2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Si Ayam Betina Merah | Cerpen Florence W. Williams

Juli Sastrawan by Juli Sastrawan
February 24, 2021
in Cerpen
Si Ayam Betina Merah | Cerpen Florence W. Williams

Ilustrasi Florence W. Williams dari buku aslinya dan diolah oleh Juli Sastrawan

  • Cerpen Florence W. Williams
  • Diterjemahkan dari dari Old English Folk Tales oleh Juli Sastrawan
  • Ilustrasi oleh Florence W. Williams

____

Si Ayam Betina Merah tinggal di sebuah lumbung. Dia menghabiskan hampir seluruh waktunya berjalan-jalan di sekitar lumbung untuk mencari cacing. Dia sangat menyukai cacing yang gemuk dan lezat dan baginya, cacing sangat penting untuk kesehatan anak-anaknya. Seringkali ketika menemukan sebuah cacing dia akan berseru.

“Kok-kok-petok!” kepada anak-anaknya. Ketika sudah berkumpul, dia akan membagikan potongan makanan terenak itu dari paruhnya.

Si kucing biasanya tidur dan bermalas-malasan di pintu gudang, dia bahkan tidak repot-repot menakut-nakuti si tikus yang berlarian kesana kemari. Begitu pula si babi yang tinggal di dalam kandangnya—dia tidak peduli apa yang terjadi selama dia bisa makan dan menjadi gemuk.

Suatu hari si Ayam Betina Merah menemukan biji. Itu adalah Biji Gandum, tetapi si Ayam Betina Merah begitu terbiasa dengan serangga dan cacing sehingga dia mengira ini adalah jenis daging yang baru dan mungkin sangat lezat. Dia menggigitnya dengan lembut dan menemukan bahwa rasanya sama sekali tidak mirip cacing meskipun bentuknya panjang dan ramping, si Ayam Betina Merah mungkin mudah tertipu oleh penampilannya.

Dia membawa biji itu dan bertanya-tanya. Dia menemukan itu adalah Biji Gandum dan, jika ditanam, akan tumbuh dan ketika matang bisa dibuat menjadi tepung dan kemudian menjadi roti.

Saat dia menemukannya, dia tahu itu seharusnya untuk ditanam. Dia begitu sibuknya berburu makanan untuk diri dan keluarganya, tentu saja, dia pikir dia tidak seharusnya meluangkan waktu untuk menanamnya.

Jadi dia memikirkan si babi—yang suka bengong dan si kucing yang tidak punya pekerjaan, dan si tikus gendut dengan jam-jam kosongnya, dan dia berteriak:

“Siapa yang akan menanam benih ini?”

Tapi si babi berkata, “Bukan aku,”

dan si kucing berkata, “Bukan aku,”

dan si tikus berkata, “Bukan aku.”

“Baiklah,” kata si Ayam Betina Merah, “Aku saja, kalau begitu.” Dan dia melakukannya.

Kemudian dia melanjutkan tugas hariannya melalui hari-hari musim panas yang panjang, sambil menggaruk-garuk mencari cacing dan memberi makan anak-anaknya.

Si babi menjadi gemuk,

dan si kucing menjadi gemuk,

dan si tikus menjadi gemuk,

dan gandumnya tumbuh tinggi dan siap untuk dipanen.

Suatu hari si Ayam Betina Merah kebetulan melihat gandumnya sudah besar dan ternyata bijinya juga sudah matang, jadi dia berlari ke sana kemari sambil berteriak dengan cepat: “Siapa yang akan memotong gandumnya?”

Si babi berkata, “Bukan aku,”

Si kucing berkata, “Bukan aku,”

dan si tikus berkata, “Bukan aku.”

“Baiklah,” kata si Ayam Betina Merah, “Aku saja, kalau begitu.” Dan dia melakukannya.

Dia mengambil sabit dari peralatan-peralatan petani di gudang dan mulai memotong semua gandum yang besar. Di atas tanah tergeletak gandum yang telah dipotong dengan rapi, siap untuk dikumpulkan dan diirik, tetapi anak ayam yang paling baru, paling kecil dan paling berbulu halus “mengintip-intip” dengan bersemangat, menyerukan kepada dunia luas, terutama pada ibunya, bahwa ibunya mengabaikan mereka. Si Ayam Betina Merah yang malang! Dia merasa sangat bingung dan hampir tidak tahu ke mana harus berpaling.

Perhatiannya terpecah antara tugasnya untuk anak-anaknya dan tugasnya pada gandum, yang membuatnya merasa bertanggung jawab. Jadi, sekali lagi, dengan nada penuh harapan, dia berseru, “Siapa yang akan mengirik gandumnya?” Tapi si Babi, sambil mendengus, berkata, “Bukan aku,” dan si kucing, sambil mengeong, berkata, “Bukan aku,” dan si tikus, dengan mencicit, berkata, “Bukan aku”. Si Ayam Betina Merah, harus mengakui, sedikit putus asa, berkata, “Baiklah, aku saja, kalau begitu.” Dan dia melakukannya.

Tentu saja, dia harus memberi makan anak-anaknya dulu, dan ketika mereka semua sudah tertidur untuk tidur siang, dia pergi keluar dan mengirik gandum. Kemudian dia berseru: “Siapa yang akan membawa gandum ke penggilingan untuk digiling?”

Membalik punggung mereka dengan gembira, si babi berkata, “Bukan aku,” dan si kucing berkata, “Bukan aku,” dan si tikus itu berkata, “Bukan aku”.

Si Ayam Betina Merah yang baik tidak bisa berbuat apa-apa selain berkata, “Baiklah, aku saja kalau begitu.” Dan dia melakukannya.

Sambil membawa karung gandum, dia berjalan dengan susah payah ke pabrik yang jauh. Di sana dia memesan gandum yang digiling menjadi tepung putih yang indah. Ketika penggiling membawakan tepung untuknya, dia berjalan perlahan kembali ke lumbung miliknya sendiri.

Dia bahkan berhasil mengatur semuanya, lepas dari bebannya, menangkap cacing lezat dan menyisakan satu untuk anak-anaknya ketika dia bertemu mereka. Bola bulu kecil itu sangat senang melihat ibu mereka datang. Untuk pertama kalinya, mereka sangat menghargainya.

Setelah hari yang sangat berat ini, dia beristirahat lebih awal dari biasanya—bahkan sebelum warna-warni muncul di langit untuk menandai terbenamnya matahari, jam tidurnya yang biasa.

Dia ingin tidur larut di pagi hari, tapi anak-anaknya, bergabung dalam paduan suara pagi di kandang ayam, mengusir semua harapan akan kemewahan itu. Bahkan ketika dia mengantuk dengan setengah membuka satu matanya, di benaknya terpikir bahwa hari ini gandum harus, entah bagaimana caranya, dibuat menjadi roti.

Dia tidak terbiasa membuat roti, meskipun, tentu saja, siapa pun bisa membuatnya jika dia mengikuti resep dengan hati-hati, dan dia tahu betul bahwa dia bisa melakukannya jika perlu. Jadi setelah anak-anaknya diberi makan dan dibuat tampak manis dan segar untuk hari itu, dia menemui si babi, si kucing dan si tikus. Masih yakin bahwa mereka pasti akan membantunya suatu hari nanti dia bertanya, “Siapa yang akan membuat roti?”

Si Ayam Betina Merah yang malang. Sekali lagi harapannya pupus. Si babi berkata, “Bukan aku,” dan si kucing berkata, “Bukan aku,” dan si tikus itu berkata, “Bukan aku”.

Si ayam merah kecil berkata sekali lagi, “Baiklah, aku saja kalau begitu.” Dan dia melakukannya.

Merasa bahwa dia mungkin tahu sepanjang waktu bahwa dia harus melakukan semuanya sendiri, dia pergi dan memakai celemek baru dan topi juru masak yang bersih. Pertama-tama dia mengatur adonan, sebagaimana mestinya. Ketika tiba waktunya dia mengeluarkan papan cetakan dan loyang, membentuk roti, membaginya kecil-kecil, dan memasukkannya ke dalam oven untuk dipanggang. Si kucing duduk dengan malas, terkekeh dan cekikikan. Dan tak jauh dari sana, si tikus yang sia-sia membedaki hidungnya dan mengagumi dirinya sendiri di depan cermin. Di kejauhan terdengar dengkuran keras si babi yang sedang tidur.

Akhirnya saat yang luar biasa tiba. Aroma sedap berhembus di atas angin musim gugur. Di mana-mana warga lumbung mengendus udara kegirangan.

Si Ayam Betina Merah berjalan dengan cepat menuju sumber dari semua kegembiraan itu. Meskipun dia tampak sangat tenang, pada kenyataannya dia hanya bisa dengan susah payah menahan dorongan untuk menari dan bernyanyi, sedikit heran bahwa dia adalah orang yang paling bersemangat di lumbung ini! Dia tidak tahu apakah roti itu cocok untuk dimakan, tetapi—dia begitu gembira!—Ketika roti cokelat yang indah keluar dari oven, roti itu matang dengan sempurna.

Kemudian, mungkin karena dia telah terbiasa, si Ayam Betina Merah berseru:“Siapa yang akan makan Roti?”

Semua hewan di lumbung melihatnya dengan lapar dan liur mereka menetes.

Si babi berkata, “Aku mau,”Si kucing berkata, “Aku mau,”Si tikus berkata, “Saya mau.”

Tapi si Ayam Betina Merah berkata,“Tidak, kalian tidak mau. Aku saja.” dan dia melakukannya. [T]

Tags: CerpenCerpen Terjemahan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kerajinan Logam Kotagede: Masa Lalu dan Masa Kini

Next Post

“Jaja Sengait” dan Gula Pedawa | Dan Hal Lain yang Bertautan dengan Pohon Aren

Juli Sastrawan

Juli Sastrawan

Pengajar, penggiat literasi, sastrawan kw 5, pustakawan di komunitas Literasi Anak Bangsa

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
“Jaja Sengait” dan Gula Pedawa | Dan Hal Lain yang Bertautan dengan Pohon Aren

“Jaja Sengait” dan Gula Pedawa | Dan Hal Lain yang Bertautan dengan Pohon Aren

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co