23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menelisik Unsur Maskulin dalam Rejang Jajar Pari

tatkala by tatkala
May 2, 2023
in Esai
Menelisik Unsur Maskulin dalam Rejang Jajar Pari

Tari Rejang Jajar Pari | Foto: Istimewa

Penulis: Gusti Ayu Cempaka Dewi Maharani dan I Gusti Ayu Saskya Kancana Devi

TARI REJANG JAJAR PARI terdiri dari dua suku kata yaitu jajar dan pari. Jajar memiliki arti berbaris yang sejajar dan Pari berarti padi. Jika diartikan dengan kata jajar pari adalah barisan padi yang menguning menandakan padi telah siap dipanen untuk keberlangsungan kehidupan dan kemakmuran.

Rejang Jajar Pari menggunakan gagasan ilmu padi, yang menyebutkan “semakin berisi semakin merunduk”. Hal tersebut bermakna sebuah norma, adab dan etika untuk tidak mengunggulkan ego namun lebih untuk merenungi kedalaman spiritual agar berguna bagi kehidupan di masyarakat.

…

Selain itu secara filosofi Tari Rejang Jajar Pari melambang dewi padi sebagai sumber kehidupan dan kemakmuran yang tertuang dalam karya seni. Melibatkan sosok wanita sebagai simbol predana yang merupakan sosok insan penting tempat bersemayam benih benih generasi baru. Generasi baru sebagai pemegang tongkat estafet segala macam pewarisan pengetahuan serta kebudayaan yang adi luhur.

Garapan Tari Rejang Jajar Pari menunjukan sisi lain dari seorang wanita sebagai sosok pahlawan yang memiliki unsur keberanian, keagungan, dan kecantikan. Kecantikan tidak hanya dipandang sebagai sebuah sensasi saja, namun juga sebagai ketajaman intelektual. Cantik tidak hanya dalam rupa, namun cantik sifat dan watak. Cantik yang feminine dan juga secara tidak langsung menjangkau nilai maskulin yang berani, tegas serta heroik.

Gerakan Rejang Jajar Pari menjunjung konsep gerakan rejang Karangasem. Diawali dengan adegan muspa sebagai wujud kesiapan diri. Rejang Jajar Pari ini pula menjunjung konsep Tri Angga yang diaplikasikan dengan gerakan tangan menyentuh kepala, dada, dan kedepan. Tak hanya itu terdapat gerakan tangan mengarah kebawah sebagai wujud penghormatan kepada ibu pertiwi. Dengan lantunan gambelan gong beri memberikan gerak pembuka lawang dan pengampigan selendang, gerakan tersebut diibaratkan sebagai gerak menetralisir hal yang bersifat negatif.

Gerakan berputar searah jarum jam menandakan siklus kehidupan atau perputaran kehidupan. Penghormatan pada ibu pertiwi juga adalah sebuah penerapan dari sifat maskulin untuk selalu ingat akan kemahaan seorang ibu. Menetralisir hal-hal negatif yang menjadi tanggung jawab sifat maskulin secara umum justru ditampilkan oleh seorang feminine (penari rejang).

Properti dan busana dalam tarian ini digarap berdasarkan nilai warisan yang melekat di ruang lingkup Banjar Taman Kelod, Ubud yaitu keris. Keris sebagai simbol kekuatan wanita serta keris berfungsi sebagai pelindung dan senjata. Selain itu keris juga sebagai lambang dari ketajaman yang juga disebut dengan lelandep (landep artinya tajam dalam Bahasa Bali). Tajam dalam budi dan pekerti. 

Pakaian Rejang Jajar Pari sendiri terinspirasi dari patung Ida Ratu Mas Melanting, dimana patung Ratu Melanting ini menggunakan konsep sisi maskulin wanita, mulai dari cara memakai kamen seperti bagaimana cara lelaki memakai kamen yang ujungnya berbentuk ‘kancut’ yang melambangkan pengandalian diri dan penghormatan kepada ibu pertiwi.

Tak hanya itu, busana dilengkapi dengan pemakaian seselet keris seperti layaknya seorang laki-laki. Dari sisi ini dalam rejang Jajar Pari sudah memasukkan elemen maskulin dalam tubuh feminine penari rejang. Dari segi instrumentalnya, gambelan rejang Jajar Pari hanya menggunakan setengah dari barungan gambelan Gong Kebyar. Kemudian ditambah dengan alat musik dari Korea yaitu Samulnori yang terdiri dari Bug dan Jing.

…

Terciptanya karya seni yang bernilai tinggi tentu tidak lah mudah, perlu proses yang panjang di dalamnya. Sama halnya ketika menciptakan Tari Rejang tercipta sebagai penyeimbang dari tari baris yang memang kedua tarian ini tercipta berpasangan dalam suatu upacara. Tari Rejang pada umumnya ditarikan dengan lemah lembut dan gemulai yang menonjolkan sisi kecantikan dan keanggunan seorang wanita.

Tapi dalam Rejang Jajar Pari ini ide yang tertuang adalah sisi lain seorang wanita dimana memiliki paras yang cantik namun memiliki karakter tegas, keras, dan kuat. Terlintaslah sebuah ide seorang wanita yang membawa keris, namun hal tersebut lah yang akan menjadi kontroversi.

Menurut Gusti Putu Dika Pratama sebagai konseptor, banyak tetua yang tidak menginginkan seorang wanita memegang keris, karena kodratnya yang memegang keris adalah laki-laki.  Setelah digali lagi terdapat tokoh perjuangan dan perlawanan rakyat Klungkung terhadap kolonial, Ida I Dewa Agung Istri Kanya.

Istri Kanya adalah sosok pahlawan perempuan yang terkenal gigih dan mahir dalam ahli taktik peperangan. Ia mengangkat kerisnya dalam medan perang sebagai bentuk melindungi diri dan kekuasaan yang direnggut.

Hal tersebutlah yang digunakan untuk meyakini tetua bahwa wanita tidak hanya berkarakter lemah lembut dan anggun tapi terdapat karakter berani, tegas, keras, kuat dan agung. Kesetaraan gender pun menjadi prinsip dalam tarian ini, bahwa wanita juga bisa mengangkat kerisnya sebagai bentuk perlawanan dan untuk melindungi dirinya.

…

Tidak sampai disitu, masih banyak cobaan-cobaan demi terwujudnya karya seni ini, tarian ini berhasil dipelajari kurang lebih dua minggu, dimana setiap harinya ada suatu target yang harus dipenuhi, tidak hanya target dalam menghafalkan gerak tetapi target perancangan tata busana, dan tata rias rambut. Perlu menjelajahi banyak tempat yang cukup jauh untuk kelengkapan tata busana yang indah, tata rias rambut pun perlu beberapa kali mencoba agar serasi dengan tatanan busana.

Berkat bantuan dari segala pihak akhirnya dapat terealisasikan Tarian Jajar Pari ini. “Kami bukan orang yang berprofesi dalam tarian sakral, namun dengan ketulusan membuahkan karya dengan taksunya jika dijalankan dengan ikhlas,” kata Gusti Putu Dika Pratama.

Untuk menemukan unsur maskulin dalam Tarian Rejang Jajar Pari diperlukan terobosan baru dalam mengubah suatu hal tabu menjadi dobrakan yang bernilai tinggi, sehingga dipandang kuat secara batin maupun fisik.

Maskulin tak hanya berartikan seorang pria yang gagah berani, namun juga maskulin menggambarkan sosok wanita yang memiliki keberanian, keagungan, dan kecantikan. Cantik tidak hanya dalam rupa, namun cantik sifat dan watak yang berakal dan berbudi luhur serta memiliki etika dalam bersikap. [T]

Penulis:

Gusti Ayu Cempaka Dewi Maharani

I Gusti Ayu Saskya Kancana Devi

TENTANG PENULIS:

Gusti Ayu Cempaka Dewi Maharani dan I Gusti Ayu Saskya Kancana Devi adalah siswi SMA Negeri 1 Ubud yg memiliki minat dan bakat dalam tari dan tabuh. Tergabung dalam komunitas Seni Prami Prani, Banjar Taman Kelod. Kedua aktif dalam penciptaan karya baru produksi komunitas Seni Prami Prani seperti pentas pada Ubud Campuhan Budaya, Ubud Open Studio dan Bali Spirits. Mulai mencoba menulis artikel tentang kesenian setelah aktif mengikuti acara diskusi oleh Yayasan Janahita Mandala Ubud

Tags: kesenian baliseni tariTari Rejang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sinar Bintang yang Meredup dan Pelajaran di Baliknya

Next Post

Taman Bung Karno Dielu-elukan, Monumen Tri Yudha Sakti Ditinggalkan, Merana dan Kesepian

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Taman Bung Karno Dielu-elukan, Monumen Tri Yudha Sakti Ditinggalkan, Merana dan Kesepian

Taman Bung Karno Dielu-elukan, Monumen Tri Yudha Sakti Ditinggalkan, Merana dan Kesepian

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co