23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Untuk Tahun Ini, “A Place for Everything and Everything Is In Its Place”

Putu Sri Suciyati by Putu Sri Suciyati
January 7, 2021
in Esai
Untuk Tahun  Ini,  “A Place for Everything and Everything Is In Its Place”

Putu Sri Suciyati

Bagi kebanyakan dari kita, tahun baru ini merupakan tahun dimana semua perubahan besar-besaran yang telah kita lalui di tahun sebelumnya terbayarkan.

Awal tahun ini, rasa optimisme itu terasa lebih “real”. Doa dan harapan yang dipanjatkan oleh setiap individu di mana pun berada hampir terdengar sama yaitu agar situasi dan kondisi yang kita hadapi bersama saat ini  lekas sirna dan kehidupan normal bisa segera dijalankan kembali!

Doa dan harapan yang tulus sudah pasti akan terjadi.

Mari menengok kembali ke tahun kemarin dimana saya lebih suka menyebutnya tahun penuh  perubahan ,cleansing dan kebangkitan sekadar untuk mengingatkan diri kita sejauh mana pribadi kita ini telah ‘ menjadi  jauh lebih baik’.

Ada yang berubah sehingga terjadilah kebangkitan dalam artian yang mendalam. Terlebih dahulu , ada kuasa  yang jauh lebih besar dari kuasa intelek manusia itu sendiri yaitu kuasa dari alam semesta – Sang Pencipta.

Di awal  cerita, pada saat kita collapse ketika semua kegiatan rutinitas normal kita harus dihentikan, seolah-olah kita dibawa lagi untuk melihat kedalam yaitu kepada  ketidakberdayaan kita, sisi vulnerability kita dan siapa sejatinya diri kita ini.

Perubahan dari yang biasanya semuanya terkontrol, tiba-tiba berubah 180 derajat.

Kita lepas kendali! Seperti ada penderitaan yang muncul, sebelum pada akhirnya  kebangkitan itu terjadi. Biasanya penderitaan terjadi  terlebih dahulu dalam level pikiran/mental dan emosional  seperti : rasa khawatir, pesimis, takut dan seolah-olah tersesat tanpa tujuan –– sebelum muncul atau terlihat pada level fisik.

Tidak semua dari kita memiliki kemampuan yang sama  untuk menyelamatkan diri meskipun dihadapkan pada situasi yang mirip. Bagi mereka yang gemar mengolah batin benar-benar dekat dan tahu tentang dirinya sendiri , cenderung lebih cepat merasakan tuntunan.

Pemikiran dan emosi negatif di atas harus kemudian dibersihkan. Yang saya lakukan adalah dengan banyak-banyak mendapatkan pengetahuan melalui membaca dan menonton video-video dengan konten yang mengedukasi  tentang self-improvement.

Ada lagi metode yang dapat dilakukan untuk menggantikan pikiran-pikiran yang bersifat destruktif seperti di atas yaitu dengan cara menanamkan benih-benih pikiran positif melalui afirmasi. Namun apabila sudah ditanam, jangan lupa disiram dan diberi pupuk supaya kuat mengakar. Setelah proses cleansing terjadi , selanjutnya yang dibangkitkan adalah pemahaman yang lebih mendalam tentang sang diri dan berserah.

Pemahaman itu membangkitkan keyakinan untuk menyerahkan semuanya  terhadap  Kemahakuasaan Sang Pencipta dan semesta . Bukan pasrah. Berserah yang dimaksud ialah mengalir saja dengan penuh percaya diri tanpa mengesampingkan kualitas diri kita. Apa yang kita tahu tentang energi semesta ialah , apa yang kita kirimkan  itulah yang akan kita dapatkan dalam level energi.

Jika kita mengirimkan penderitaan dan meyakini jika diri kita benar adanya menderita , maka penderitaanlah yang akan datang . Demikian pula sebaliknya.
Apabila energi optimisme yang kita kirimkan maka semesta menjawab dengan peluang – peluang indah dalam hidup. Ketahuilah jika semesta bekerja dengan energy-based bukan analytical mind. Itulah mengapa jalan semesta itu kadang tidak terduga dan diluar dari apa yang bisa kita pikirkan.

Mengenai  sisi positif dari sebuah peristiwa – karena dalam kehidupan pasti akan selalu ada 2 sisi yang berbeda – adalah munculnya kesadaran. Kita dibawa sadar kembali ke dalam diri esensial kita yang bersifat lebih halus bukan materi, seperti badan pikiran dan emosi. Diingatkan  lagi akan folosofi hidup dari Tri Hita Karana : tiga penyebab kesejahteraan dalam hidup.

Pola pikir dan emosi kita akan membentuk kualitas hidup kedepannya. Karena hal tersebut sangat terkait dengan bagaimana kita melihat dan menerima hidup itu sendiri. Pikiran dan emosi dipelihara dengan cara yang berbeda dari badan fisik , tentu saja karena unsur pembentuknya bukan bersifat material atau kebendaan .

Orang bijaksana bilang , peliharalah pikiran dan perasaan dengan baik dan benar sehingga itulah nanti yang akan membimbingmu dalam hidup. Pikiran dan emosional terkoneksi dengan kuat . Dari pikiran yang positif , terlahirlah ide-ide cemerlang . Dari pikiran yang positif terciptalah suasana hati yang positif pula. Kekuatan pikiran itu ,  benar adanya dapat dipergunakan untuk  tujuan yang baik  maupun buruk tergantung bagaimana setiap individu mempergunakannya.

Dalam lingkungan pergaulan kita , ada banyak contoh yang bisa kita amati tentang  bagaimana kehidupan itu dapat dijalankan dengan penuh rasa syukur oleh mereka yang berpikiran positif meskipun sebenarnya memiliki kehidupan yang pas-pasan.

Begitupula sebaliknya , bagaimana orang yang kehidupannya tercukupi namun masih saja merasa kekurangan ditambah iri hati dan cemburu  karena salah paham dikiranya hidup ini adalah sebuah kompetisi antara satu dengan yang lainnya. Sungguh telah gagal diri ini  meyakini dan mempercayai bahwa masing-masing dari kita adalah individu yang unik yang terlahir dengan sudah membawa karunia masing-masing dari Yang Maha Kuasa.

Jadi  setiap peristiwa yang terjadi dalam kehidupan saat ini, bukan semata – mata hanya karena nasib dan karma. Kita pula menaruh usaha atas bagaimana kita membentuk kehidupan kita sendiri termasuk bagaimana kita ingin mentransformasikan diri kita sendiri.

Cobalah untuk perjalanan kedepannya, kita lebih memfokuskan perhatian kita kedalam – mencari jati diri sejati demi memperkuat survival plan kita  .  Banyak – banyak luangkan waktu mempelajari dan mengolah pikiran dan rasa. Bisa dengan berafirmasi positif , visualisasi dan bermeditasi – apapun itu yang membawa kepada ketenangan jangan hanya memenuhi kebutuhan fisik saja agar tercipta keseimbangan. 

Terlalu memaksakan diri untuk harus begini dan begitu pun kurang baik , nanti bisa jadi sakit hati apabila ekspektasi tidak bertemu dengan realitas.  Diri ini harusnya diperhatikan dan dicintai bukannya malah dikritisi. Bagi yang telah mengeksplorasi dirinya sendiri , tetap selalu dibutuhkan konsistensi untuk mempertahankannya. Tidak mudah, pola-pola pikir lama harus di cleansing terlebih dahulu untuk selanjutnya di re-programm. Tahun ini adalah waktu yang tepat untuk menjadi diri sendiri yang lebih baik.

Merespon terhadap kehilangan – apakah itu pekerjaan , mungkin teman , atau sesuatu yang kita sayangi –  ditahun kemarin maupun dalam kehidupan secaraumum , memang meguras emosi.  Sejatinya yang ada ialah semua yang kita kira adalah milik kita , hanya bersifat sementara kecuali perubahan itu sendiri yang  kekal adanya. Bahkan hidup ini pun adalah sementara. 

Dalam perubahan itu , ada yang pergi dan pasti ada yang datang ,  harus ada yang dikosongkan untuk menyediakan tempat untuk yang lebih baik agar terjadi. Yang lama akan digantikan dengan yang baru. Berjalan ke masa depan , ada baiknya beban masa lalu ditinggalkan dibelakang agar langkah menjadi lebih ringan . Sebelum merespon atas sesuatu , temukanlah sisi  baik dalam sebuah peristiwa itu sehingga menciptakan reaksi dan tindakan yang bijak. 

Apa yang tidak menjadi milik kita saat ini lagi , membuat kita mengerti akan arti bersyukur atas apa yang kita punyai. Meski secara teori terdengar simple , namun dalam praktek kita selalu lupa untuk menjalankannya .  Karena tahu akan segalanya pasti akan mengalami perubahan seiring dengan waktu mau tidak mau kita harus memiliki kemampuan untuk survive ,  yaitu sebisa mungkin menjadi yang terbaik di masa apapun dengan cara mengeksplorasi potensi diri dan ide-ide baru.

Yang membuat cerita perjalanan kita berbeda dari kemarin – kemarin sudah barang tentu bagaimana kita sebagai diri telah berevolusi, secara fisik , batin , emosi dan mental. Bagiamana kita menjadi lebih siap dan dewasa dalam menanggapi sebuah peristiwa dan sejauh mana pemahaman yang telah kita dapatkan tentang diri kita sendiri .

Untuk menciptakan realitas hidup yang baru , berawal dari vision yang berasal dari intelek . Ingin menjadi seperti apa kita dikemudian hari termasuk kehidupan seperti apa yang ingin kita jalani. Vision yang kuat otomatis berdampak pada pikiran kita. Kita cenderung untuk memikirkan dan melakukan hal-hal yang dapat menunjang agar vision itu ter-realisasi. Pengetahuan tentang diri adalah modal utama kita untuk bertahan dalam perubahan itu sendiri.

Pengetahuan diri yang dimaksud lebih kepada mengetahui kualitas apa saja yang : saya miliki , talenta apa lagi yang ada dalam diri saya , karakter saya yang sesungguhnya ,  interest saya , kecakapan saya , kegemaran saya , apa yang  manjadi block atau sesuatu yang harus saya perbaiki . Semakin banyak kita mengetahui tentang diri kita sendiri semakin banyak peluang – peluang yang sebenarnya sudah ada namun baru terlihat – yang dapat diambil.

Seperti yang sudah dijabarkan sebelumnya , semesta ini bekerja dengan metode merespon terhadap energi bukan menganalisa dengan pikiran logis. Untuk mengundang semua kebaikan ke dalam diri kita maupun ke dalam hidup kita , yang pertama dilakukan adalah menjadi kebaikan itu sendiri . Berdamailah dengan masa lalu yang  mungkin saja at some point telah menorehkan luka hati .

Berdamailah agar tidak membawa kesengsaraan batin kepada diri sendiri. Memang yang telah terjadi tidak bisa diulang lagi – tidak dapat dihindari – dan memang harus terjadi . Terima saja dengan berjiwa besar  dan ikhlaskan , suatu saat nanti pasti ada nikmat yang lebih besar. Mengupas tentang self-development through self care and self love ,  terlalu kompleks untuk diringkas. Luas ruang lingkupnya , banyak poin yag harus disinggung.

Untuk menjadi kebaikan itu sendiri , berbenahlah dari dalam.  Mulai dari level pikiran dan mental . Bagaimana kita menciptakan kebaikan itu sendiri melalui pikiran – pikiran yang kita tanamkan melalui afirmasi dan visualisasi.  Ya! Pikiran itu sangat kuat. Ia bisa menciptakan ‘ belief system ‘ yang baru. Pikiran yang diulang  ulang menyebabkan kita mempercayai hal tersebut adalah  benar adanya. Berpikir tentang kebaikan berulang-ulang , menyebabkan kita mempercayai tentang kebaikan itu.

Begitupun sebaliknya. Kemudian yang harus dibenahi adalah sisi emosional kita dengan bersedia untuk melepaskan emosi – emosi negatif agar tidak menkonsumsi ketenangan batin . Hidup kita ini kaya akan cerita yang meninggalkan memori terlepas dari baik ataupun buruk . Cerita dimasa lampau tersebut pun masih meninggalkan sisi emosionalnya. Jarang kita bisa memaafkan dengan tulus  , mereka yang meninggalkan luka hati. Masih saja ada emosi kekecewaan ,  ketidakpuasan , kemarahan , kesedihan dan mungkin bahkan dendam. Memaafkan adalah something that we have to deal with jika kita ingin menyembuhkan luka emosional dan batin kita.  Semua itu harus dilebur terlebih dahulu , sehingga ada ruang nantinya bagi emosi – emosi positif seperti cinta kasih untuk berkembang. Banyak-banyak meluangkan waktu untuk ketenangan . Karena dalam ketenangan itu , kejernihan muncul.

Dalam menciptakan kebaikan dalam pikiran dan batin sangat diperlukan kejernihan , sejernih apa kita bisa melihat kebaikan yang ingin kita ciptakan. Apabila “software” kita ( mental dan batin ) sudah diupgrade , seimbangkan juga dengan meng-upgrade badan fisik kita.  Badan fisik butuh bergerak , good hygiene , pangan yang baik , dan istirahat yang cukup.

Jika semuanya tumbuh dan berkembang serta diperhatikan dengan porsi  yang seimbang , hasilnya sudah pasti pribadi yang baru, dengan pancaran energi yang baru , aura yang baru , dan cerita kehidupan yang baru. No More Drama!

Selamat mengaplikasikan metode baru untuk cerita kehidupan yang jauh lebih menarik. Semoga  kita semua senantiasa selalu berada dalam tuntunan dan perlindungan  dari Yang Maha Kuasa, serta senantiasa kiranya kita selalu diberikan anugrah yang berlimpah [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Maskulinitas Perpolitikan Indonesia: Glass Ceiling bagi Perempuan dalam Ranah Politik

Next Post

Hope & Freedom – Run for Mental Health

Putu Sri Suciyati

Putu Sri Suciyati

Tinggal di Puri Tengah Siangan , Banjar Triwangsa, Siangan, Gianyar, Bali. Bisa ditemui di FB: Putu Suciyati dan IG: putu_suciyati

Related Posts

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails
Next Post
Hope & Freedom – Run for Mental Health

Hope & Freedom – Run for Mental Health

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co