27 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sinar Bintang yang Meredup dan Pelajaran di Baliknya

Kadek Sri Widiastuti by Kadek Sri Widiastuti
May 2, 2023
in Esai
Sinar Bintang yang Meredup dan Pelajaran di Baliknya

Ilustrasi tatkala.co

WAJAH ITU memiliki tulang pipi dan rahang yang tegas dan mata dengan tatapan yang sedikit sayu. Langkahnya selalu energik di segala kondisi. Dan senyum sinis yang seakan-akan tidak peduli dengan tatapan orang lain. Aku memanggilnya Bintang.

Pada suatu malam, di hari Senin, aku memberanikan diri untuk datang kerumahnya. Aku keluar dari kamar kos, mengambil sepeda motor dan langsung melaju ke jalanan Kota Singaraja. Di jalan, aku melewati beberapa toko kue. Dan tiba-tiba aku teringat, jika sebelumnya Bintang selalu membicarakan kalau dia ingin membeli kue tart.

Tanpa pikir panjang aku masuk ke salah satu toko kue di pinggir jalan W.R. Supratman, dan membeli kue tart berwarna putih dengan toping coklat di atasnya. Ah, ketika memasuki toko kue itu, aku teringat salah satu film berjudul “Willy Wonka & the Chocolate Factory”.

Ya, toko itu penuh kue dan coklat, seperti pabrik coklat Willy—yang penuh dengan coklat dengan berbagai bentuk. Mungkin, hal ini merupakan surga bagi mereka yang Chocoholic atau penyuka makanan manis, khususnya coklat.

Keluar dari toko kue, aku berpikir sejenak. Apakah nanti kedatanganku akan diterima di rumahnya? Apakah dia akan senang melihatku datang? Kemudian, dengan perasaan sedikit ragu, aku kembali menaiki motorku dan mulai bergegas ke rumahnya.

Rumah Bintang lumayan jauh dari pusat kota, dan lampu penerangan juga sangat minim terlihat di sepanjang jalan menuju rumahnya. Cahaya di jalan itu hanya bersumber dari lampu motorku dan beberapa pengendara lain yang berlalu-lalang, serta lampu-lampu dari rumah warga juga ikut menerangi jalanan di beberapa titik.

Dalam perjalanan itu, pikiranku seakan-akan berusaha memutar beberapa memori di tahun lalu. Ketika aku mulai mengenal Bintang melalui sebuah kegiatan di kampus kami.

***

Bulan Oktober 2021, seorang mahasiswa semester empat dengan raut wajah penuh dengan kecurigaan dan sorot mata tajam mulai berbicara panjang lebar di forum rapat di sebuah ruangan.

Sejenak orang-orang yang ada di dalam ruangan tersebut mulai terdiam, memperhatikan dan mendengarkan dengan cermat setiap kalimat yang dilontarkan olehnya. Ya, dia adalah Bintang. Sosok yang tegas. Dengan sifat pemimpin yang seakan-akan menguasai dirinya.

Tapi suasana di ruangan itu menjadi sedikit canggung setelah Bintang berbicara. Semua orang saling bertatapan satu sama lain, enggan untuk mengeluarkan satu patah kata apalagi kalimat. Mungkin jika ada jangkrik yang melakukan stridulasi, akan terdengar memenuhi ruangan itu.

Hingga, salah satu anggota rapat mulai mengeluarkan suaranya dan mencairkan suasana, perlahan situasi pun mulai kembali normal. Esoknya ketika kegiatan berlangsung, Bintang juga ikut meramaikannya.

Tiba-tiba pikiranku beralih ke tahun 2022, tepatnya di bulan September, ketika kegiatan yang sama seperti tahun sebelumnya, kembali dilaksanakan. Akan tetapi, kali ini tempatnya lumayan jauh dari pusat kota. Mungkin Bintang juga ikut andil dalam merancang kegiatan tersebut, karena dia salah satu mahasiswa berpengaruh di kampus kami.

Benar saja. Setelah sekian lama, aku melihatnya lagi. Sosok penuh energik dengan  baju berwarna hitam yang ia kenakan itu, terlihat sedang duduk di atas motor maticnya.

Di basemen kampus, beberapa teman menghampirinya, entah apa yang mereka bicarakan, Bintang selalu menanggapinya dengan anggukan kepala dan garis tipis tersungging di kedua ujung bibirnya.

Beberapa kali dia membalasnya dengan tawa, yang membuat orang tahu bahwa itu adalah Bintang ketika mendengarnya. Selang beberapa menit, dia menghidupkan motor dan langsung bergegas meninggalkan kampus, setelah seseorang memanggilnya untuk berangkat ke tempat kegiatan.

Di tempat kegiatan di sebuah desa dengan udara yang masih alami, belum tersentuh polusi,  bahkan panas matahari siang itu tidak bisa menyengat kulit karena dinginnya udara, Bintang terlihat mondar-mandir bersama beberapa temannya untuk menyiapkan kegiatan.

Dia memandu jalannya persiapan dengan baik hingga satu persatu peserta berdatangan. Di sana Bintang mulai terlihat kelelahan. Sebelum mengambil sebuah mic, dengan keringat yang menetes dari pelipis ke dagunya, ia menyandarkan diri sejenak di salah satu tiang beton penyangga aula. Kemudian mulai bergerak kembali untuk mengarahkan peserta kegiatan.

Hari itu, dengan antusiasnya, Bintang seakan-akan menguasai panggung dan menghandle acara yang sedang berlangsung. Gelak tawa terdengar dari kerumunan peserta ketika Bintang memberikan beberapa anekdot ringan. Tak disangka, seorang Bintang yang terkenal dengan sikap tegasnya, bisa melucu juga.

Dengan keceriaan yang terpancar dari dalam diri Bintang, membuat orang-orang yang dia temui dalam kegiatan itu, sejenak melupakan beban hidupnya (mungkin).

Dan di mana ada Bintang, seolah-olah di sana tawa akan pecah—atau setidaknya, orang-orang akan tersenyum ketika Bintang berada di dekatnya. Seolah-olah Bintang adalah sumber keceriaan di tempat itu. Dia tahu kapan saatnya menjadi tegas, dan kapan saatnya menjadi lebih melunak untuk orang-orang yang ditemuinya.

***

Lamunanku saat itu terhenti, setelah  dinginnya udara malam yang seakan merambat dari jari-jari ke seluruh tubuhku. Terlebih lagi aku keluar hanya menggunakan celana pendek selutut dan hoodie yang tidak terlalu tebal. Tapi akhirnya aku sampai di depan rumah Bintang.

Terlihat dari luar pintu pagar, seorang wanita paruh baya sedang menonton televisi di ruang tamu. Aku memberanikan diri untuk mengucapkan salam dari sana, dengan motorku yang belum sempat kumatikan.

Wanita paruh baya itu menoleh ke arahku, dengan kebingungan dan mulai bertanya, “Mau cari siapa?”. Sepntan aku menjawab, “Bintang ada, Bu?”

Setelah itu ia memanggil Bintang. Dan tak lama, dengan baju berwarna putih, Bintang keluar dari pintu kamarnya menuju ruang tamu, kemudian menghampiriku. Dia menyuruhku untuk masuk.

Aku duduk di depan teras rumah yang luasnya tidak lebih lebar dari selembar sticky note persegi empat itu. Di bawah bintang-bintang, bersama Bintang, kuberikan kue yang selalu dibicarakannya.

Aku baru bertemu dengannya setelah beberapa waktu. Setelah kabar duka yang kudengar dari salah satu teman Bintang, beberapa minggu lalu. Tidak seperti biasanya, Bintang yang selalu energik di setiap kondisi itu, rasanya telah hilang, sekarang ia terlihat lebih pendiam.

Beberapa waktu lalu ayah Bintang telah berpulang. Sosok ayah yang selalu membuatnya merasa bersemangat. Orang yang Bintang sayangi. Orang yang selalu ingin Bintang banggakan. Orang yang mungkin menjadi cinta pertamanya. Dan orang yang selalu Bintang kabari ketika berada di luar rumah.

Namun, kini aku sadari bahwa, sinar dari Bintang itu mulai meredup bersama kenangan ayahnya.

Kuperhatikan wajah tanpa senyum itu. Matanya sayu. Tubuhnya terlihat lesu. Bintang menarik napas dalam dan menghelanya. Ya, Bintang terlihat sedih. Aku bisa merasakan kesedihan yang sedang di alami Bintang.

Aku terus memperhatikan tubuh yang tidak banyak gerak dan sedikit mengeluarkan kata itu. Kemudian pandanganku beralih ke matanya. Terlihat garis hitam di bawah mata Bintang. Dengan sorot mata yang lelah, ditambah sedikit genangan air di pelupuknya, seakan-akan telah mengungkapkan segala bentuk kepedihan dari situasi yang dialaminya.

Bintang sedang tidak baik-baik saja. Semesta tahu itu.

***

Sebenarnya ada beberapa hal yang ingin kusampaikan untuk Bintang atau bintang-bintang lainnya di luar sana. Bahwa, segala sesuatu di dunia ini tidak ada yang abadi. Kehilangan dan kematian merupakan hal yang wajar, yang dialami oleh setiap orang, dan tidak dapat kita kendalikan.

Sebagian orang akan merasakan disforia yang hebat, setelah salah satu hal yang paling berharga menurut mereka telah tidak ada. Akan tetapi, hidup menuntut kita untuk terus berjalan ke depan dan mampu memulai semuanya, hingga kembali normal.

Layaknya pesan dalam sebuah film berjudul “Tomb Raider”, yang dirilis pada tahun 2018, dengan pemeran utamanya Alicia Vikander (Lara Croft) itu. Ketika ayahnya pergi untuk menyelesaikan sebuah misi dan pada akhirnya meninggal, Lara tetap menjalani kehidupannya dengan baik, bahkan ia mampu mengungkap hal-hal baru, yang tidak pernah diketahui sebelumnya. Bayangkan saja jika saat itu Lara terpuruk dengan kesedihannya, mungkin saja ia tidak akan menemukan hal-hal baru yang ada di sekitarnya.

Dan untuk kita semua, saat ini, hal yang bisa kita lakukan adalah memanfaatkan waktu bersama orang-orang tersayang yang masih bisa kita temui. Jangan sampai kita melewatkan kesempatan untuk dapat bertukar kerinduan dengan mereka selagi masih hidup di dunia. Sebelum kesempatan itu tidak dapat kita gunakan kembali.

Tetapi, melihat kondisi Bintang yang memprihatinkan seperti itu, semua nasihat dan kata-kata di atas, yang sudah aku rangkai dalam kepala, hanya akan aku simpan dalam-dalam—barangkali itu lebih cocok untuk nasihat diri sendiri. Ah, Bintang.[T]

*Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja. Sedang menjalani Praktek Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

Pertimbangan untuk Putus bagi Kalian yang Doinya Sering Kaya Gini
Penggemar Boys Love Series Thailand, Apakah Salah?
Gabut Berkedok Self Healing dan Saran untuk Mengatasinya
Tags: esaikisah nyatamotivasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Transformasi Corat-coret Baju Kelulusan Siswa SMA/SMK : Makin Indah, Makin Beragam

Next Post

Menelisik Unsur Maskulin dalam Rejang Jajar Pari

Kadek Sri Widiastuti

Kadek Sri Widiastuti

Lahir di Singaraja, tahun 2002. Saat ini sedang menempuh pendidikan di STAH N Mpu Kuturan Singaraja, Program Studi Ilmu Komunikasi

Related Posts

Komunikasi Politik dan Krisis Komunikasi Publik Pemimpin

by Chusmeru
July 27, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DINAMIKA komunikasi politik selalu berubah pada setiap rezim. Puluhan tahun silam, para pemimpin dikenal lewat pidato di lapangan terbuka dan...

Read moreDetails

Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa

by Agung Sudarsa
July 27, 2026
0
Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa

SEBUAH peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Bali kembali mengguncang nurani masyarakat. Bukan semata karena adanya korban jiwa, tetapi...

Read moreDetails

Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego

by T.H. Hari Sucahyo
July 26, 2026
0
Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego

ADA sebuah kalimat yang telah bertahan melewati pergantian zaman, melintasi peradaban, dan terus dikutip hingga hari ini: “Dan kamu akan...

Read moreDetails

“Kapan Nikah?”: Ketika Usia Jadi Alat untuk Menghakimi Perempuan

by Fitria Hani Aprina
July 25, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

"Kapan Nikah?" Dua kata yang terdengar ringan di telinga yang menanyakannya, tapi menjadi beban yang dibawa pulang bagi perempuan yang...

Read moreDetails

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

by Tri Nugroho Adi
July 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Tidak semua orang membatik untuk menghasilkan kain. Ada yang membatik agar hatinya tetap utuh." Di ruang terbuka lantai atas rumahnya,...

Read moreDetails

Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

by Pande Susan
July 24, 2026
0
Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

KEMERIAHAN saya sebagai generasi milenial dalam berpakaian pada masa kanak kanak sangat jauh berbeda dengan gen alpha dan gen beta...

Read moreDetails

Ketika Negara Kehilangan Hak untuk Dipercaya

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BEBERAPA waktu terakhir, publik menyaksikan pemberitaan mengenai penyitaan barang bukti berupa emas dan uang tunai dalam jumlah yang sangat besar...

Read moreDetails

Sejak Kapan Pemerintah Mengurus Orientasi Seksual Warganya?

by Surfian Rahmat AP
July 24, 2026
0
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

Salah satu indikator paling nyata dari kemunduran tata kelola pemerintahan adalah ketika negara lebih disibukkan mengatur moralitas di ruang privat...

Read moreDetails

Menyelami Air, Menyelami Kehidupan —Catatan dari Tepi Kolam tentang Klub Selam Dolphin Singaraja

by Dewa Rhadea
July 23, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Air memiliki cara mendidik yang tidak dimiliki ruang kelas. Ia tidak pernah meninggikan suara ketika mengajarkan manusia tentang kesabaran. Ia...

Read moreDetails

Demokratisasi Suara, Krisis Pengetahuan: Tribalisme dan Ilusi Kesetaraan di Era Algoritma

by Wayan Gde Yudane
July 23, 2026
0
Demokratisasi Suara, Krisis Pengetahuan: Tribalisme dan Ilusi Kesetaraan di Era Algoritma

KETIKA kebebasan berbicara terbuka tanpa batas, yang terbebaskan bukan hanya kemampuan manusia untuk menyampaikan gagasan, tetapi juga insting purba kesukuan...

Read moreDetails
Next Post
Menelisik Unsur Maskulin dalam Rejang Jajar Pari

Menelisik Unsur Maskulin dalam Rejang Jajar Pari

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan
Tualang

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

"Perjalanan yang baik bukan sekadar memindahkan tubuh dari satu kota ke kota lain. Ia memindahkan cara pandang kita terhadap kehidupan."...

by Ahmad Sihabudin
July 27, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Politik dan Krisis Komunikasi Publik Pemimpin

DINAMIKA komunikasi politik selalu berubah pada setiap rezim. Puluhan tahun silam, para pemimpin dikenal lewat pidato di lapangan terbuka dan...

by Chusmeru
July 27, 2026
Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa
Esai

Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa

SEBUAH peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Bali kembali mengguncang nurani masyarakat. Bukan semata karena adanya korban jiwa, tetapi...

by Agung Sudarsa
July 27, 2026
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi
Ulas Buku

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan
Khas

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

by Angga Wijaya
July 27, 2026
Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego
Esai

Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego

ADA sebuah kalimat yang telah bertahan melewati pergantian zaman, melintasi peradaban, dan terus dikutip hingga hari ini: “Dan kamu akan...

by T.H. Hari Sucahyo
July 26, 2026
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan
Khas

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris
Khas

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

“Kapan Nikah?”: Ketika Usia Jadi Alat untuk Menghakimi Perempuan

"Kapan Nikah?" Dua kata yang terdengar ringan di telinga yang menanyakannya, tapi menjadi beban yang dibawa pulang bagi perempuan yang...

by Fitria Hani Aprina
July 25, 2026
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi
Ulas Pentas

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Tidak semua orang membatik untuk menghasilkan kain. Ada yang membatik agar hatinya tetap utuh." Di ruang terbuka lantai atas rumahnya,...

by Tri Nugroho Adi
July 25, 2026
‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan
Panggung

‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

RUANGAN Gedung Ksirarnawa mendadak sunyi. Lampu panggung meredup, hanya menyisakan seberkas cahaya yang jatuh pada seorang lelaki yang duduk di...

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co