2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Darah Memerah di Catuspata | Cerpen IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten by IBW Widiasa Keniten
April 28, 2024
in Cerpen
Darah Memerah di Catuspata | Cerpen IBW Widiasa Keniten

Ilustrasi tatkala.co

HARI itu, 28 April, Gede Wijaya duduk mematung di pinggiran Catuspata Semarapura. Di Catuspata, berdiri kokoh patung nyama catur, Anggapati, Mrajapati, Banaspati, dan Banaspatiraja. Empat kekuatan alam yang seakan menjaga kota Semarapura itu dari timur, selatan, barat, dan utara.

Kebetulan, hari itu tidaklah terlalu ramai. Hanya beberapa mobil dan sepeda motor menuju pasar Semarapura membawa dagangan. Satu dokar masih setia menemani kota Semarapura dengan irama gemerincingnya. Transportasi tanpa polusi ini telah terberangus oleh kemajuan tekanologi. Satu dokkar itu sebagai pencatat bahwa di kota Semarapura pernah ada transportasi yang mencintai lingkungan.

Mata Gede Wijaya seakan tak pernah diam. Ia perhatikan taman Kertagosa yang sudah menjadi objek wisata. Taman itu tepat berada di samping Catuspata seakan sebagai penguat bahwa Catuspata itu sakral. Ia merasakan Catuspata itu membagi kota Semarapura menjadi empat, yang membangun keseimbangan semesta.

Ia alihkan matanya ke utara. Ia lihat bangunan berbentuk lingga. Ia pernah memasuki bangunan itu di dalamnya ada relief perjalanan Semarapura. Di sebelah timur, bangunan pertokoan, ada yang masih menyisakan ukiran khas Bali, ada juga yang tak terlihat lagi nuansa kebaliannya.

Tiba-tiba, Gede Wijaya merasa merinding. Ketakutan merasuki jiwanya. Ia melihat lautan darah di Catuspata itu. Matanya dikucek-kuceknya. Hatinya terseret dalam ketakutan teramat sangat. Ia mau menjerit, tapi takut. Takut karena hanya ia saja yang melihatnya.

Orang-orang lain masih terlihat nyaman lalu lalang di sana. Tubuhnya berkeringat. Ia mengelap tubuhnya. “Ini darah siapa?” tanyanya. “Apa darah ini, darah kesatria yang gugur saat Puputan Klungkung? Atau ini hanya ilusi saja?”

Istrinya yang berada tidak terlalu jauh dipanggilnya. “Tu, apa yang kau lihat di Catuspata itu?”

“Bli ini gimana? Memangnya saya ini tidak waras. Ia jelas empat patung nyama catur yang menjaga keseimbangan Semarapura. Memangnya kenapa?”

“Oh, ndak. Bli juga melihatnya seperti itu.” Gede Wijaya menyembunyikan mata hatinya.  “Ayo kita pergi dari sini. Kita ke sana saja ke lapangan Puputan. Kita olahraga ringan saja di sana.”

Istrinya semakin tidak mengerti dengan perubahan suaminya. “Katanya mau menikmati Catuspata. Kenapa tiba-tiba berubah?”

“Ya, sudah cukup. Nanti Bli lanjutkan.”

Selama dalam perjalanan, ia mendengar teriakan, “Puputaaaaaaaaaaaaaaaaaaan! Puputaaaaaaaaaaaaaaaaan!” Irama kekawin Bharatayuddha tergiang-ngiang di telinganya, Sang Shura mrihayadnya ring samara mahyun manghilangaken ikang parang mukha….” Suara tembakan  terasa menembak jantungnya. Ia dekap jantungnya. Getarannya masih ada.

Jeritan dan bau amis darah seperti mengikuti langkahnya. Peluhnya semakin merembes saja. Istrinya mengira bahwa itu sebagai dampak dari jalan kaki dari Catuspata ke lapangan Puputan. Ia bersama istrinya mengitari lapangan Puputan beberapa kali.

“Gimana Bli, apa lagi ke Catuspata?”

Ia pegang tangan istrinya. Ia susuri trotoar. Ia lihat di samping Kertagosa, Pemedal Agung sebagai saksi sejarah Puri Semarapura. Hatinya semakin bergetar melihat bangunan tua itu menyimpan sejarah Semarapura.  Kembali, ia menatap Catuspata. Kembali matanya melihat lautan darah.

Ia bertanya-tanya dalam hati,”Ada apa sebenarnya hari ini?”  Ia berusaha menenangkan hatinya. Ia minum air putih dalam beberapa tegukan. Ia ingin memastikan kebenaran matanya. Ia lawan kata hatinya. Ia kelilingi Catuspata itu tiga, murwadaksina. Ia merasakan jeritan-jeritan puputan menggema di sana.

“Di sinilah darah kami tumpah demi tanah tercinta ini. Ratusan jiwa membela bumi ini demi sebuah harga diri. Di bawah kakimu itu ada darah memerah yang masih basah. Lihatlah telapak kakimu.” Gede Wijaya mengangkat kakinya. Ia perhatikan telapak kakinya. Tak ada tetesan darah. Tak ada yang kurang dengan telapak kakinya.

Canang sekar yang masih mengharumi Catuspata menusuk hidungnya. Ia hirup keharuman itu hingga menyusuri pori-pori tubuhnya. Ia sedikit merasakan ketenangan. Orang-orang menuju pasar Semarapura semakin ramai saja.

“Bli di sini dulu. Tiang mau ke tengah pasar sebentar.” Istrinya meninggalkan dirinya di Catuspata. Setelah hitungan ketiga kali, ia menepi. Diperhatikanlah patung nyama catur dari atas sampai ke bawah. Ia rasakan getaran sampai ke tubuhnya. Ia rasakan nyama catur itu memasuki tubuhnya.

“Sering-seringlah ke sini. Aku adalah saudaramu. Itu saudaramu telah mengorbankan jiwanya demi tanah tercintanya. Kau sendiri apa sudah diperbuat? Apa tidak malu dengan saudaramu yang jiwanya dibaktikan pada bumi ini? Ini demi cintanya pada Semarapura. Kau sudah diberikan kemudahan dengan segala pelayanan. Apa yang sudah kau berikan? Kau hanya menggerogti tanah kelahiranmu saja.”

Gede Wijaya mau menjerit. Syukur titik kesadarannya masih ada. Ia kendalikan hatinya. Ia merasa selama ini tak pernah memberikan sesuatu pada tanah kelahirannya. Ia merasa bersalah. Di usia yang sudah seperti dirinya dengan istri yang setia menemaninya, tak pernah memberikan apapun pada tanah kelahirannya. “Apa itu yang menyebabkan ia seperti melihat darah memerah di Catuspata?”

Ia langkahkan kakinya mau menyusul istrinya. Tapi, hatinya tersedot untuk tetap berdiri di Catuspata. Ada sepasang mata yang memerhatikannya sedari awal. Ia dekati Gede Wijaya. “Pak Gede ada apa. kok dari tadi terus di Catuspata?”

“Oh, ndak. Hanya ingin mengelilinginya saja.”

“Tapi, Pak  Gede sedari pagi di sini? Itu matahari sudah meninggi.”

Gede Wijaya tak menjawab. Ia tatap wajah laki-laki itu. Semakin ditatap semakin memudar. Gede Wijaya mengucek-ngucek matanya. Ia tadi berbicara dengan siapa? Ia langkahkan kakinya mau meninggalkan Catuspata, tapi setiap melangkah telinganya mendengar terikan, “Puputaaaaaaaaaaaaaaaaaaaan! Puputaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaan! Puputaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaan!” [T]

Yogyakarta, 23 April 2024

KLIK untuk BACA cerpen lain

Mors Vincit Omnia | Cerpen Kiki Sulistyo
Tukang Sulap dan Bocah Pemain Biola | Cerpen Hasan Aspahani
Sedihku Berakhir di Verona | Cerpen Putu Arya Nugraha
Maksan dan Moncong Senapan Belanda | Cerpen Helmy Khan
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Festival The (Famous) Squatting Dance: Merayakan Marya—Usaha Merawat Ingatan tentang sang Maestro

Next Post

Belajar dari Natalia, Perempuan yang Hobi Donor Darah

IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten

Ida Bagus Wayan Widiasa Keniten lahir di Geria Gelumpang, Karangasem. 20 Januari 1967. Buku-buku yang sudah ditulisnya berupa karya sastra maupun kajian sastra. Pemenang Pertama Guru Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2013 dan Penerima Tanda Kehormatan Satyalancana Pendidikan Tahun 2013 dari Presiden, Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu, 27 November 2013 di Istora Senayan Jakarta. Tahun 2014 ikut Program Kunjungan (Benchmarking) ke Jerman, selanjutnya ke Paris (Prancis), Belgia, dan Amsterdam (Belanda). 2014 menerima penghargaan Widya Kusuma dari Gubernur Bali. Tahun 2015 memeroleh Widya Pataka atas bukunya Jro Lalung Ngutah.

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Belajar dari Natalia, Perempuan yang Hobi Donor Darah

Belajar dari Natalia, Perempuan yang Hobi Donor Darah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co