12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

CITRAWILĀPA | Dari Sastra Kawi ke Jajanan Pasar Jawa

Sugi Lanus by Sugi Lanus
February 24, 2021
in Esai
Covid-19 dalam Alam Pikir Religi Nusantara – Catatan Harian Sugi Lanus

ILustrasi tatkala.co / Nana Partha

[Catatan Harian Sugi Lanus 23 Pebruari 2021]

Banyak hal di Bali tinggal nama, di Jawa masih tergambar dalam citra wayang. Katakanlah padmanaba, nama pelindung suci dalam mantra suci yang tercatat dalam lontar kuno di Bali, ternyata bisa kita jumpai dalam “bayang” citra wayang Solo bernama Rsi Padmanaba.

Ada juga tokoh suci Rsi Jayawilapa, dikenal sebagai seorang rsi dari pertapaan Yasarata (Patala), punya putri bernama Dewi Ulupi. Ia diperistri oleh Janaka. Jayawilapa adalah nama lain dari Rsi Kanwa. Ini hampir lenyap dari ingatan pewayangan Bali. Namun di Jawa masih diabadikan dalam guratan wajah, busana bertekstur indah, warna yang matang dan simbolik.

Sumber internet

Kenapa Rsi Kanwa bergelar Rsi Jayawilapa?

Siapapun yang mendalam basah kuyup dalam memperdalam Sastra Kawi atau Kakawin tentunya akan mengkaitkan sosok suci ini dengan sebuah kata yang menduduki pedalaman sastra Kawi: Wilāpa.

Lebih basah kuyup lagi dalam seni kakawin maka berjumpa dengan metrum atau persajakan yang dikenal dengan nama Citrawilāpa. Persajakan kakawin ini termasuk Prakṛti: ∪∪∪|∪∪|∪∪|∪∪∪|∪∪|∪∪|∪∪⩂

Wilāpa punya makna mendalam dalam konteks sastra Kawi. Mpu Kanwa barangkali yang berjaya di bidang ini. Barangkali Rsi Kanwa diberi gelar Rsi Jayawilapa sebab dikenal sebagai sosok yang tiada tanding menulis dalam menulis wilāpa (madah pujian).

Ada empat pokok istilah yang mau tidak mau harus dipahami jika seseorang ingin masuk ke pedalaman Sastra Kawi. Selain wilāpa, 3 pokok istilah lain yang bisa dijadikan penuntun dalam merenangi kolam Sastra Kawi adalah: pralāpita, bhāṣa dan palambang.

Mpu Panuluh memakai istilah wilāpa. Mpu Tanakung memakai istilah bhāṣa. Mpu Tanakung sempat memakai istilah pralāpita dalam Siwaratrikalpa, tapi berkibar luas dikenal bhāṣa Tanakung. Kakawin Sumanasantaka berkali menyebut palambang, demikian juga Wrttayana. Wrttasancaya menyebut Tanakung palambang: Ndan hantusakena damel Tanakung palambang… ring kalangwan kawy…

Wilāpa itu bisa berarti ocehan, bisa berarti ucapan, jika dilihat dari akar katanya Sansekertanya lap. Namun wilāpa di kancah karas pengawi adalah ‘madah pujian’, ‘rintihan’, ‘ratapan’, dan menjelma ke beberapa kasus adalah ‘syair keindahan alam’ dan ‘puitika cinta’.

Wilāpa dan pralapita tidak jelas garis segragasinya. Keduanya dari akar kata lap. Keduanya kadang secara umum berarti ‘ratapan’, kadang ‘kisah cinta’, dan entah kenapa akar kata lap ini dekat sekali pengucapannya dengan ‘love’. Dengan mengutip kamus besar Sanskerta Monier Williams, Romo Zoet mengartikan pralāpita berarti ‘omongan antara dua kekasih atau ocehan’.

Hariwijaya menyebut pralāpita: gurit pralapita talen kidung serta gurit kidung pralapita umunggwing lepihan.

Rsi Jayawilapa alias Rsi Kanwa [sumber foto internet]

Lalu dimana kejayaan Rsi Kanwa sehingga bergelar Rsi Jayawilapa?

Berkeliling dan hilir mudik “membaca Jawa”, yang tidak masuk akal — atau akal saya belum bisa masuk ke sana — kenapa sayur-sayuran segar, berbagai ragam bentuk lauk pauk yang dibungkus dengan daun pisang, daun tales, daun pandan, daun kelapa dihidangkan dalam bentuk sajian utuh, adapula arem-arem, ketupat, sukun disayur, salak yang disayur, kulit buah melinjo yang dikupas kemudian dijemur lalu ditumbuk dengan gula pasir, dibuat menjadi makanan semacam manisan, kesemuanya itu disebut sebagai Citrawilapa?

Di masyakat Kejawen di Jawa, Citrawilāpa itu hampir tidak pernah diingat sebagai metrum tembang Kakawin. Malah tersangkut di tukon pasar atau belanjaan pasar yang menduduki posisi penting dalam sesaji Kejawen.

Slametan Suran, yang diselenggarakan pada bulan Sura, memasukkan Citrawilāpa sebagai daftar wajib.

Citrawilāpa masuk bersama Kitripadra, Wanausala, Driyatmaka, dan Tandyatnya. Kelimanya bukan nama metrum atau persajakan Sastra Kawi, tapi tukon pasar atau jajanan pasar. Di sinilah saya mabok membaca Jawa.

Driyatmaka dari driya + atmaka.  [Driya artinya: hati/perasaan. Kamus Dasanama memberi padanannya : hrêdaya, ambêk, angên-angên, nala, cita, driya, drangsa, twas, tyas, sota. Sementara atmaka artinya nyawa. Dengan arti Dasanamanya: suksma, jiwa, jiwita]. Namun jajanan pasar yang keluar kalau menyebut Driyatmaka adalah terdiri dari buah-buahan, kacang-kacangan, biji-bijian dijadikan jajanan jenang (jenang pelok dari biji mangga), biji buah (klungsu, pelok), asem Jawa dibuat param.

Kitripadra sesuai dengan padanan Sansekertanya yaitu hasil bumi yang dipetik dari kebun yang dipetik langsung dari kebun.

Wanausala adalah kelompok sajian yang sebagian direbus, dan yang lain digoreng. Digoreng bukan dengan pasir tapi dengan periuk tanah dengan pasir atau kerikil. ‘Wana’ itu ‘hutan’, ‘sala’ itu pondok. Mungkin bermakna ‘olahan rumahan dari hasil hutan?’

Sajian yang dibuat dengan dikukus disebut sebagai Tandyatnya. Apakah asal katanya tāṇḍya?  Tāṇḍya adalah nama seorang guru, dalam śatapatha Brāhmana, berkaitan dengan Agniciti, atau tumpukan api suci. Dia disebutkan dalam Vamśa Brāhmana. Tāndya Mahābrāhmana atau Pañcavimśa Brāhmana dari Sāmaveda mewakili aliran Tāndin. Tidak jelas keterkaitannya dengan jajanan pasar jenis dikukus yang dikenal di Jawa dengan nama tandyatnya.

Citrawilāpa, Kitripadra, Wanausala, Driyatmaka, dan Tandyatnya adalah lima kelompok pembagian jajanan pasar dalam cara pikir Kejawen. Jika Citrawilāpa adalah nama metrum atau persajakan dari Sastra Kawi, apakah yang lainnya juga nama persajakan Sastra Kawi? Saya tidak memukan nama keempat lainnya ini sebagai metrum Kakawin. Yang jelas kelimanya punya dasar serapan bahasa Sansekerta yang sangat mendalam. Ini mengagumkan.

Hilir mudik di pasar Jawa, nama irama kakawin masuk daftar nama jajanan — seperti metrum atau persajakan karya sastra yang tergantung nuasa keharuan, basah kering musim, gelap terang bulan, dengan bunga-bunga bermekaran aneka warna tergantung gelagat perbintangan dan kuasa bulan — jajanan pasar ditata dengan nama apik berdasar asal-muasal dan cara sajinya.

Belajar dari Citrawilāpa di pasar Jawa, saya terhentak, ternyata pasar bukan hanya sebatas lapangan jual-beli, bukan sebatas riuh lalu-lalang urusan perut, tapi ruang yang punya daya ingatan jauh sampai ke masa silam. Di pasar tradisional Jawa ada rekaman panjang Sansekerta pernah masuk ke sumsum peradaban Jawa. [T]

___

BACA CATATAN HARIAN YANG LAIN

ILustrasi tatkala.co / Nana Partha
Tags: balijawawayang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Warung Masjid dan 12.000 Porsi Makan Gratis | Catatan dari Kampung di Singaraja

Next Post

Kerajinan Logam Kotagede: Masa Lalu dan Masa Kini

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Kerajinan Logam Kotagede: Masa Lalu dan Masa Kini

Kerajinan Logam Kotagede: Masa Lalu dan Masa Kini

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co