra yang memiliki ciri khas pada bahasanya. Bahasa pada puisi mengandung estetika yang tinggi dan membutuhkan penafsiran yang mendalam untuk memahami isinya.
Secara berkala para penyair akan menciptakan puisi-puisi yang sesuai dengan aliran kesukaan mereka. Sebagai penulis puisi, saya meningkatkan pemahaman dengan membaca karya para penyair besar Indonesia. Salah satu puisi yang membuat saya jatuh cinta adalah puisi berjudul “Hatiku Selembar Daun” karya Sapardi Djoko Damono.
Mengapa saya jatuh cinta? Karena saya tertarik terhadap cara beliau memainkan kata-kata, “kenapa Pak Sapardi menggunakan kata-kata yang menipu? Ini bukan makna yang sebenarnya?” Itu yang saya katakan setelah selesai membaca puisinya.
Sekilas tentang Sapardi Djoko Damono
Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono atau kerap disapa dengan SDD, seorang sastrawan era 1970-an kelahiran Surakarta pada tanggal 20 Maret 1940. Ia anak sulung dari pasangan suami-istri Sadyoko dan Saparian. Sapardi dan orang tuanya tinggal di Desa Ngadijayan, Jawa Tengah. Ia hidup hingga usia 80 tahun. Tepat pada 19 Juli 2020, sang sastrawan kebanggaan Indonesia tersebut meninggal dunia.
Apa yang Terjadi pada Puisi “Hatiku Selembar Daun”?
Hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput;
nanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring di sini
ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput;
sesaat adalah abadi sebelum kausapu tamanmu setiap pagi.
1. Memuat Kata Sederhana, tetapi Menyembunyikan Makna
Setiap kata sederhana pada puisi “Hatiku Selembar Daun”, berfungsi untuk mempermanis isi puisi, tetapi tidaklah mudah memahami isi puisinya jika hanya mengandalkan pemahaman dari arti kata-kata sederhana yang tertuang.
Sebenarnya setiap kata sederhana yang termuat di puisinya sangat familier dengan kehidupan sehari-hari, seperti kata “hatiku”, “selembar daun”, dan “melayang”. Selain kata-kata sederhana, Sapardi juga menggunakan gaya bahasa. Sang sastrawan pandai untuk mengajak para pembacanya melalui permainan kata supaya mereka berpikir untuk memaknai setiap kata yang ada.
2. Memuat Makna Majas Tersirat dalam Teks Tersurat
Salah satu unsur pembangun puisi adalah gaya bahasa (majas). Sapardi menggunakan majas pada puisinya sehingga harus dimaknai secara tersirat. Majas personifikasi diwujudkan melalui judul puisi “Hatiku Selembar Daun”. Tergolong majas personifikasi karena menganalogikan atau mempersamakan antara manusia dan benda mati. Dicerminkan lewat kata “hati” yang dimiliki manusia dan “daun” berupa benda mati.
Kutipan puisi “hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput” memuat majas hiperbola karena bersifat berlebihan. Jika berpikir secara logika, hati manusia tidak boleh dikatakan selembar daun karena setiap daun yang ada pasti berbeda-beda. Lalu, tidak masuk akal jika merujuk pada selembar daun yang tidak dideskripsikan lebih jelas.
Pernyataan “hati melayang jatuh di rumput” juga agaknya berlebihan dan tidak dapat diterima logika. Majas metafora pada kutipan “nanti dulu biar aku sejenak terbaring di sini, ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput; sesaat adalah abadi sebelum kau sapu tamanmu setiap pagi.” Kalimat yang tertera tergolong gaya bahasa metafora karena mewakilkan maksud lain penulis dengan perbandingan yang implisit dan juga tanpa menggunakan kata penghubung.
Berdasarkan penggunaan majas ini, Sapardi menuntun para pembaca supaya tidak memaknai puisinya hanya berdasarkan kata yang tersurat. Pembaca didorong untuk berpikir secara kreatif. Kemudian, mereka dituntun untuk memaknai puisinya dengan makna tersirat melalui penghayatan yang diwujudkan lewat efek kiasan.
3. Kata-kata pada Puisi “Hatiku Selembar Daun” Bukan Makna Sebenarnya
Puisi “Hatiku Selembar Daun” memiliki dua jenis kata, yakni kata sederhana dan kata yang menggunakan gaya bahasa. Artinya bahwa kata-kata yang tertuang dalam puisi atau yang tersurat tidak dapat dimaknai hanya mengandalkan artian dari yang tersurat saja, tetapi harus dimaknai lagi dengan memikirkan apa makna yang tersirat pada kata-kata yang memuat majas.
Setelah dibantu dalam proses memakna setiap kata yang ada, saya menguraikan bahwa puisi Sapardi ini memiliki makna dengan tema ketuhanan. Puisi ini mencerminkan proses menuju kematian yang dibumbui penyesalan dan masih berharap untuk tetap hidup. Penulis merepresentasikan seseorang yang ingin memperbaiki perbuatan-perbuatannya sebelum meninggal. Selanjutnya, puisi ini menunjukkan bahwa hidup sering kali dilalui tanpa sadar akan pentingnya setiap momen kecil saat memperoleh kehidupan.
Puisi Ini Bukan Hanya Sekadar Kata
Secara keseluruhan, puisi ini memberikan pelajaran yang dapat menjadi sebuah pengingat, yaitu bahwa setiap orang harus menghargai waktu, momen kecil yang tak disadari di didunia, dan melakukan perbuatan-perbuatan yang baik supaya kelak tidak menyesal di saat ajal mendekat. Jika menerapkan ajaran ini, orang-orang dapat mencapai kehidupan yang lebih bermakna dan lebih tenang.
Misalnya, menghargai setiap momen kecil karena semua kejadian besar berawal dari momen kecil. Mengabaikan momen kecil dapat memicu peristiwa besar yang berdampak buruk. Selain itu, penyesalan dapat menjadi bahan renungan untuk memperbaiki diri dan berdamai dengan perubahan.
Artinya pada saat kita mengalami kejadian yang tidak sesuai dengan yang kita pikirkan, jangan langsung menganggap itu akhir dari segalanya. Sebaliknya, cobalah tenang dan terima keadaan supaya tidak meratapi diri lagi.
Referensi
Hura, D., Giawa, P. (2024). Analisis Gaya Bahasa dalam Puisi “Hatiku Selembar Daun” Karya Sapardi Djoko Damono. Indo-MathEdu Intellectuals Journal, 5 (3), 3342-3347.
Repository Syekhnurjati. Diakses pada 17 April 2026, dari https://repository.syekhnurjati.ac.id/5572/3/BAB II.pdf
Repository Stkippacitan. Diakses pada 20 April 2026, dari https://repository.stkippacitan.ac.id/id/eprint/1395/4Bab 2_Elly Nur Hayati_PBSI – Elly Nurhayati.pdf





























