2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sekali Lagi Tentang LGBT, Sebuah Kisah

dr. Ketut Suantara by dr. Ketut Suantara
May 23, 2022
in Esai
Sekali Lagi Tentang LGBT, Sebuah Kisah

Minggu pagi itu, saya terbangun di pagi buta. Saya tak mau ketinggalan bis Putra Jaya yang akan berangkat tepat jam setengah enam pagi. Saya mau pulang kampung ke Dapdap Putih di Busungbiu, Buleleng, dua jam perjalanan dari  terminal  Banyuasri, Singaraja. Bis ini adalah satu- satunya angkutan umum yang bisa mengantar saya pulang, tepat di depan rumah saya, nun jauh di atas bukit.

Saya menulis ini di sebuah grup percakapan yang melibatkan teman- teman seprofesi dengan minat yang sama . Kebetulan saat itu kita sedang berdiskusi tentang LGBT, kebetulan berikutnya, seorang rekan sudah mengunggah tulisan tentang  tema serupa di media online.

Saya rasa ini lebih dari cukup untuk memantik perbincangan yang serius tentang LGBT. Tetapi seperti yang sudah saya duga, tak ada respon antusias dari peserta grup perbincangan. Bahkan secuil kisah saya pun tak ada yang ingin menanyakannya lebih lanjut.

LGBT, seperti ditulis panjang lebar oleh senior saya di media ini. LGBT, Perseteruan Panjang Hak Melawan Aib. Antara ada dan tiada, keberadaannya samar- samar terlihat namun tak sepenuhnya diakui.Kita baru serius menanggapinya saat ada kerabat dekat yang terindikasi, begitu memang lazimnya.

LGBT, Perseteruan Panjang Hak Melawan “Aib”

Senior saya telah menjelaskan panjang lebar fenomena ini secara ilmiah, termasuk  memaparkan situasi terkini sikap masyarakat terhadap mereka. Meskipun contoh yang dipakai situasi di dunia barat, dan negeri  tetangga yang memang secara kualitas pemikiran dan rasionalitas harus diakui diatas rata rata masyarakat kita.

Untuk membuatnya lebih paripurna, saya akan coba melengkapi informasi tentang fenomena LGBT ini dari khazanah kejadian lokal, penanganan sederhana oleh keluarga, baik yang pernah penulis alami, dengar dan amati dari lingkungan terdekat maupun cerita orang orang yang pernah bersinggungan dengan mereka yang mungkin terduga LGBT.

Ada baiknya saya lanjutkan cerita saya dulu, sebagai pintu masuk kita membicarakan fenomena ini.

Waktu saya masih kelas 2 SMA, saya sekolah di kota Singaraja, tinggal di tempat kost dekat dengan sekolah. Setiap minggu saya biasanya pulang kampung menengok orang tua. Ghalibnya  saya pulang Sabtu sore dan kembali Senin dini hari. Kebetulan saat  itu saya sekolah sampai sore, jadi tak dapat angkutan umum, mesti menunggu Minggu pagi untuk bisa pulang kampung naik bis.

Dari kost saya berjalan kaki, berharap ada mobil bemo yang lewat untuk saya tumpangi ke terminal Banyuasri. Sekian lama saya berjalan, tak satupun ada bemo melintas. Sampai akhirnya di Jalan Pramuka , depan pura Jagatnatha ada seorang bapak-bapak naik motor berhenti  mau menawarkan boncengan.

Saya ingat sekali wajah dan sepeda motor bapak itu. Entah dapat bisikan siapa, saya tak mau ikut bapak itu. Sambil menawarkan boncengan, bapak itu mengeluarkan kata-kata cabul, yang bisa saya nilai saat itu. Saya sangat takut, saya lari sekencangnya, sepanjang jalan Pramuka sampai akhirnya di Jalan Ahmad Yani ada bemo yang lewat dan langsung saya menaikinya sampai di terminal Banyuasri.

Begitulah kejadian yang saya alami saat usia remaja dulu, memang terkesan remeh tapi buktinya tak bisa saya lupakan sampai umur saya mendekati setengah abad ini. Di kemudian hari dapat saya simpulkan, bapak ini adalah seorang fedofil, dia mengincar anak anak, khususnya lelaki untuk dijadikan obyek seksualnya. Lengkapnya  bapak ini adalah seorang LGBT (gay) sekaligus seorang  pedofil, seseorang yang menikmati hubungan seksual dengan orang yang umurnya masih anak- anak atau remaja.

Coba saya berandai-andai, saat itu saya ikut boncengannya, lalu saya jadi korban, tak terbayangkan saya bisa menjadi dokter seperti sekarang. Kemungkinan lain, siapa tahu ada anak lain yang jadi korbannya saat itu, bisa dibayangkan korbannya mengalami penderitaan psikis dan kemungkinan terburuknya akan lahir seorang calon pedofil baru, karena mereka yang pernah jadi korban, biasanya akan mencari mangsa, begitu yang pernah saya baca.

Kemungkinan sangat buruk terakhir, barangkali bapak itu hanya satu diantara sekian gay aka pedofil yang berkeliaran di kota kecil kita Singararaja, di awal 90- an. Bayangkan jika jumlahnya lebih banyak, bisa kita takutkan situasi yang kita alami di tahun 2020 ini. Fenomena gunung es tentang kejadian perundungan seksual pada anak anak dan remaja kita. Dengan segala residu psikis dan mental pada para korbannya.

Mendulang Kesadaran Palsu Perempuan Bali di Arena Judi “Meceki”

Mengutip tulisan senior saya di media ini, tak ada yang salah dengan mereka yang terindikasi LGBT ini, mereka baru menjadi masalah hukum, saat sudah bertindak seperti bapak tadi. Ingin menyalurkan hasrat seksualnya pada yang bukan pasangan dan masih berusia anak.

Pada sebuah kolom konsultasi psikologi di media terkemuka pernah saya baca. Seorang lelaki remaja lelaki umur 16 tahun berkonsultasi pada psikolog, takut kalau dirinya seorang Homo.

Seorang remaja pria dengan penampilan kemayu, wajah dan kulit halus seperti anak wanita. Ternyata setelah ditelusuri, sekian tahun sebelumnya pernah mengalami perundungan seksual , dijadikan obyek fantasi seksual oleh saudara sepupunya laki laki yang lebih besar. Hal ini menunjukkan bahwa faktor lingkungan dalam hal ini tak bisa kita nafikan.

Kalau mau jujur, di sekitar kita pasti banyak kita temukan orang orang dengan gejala seperti ini. Dalam kondisi paling ringan adalah mereka yang tak menunjukkan ketertarikan pada lawan jenis laiknya individu normal. Yang saya amati, dan berdasarkan cerita yang saya dengar, perlakuan dan cara mereka beradaptasi dengan lingkungan sudah mulai berubah.

Di masa lalu, mereka yang terkesan agak banci, biasanya dipaksa dan dicarikan jodoh oleh keluarganya. Dan terbukti  bisa membina rumah tangga yang bertahan lama, terlepas dari bagaimana kehidupan “suami-istri” mereka, bukanlah hak kita untuk mengetahuinya. Seiring terbukanya dunia, ditambah perkembangan pariwisata dan banyaknya orang asing masuk ke Bali. Mereka yang merasakan dirinya lain dari orang normal ini mulai berani membuka diri, hidup di kota, tak bisa didikte lagi oleh keluarga untuk berumah tangga.

Bahkan saya punya teman kuliah yang terbuka megabarkan dirinya mempunyai pacar sejenis di media sosial. Tapi sisi negatifnya ada juga yang terjerembab ke hubungan yang tak bertanggung jawab, hingga mengidap penyakit kelamin, begitu cerita yang saya dengar tentang mereka yang mengalami disorientasi seksual ini.

Saya teringat kuliah guru saya LK Suryani, dalam hal penanganan kelainan jiwa, kita di Indonesia, Bali khususnya sedikit lebih baikdibandingkan dengan di luar sana. Karena peran keluarga yang masih sangat besar dalam hal menangani anggota keluarganya yang mengalami gangguan jiwa. Termasuk dulu saat mereka yang dianggap memiliki kelainan orientasi seksual ini pun, akan dipaksa dinikahkan dan terbukti kehidupan pun tetap berjalan seperti orang normal lainnya. Pendekatan seperti ini yang tak bisa kita lakukan hari ini, saat eranya keterbukaan dan issu HAM yang sensitif.

Jadi terlepas dari penyebab mereka menjadi LGBT yang memang cukup kompleks dan tak bisa hanya dipandang dari satu sudut saja. Kita , kami kalangan medis, masyarakat umum seyogyanya lebih berfokus ke pencegahan dan mengetahui lebih dini kalau ada anggota keluarga kita yang ada gelagat demikian sejak usia dini. Saat anak laki-laki kita terlihat kemayu, libatkan dia dalam aktifitas kasar seperti olah raga dan out door.

Keluarga yang mengharap anak lelaki diantara sekian anak wanita yang sudah ada, jangan perlakukan putri kita laiknya anak lelaki seperti yang kita idamkan. Karena itu merupakan salah satu pemicu dia menjadi lesbian di kemudian hari, paling minimal tak punya ketertarikan pada laki laki. Belajar dari kasus yang saya sebutkan di atas, tolong perhatikan pergaulan anak anak kita. Jangan mentoleransi perundungan  sekecil apapun. Anak yang terlihat berbeda biasanya rentan menjadi korban perundungan teman sebayanya. Kita mesti tegas menyikapi hal tersebut.

Berkaca pada situasi yang pernah saya alami, kita selaku orang tua mesti dari awal mengajarkan tentang tubuh dan pengetahuan seksual pada anak-anak kita. Jangan lagi menganggap itu sebagai hal yang tabu. Ajarkan anak untuk berani melawan kalau menemukan situasi  seperti  yang saya alami itu. Terlepas dari kondisi itu bukanlah sesuatu yang salah, tapi saat  dilakukan secara paksaan kepada orang lain yang bukan pasangan, apalagi anak di bawah umur. Jerat hukuman yang berat saya ingat pantas untuk mereka, kalau tak salah diatas 10 tahun. Dan dengan adanya undang-undang terbaru perlindungan kekerasan seksual yang sudah disahkan , kita selaku orang tua sedikit lebih tenang melepas anak anak kita beraktifitas di luar rumah karena sudah ada perlindungan dari ngara.

Maskulinitas Perpolitikan Indonesia: Glass Ceiling bagi Perempuan dalam Ranah Politik

Biar tak terkesan terlalu serius, saya ingin menceritakan sebuah kisah yang saya sendiri ragukan kebenarannya. Saat itu menjelang piala dunia di Korea dan Jepang tahun 2002. Sesuai hasil undian timnas Argentina berada satu grup dengan  timnas Inggris . Pada satu kesempatan terlihat David Beckham sang ikon  lelaki metroseksual beraksi di televisi. Spontan salah satu anggota timnas Argentina yang tak disebutkan namanya berteriak histeris,” Ya Tuhan, gantengnya, andai nanti bertemu di lapangan, alih alih menjegalnya, saya akan menciumnya”. Nah lu.

Saya jadi teringat tulisan di sebuah kolom psikologi koran dari seorang psikolog wanita. Pada dasarnya setiap individu mempunyai kecenderungan homo (seksual) dan hetero (seksual) dalam dirinya dengan proporsi yang bervariasi. Mereka yang gay atau lesbian mungkin mempunyai kadar homo yang sangat besar. Coba kalau kita melihat seorang wanita yang cantik mempesona lewat di depan kita, pasti  ada sedikit getar aneh  yang kita rasakan, begitu tanyanya pada sesama wanita yang mungkin membaca tulisannya.

Pertanyaan terakhir saya kepada pembaca lelaki pastinya. Andaikata seorang yang ganteng, misalnya Arya Saloka melintas di depan kalian, apa yang kalian rasakan. Tak usah dijawab, simpan saja jawabannya. Kapanpun anda menganggap seseorang itu terindikasi LGBT khususnya gay, bisa dibuka kembali jawaban anda itu, Tabikkk.[T]

Tags: LGBT
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tentang IQ, Apa Mau Dikata

Next Post

Kisah 8000 Kepal Tanah dari Gusti Dalem: Temuan-temuan Pada Jajan Suci

dr. Ketut Suantara

dr. Ketut Suantara

Dokter. Lahir di Tista, Busungbiu, Buleleng. Kini bertugas di Puskesmas Busungbiu 2 dan buka praktek di Desa Dapdaputih, Busungbiu

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Kisah 8000 Kepal Tanah dari Gusti Dalem: Temuan-temuan Pada Jajan Suci

Kisah 8000 Kepal Tanah dari Gusti Dalem: Temuan-temuan Pada Jajan Suci

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co