25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Transformasi Corat-coret Baju Kelulusan Siswa SMA/SMK : Makin Indah, Makin Beragam

I Kadek Susila Priangga by I Kadek Susila Priangga
May 2, 2023
in Ulas Rupa
Transformasi Corat-coret Baju Kelulusan Siswa SMA/SMK : Makin Indah, Makin Beragam

Lukisan pada baju seragam siswa SMA/SMK di Buleleng yang merayakan kelulusan | Foto: Susila Priangga

AKSI CORAT-CORET BAJU SERAGAM yang dilakukan siswa SMA/SMK setelah mereka lulus atau tamat barangkali termasuk salah satu perayaan kelulusan yang tetap bertahan hingga kini. Tentu karena aksi corat-coret seragam itu, yang kemudian dilanjutkan dengan aksi konvoi di jalan raya adalah bentuk dan ekspresi kebebasan setelah mereka dikungkung dalam kelas dengan tata tertib selama 12 tahun jika dihitung dari sejak SD.

Jika diamati dengan seksama, telah terjadi transformasi yang cukup menarik dibahas ketika kita bicara perayaan kelulusan siswa SMA/SMK. Misalnya, dulu ada acara perpisahan yang sederhana, tapi kini terdapat acara graduation ala wisudawan. Siswa yang lulus menggunakan jubah lengkap dengan toga, lalu mereka dilepas dengan pidato dan nyanyian kebesaran.

Dan, ajang corat-coret baju seragam sekolah, kadang dsiertai konvoi di jalanan, bisa disebut tetap bertahan hingga kini. Memang tidak semua siswa melakukan ajang corat-coret baju dan konvoi di jalanan. Namun sebagian besar siswa bisa dikatakan merayakakan dengan cara seperti itu.

Goodbye putih abu-abu | Foto: Susila Priangga

Siswa yang lain bisa mengisi perayaan dengan acara yang dianggap lebih berguna, antara lain melakukan bhakti sosial, membagikan baju SMA mereka yang masih layak pakai kepada orang yang membutuhkan, bersih-bersih pantai, hingga menanam pohon. Dan masih banyak hal positif yang mereka lakukan dalam merayakan kelulusan jenjang SMA mereka.

Banyak orang menilai ajang corat-coret baju dan berkonvoi sebagai hal yang kurang baik. Menyia-nyiakan baju yang harusnya masih bisa dipakai, mengganggu ketertiban di jalan, bahkan membahayakan pengguna jalan lain. Namun gejolak jiwa muda itu, tak akan padam dengan komentar miring yang dilontarkan ke mereka.

Bahkan sempat ramai di media sosial, postingan mereka yang memamerkan foto-foto mencoret baju dan konvoi, dibalas dengan gambar meme berbunyi, “Gimana, Dik, enak ya corat-coret, kami tunggu kalian di dunia kerja!” dengan gambar beberapa pekerja berbaris dengan wajah sangar.

Gambar meme itu bertujuan untuk meredam aksi yang mereka lakukan. Namun, lagi-lagi, komentar dari nitizen itu tidak menggetarkan gejolak jiwa muda mereka untuk tetap mencoret dan berkonvoi.

Pada saat pandemi, siswa tak bisa merayakan kelulusan dengan leluasa. Siswa yang tamat saat pandemi Covid-19 menyebut diri mereka sebagai angkatan pandemi atau angkatan covid. Hal itu karena mereka lulus di saat PPKM berlangsung, konvoi dibatasi, perayaan pun tak semeriah yang mereka inginkan. Namun tetap saja, aksi corat-coret baju masih mereka lakukan.

Yang menarik, terjadi transformasi kesenirupaan dalam aksi corat-coret baju seragam itu, dari tahun ke tahun. Aksi mencoret baju memang sudah seperti tradisi yang terus berkembang.

Awalnya mereka mencoret baju dengan berbagai tulisan dan pewarna. Ada dalam bentuk tanda tangan, nama, bahkan asal coret pun mereka lakukan. Mereka ingin merekam moment itu di dalam sebuah kain baju yang sudah mereka kenakan selama 3 tahun.

Mereka mengabadikan nama teman-teman yang sudah menjadi saudara di dalam baju kebanggan mereka.

Namun kini, aksi corat-coret itu sudah bertransformasi. Coretan di baju bukan asal coret lagi, namun bertabur gambar yang memiliki nilai seni yang tinggi. Aksi corat-coret bahkan dipersiapkan dengan matang. Mereka memilih konsep yang akan mereka tuangkan dalam baju kelulusannya.

Tanda tangan, nama teman dan ayang (pacar, maksudnya) masih tetap mengisi baju itu. Namun kini tanda dan nama-nama itu tersusun secara lebih rapi dan estetis. Bahkan banyak dari mereka, meminta jasa orang lain yang pandai menggambar untuk menggambari baju mereka. Mereka tak segan merogoh isi dompet demi moment sekali seumur hidup ini, untuk mendapatkan hasil yang memuaskan.

Alhasil, kini momen kelulusan menjadi tontonan menarik, karena menghadirkan berbagai macam gambar yang indah dilihat ketika mereka berkonvoi di jalanan, sampai memenuhi media sosial dengan postingan ala anak remaja itu.

Bagi kalangan penikmat dan pekerja seni, ini merupakan perkembangan yang baik. Mereka lebih mengedepankan nilai estetika dibarengi dengan perayaan kelulusan.

Ya, baju mereka lebih enak dipandang, enak dipajang, dan tentunya akan mereka kenang lebih lama. Dibandingkan dengan asal coret tanpa memikirkan nilai keindahan.

Corat coret yang enak dipandang pada baju seragam siswa untuk melarayakn kelulusan mereka | Foto: Susila Priangga

Selain itu, para pekerja seni juga mendapat imbas dari momen tahunan ini. Mereka kebanjiran order mencoret, eh melukis baju anak-anak muda yang akan merayakan kelulusan. Seakan mendapat angin segar, para pencoret, eh, pelukis, mendapat peluang baru untuk mengais rejeki.

Dan transformasi ini tak akan berhenti di sini saja. Akan ada hal menarik yang terjadi saat perayaan kelulusan. Mengikuti perkembangan teknologi seperti sekarang ini, bukan tidak mungkin coretan di baju mereka akan lebih modern lagi. Bukan dengan spidol dan drawing pen saja seperti belakangan ini. Ketika mereka menginginkan hasil yang lebih nyata dan bagus, bahkan sablon dan lukisan dengan teknik yang berbeda pun menjadi pilihan mereka kelak untuk mengabadikan momen itu.

Transformasi yang terjadi karena perkembangan teknologi, anak muda menginginkan hasil yang bagus ketika diabadikan dengan kamera. Mereka ingin menghiasi media sosial mereka dengan gambar-gambar yang layak dipamerkan. Kita tunggu transformasi yang akan terjadi, seiring transformasi di dalam teknologi.

Selamat melepaskan masa putih abu-abu, ingat jaga ketertiban di jalan, jangan sia-siakan masa mudamu, kami tunggu di dunia kerja. Hehehe. [T]

Pameran Seni Rupa “Harmonisasi Cetak Daun” Meriahkan HUT SMPN 3 Sukasada
Catatan Project UAS Ornamen Ilustrasi Tradisi, Mahasiswa IDB Bali | Sebuah Ucapan Terima Kasih Kepada Kawan-kawan Penulis Muda
Exposition: Melihat Karya-Karya Terkini Mahasiswa Seni Rupa Undiksha
Tags: Pendidikanperayaan kelulusan SMAsekolahSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Spirit Hari Pendidikan Nasional

Next Post

Sinar Bintang yang Meredup dan Pelajaran di Baliknya

I Kadek Susila Priangga

I Kadek Susila Priangga

Lahir di Karangasem. Guru seni budaya di SMPN 3 Sukasada, Buleleng, Bali

Related Posts

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

by Emi Suy
October 19, 2026
0
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

Read moreDetails

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
0
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

Read moreDetails

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

by Made Chandra
October 10, 2026
0
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

Read moreDetails

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails
Next Post
Sinar Bintang yang Meredup dan Pelajaran di Baliknya

Sinar Bintang yang Meredup dan Pelajaran di Baliknya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co