27 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Penggemar Boys Love Series Thailand, Apakah Salah?

Kadek Sri Widiastuti by Kadek Sri Widiastuti
April 12, 2023
in Esai
Penggemar Boys Love Series Thailand, Apakah Salah?

Ilustrasi tatkala.co

DUNIA perfilman saat ini sudah semakin maju dan berkembang dari sebelumnya. Ya, bagaimana tidak, berbagai macam tayangan yang berasal dari dalam maupun luar negeri, dapat kita akses dengan mudah melalui aplikasi-aplikasi gratis maupun berbayar. Di antaranya yaitu, WeTv, Netflix, Iflix, MAXstream, Vidio dan sebagainya.

Siapa sih, yang tidak tahu deretan aplikasi tersebut? Nah, dengan kemudahannya, berbagai macam genre film masuk ke Indonesia dan mulai digandrungi oleh masyarakat kita. Adapun salah satu contohnya adalah Boy’s Love Series yang berasal dari Thailand itu.

Akhir-akhir ini, di media sosial seperti Tiktok dan juga Twitter, series ini sering saya jumpai menjadi trending dan selalu menjadi fyp. Jika dilihat dari jumlah like, viewers serta komentarnya, dapat disimpulkan tidak sedikit orang menyukai series ini, terlebih lagi di kalangan anak muda, baik itu perempuan maupun pria.

Dalam komentarnya pun, banyak yang menantikan kelanjutan dari episode-episode series tersebut. Bahkan ada yang ceritanya sudah selesai, namun mereka tetap berharap ada season selanjutnya. “Duh, kapan nih season 2 tayang?” ungkap salah satu akun di Tiktok.

***

Perlu diketahui, Boy’s Love Series ini merupakan sebuah film dengan genre hubungan romantis percintaan antara laki-laki dengan laki-laki. Dan jika kita lihat dari sudut pandang adat ketimuran, Indonesia misalnya, hal ini sangatlah bertentangan dengan norma dan adat istiadat kita. Terlebih jika kalangan anak muda kita terpengaruh dengan adanya series ini.

Tak jarang pula, saya temui banyak cuitan di komentar media sosial yang menghina dan memandang buruk series tersebut. Ada yang memberikan komentar negatif, hingga melontarkan hujatannya—karena menurut mereka film tersebut tidak layak dipertontonkan untuk masyarakat umum.

Hal di atas memang benar adanya jika kita melihatnya dari kacamata manusia yang beragama. Bagaimanapun, sudah layaknya kita menjalankan kodrat yang telah ditentukan oleh Tuhan masing-masing.

Terlebih lagi, adat dan budaya kita juga melarang keras akan hal-hal yang memiliki kesan “penyimpangan sosial” seperti itu. Akan tetapi, berbeda pula situasinya jika yang menjadi tolok ukurnya adalah hak asasi manusia—paham yang menjamin setiap orang untuk memiliki kebebasan dalam mengeluarkan dan menyampaikan pendapatnya, menentukan nasib dan pilihannya sendiri, tanpa ada diskriminasi dari pihak manapun.

Hak asasi yang dimiliki oleh setiap individu memberikan kebebasan kepada kita, untuk bebas berekspresi. Apapun itu, kita memiliki hak dalam segala hal. Dengan catatan, hal yang kita lakukan tidak merugikan pihak lain.

For your information, seperti yang pernah saya baca langsung dari blog Kemenkumham, bahwa setiap individu mempunyai beberapa hak semasa hidupnya. Salah satu di antaranya adalah hak atas kebebsan pribadi dan hak atas rasa aman.

Oke, jika sekarang kita kaitkan dengan kasus penggemar Boy’s Love Series, yang tak jarang mendapat perlakuan diskriminatif dari pihak lain; yang terkadang pula, mereka dianggap berbeda dari orang normal pada umumnya.

Mereka “dibenci” karena mereka menyukai hal-hal yang masih dianggap tabu oleh kebanyakan masyarakat. Mereka dianggap tidak normal. “Kurang kerjaan. Gila. Aneh”. Begitu kata orang-orang.

Kemudian, mari kita merenung sejenak. Apakah penggemar Boy’s Love Series ini sudah bisa dibilang mendapatkan hak asasi mereka? Bukankah masih ada diskriminasi yang kerap terjadi?

***

Fenomena Boy’s Love Series kian hari makin digemari. Beberapa dari mereka menyebut dirinya sebagai Fujoshi. Nah, sedikit informasi kawan-kawan, dalam Wikipedia, Fujoshi sendiri merupakan istilah Jepang, sering digunakan untuk menyebut penggemar wanita manga dan novel yang menampilkan hubungan romantis antara laki-laki.

Kita ketahui bahwa aktor dalam film tersebut hanya memainkan perannya saja, akan tetapi tak sedikit dari penontonnya senang menyandingkan mereka di kehidupan nyata. Mereka mengait-ngaitkan postingan video maupun foto dari aktor tersebut, seolah-olah ada sebuah chemistry (perasaan yang bertaut atau terkoneksi) yang benar-benar terjadi antara keduanya.

Dan beberapa di antaranya menyampaikan pembelaan. Mereka menyukai drama Boys Love tidak semata-mata dituduh mendukung tersebar luasnya aktifitas LGBT yang disebabkan oleh tayangan tersebut. Mereka menonton hanya karena mengidolakan aktor-aktornya.

Tidak hanya itu, mereka mengagumi akting dari perannya di dalam series. Bagaimana tidak, dengan performance terbaiknya telah mampu menarik banyak minat penonton.  Boss Chaikamon dan Bright Vachirawit, misalnya, dalam series yang berjudul “Love In The Air” (dirilis pada tahun 2022) dan “2gether : The Series” (dirilis pada tahun 2020).

Banyak juga dari penggemar series ini memanfaatkannya untuk belajar bahasa Thailand, serta menjadikan aktor dari film tersebut sebagai motivatornya dalam menjalani kehidupan.

Seperti yang pernah dikatakan teman saya, yang kebetulan salah satu dari  penggemar Boy’s Love Series, di mana mereka tidak mendukung penuh kemungkinan hal buruk yang dapat terjadi. Mereka hanya menyukai apa yang mereka sukai.

Terlepas dari dampak negatif dan positif yang disebabkan oleh Boy’s Love Series ini, sedikit yang bisa saya sampaikan, bahwa kita sebagai manusia yang memiliki kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dan juga mengakui adanya hak asasi yang dimiliki oleh setiap individu, ada baiknya untuk saling menghormati pendapat dan juga sesuatu yang menjadi kesenangan orang lain dengan tidak menjatuhkan satu sama lainnya—karena apapun yang kita anggap buruk untuk orang lain, belum tentu juga buruk untuk diri mereka sendiri, begitupun sebaliknya.

Kita dapat menghargai dan menghormati apa yang mereka senangi dengan catatan: tidak menimbulkan kerugian yang besar bagi orang lain, serta tidak mengambil tindakan secara individual terkait hal yang menurut kita bertentangan dengan prinsip sendiri.

Dengan kita saling menghormati dan menghargai, bukan berarti kita mendukung hal-hal negatif yang terjadi, bukan? Tetapi, “menghormati” dan “menghargai” hanya karena mereka juga mempunyai hak asasi sebagai individu (manusia).

Kita tidak cukup hanya memandang dari satu sisi saja, dan secara serampangan menganggap mereka salah sepenuhnya. Tidak, lebih baik kita belajar saling menghargai keputusan pribadi (masing-masing) orang lain.[T]

Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja. Sedang menjalani Praktek Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

Gabut Berkedok Self Healing dan Saran untuk Mengatasinya
LGBT, Perseteruan Panjang Hak Melawan “Aib”
Sekali Lagi Tentang LGBT, Sebuah Kisah
Tags: cintaesailaki-lakiLGBT
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Ruwatan Samudera”, Procession Visualization in a Dance Fragments

Next Post

Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Good Looking!

Kadek Sri Widiastuti

Kadek Sri Widiastuti

Lahir di Singaraja, tahun 2002. Saat ini sedang menempuh pendidikan di STAH N Mpu Kuturan Singaraja, Program Studi Ilmu Komunikasi

Related Posts

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails
Next Post
Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Good Looking!

Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Good Looking!

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co