14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menikmati Sate Keladi Khas Pedawa yang Unik

Jaswanto by Jaswanto
January 9, 2024
in Kuliner
Menikmati Sate Keladi Khas Pedawa yang Unik

Sate keladi dipanggang di atas bara | Foto: Jaswanto

KELADI-KELADI itu dikupas, dipisahkan dari kulitnya, kemudian dimasukkan ke dalam wadah anyaman bambu yang sudah disediakan. Setelah dirasa cukup, keladi-keladi yang sudah dikupas itu dicuci sampai bersih dengan air yang mengalir—sampai lendir dan kotoran yang menempel, hilang.

Tungku api sudah dinyalakan. Lidah api menjilat-jilat, memamah kayu kering yang renyah. Asap seketika membumbung melalui celah-celah atap dapur sederhana itu. Seorang perempuan muda meletakkan dandang berisi air di atas tungku dengan sangat hati-hati.

Ia menggeser-geser alat kukus dan penanak nasi tradisional itu sedikit demi sedikit, mencari posisi yang tepat supaya dandang tidak oleng. Beberapa kali ia memalingkan muka, menghindar dari asap yang membuat matanya perih dan mulutnya terbatuk.

Di teras dapur sederhana yang dikerubung tanaman hias dan rimbun pohon cengkih itu, seorang lelaki tua, Putu Suwastika, bersama perempuan tua, sedang menyiapkan bumbu base genep—bumbu khas Bali yang diabadikan Soekarno dalam buku gemuk Mustikarasa itu. Di sana ada cabai, lengkuas, kunyit, bawang putih dan merah, kencur, daun dan buah jeruk limau. Rempah-rempah itu dimasukkan ke dalam alat penumbuk bumbu tradisional yang terbuat dari kayu.

Proses pengukusan keladi / Foto: Jaswanto

“Bumbu ini nanti ditumbuk,” kata Suwastika sambil memasukkan terasi, garam, dan gula merah, sebelum racikan bumbu itu ditumbuk.

Sementara itu, air dalam dandang sudah mendidih. Dengan santai dan liat, perempuan muda itu memasukkan keladi-keladi yang sudah dicuci tadi ke dalam dandang yang sebelumnya sudah dipasangi kuskusan—atau kukusan dalam bahasa Jawa. Setelah memastikan tak ada kotoran yang ikut, ia menutupnya rapat-rapat—penutup itu terbuat dari tanah liat.

Sesaat sebelum ia diminta Suwastika untuk segera memarut kelapa, perempuan muda itu menambah kayu bakar ke dalam tungku. Api semakin membesar. Udara di dekatnya menjadi hangat. Sangat cocok untuk ngidu—menghangatkan badan di depan tungku dikala kedinginan.

Kelapa-kelapa yang sudah dikupas dan dicuci diparut semua. “Ini nanti dicampurkan dengan keladi kukus yang sudah ditumbuk,” ujar perempuan itu sambil tetap memarut. “Tapi nanti diambil sedikit untuk diperas santannya—untuk membasahi tangan supaya tidak lengket saat melilitkan adonan.”

Suwastika sudah selesai meracik bumbu. Lalu ia meminta perempuan muda lainnya untuk menumbuknya. Campuran rempah-rempah itu hancur dan menjadi adonan bumbu berwarna kecoklatan yang kasar. Perempuan itu memindahkannya ke dalam piring makan.

Sambil menunggu keladi masak, Suwastika menyiapkan pelepah kelapa yang dibelah seukuran jari telunjuk dan dipotong sejengkal jari orang dewasa. Potongan pelepah kelapa itu digunakan sebagai stik di mana adonan keladi akan dililitkan di sana. “Sebenarnya bisa pakai bambu kering, tapi rasanya tidak akan senikmat kalau pakai pelepah kelapa,” terangnya sambil tersenyum yang memembuat kerutan-kerutan di wajahnya semakin tampak jelas.

Bumbu sate keladi / Foto: Jaswanto

Bumbu sudah siap. Stik, kelapa parut, dan santan juga sudah berada di tempatnya masing-masing. Sedangkan keladi sudah diangkat dari tempat kukus, tinggal ditumbuk dan dihaluskan menjadi semacam adonan kue ulang tahun. Jika semua bahan sudah siap, saatnya untuk mencampur adonan.

Pertama-tama Suwastika menaruh segenggam-dua genggam kelapa parut ke dalam adonan keladi yang sudah ditumbuk. Lalu mengambil beberapa jumput bumbu yang sudah dihaluskan dan mencampurkannya ke dalam adonan. Ia mengaduk-aduknya, meremasnya hingga semua tercampur rata.

“Karena adonannya lengket, tangan harus dibasahi dengan air santan,” katanya sambil mencelupkan tangan kanannya ke dalam baskom berisi air santan yang terletak di sebelah kirinya. “Nah, kalau sudah tercampur rata, sekarang tinggal kita lilitkan ke stik pelepah ini,” lanjutnya. Ia mengambil setengah genggam adonan dan menempelkannya ke pelepah kelapa dengan hati-hati, persis seperti membuat sate lilit ikan di daerah pesisir.

Ia memijit-mijitnya hingga adonan tersebut menempel dengan sempurna. Maka jadilah setusuk sate keladi yang siap dipanggang di atas bara api.

Sate keladi merupakan satu dari sekian banyak kuliner yang dihasilkan dari buah pikir orang-orang Pedawa. Tak jelas asal-usulnya, tapi orang-orang meyakini bahwa kuliner “yang tak biasa” ini sudah ada sejak zaman dulu. Tak biasa karena, alih-alih sekadar dikukus atau direbus sebagaimana daerah lain memperlakukan keladi, orang-orang Pedawa justru kepikiran untuk mengolahnya menjadi “sate”.

“Orang-orang sini [Pedawa] biasanya memakan sate keladi bersama jukut paku—tumis paku,” kata Suwastika.

Suwastika adalah salah seorang yang dinilai memiliki tangan ajaib dalam membuat sate keladi. Resep yang ia terima dari orang tuanya dulu, masih melekat dalam ingatannya—bahkan ia masih percaya bahwa dengan menggunakan pelepah kelapa sebagai pelilit, sate keladi akan terasa lebih manis dan gurih daripada menggunakan bambu kering.

Di Pedawa, menurut Suwastika, sete keladi merupakan makanan semua orang, juga tidak memiliki tempat dan perlakuan khusus misalnya dipakai untuk kelengkapan upacara atau ritual keagamaan. Semua orang bisa menikmatinya—dan mungkin juga bisa membuatnya.

Sate keladi yang sudah matang / Foto: Jaswanto

Di Pedawa keladi bisa tumbuh di mana-mana. Di pinggir sungai, di pagar kebun, di belakang rumah, atau di sela-sela tanaman cengkih dan buah-buahan. Tanaman ini tidak memerlukan perawatan khusus—bahkan, cara menanamnya pun bisa secara sembarangan: dilempar, dijatuhkan, atau cukup ditaruh tanpa sengaja di tanah basah.

Sate keladi memiliki rasa yang unik. Gurih keladi Pedawa dan kelapa parut, dipadu dengan bumbu yang kaya rempah, kemudian dipanggang di atas bara, menciptakan rasa yang khas, yang tentu tidak dimiliki kuliner lain. Ini adalah buah dari kearifan lokal yang mampu mengolah sesuatu yang biasa menjadi sesuatu yang memiliki nilai tambah. “Sate keladi enaknya dinikmati selagi hangat,” ujar Suwastika sembari memberikan beberapa tusuk sate keladi kepada orang-orang yang bertamu ke rumahnya.   

Pada akhirnya, memasak, atau mengolah makanan, menurut Mumu Aloha, tak lagi dianggap sebagai semata kegiatan rekreasional, pengisi waktu senggang di akhir pekan, atau momen untuk menciptakan kebersamaan dalam keluarga. Memasak dan mengolah makanan kini dipandang secara antropologis sebagai bagian dari praktik kebudayaan yang harus terus-menerus dijaga, dilestarikan, dan diwariskan.

Dapur menjadi pertimbangan penting, sebab dari sinilah perjalanan dimulai, kata Mumu. Dan di mata para juru masak dan pewaris ramuan bumbu-bumbu, kuliner—atau yang berkaitan dengannya—terus-menerus dipertimbangkan sebagai bagian dari memori kolektif, sumber kearifan bersama, juga titik tolak dan sekaligus tempat kembali.[T]

Reporter: Jaswanto
Penulis: Jaswanto
Editor: Made Adnyana

BACA artikel lain tentang DESA PEDAWA di sini

Bali Wildlife Camp 2024: Ikhtiar Menebar Pengetahuan dan Menanam Kesadaran Konservasi Alam Liar di Bali
Asuh Kayuan, Usaha Merawat dan Melestarikan Sumber Mata Air di Pedawa
Pedawa: Kebahagiaan Adalah Kekeluargaan
Anak-Anak Pedawa dan Seni Melipat Kertas
Tags: bulelengDesa Pedawakulinerkuliner khas balikuliner lokalkuliner nusantaraSingaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Interferensi Bahasa Bali dan Bahasa Asing Terhadap Bahasa Indonesia, Bahayakah?

Next Post

Menimbang Kekuatan Prabowo-Gibran di Buleleng

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Serangga dalam Piring Makan Kita

by Jaswanto
April 25, 2026
0
Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

Read moreDetails

Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
April 12, 2026
0
Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

MATAHARI baru saja mengintip di ufuk timur Kota Singaraja. Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 WITA, namun denyut nadi di Jalan...

Read moreDetails

Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

by Jaswanto
April 2, 2026
0
Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

“BELAJAR jualan dari ibu.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari sosok perempuan yang sedang berdiri di belakang lapak dagangannya. Pagi...

Read moreDetails

Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

by Tobing Crysnanjaya
March 15, 2026
0
Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

Jogja, perjalanan yang tak singkat. Menghabiskan waktu hingga 9 jam lamanya. Beberapa kali singgah di Rest Area sepanjang Toll Cipali,...

Read moreDetails

Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026: Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

by Nyoman Budarsana
February 27, 2026
0
Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026:  Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

Satu hal yang baru dalam perhelatan Bulan Bahasa Bali VIII tahun 2026 adalah pameran kuliner yang berlokasi sebelah barat Gedung...

Read moreDetails

Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

by Dede Putra Wiguna
January 11, 2026
0
Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

LANGIT masih gelap ketika aroma kayu bakar mulai menyelinap dari sebuah dapur sederhana di Banjar Gelulung, Sukawati, Gianyar. Matahari belum...

Read moreDetails

Kentongan Pak Mbung di Pasar Blahkiuh dan Tipat Tahu yang Tak Pernah Sepi

by Ni Putu Vira Astri Agustini
December 21, 2025
0
Kentongan Pak Mbung di Pasar Blahkiuh dan Tipat Tahu yang Tak Pernah Sepi

PAGI di Pasar Blahkiuh selalu dimulai dengan suara yang sama sejak puluhan tahun lalu. Bukan teriakan pedagang, bukan pula deru...

Read moreDetails

Dugong 21: Dari Kaset ke Lawar

by Dede Putra Wiguna
November 22, 2025
0
Dugong 21: Dari Kaset ke Lawar

“Mbok, nasi lawarnya tiga porsi, ekstra sate, minumnya temulawak ya!” ucap seorang pemuda saat memesan makanan, lalu tergesa masuk ke...

Read moreDetails

Twntytoo Coffee, Kopi dan Perjalanan Ical dari Kota ke Kota di Indonesia

by I Gede Teddy Setiadi
November 11, 2025
0
Twntytoo Coffee, Kopi dan Perjalanan Ical dari Kota ke Kota di Indonesia

KESAN friendly langsung terasa saat bertemu dengan Muhamad Faisal. Ia pemuda asal Pekanbaru, Riau, tapi kami bertemu di di Jalan...

Read moreDetails

Kisah Bu Jero, Penjual Jaja Laklak yang Tetap Bertahan dengan Tungku Kayu di Desa Banjar

by Putu Ayu Ariani
October 16, 2025
0
Kisah Bu Jero, Penjual Jaja Laklak yang Tetap Bertahan dengan Tungku Kayu di Desa Banjar

DINI hari di Desa Banjar, Kabupaten Buleleng, suasana masih diselimuti udara dingin. Namun di depan sebuah warung sederhana, cahaya api...

Read moreDetails
Next Post
Menimbang Kekuatan Prabowo-Gibran di Buleleng

Menimbang Kekuatan Prabowo-Gibran di Buleleng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co