2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

CITRAWILĀPA | Dari Sastra Kawi ke Jajanan Pasar Jawa

Sugi Lanus by Sugi Lanus
February 24, 2021
in Esai
Covid-19 dalam Alam Pikir Religi Nusantara – Catatan Harian Sugi Lanus

ILustrasi tatkala.co / Nana Partha

[Catatan Harian Sugi Lanus 23 Pebruari 2021]

Banyak hal di Bali tinggal nama, di Jawa masih tergambar dalam citra wayang. Katakanlah padmanaba, nama pelindung suci dalam mantra suci yang tercatat dalam lontar kuno di Bali, ternyata bisa kita jumpai dalam “bayang” citra wayang Solo bernama Rsi Padmanaba.

Ada juga tokoh suci Rsi Jayawilapa, dikenal sebagai seorang rsi dari pertapaan Yasarata (Patala), punya putri bernama Dewi Ulupi. Ia diperistri oleh Janaka. Jayawilapa adalah nama lain dari Rsi Kanwa. Ini hampir lenyap dari ingatan pewayangan Bali. Namun di Jawa masih diabadikan dalam guratan wajah, busana bertekstur indah, warna yang matang dan simbolik.

Sumber internet

Kenapa Rsi Kanwa bergelar Rsi Jayawilapa?

Siapapun yang mendalam basah kuyup dalam memperdalam Sastra Kawi atau Kakawin tentunya akan mengkaitkan sosok suci ini dengan sebuah kata yang menduduki pedalaman sastra Kawi: Wilāpa.

Lebih basah kuyup lagi dalam seni kakawin maka berjumpa dengan metrum atau persajakan yang dikenal dengan nama Citrawilāpa. Persajakan kakawin ini termasuk Prakṛti: ∪∪∪|∪∪|∪∪|∪∪∪|∪∪|∪∪|∪∪⩂

Wilāpa punya makna mendalam dalam konteks sastra Kawi. Mpu Kanwa barangkali yang berjaya di bidang ini. Barangkali Rsi Kanwa diberi gelar Rsi Jayawilapa sebab dikenal sebagai sosok yang tiada tanding menulis dalam menulis wilāpa (madah pujian).

Ada empat pokok istilah yang mau tidak mau harus dipahami jika seseorang ingin masuk ke pedalaman Sastra Kawi. Selain wilāpa, 3 pokok istilah lain yang bisa dijadikan penuntun dalam merenangi kolam Sastra Kawi adalah: pralāpita, bhāṣa dan palambang.

Mpu Panuluh memakai istilah wilāpa. Mpu Tanakung memakai istilah bhāṣa. Mpu Tanakung sempat memakai istilah pralāpita dalam Siwaratrikalpa, tapi berkibar luas dikenal bhāṣa Tanakung. Kakawin Sumanasantaka berkali menyebut palambang, demikian juga Wrttayana. Wrttasancaya menyebut Tanakung palambang: Ndan hantusakena damel Tanakung palambang… ring kalangwan kawy…

Wilāpa itu bisa berarti ocehan, bisa berarti ucapan, jika dilihat dari akar katanya Sansekertanya lap. Namun wilāpa di kancah karas pengawi adalah ‘madah pujian’, ‘rintihan’, ‘ratapan’, dan menjelma ke beberapa kasus adalah ‘syair keindahan alam’ dan ‘puitika cinta’.

Wilāpa dan pralapita tidak jelas garis segragasinya. Keduanya dari akar kata lap. Keduanya kadang secara umum berarti ‘ratapan’, kadang ‘kisah cinta’, dan entah kenapa akar kata lap ini dekat sekali pengucapannya dengan ‘love’. Dengan mengutip kamus besar Sanskerta Monier Williams, Romo Zoet mengartikan pralāpita berarti ‘omongan antara dua kekasih atau ocehan’.

Hariwijaya menyebut pralāpita: gurit pralapita talen kidung serta gurit kidung pralapita umunggwing lepihan.

Rsi Jayawilapa alias Rsi Kanwa [sumber foto internet]

Lalu dimana kejayaan Rsi Kanwa sehingga bergelar Rsi Jayawilapa?

Berkeliling dan hilir mudik “membaca Jawa”, yang tidak masuk akal — atau akal saya belum bisa masuk ke sana — kenapa sayur-sayuran segar, berbagai ragam bentuk lauk pauk yang dibungkus dengan daun pisang, daun tales, daun pandan, daun kelapa dihidangkan dalam bentuk sajian utuh, adapula arem-arem, ketupat, sukun disayur, salak yang disayur, kulit buah melinjo yang dikupas kemudian dijemur lalu ditumbuk dengan gula pasir, dibuat menjadi makanan semacam manisan, kesemuanya itu disebut sebagai Citrawilapa?

Di masyakat Kejawen di Jawa, Citrawilāpa itu hampir tidak pernah diingat sebagai metrum tembang Kakawin. Malah tersangkut di tukon pasar atau belanjaan pasar yang menduduki posisi penting dalam sesaji Kejawen.

Slametan Suran, yang diselenggarakan pada bulan Sura, memasukkan Citrawilāpa sebagai daftar wajib.

Citrawilāpa masuk bersama Kitripadra, Wanausala, Driyatmaka, dan Tandyatnya. Kelimanya bukan nama metrum atau persajakan Sastra Kawi, tapi tukon pasar atau jajanan pasar. Di sinilah saya mabok membaca Jawa.

Driyatmaka dari driya + atmaka.  [Driya artinya: hati/perasaan. Kamus Dasanama memberi padanannya : hrêdaya, ambêk, angên-angên, nala, cita, driya, drangsa, twas, tyas, sota. Sementara atmaka artinya nyawa. Dengan arti Dasanamanya: suksma, jiwa, jiwita]. Namun jajanan pasar yang keluar kalau menyebut Driyatmaka adalah terdiri dari buah-buahan, kacang-kacangan, biji-bijian dijadikan jajanan jenang (jenang pelok dari biji mangga), biji buah (klungsu, pelok), asem Jawa dibuat param.

Kitripadra sesuai dengan padanan Sansekertanya yaitu hasil bumi yang dipetik dari kebun yang dipetik langsung dari kebun.

Wanausala adalah kelompok sajian yang sebagian direbus, dan yang lain digoreng. Digoreng bukan dengan pasir tapi dengan periuk tanah dengan pasir atau kerikil. ‘Wana’ itu ‘hutan’, ‘sala’ itu pondok. Mungkin bermakna ‘olahan rumahan dari hasil hutan?’

Sajian yang dibuat dengan dikukus disebut sebagai Tandyatnya. Apakah asal katanya tāṇḍya?  Tāṇḍya adalah nama seorang guru, dalam śatapatha Brāhmana, berkaitan dengan Agniciti, atau tumpukan api suci. Dia disebutkan dalam Vamśa Brāhmana. Tāndya Mahābrāhmana atau Pañcavimśa Brāhmana dari Sāmaveda mewakili aliran Tāndin. Tidak jelas keterkaitannya dengan jajanan pasar jenis dikukus yang dikenal di Jawa dengan nama tandyatnya.

Citrawilāpa, Kitripadra, Wanausala, Driyatmaka, dan Tandyatnya adalah lima kelompok pembagian jajanan pasar dalam cara pikir Kejawen. Jika Citrawilāpa adalah nama metrum atau persajakan dari Sastra Kawi, apakah yang lainnya juga nama persajakan Sastra Kawi? Saya tidak memukan nama keempat lainnya ini sebagai metrum Kakawin. Yang jelas kelimanya punya dasar serapan bahasa Sansekerta yang sangat mendalam. Ini mengagumkan.

Hilir mudik di pasar Jawa, nama irama kakawin masuk daftar nama jajanan — seperti metrum atau persajakan karya sastra yang tergantung nuasa keharuan, basah kering musim, gelap terang bulan, dengan bunga-bunga bermekaran aneka warna tergantung gelagat perbintangan dan kuasa bulan — jajanan pasar ditata dengan nama apik berdasar asal-muasal dan cara sajinya.

Belajar dari Citrawilāpa di pasar Jawa, saya terhentak, ternyata pasar bukan hanya sebatas lapangan jual-beli, bukan sebatas riuh lalu-lalang urusan perut, tapi ruang yang punya daya ingatan jauh sampai ke masa silam. Di pasar tradisional Jawa ada rekaman panjang Sansekerta pernah masuk ke sumsum peradaban Jawa. [T]

___

BACA CATATAN HARIAN YANG LAIN

ILustrasi tatkala.co / Nana Partha
Tags: balijawawayang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Warung Masjid dan 12.000 Porsi Makan Gratis | Catatan dari Kampung di Singaraja

Next Post

Kerajinan Logam Kotagede: Masa Lalu dan Masa Kini

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Kerajinan Logam Kotagede: Masa Lalu dan Masa Kini

Kerajinan Logam Kotagede: Masa Lalu dan Masa Kini

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co