23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Roti Kembang Waru, Ikon Kuliner Khas Kotagede Yogyakarta

Luki Antoro by Luki Antoro
July 4, 2024
in Kuliner
Roti Kembang Waru, Ikon Kuliner Khas Kotagede Yogyakarta

Roti Kembang Waru khas Kotagede Yogyakarta | Foto: Luki Antoro

KOTAGEDE, salah satu sudut Jogja yang menyimpan sejarah panjang berdirinya kerajaan-kerajaan di tanah jawa. Terkenal dengan kearifan lokal dan pelestariaan situs bersejarah yang memukau.

Sehingga tak heran jika kawasan yang melahirkan banyak sekali produk kebudayaan ini menjadi daya tarik para wisatawan asing maupun lokal untuk berkunjung di Jogja. Kotagede memiliki tempat pariwisata yang sangat lengkap, mulai dari sejarah, pasar dan masjid tradisional tertua di jogja, beragam kuliner khas kotagede hingga kerajinan perak, tembaga dan kuningannya.

Dan, selain wisata sejarah, budaya dan adat istiadat jawa yang memiliki keunikan tersendiri, di sini juga terdapat beberapa kuliner tradisional khas yang menjadi sorotan para wisatawan. Wisata kuliner di kotagede ini tentu tidak kalah menarik dari wisata sejarah atau seni budayanya. Kotagede banyak menyimpan kuliner legendaris yang hanya bisa ditemukan di kota bekas pusat kerajaan mataram islam ini.

Artinya, sebagai episentrum pemajuan kebudayaan pada jamannya, kotagede tentu menghasilkan cita rasa kuliner yang berbeda. Nah, berikut ini makanan khas legendaris yang ada di Kotagede, yang ketika namanya disebutkan, maka akan teringat langsung dengan  Kotagede Yogyakarta.

Roti Kembang Waru

Kuliner legendaris Kotagede yang menempati urutan pertama ini agak awam untuk masyarakat umum. Sebab, pengrajin kue tradisional roti kembang waru sudah tidak banyak lagi.

Roti kembang waru merupakan kudapan yang dulunya digemari raja-raja. Kini keberadaanya hanya diperuntukan sebagai pelengkap kegiatan-kegiatan upacara adat saja. Meskipun, menurut Kipowaru Pusat Oleh-Oleh Khas Kotagede, menyampaikan bahwa produk roti kembang waru ini segmennya tidak luas, namun mencoba dibranding lagi sebagai oleh-oleh khas Kotagede Jogja.

Ciri khas dari roti kembang waru adalah bentuknya seperti bunga, memiliki delapan sisi, bewarna coklat panggangan yang begitu menggugah selera.

Proses pembuatan roti kembang waru memakan waktu yang cukup lama dan kesabaran yang tinggi, dengan teknik mengaduk adonan saja memakan waktu 1,5 hingga 2 jam. Pemanggangan pun masih menggunakan oven tradisional berbasis arang. Jadi betul-betul harus sabra untuk menghasilkan roti kembang waru khas kotagede ini.

Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat roti kembang waru pun sederhana, antara lain: tepung terigu, mentega, minyak sayur, telur dan vanili. Roti kembang warunya biasanya dapat bertahan hingga 7 hari dalam suhu ruang. Salah satu rekomendasi tempat makan yang menyediakan roti kembang waru premium legendaris adalah  Kipowaru.

Legomoro

Kotagede memiliki banyak kuliner tradisional yang memiliki filosofis tinggi. Legomoro memiliki arti Lego (Lega) dan Moro (Datang), dimana jika diartikan suasana lega bahagia karena orang yang diharapkan datang akhirnya datang juga.

Sekilas, Legomoro mirip lemper, namun yang memberdakan adalah legomoro bentuknya lebih berisi dan diikat dengan bamboo per 4 biji. Cara pembuatan legomoro pun membutuhkan kesabaran dan ketelatenan. Jadi, ketika memakan pun kita dapat merasakan bagaimana kulner asli kotagede dibuat. Mulai mengurai tali bambu dan membuka kulit daun pisangnya.

Kipowaru melestarikan banyak pengrajin roti kembang waru di Kotagede | Foto: Luki Antoro

Pembuatan Sudang Lepet memiliki 3 tahapan: pertama, membuat tali bambu, menyiapkan daun pisang, memasak ketan dan mebuat isian (daging sapi); selanjutnya, dilakukan tahap pengemasan; dan terakhir, dikukus hingga warna daun pisang berubah. Legomoro sendiri memiliki rasa yang sangat otentik, sangat cocok disajikan untuk hidangan keluarga besar bahkan oleh-oleh.

Legomoro mulai tidak banyak ditemukan di Jogja, jadi untuk mendapatkan kuliner khas kotagede ini bisa di Kipowaru pusat oleh-oleh khas kotagede.

Emping Mlinjo Khas Kotagede

Makanan khas Kotagede yang berikutnya adalah Emping Mlinjo, yang terbuat dari biji mlinjo dan di bumbui dengan rempah-rempah, ditambah gula atau cabai sesuai selera. Emping khas kotagede ini kecil-kecil seperti koin dan tebal, namun rasanya gurih dan enak.

Emping Mlinjo khas kotagede memiliki ciri khas kemasan, warna yang memiliki tiga rasa, yaitu; pedas manis, manis dan gurih. Emping mlinjo khas kotagede dulunya pernah merajai pasaran hingga ekspor malaysia. Mengingat dulu Kotagede adalah kawasan hutan yang begitu kaya dengan hasil bumi, salah satunya pohon melinjo yang melimpah.

Emping Mlinjo khas Kotagede ini sangat cocok untuk dijadikan camilan hingga oleh-oleh khas jogja. Kuliner ini jarang sekali ditemukan, tapi bisa ditemukan di pusat pelesari pangan lokal di Kipowaru juga.

Gudeng Asli Kotagede

Gudeg aslinya berasal dari kotagede, namun mengalami perkembangan tumbuh di beberapa tempat di Yogyakarta. Gudeg Wijilan salah satunya, wijilan adalah nama tempat untuk memfokuskan para pedagang gudeng berada di pusat kota.

Menariknya, mungkin kita dibuat penasaran seperti apa gudeg asli kotagede tersebut. Sebenarnya gudeg terbagi menjadi dua, ada gudeg basah dan gudeg kering. Awalnya gudeg itu adalah basah. Dulu prajurit kerajaan yang membuka lahan, mengolah Nangka muda dengan proses yang sangat tradisional.

Warung yang menjajakan gudeg asli bisa kamu temui di sekitar Kotagede, seperti pasar kotagede ataupun warung-warung bubur pagi di sekitaran kotagede. Biasanya mereka buka dari pukul 5 pagi sampai pukul 11 siang. Jadi, bagi teman-teman yang berkunjung ke Kotagede, jangan pernah melewatkan berburu gudeg langsung di Kotagede.

Nah, itu dia, rekomendasi kuliner khas Kotagede yang wajib teman-teman coba kalau berkunjung ke Yogyakarta. Selamat berburu oleh-oleh khas jogja untuk melestarikan kuliner tradisional disana. [T]

Kerajinan Logam Kotagede: Masa Lalu dan Masa Kini
Kue Apakah yang Menduduki Kasta Tertinggi di Kelas Kue Kering Saat Hari Raya?
“Dapur Bangsa”: Eksplorasi Kekayaan Kuliner Nusantara
Tags: Kotagede YogyakartaRoti Kembang WaruYogyakarta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Catatan Pejalan dan Pemandu: Mengunjungi Tempat-tempat Buatan Manusia  

Next Post

Gong Kebyar Dewasa dari Yayasan Lilanjani Kerta Bumi, Tabanan, Sajikan Sunar Genjong, Raga Sidhi, dan Jayaning Singasana di PKB 2024

Luki Antoro

Luki Antoro

Pemerhati dan pelaku ekonomi kreatif di Yogyakarta. Lahir pada tanggal 7 april 1996 di Bantul, Yogyakarta. Ia lulusan jurusan prodi menejemen, fakultas ekonomi dan bisnis di UPN Veteran Yogyakarta.

Related Posts

Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

by Jaswanto
June 17, 2026
0
Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan,...

Read moreDetails

Serangga dalam Piring Makan Kita

by Jaswanto
April 25, 2026
0
Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

Read moreDetails

Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
April 12, 2026
0
Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

MATAHARI baru saja mengintip di ufuk timur Kota Singaraja. Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 WITA, namun denyut nadi di Jalan...

Read moreDetails

Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

by Jaswanto
April 2, 2026
0
Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

“BELAJAR jualan dari ibu.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari sosok perempuan yang sedang berdiri di belakang lapak dagangannya. Pagi...

Read moreDetails

Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

by Tobing Crysnanjaya
March 15, 2026
0
Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

Jogja, perjalanan yang tak singkat. Menghabiskan waktu hingga 9 jam lamanya. Beberapa kali singgah di Rest Area sepanjang Toll Cipali,...

Read moreDetails

Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026: Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

by Nyoman Budarsana
February 27, 2026
0
Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026:  Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

Satu hal yang baru dalam perhelatan Bulan Bahasa Bali VIII tahun 2026 adalah pameran kuliner yang berlokasi sebelah barat Gedung...

Read moreDetails

Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

by Dede Putra Wiguna
January 11, 2026
0
Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

LANGIT masih gelap ketika aroma kayu bakar mulai menyelinap dari sebuah dapur sederhana di Banjar Gelulung, Sukawati, Gianyar. Matahari belum...

Read moreDetails

Kentongan Pak Mbung di Pasar Blahkiuh dan Tipat Tahu yang Tak Pernah Sepi

by Ni Putu Vira Astri Agustini
December 21, 2025
0
Kentongan Pak Mbung di Pasar Blahkiuh dan Tipat Tahu yang Tak Pernah Sepi

PAGI di Pasar Blahkiuh selalu dimulai dengan suara yang sama sejak puluhan tahun lalu. Bukan teriakan pedagang, bukan pula deru...

Read moreDetails

Dugong 21: Dari Kaset ke Lawar

by Dede Putra Wiguna
November 22, 2025
0
Dugong 21: Dari Kaset ke Lawar

“Mbok, nasi lawarnya tiga porsi, ekstra sate, minumnya temulawak ya!” ucap seorang pemuda saat memesan makanan, lalu tergesa masuk ke...

Read moreDetails

Twntytoo Coffee, Kopi dan Perjalanan Ical dari Kota ke Kota di Indonesia

by I Gede Teddy Setiadi
November 11, 2025
0
Twntytoo Coffee, Kopi dan Perjalanan Ical dari Kota ke Kota di Indonesia

KESAN friendly langsung terasa saat bertemu dengan Muhamad Faisal. Ia pemuda asal Pekanbaru, Riau, tapi kami bertemu di di Jalan...

Read moreDetails
Next Post
Gong Kebyar Dewasa dari Yayasan Lilanjani Kerta Bumi, Tabanan, Sajikan Sunar Genjong, Raga Sidhi, dan Jayaning Singasana di PKB 2024

Gong Kebyar Dewasa dari Yayasan Lilanjani Kerta Bumi, Tabanan, Sajikan Sunar Genjong, Raga Sidhi, dan Jayaning Singasana di PKB 2024

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co