4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merajut Keberagaman, Belajar Buddhisme Hingga ke Negeri Gajah Putih Bersama Para Bikkhu

Made Wahyu Mahendra by Made Wahyu Mahendra
November 5, 2024
in Tualang
Merajut Keberagaman, Belajar Buddhisme Hingga ke Negeri Gajah Putih Bersama Para Bikkhu

Foto-foto by Made Wahyu Mahendra

14 Oktober 2024, sudah keempat kalinya saya menginjakkan kaki di negeri Gajah Putih. Berbeda dengan saat saya pertama ke tempat ini. Saat itu, sebagai seorang yang saat itu lebih muda, gemerlap kota, riuhnya suasana, nikmat perjamuan merupakan sesuatu yang saya cari. Bangkok dan area sekitarnya selalu menjadi tujuan.

Herannya, baru pada kedatangan ketiga dan keempat kali ini saya merasakan damai hati. Entah memang karena saya saat ini lebih berumur ataukah memang jalannya yang baru ketemu. Adalah Kota Khonkaen yang nun jauh di Tenggara yang menjadi jodoh tempat saya untuk belajar.

Saya tahu sejak lama bahwa lebih dari 90% warga Thailand penganut Buddha yang taat. Kondisi ini memancing rasa ingin tahu saya akan perspektif hidup dari agama Buddha.

Sebagai pribadi, saya selalu senang mempelajari perspektif agama lain dengan berinteraksi dan melebur di komunitasnya, dan karenanya saya cukup diterima oleh masyarakat yang saya tuju.

Saya pernah melebur diri dalam komunitas Muslim. Itu ketika saya kuliah di Kota Malang dan merasakan indahnya makna puasa. Begitupula ketika dua tahun saya habiskan untuk berada di dalam komunitas mayoritas beragama Katolik yang senandung bhineka-nya pernah saya tulis di platform tatkala.co ini.

Bukannya apa-apa, kendati ada beberapa tempat ibadahnya di sekitar tempat saya tinggal, namun saya belum pernah benar-benar berbaur dengan komunitasnya, bertemu pemuka agamanya, dan menggali esensi esensi ajarannya dari komunitasnya langsung.

Kembali ke Kota KhonKaen, Saya berkesempatan menemui para Bikkhu yang dihormati yang mau berbagi prinsip-prinsip Buddhisme kepada saya. Salah satunya adalah ajaran untuk hidup dalam saat ini.

Dalam Buddhisme, diajarkan bahwa masa kini adalah satu-satunya waktu yang benar-benar kita miliki. Kita diminta untuk tidak membiarkan pikiran terus berlarian ke masa depan atau terjebak dalam penyesalan masa lalu.

Awalnya, ini terasa seperti konsep yang sederhana, tetapi saat saya benar-benar mencobanya, baru saya sadari betapa sulitnya melepaskan kecemasan tentang apa yang akan terjadi esok hari atau rasa bersalah yang terkadang hinggap dari kejadian-kejadian di masa lalu.

Selain itu, sebuah pengalaman yang mengubah perspektif saya terjadi ketika saya diajak menuju sebuah provinsi bernama Loei, distrik terakhir perbatasan Thailand dengan Laos.

Di sana, di tengah gunung yang terselimuti kabut, saya tinggal di sebuah asrama Bikkhu, tempat yang seolah jauh dari hiruk-pikuk dunia luar. Hidup di lingkungan yang tenang dan dikelilingi oleh alam, tidak ada ponsel atau gangguan modern lainnya, dan setiap aktivitas sangat sederhana, mulai dari melayani para Bikkhu muda saat makan, meditasi, belajar, begitu seterusnya.

Momen itu tiba ketika seusai saya memberi pelayanan untuk persiapan sarapan pagi Bikkhu muda, saya pertama kali diajak berdoa sebelum makan. Di dalam doa Buddhis sebelum makan, saya menemukan sesuatu yang begitu berbeda, begitu jauh dari apa yang biasa saya lakukan.

Doa ini mengajak kita merenungkan alasan dan tujuan mengapa kita makan. Kita diingatkan untuk tidak makan hanya untuk kesenangan atau kepuasan semata, bukan untuk memabukkan diri atau memperindah tubuh, melainkan untuk menopang kehidupan secara sederhana.

Begitu dalamnya makna doa ini mengejutkan saya. Saya diingatkan untuk makan secukupnya, tidak berlebihan, hanya untuk menjaga tubuh ini tetap sehat dan kuat.

Doa ini mendorong kesadaran bahwa makan bukanlah semata-mata pemenuhan kebutuhan fisik, tetapi juga bagian dari latihan spiritual, agar tubuh bisa bebas dari gangguan dan pikiran bisa tetap jernih.

Sungguh, pengalaman ini membuka mata saya akan bagaimana kita sering kali lupa pada esensi dari tindakan yang kita lakukan setiap hari.

Perjalanan saya di Thailand juga memperkenalkan saya pada norma kesopanan yang dalam dan sarat makna. Budaya Thailand memiliki etika yang begitu halus, terutama saat berada di tempat-tempat suci seperti kuil dan dalam interaksi dengan para Bikkhu.

Setiap gerakan, termasuk cara duduk, diatur dengan penuh rasa hormat dan ketenangan. Duduk di lantai kuil, misalnya, harus dilakukan dengan hati-hati, lutut sedikit menekuk, dan kaki tidak menghadap langsung ke arah altar atau patung Buddha, karena dianggap kurang sopan.

Saat bercengkerama dengan Bikkhu, saya diajarkan untuk menjaga sikap, menundukkan pandangan sebagai bentuk penghormatan. Gestur-gestur kecil ini ternyata menyimpan arti mendalam tentang rasa hormat yang tidak sekadar ditunjukkan lewat kata-kata, tetapi juga lewat tindakan yang mencerminkan kesadaran dan penghargaan.

Salah satu momen yang menguatkan rasa kagum saya pada budaya Thailand adalah saat saya diundang mengikuti candlelight ceremony. Upacara ini, yang dilakukan pada malam hari di kuil, begitu syahdu dan menggetarkan hati.

Setiap peserta membawa lilin yang dinyalakan dan berjalan perlahan dalam diam mengelilingi kuil. Di bawah cahaya lilin yang temaram, langkah-langkah kami terasa seperti simbol penghormatan, bukan hanya kepada ajaran Buddha, tetapi juga kepada nilai-nilai kehidupan.

Malam itu, dalam kebersamaan yang penuh makna, saya merasa bagian dari sesuatu yang lebih besar, sebuah kesatuan rasa yang membawa kedamaian.

Melalui pengalaman-pengalaman ini, saya belajar bahwa kesopanan bukan hanya norma sosial, tetapi juga cermin dari rasa hormat yang mendalam terhadap diri sendiri, orang lain, dan kehidupan. Semua ini memperkaya pandangan saya akan kehidupan dan membuat saya semakin menghargai keberagaman yang ada di dunia. [T]

BACA artikel lain dari penulis MADE WAHYU MAHENDRA

Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya
Kabar dari Flores# Tentang Saya, Godoh & Muku Ego
Kabar dari Flores# “Bersembunyi & Relaksasi” di Air Panas Alami Ae Sale
Tags: BuddhismeBudhacatatan perjalananThailand
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Serunya Lomba Ngibing PSB Buleleng: Dari Gaya Merayu Cewek, Odong-odong, hingga Macan Tutul

Next Post

Tenun Tebusalah, Mengenang Sejarah Desa Ringdikit Lewat Motif Kain Tenun

Made Wahyu Mahendra

Made Wahyu Mahendra

Lahir di Negara, Bali. Alumni S1 Bahasa Inggris di Undiksha dan S2 Universitas Negeri Malang. Beberapa kali memenangkan lomba penulisan esai tingkat nasional

Related Posts

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails
Next Post
Tenun Tebusalah, Mengenang Sejarah Desa Ringdikit Lewat Motif Kain Tenun

Tenun Tebusalah, Mengenang Sejarah Desa Ringdikit Lewat Motif Kain Tenun

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co