7 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menelisik Unsur Maskulin dalam Rejang Jajar Pari

tatkala by tatkala
May 2, 2023
in Esai
Menelisik Unsur Maskulin dalam Rejang Jajar Pari

Tari Rejang Jajar Pari | Foto: Istimewa

Penulis: Gusti Ayu Cempaka Dewi Maharani dan I Gusti Ayu Saskya Kancana Devi

TARI REJANG JAJAR PARI terdiri dari dua suku kata yaitu jajar dan pari. Jajar memiliki arti berbaris yang sejajar dan Pari berarti padi. Jika diartikan dengan kata jajar pari adalah barisan padi yang menguning menandakan padi telah siap dipanen untuk keberlangsungan kehidupan dan kemakmuran.

Rejang Jajar Pari menggunakan gagasan ilmu padi, yang menyebutkan “semakin berisi semakin merunduk”. Hal tersebut bermakna sebuah norma, adab dan etika untuk tidak mengunggulkan ego namun lebih untuk merenungi kedalaman spiritual agar berguna bagi kehidupan di masyarakat.

…

Selain itu secara filosofi Tari Rejang Jajar Pari melambang dewi padi sebagai sumber kehidupan dan kemakmuran yang tertuang dalam karya seni. Melibatkan sosok wanita sebagai simbol predana yang merupakan sosok insan penting tempat bersemayam benih benih generasi baru. Generasi baru sebagai pemegang tongkat estafet segala macam pewarisan pengetahuan serta kebudayaan yang adi luhur.

Garapan Tari Rejang Jajar Pari menunjukan sisi lain dari seorang wanita sebagai sosok pahlawan yang memiliki unsur keberanian, keagungan, dan kecantikan. Kecantikan tidak hanya dipandang sebagai sebuah sensasi saja, namun juga sebagai ketajaman intelektual. Cantik tidak hanya dalam rupa, namun cantik sifat dan watak. Cantik yang feminine dan juga secara tidak langsung menjangkau nilai maskulin yang berani, tegas serta heroik.

Gerakan Rejang Jajar Pari menjunjung konsep gerakan rejang Karangasem. Diawali dengan adegan muspa sebagai wujud kesiapan diri. Rejang Jajar Pari ini pula menjunjung konsep Tri Angga yang diaplikasikan dengan gerakan tangan menyentuh kepala, dada, dan kedepan. Tak hanya itu terdapat gerakan tangan mengarah kebawah sebagai wujud penghormatan kepada ibu pertiwi. Dengan lantunan gambelan gong beri memberikan gerak pembuka lawang dan pengampigan selendang, gerakan tersebut diibaratkan sebagai gerak menetralisir hal yang bersifat negatif.

Gerakan berputar searah jarum jam menandakan siklus kehidupan atau perputaran kehidupan. Penghormatan pada ibu pertiwi juga adalah sebuah penerapan dari sifat maskulin untuk selalu ingat akan kemahaan seorang ibu. Menetralisir hal-hal negatif yang menjadi tanggung jawab sifat maskulin secara umum justru ditampilkan oleh seorang feminine (penari rejang).

Properti dan busana dalam tarian ini digarap berdasarkan nilai warisan yang melekat di ruang lingkup Banjar Taman Kelod, Ubud yaitu keris. Keris sebagai simbol kekuatan wanita serta keris berfungsi sebagai pelindung dan senjata. Selain itu keris juga sebagai lambang dari ketajaman yang juga disebut dengan lelandep (landep artinya tajam dalam Bahasa Bali). Tajam dalam budi dan pekerti. 

Pakaian Rejang Jajar Pari sendiri terinspirasi dari patung Ida Ratu Mas Melanting, dimana patung Ratu Melanting ini menggunakan konsep sisi maskulin wanita, mulai dari cara memakai kamen seperti bagaimana cara lelaki memakai kamen yang ujungnya berbentuk ‘kancut’ yang melambangkan pengandalian diri dan penghormatan kepada ibu pertiwi.

Tak hanya itu, busana dilengkapi dengan pemakaian seselet keris seperti layaknya seorang laki-laki. Dari sisi ini dalam rejang Jajar Pari sudah memasukkan elemen maskulin dalam tubuh feminine penari rejang. Dari segi instrumentalnya, gambelan rejang Jajar Pari hanya menggunakan setengah dari barungan gambelan Gong Kebyar. Kemudian ditambah dengan alat musik dari Korea yaitu Samulnori yang terdiri dari Bug dan Jing.

…

Terciptanya karya seni yang bernilai tinggi tentu tidak lah mudah, perlu proses yang panjang di dalamnya. Sama halnya ketika menciptakan Tari Rejang tercipta sebagai penyeimbang dari tari baris yang memang kedua tarian ini tercipta berpasangan dalam suatu upacara. Tari Rejang pada umumnya ditarikan dengan lemah lembut dan gemulai yang menonjolkan sisi kecantikan dan keanggunan seorang wanita.

Tapi dalam Rejang Jajar Pari ini ide yang tertuang adalah sisi lain seorang wanita dimana memiliki paras yang cantik namun memiliki karakter tegas, keras, dan kuat. Terlintaslah sebuah ide seorang wanita yang membawa keris, namun hal tersebut lah yang akan menjadi kontroversi.

Menurut Gusti Putu Dika Pratama sebagai konseptor, banyak tetua yang tidak menginginkan seorang wanita memegang keris, karena kodratnya yang memegang keris adalah laki-laki.  Setelah digali lagi terdapat tokoh perjuangan dan perlawanan rakyat Klungkung terhadap kolonial, Ida I Dewa Agung Istri Kanya.

Istri Kanya adalah sosok pahlawan perempuan yang terkenal gigih dan mahir dalam ahli taktik peperangan. Ia mengangkat kerisnya dalam medan perang sebagai bentuk melindungi diri dan kekuasaan yang direnggut.

Hal tersebutlah yang digunakan untuk meyakini tetua bahwa wanita tidak hanya berkarakter lemah lembut dan anggun tapi terdapat karakter berani, tegas, keras, kuat dan agung. Kesetaraan gender pun menjadi prinsip dalam tarian ini, bahwa wanita juga bisa mengangkat kerisnya sebagai bentuk perlawanan dan untuk melindungi dirinya.

…

Tidak sampai disitu, masih banyak cobaan-cobaan demi terwujudnya karya seni ini, tarian ini berhasil dipelajari kurang lebih dua minggu, dimana setiap harinya ada suatu target yang harus dipenuhi, tidak hanya target dalam menghafalkan gerak tetapi target perancangan tata busana, dan tata rias rambut. Perlu menjelajahi banyak tempat yang cukup jauh untuk kelengkapan tata busana yang indah, tata rias rambut pun perlu beberapa kali mencoba agar serasi dengan tatanan busana.

Berkat bantuan dari segala pihak akhirnya dapat terealisasikan Tarian Jajar Pari ini. “Kami bukan orang yang berprofesi dalam tarian sakral, namun dengan ketulusan membuahkan karya dengan taksunya jika dijalankan dengan ikhlas,” kata Gusti Putu Dika Pratama.

Untuk menemukan unsur maskulin dalam Tarian Rejang Jajar Pari diperlukan terobosan baru dalam mengubah suatu hal tabu menjadi dobrakan yang bernilai tinggi, sehingga dipandang kuat secara batin maupun fisik.

Maskulin tak hanya berartikan seorang pria yang gagah berani, namun juga maskulin menggambarkan sosok wanita yang memiliki keberanian, keagungan, dan kecantikan. Cantik tidak hanya dalam rupa, namun cantik sifat dan watak yang berakal dan berbudi luhur serta memiliki etika dalam bersikap. [T]

Penulis:

Gusti Ayu Cempaka Dewi Maharani

I Gusti Ayu Saskya Kancana Devi

TENTANG PENULIS:

Gusti Ayu Cempaka Dewi Maharani dan I Gusti Ayu Saskya Kancana Devi adalah siswi SMA Negeri 1 Ubud yg memiliki minat dan bakat dalam tari dan tabuh. Tergabung dalam komunitas Seni Prami Prani, Banjar Taman Kelod. Kedua aktif dalam penciptaan karya baru produksi komunitas Seni Prami Prani seperti pentas pada Ubud Campuhan Budaya, Ubud Open Studio dan Bali Spirits. Mulai mencoba menulis artikel tentang kesenian setelah aktif mengikuti acara diskusi oleh Yayasan Janahita Mandala Ubud

Tags: kesenian baliseni tariTari Rejang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sinar Bintang yang Meredup dan Pelajaran di Baliknya

Next Post

Taman Bung Karno Dielu-elukan, Monumen Tri Yudha Sakti Ditinggalkan, Merana dan Kesepian

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Disobedience Day dan For Hati Baki, Ketika Keberanian Bertanya Menjadi Bentuk Cinta kepada Bali

by Agung Sudarsa
July 6, 2026
0
Disobedience Day dan For Hati Baki, Ketika Keberanian Bertanya Menjadi Bentuk Cinta kepada Bali

TIDAK semua bentuk ketidakpatuhan merupakan tindakan negatif. Dalam sejarah peradaban manusia, justru banyak perubahan besar lahir dari keberanian seseorang mengatakan...

Read moreDetails

Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

by Nur Inayah Yushar
July 6, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

BISA jadi akan muncul celetukan ‘kalo gak cocok sama gaji yah keluar saja, cari perguruan tinggi yang gajinya besar’. Celetukan...

Read moreDetails

Pentingnya Menggali Tradisi agar Tidak Mati

by Nyoman Mariyana
July 6, 2026
0
Pentingnya Menggali Tradisi agar Tidak Mati

Tradisi merupakan akar kehidupan suatu masyarakat. Ia bukan sekadar kumpulan kebiasaan yang diwariskan dari generasi ke generasi, melainkan fondasi yang...

Read moreDetails

Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata

by Agung Sudarsa
July 3, 2026
0
Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata

Sebuah Slide yang Mengusik Kesadaran TERKADANG, inspirasi lahir bukan dari buku tebal atau hasil penelitian yang rumit, melainkan dari sebuah...

Read moreDetails

Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan

by IM Gede Nesa Saputra
July 2, 2026
0
Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan

ETIKA lingkungan merupakan suatu perspektif moral yang menempatkan alam sebagai entitas yang memiliki nilai intrinsik, bukan sekadar objek eksploitasi untuk...

Read moreDetails

Lokalisme dalam Revitalisasi Cerita Rakyat Pedawa

by I Wayan Artika
July 2, 2026
0
Lokalisme dalam Revitalisasi Cerita Rakyat Pedawa

PERJALANAN nasib hidup dan mati cerita rakyat ditentukan oleh sikap pemiliknya. Cerita rakyat pun dengan beberapa alasan dikubur. Hal ini...

Read moreDetails

PKB dan SPMB, Drama yang Selalu Penuh Penonton

by I Wayan Yudana
July 1, 2026
0
PKB dan SPMB, Drama yang Selalu Penuh Penonton

MUSIM libur kenaikan kelas dan pascakelulusan sekolah di Bali selalu menghadirkan dua tontonan besar. Yang pertama, Pesta Kesenian Bali (PKB)....

Read moreDetails

Bali Under Attack —Ketika Ambisi Pembangunan Menggerus Alam, Budaya, dan Jiwa Pulau Dewata

by Agung Sudarsa
July 1, 2026
0
Bali Under Attack —Ketika Ambisi Pembangunan Menggerus Alam, Budaya, dan Jiwa Pulau Dewata

Bali Kembali Diserang, Kali Ini Tanpa Ledakan TANGGAL 12 Oktober 2002 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Bali....

Read moreDetails

Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise

by Iko Amadeus
June 30, 2026
0
Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise

HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat,...

Read moreDetails

Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan

by Wayan Gde Yudane
June 30, 2026
0
Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan

IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah...

Read moreDetails
Next Post
Taman Bung Karno Dielu-elukan, Monumen Tri Yudha Sakti Ditinggalkan, Merana dan Kesepian

Taman Bung Karno Dielu-elukan, Monumen Tri Yudha Sakti Ditinggalkan, Merana dan Kesepian

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Prakriti–Pustaka–Padma 2026: Meneguhkan Seni Kriya sebagai Ruang Dialog Lintas Budaya
Pameran

Prakriti–Pustaka–Padma 2026: Meneguhkan Seni Kriya sebagai Ruang Dialog Lintas Budaya

PAMERAN seni rupa bertajuk Prakriti–Pustaka–Padma 2026 di Museum ARMA, Ubud, menghadirkan ruang apresiasi yang kaya akan keberagaman medium, gagasan, dan...

by Nyoman Budarsana
July 7, 2026
Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

BAGAI pasukan di medan perang, petugas kebersihan dalam ajang Singaraja Literary Festival (SLF) 2026 tak membiarkan sepotong sampah pun tertinggal....

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
Disobedience Day dan For Hati Baki, Ketika Keberanian Bertanya Menjadi Bentuk Cinta kepada Bali
Esai

Disobedience Day dan For Hati Baki, Ketika Keberanian Bertanya Menjadi Bentuk Cinta kepada Bali

TIDAK semua bentuk ketidakpatuhan merupakan tindakan negatif. Dalam sejarah peradaban manusia, justru banyak perubahan besar lahir dari keberanian seseorang mengatakan...

by Agung Sudarsa
July 6, 2026
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK
Esai

Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

BISA jadi akan muncul celetukan ‘kalo gak cocok sama gaji yah keluar saja, cari perguruan tinggi yang gajinya besar’. Celetukan...

by Nur Inayah Yushar
July 6, 2026
Pentingnya Menggali Tradisi agar Tidak Mati
Esai

Pentingnya Menggali Tradisi agar Tidak Mati

Tradisi merupakan akar kehidupan suatu masyarakat. Ia bukan sekadar kumpulan kebiasaan yang diwariskan dari generasi ke generasi, melainkan fondasi yang...

by Nyoman Mariyana
July 6, 2026
Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”
Ulas Rupa

Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

SEPERTI sajian pada menu makan bergizi, yang ditimbang, ditakar, hingga diukur kepada siapa porsi makan ini layak dihidangkan. Kepada tubuh...

by Mahesa Putra
July 6, 2026
Perhelatan Perupa dan Penyair: Pekan Kedua Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”
Pameran

Perhelatan Perupa dan Penyair: Pekan Kedua Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

PALEMBANG pada 21 Juni 2026 memang sedang garang-garangnya, seolah tidak menyisakan kulit untuk bersantai dan dibelai lembut oleh kehadirannya. Asmaran...

by Adwan SA
July 6, 2026
Antara Sakral dan Profan: Nyongkolan di Persimpangan Budaya Sasak
Kritik Seni

Antara Sakral dan Profan: Nyongkolan di Persimpangan Budaya Sasak

BENTANG alam Lombok tidak hanya sajikan keindahan panorama geografis, juga hadirkan teater kebudayaan yang terus bergerak. Kebudayaan Sasak, inti dari...

by Arief Rahzen
July 6, 2026
Lomba Baca Puisi SLF 2026: Bukti Generasi Muda Bali Tetap Mencintai Sastra
Panggung

Lomba Baca Puisi SLF 2026: Bukti Generasi Muda Bali Tetap Mencintai Sastra

JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh...

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
Fingerboard, Lebih dari Sekadar Mainan Anak-Anak
Khas

Fingerboard, Lebih dari Sekadar Mainan Anak-Anak

UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan...

by Jaswanto
July 6, 2026
Tari Kontemporer “Perempuan di Sawah” Membuka Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Tari Kontemporer “Perempuan di Sawah” Membuka Singaraja Literary Festival 2026

PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti...

by Nyoman Budarsana
July 4, 2026
Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana
Khas

Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana

SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai...

by Komang Puja Savitri
July 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co