17 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Maskulinitas Perpolitikan Indonesia: Glass Ceiling bagi Perempuan dalam Ranah Politik

Clara Listya Dewi by Clara Listya Dewi
January 7, 2021
in Esai
Maskulinitas Perpolitikan Indonesia: Glass Ceiling bagi Perempuan dalam Ranah Politik

Ilustrasi perempuan dan politik {diolah tatkala.co dari sumber gambar di Google]

Tampaknya perpolitikan Indonesia masih jauh dari kata ramah terhadap kehadiran perempuan. Pilkada 2020 yang diselenggarakan di tengah pandemi COVID-19 hanya diikuti oleh 10,6 persen keterwakilan perempuan sebagai calon kepala daerah. Menurut catatan LIPI, dalam pemilihan gubernur tercatat ada 5 perempuan dan 45 laki-laki. Pemilihan Walikota diikuti oleh 26 perempuan dan 126 laki-laki. Sedangkan dalam pemilihan bupati terhimpun ada 128 perempuan dan 1.102 laki-laki. Angka-angka tersebut jauh dari kata cukup untuk menggambarkan keterwakilan perempuan dalam ranah politik. Maskulinitas menjadi karakteristik yang kuat tergambar dalam perpolitikan Indonesia saat ini. Lalu apa yang sebenarnya menyebabkan semua ini terjadi?

Glass Ceiling Membelenggu Gerak Perempuan

Glass ceiling adalah sebuah metafora yang mengasumsikan adanya penghalang buatan terhadap progresivitas kaum perempuan. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Hymowitz dan Schellhardt (1986) untuk menggambarkan hambatan dalam hierarki organisasi suatu perusahaan, tepat di bawah level manajemen puncak, yang mencegah atau membatasi wanita untuk naik ke jajaran manajemen senior. Glass ceiling adalah bentuk garis demakrasi yang dalam dan mencerminkan ketidaksetaraan pekerjaan yang dibedakan berdasarkan ras atau gender bukan dibedakan pada kualifikasi pendidikan atau pengalaman kerja. Beberapa penyebab munculnya glass ceiling ini tidak lain terbentuk karena masih melekatnya sikap bias gender, prasangka, dan stereotyping dalam komunitas masyarakat modern.

Hambatan glass ceiling tidak hanya terbalut dalam struktur organisasi suatu perusahaan. Di Indonesia, istilah ini dapat dipakai untuk melihat salah satu faktor yang membuat rendahnya keterwakilan perempuan dalam politik. The Federal Glass Ceiling (1995) membagi hambatan-hambatan tersebut ke dalam tiga kelompok, yaitu societal barriers (hambatan sosial); internal structural barriers (hambatan struktur internal); dan governmental barriers (hambatan pemerintah). Dalam konteks perpolitikan Indonesia, ketiga hambatan ini membuat ruang gerak perempuan dalam politik menjadi terbatas.

Societal barriers mengacu pada hambatan yang tercipta dari sikap stereotyping dan bias gender. Kehadiran perempuan dalam perpolitikan Indonesia masih sangat lekat dengan anggapan ini. Dalam masyarakat terbangun citra yang menganggap perempuan memiliki keterbatasan dalam hal kepemimpinan. Bias gender dalam politik tidak lain muncul karena internalisasi nilai-nilai patriarki dalam masyarakat. Maskulinitas dalam masyarakat membentuk pandangan bahwa laki-laki adalah kaum yang memiliki kuasa lebih daripada perempuan. Dalam konteks hubungan keluarga, masih banyak kelompok masyarakat yang mendudukkan laki-laki di atas perempuan. Pembuatan keputusan penting lebih banyak didasarkan atas cara pandang laki-laki dalam keluarga. Konteks patriarki yang telah membudaya ini membuat adanya hambatan bagi perempuan untuk maju, khususnya di ranah politik. Masih adanya stigma yang menganggap perempuan belum cukup capable dalam menentukan keputusan pada kelembagaan. Karena terlemahkan oleh stigma, banyak perempuan memilih mundur dari ranah politik.

Internal structural barriers kerap diasosiasikan sebagai hambatan yang muncul dari dalam lembaga atau organisasi masyarakat yang ada. Ada keengganan untuk mengkader perempuan menjadi pemimpin suatu jabatan tertentu. Kurangnya kesempatan bagi perempuan untuk upgrading kemampuan diri bisa menjadi salah satu penghalang untuk berkembang. Minimnya kemampuan perempuan dalam berkomunikasi, berpikir kritis, dan literasi tidak banyak dapat diakomodir dalam suatu komunitas masyarakat. Kewajiban mengurus pekerjaan rumah tangga bagi kebanyakan perempuan membuat akses terhadap hal-hal di atas menjadi sangat terbatas.

Selanjutnya jika berbicara soal governmental barriers, hambatan nampak jelas pada maskulinitas dunia perpolitikan Indonesia saat ini. Walaupun pemberian kuota 30% terhadap keterwakilan perempuan sudah diberlakukan, namun aturan tersebut terkesan hanya sebagai pelengkap. Keterwakilan suara perempuan masih belum dapat dihitung sebagai prioritas. Tidak diindahkannya pengesahan RUU PKS menjadi salah satu bukti bahwa isu yang berkaitan dengan perempuan masih dinomerduakan. Keadaan ini justru semakin menambah luka bagi perempuan. Secara tidak langsung, keadaan tersebut menambah skeptimisme perempuan terhadap dunia perpolitikan.

Potensi Kekerasan Struktural dan Kultural dalam Budaya Patriarki

Budaya patriarki yang terpatri dalam struktur masyarakat sejak lama semakin memperbesar ruang kesenjangan. Asumsi bahwa laki-laki harus di atas perempuan telah menempatkan budaya patriarki sebagai sebuah budaya yang telah mengakar dalam masyarakat. Johan Galtung, seorang sosiolog dan pakar studi perdamaian melihat bahwa patriarki menjadi penyebab utama timbulnya kekerasan, baik kekerasan kultural dan struktural. Adanya dominasi laki-laki kemudian menempatkan perempuan sebagai obyek. Patriarki sebagai bagian dari kekerasan struktural maupun kultural secara nyata semakin menegaskan kesenjangan antara laki-laki dan perempuan dalam banyak hal. Contohnya terbaginya peran perempuan dalam ranah privat dan publik. Kerap perempuan diidentikkan dengan pekerjaan yang bersifat domestik, seperti urusan anak dan keperluan rumah tangga semata. Sedangkan laki-laki mendapat porsi lebih dalam meningkatkan kapabilitasnya di ranah publik, misalnya menduduki jabatan penting di daerahnya.

Kekerasan struktural dan kultural terhadap perempuan juga dapat dilihat dalam dua konteks yaitu marginalisasi peran perempuan dan menstigmakan peran perempuan. Marginalisasi ini kerap dihubungkan dengan terbatasnya sumber daya dan akses perempuan terhadap pendidikan dan pengembangan diri. Masih banyak pandangan yang melemahkan posisi perempuan dalam pilihan-pilihan mereka setelah menjadi dewasa. Misalnya kewajiban menikah dan menjadi ibu rumah tangga. Marginalisasi yang secara harfiah berarti menempatkan ke pinggir, maka pilihan perempuan dalam banyak hal kerap juga terpinggirkan. Sayangnya marginalisasi ini membuat perempuan menjadi tidak percaya diri. Paksaan dari budaya patriarki dan marginalisasi semakin membatasi produktivitas perempuan dalam berbagai sektor kehidupan. Hilangnya semangat untuk berpartisipasi dalam masyarakat yang selanjutnya menjadi faktor psikologis lainnya mengapa keterlibatan perempuan dalam politik masih sangat rendah.

Menstigmakan berarti menandai seseorang dengan stigma tertentu. Acap kali labelisasi ini mengarah kepada perempuan. Paradigma yang menganggap perempuan adalah kelompok yang rentan seolah-olah menempatkan perempuan untuk tidak mampu mengambil peran strategis dalam kehidupan bermasyarakat. Apalagi mengingat dalam masyarakat modern saat ini perempuan kerap memainkan peran ganda, sebagai pekerja dan ibu rumah tangga. Lagi-lagi perempuan diharuskan memilih, terkadang pilihan-pilihan yang tersedia sangat sulit untuk dikorbankan salah satunya. Bukan tidak mungkin hal ini mampu menggiring perempuan untuk kehilangan posisi tawarnya dalam banyak hal.

Proyeksi Perempuan dalam Politik Indonesia di Masa Depan

Atas berbagai hal tersebut, penting rasanya kita menakar bagaimana proyeksi perpolitikan Indonesia khususnya bagi perempuan di masa depan. Terjun dalam perpolitikan akan menjadi kesempatan bagi perempuan untuk memperjuangkan keterwakilannya. Bila kita ingin membuat politik Indonesia ke depan semakin inklusif, pertama-tama yang harus dihapus adalah stigma terhadap perempuan itu sendiri. Budaya patriarki yang selama ini langgeng sedapat mungkin harus dikonstruksikan dengan pemikiran baru yang dapat menghapus kesenjangan gender. Pemberian kuota keterwakilan perempuan dapat menjadi langkah awal yang baik untuk membuka ruang bagi perempuan dalam ranah politik. Tampaknya ada harapan bagi perempuan dalam politik di masa depan. Asalkan perspektif lama soal domestikasi peran perempuan harus segera direduksi. [T]

Referensi:

  • Cotter, D., Ovadia, S., Hermsen, J. (2001). The Glass Ceiling Effect, Social Forces, vol. 80, no.2. pp. 655-682.
  • Direktorat Politik dan Komunikasi Bappenas RI. (2020). Keterwakilan Perempuan di Pilkada Dinilai Masih Sedikit. Diakses pada 14 Desember 2020 dari http://ditpolkom.bappenas.go.id/v2/?p=992
  • Eriyanti, L.D. (September, 2017). Pemikiran Johan Galtung tentang Kekerasan dalam Perspektif Feminisme, Jurnal Hubungan Internasional, vol. 6, no. 1.
  • API Kartini. (2018). Perempuan dan Langit-Langit Kaca di Dunia Politik. Diakses pada 15 Desember 2020 darihttp://www.apikartini.org/2018/03/14/perempuan-dan-langit-langit-kaca-di-dunia   -politik.html.
  • Sakina, A.I., Siti, D.H. (2013). Menyoroti Budaya Patriarki di Indonesia, Social Work Journal, vol. 7, no. 1, pp. 1 – 229.
  • The Federal Glass Ceiling Commission. (1995).
  • Wahyudi, V. (2018). Peran Politik Perempuan dalam Perspektif Gender, Politea, vol. 1, no.1, pp. 68-83.

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lain Mutasi Virus Corona, Lain Lagi Mutasi Pejabat

Next Post

Untuk Tahun Ini, “A Place for Everything and Everything Is In Its Place”

Clara Listya Dewi

Clara Listya Dewi

Ni Nyoman Clara Listya Dewi, Lecture & Engagement Director at BASAbali Wiki

Related Posts

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

by I Wayan Artika
October 16, 2026
0
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

Read moreDetails

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
0
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

Read moreDetails

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
0
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

Read moreDetails

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

Read moreDetails

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

by Angga Wijaya
October 13, 2026
0
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

Read moreDetails

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

Read moreDetails

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
0
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

Read moreDetails

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

Read moreDetails

Wartawan Kehabisan Bensin

by Angga Wijaya
October 12, 2026
0
Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

Read moreDetails

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

Read moreDetails
Next Post
Untuk Tahun  Ini,  “A Place for Everything and Everything Is In Its Place”

Untuk Tahun Ini, "A Place for Everything and Everything Is In Its Place"

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir
Buku Tatkala

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir

Judul: Panduan Lumut -- Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putri Wijaya ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 16, 2026
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM
Esai

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

by I Wayan Artika
October 16, 2026
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow
Esai

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan
Esai

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali
Bahasa

Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

SECARA pribadi, saya sebisa mungkin menghindari antrean BBM di Bali saat ini. Saya pernah berada di posisi itu dahulu, dan...

by I Made Sudiana
October 16, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
Hukum Tanah Air Bali
Buku Tatkala

Hukum Tanah Air Bali

Judul: Hukum Tanah Air Bali Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Made Pria Dharsana ISBN: Masih dalam proses Tebal:...

by Buku Tatkala
October 15, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Kemping yang Mencekam

LIBUR semester telah tiba. Mahasiswa dan anak sekolah dapat bersantai. Agung Santoso berencana memanfaatkan libur itu bersama keluarga. Ia ingin...

by Chusmeru
October 15, 2026
𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈
Pameran

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

by tatkala
October 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari
Ulas Buku

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi
Esai

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

by Angga Wijaya
October 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co