22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Saat Muda Berkelana, Ketika Tua Bercerita: [Aksioma Gen Z di Negeri Sakura]

Luh Putu Sendratari by Luh Putu Sendratari
November 9, 2024
in Tualang
Saat Muda Berkelana, Ketika Tua Bercerita: [Aksioma Gen Z di Negeri Sakura]

Becak yang Ditarik Tenaga Manusia di Arashiyama | Sumber: Made Dwi Pradnyana, Nopember 2024

BERBAGAI tuduhan terhadap generasi yang diberi cap Gen Z lebih pada penilaian yang negatif. Tuduhan terhadap generasi Z terdiri dari sederetan hal negatif misalnya, generasi pemalas, tidak kenal etika dan cap negatif lainnya. Perlu cara pandang yang seimbang atas kehadiran mereka.

Privilage mereka yang masif terhadap teknologi haruslah dilihat memiliki prospek yang sangat bagus kedepannya. Mereka calon pemimpin ke depannya. Pandangan ini penting agar narasi negatif tentang mereka membuat kita begitu mudahnya terjebak pada pandangan bahwa seolah-olah generasi sebelumnya tidak memiliki sisi negatif.

Sebagai individu yang tidak terlahir dari generasi tersebut, penulis pun sering ada dalam penilaian yang condong kearah negatif, namun ketika minggu ini ketemu dan berbincang dengan seorang anak muda yang bernama Ori dalam perjalanan bareng ke negeri sakura/Jepang tiba-tiba penulis terusik dengan aksioma yang dicetuskannya: “Saat Muda Berkelana, Ketika Tua Bercerita”.

Aksioma itu telah sanggup mengusik daya kritis untuk mempertanyakan kembali kebenaran tuduhan negatif tentang Gen Z. Walaupun seorang Ori tidaklah dapat dikatakan mewakili semua Gen Z saat ini, namun tetap saja aksioma yang dikeluarkan memiliki daya tarik tersendiri untuk mencoba berpikir lain tentang Gen Z.

Berkelana Ke Negeri Sakura

Arti berkelana yang lebih saya suka adalah melakukan perjalanan fisik, menjelajahi tempat-tempat eksotik atau dalam arti yang lebih klasik mengembara ke alam bebas, bisa ke hutan, ke gunung, danau, sungai. Berpijak dalam arti kamus yang denotatif semacam itu, mudahlah dipahami berkelana hanyalah kegiatan jalan-jalan semata – tanpa makna – hanya pemuas hasrat fisik semata.

Namun, melalui perjalanan kami yang berjumlah 14 orang di bawah layanan travel Peponi yang berkantor di Jakarta, dengan didampingi Tour Leader Mbak Dela kami mendapat pengalaman yang bukan hanya sekedar jalan-jalan, menikmati Ramen yang diakui oleh penggemar mie, ramen Jepang tiada duanya, namun kami ketemu apa arti pertemanan, apa arti kebersamaan dan apa pula arti belajar budaya yang berbeda, yang kebetulan yang kami jelajah adalah negeri Sakura.

Tim Sang Kelana | Foto: Made Dwi Pradnyana, Nopember 2024

Dalam perjalanan sejarah Jepang dari jaman paleolitik (100.000 – 30.000 SM) sampai jaman Edo (1603-1868- jaman keemasan). Periode Edo ditandai oleh pertumbuhan ekonomi, tata sosial yang ketat, kebijakan luar negeri yang isolasionis, populasi yang stabil, perdamaian yang abadi, dan kesenangan masyarakat terhadap seni dan budaya, yang secara umum disebut sebagai Ōedo (大江戸, Oo-Edo, “Edo yang Agung”).

Keagungan Edo (yang sekarang bernama Tokyo) pun kiranya menyisakan jejak dalam wujud pendirian gedung-gedung pencakar langit yang memadati kota Tokyo

Salah satu Sudut Kota Tokyo | Foto: Sendratari, Nopember 2024

Kiranya, bukan hanya tampilan fisik sebagai simbol masyarakat modern yang dapat mewakili gambaran Tokyo sebagai kota bersejarah yang fenomenal, kesibukan manusia yang lalu lalang di setiap stasiun, wajah-wajah pekerja yang sangat serius menjadi potret keseharian Tokyo dapat dipahami bahwa kota ini memang menjadi pusat kebudayaan yang telah menyejarah.

Demikian pula dengan kota Osaka dan Kyoto yang terkenal dengan peninggalan Castle maupun kuil dan rumah konstruksi tradisional dengan bambu sebagai andalannya masih sangat mudah di temui di Kyoto. Bangunan yang tertata rapi, dan bersih menjadi pemandangan yang tidak menipu mata bahwa Jepang memang sangat kuat menanamkan arti kebersihan pada warga asli maupun pendatang.

Rumah Tradisional Jepang di Kyoto dan Cara Masyarakat Jepang Menjaga Citra Bersih dalam Penanganan Sampah | Dokumen : Made Dwi Pradnyana, Nopember 2024

Jelajah lainnya yang dipungut dari perjalanan kali ini adalah saat berkunjung di sebalah Barat Kota Kyoto yakni wisata hutan bambu Arashiyama. Tidak sulit mendapatkan berita bahwa di lokasi ini ditawarkan beberapa daya tarik selain deretan tanaman bambu yang endemik Kyoto, yang diyakini memberikan vibrasi ketenangan saat mendengarkan gesekan daun bambu ketika tertiup angin, belum lagi ditopang atas kehadiran kuil Tenryu-ji akan menambah sensasi religius.

Belum lagi kehadiran Jembatan Togetsukyo, yang secara harfiah berarti “Jembatan Penyeberangan Bulan,” adalah salah satu landmark paling terkenal di Arashiyama dan selalu dipadati pengunjung untuk sekedar melintas dan menikmati ketenangan air jernih yang mengalir di bawahnya. Eksotiknya lagi di kawasan ini adalah tersedianya jasa becak yang ditarik dengan tenaga manusia yang berpakaian tradisional Jepang.

Becak yang Ditarik Tenaga Manusia di Arashiyama | Foto: Made Dwi Pradnyana, Nopember 2024

Jasa-jasa yang disediakan di tempat-tempat wisata bisa saja hal yang tidak teramat istimewa, dalam artian itu memang disiapkan untuk memuaskan para pengunjung. Namun, dari kacamata penulis ada yang jauh lebih istimewa dari hanya sekedar jasa layanan yakni potret lansia yang produktif di usia tua. Inilah pemandangan yang tergolong langka dalam ukuran kultur timur umumnya.

Secara umum, orang tua begitu rupa dilindungi, dilayani, bahkan “dikurung” di rumah, dibatasi aktivitasnya. Gambaran terhadap lansia semacam itu ternyata terbalik dengan apa yang dapat ditemui di Jepang. Di berbagai sudut sangatlah mudah ditemui para lansia masih aktif bekerja dan sigap memberi layanan kepada para konsumen. Salah satu pemandangan potret lansia yang produktif ditemui di Arashiyama.

Lansia dan Cangkulnya Terlibat dalam Pengerukan Sungai Di Arashiyama | Foto : Sendratari, Nopember 2024

Hasil dari berkelana di Negeri Sakura belumlah seberapa jika hanya mengandalkan hasil observasi yang hanya berlangsung beberapa hari. Hanya saja, fenomena yang tertangkap kamera penulis bukan hanya berlangsung sebagai fenomena sesaat namun telah menjadi irama kehidupan yang seolah-olah telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Jepang pada umumnya.

Ada beberapa kata yang layak diajukan terhadap kultur masyarakat Jepang dari kacamata orang luar yakni: Bersih, Tertib dan Aman. Ini bukan kata-kata promosi, tetapi hasil pengamatan perjalanan yang perlu juga disandingkan dari pengamatan pihak lain.

Berkelana dan Bercerita Dari Pandangan Gen Z – Ori

Sosok Ori yang Lekat dengan Simbol Modernitas | Foto: Made Dwi Pradnyana, Nopember 2024

Ori adalah nama anak muda yang masih berstatus mahasiswa semester V di program studi Sistem Informasi Universitas Gunadarma, Jakarta. Dilihat dari tampilan luar dia tak ubahnya tampil sebagai anak muda pada umumnya. Bergaya pakaian casual. Sosok Ori tampil ceria, antusias mencoba hal-hal yang baru, suka berkelakar, dan suka jahili tim.

Di tengah-tengah semua itu aksioma yang dicetuskan tentang berkelana dan bercerita ingin dia buktikan melalui pengalaman dia suka menjelajah berbagai daerah di Indonesia.

Dia mengaku pernah menjelajah Bali – sampai di Penglipuran, dia berucap “I Love Bali”. Kini, kakinya sampai di Negeri Sakura. Pertanyaan awal yang diajukan apa menariknya berwisata?

Dia bilang, “Aku suka belajar berbagai budaya yang berbeda’, tujuannya? “Untuk mendapatkan pengalaman yang berbeda”. Pengakuan yang cukup eksotik terucap, “Dengan mendapatkan pengalaman dan budaya yang berbeda aku dapat sesuatu tante, yaitu pikiran ku terbuka, wawasanku bertambah, aku tidak mau seperti orang tuaku, yang hanya berkuta di rumah saja. Memang aku tidak bermaksud mengatakanorang tua ku kolot, tapi setidaknya dalam penilaianku, kalau hanya mengandalkan pengalaman yang sempit, tidak banyak yang akan diturunkan ke anak cucu kelak”

Berpijak dari pengakuan Ori, bolehlah di kata dia bukanlah orang muda yang hanya mengartikan kegiatan jalan-jalan hanya sekedar menghilangkan penat dari rutinitas tetapi lebih dari itu hasil pengamatannya di tengah-tengah kultur yang berbeda dijadikan sumber belajar hidup dan dia sangat mengakui bahwa masyarakat yang berbeda itu adalah museum yang sangat autentik yang diyakini sanggup memberikan apa artinya menikmati di hidup di kala muda. Baginya, masa muda adalah masa menimba pengalaman.

Dari pengalaman dia mengaku ketemu mutiara kehidupan yang mungkin saja pemaknaannya akan berbeda dari sesuatu yang diperoleh di buku. Uniknya lagi, dia bukan hanya mengandalkan pelajaran hidup dari pengalaman nyata yang diamati dan dirasakan, tetapi dia juga mengandalkan buku bacaan dalam mengasah sisi humanistik dalam melakoni kehidupan. Dalam perjalanan di Negeri Sakura dia berbekal buku yang dibuka kembali saat kami di atas kereta dari Osaka menuju Kyoto. Dia mengku sangat terkesan dengan judul buku Goresan Seorang Berandal yang ditulis oleh Mohan Hazian (2021).

Judul Buku Idola Ori saat Ini | Foto: Sendratari, Nopember 2024

Kalimat yang diakui paling dia suka ada pada kulit dalam buku yang berbunyi : “Jika ada karya orang yang jelek, Jangan protes. Buatlah yang lebih Bagus. Hidup ini Indah”. Ketertarikan atas kalimat ini diakui sebagai kalimat yang padat dengan pesan tersembunyi yang sanggup mengangkat semangatnya untuk terus bangkit dan berbenah dengan tidak mudah melihat kekurangan atau kejelekan orang lain tanpa sanggup berbenah untuk diri sendiri. Ini pelajaran hidup betul baginya sebagai orang muda yang masih punya jalan panjang untuk menjadi lebih baik, lebih baik ke depannya.

Selain itu, ketertarikan atas buku ini yang paling mendasar adalah, buku ini telah membuka pandangannya bahwa belajar bukan hanya dapat diperoleh dari orang yang baik, namun dari orang yang diberi cap jelek, berandal (sesuai judul buku) pun kita bisa menarik pelajaran. Baginya belajar tentang sisi baik dan buruk dari segala dimensi akan melatih keseimbangan dalam melihat sesuatu.

Apa pentingnya bercerita di kala tua? Bercerita nantinya sebagai orang tua bagi Ori bukan hanya menyampaikan pengalaman atas apa yang dilihat secara kasat mata. Namun sebagai orang tua harus punya kesanggupan untuk mengupas pengalaman yang telah diperolehnya di masa lalu di berbagai tempat yang dikunjungi untuk menemukan makna mendalam atas apa artinya hidup di tengah-tengah orang yang berbeda, melalui kultur yang berbeda. Apa artinya bekerja dengan berbagai lapisan orang yang berbeda.

Jadi, menurutnya wajib hukumnya para orang tua memiliki pengalaman yang luas untuk menghasilkan generasi muda yang kuat, bukan generasi strawberry (generasi rapuh dan lembek). Pengalaman adalah guru yang tidak menyesatkan, jika tidak mau tersesat pada kegelapan. Ori memang orang muda yang biasa, tapi pandangannya bagi kita yang telah berusia membuka ruang berpikir yang tidak biasa. [T]

Merajut Keberagaman, Belajar Buddhisme Hingga ke Negeri Gajah Putih Bersama Para Bikkhu
Merasakan Sensasi Berbeda di Hanoi Train Street Vietnam
Trekking di Cat Cat Village, Vietnam, Sambil Merenungkan Bali
Tags: catatan perjalananGen ZJepangNegeri Sakuraperjalanan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Rujak Cingur Bu Mah, Kuliner Hibrid yang Unik dan Legendaris di Pasar Atom Surabaya

Next Post

Partisipasi Masyarakat Dalam Pemilukada: Locus dan Fokus Kabupaten Banyumas

Luh Putu Sendratari

Luh Putu Sendratari

Prof. Dr. Luh Putu Sendratari, M.Hum., guru besar bidang kajian budaya Undiksha Singaraja

Related Posts

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
0
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

Read moreDetails

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails
Next Post
Korelasi PKPU 13 Tahun 2024 dengan Kotak Kosong

Partisipasi Masyarakat Dalam Pemilukada: Locus dan Fokus Kabupaten Banyumas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co