2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ruang Ketiga Peta Sastra Kebangsaan

Stebby Julionatan by Stebby Julionatan
April 19, 2026
in Esai
Ruang Ketiga Peta Sastra Kebangsaan

Foto by Canva

Apa yang bisa dilakukan sastra?

Sebagai seorang guru Bahasa dan Sastra Indonesia setiap tahun pertanyaan tersebut selalu mengganggu benak saya. Mengapa sastra perlu saya ajarkan? Apakah sastra bisa menyelamatkan dunia? Apakah Sumatra bisa terbebas dari bahaya banjir karena sastra? Bagaimana sastra merespon kebencanaan? Atau… pertanyaan yang paling sederhana, apakah murid-murid saya (nantinya) bisa makan dari bersastra?

Ya, jika boleh sedikit kilas balik, dari yang sebelumnya sebagai bekerja sebagai staf Informasi Diskominfo Kota Probolinggo, saya mulai mengajar sebagai guru bahasa Indonesia SMA Asisi Jakarta pada bulan Agustus 2022. Pada tahun ajaran 2022/2023 tersebut saya mengajar di kelas 11. Saat itu kurikulum yang Asisi gunakan pada kelas 11 adalah Kurikulum 2013. Itulah tahun pertama saya (tentunya dibantu oleh Mbak Ayu Utami) memperkenalkan Peta Sastra Kebangsaan* kepada para murid saya. Pengalaman mengajarkan sastra dengan metode Peta Sastra tersebut telah saya tuangkan ke dalam tulisan berjudul Membaca Peta Sastra: Menghentikan Kekerasan oleh Anak (2024).

Selanjutnya, pada tahun ajaran 2023/2024 saya sempat berhenti. Pada tahun 2024 itulah Mbak Ayu menggelar Lokakarya Peta Sastra Kebangsaan untuk Guru. Saya, Mbak Debra Yatim dan Bu Sri Astuti turut dilibatkan Mbak Ayu sebagai falilitator kegiatan tersebut untuk mendampingi 12 perwakilan guru Bahasa dan Sastra dari seluruh Indonesia.

Setelah setahun vakum mengajar di SMA, tahun ajaran berikutnya, 2024/2025 saya kembali diminta mengajar (tentunya masih Bahasa dan Sastra Indonesia) di Asisi dengan kurikulum yang sudah berbeda. Saat itu kurikulum yang dipakai sudah berganti menjadi Kurikulum Merdeka.

Pada tahun ajaran 2024/2025 tersebut saya masih mengajar kelas 11 tapi dengan jenis kelas yang berbeda. Saya mengampu Kelas Bahasa Indonesia Lanjutan, sedangkan Kelas Bahasa Indonesia Wajib diampu oleh kolega saya, Bu Tiara. Untuk yang masih asing dengan istilah Kelas Bahasa Indonesia Lanjutan, secara gampang kelas ini adalah kelas peminatan. Fokusnya yakni pada pendalaman teori, analisis kritis, dan praktik kreatif, misalnya analisis teks sastra, yang diharapkan lebih tinggi ketimbang kelas wajib.

Karena kata “Lanjutan” inilah maka CP-nya (baca: capaian pembelajaran) kebanyakan adalah memahami wacana-wacana sastra, termasuk teks-teks sastra yang arkais seperti pantun, syair, dan gurindam, hikayat. Maka, pikir saya ini adalah wahana yang bagus untuk menguji sekaligus mensubstitusi Peta Sastra Kebangsaan sebagai metode pembelajaran.

Di titik inilah saya merasa kelas tersebut, Bahasa Indonesia Lanjutan, merupakan ruang tepat untuk Kembali menguji sekaligus mempraktikkan Peta Sastra Kebangsaan sebagai metode belajar. Mengapa? Jika sebelumnya saya berpikir fungsi sastra dalam kerangka klasik sebagai dulce et utile, maka dengan semakin kompleksnya permasalahan bangsa yang tengah kita hadapi bersama, khususnya bencana banjir bandang Sumatra yang terjadi di awal Desember 2025, tentunya hal tersebut memantik keresahan saya…

Ya, bisakah sastra menyelesaikan masalah banjir tersebut?

Namanya Yessy Natalia

Namanya Yessy Natalia. Bukan karena peristiwa banjir di atas yang berdekatan dengan peristiwa Natal maka saya memakai nama lengkap Mbak Yessy sebagai judul di bagian awal subbab. Melainkan, karena perjumpaan dan kesediaannya untuk terlibat dalam kegiatan yang saya selenggarakan di sekolah-lah, yang menurut saya, nantinya membuka “ruang ketiga” –hal yang menjadi pembahasan dalam artikel ini.

Dalam praktik mengajarkan Peta Sastra, meski Mbak Ayu biasanya akan selalu menyarankan bahwa sebaiknya murid-murid diajak membaca bersama atau bermain peran. Mengaggap kurang seberapa signifikan kehadiran mentor-mentor lain untuk berpartisipasi di dalam kelas.  Namun saya merasa, sayalah yang lebih memamahi bagaimana karakter dan kebutuhan murid-murid saya. Tak seperti sekolah lain yang cukup aktif, saya merasa, murid-murid di kelas 11 Bahasa Indonesia Lanjutan saya tergolong murid yang kurang inisiatif. Mereka masih sangat sangat sangat perlu dan memerlukan dorongan untuk aktif dan terlibat. Karena itu, dalam kegiatan Peta Sastra Kebangsaan yang berlangsung di tahun tersebut, saya sengaja menghadirkan para penulis atau sastrawan lain sebagai bagian dari proses pembelajaran. Selain keterlibatan Mbak Yessy untuk kata kunci Identitas, di tahun itu saya mengajak serta Kak Nataya Bagya untuk kata kunci “Merdeka” dan Ayu Alfiah Jonas –yang akrab disapa Jojo, untuk membawakan kata kunci Perang Dingin.

Setidaknya, melalui kehadiran mereka, teman-teman saya itu, saya ingin menunjukkan pada murid-murid saya bahwa, kamu tak perlu (atau ketakutan) jadi sastrawan kok untuk suka dan mencintai Bahasa dan Sastra Indonesia.

Kembali ke Yessy Natalia, Mbak Yessy adalah Perempuan kelahiran Malang yang saat ini menetap di Jakarta. Meski hobi menulis, khususnya naskah panggung, rupanya sehari-hari ia berprofesi sebagai arsitek. Mbak Yessy sudah aktif di komunitas seni sejak 2007, dengan bergabung di D’ArtBeat. Dan puncaknya, sebagai sastrawan, pada 2022 ia memenangkan salah satu penghargaan penulisan naskah lakon yang paling bergengsi di negeri ini, yakni Rawayan Award untuk naskahnya “Tuhan, Tolong Bunuh Emak”.

Pada titik itulah saya meminjam dua gagasan yang saling beririsan, yakni konsep third space dari Homi K. Bhabha dan Ray Oldenburg. Bhabha, seorang pengkaji poskolonial asal India, memperkenalkan third space sebagai ruang hibrida; tempat identitas, pengalaman, dan makna dinegosiasikan di luar struktur yang kaku. Sementara itu, Oldenburg, sosiolog asal Amerika Serikat, menekankan pentingnya third place sebagai ruang sosial informal di luar rumah dan institusi formal, seperti kafe atau ruang pertemuan komunitas. Sebagaimana Peta Sastra adalah “ruang ketiga” untuk pembelajaran Bahasa dan Sastra di sekolah, atau café dan ruang-ruang diskusi informal adalah “ruang ketiga” agar kami tidak selalu belajar di ruang kelas yang rigid, maka… kehadiran Mbak Yessy, Kak Nataya dan Jojo tersebut adalah ruang ketiga bagi murid-murid saya agar mereka tidak selalu bertemu saya, gurunya yang monoton.

Kehadiran Mbak Yessy, misalnya, saat ia mengajak murid menulis tentang “siapa saya” dan menulis atau menampilkannya dalam bentuk visual sederhana di selembar kertas, dalam sesi tersebut saya menemukan hal-hal yang tak terduga. Dhimas dan Desfanya, keduanya nama murid saya di kelas lanjutan tersebut, ternyata adalah pembaca novel dan bahkan bisa menyebut nama karakter dan penulis favorit mereka.

Saya tertegun. Rupanya, selama ini, minat tersebut tidak pernah tampak di kelas saya!

Di minggu berikutnya giliran Kak Nataya yang masuk ke kelas. Rupanya, butuh kehadiran seorang Nataya Bagya agar para murid saya bisa berteriak “Merdeka!” dan mengeluarkan uneg-uneg yang selama ini sudah menggumpal (dan bahkan mungkin berkarat) di benak mereka.

Beberapa minggu kemudian, untuk membahas kata kunci “Perang Dingin”, Jojo hadir dengan bahasan seputar budaya populer. Ia membuka sesi dengan pertanyaan sederhana, “Di sini ada yang K-Popers?” Seketika kelas menjadi riuh. Fio dan beberapa murid Perempuan yang duduk di pojok kanan belakang ternyata penggemar berat K-pop. Mereka menyebut grup favorit, membicarakan koreografi, bahkan mengutip lirik yang bermakna bagi mereka.

Di momen-momen seperti inilah saya semakin menyadari pentingnya ruang liminal tersebut. Bahwa pembelajaran tidak selalu harus dimulai dari apa yang kita anggap penting sebagai guru, melainkan dari apa yang hidup dan dekat dalam keseharian murid. Ruang yang membuat murid-murid saya tak merasa sedang “dinilai” tetapi mereka didengar.

Namanya Melvin Christopher

Namanya Melvin. Lengkapnya, Melvin Christopher Sutandi. Ia adalah salah satu musisi berbakat yang (masih) dimiliki sekolah kami. Saya tulis kami karena saat ini Melvin sudah kelas XII dan dalam hitungan bulan dapat kupastikan ia akan lulus meninggalkan Asisi. Namun, kembali ke topik, dalam keseharian, di dalam kelas bahasa yang saya ampu, Melvin justru lebih sering menjadi penolong saya menghadapi kegagapan teknologi.

Kabel mana yang harus saya kaitkan agar tampilan dari laptop bisa berpindah ke screen, tombol mana yang perlu saya klik agar tayangan di screen ada suaranya, serta knop mana yang harus saya naikkan agar cahayanya lebih terang adalah hal-hal yang mudah bagi anak muda di generasinya tapi “keteteran” bagi sebagian besar orang di generasiku.

Selain itu, Melvin jugalah yang menemukan kata ajaib di kelas soal kata kunci apa pada Peta Sastra Kebangsaan yang dapat dipakai di generasinya. “Instan”, kata itulah yang Melvin tambahkan. Saya sempat tercekat. Ya, bagi saya yang memiliki keberpihakan pada Gen X atau Gen Alpha, semula saya tidak rela jika Kevin turut melabeli dirinya sendiri dengan kata “instan.”. Maka, kemudian saya pun bertanya mengapa ia memilih kata tersebut.

Ia pun menjawab bahwa sebagai musisi dirinya tahu betul bahwa musik membutuhkan proses. “Nada tak lahir tiba-tiba. Ia memerlukan pencarian, latihan yang panjang dan juga kontemplasi. Namun jujur aku kadang juga tergoda memakai AI. Agar cepat. Dan juga untuk main-main,” jawabnyua.

Dor! Apa yang Melvin rasakan di musik adalah apa yang kulihat di sastra dan bagaimana prosesku sendiri akhir-akhir ini. Aku pun kerap tergoda dengan kecepatan dan hasil yang instan. Di samping itu, aku pun aku pun lantas menyadari bahwa kata “instan” yang seringkali generasiku asosiasikan dengan sesuatu yang dangkal dan tergesa-gesa, tiba-tiba di saat itu, hadir sebagai katergori pengalaman generasional yang nyata. Instan bukan hanya sekadar soal kecepatan tetapi cara mengada di dunia dewasa ini.

Pada titik tersebut, lewat bantuan Melvin, saya mulai melihat bahwa “instan” bukan hanya karakter murid, melainkan juga bagian dari ekosistem yang membentuk mereka. Generasi yang sering disebut sebagai Generasi Alpha —yang lahir dan tumbuh sepenuhnya dalam lanskap digital— mengalami dunia sebagai sesuatu yang serba segera. Informasi hadir dalam hitungan detik, respons diharapkan seketika, dan ekspresi diri berlangsung dalam format yang ringkas, visual, dan terfragmentasi.

Dalam praktiknya, saya menemukan bahwa murid-murid saya tetap mampu merasakan, merefleksikan, bahkan mengartikulasikan pengalaman secara mendalam—meski dalam bentuk yang berbeda. Mereka mungkin tidak menulis esai panjang, tetapi mampu merangkum pengalaman dalam satu baris yang mengguncang. Mereka mungkin tidak membaca teks klasik berlembar-lembar, tetapi mampu menghubungkannya dengan pengalaman sehari-hari secara intuitif.

Di sinilah saya mulai melihat kemungkinan lain: bahwa “instan” tidak selalu harus diposisikan sebagai lawan dari “mendalam”, melainkan sebagai bentuk lain dari ekspresi zaman.

Sebagaimana dikemukakan oleh Hartmut Rosa melalui konsep social acceleration, modernitas ditandai oleh percepatan dalam hampir seluruh aspek kehidupan. Teknologi, komunikasi hingga ritme pengalaman manusia. Dalam kondisi seperti yang saya sebut di atas, “instan” bukan sekadar pilihan, melainkan konsekuensi struktural.

Jika pada perjumpaan dengan Mbak Yessy, Kak Nataya, dan Jojo saya melihat bagaimana “ruang ketiga” bekerja melalui kehadiran orang lain di dalam kelas, maka bersama Melvin saya menemukan bentuk lain dari ruang tersebut: ruang yang lahir dari tegangan zaman. Dalam relasi yang terbalik itu, saya kembali melihat bagaimana ruang belajar tidak pernah benar-benar tunggal. Saya belajar dari Melvin.

Namanya Kardinal Suharyo

Dalam perayaan Natal 2025, Kardinal Suharyo mengutip ensiklik Laudato Si’ karya Paus Fransiskus. Untuk yang belum akrab, ensiklik adalah sebuah dokumen iman peting dalam tradisi Katolik yang berisikan ajaran moral atau disiplin gereja. Khusus Laudato Si’, ensiklik tersebut memberikan kritik tajam terhadap konsumerisme dan krisis ekologis global, yakni pembangunan yang tidak terkendali, yang pada akhirnya menyebabkan kerusakan lingkungan serta memperparah pemanasan global.

Dalam kutipannya, Kardinal Suharyo menyampaikan:

“Dunia ini adalah rumah bersama. Kerusakan yang dilakukan oleh kelompok kuat dan kaya, sering justru ditanggung oleh mereka yang lemah dan miskin. Kalau di suatu negara yang kuat, yang kaya merusak hutan, korbannya siapa? Korbannya saudara-saudara kita yang tidak punya kuasa apa pun untuk mencegahnya.”

Kutipan tersebut mungkin memang berhenti sebagai pernyataan moral, tetapi bagi saya, ia justru muncul dan menyeruak untuk menggugah kegelisahan yang tidak sederhana. Maka pertanyaan sebagaimana yang saya tulis di ataslah yang muncul: Bisakah sastra bergerak sejauh itu? Dalam konteks pembelajaran, pertanyaanya lantas bertansformasi menjadi: Apa yang sebenarnya bisa dilakukan murid-murid saya untuk merasakan dan mengolah persoalan moral sedalah itu?

Saya terhenyak. Dunia di sekitar saya mendadak hening. Saya tak lagi mendengar lagu-lagu Natal yang tengah didaraskan. Pikiran saya sepertinya tengah berusaha menjangkau sebuah simpulan sederhana, yakni: “Mungkin saja, sastra memang tidak bekerja sebagai solusi teknis. Ia tidak menghentikan banjir sebagaimana bendungan, atau mengatur distribusi sumber daya sebagaimana kebijakan publik. Sastra tidak “menyelamatkan dunia” dalam pengertian praktis. Namun…

Di situlah kekuatannya.

“… sastra sejatinya bekerja sebagai ruang penginderaan moral. Sebuah medium yang memungkinkan manusia merasakan, membayangkan, dan memahami dunia secara lebih mendadalam. Sastra, tidak pernah dan tak hendak memberikan jawaban final, melainkan memperluas dan memperdalam pertanyaan,”

“Sementara itu, dalam praktik pembelajaran, sastra rupanya bukan alat untuk menjelaskan dunia secara, tetapi perangkat yang membantu murid-murid saya  melihat dan menghadapi kompleksitas dunia.”

Kembali pada misa Natal, Ketika Kardinal Suharyo berbicara tentang “rumah bersama”, bagi saya ia tidak hanya menyampaikan pesan teologis, tetapi membuka sebuah horizon etis bahwa manusia hidup dalam keterhubungan, dan setiap tindakan memiliki konsekuensi yang melampaui dirinya. Di kelas sastra saya, gagasan tersebut tak perlu hadir sebagai doktrin. Ia hadir sebagaimana pengalaman baru yang perlu dirasakan tubuh, dinegosiasikan, bahkan dipertanyakan ulang oleh Melvin dan kawan-kawannya.

Di titik itulah konsep ruang ketiga tengah bekerja secara nyata.

Ya, Jika pada perjumpaan dengan Mbak Yessy, Kak Nataya, dan Jojo ruang ketiga hadir sebagai perjumpaan dengan “yang lain”, dan bersama Melvin ia muncul sebagai tegangan zaman, maka dalam refleksi atas gagasan Kardinal Suharyo, ruang ketiga menjelma sebagai ruang etis. Sebuah ruang di mana para murid saya mulai menempatkan dirinya di dalam dunia yang lebih luas. Dunia yang penuh relasi, konflik, dan tanggung jawab.

Dalam ruang tersebut, teks sastra, pengalaman personal, realitas sosial, dan wacana moral tidak berdiri sendiri-sendiri, melainkan saling berkelindan. Di titik-titik itulah pembelajaran bergerak melampaui transfer pengetahuan.

Sastra memang tidak bisa menghentikan banjir, tetapi tanpa sastra, kita mungkin tidak akan pernah benar-benar bertanya: “Siapa yang membuat air itu meluap? Dan siapa yang seharusnya bertanggung jawab?” [T]

Jakarta, 17 April 2024

Tags: Pendidikanpendidikan sastrasastraStebby Julionatan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jika Rakyat Curang, Jangan-jangan Diajarkan oleh Negara dan Agama?

Next Post

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

Stebby Julionatan

Stebby Julionatan

Tinggal di Probolinggo, Jawa Timur dan saat ini tengah melanjutkan pendidikannya di Kajian Gender – Universitas Indonesia.

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

Kata- kata pada Puisi 'Hatiku Selembar Daun' Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co