23 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kerajinan Logam Kotagede: Masa Lalu dan Masa Kini

Luki Antoro by Luki Antoro
February 24, 2021
in Khas
Kerajinan Logam Kotagede: Masa Lalu dan Masa Kini

Lambang Garuda Pancasila Logam buatan tim pengrajin di Nursih Basuki Art Studio, Kotagede Yogyakarta

Pernahkah kamu berkunjung ke Kotagede? Sebuah kawasan kecil padat penduduk namun dulu adalah cikal bakalnya tentang cerita Yogyakarta. Kotagede masih dihiasi bangunan berarsitektur Eropa klasik berpaduan dengan jawa kuno, disana juga terdapat pasar tradisional yang masih aktif hingga beragam aktivitas ekonomi kreatif lokal yang dikemas ke dalam “living museum”.

“Living Museum” (baca: museum hidup dengan sejarah kehidupan) inilah yang mungkin menjadi daya tarik wisatawan baik domestik maupun mancanegara untuk jalan-jalan menyusuri setiap gang sempit di Kotagede dan berburu romantisme di sudut jogja tersebut. Peradaban masa lalu inilah yang membuat Kotagede dipandang menjadi  paling spesial.

Disebut paling spesial karena kawasan pusaka tersebut yang paling berjasa menjadi saksi munculnya peradaban di Yogyakarta, mulai dari Kerajaan Mataram Islam, kotagede disebut sebagai kota perak hingga kotagede adalah tempat pertama kalinya gudeg jogja ditemukan.

Padahal, jauh sebelum muncul istilah “Living Museum”, nama Kotagede juga sudah lama dikenal lewat seni kriya  logam, yaitu produk kerajinan perak, baik dikenal di Jogja hingga benua Eropa khususnya Belanda. Saking terkenalnya, dulu Kotagede hingga dijuluki sebagai ‘kota perak’ di Indonesia. Tidak hanya berkualitas seni tinggi, beberapa kerajinan perak buatan perajin di Kotagede mampu diterima oleh masyarakat mancanegara.

Sanggar Pengrajin logam di Nursih Basuki Art Studio Yogyakarta

Perkembangan Kotagede dalam bidang kerajinan logam memang tidak bersifat instan. Sejak zaman Kerajaan Mataram Islam, produk kerajinan bautan perajin logam di Kotagede diakui oleh banyak pihak. Karena itu, ketika berada di bawah kendali abdi dalem kriya milik kerajaan, Kotagede dijadikan pusatnya dalam membuat kerajinan logam khususnya perhiasan berbahan perak.

Hal ini pernah disinggung oleh beberapa penelitian dan sumber sejarah yang menjelaskan alasan Kotagede dijadikan pusatnya kerajinan logam terbaik. Menurutnya, Kotagede memiliki kepentingan ekonomi terkait perkembangan industri kreatif di bidang kerajinan logam tersebut karena Kotagede juga menghaslkan pengrajin logam dengan hasil yang bagus. Bahkan pmerintah Belanda di masa penjajahan juga turut memberikan perhatian, salah satunya membentuk sebuah lembaga yang fungsinya turut memasarkan hingga merawat proses produksi kerajinan logam di Kotagede.

Artinya, leluhur masyarakat di Kotagede memang sudah sejak lama memiliki keterampilan membuat kerajinan logam. Mungkin bukan hanya ketika zaman Kerajaan Mataram Islam ketika di Kotagede, jangan-jangan jauh sebelum itu beberapa penduduk lokal sudah memiliki keahlian membuat kerajinan logam, hanya saja perkembangannya terlihat ketika Kotagede dijadikan pusat ibukota kerajaan dan membuat permintaan kerajinan meningkat. Kemudian, mereka mewariskan dari generasi ke generasi. Tentu dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk membuktikan dugaan tersebut.

Proses regenerasi yang begitu panjang, bakhan bisa memakan waktu puluhan tahun bisa jadi membuat masyarakat di Kotagede memiliki keterampilan tinggi dalam membuat kerajinan. Perkembangan kerajinan di Kotagede didukung pula oleh eksositem yang lengkap dan berkualitas. Bahkan tidak hanya satu teknik, namun di Kotagede bisa ditemui beberapa teknik pembuatan kerajinan logam hingga jenis spesialisnya. Misalnya perajin di HS Silver mereka akan fokus pada beberapa teknik dan khusus kerajinan berbahan perak saja. Sedangkan di NBAS Kotagede fokus pada ngukir/natah dan khusus membuat kerajinan berbahan tembaga dan kuningan saja.

Proses pembuatan kerajinan ukiran tembagan dan kuningan di NBAS Kotagede Kriya Logam

Karena itu, wajar saja produk-produk kerajinan perajin di Kotagede diakui sejak dahulu hingga ke luar negeri. Salah satunya ialah berbentuk perhiasan seperti cincin, kalung hingga helm ukir logam. Hampir semua masyarakat Yogyakarta mengenal produk kerajinan logam tersebut. Pasalnya, hingga sekarang Kotagede masih dijadikan sebagai rujukan utama masyarakat Jogja bahkan dari berbagai daerah untuk berburu kerajinan logam, bukan hanya perak, tetapi juga kerajinan tembaga, kuningan hingga alumunium. Malah, saya baru tahu jika dulu Sonobudoyo adalah tempat sekolah kerajinan perak pertama, namun hanya meluluskan satu angkatan saja  dan terhenti akibat agresi Perang Dunia II.

Dulu, kerajinan logam ini juga digunakan pada saat kegiatan internal kerajaan saja, sementara kerajinannya berbentuk perhiasan untuk buah tangan tamu kerajaan. Kerajinan ukir logam merupakan warisan leluhur masa lalu. Seiring perkembangan zaman, kerajinan logam ini mulai diproduksi untuk umum bahkan dipasarkan keluar wilayah Jogja dan beberapa masih diekspor ke mancanegara.

Meski demikian, produk kerajinan logam Kotagede tetap memiliki keunikan tersendiri dibandingkan produk-produk kerajinan yang mungkin ada di daerah lain. Kerajinan logam di Kotagede memiliki motif dan warna-warna yang berbeda dengan yang lainnya. Begitu juga dengan kerajinan perak di Bali misalnya. Perbedaannya terletak pada motif bahkan jika dicermati lebih detail hingga ke produksinya. Hanya saja, perbedaannya pada kerajinan seperti ini terletak pada selera peminatnya.

Motif kalsik Kotagede awalnya menggambarkan kekayaan alam di Kotagede. Konon motif ini menceritakan tentang Kotagede masa lalu yang subur dan kaya akan berbagai tumbuhan yang indah. Namun, kini penggunaan motif klasik khas Kotagede sudah sangat dinamis, dengan dipadukan atau dikombinasikan dengan motif yang kekinian. Misalnya pada helm ada ukir logam motif yang dikombinasikan dengan tema pertambangan minyak karena pemesannya adalah perusahaan tambang minyak. Salah satu ciri kerajinan khas Kotagede ini yang tidak berubah dari dulu adalah motifnya klasiknya ini, detail dan cukup rumit dan keberadaan garis tegas berbentuk ukiran atau bergelombang membuatnya semakin khas.

Helm Ukir Logam – Foto by Tarmono _ Pengrajin

Kini, kerajinan logam di Kotagede ini lebih banyak digunakan sebagai fashion etnik, koleksi, hiasan rumah hingga suvenir. Bahkan, di pusat kerajinan tembaga dan kuningan NBAS Kotagede, kerajinan ukir logam juga digunakan ke dalam berbagai bentuk karya seni salah satunya patung logam yang dijadikan ikon daerah. Meskipun mengalami dinamika, kerajinan logam ini tidak bergeser dari fungsi kegunannya sebagai hiasan.

Kerajinan logam dan upaya pelestarian

Sebagai “kota pariwisata”, Jogja tidak dapat dilepaskan dari banyaknya kunjungan wisatawan. Wisatawan ini mungkin ibarat sebuah pasar abstrak yang dinamis.  Dulu Kotagede ketika masih ibukota kerajaan tentu banyak orang yang berkunjung, banyak yang akan melihat kerajinan-kerajinan logam. Berbeda sekarang, Kotagede menjadi kawasan berpenduduk, bukan seperti dulu sebagai ibukota yang syarat akan mobilitas tinggi orang luar.

Lalu, bagaimana caranya mengembalikan pasar kerajinan logam agar terus ada? Sederhana, memastikan pasar itu harus terus ada. Orang otomatis akan berpikir bahwa kerajinan lokal itu tidak boleh punah. Ya, karena bagian dari sejarah jogja, maka harus ada upaya-upaya lebih dilakukan. Mulai dari merawatnya hingga rajin mempromosikannya.

Saking penasarannya dengan pembangunan berkelanjutan di Kotagede, beberapa waktu lalu di sebuah forum diskusi khusus saya sempat bertanya pada Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta perihal rencana pembangunan Kawasan Kotagede ke depan seperti apa. Terkadang sering kita kesulitan membedakan mana pembangunan infrasturuktur biasa dengan pembangunan penunjang pariwisata.

Bu Dian selaku Kabid pemeliharan dan pengembangan warisan budaya menceritakan bahwa Pemda baru saja membeli rumah kalang, sebuah rumah khas Kotagede yang berarsitektur kuno unik. Rumah tersebut akan direnovasi dan ke depan akan dijadikan sebagai pusat informasi tentang potensi Kotagede. Sehingga jika ada wisatawan berkunjung ke Kotagede diharapkan bisa mendapatkan informasi yang lengkap, misalnya bertanya tentang tempat membuat kerajinan logam di kotagede dimana saja, membuat kue kembang waru dimana saja dan kegiatan ekonomi kreatif menarik lainnya yang ada di sana.

Semangat inilah yang harus terus terjaga di kalangan pemilik kuasa kebijakan (Pemda) terkait pengembangan warisan budaya, termasuk di Kotagede. Maksudnya, ekonomi kreatif lokal tetap harus diberikan ruang apresiasi tersendiri. Sehingga, ke depan kerajinan logam tidak semakin meredup, justru di tengah laju pariwisata Jogja yang semakin meningkat, juga berdampak pada kotagede juga. [T]

Tags: baliKerajinankerajinan perakKotagedeYogyakarta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

CITRAWILĀPA | Dari Sastra Kawi ke Jajanan Pasar Jawa

Next Post

Si Ayam Betina Merah | Cerpen Florence W. Williams

Luki Antoro

Luki Antoro

Pemerhati dan pelaku ekonomi kreatif di Yogyakarta. Lahir pada tanggal 7 april 1996 di Bantul, Yogyakarta. Ia lulusan jurusan prodi menejemen, fakultas ekonomi dan bisnis di UPN Veteran Yogyakarta.

Related Posts

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails

Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
April 8, 2026
0
Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

HARI itu, Jumat, 3 April 2026, menjadi hari yang tak biasa bagi siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam). Sehari...

Read moreDetails

Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

by Putu Gangga Pradipta
April 5, 2026
0
Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

MATAHARI baru saja beranjak dari peraduannya pada Kamis (2/4/2026), namun aspal di sepanjang jalan menuju Pura Segara, Buleleng, sudah mulai...

Read moreDetails

Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

by Helmi Y Haska
March 31, 2026
0
Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

TIGA buku terbaru menjadi pokok soal diskusi malam itu diselenggarakan Toko Buku Partikular di Pasar Suci, Denpasar, Sabtu, 28 Maret...

Read moreDetails

Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

by Dian Suryantini
March 24, 2026
0
Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

Minggu pagi, 8 Maret 2026, Pasar Intaran terasa agak beda. Biasanya, pasar ini nongkrong manis di pinggir pantai, tepat di...

Read moreDetails

Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

by Gading Ganesha
March 24, 2026
0
Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

Sabtu 21 Maret. Tepat pukul lima sore, saya tiba di SMA Negeri 1 Singaraja—dua belas jam sebelum Alumni Smansa Charity...

Read moreDetails

Kisah Perjalanan Mendebarkan Menjemput Kekasih dari Sukawati ke Kota Gianyar untuk Menonton Ogoh-ogoh pada Malam Pengrupukan di Taman Kota Gianyar

by Agus Suardiana Putra
March 20, 2026
0
Kisah Perjalanan Mendebarkan Menjemput Kekasih dari Sukawati ke Kota Gianyar untuk Menonton Ogoh-ogoh pada Malam Pengrupukan di Taman Kota Gianyar

SANG surya mulai turun mengistirahatkan diri setelah seharian bersinar, dan kegelapan perlahan menyelimuti bumi. Tibalah kita pada sandikala, waktu yang...

Read moreDetails
Next Post
Si Ayam Betina Merah | Cerpen Florence W. Williams

Si Ayam Betina Merah | Cerpen Florence W. Williams

Ads

POPULER

  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co