2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Modernitas Logika dalam Perspektif Pendidikan

Vito Prasetyo by Vito Prasetyo
December 21, 2024
in Esai
Modernitas Logika dalam Perspektif Pendidikan

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy | Diolah dari Canva

APAKAH dunia telah memunculkan peradaban baru, hingga kehidupan  seolah-olah seperti revolusi logika yang tidak  lagi meniscayakan norma-norma sosial? Atau karena rasionalitas pikiran manusia yang menganggap buah pikirannya seolah-olah sebuah dalil kebenaran seperti kehendak Tuhan (Allah)? Ini tentu sangat stereotip. Ingat, salah satu keburukan sifat manusia adalah apa yang dipikirkannya seolah-olah sudah seperti kehendak Allah.

Munculnya gagasan lingkungan yang dalam konsepsi kini dianggap sebuah perubahan gejala-gejala yang berhubungan dengan klimatologi mengakibatkan struktur dan tekstur kehidupan berada pada persinggungan nilai-nilai kebudayaan. Kita sering terjebak dengan gejala-gejala sosial yang muncul, tetapi kita lupa menganalisis akar permasalahannya. Sejauh ini, pemikiran yang dianggap ruang dinamis untuk menerjemahkan peristiwa-peristiwa sosial acapkali tergiring oleh situasi visual yang justru membantah rasionalitas teori. Adanya antitesis terhadap fenomena yang terjadi, seringkali mengedepankan pikiran-pikiran moderat dan dianggap lebih pas dengan tantangan yang dihadapi.

 Benarkah munculnya gejala-gejala paranoid yang melegitimasi kekuatan superioritas manusia, bahkan acapkali cenderung pada hal-hal yang bersifat mitos? Dalam perspektif keilmuan, makin majunya ilmu pengetahuan dan teknologi, dimensi visual seakan telah menjelma seperti wajah absurd yang mampu memanipulasi sudut pandang manusia, dan menganggap itulah jawabannya. Dunia menjadi apokaliptik, akibat transisi dan transformasi peradaban sebagai sebuah konsepsi dari revolusi logika!

Beberapa tahun terakhir ini, kita senantiasa dihadapkan pada informasi-informasi fenomena alam yang saling tumpang tindih dengan tumbuh pesatnya perkembangan ilmu dan teknologi. Fenomena yang menggambarkan kerusakan dan bencana hingga menghantui logika hidup manusia. Mulai serangan pandemi, badai angin dan hujan, gelombang badai matahari, dan lain sebagainya. Hingga memaksa manusia untuk mencari pelbagai cara yang berfokus pada perlindungan dan keselamatan, bukan mencari cara untuk mencegahnya. Kondisi yang bisa membuat manusia berada pada tekanan-tekanan sosial. Juga munculnya fenomena alam yang berdampak pada penurunan kualitas psikologis manusia, seperti adanya distopia, dan sejenisnya.

Dalam terminologi logika, ada yang mendefinisikan logika sebagai sarana untuk berpikir dengan sistematis, tertaut, terarah dan valid. Bahkan pada masa sebelum masehi, seorang filsuf, Aristoteles, memperkenalkan logika pertama kali sebagai peralatan teknis penalaran yang tepat. Ajarannya mengenai logika termasuk dalam induksi, deduksi dan silogisme. Yang kemudian dalam perkembangannya, tidak hanya bersentuhan dengan dimensi manusia sebagai subjek, tetapi interaksi sosial juga memengaruhi fase peradaban manusia. Keraguan-keraguan yang muncul karena keterbatasan ruang gerak yang memperkecil hakikat kebenaran.

Lantas, sistem edukasi apa yang benar, jika revolusi logika ini dianggap sebagai siklus hidup untuk mempertahankan diri dari ancaman-ancaman zaman? Pada gilirannya nanti, bisa jadi senjata pembunuh untuk membunuh karakter manusia itu sendiri. Jika landasan berpikir adalah pendidikan, sebagai instrumen utama dalam menciptakan keseimbangan sosial, maka kita membutuhkan sistem pendidikan yang kuat dan sehat.

Dalam perspektif lain, ada hal yang penting lainnya untuk disusupkan pada materi pendidikan kini. Yakni, bagaimana membaca dan menganalisis realisme sosial yang sangat kental hubungannya dengan kehidupan sehari-hari. Sejauh ini, mungkin sistem pendidikan terlalu fokus pada nilai ukur atau kualitas keilmuan. Karena lembaga pendidikan formal selalu dianalogikan dengan ruang pencetak kaum intelektual. Ruang ini juga sekaligus meningkatkan daya kritisasi sebagai alat kontrol. Hanya sayangnya, kritisasi kaum akademik sering dianggap penentangan terhadap penguasa.

Sebuah keraguan (skeptisisme) dalam nalar manusia, karena memandang pergerakan zaman melalui materi (kebendaan). Ironisnya, hal-hal yang sifatnya hakikat hingga  akidah justru menjadi pertentangan. Hal yang perlu dijaga adalah konsep pemikiran pendidikan harus selalu kritis, tetapi bukan menjadi antitesis pemikiran. Karena hal-hal yang menyangkut pertentangan, pada strata tertinggi bisa berpotensi melahirkan bentuk-bentuk radikalisme baru.

Dalam analisis sebab-akibat yang mewarnai dunia pendidikan kita, gejala sosial peradaban terjadi adanya pengikisan nilai-nilai budaya. Penggunaan kurikulum merdeka itu, secara konsep desain bagus, tetapi sistematikanya tidak sesuai dengan kebutuhan nilai budaya kita. Apa dampaknya? Salah satu bukti dalam 5 tahun terakhir ini, ada banyak budaya lokal, terutama bahasa ibu (daerah) tergerus bahkan nyaris punah. Ini sungguh ironis, sementara di sisi lain keberlangsungan dan kelestarian budaya harus tetap dijaga. Dalam riset budaya sering dibenturkan dengan nilai-nilai agama. Persoalan moderasi agama dalam perspektif pendidikan, dalam  kerangka kebangsaan sering dibenturkan dengan pemikiran-pemikiran baru yang berorientasi modernitas. Lantas, tradisi-tradisi agama yang juga merupakan bagian dari kebebasan dan kemerdekaan beragama, lambat-laun bisa dianggap sebagai penghambat modernisasi pemikiran!

Penulis tidak bisa bayangkan, seandainya tradisi ubudiyah (dalam Islam), dianggap tidak lagi relevan dengan tuntutan zaman. Ini memang belum terjadi, tetapi 10 atau 20 tahun ke depan apakah kita bisa menjamin keberlangsungannya. Sementara pemikiran kita selalu dihantui oleh ketakutan-ketakutan global. Yang akhirnya kita mencari jawaban dari situasi “entah” ini. Dunia menjadi apokaliptik oleh pemikiran-pemikiran baru dan dianggap sebagai simbolisme dari revolusi logika. Bisa jadi, semesta yang menjadi tempat peradaban, semua dianggap berpotensi memicu katastrofe!

Hal-hal di atas tentu perlu ditelaah lebih dalam. Mengingat beberapa kasus yang menjadi riset global, bahwa kini banyak terjadi dan munculnya perang logika. Dunia tidak disibukkan dengan perang fisik yang melibatkan kekuatan militer, tetapi perang nalar logika melalui penguasaan ilmu. Pada eksistensi tinggi, penguasaan ini menjadi bentuk kapitalis. Perang tanpa wujud, yang kesemuanya bermuara pada penguasaan ekonomi. Untuk menguasai pasar, salah satu cara dengan melakukan perang budaya. Kita selalu tertinggal dengan gagasan lingkungan yang mengadopsi modernisasi.

Tradisi budaya lokal semakin tergerus, bahkan nyaris punah. Eksistensi perilaku manusia secara simultan telah terpengaruh dengan budaya-budaya modern yang dikemas dalam improvisasi seni dan pemikiran modern. Pendidikan pun menjadi pintu masuk dalam persaingan globalisasi keilmuan, yang kebanyakan mulai bergantung dengan kecepatan teknologi.

Seyogianya, harus ada komitmen yang kuat untuk menahan lajunya modernisasi, tanpa menampik kehadirannya. Jika dalam lingkungan lembaga pendidikan, maka perlunya memperkuat simpul-simpul pengetahuan yang tidak semata bergantung pada informasi bersifat digitalisasi. Tentu kita sangat prihatin, jika kebijakan-kebijakan yang ada selalu bermuara pada kepentingan politik. Seyogianya kita tetap membutuhkan regulasi melalui kebijakan-kebijakan politik, tetapi yang perlu diperhatikan risiko analisis yang mengakibatkan dampak perubahan itu bagi kelangsungan pendidikan jangka panjang. Jangan sampai kita kehilangan identitas bangsa. Maka disini harus ada ekosistem yang bagus, antara modernitas Logika, bahasa dan budaya.

Adanya larangan yang menganalogikan pandangan logika nalar sebagai landasan berpijak, tentu harus dibandingkan dengan kajian-kajian teori tentang identitas suatu bangsa.

Sebagai rujukan dalam tulisan ini, ada beberapa pendapat tentang teori identitas, antara lain:

  • Sheldon Stryker (1981) mengatakan, bahwa identitas adalah teori yang memusatkan perhatiannya pada hubungan saling memengaruhi di antara individu dengan struktur sosial yang lebih besar lagi (masyarakat).
  • Henri Tajfel (dalam Hoggs & Abrams, 1998) mendefinisikan identitas sosial sebagai pengetahuan seseorang terhadap keanggotaan di dalam suatu kelompok bersama dengan nilai dan emosional yang dirasakan di dalamnya.

Maka konsep pendidikan dalam negara, adalah sebuah proses transisi, transformasi dan edukasi dalam penalaran sehat. Di mana revolusi logika tidak boleh ikut mengatur dalam sistem pendidikan. Jika itu dianggap sebagai bagian dari instrumen pendidikan, seyogianya ada parameter jelas untuk mengukur kebutuhan reproduksi zaman. Setiap generasi penerus bangsa tentu memiliki tantangan yang berbeda dalam pendidikan. [T]

BACA puisi dan esai lain dari penulis VITO PRASETYO

Sastra dalam Stereotip Modern
Budaya yang Menjadi Entah
Tags: modernmodernitasPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Fenomena Bawa Mayat ke Setra dengan Mobil Terbuka di Nusa Penida

Next Post

Ibu Menemaniku Saat Skizofrenia Mendera

Vito Prasetyo

Vito Prasetyo

Lahir di Makassar, Februari 1964. Kini tinggal di Kabupaten Malang. Pernah kuliah di IKIP Makassar.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Telenovela

Ibu Menemaniku Saat Skizofrenia Mendera

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co