14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Darah Memerah di Catuspata | Cerpen IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten by IBW Widiasa Keniten
April 28, 2024
in Cerpen
Darah Memerah di Catuspata | Cerpen IBW Widiasa Keniten

Ilustrasi tatkala.co

HARI itu, 28 April, Gede Wijaya duduk mematung di pinggiran Catuspata Semarapura. Di Catuspata, berdiri kokoh patung nyama catur, Anggapati, Mrajapati, Banaspati, dan Banaspatiraja. Empat kekuatan alam yang seakan menjaga kota Semarapura itu dari timur, selatan, barat, dan utara.

Kebetulan, hari itu tidaklah terlalu ramai. Hanya beberapa mobil dan sepeda motor menuju pasar Semarapura membawa dagangan. Satu dokar masih setia menemani kota Semarapura dengan irama gemerincingnya. Transportasi tanpa polusi ini telah terberangus oleh kemajuan tekanologi. Satu dokkar itu sebagai pencatat bahwa di kota Semarapura pernah ada transportasi yang mencintai lingkungan.

Mata Gede Wijaya seakan tak pernah diam. Ia perhatikan taman Kertagosa yang sudah menjadi objek wisata. Taman itu tepat berada di samping Catuspata seakan sebagai penguat bahwa Catuspata itu sakral. Ia merasakan Catuspata itu membagi kota Semarapura menjadi empat, yang membangun keseimbangan semesta.

Ia alihkan matanya ke utara. Ia lihat bangunan berbentuk lingga. Ia pernah memasuki bangunan itu di dalamnya ada relief perjalanan Semarapura. Di sebelah timur, bangunan pertokoan, ada yang masih menyisakan ukiran khas Bali, ada juga yang tak terlihat lagi nuansa kebaliannya.

Tiba-tiba, Gede Wijaya merasa merinding. Ketakutan merasuki jiwanya. Ia melihat lautan darah di Catuspata itu. Matanya dikucek-kuceknya. Hatinya terseret dalam ketakutan teramat sangat. Ia mau menjerit, tapi takut. Takut karena hanya ia saja yang melihatnya.

Orang-orang lain masih terlihat nyaman lalu lalang di sana. Tubuhnya berkeringat. Ia mengelap tubuhnya. “Ini darah siapa?” tanyanya. “Apa darah ini, darah kesatria yang gugur saat Puputan Klungkung? Atau ini hanya ilusi saja?”

Istrinya yang berada tidak terlalu jauh dipanggilnya. “Tu, apa yang kau lihat di Catuspata itu?”

“Bli ini gimana? Memangnya saya ini tidak waras. Ia jelas empat patung nyama catur yang menjaga keseimbangan Semarapura. Memangnya kenapa?”

“Oh, ndak. Bli juga melihatnya seperti itu.” Gede Wijaya menyembunyikan mata hatinya.  “Ayo kita pergi dari sini. Kita ke sana saja ke lapangan Puputan. Kita olahraga ringan saja di sana.”

Istrinya semakin tidak mengerti dengan perubahan suaminya. “Katanya mau menikmati Catuspata. Kenapa tiba-tiba berubah?”

“Ya, sudah cukup. Nanti Bli lanjutkan.”

Selama dalam perjalanan, ia mendengar teriakan, “Puputaaaaaaaaaaaaaaaaaaan! Puputaaaaaaaaaaaaaaaaan!” Irama kekawin Bharatayuddha tergiang-ngiang di telinganya, Sang Shura mrihayadnya ring samara mahyun manghilangaken ikang parang mukha….” Suara tembakan  terasa menembak jantungnya. Ia dekap jantungnya. Getarannya masih ada.

Jeritan dan bau amis darah seperti mengikuti langkahnya. Peluhnya semakin merembes saja. Istrinya mengira bahwa itu sebagai dampak dari jalan kaki dari Catuspata ke lapangan Puputan. Ia bersama istrinya mengitari lapangan Puputan beberapa kali.

“Gimana Bli, apa lagi ke Catuspata?”

Ia pegang tangan istrinya. Ia susuri trotoar. Ia lihat di samping Kertagosa, Pemedal Agung sebagai saksi sejarah Puri Semarapura. Hatinya semakin bergetar melihat bangunan tua itu menyimpan sejarah Semarapura.  Kembali, ia menatap Catuspata. Kembali matanya melihat lautan darah.

Ia bertanya-tanya dalam hati,”Ada apa sebenarnya hari ini?”  Ia berusaha menenangkan hatinya. Ia minum air putih dalam beberapa tegukan. Ia ingin memastikan kebenaran matanya. Ia lawan kata hatinya. Ia kelilingi Catuspata itu tiga, murwadaksina. Ia merasakan jeritan-jeritan puputan menggema di sana.

“Di sinilah darah kami tumpah demi tanah tercinta ini. Ratusan jiwa membela bumi ini demi sebuah harga diri. Di bawah kakimu itu ada darah memerah yang masih basah. Lihatlah telapak kakimu.” Gede Wijaya mengangkat kakinya. Ia perhatikan telapak kakinya. Tak ada tetesan darah. Tak ada yang kurang dengan telapak kakinya.

Canang sekar yang masih mengharumi Catuspata menusuk hidungnya. Ia hirup keharuman itu hingga menyusuri pori-pori tubuhnya. Ia sedikit merasakan ketenangan. Orang-orang menuju pasar Semarapura semakin ramai saja.

“Bli di sini dulu. Tiang mau ke tengah pasar sebentar.” Istrinya meninggalkan dirinya di Catuspata. Setelah hitungan ketiga kali, ia menepi. Diperhatikanlah patung nyama catur dari atas sampai ke bawah. Ia rasakan getaran sampai ke tubuhnya. Ia rasakan nyama catur itu memasuki tubuhnya.

“Sering-seringlah ke sini. Aku adalah saudaramu. Itu saudaramu telah mengorbankan jiwanya demi tanah tercintanya. Kau sendiri apa sudah diperbuat? Apa tidak malu dengan saudaramu yang jiwanya dibaktikan pada bumi ini? Ini demi cintanya pada Semarapura. Kau sudah diberikan kemudahan dengan segala pelayanan. Apa yang sudah kau berikan? Kau hanya menggerogti tanah kelahiranmu saja.”

Gede Wijaya mau menjerit. Syukur titik kesadarannya masih ada. Ia kendalikan hatinya. Ia merasa selama ini tak pernah memberikan sesuatu pada tanah kelahirannya. Ia merasa bersalah. Di usia yang sudah seperti dirinya dengan istri yang setia menemaninya, tak pernah memberikan apapun pada tanah kelahirannya. “Apa itu yang menyebabkan ia seperti melihat darah memerah di Catuspata?”

Ia langkahkan kakinya mau menyusul istrinya. Tapi, hatinya tersedot untuk tetap berdiri di Catuspata. Ada sepasang mata yang memerhatikannya sedari awal. Ia dekati Gede Wijaya. “Pak Gede ada apa. kok dari tadi terus di Catuspata?”

“Oh, ndak. Hanya ingin mengelilinginya saja.”

“Tapi, Pak  Gede sedari pagi di sini? Itu matahari sudah meninggi.”

Gede Wijaya tak menjawab. Ia tatap wajah laki-laki itu. Semakin ditatap semakin memudar. Gede Wijaya mengucek-ngucek matanya. Ia tadi berbicara dengan siapa? Ia langkahkan kakinya mau meninggalkan Catuspata, tapi setiap melangkah telinganya mendengar terikan, “Puputaaaaaaaaaaaaaaaaaaaan! Puputaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaan! Puputaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaan!” [T]

Yogyakarta, 23 April 2024

KLIK untuk BACA cerpen lain

Mors Vincit Omnia | Cerpen Kiki Sulistyo
Tukang Sulap dan Bocah Pemain Biola | Cerpen Hasan Aspahani
Sedihku Berakhir di Verona | Cerpen Putu Arya Nugraha
Maksan dan Moncong Senapan Belanda | Cerpen Helmy Khan
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Festival The (Famous) Squatting Dance: Merayakan Marya—Usaha Merawat Ingatan tentang sang Maestro

Next Post

Belajar dari Natalia, Perempuan yang Hobi Donor Darah

IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten

Ida Bagus Wayan Widiasa Keniten lahir di Geria Gelumpang, Karangasem. 20 Januari 1967. Buku-buku yang sudah ditulisnya berupa karya sastra maupun kajian sastra. Pemenang Pertama Guru Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2013 dan Penerima Tanda Kehormatan Satyalancana Pendidikan Tahun 2013 dari Presiden, Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu, 27 November 2013 di Istora Senayan Jakarta. Tahun 2014 ikut Program Kunjungan (Benchmarking) ke Jerman, selanjutnya ke Paris (Prancis), Belgia, dan Amsterdam (Belanda). 2014 menerima penghargaan Widya Kusuma dari Gubernur Bali. Tahun 2015 memeroleh Widya Pataka atas bukunya Jro Lalung Ngutah.

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post
Belajar dari Natalia, Perempuan yang Hobi Donor Darah

Belajar dari Natalia, Perempuan yang Hobi Donor Darah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co