23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

CITRAWILĀPA | Dari Sastra Kawi ke Jajanan Pasar Jawa

Sugi Lanus by Sugi Lanus
February 24, 2021
in Esai
Covid-19 dalam Alam Pikir Religi Nusantara – Catatan Harian Sugi Lanus

ILustrasi tatkala.co / Nana Partha

[Catatan Harian Sugi Lanus 23 Pebruari 2021]

Banyak hal di Bali tinggal nama, di Jawa masih tergambar dalam citra wayang. Katakanlah padmanaba, nama pelindung suci dalam mantra suci yang tercatat dalam lontar kuno di Bali, ternyata bisa kita jumpai dalam “bayang” citra wayang Solo bernama Rsi Padmanaba.

Ada juga tokoh suci Rsi Jayawilapa, dikenal sebagai seorang rsi dari pertapaan Yasarata (Patala), punya putri bernama Dewi Ulupi. Ia diperistri oleh Janaka. Jayawilapa adalah nama lain dari Rsi Kanwa. Ini hampir lenyap dari ingatan pewayangan Bali. Namun di Jawa masih diabadikan dalam guratan wajah, busana bertekstur indah, warna yang matang dan simbolik.

Sumber internet

Kenapa Rsi Kanwa bergelar Rsi Jayawilapa?

Siapapun yang mendalam basah kuyup dalam memperdalam Sastra Kawi atau Kakawin tentunya akan mengkaitkan sosok suci ini dengan sebuah kata yang menduduki pedalaman sastra Kawi: Wilāpa.

Lebih basah kuyup lagi dalam seni kakawin maka berjumpa dengan metrum atau persajakan yang dikenal dengan nama Citrawilāpa. Persajakan kakawin ini termasuk Prakṛti: ∪∪∪|∪∪|∪∪|∪∪∪|∪∪|∪∪|∪∪⩂

Wilāpa punya makna mendalam dalam konteks sastra Kawi. Mpu Kanwa barangkali yang berjaya di bidang ini. Barangkali Rsi Kanwa diberi gelar Rsi Jayawilapa sebab dikenal sebagai sosok yang tiada tanding menulis dalam menulis wilāpa (madah pujian).

Ada empat pokok istilah yang mau tidak mau harus dipahami jika seseorang ingin masuk ke pedalaman Sastra Kawi. Selain wilāpa, 3 pokok istilah lain yang bisa dijadikan penuntun dalam merenangi kolam Sastra Kawi adalah: pralāpita, bhāṣa dan palambang.

Mpu Panuluh memakai istilah wilāpa. Mpu Tanakung memakai istilah bhāṣa. Mpu Tanakung sempat memakai istilah pralāpita dalam Siwaratrikalpa, tapi berkibar luas dikenal bhāṣa Tanakung. Kakawin Sumanasantaka berkali menyebut palambang, demikian juga Wrttayana. Wrttasancaya menyebut Tanakung palambang: Ndan hantusakena damel Tanakung palambang… ring kalangwan kawy…

Wilāpa itu bisa berarti ocehan, bisa berarti ucapan, jika dilihat dari akar katanya Sansekertanya lap. Namun wilāpa di kancah karas pengawi adalah ‘madah pujian’, ‘rintihan’, ‘ratapan’, dan menjelma ke beberapa kasus adalah ‘syair keindahan alam’ dan ‘puitika cinta’.

Wilāpa dan pralapita tidak jelas garis segragasinya. Keduanya dari akar kata lap. Keduanya kadang secara umum berarti ‘ratapan’, kadang ‘kisah cinta’, dan entah kenapa akar kata lap ini dekat sekali pengucapannya dengan ‘love’. Dengan mengutip kamus besar Sanskerta Monier Williams, Romo Zoet mengartikan pralāpita berarti ‘omongan antara dua kekasih atau ocehan’.

Hariwijaya menyebut pralāpita: gurit pralapita talen kidung serta gurit kidung pralapita umunggwing lepihan.

Rsi Jayawilapa alias Rsi Kanwa [sumber foto internet]

Lalu dimana kejayaan Rsi Kanwa sehingga bergelar Rsi Jayawilapa?

Berkeliling dan hilir mudik “membaca Jawa”, yang tidak masuk akal — atau akal saya belum bisa masuk ke sana — kenapa sayur-sayuran segar, berbagai ragam bentuk lauk pauk yang dibungkus dengan daun pisang, daun tales, daun pandan, daun kelapa dihidangkan dalam bentuk sajian utuh, adapula arem-arem, ketupat, sukun disayur, salak yang disayur, kulit buah melinjo yang dikupas kemudian dijemur lalu ditumbuk dengan gula pasir, dibuat menjadi makanan semacam manisan, kesemuanya itu disebut sebagai Citrawilapa?

Di masyakat Kejawen di Jawa, Citrawilāpa itu hampir tidak pernah diingat sebagai metrum tembang Kakawin. Malah tersangkut di tukon pasar atau belanjaan pasar yang menduduki posisi penting dalam sesaji Kejawen.

Slametan Suran, yang diselenggarakan pada bulan Sura, memasukkan Citrawilāpa sebagai daftar wajib.

Citrawilāpa masuk bersama Kitripadra, Wanausala, Driyatmaka, dan Tandyatnya. Kelimanya bukan nama metrum atau persajakan Sastra Kawi, tapi tukon pasar atau jajanan pasar. Di sinilah saya mabok membaca Jawa.

Driyatmaka dari driya + atmaka.  [Driya artinya: hati/perasaan. Kamus Dasanama memberi padanannya : hrêdaya, ambêk, angên-angên, nala, cita, driya, drangsa, twas, tyas, sota. Sementara atmaka artinya nyawa. Dengan arti Dasanamanya: suksma, jiwa, jiwita]. Namun jajanan pasar yang keluar kalau menyebut Driyatmaka adalah terdiri dari buah-buahan, kacang-kacangan, biji-bijian dijadikan jajanan jenang (jenang pelok dari biji mangga), biji buah (klungsu, pelok), asem Jawa dibuat param.

Kitripadra sesuai dengan padanan Sansekertanya yaitu hasil bumi yang dipetik dari kebun yang dipetik langsung dari kebun.

Wanausala adalah kelompok sajian yang sebagian direbus, dan yang lain digoreng. Digoreng bukan dengan pasir tapi dengan periuk tanah dengan pasir atau kerikil. ‘Wana’ itu ‘hutan’, ‘sala’ itu pondok. Mungkin bermakna ‘olahan rumahan dari hasil hutan?’

Sajian yang dibuat dengan dikukus disebut sebagai Tandyatnya. Apakah asal katanya tāṇḍya?  Tāṇḍya adalah nama seorang guru, dalam śatapatha Brāhmana, berkaitan dengan Agniciti, atau tumpukan api suci. Dia disebutkan dalam Vamśa Brāhmana. Tāndya Mahābrāhmana atau Pañcavimśa Brāhmana dari Sāmaveda mewakili aliran Tāndin. Tidak jelas keterkaitannya dengan jajanan pasar jenis dikukus yang dikenal di Jawa dengan nama tandyatnya.

Citrawilāpa, Kitripadra, Wanausala, Driyatmaka, dan Tandyatnya adalah lima kelompok pembagian jajanan pasar dalam cara pikir Kejawen. Jika Citrawilāpa adalah nama metrum atau persajakan dari Sastra Kawi, apakah yang lainnya juga nama persajakan Sastra Kawi? Saya tidak memukan nama keempat lainnya ini sebagai metrum Kakawin. Yang jelas kelimanya punya dasar serapan bahasa Sansekerta yang sangat mendalam. Ini mengagumkan.

Hilir mudik di pasar Jawa, nama irama kakawin masuk daftar nama jajanan — seperti metrum atau persajakan karya sastra yang tergantung nuasa keharuan, basah kering musim, gelap terang bulan, dengan bunga-bunga bermekaran aneka warna tergantung gelagat perbintangan dan kuasa bulan — jajanan pasar ditata dengan nama apik berdasar asal-muasal dan cara sajinya.

Belajar dari Citrawilāpa di pasar Jawa, saya terhentak, ternyata pasar bukan hanya sebatas lapangan jual-beli, bukan sebatas riuh lalu-lalang urusan perut, tapi ruang yang punya daya ingatan jauh sampai ke masa silam. Di pasar tradisional Jawa ada rekaman panjang Sansekerta pernah masuk ke sumsum peradaban Jawa. [T]

___

BACA CATATAN HARIAN YANG LAIN

ILustrasi tatkala.co / Nana Partha
Tags: balijawawayang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Warung Masjid dan 12.000 Porsi Makan Gratis | Catatan dari Kampung di Singaraja

Next Post

Kerajinan Logam Kotagede: Masa Lalu dan Masa Kini

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Kerajinan Logam Kotagede: Masa Lalu dan Masa Kini

Kerajinan Logam Kotagede: Masa Lalu dan Masa Kini

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co