24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Si Ayam Betina Merah | Cerpen Florence W. Williams

Juli Sastrawan by Juli Sastrawan
February 24, 2021
in Cerpen
Si Ayam Betina Merah | Cerpen Florence W. Williams

Ilustrasi Florence W. Williams dari buku aslinya dan diolah oleh Juli Sastrawan

  • Cerpen Florence W. Williams
  • Diterjemahkan dari dari Old English Folk Tales oleh Juli Sastrawan
  • Ilustrasi oleh Florence W. Williams

____

Si Ayam Betina Merah tinggal di sebuah lumbung. Dia menghabiskan hampir seluruh waktunya berjalan-jalan di sekitar lumbung untuk mencari cacing. Dia sangat menyukai cacing yang gemuk dan lezat dan baginya, cacing sangat penting untuk kesehatan anak-anaknya. Seringkali ketika menemukan sebuah cacing dia akan berseru.

“Kok-kok-petok!” kepada anak-anaknya. Ketika sudah berkumpul, dia akan membagikan potongan makanan terenak itu dari paruhnya.

Si kucing biasanya tidur dan bermalas-malasan di pintu gudang, dia bahkan tidak repot-repot menakut-nakuti si tikus yang berlarian kesana kemari. Begitu pula si babi yang tinggal di dalam kandangnya—dia tidak peduli apa yang terjadi selama dia bisa makan dan menjadi gemuk.

Suatu hari si Ayam Betina Merah menemukan biji. Itu adalah Biji Gandum, tetapi si Ayam Betina Merah begitu terbiasa dengan serangga dan cacing sehingga dia mengira ini adalah jenis daging yang baru dan mungkin sangat lezat. Dia menggigitnya dengan lembut dan menemukan bahwa rasanya sama sekali tidak mirip cacing meskipun bentuknya panjang dan ramping, si Ayam Betina Merah mungkin mudah tertipu oleh penampilannya.

Dia membawa biji itu dan bertanya-tanya. Dia menemukan itu adalah Biji Gandum dan, jika ditanam, akan tumbuh dan ketika matang bisa dibuat menjadi tepung dan kemudian menjadi roti.

Saat dia menemukannya, dia tahu itu seharusnya untuk ditanam. Dia begitu sibuknya berburu makanan untuk diri dan keluarganya, tentu saja, dia pikir dia tidak seharusnya meluangkan waktu untuk menanamnya.

Jadi dia memikirkan si babi—yang suka bengong dan si kucing yang tidak punya pekerjaan, dan si tikus gendut dengan jam-jam kosongnya, dan dia berteriak:

“Siapa yang akan menanam benih ini?”

Tapi si babi berkata, “Bukan aku,”

dan si kucing berkata, “Bukan aku,”

dan si tikus berkata, “Bukan aku.”

“Baiklah,” kata si Ayam Betina Merah, “Aku saja, kalau begitu.” Dan dia melakukannya.

Kemudian dia melanjutkan tugas hariannya melalui hari-hari musim panas yang panjang, sambil menggaruk-garuk mencari cacing dan memberi makan anak-anaknya.

Si babi menjadi gemuk,

dan si kucing menjadi gemuk,

dan si tikus menjadi gemuk,

dan gandumnya tumbuh tinggi dan siap untuk dipanen.

Suatu hari si Ayam Betina Merah kebetulan melihat gandumnya sudah besar dan ternyata bijinya juga sudah matang, jadi dia berlari ke sana kemari sambil berteriak dengan cepat: “Siapa yang akan memotong gandumnya?”

Si babi berkata, “Bukan aku,”

Si kucing berkata, “Bukan aku,”

dan si tikus berkata, “Bukan aku.”

“Baiklah,” kata si Ayam Betina Merah, “Aku saja, kalau begitu.” Dan dia melakukannya.

Dia mengambil sabit dari peralatan-peralatan petani di gudang dan mulai memotong semua gandum yang besar. Di atas tanah tergeletak gandum yang telah dipotong dengan rapi, siap untuk dikumpulkan dan diirik, tetapi anak ayam yang paling baru, paling kecil dan paling berbulu halus “mengintip-intip” dengan bersemangat, menyerukan kepada dunia luas, terutama pada ibunya, bahwa ibunya mengabaikan mereka. Si Ayam Betina Merah yang malang! Dia merasa sangat bingung dan hampir tidak tahu ke mana harus berpaling.

Perhatiannya terpecah antara tugasnya untuk anak-anaknya dan tugasnya pada gandum, yang membuatnya merasa bertanggung jawab. Jadi, sekali lagi, dengan nada penuh harapan, dia berseru, “Siapa yang akan mengirik gandumnya?” Tapi si Babi, sambil mendengus, berkata, “Bukan aku,” dan si kucing, sambil mengeong, berkata, “Bukan aku,” dan si tikus, dengan mencicit, berkata, “Bukan aku”. Si Ayam Betina Merah, harus mengakui, sedikit putus asa, berkata, “Baiklah, aku saja, kalau begitu.” Dan dia melakukannya.

Tentu saja, dia harus memberi makan anak-anaknya dulu, dan ketika mereka semua sudah tertidur untuk tidur siang, dia pergi keluar dan mengirik gandum. Kemudian dia berseru: “Siapa yang akan membawa gandum ke penggilingan untuk digiling?”

Membalik punggung mereka dengan gembira, si babi berkata, “Bukan aku,” dan si kucing berkata, “Bukan aku,” dan si tikus itu berkata, “Bukan aku”.

Si Ayam Betina Merah yang baik tidak bisa berbuat apa-apa selain berkata, “Baiklah, aku saja kalau begitu.” Dan dia melakukannya.

Sambil membawa karung gandum, dia berjalan dengan susah payah ke pabrik yang jauh. Di sana dia memesan gandum yang digiling menjadi tepung putih yang indah. Ketika penggiling membawakan tepung untuknya, dia berjalan perlahan kembali ke lumbung miliknya sendiri.

Dia bahkan berhasil mengatur semuanya, lepas dari bebannya, menangkap cacing lezat dan menyisakan satu untuk anak-anaknya ketika dia bertemu mereka. Bola bulu kecil itu sangat senang melihat ibu mereka datang. Untuk pertama kalinya, mereka sangat menghargainya.

Setelah hari yang sangat berat ini, dia beristirahat lebih awal dari biasanya—bahkan sebelum warna-warni muncul di langit untuk menandai terbenamnya matahari, jam tidurnya yang biasa.

Dia ingin tidur larut di pagi hari, tapi anak-anaknya, bergabung dalam paduan suara pagi di kandang ayam, mengusir semua harapan akan kemewahan itu. Bahkan ketika dia mengantuk dengan setengah membuka satu matanya, di benaknya terpikir bahwa hari ini gandum harus, entah bagaimana caranya, dibuat menjadi roti.

Dia tidak terbiasa membuat roti, meskipun, tentu saja, siapa pun bisa membuatnya jika dia mengikuti resep dengan hati-hati, dan dia tahu betul bahwa dia bisa melakukannya jika perlu. Jadi setelah anak-anaknya diberi makan dan dibuat tampak manis dan segar untuk hari itu, dia menemui si babi, si kucing dan si tikus. Masih yakin bahwa mereka pasti akan membantunya suatu hari nanti dia bertanya, “Siapa yang akan membuat roti?”

Si Ayam Betina Merah yang malang. Sekali lagi harapannya pupus. Si babi berkata, “Bukan aku,” dan si kucing berkata, “Bukan aku,” dan si tikus itu berkata, “Bukan aku”.

Si ayam merah kecil berkata sekali lagi, “Baiklah, aku saja kalau begitu.” Dan dia melakukannya.

Merasa bahwa dia mungkin tahu sepanjang waktu bahwa dia harus melakukan semuanya sendiri, dia pergi dan memakai celemek baru dan topi juru masak yang bersih. Pertama-tama dia mengatur adonan, sebagaimana mestinya. Ketika tiba waktunya dia mengeluarkan papan cetakan dan loyang, membentuk roti, membaginya kecil-kecil, dan memasukkannya ke dalam oven untuk dipanggang. Si kucing duduk dengan malas, terkekeh dan cekikikan. Dan tak jauh dari sana, si tikus yang sia-sia membedaki hidungnya dan mengagumi dirinya sendiri di depan cermin. Di kejauhan terdengar dengkuran keras si babi yang sedang tidur.

Akhirnya saat yang luar biasa tiba. Aroma sedap berhembus di atas angin musim gugur. Di mana-mana warga lumbung mengendus udara kegirangan.

Si Ayam Betina Merah berjalan dengan cepat menuju sumber dari semua kegembiraan itu. Meskipun dia tampak sangat tenang, pada kenyataannya dia hanya bisa dengan susah payah menahan dorongan untuk menari dan bernyanyi, sedikit heran bahwa dia adalah orang yang paling bersemangat di lumbung ini! Dia tidak tahu apakah roti itu cocok untuk dimakan, tetapi—dia begitu gembira!—Ketika roti cokelat yang indah keluar dari oven, roti itu matang dengan sempurna.

Kemudian, mungkin karena dia telah terbiasa, si Ayam Betina Merah berseru:“Siapa yang akan makan Roti?”

Semua hewan di lumbung melihatnya dengan lapar dan liur mereka menetes.

Si babi berkata, “Aku mau,”Si kucing berkata, “Aku mau,”Si tikus berkata, “Saya mau.”

Tapi si Ayam Betina Merah berkata,“Tidak, kalian tidak mau. Aku saja.” dan dia melakukannya. [T]

Tags: CerpenCerpen Terjemahan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kerajinan Logam Kotagede: Masa Lalu dan Masa Kini

Next Post

“Jaja Sengait” dan Gula Pedawa | Dan Hal Lain yang Bertautan dengan Pohon Aren

Juli Sastrawan

Juli Sastrawan

Pengajar, penggiat literasi, sastrawan kw 5, pustakawan di komunitas Literasi Anak Bangsa

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
“Jaja Sengait” dan Gula Pedawa | Dan Hal Lain yang Bertautan dengan Pohon Aren

“Jaja Sengait” dan Gula Pedawa | Dan Hal Lain yang Bertautan dengan Pohon Aren

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co