22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menikmati Sate Keladi Khas Pedawa yang Unik

Jaswanto by Jaswanto
January 9, 2024
in Kuliner
Menikmati Sate Keladi Khas Pedawa yang Unik

Sate keladi dipanggang di atas bara | Foto: Jaswanto

KELADI-KELADI itu dikupas, dipisahkan dari kulitnya, kemudian dimasukkan ke dalam wadah anyaman bambu yang sudah disediakan. Setelah dirasa cukup, keladi-keladi yang sudah dikupas itu dicuci sampai bersih dengan air yang mengalir—sampai lendir dan kotoran yang menempel, hilang.

Tungku api sudah dinyalakan. Lidah api menjilat-jilat, memamah kayu kering yang renyah. Asap seketika membumbung melalui celah-celah atap dapur sederhana itu. Seorang perempuan muda meletakkan dandang berisi air di atas tungku dengan sangat hati-hati.

Ia menggeser-geser alat kukus dan penanak nasi tradisional itu sedikit demi sedikit, mencari posisi yang tepat supaya dandang tidak oleng. Beberapa kali ia memalingkan muka, menghindar dari asap yang membuat matanya perih dan mulutnya terbatuk.

Di teras dapur sederhana yang dikerubung tanaman hias dan rimbun pohon cengkih itu, seorang lelaki tua, Putu Suwastika, bersama perempuan tua, sedang menyiapkan bumbu base genep—bumbu khas Bali yang diabadikan Soekarno dalam buku gemuk Mustikarasa itu. Di sana ada cabai, lengkuas, kunyit, bawang putih dan merah, kencur, daun dan buah jeruk limau. Rempah-rempah itu dimasukkan ke dalam alat penumbuk bumbu tradisional yang terbuat dari kayu.

Proses pengukusan keladi / Foto: Jaswanto

“Bumbu ini nanti ditumbuk,” kata Suwastika sambil memasukkan terasi, garam, dan gula merah, sebelum racikan bumbu itu ditumbuk.

Sementara itu, air dalam dandang sudah mendidih. Dengan santai dan liat, perempuan muda itu memasukkan keladi-keladi yang sudah dicuci tadi ke dalam dandang yang sebelumnya sudah dipasangi kuskusan—atau kukusan dalam bahasa Jawa. Setelah memastikan tak ada kotoran yang ikut, ia menutupnya rapat-rapat—penutup itu terbuat dari tanah liat.

Sesaat sebelum ia diminta Suwastika untuk segera memarut kelapa, perempuan muda itu menambah kayu bakar ke dalam tungku. Api semakin membesar. Udara di dekatnya menjadi hangat. Sangat cocok untuk ngidu—menghangatkan badan di depan tungku dikala kedinginan.

Kelapa-kelapa yang sudah dikupas dan dicuci diparut semua. “Ini nanti dicampurkan dengan keladi kukus yang sudah ditumbuk,” ujar perempuan itu sambil tetap memarut. “Tapi nanti diambil sedikit untuk diperas santannya—untuk membasahi tangan supaya tidak lengket saat melilitkan adonan.”

Suwastika sudah selesai meracik bumbu. Lalu ia meminta perempuan muda lainnya untuk menumbuknya. Campuran rempah-rempah itu hancur dan menjadi adonan bumbu berwarna kecoklatan yang kasar. Perempuan itu memindahkannya ke dalam piring makan.

Sambil menunggu keladi masak, Suwastika menyiapkan pelepah kelapa yang dibelah seukuran jari telunjuk dan dipotong sejengkal jari orang dewasa. Potongan pelepah kelapa itu digunakan sebagai stik di mana adonan keladi akan dililitkan di sana. “Sebenarnya bisa pakai bambu kering, tapi rasanya tidak akan senikmat kalau pakai pelepah kelapa,” terangnya sambil tersenyum yang memembuat kerutan-kerutan di wajahnya semakin tampak jelas.

Bumbu sate keladi / Foto: Jaswanto

Bumbu sudah siap. Stik, kelapa parut, dan santan juga sudah berada di tempatnya masing-masing. Sedangkan keladi sudah diangkat dari tempat kukus, tinggal ditumbuk dan dihaluskan menjadi semacam adonan kue ulang tahun. Jika semua bahan sudah siap, saatnya untuk mencampur adonan.

Pertama-tama Suwastika menaruh segenggam-dua genggam kelapa parut ke dalam adonan keladi yang sudah ditumbuk. Lalu mengambil beberapa jumput bumbu yang sudah dihaluskan dan mencampurkannya ke dalam adonan. Ia mengaduk-aduknya, meremasnya hingga semua tercampur rata.

“Karena adonannya lengket, tangan harus dibasahi dengan air santan,” katanya sambil mencelupkan tangan kanannya ke dalam baskom berisi air santan yang terletak di sebelah kirinya. “Nah, kalau sudah tercampur rata, sekarang tinggal kita lilitkan ke stik pelepah ini,” lanjutnya. Ia mengambil setengah genggam adonan dan menempelkannya ke pelepah kelapa dengan hati-hati, persis seperti membuat sate lilit ikan di daerah pesisir.

Ia memijit-mijitnya hingga adonan tersebut menempel dengan sempurna. Maka jadilah setusuk sate keladi yang siap dipanggang di atas bara api.

Sate keladi merupakan satu dari sekian banyak kuliner yang dihasilkan dari buah pikir orang-orang Pedawa. Tak jelas asal-usulnya, tapi orang-orang meyakini bahwa kuliner “yang tak biasa” ini sudah ada sejak zaman dulu. Tak biasa karena, alih-alih sekadar dikukus atau direbus sebagaimana daerah lain memperlakukan keladi, orang-orang Pedawa justru kepikiran untuk mengolahnya menjadi “sate”.

“Orang-orang sini [Pedawa] biasanya memakan sate keladi bersama jukut paku—tumis paku,” kata Suwastika.

Suwastika adalah salah seorang yang dinilai memiliki tangan ajaib dalam membuat sate keladi. Resep yang ia terima dari orang tuanya dulu, masih melekat dalam ingatannya—bahkan ia masih percaya bahwa dengan menggunakan pelepah kelapa sebagai pelilit, sate keladi akan terasa lebih manis dan gurih daripada menggunakan bambu kering.

Di Pedawa, menurut Suwastika, sete keladi merupakan makanan semua orang, juga tidak memiliki tempat dan perlakuan khusus misalnya dipakai untuk kelengkapan upacara atau ritual keagamaan. Semua orang bisa menikmatinya—dan mungkin juga bisa membuatnya.

Sate keladi yang sudah matang / Foto: Jaswanto

Di Pedawa keladi bisa tumbuh di mana-mana. Di pinggir sungai, di pagar kebun, di belakang rumah, atau di sela-sela tanaman cengkih dan buah-buahan. Tanaman ini tidak memerlukan perawatan khusus—bahkan, cara menanamnya pun bisa secara sembarangan: dilempar, dijatuhkan, atau cukup ditaruh tanpa sengaja di tanah basah.

Sate keladi memiliki rasa yang unik. Gurih keladi Pedawa dan kelapa parut, dipadu dengan bumbu yang kaya rempah, kemudian dipanggang di atas bara, menciptakan rasa yang khas, yang tentu tidak dimiliki kuliner lain. Ini adalah buah dari kearifan lokal yang mampu mengolah sesuatu yang biasa menjadi sesuatu yang memiliki nilai tambah. “Sate keladi enaknya dinikmati selagi hangat,” ujar Suwastika sembari memberikan beberapa tusuk sate keladi kepada orang-orang yang bertamu ke rumahnya.   

Pada akhirnya, memasak, atau mengolah makanan, menurut Mumu Aloha, tak lagi dianggap sebagai semata kegiatan rekreasional, pengisi waktu senggang di akhir pekan, atau momen untuk menciptakan kebersamaan dalam keluarga. Memasak dan mengolah makanan kini dipandang secara antropologis sebagai bagian dari praktik kebudayaan yang harus terus-menerus dijaga, dilestarikan, dan diwariskan.

Dapur menjadi pertimbangan penting, sebab dari sinilah perjalanan dimulai, kata Mumu. Dan di mata para juru masak dan pewaris ramuan bumbu-bumbu, kuliner—atau yang berkaitan dengannya—terus-menerus dipertimbangkan sebagai bagian dari memori kolektif, sumber kearifan bersama, juga titik tolak dan sekaligus tempat kembali.[T]

Reporter: Jaswanto
Penulis: Jaswanto
Editor: Made Adnyana

BACA artikel lain tentang DESA PEDAWA di sini

Bali Wildlife Camp 2024: Ikhtiar Menebar Pengetahuan dan Menanam Kesadaran Konservasi Alam Liar di Bali
Asuh Kayuan, Usaha Merawat dan Melestarikan Sumber Mata Air di Pedawa
Pedawa: Kebahagiaan Adalah Kekeluargaan
Anak-Anak Pedawa dan Seni Melipat Kertas
Tags: bulelengDesa Pedawakulinerkuliner khas balikuliner lokalkuliner nusantaraSingaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Interferensi Bahasa Bali dan Bahasa Asing Terhadap Bahasa Indonesia, Bahayakah?

Next Post

Menimbang Kekuatan Prabowo-Gibran di Buleleng

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

by Rusdy Ulu
October 8, 2026
0
Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

BAGI orang Indonesia, keju bukan makanan yang hadir setiap hari di meja makan. Karena itu, ketika dua belas peserta berkumpul...

Read moreDetails

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
0
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

Read moreDetails

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
0
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

Read moreDetails

Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
September 4, 2026
0
Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

MATAHARI pagi belum genap sejengkal naik ketika sebuah gerobak biru berhenti di pinggir Jalan Merak, Singaraja. Di belakangnya, truk-truk besar...

Read moreDetails

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

by Nyoman Budarsana
September 1, 2026
0
Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

UDARA pagi terasa panas ketika rangkaian Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 memasuki penghujung acara. Usai menutup festival,...

Read moreDetails

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

by Tri Nugroho Adi
August 9, 2026
0
Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

"BU, kulo mung mbekto kuluban godhong kates nggih? Lha ya mung niku sing wonten teng  nggriyo ." (Bu, saya hanya...

Read moreDetails

Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

by Jaswanto
June 17, 2026
0
Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan,...

Read moreDetails

Serangga dalam Piring Makan Kita

by Jaswanto
April 25, 2026
0
Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

Read moreDetails

Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
April 12, 2026
0
Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

MATAHARI baru saja mengintip di ufuk timur Kota Singaraja. Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 WITA, namun denyut nadi di Jalan...

Read moreDetails
Next Post
Menimbang Kekuatan Prabowo-Gibran di Buleleng

Menimbang Kekuatan Prabowo-Gibran di Buleleng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co