3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Fenomena Bawa Mayat ke Setra dengan Mobil Terbuka di Nusa Penida

I Ketut Serawan by I Ketut Serawan
December 21, 2024
in Esai
Fenomena Bawa Mayat ke Setra dengan Mobil Terbuka di Nusa Penida

Mayat diantar ke setra dengan mengguankan mobil di Desa Adat Senibunis, Nusa Penida | Foto: Serawan

SETELAH diritualkan (dikafani), mayat biasanya langsung ditegen (diusung) menuju setra untuk dikuburkan. Sementara, anggota keluarga beserta krama lainnya berbondong-bondong (jalan kaki) mengikuti dari belakang—dengan langkah terburu-buru seperti hendak mengejar maling. Namun, pemandangan ini tidak terlihat waktu penguburan Men Dame (bibi saya) pada tanggal 2 Agustus 2024 lalu. Jenazahnya dibawa menggunakan mobil pick up terbuka menuju setra atau kuburan.

Fenomena ini terjadi Pulau Nuda Penida, tepatnya di Desa Adat Sebunibus, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali. Krama Desa Adat Sebunibus  tidak mengusung jenazah dengan cara ditegen, tetapi menempatkannya di atas mobil terbuka. Kemudian, pihak keluarga dan beberapa krama lainnya duduk sambil menjaga kondisi jasad agar tidak terpeleset ke bawah. Sisanya, berdiri berpegangan pada pagar pembatas mobil. Sementara, krama yang tidak dapat jatah di mobil mengikuti beramai-ramai dengan sepeda motor dari belakang, mirip orang berkonvoi.

Fenomena mengusung mayat dengan mobil terbuka ke setra inidiperkirakan ada sejak tahun 2019 di Desa Adat Sebunibus. Kira-kira apa yang memicu munculnya fenomena baru tersebut? Adakah korelasinya dengan perkembangan pariwisata yang melejit per tahun 2017-2018 di Nusa Penida? Atau jangan-jangan ini memang sikap visioner krama Desa Adat Sebunibus dalam merespon dinamika (perkembangan) zaman?

Sebagai awalan, coba kita telusuri dulu beberapa faktor elementer yang menjadi pemicunya. Yang pertama ialah faktor jarak. Perlu diketahui bahwa tidak semua krama Desa Adat Sebunibus memilih opsi membawa jenazah (ke kuburan) dengan mobil terbuka. Hanya krama yang tinggal di area “demelan” (ngubu). Krama yang tinggal agak jauh dari jumah desa atau pusat desa adat. Jarak untuk mencapai setra-nya kurang lebih 1 kilometer.

Kedua, faktor lintasan. Kebetulan, rute dari lokasi demelan ke setra Desa Adat Sebunibus melintasi jalan utama yang menghubungkan lokasi Desa Adat Sebunibus dengan wilayah lainnya seperti Desa Adat Sakti, Desa Adat Klumpu, Kampung Toya Pakeh dan lain sebagainya. Lintasan jalan utama itu tergolong cukup panjang (kurang lebih 1 kilometer). Hal ini tentu menjadi pertimbangan serius bagi krama Desa Adat Sebunibus (demelan) ketika mengusung mayat ke setra karena memengaruhi arus lalu lintas di jalan utama.

Kedua faktor dasar inilah yang memberikan tantangan tersendiri bagi krama Desa Adat Sebunibus  (demelan) hingga  memunculkan ide membawa mayat ke setra dengan mobil terbuka. Namun demikian, tidak semua krama demelan menerima ide tersebut. Hingga kini (selama 5 tahun berjalan), ada beberapa krama demelan belum dapat menerima keputusan tersebut. Mereka menolak jasad keluarganya dibawa menggunakan mobil terbuka.

Kelompok yang kontra berpandangan bahwa membawa mayat dengan mobil terbuka dianggap kurang etis. Kurang manusiawi. Pasalnya, sebelum dikubur mayat sudah mengalami prosesi ritual dan mendapatkan penghormatan dari pihak keluarga. Semestinya, jasad itu mendapatkan perlakuan terhormat. Karena itu, kelompok kontra tetap menginginkan jasad ditegen dengan model konvensional.

Mayat diusung ke setra dengan mobil | Foto: Serawan

Tampaknya, kontroversi ini sudah diprediksi oleh krama Desa Adat Sebunibus (demelan). Karena itu, membawa mayat dengan mobil terbuka bukan keputusan wajib melainkan sebuah opsi. Jadi, semua tergantung pada krama itu sendiri. Apakah dibawa dengan mobil terbuka atau ditegen? Pilihan ada di pihak keluarga yang berduka.

Sebagai permulaan, ide membawa mayat dengan mobil terbuka memang wajar mengalami kontroversi. Mungkin mirip dengan kasus mundut sesuhunan menggunakan mobil terbuka saat melasti ke laut (dulu). Awalnya, mendapat penolakan dari beberapa krama Desa Adat Sebunibus. Seiring perjalanan waktu, power penolakan itu pun perlahan-lahan meredup. Ujung-ujungnya, krama Desa Adat Sebunibus menerima sesuhunan-nya memargi dengan menggunakan mobil terbuka.

Begitu juga dengan kasus membawa jasad ke setra dengan mobil terbuka. Pelan-pelan tampaknya akan diterima oleh krama Desa Adat Sebunibus. Di samping praktis, juga hemat tenaga dan efektif. Inilah faktor lain yang mendorong beberapa krama (demelan) memilih opsi tersebut.

Dalam konteks sekarang, opsi dengan mobil terbuka tentu lebih populer. Relevan dengan karakter dan kebutuhan masyarakat modern yang tidak suka ribet. Masyarakat sekarang pasti lebih menginginkan cara-cara yang praktis, cepat dan ekonomis. Begitu juga dengan krama Desa Adat Sebunibus demelan. Apakah hal ini menandakan bahwa krama Desa Adat Sebunibus demelan terlalu berjiwa praktis?

Penurunan ego adat, respon cepat, dan toleransi

Ide membawa mayat dengan mobil terbuka memang tidak bisa dilepaskan dari sikap praktis krama Desa Adat Sebunibus. Namun, kepraktisan itu hanya menjadi pintu masuknya aspek “penurunan ego adat”. Aspek ini begitu urgen dan memberikan efek besar bagi masyarakat umum.

Ego adat yang dimaksud ialah ego dalam memanfaatkan jalan raya (umum). Biasanya, aktivitas adat lebih sering memanfaatkan badan jalan secara berlebihan. Di beberapa tempat, seringkali kita jumpai krama desa adat menggunakan badan jalan umum secara total. Hampir semua jalan dipenuhi. Seolah-olah jalan umum menjadi milik krama adat. Padahal, jalan umum milik krama dan semua orang di luar krama adat.

Dampak dari ego adat itulah yang menyebabkan laju lalu lintas menjadi lambat. Jalanan menjadi macet. Mungkin, inilah yang mendorong krama Desa Adat Sebunibus (demelan) memunculkan ide penguburan dengan menggunakan mobil terbuka. Apalagi kemacetan (sekarang) sudah menjadi pemandangan sehari-hari di Nusa Penida.

Semenjak pariwisata bertumbuh di Nusa Penida (dimulai sekitar tahun 2017-2018), kasus macet menjadi pemandangan jalanan hampir setiap hari. Di samping karena keberadaan kendaraan yang terus mengalami peningkatan, ukuran jalan juga terlalu sempit.

Karena itu, krama Desa Adat Sebunibus tidak mau lagi menambah kemacetan di Nusa Penida dengan aktivitas adat. Sebaliknya, krama Desa Adat Sebunibus ikut berpartisipasi aktif mencari solusi untuk meminimalisasikan kasus kamacetan di Nusa Penida.

Coba bayangkan, jika menggunakan model penguburan konvensional. Mayat di-tegen, diiringi krama—maka monopoli jalan sulit dihindari. Efeknya, lalu lintas menjadi lebih lambat. Waktu kemacetan juga menjadi lebih lama.

Setiap orang pasti tidak menginginkan kemacetan. Terlebih lagi, di daerah tujuan wisata seperti Nusa Penida. Kemacetan akan merugikan pengguna jalan umum dan terutama pelaku pariwisata di Nusa Penida. Yang paling merasakan di lapangan ialah para driver (sopir yang membawa tamu), ketika perjalanan menjemput (di pelabuhan) dan mengantar tamu (ke objek wisata). Begitu juga saat mengantar tamu kembali ke pelabuhan.

Bagi para driver, kemacetan menjadi biang ketidaktepatan waktu yang serius. Pasalnya, kebanyakan para driver di Nusa Penida membawa tamu yang half atau one day trip. Para tamu mengelilingi objek wisata hanya setengah atau satu hari. Kemudian, hari itu juga mereka harus kembali ke Bali seberang. Untuk memenuhi jadwal tour tamu tersebut, para sopir seperti diburu waktu.

Para sopir harus membawa tamu keliling dalam waktu setengah atau satu hari di Nusa Penida. Hari itu juga, mereka harus mengantar tamu kembali ke pelabuhan untuk menyeberang ke Bali seberang. Kondisi inilah yang memicu para sopir menjadi raja jalanan. Mereka dipaksa harus memenuhi rute dengan waktu yang sudah ditetapkan. Sementara, bayang-bayang kemacetan sulit mereka hindari.

Akhirnya, para sopir menyetir mobil dengan ekspektasinya sendiri. Mereka menjadi tergesa-gesa, ngebut di jalanan sempit hingga mengambil badan jalan arah lawan. Kondisi inilah yang sering memicu lakalantas di Nusa Penida.   

Di samping sebagai bentuk “penurunan ego adat”, penguburan dengan memanfaatkan mobil terbuka juga merupakan wujud respon adat yang cepat. Hanya berselang satu tahun pasca pariwisata melejit di Nusa Penida, krama Desa Adat Sebunibus sudah mampu merespon dinamikanya. Buktinya, muncul perubahan pola penguburan adat yang semula ditegen menjadi menggunakan mobil terbuka.

Kecepatan respon ini mungkin dipengaruhi oleh pola pikir dasar masyarakat Desa Adat Sebunibus yang terbuka, adaptif, dinamis dan modern. Mungkin, mindset ini dibangun dari jiwa-jiwa perantauan krama Desa Adat Sebunibus. Generasi kelahiran (mulai) tahun 70-an ke atas dari krama Desa Adat Sebunibus tergolong generasi perantauan. Jiwa rantauan ini setidaknya memengaruhi fleksibilitas mereka dalam berpikir, merespon dan mengambil keputusan.

Jika dilihat dari aspek historisnya, fleksibilitas itu mungkin sudah dilatih sejak Nusa Penida dipolitisasi menjadi pulau pembuangan zaman dulu (kerajaan). Efek samping misi pembuangan ini ialah menjadikan masyarakat Nusa Penida membangun standar diri ala Bali seberang. Artinya, fleksibilitas berpikir itu sudah ada sejak lama pada masyarakat Nusa Penida, termasuk dari krama Desa Adat Sebunibus.

Krama adat mengantar mayat ke setra juga dengan menggunakan sepeda motor | Foto: Serawan

Jadi, tidak mengherankan jika krama Desa Adat Sebunibus begitu cepat dalam merespon dinamika zaman. Apalagi (sekarang), dikuatkan lagi dengan dominasi pejabat strategis Desa Adat Sebunibus dari kalangan milenial. Rata-rata pejabat Desa Adat Sebunibus berumur kisaran 30 hingga 40-an tahun. Bendesanya saja masih berumur 40-an. Bisa jadi, pola pikir pejabat muda ini setidaknya memengaruhi kecepatan adaptasi adat dalam merespon modernisasi.

Selain penurunan ego adat dan sikap responsif krama, kita juga menjumpai sikap “toleransi adat” dalam kasus ini.  Membawa mayat dengan mobil terbuka adalah sikap betapa krama Desa Adat Sebunibus mengedepankan toleransi kolektif. Sikap yang penting untuk menjaga adat dapat hidup berdampingan dengan modernisasi.

Selama pariwisata bertahta di Nusa Penida, toleransi adat krama Desa Adat Sebunibus akan terus mengalami ujian. Artinya, ada peluang munculnya fenomena-fenomena baru ke depan entah seperti apa wujudnya. Hal ini wajar-wajar saja sepanjang tidak menggerus dan mengeksploitasi substansi nilai-nilai adat krama Desa Adat Sebunibus. [T]

  • BACA artikel-artikel menarik tentang Nusa Penida dari penulis KETUT SERAWAN
Mengenang 13 Tahun “Tragedi Sebelas” [1]: Nusa Penida Kehilangan Seniman Ngaji Bersaudara Asal Sebunibus
Galungan di Nusa Penida, Ceritamu Dulu: Tren TKW dan Dagelan “Nyen Kal Ganti”
Tradisi “Niwakang” di Nusa Penida, Bonus Laut dan Perspektif Global
Tags: baliNusa Penidaritualupacara hindu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Renungan Natal: Membunuh Tuhan dengan Algoritma

Next Post

Modernitas Logika dalam Perspektif Pendidikan

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan, S.Pd. adalah guru bahasa dan sastra Indonesia di SMP Cipta Dharma Denpasar. Lahir pada tanggal 15 April 1979 di Desa Sakti, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Pendidikan SD dan SMP di Nusa Penida., sedangkan SMA di Semarapura (SMAN 1 Semarapura, tamat tahun 1998). Kemudian, melanjutkan kuliah ke STIKP Singaraja jurusan Prodi Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah (selesai tahun 2003). Saat ini tinggal di Batubulan, Gianyar

Related Posts

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails
Next Post
Modernitas Logika dalam Perspektif Pendidikan

Modernitas Logika dalam Perspektif Pendidikan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co