24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sekali Lagi Tentang LGBT, Sebuah Kisah

dr. Ketut Suantara by dr. Ketut Suantara
May 23, 2022
in Esai
Sekali Lagi Tentang LGBT, Sebuah Kisah

Minggu pagi itu, saya terbangun di pagi buta. Saya tak mau ketinggalan bis Putra Jaya yang akan berangkat tepat jam setengah enam pagi. Saya mau pulang kampung ke Dapdap Putih di Busungbiu, Buleleng, dua jam perjalanan dari  terminal  Banyuasri, Singaraja. Bis ini adalah satu- satunya angkutan umum yang bisa mengantar saya pulang, tepat di depan rumah saya, nun jauh di atas bukit.

Saya menulis ini di sebuah grup percakapan yang melibatkan teman- teman seprofesi dengan minat yang sama . Kebetulan saat itu kita sedang berdiskusi tentang LGBT, kebetulan berikutnya, seorang rekan sudah mengunggah tulisan tentang  tema serupa di media online.

Saya rasa ini lebih dari cukup untuk memantik perbincangan yang serius tentang LGBT. Tetapi seperti yang sudah saya duga, tak ada respon antusias dari peserta grup perbincangan. Bahkan secuil kisah saya pun tak ada yang ingin menanyakannya lebih lanjut.

LGBT, seperti ditulis panjang lebar oleh senior saya di media ini. LGBT, Perseteruan Panjang Hak Melawan Aib. Antara ada dan tiada, keberadaannya samar- samar terlihat namun tak sepenuhnya diakui.Kita baru serius menanggapinya saat ada kerabat dekat yang terindikasi, begitu memang lazimnya.

LGBT, Perseteruan Panjang Hak Melawan “Aib”

Senior saya telah menjelaskan panjang lebar fenomena ini secara ilmiah, termasuk  memaparkan situasi terkini sikap masyarakat terhadap mereka. Meskipun contoh yang dipakai situasi di dunia barat, dan negeri  tetangga yang memang secara kualitas pemikiran dan rasionalitas harus diakui diatas rata rata masyarakat kita.

Untuk membuatnya lebih paripurna, saya akan coba melengkapi informasi tentang fenomena LGBT ini dari khazanah kejadian lokal, penanganan sederhana oleh keluarga, baik yang pernah penulis alami, dengar dan amati dari lingkungan terdekat maupun cerita orang orang yang pernah bersinggungan dengan mereka yang mungkin terduga LGBT.

Ada baiknya saya lanjutkan cerita saya dulu, sebagai pintu masuk kita membicarakan fenomena ini.

Waktu saya masih kelas 2 SMA, saya sekolah di kota Singaraja, tinggal di tempat kost dekat dengan sekolah. Setiap minggu saya biasanya pulang kampung menengok orang tua. Ghalibnya  saya pulang Sabtu sore dan kembali Senin dini hari. Kebetulan saat  itu saya sekolah sampai sore, jadi tak dapat angkutan umum, mesti menunggu Minggu pagi untuk bisa pulang kampung naik bis.

Dari kost saya berjalan kaki, berharap ada mobil bemo yang lewat untuk saya tumpangi ke terminal Banyuasri. Sekian lama saya berjalan, tak satupun ada bemo melintas. Sampai akhirnya di Jalan Pramuka , depan pura Jagatnatha ada seorang bapak-bapak naik motor berhenti  mau menawarkan boncengan.

Saya ingat sekali wajah dan sepeda motor bapak itu. Entah dapat bisikan siapa, saya tak mau ikut bapak itu. Sambil menawarkan boncengan, bapak itu mengeluarkan kata-kata cabul, yang bisa saya nilai saat itu. Saya sangat takut, saya lari sekencangnya, sepanjang jalan Pramuka sampai akhirnya di Jalan Ahmad Yani ada bemo yang lewat dan langsung saya menaikinya sampai di terminal Banyuasri.

Begitulah kejadian yang saya alami saat usia remaja dulu, memang terkesan remeh tapi buktinya tak bisa saya lupakan sampai umur saya mendekati setengah abad ini. Di kemudian hari dapat saya simpulkan, bapak ini adalah seorang fedofil, dia mengincar anak anak, khususnya lelaki untuk dijadikan obyek seksualnya. Lengkapnya  bapak ini adalah seorang LGBT (gay) sekaligus seorang  pedofil, seseorang yang menikmati hubungan seksual dengan orang yang umurnya masih anak- anak atau remaja.

Coba saya berandai-andai, saat itu saya ikut boncengannya, lalu saya jadi korban, tak terbayangkan saya bisa menjadi dokter seperti sekarang. Kemungkinan lain, siapa tahu ada anak lain yang jadi korbannya saat itu, bisa dibayangkan korbannya mengalami penderitaan psikis dan kemungkinan terburuknya akan lahir seorang calon pedofil baru, karena mereka yang pernah jadi korban, biasanya akan mencari mangsa, begitu yang pernah saya baca.

Kemungkinan sangat buruk terakhir, barangkali bapak itu hanya satu diantara sekian gay aka pedofil yang berkeliaran di kota kecil kita Singararaja, di awal 90- an. Bayangkan jika jumlahnya lebih banyak, bisa kita takutkan situasi yang kita alami di tahun 2020 ini. Fenomena gunung es tentang kejadian perundungan seksual pada anak anak dan remaja kita. Dengan segala residu psikis dan mental pada para korbannya.

Mendulang Kesadaran Palsu Perempuan Bali di Arena Judi “Meceki”

Mengutip tulisan senior saya di media ini, tak ada yang salah dengan mereka yang terindikasi LGBT ini, mereka baru menjadi masalah hukum, saat sudah bertindak seperti bapak tadi. Ingin menyalurkan hasrat seksualnya pada yang bukan pasangan dan masih berusia anak.

Pada sebuah kolom konsultasi psikologi di media terkemuka pernah saya baca. Seorang lelaki remaja lelaki umur 16 tahun berkonsultasi pada psikolog, takut kalau dirinya seorang Homo.

Seorang remaja pria dengan penampilan kemayu, wajah dan kulit halus seperti anak wanita. Ternyata setelah ditelusuri, sekian tahun sebelumnya pernah mengalami perundungan seksual , dijadikan obyek fantasi seksual oleh saudara sepupunya laki laki yang lebih besar. Hal ini menunjukkan bahwa faktor lingkungan dalam hal ini tak bisa kita nafikan.

Kalau mau jujur, di sekitar kita pasti banyak kita temukan orang orang dengan gejala seperti ini. Dalam kondisi paling ringan adalah mereka yang tak menunjukkan ketertarikan pada lawan jenis laiknya individu normal. Yang saya amati, dan berdasarkan cerita yang saya dengar, perlakuan dan cara mereka beradaptasi dengan lingkungan sudah mulai berubah.

Di masa lalu, mereka yang terkesan agak banci, biasanya dipaksa dan dicarikan jodoh oleh keluarganya. Dan terbukti  bisa membina rumah tangga yang bertahan lama, terlepas dari bagaimana kehidupan “suami-istri” mereka, bukanlah hak kita untuk mengetahuinya. Seiring terbukanya dunia, ditambah perkembangan pariwisata dan banyaknya orang asing masuk ke Bali. Mereka yang merasakan dirinya lain dari orang normal ini mulai berani membuka diri, hidup di kota, tak bisa didikte lagi oleh keluarga untuk berumah tangga.

Bahkan saya punya teman kuliah yang terbuka megabarkan dirinya mempunyai pacar sejenis di media sosial. Tapi sisi negatifnya ada juga yang terjerembab ke hubungan yang tak bertanggung jawab, hingga mengidap penyakit kelamin, begitu cerita yang saya dengar tentang mereka yang mengalami disorientasi seksual ini.

Saya teringat kuliah guru saya LK Suryani, dalam hal penanganan kelainan jiwa, kita di Indonesia, Bali khususnya sedikit lebih baikdibandingkan dengan di luar sana. Karena peran keluarga yang masih sangat besar dalam hal menangani anggota keluarganya yang mengalami gangguan jiwa. Termasuk dulu saat mereka yang dianggap memiliki kelainan orientasi seksual ini pun, akan dipaksa dinikahkan dan terbukti kehidupan pun tetap berjalan seperti orang normal lainnya. Pendekatan seperti ini yang tak bisa kita lakukan hari ini, saat eranya keterbukaan dan issu HAM yang sensitif.

Jadi terlepas dari penyebab mereka menjadi LGBT yang memang cukup kompleks dan tak bisa hanya dipandang dari satu sudut saja. Kita , kami kalangan medis, masyarakat umum seyogyanya lebih berfokus ke pencegahan dan mengetahui lebih dini kalau ada anggota keluarga kita yang ada gelagat demikian sejak usia dini. Saat anak laki-laki kita terlihat kemayu, libatkan dia dalam aktifitas kasar seperti olah raga dan out door.

Keluarga yang mengharap anak lelaki diantara sekian anak wanita yang sudah ada, jangan perlakukan putri kita laiknya anak lelaki seperti yang kita idamkan. Karena itu merupakan salah satu pemicu dia menjadi lesbian di kemudian hari, paling minimal tak punya ketertarikan pada laki laki. Belajar dari kasus yang saya sebutkan di atas, tolong perhatikan pergaulan anak anak kita. Jangan mentoleransi perundungan  sekecil apapun. Anak yang terlihat berbeda biasanya rentan menjadi korban perundungan teman sebayanya. Kita mesti tegas menyikapi hal tersebut.

Berkaca pada situasi yang pernah saya alami, kita selaku orang tua mesti dari awal mengajarkan tentang tubuh dan pengetahuan seksual pada anak-anak kita. Jangan lagi menganggap itu sebagai hal yang tabu. Ajarkan anak untuk berani melawan kalau menemukan situasi  seperti  yang saya alami itu. Terlepas dari kondisi itu bukanlah sesuatu yang salah, tapi saat  dilakukan secara paksaan kepada orang lain yang bukan pasangan, apalagi anak di bawah umur. Jerat hukuman yang berat saya ingat pantas untuk mereka, kalau tak salah diatas 10 tahun. Dan dengan adanya undang-undang terbaru perlindungan kekerasan seksual yang sudah disahkan , kita selaku orang tua sedikit lebih tenang melepas anak anak kita beraktifitas di luar rumah karena sudah ada perlindungan dari ngara.

Maskulinitas Perpolitikan Indonesia: Glass Ceiling bagi Perempuan dalam Ranah Politik

Biar tak terkesan terlalu serius, saya ingin menceritakan sebuah kisah yang saya sendiri ragukan kebenarannya. Saat itu menjelang piala dunia di Korea dan Jepang tahun 2002. Sesuai hasil undian timnas Argentina berada satu grup dengan  timnas Inggris . Pada satu kesempatan terlihat David Beckham sang ikon  lelaki metroseksual beraksi di televisi. Spontan salah satu anggota timnas Argentina yang tak disebutkan namanya berteriak histeris,” Ya Tuhan, gantengnya, andai nanti bertemu di lapangan, alih alih menjegalnya, saya akan menciumnya”. Nah lu.

Saya jadi teringat tulisan di sebuah kolom psikologi koran dari seorang psikolog wanita. Pada dasarnya setiap individu mempunyai kecenderungan homo (seksual) dan hetero (seksual) dalam dirinya dengan proporsi yang bervariasi. Mereka yang gay atau lesbian mungkin mempunyai kadar homo yang sangat besar. Coba kalau kita melihat seorang wanita yang cantik mempesona lewat di depan kita, pasti  ada sedikit getar aneh  yang kita rasakan, begitu tanyanya pada sesama wanita yang mungkin membaca tulisannya.

Pertanyaan terakhir saya kepada pembaca lelaki pastinya. Andaikata seorang yang ganteng, misalnya Arya Saloka melintas di depan kalian, apa yang kalian rasakan. Tak usah dijawab, simpan saja jawabannya. Kapanpun anda menganggap seseorang itu terindikasi LGBT khususnya gay, bisa dibuka kembali jawaban anda itu, Tabikkk.[T]

Tags: LGBT
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tentang IQ, Apa Mau Dikata

Next Post

Kisah 8000 Kepal Tanah dari Gusti Dalem: Temuan-temuan Pada Jajan Suci

dr. Ketut Suantara

dr. Ketut Suantara

Dokter. Lahir di Tista, Busungbiu, Buleleng. Kini bertugas di Puskesmas Busungbiu 2 dan buka praktek di Desa Dapdaputih, Busungbiu

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Kisah 8000 Kepal Tanah dari Gusti Dalem: Temuan-temuan Pada Jajan Suci

Kisah 8000 Kepal Tanah dari Gusti Dalem: Temuan-temuan Pada Jajan Suci

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co