23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rujak Cingur Bu Mah, Kuliner Hibrid yang Unik dan Legendaris di Pasar Atom Surabaya

Jaswanto by Jaswanto
November 9, 2024
in Kuliner
Rujak Cingur Bu Mah, Kuliner Hibrid yang Unik dan Legendaris di Pasar Atom Surabaya

Warung Rujak Madura "Bu Mah" | Foto: tatkala.co/Jaswanto

TEPAT di bawah plang toko kue dan roti Kim Sen-Pia yang sudah berdiri sejak 1983 itu, di lantai dasar Pasar Atom Surabaya, berdempetan dengan lapak jeruk peras Oma dan lapak jamu tradisional AMM, terletak sebuah warung rujak sederhana dengan pengunjung yang tak putus-putus. Pergi satu datang tiga; mungkur empat antrean masih berlipat. Ya, orang-orang itu rela antre dan berdesak-desakan hanya untuk sebuah rujak.

“Yang mana ini duluan? Mbak yang sabar, ya. Antre!” seru seorang ibu bermasker sambil terus menggerakkan ulekannya. Ia sedang menghaluskan bumbu rujak di sebuah cobek berukuran raksasa. Melihat caranya ngulek, jelas ia bukan seorang amatiran.

Dan lihat, bahkan kedua kakinya tak berpijak di lantai, melainkan berdiri di atas kursi plastik mini yang kerap kita temui di tempat-tempat kolam pemancingan anak-anak—yang ikan-ikannya terbuat dari plastik dengan magnet di mulutnya itu.

Sementara seorang bapak bermata sipit—di sini banyak orang peranakan Tionghoa (Cindo) yang suka makan rujak cingur—mengunyah kerupuk sambil menunggu pesanan, sembari tertawa heran seorang ibu merekam perempuan yang ngulek bumbu dan berdiri di atas kursi cebol itu dengan telepon genggamnya.

“Soalnya mejanya tinggi,” ucap sosok yang direkam sambil terkekeh. Ialah Bu Mah, perempuan di balik Warung Rujak Madura “Bu Mah”—warung rujak cingur yang tak pernah sepi itu.

Warung rujak Bu Mah berdiri sekira 20 tahun yang lalu, sekitar 2004. Dan sejak itu pula, karena rasanya yang khas, menarik banyak orang untuk kembali dan membeli lagi, sampai menjadi pelanggan setia. Belakangan, warung rujak ini menjadi viral di media sosial sebab banyak direkam dan masuk konten para food vloger dari mana-mana, tak hanya asal Surabaya.

Rujak cingur Bu Mah memiliki dua varian. Pertama disebut matengan; kedua mentahan. Matengan berisi lontong, tahu, tempe, sayur (kangkung dan kecambah rebus), cingur, dan mentimun krai (blungko dalam bahasa orang Tuban bagian barat). Sedangkan mentahan terdiri dari bengkuang, pepaya, nanas, dan kedondong.

“Tapi campur [matengan dan mentahan] juga bisa,” terang Bu Mah.

Kunci rahasia kelezatan rujak Bu Mah ada pada petis yang digunakan, yaitu petis madura yang hitam pekat dan cenderung asin-gurih. Tak sampai di situ, yang membuatnya unik adalah, di dalam racikan bumbunya yang terdiri dari petis madura, gula merah, cabai, asam jawa, dan kacang tanah, ada pisang batu (kluthuk) muda yang diparut sekulit-kulitnya—ya, tanpa dikupas, kata yang punya warung.

Rujak cingur Bu Mah | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Tak jelas apa alasan di balik penggunaan pisang muda yang tak dikupas itu. Yang terang, sang penjual hanya mengatakan pokoknya seperti ada yang kurang kalau dikupas atau malah tidak memakainya sama sekali. “Kurang lengkap rasanya,” ujarnya.

Selain itu, satu lagi yang khas dari rujak cingur Bu Mah, tempenya digoreng hingga kering, kriuk dan gurih—dan memang sudah begitu dari dulu.

Kuliner Hibrid

Rujak cingur merupakan kuliner khas Jawa Timur yang banyak ditemui di jalan-jalan Kota Surabaya dan sekitarnya. Cingur dalam bahasa Jawa Timur berarti congor atau mulut/moncong—tepatnya di daerah sekitar hidung, bibir, dan dagu—sapi. Cingur akan direbus lama dengan mempertahankan tekstur kekenyalannya. Cingur merupakan bahan utama dalam pembuatan rujak unik ini. Dari sanalah namanya disematkan.

Petis madura di warung Bu Mah | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Beberapa penjual rujak cingur, kadang memasang cingur secara utuh sebagai bagian dari kepala sapi, untuk menunjukkan bahwa mereka benar-benar memakai cingur dan bukan hanya kulit (kikil) atau kaki sapi.

Sebagaimana telah disinggung di atas, rujak cingur adalah makanan yang terdiri dari sayuran, seperti kangkung dan kecambah rebus, irisan tahu, tempe, lontong, cingur rebus, dan beberapa irisan buah, yang disiram dengan bumbu kacang dan petis sehingga warnanya cokelat/kehitaman.

Dalam kasuk-kusuk warganet di media sosial, rujak cingur disebut berasal dari Mesir dan merupakan makanan kesukaan Raja Firaun. Itu jelas lelucon alih-alih data sejarah. Tak ada sumber pasti terkait hal konyol semacam itu. Dan belakangan terbukti itu hanya ulah seorang yang hendak mencari sensasi.

Rujak cingur merupakan kuliner yang unik. Ia disebut rujak tapi penampilannya lebih mirip pecel. Dan menurut dugaan Ary Budiyanto, dosen Antropologi Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya, sebagaimana dituliskan Dahlia Irawati dalam Rujak Cingur, Hibriditas Rujak Buah dan “Djanganan” dari Jawa yang terbit di Kompas (2021), makanan ini adalah bentuk hibrid (persilangan) antara rujak buah dan djanganan.

“Djanganan”, dalam buku yang ditulis Nonna Cornelia, Kokki Bitja, atau, Kitab Masak-Masakan (H)India, Jang Baharoe dan Samporna (tahun 1864) terbitan Cornell University, merupakan salah satu resep kuliner kolonial.

Menurut buku tersebut, djanganan adalah masakan yang terdiri dari kacang panjang, tauge, kol, daun kacang, mentimun, kangkung, dan buncis, yang disiram dengan campuran bumbu cabe, gula merah, terasi, kemiri bakar, asam, dan petis. Dan bisa jadi, rujak cingur juga merupakan gabungan antara pecel sayur dan rujak buah.

Ragam Budaya

Penggunaan petis sebagai bumbu penting dalam rujak cingur, termasuk warung rujak Bu Mah, dapat dilihat sebagai bentuk keragaman produk budaya. Dan dalam buku Monggo Dipun Badhog, Duku Imam Widodo menyebut petis sebagai bagian dari makanan khas orang Surabaya.

Bahkan, petis digambarkan menjadi simbol interaksi antarsuku di sana. Petis banyak didatangkan dari daerah lain, seperti Sidoarjo, Madura, Gresik, atau Lamongan. Selat Madura yang kaya beragam hasil laut membuat kota pesisir ini kaya akan jenis-jenis petis. Ada petis ikan, petis udang, ataupun petis lorjuk.

Warung Rujak Madura “Bu Mah” yang selalu ramai | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Tapi menurut ahli gastronomi peranakan Tionghoa, Aji Chen Bromokusumo, dalam tulisannya di web Budaya Tionghoa, bahwa petis yang enak selama ini merupakan buatan keturunan Tionghoa di pesisir utara Jawa, seperti Brebes, Tegal, Pekalongan, Semarang, termasuk Sidoarjo. Dan ia menduga petis sudah ada di pesisir utara Jawa pada abad ke-7.

Saat itu, pelabuhan-pelabuhan di utara Jawa menjadi hub atau penghubung antara masyarakat lokal dan dunia internasional. Jelas, selain berdagang, pun terjadi tukar menukar ilmu pengetahuan, termasuk ilmu pengawetan makanan, dalam hal ini untuk produk perikanan.

Sedangkan menurut Ary Budiyanto, dosen Antropologi Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya, petis sudah banyak dipakai untuk sebagai sambal sejak dahulu kala—dan itu tertuang dalam Serat Centhini.

Banyak orang berpendapat, masyarakat Surabaya menyukai petis udang berwarna kehitaman (petis madura), seperti yang digunakan Bu Mah dalam rujak cingurnya. Di Surabaya dan sekitarnya, petis banyak digunakan dalam bumbu masakan, dibandingkan dengan daerah lain yang juga memproduksi petis. Selain rujak cingur, ada pula sajian yang menggunakan petis sebagai bumbu utamanya, yakni asinan sayur—yang merupakan akulturasi dengan budaya Tionghoa.

Sampai di sini, terlepas dari narasi di atas, bagi penyukanya, rujak cingur adalah surga. Perpaduan kesegaran buah dan sayuran, serta daging cingur kenyal namun tidak alot, kemudian disiram bumbu (terdiri dari petis, kacang, cabe, dan terasi yang dilumat halus pakai ulekan batu), sungguh tak ada duanya.

Jangan terlalu pedas, sebab sensasi petisnya akan terasa sia-sia. Untuk melengkapi sepiring rujak cingur, bisa ditambah dengan kerupuk uyel renyah yang sesekali bisa dicocolkan ke bumbu. Kriuk… gurih, asin, manis, pedas, bercampur menjadi satu.

Bumbu rujak cingur Bu Mah | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Rujak cingur sudah menjadi semacam landmark Kota Surabaya. Ia seperti gudeg yang menjadi “nama lain” Yogyakarta. Atau lalapan yang selalu melekat di nama depan Lamongan—yang selalu ada di mana-mana. Dan rujak cingur Bu Mah di Pasar Atom Surabaya, jelas tak boleh dilupakan.

Berkunjunglah ke sana, selain karena rasa rujaknya yang enak, siapa tahu Anda bernasib baik seperti lirik lagu Is Haryanto berjudul “Rek Ayo Rek” yang booming tahun 1970-an itu: Sopo ngerti nasib Awak lagi mujur. Kenal anake sing dodol rujak cingur.

Di Warung Rujak Bu Mah, selain menyediakan rujak cingur, juga ada rujak madura, rujak manis, rujak tolet, dan rujak gobet.[T]

Semangkuk Gule dan 20 Ekor Kambing Muda untuk Kenikmatan Menonton Voli Tajun Cup
Ayam Gecok: Kuliner Khas Desa Wisata Cikakak di Banyumas
Roti Kembang Waru, Ikon Kuliner Khas Kotagede Yogyakarta

Tags: kulinerkuliner nusantararujak cingurSurabaya
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Subak Spirit Festival 2024, Pesta Rakyat, dan Usaha Pemuliaan Air

Next Post

Saat Muda Berkelana, Ketika Tua Bercerita: [Aksioma Gen Z di Negeri Sakura]

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

by Rusdy Ulu
October 8, 2026
0
Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

BAGI orang Indonesia, keju bukan makanan yang hadir setiap hari di meja makan. Karena itu, ketika dua belas peserta berkumpul...

Read moreDetails

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
0
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

Read moreDetails

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
0
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

Read moreDetails

Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
September 4, 2026
0
Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

MATAHARI pagi belum genap sejengkal naik ketika sebuah gerobak biru berhenti di pinggir Jalan Merak, Singaraja. Di belakangnya, truk-truk besar...

Read moreDetails

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

by Nyoman Budarsana
September 1, 2026
0
Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

UDARA pagi terasa panas ketika rangkaian Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 memasuki penghujung acara. Usai menutup festival,...

Read moreDetails

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

by Tri Nugroho Adi
August 9, 2026
0
Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

"BU, kulo mung mbekto kuluban godhong kates nggih? Lha ya mung niku sing wonten teng  nggriyo ." (Bu, saya hanya...

Read moreDetails

Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

by Jaswanto
June 17, 2026
0
Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan,...

Read moreDetails

Serangga dalam Piring Makan Kita

by Jaswanto
April 25, 2026
0
Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

Read moreDetails

Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
April 12, 2026
0
Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

MATAHARI baru saja mengintip di ufuk timur Kota Singaraja. Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 WITA, namun denyut nadi di Jalan...

Read moreDetails
Next Post
Saat Muda Berkelana, Ketika Tua Bercerita: [Aksioma Gen Z di Negeri Sakura]

Saat Muda Berkelana, Ketika Tua Bercerita: [Aksioma Gen Z di Negeri Sakura]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co