2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menikmati Sate Keladi Khas Pedawa yang Unik

Jaswanto by Jaswanto
January 9, 2024
in Kuliner
Menikmati Sate Keladi Khas Pedawa yang Unik

Sate keladi dipanggang di atas bara | Foto: Jaswanto

KELADI-KELADI itu dikupas, dipisahkan dari kulitnya, kemudian dimasukkan ke dalam wadah anyaman bambu yang sudah disediakan. Setelah dirasa cukup, keladi-keladi yang sudah dikupas itu dicuci sampai bersih dengan air yang mengalir—sampai lendir dan kotoran yang menempel, hilang.

Tungku api sudah dinyalakan. Lidah api menjilat-jilat, memamah kayu kering yang renyah. Asap seketika membumbung melalui celah-celah atap dapur sederhana itu. Seorang perempuan muda meletakkan dandang berisi air di atas tungku dengan sangat hati-hati.

Ia menggeser-geser alat kukus dan penanak nasi tradisional itu sedikit demi sedikit, mencari posisi yang tepat supaya dandang tidak oleng. Beberapa kali ia memalingkan muka, menghindar dari asap yang membuat matanya perih dan mulutnya terbatuk.

Di teras dapur sederhana yang dikerubung tanaman hias dan rimbun pohon cengkih itu, seorang lelaki tua, Putu Suwastika, bersama perempuan tua, sedang menyiapkan bumbu base genep—bumbu khas Bali yang diabadikan Soekarno dalam buku gemuk Mustikarasa itu. Di sana ada cabai, lengkuas, kunyit, bawang putih dan merah, kencur, daun dan buah jeruk limau. Rempah-rempah itu dimasukkan ke dalam alat penumbuk bumbu tradisional yang terbuat dari kayu.

Proses pengukusan keladi / Foto: Jaswanto

“Bumbu ini nanti ditumbuk,” kata Suwastika sambil memasukkan terasi, garam, dan gula merah, sebelum racikan bumbu itu ditumbuk.

Sementara itu, air dalam dandang sudah mendidih. Dengan santai dan liat, perempuan muda itu memasukkan keladi-keladi yang sudah dicuci tadi ke dalam dandang yang sebelumnya sudah dipasangi kuskusan—atau kukusan dalam bahasa Jawa. Setelah memastikan tak ada kotoran yang ikut, ia menutupnya rapat-rapat—penutup itu terbuat dari tanah liat.

Sesaat sebelum ia diminta Suwastika untuk segera memarut kelapa, perempuan muda itu menambah kayu bakar ke dalam tungku. Api semakin membesar. Udara di dekatnya menjadi hangat. Sangat cocok untuk ngidu—menghangatkan badan di depan tungku dikala kedinginan.

Kelapa-kelapa yang sudah dikupas dan dicuci diparut semua. “Ini nanti dicampurkan dengan keladi kukus yang sudah ditumbuk,” ujar perempuan itu sambil tetap memarut. “Tapi nanti diambil sedikit untuk diperas santannya—untuk membasahi tangan supaya tidak lengket saat melilitkan adonan.”

Suwastika sudah selesai meracik bumbu. Lalu ia meminta perempuan muda lainnya untuk menumbuknya. Campuran rempah-rempah itu hancur dan menjadi adonan bumbu berwarna kecoklatan yang kasar. Perempuan itu memindahkannya ke dalam piring makan.

Sambil menunggu keladi masak, Suwastika menyiapkan pelepah kelapa yang dibelah seukuran jari telunjuk dan dipotong sejengkal jari orang dewasa. Potongan pelepah kelapa itu digunakan sebagai stik di mana adonan keladi akan dililitkan di sana. “Sebenarnya bisa pakai bambu kering, tapi rasanya tidak akan senikmat kalau pakai pelepah kelapa,” terangnya sambil tersenyum yang memembuat kerutan-kerutan di wajahnya semakin tampak jelas.

Bumbu sate keladi / Foto: Jaswanto

Bumbu sudah siap. Stik, kelapa parut, dan santan juga sudah berada di tempatnya masing-masing. Sedangkan keladi sudah diangkat dari tempat kukus, tinggal ditumbuk dan dihaluskan menjadi semacam adonan kue ulang tahun. Jika semua bahan sudah siap, saatnya untuk mencampur adonan.

Pertama-tama Suwastika menaruh segenggam-dua genggam kelapa parut ke dalam adonan keladi yang sudah ditumbuk. Lalu mengambil beberapa jumput bumbu yang sudah dihaluskan dan mencampurkannya ke dalam adonan. Ia mengaduk-aduknya, meremasnya hingga semua tercampur rata.

“Karena adonannya lengket, tangan harus dibasahi dengan air santan,” katanya sambil mencelupkan tangan kanannya ke dalam baskom berisi air santan yang terletak di sebelah kirinya. “Nah, kalau sudah tercampur rata, sekarang tinggal kita lilitkan ke stik pelepah ini,” lanjutnya. Ia mengambil setengah genggam adonan dan menempelkannya ke pelepah kelapa dengan hati-hati, persis seperti membuat sate lilit ikan di daerah pesisir.

Ia memijit-mijitnya hingga adonan tersebut menempel dengan sempurna. Maka jadilah setusuk sate keladi yang siap dipanggang di atas bara api.

Sate keladi merupakan satu dari sekian banyak kuliner yang dihasilkan dari buah pikir orang-orang Pedawa. Tak jelas asal-usulnya, tapi orang-orang meyakini bahwa kuliner “yang tak biasa” ini sudah ada sejak zaman dulu. Tak biasa karena, alih-alih sekadar dikukus atau direbus sebagaimana daerah lain memperlakukan keladi, orang-orang Pedawa justru kepikiran untuk mengolahnya menjadi “sate”.

“Orang-orang sini [Pedawa] biasanya memakan sate keladi bersama jukut paku—tumis paku,” kata Suwastika.

Suwastika adalah salah seorang yang dinilai memiliki tangan ajaib dalam membuat sate keladi. Resep yang ia terima dari orang tuanya dulu, masih melekat dalam ingatannya—bahkan ia masih percaya bahwa dengan menggunakan pelepah kelapa sebagai pelilit, sate keladi akan terasa lebih manis dan gurih daripada menggunakan bambu kering.

Di Pedawa, menurut Suwastika, sete keladi merupakan makanan semua orang, juga tidak memiliki tempat dan perlakuan khusus misalnya dipakai untuk kelengkapan upacara atau ritual keagamaan. Semua orang bisa menikmatinya—dan mungkin juga bisa membuatnya.

Sate keladi yang sudah matang / Foto: Jaswanto

Di Pedawa keladi bisa tumbuh di mana-mana. Di pinggir sungai, di pagar kebun, di belakang rumah, atau di sela-sela tanaman cengkih dan buah-buahan. Tanaman ini tidak memerlukan perawatan khusus—bahkan, cara menanamnya pun bisa secara sembarangan: dilempar, dijatuhkan, atau cukup ditaruh tanpa sengaja di tanah basah.

Sate keladi memiliki rasa yang unik. Gurih keladi Pedawa dan kelapa parut, dipadu dengan bumbu yang kaya rempah, kemudian dipanggang di atas bara, menciptakan rasa yang khas, yang tentu tidak dimiliki kuliner lain. Ini adalah buah dari kearifan lokal yang mampu mengolah sesuatu yang biasa menjadi sesuatu yang memiliki nilai tambah. “Sate keladi enaknya dinikmati selagi hangat,” ujar Suwastika sembari memberikan beberapa tusuk sate keladi kepada orang-orang yang bertamu ke rumahnya.   

Pada akhirnya, memasak, atau mengolah makanan, menurut Mumu Aloha, tak lagi dianggap sebagai semata kegiatan rekreasional, pengisi waktu senggang di akhir pekan, atau momen untuk menciptakan kebersamaan dalam keluarga. Memasak dan mengolah makanan kini dipandang secara antropologis sebagai bagian dari praktik kebudayaan yang harus terus-menerus dijaga, dilestarikan, dan diwariskan.

Dapur menjadi pertimbangan penting, sebab dari sinilah perjalanan dimulai, kata Mumu. Dan di mata para juru masak dan pewaris ramuan bumbu-bumbu, kuliner—atau yang berkaitan dengannya—terus-menerus dipertimbangkan sebagai bagian dari memori kolektif, sumber kearifan bersama, juga titik tolak dan sekaligus tempat kembali.[T]

Reporter: Jaswanto
Penulis: Jaswanto
Editor: Made Adnyana

BACA artikel lain tentang DESA PEDAWA di sini

Bali Wildlife Camp 2024: Ikhtiar Menebar Pengetahuan dan Menanam Kesadaran Konservasi Alam Liar di Bali
Asuh Kayuan, Usaha Merawat dan Melestarikan Sumber Mata Air di Pedawa
Pedawa: Kebahagiaan Adalah Kekeluargaan
Anak-Anak Pedawa dan Seni Melipat Kertas
Tags: bulelengDesa Pedawakulinerkuliner khas balikuliner lokalkuliner nusantaraSingaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Interferensi Bahasa Bali dan Bahasa Asing Terhadap Bahasa Indonesia, Bahayakah?

Next Post

Menimbang Kekuatan Prabowo-Gibran di Buleleng

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
0
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

Read moreDetails

Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
September 4, 2026
0
Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

MATAHARI pagi belum genap sejengkal naik ketika sebuah gerobak biru berhenti di pinggir Jalan Merak, Singaraja. Di belakangnya, truk-truk besar...

Read moreDetails

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

by Nyoman Budarsana
September 1, 2026
0
Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

UDARA pagi terasa panas ketika rangkaian Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 memasuki penghujung acara. Usai menutup festival,...

Read moreDetails

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

by Tri Nugroho Adi
August 9, 2026
0
Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

"BU, kulo mung mbekto kuluban godhong kates nggih? Lha ya mung niku sing wonten teng  nggriyo ." (Bu, saya hanya...

Read moreDetails

Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

by Jaswanto
June 17, 2026
0
Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan,...

Read moreDetails

Serangga dalam Piring Makan Kita

by Jaswanto
April 25, 2026
0
Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

Read moreDetails

Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
April 12, 2026
0
Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

MATAHARI baru saja mengintip di ufuk timur Kota Singaraja. Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 WITA, namun denyut nadi di Jalan...

Read moreDetails

Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

by Jaswanto
April 2, 2026
0
Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

“BELAJAR jualan dari ibu.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari sosok perempuan yang sedang berdiri di belakang lapak dagangannya. Pagi...

Read moreDetails

Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

by Tobing Crysnanjaya
March 15, 2026
0
Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

Jogja, perjalanan yang tak singkat. Menghabiskan waktu hingga 9 jam lamanya. Beberapa kali singgah di Rest Area sepanjang Toll Cipali,...

Read moreDetails

Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026: Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

by Nyoman Budarsana
February 27, 2026
0
Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026:  Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

Satu hal yang baru dalam perhelatan Bulan Bahasa Bali VIII tahun 2026 adalah pameran kuliner yang berlokasi sebelah barat Gedung...

Read moreDetails
Next Post
Menimbang Kekuatan Prabowo-Gibran di Buleleng

Menimbang Kekuatan Prabowo-Gibran di Buleleng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co