26 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gong Kebyar Dewasa dari Yayasan Lilanjani Kerta Bumi, Tabanan, Sajikan Sunar Genjong, Raga Sidhi, dan Jayaning Singasana di PKB 2024

Julio Saputra by Julio Saputra
July 5, 2024
in Ulas Pentas
Gong Kebyar Dewasa dari Yayasan Lilanjani Kerta Bumi, Tabanan, Sajikan Sunar Genjong, Raga Sidhi, dan Jayaning Singasana di PKB 2024

Gong Kebyar Dewasa dari Yayasan Lilanjani Kerta Bumi, Tabanan, di PKB 2024

RABU, 3 Juli 2024, pukul 19.00 WITA seharusnya menjadi waktu dimulainya pementasan dari Yayasan Lilanjani Kerta Bumi, Br. Belumbang Kaja, Desa Belumbang, Kec. Kerambitan – Gong Kebyar Dewasa Duta Kabupaten Tabanan di Panggung Terbuka Ardha Chandra, Taman Budaya Provinsi Bali (Art Center), pukul.  Namun, gerimis-gerimis tipis yang terus mericis sedari pagi memaksa semuanya untuk bersabar lebih sedikit. Sebentar lagi, hujan pasti reda. Amin paling serius.

Para penonton telah berkumpul di sekitar panggung. Mereka mencari tempat yang teduh. Sebagian berlindung di bawah payung, sebagian lagi mengenakan jas hujan. Beberapa dari mereka juga melindungi kepala menggunakan apa saja yang bisa mereka gunakan: kardus, jaket, dan sebagainya. Meski begitu, mereka sangat antusias untuk bersama-sama  menyaksikan pementasan yang sudah dijadwalkan malam itu.

Sekitar pukul 20.00 WITA, barulah hujan reda dengan sempurna. Para penonton bergegas merapat menempati tempat duduk yang tersedia. Mereka berusaha mencari posisi yang bagus agar dapat menonton dengan nyaman, pun mengambil gambar atau video dengan angel foto yang sesuai. Suasana yang semula dingin seketika berubah menjadi hangat penuh rasa semangat. Mereka semua tidak sabar menantikan pementasan dimulai. Barulah, tepuk tangan serta sorak sorai para penonton pecah saat para penampil memasuki panggung.

Yayasan Lilanjani Kerta Bumi – Gong Kebyar Dewasa Duta tabanan 2024 menempati panggung sebelah selatan | Foto: Tim Dokumentasi GKD Tabanan 2024

Gong Kebyar Duta Kabupaten Tabanan menempati panggung sebelah selatan, sementara di panggung sebelah utara, Paguyuban Seniman Muda Jembrana – Gong Kebyar Duta Kabupaten Jembrana juga sudah bersiap-siap. Dua Sekaa Gong tersebut akan tampil mebarung memeriahkan perhelatan tahunan bergengsi Pesta Kesenian Bali XLVI Tahun 2024. Setelah pembawa acara menyapa para undangan dan penonton serta memperkenalkan masing-masing sekaa gong, barulah Utsawa (Parade) Gong Kebyar dimulai.

Sunar Genjong – Membaca Kembali Proses Kreatif Gamelan Bali

Malam itu, Yayasan Lilanjani Kerta Bumi bersama seniman muda Tabanan lainnya unjuk kebolehan dan keluwesan mereka dalam menabuh dan menari.  Mereka membuka Utsawa (Parade) Gong Kebyar dengan menampilkan Tabuh Kreasi Pepanggulan “Sunar Genjong”, sebuah karya yang dibuat untuk membaca dan memaknai kembali proses kreatif yang ada dalam dunia musik tradisional Bali, khususnya dalam memainkan intrumen gamelan.

Ada inspirasi menarik yang terkandung dalam Tabuh Kreasi Pepanggulan “Sunar Genjong” tersebut. Manusia yang unggul mampu mewujudkan ide-ide imajinatif menjadi nyata. Pemikiran dan budaya manusia berkembang melalui kreativitas, serta teks dan konteks yang ada dari para seniman mewarnai perjalanan gamelan itu sendiri. Adanya perubahan pada gamelan terjadi karena peran maestro, penggiat, cendikiawan, dan masyarakat umum yang mendukung budaya tersebut. Proses interaksi dan reaksi pun terus terjadi, kemudian memengaruhi aspek kognitif dan psikomotor para pelakunya. Gamelan pun menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Bali, mulai dari zaman non-literasi hingga era modern.

Proses interaksi budaya gamelan terus berlangsung dalam hubungan sosial dan internalisasi pribadi, meskipun ada sikap apatis, protektif, dan konservatif, serta berbagai konsep dominasi yang bisa jadi sangat menganggu. Kreativitas dalam memainkan gamelan tetap berkembang, baik secara bertahap maupun secara radikal.

Yayasan Lilanjani Kerta Bumi – Gong Kebyar Dewasa Duta tabanan 2024 menyajikan Tabuh Kreasi Pepanggulan Sunar Genjong sebagai pembuka | Foto: Tim Dokumentasi GKD Tabanan 2024

Keragaman dalam karya selalu dipengaruhi oleh lingkungan. Kondisi situasional berperan dalam membentuk paradigma dan implementasi kreatif bagi mereka yang merespon gamelan. Konteks kosmos dan kaos dengan berbagai aktor dan gamelan secara mendalam maupun formal, menjadikan proses kreatif tersebut bernilai sebagai entitas dan realitas. Tabuh Kreasi Pepanggulan “Sunar Genjong” adalah penghormatan bagi setiap insan kreatif yang terus menerangi langkah dan melanjutkan kreativitas pada gamelan Bali, dari dulu hingga sekarang.

I Gede Putu Resky Gita Adi Pratista, S.Sn., M.Sn, dari Yayasan Lilanjani Kerta Bumi adalah komposer di balik Tabuh Kreasi Pepanggulan “Sunar Genjong” tersebut. Ia juga mengandeng I Gede Eka Saputra sebagai kordinator dan Dhrana Winangun, Br. Belumbang Kaja, Karang Taruna Priti Swaka Dharma Desa Belumbang, dan Yowana Adat Desa Belumbang untuk menghadirkan karya tersebut di atas panggung. Mereka pun berhasil pentas dengan sangat baik dan memukau, mengundang tepuk tangan dan sorak sorai dari para penonton.

Tari Kekebyaran “Raga Sidhi” – Kebebasan Sang Tubuh dalam Berekspresi

Setelah menyajikan tabuh kreasi pepanggulan, Yayasan Lilanjani Kerta Bumi menampilkan garapan selanjutnya, yaitu Tari Kekebyaran “Raga Sidhi”, sebuah tari yang memaknai tema PKB XLVI Tahun 2024 – Jana Kerthi: belajar memahami kemuliaan sang manusia itu sendiri.

Tidak dapat dipungkiri jika sifat maskulin dan feminin terdapat dalam setiap tubuh baik laki-laki dan perempuan. Tubuh menjadi rumah bagi sang jiwa dalam mengungkapkan emosi dan ekspresi. Istilah “Raga Sidhi” bermakna kedigjayaan atau kemerdekaan sang tubuh sebagai media ungkap atas daya rasa dan imajinasi dengan bahasa sebuah ungkapan gerak. Merujuk kembali pada cerminan diri manusia, yang diolah berdasarkan pada persepsi dualisme, maskulinitas dan feminitas, berbaur dan bersinergi menjadi satuan karya ekspresif.

Tari Kekebyaran Raga Sidhi yang dipentaskan oleh penari menjadi sajian kedua dari Yayasan Lilanjani Kerta Bumi | Foto: Tim Dokumentasi GKD Tabanan 2024

Rumah dalam konteks “Raga Sidhi” adalah Tabanan, sebagai ruang hidup seni secara historis memiliki seniman melegenda yakni I Ketut Marya, dengan Tari Oleg Tamulilingan yang sangat fenomenal dan mengilhami spirit kebyar lagendaris yang terdapat di Perean. Tentunya Tabanan sangat lekat sebagai rumah dari kekebyaran itu sendiri, berdasarkan landasan tersebut, mereka sebagai generasi penerus patut menghargai setinggi-tingginya lagenda dan mestro mereka  serta karya-karyanya yang menjadi sumber inspirasi dalam proses penciptaan Tari Kekebyaran “Raga Sidhi” yang berakar dari semangat kebebasan sang tubuh untuk berkreativitas.

Tari Kekebyaran “Raga Sidhi” dipentaskan oleh 6 orang penari. Feministas dan maskulinitas yang mereka bawakan sangat seimbang. Sikap faminin dan maskulin ditampilkan dengan harmonis. Mereka memadukan gerakan halus dan lembut yang mewakili feminitas dengan gerakan kuat dan tegas yang mencerminkan maskulinitas.

Gerakan feminin yang dapat dilihat adalah gerakan-gerakan tari yang menonjolkan kelembutan dan kehalusan, melibatkan tangan yang lentur, mata yang ekspresif, dan langkah yang anggun dan penuh perasaan. Sebaliknya, gerakan maskulin yang dihadirkan malam itu menonjolkan kekuatan, ketegasan, dan keberanian. Gerakan-gerakan tersebut dihadirkan dalam bentuk langkah yang kuat, sikap tubuh yang kokoh, dan ekspresi wajah yang tegar, menciptakan suasana dan kesan dinamis, pun penuh energi.

Tari Kekebyaran “Raga Sidhi” adalah tari yang kaya dan beragam. Para penari pria dan wanita, melalui gerakan mereka, menampikan keseimbangan antara sifat-sifat maskulin dan feminin, menunjukan bahwa kedua sifat tersebut saling melengkapi dan membentuk keutuhan dalam ekspresi seni tari.

Tari Kekebyaran Raga Sidhi yang dipentaskan oleh penari menjadi sajian kedua dari Yayasan Lilanjani Kerta Bumi | Foto: Tim Dokumentasi GKD Tabanan 2024

Di samping itu, Tari Kekebyaran “Raga Sidhi” juga meminjam beberapa laku gerak dari tari-tari karya I Ketut Marya, seperti laku jongkok pada Tari Igel Jongkok atau Kebyar duduk, dan sebagainya. Tari tersebut diciptakan oleh I Nyoman Agus Hari Sudarma Giri, S.Sn., M.Sn, dibantu oleh A.A. Bagus Ari Suryawan, S.Sn sebagai komposer, serta diiringi oleh Yayasan Lilanjani Kerta Bumi, didukung oleh Dhrana Winangun, Br. Belumbang Kaja, Karang Taruna Priti Swaka Dharma Desa Belumbang, dan Yowana Adat Desa Belumbang.

Fragmentari Jayaning Singasana

Sebagai penampilan ketiga sekaligus penampilan penutup, Yayasan Lilanjani Kerta Bumi, Br. Belumbang Kaja, Desa Belumbang, Kec. Kerambitan mempersembahkan sebuah fragmentari yang bertajuk “Jayaning Singasana”.

Dikisahkan perjalanan Sri Magada Nata telah usai melaksanakan pertapaannya. Dari proses tersebut, Sri Magada Nata mendapat pawisik untuk memindahkan pusat pemerintahan dari Puri Pucangan ke suatu daerah di mana ditemukan sebuah sumur gaib yang mengepulkan asap.

Dalam perjalanan ini, Sri Magada Nata, menyusuri arah selatan puri guna menemukan sumur gaib yang diisyaratkan pada pertapaannya. Hingga akhirnya, rombongan Sri Magada Nata tiba di sebuah pesraman atau padukuhan, dan di tempat itulah ditemukan sumur gaib dengan kepulan asap menjulang. Kepada Ki Dukuh Sakti sebagai penglisir yang merawat dan mengelola pedukuhan tersebut, Sri Magada Nata kemudian menjelaskan kedatangannya untuk menjadikan tempat tersebut sebagai kawasan puri yang baru atas pawisik yang diterima oleh Sri Magada Nata.

Mendengar ucapan Sri Magada Nata, Ki Dukuh Sakti bersama murid-murid padukuhan akhirnya mengizinkan tempat tersebut untuk dijadikan puri. Sri Magada Nata kemudian merelokasi pedukuhan untuk berada di sebelah tenggara puri yang saat ini bernama wilayah Sakenan Belodan. Tidak terkisahkan berapa lamanya proses pembangunan puri tersebut, hingga akhirnya puri beserta lanskapnya dapat diselesaikan dan dilaksanakan upacara pemelaspasan tanggal 29 November 1943. Puri yang baru ini kemudian diberi nama Puri Agung Tabanan dengan kotanya yang disebut Kota Singasana.

Sajian ketiga dari Yayasan Lilanjani Kerta Bumi – Fragmentari Jayaning Singasana | Foto: Tim Dokumentasi GKD Tabanan 2024

Sri Magada Nata pada akhirnya memilih untuk melaksanakan kehidupan kerohanian dan berdiam di Pura Dalem Kubontingguh, dan menyerahkan tata kerajaan kepada putranya yaitu Nararya Anglurah Langwang yang bergelar Prabu Singasana. Adanya pemindahan pusat pemerintahan ke kawasan yang baru tersebut memberi dampak signifikan pada kemaslahatan hidup masyarakat dalam naungan Puri Agung Tabanan.

Dalam menghadirkan fragmentari tersebut, Yayasan Lilanjani Kerta Bumi berkolaborasi dengan beberapa seniman muda dan pelaku kreatif yang ada di Kabupaten Tabanan. I Gede Putu Resky Gita Adi Pratista, S.Sn., M.Sn dari Yayasan Lilanjani Kerta Bumi menjadi pimpinan produksi. I Putu Agus Meli Artawan, S.Sn dipercaya menjadi konseptor. Seluruh gerakan tubuh pada fragmentaryi tersebut diciptakan oleh Ida Bagus Putra Darmayasa, S.Sn., M.Si, dan Ni Made Ariyanti Putri Negara, S.Sn., M.Si. Iringan tetabuhannya disusun oleh I Putu Suta Muliartawan, S.Sn dan Dewa Gede Rahma Adiputra, S.Sn.

Properti disiapkan oleh Febry Garage dan Guti Yoga and De’Odi Workshop. I Gede Eka Saputra menjadi kordinator, dan tentu saja Yayasan Lilanjani Kerta Bumi sebagai penampil didukung oleh Dhrana Winangun, Br. Belumbang Kaja, Karang Taruna Priti Swaka Dharma Desa Belumbang, dan Yowana Adat Desa Belumbang.

Penampilan Yayasan Lilanjani Kerta Bumi, Br. Belumbang Kaja, Desa Belumbang, Kec. Kerambitan mendapat respon antusias dari penonton. Terbukti, penonton setia berada di areal Panggung Terbuka Ardha Chandra, Taman Budaya Provinsi Bali (Art Center) dan tak beranjak sampai pementasan selesai. Penampilan mereka juga mendapat apresiasi dari banyak orang.

Berproses dan Berprogres, Harapan, dan Terima Kasih

I Gede Putu Resky Gita Adi Pratista, S.Sn., M.Sn, mewakili Yayasan Lilanjani Kerta Bumi Br. Belumbang Kaja, Desa Belumbang, Kec. Kerambitan, mengatakan persiapan dan latihan pementasan sudah dilakukan sejak bulan Januari lalu, namun belum bisa dilakukan secara maksimal karena berbenturan dengan aktivitas kepemudaan untuk menyambut persiapan Pengerupukan/Tawur Agung Kesanga.

Sajian ketiga dari Yayasan Lilanjani Kerta Bumi – Fragmentari Jayaning Singasana | Foto: Tim Dokumentasi GKD Tabanan 2024

Mereka kemudian memutuskan untuk latihan sektoral per kelompok instrument, menyesuaikan dengan jadwal luang dari masing-masing penabuh atau musisi. Lumayan berat, tapi harus tetap memutar otak untuk tetap berproses dan berprogres. Latihan secara efektif baru bisa dilakukan setelah Hari raya Nyepi. Seluruh penabuh atau musisi juga mulai mengadakan latihan gabungan. Susunan kepanitiaan pun sudah siap dan mulai menjalankan jobdesknya masing-masing.

Resky mengaku cukup lega setelah pementasan kemarin. Selama proses berlangsung, ada berbagai problematika terkait materi, kelengkapan, dan teknis untuk pentas yang bergejolak di kepalanya. Ditambah dengan cuaca saat hari pementasan yang kurang bersahabat, khawatir pementasan akan terhambat karena hujan.

“Tapi astungkara berkat doa seluruh pihak yang terlibat kemarin, akhirnya pementasan dapat dilangsungkan dengan lancar. Meskipun genangan air masih menghiasi panggung, cukup memberi tantangan untuk penari agar tetap bergerak dengan maksimal, juga penabuh akhirnya banyak yang masuk angin” ujarnya sambil berkelakar. Waduh, semangat Wi-Wi Penabuh.

Ia berharap ekosistem seni khususnya di Kabupaten Tabanan semakin kondusif. Saling menyesuaikan diri dan beradaptasi pada beragam perspektif seni yang pada hakikatnya keragaman tersebutlah yang memberi kehidupan pada kreativitas seni.

“Semoga kita juga dapat memahami dan memaknai capaian para seniman pendahulu menjadi spirit untuk kekaryaan kini. Menapaki diri di tanah agraris yang subur, menumbuhkan banyak pemikir, cendikiawan, dan berbagai figur visioner lainnya. Sekali lagi, semoga Tabanan selalu beragam akan pemikiran, dan bersinergi dalam semangatnya membangun seni secara berkelanjutan.” imbuhnya.

Sajian ketiga dari Yayasan Lilanjani Kerta Bumi – Fragmentari Jayaning Singasana | Foto: Tim Dokumentasi GKD Tabanan 2024

Tak lupa, ia juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh tim, panitia, serta penampil Gong Kebyar Dewasa Duta Kabupaten Tabanan 2024. Ia mengapresiasi rasa saling rangkul dan rasa memiliki terhadap tim tersebut, tercermin dari pengorbanan energi, waktu, dan pemikiran masing-masing demi kelancaran proses hingga pementasan.

“Terima kasih juga kepada krama Banjar Adat Belumbang Kaja, yang selalu memberi dorongan moril, tenaga, serta kemudahan untuk mengakses fasilitasnya demi kelancaran proses persiapan hingga pementasan.”

Tentang Yayasan Lilanjani Kerta Bumi

Bermula dari ide dari I Nyoman Wiradana untuk membentuk ekosistem pertunjukan yang aktif di lingkungan sekitarnya, pengabdian seni secara reaktif dilakukan, dengan melatih berbagai kelompok seni di berbagai daerah. Melihat sambutan hangat pecinta seni pertunjukan tersebut, juga antusiasme warga Belumbang dengan para generasinya dalam mengikuti berbagai kegiatan keorganisasian, terkhusus pada bidang kebudayaan, mendorong Wiradana untuk membentuk ruang kreatif yang mewadahi para penggiat seni di sekitarnya untuk mengembangkan potensinya dalam lembaga Yayasan Lilanjani Kerta Bhumi.

Foto bersama seluruh Tim Gong Kebyar Dewasa Duta Tabanan 2024 | Foto: Tim Dokumentasi GKD Tabanan 2024

Sejak awal kiprahnya, Yayasan Lilanjani Kerta Bhumi telah mengikuti berbagai jenis kegiatan seperti pengabdian masyarakat, edukasi seni, hingga berbagai jenis event mulai dari utsawa (parade) serta wimbakara (lomba) pertunjukan sebagai hasil dari aktivitas seni yang senantiasa selalu berlanjut.

Pengabdian bidang sosial, budaya, dan keagamaan tetap menjadi landasan pijak aktivitas yang berlangsung hingga detik ini, begitu pula dengan aktivitas edukatif lainnya. Atas dukungan berbagai elemen masyarakat di lingkungan Yayasan Lilanjani Kerta Bhumi, maka proses diskursif dan dialektik selalu berlangsung, memotivasi lembaga ini untuk selalu bermaslahat dan menjalankan salah satu cita-cita bangsa, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa, melalui kebudayaan. [T]

Reporter: Julio Saputra
Penulis: Julio Saputra
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel tentang GONG KEBYAR dan artikel lain dari penulis JULIO SAPUTRA

Tags: gong kebyargong kebyar dewasagong kebyar tabananPesta Kesenian BaliPesta Kesenian Bali 2024tabanan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Roti Kembang Waru, Ikon Kuliner Khas Kotagede Yogyakarta

Next Post

Tari Sanghyang Sengkrong dan Kepercayaan Masyarakat Adat Kepaon

Julio Saputra

Julio Saputra

Alumni Mahasiswa jurusan Bahasa Inggris Undiksha, Singaraja. Punya kesukaan menulis status galau di media sosial. Pemain teater yang aktif bergaul di Komunitas Mahima

Related Posts

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

by Yanik Parta
August 24, 2026
0
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

Read moreDetails

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
0
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

Read moreDetails

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
0
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

Read moreDetails
Next Post
Tari Sanghyang Sengkrong dan Kepercayaan Masyarakat Adat Kepaon

Tari Sanghyang Sengkrong dan Kepercayaan Masyarakat Adat Kepaon

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Kalau Rakyat Harus Naik Bus ke Jakarta Agar Didengar, Ada Apa dengan Telinga Kekuasaan?

ADA yang menarik dari perjalanan sejumlah warga Pati menuju Jakarta menjelang aksi 27 Agustus 2026.  Mereka tidak sedang piknik. Empat...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 26, 2026
Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya
Ulas Rupa

Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

DI penghujung bulan Agustus, tepatnya pada tanggal 25 hingga 31 agustus mendatang – akan digelar Pameran senirupa yang bertajuk “The...

by Hartanto
August 26, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
Ibu Memasak di Kota
Esai

Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

by Angga Wijaya
August 25, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

by Sugi Lanus
August 25, 2026
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?
Opini

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Panggung

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda
Budaya

Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda

UTSAWA Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 kembali digelar. Itu artinya, lantunan sloka, palawakya, kakawin, kidung, hingga gaguritan kembali...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]
Tualang

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan
Panggung

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co