13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Modernitas Logika dalam Perspektif Pendidikan

Vito Prasetyo by Vito Prasetyo
December 21, 2024
in Esai
Modernitas Logika dalam Perspektif Pendidikan

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy | Diolah dari Canva

APAKAH dunia telah memunculkan peradaban baru, hingga kehidupan  seolah-olah seperti revolusi logika yang tidak  lagi meniscayakan norma-norma sosial? Atau karena rasionalitas pikiran manusia yang menganggap buah pikirannya seolah-olah sebuah dalil kebenaran seperti kehendak Tuhan (Allah)? Ini tentu sangat stereotip. Ingat, salah satu keburukan sifat manusia adalah apa yang dipikirkannya seolah-olah sudah seperti kehendak Allah.

Munculnya gagasan lingkungan yang dalam konsepsi kini dianggap sebuah perubahan gejala-gejala yang berhubungan dengan klimatologi mengakibatkan struktur dan tekstur kehidupan berada pada persinggungan nilai-nilai kebudayaan. Kita sering terjebak dengan gejala-gejala sosial yang muncul, tetapi kita lupa menganalisis akar permasalahannya. Sejauh ini, pemikiran yang dianggap ruang dinamis untuk menerjemahkan peristiwa-peristiwa sosial acapkali tergiring oleh situasi visual yang justru membantah rasionalitas teori. Adanya antitesis terhadap fenomena yang terjadi, seringkali mengedepankan pikiran-pikiran moderat dan dianggap lebih pas dengan tantangan yang dihadapi.

 Benarkah munculnya gejala-gejala paranoid yang melegitimasi kekuatan superioritas manusia, bahkan acapkali cenderung pada hal-hal yang bersifat mitos? Dalam perspektif keilmuan, makin majunya ilmu pengetahuan dan teknologi, dimensi visual seakan telah menjelma seperti wajah absurd yang mampu memanipulasi sudut pandang manusia, dan menganggap itulah jawabannya. Dunia menjadi apokaliptik, akibat transisi dan transformasi peradaban sebagai sebuah konsepsi dari revolusi logika!

Beberapa tahun terakhir ini, kita senantiasa dihadapkan pada informasi-informasi fenomena alam yang saling tumpang tindih dengan tumbuh pesatnya perkembangan ilmu dan teknologi. Fenomena yang menggambarkan kerusakan dan bencana hingga menghantui logika hidup manusia. Mulai serangan pandemi, badai angin dan hujan, gelombang badai matahari, dan lain sebagainya. Hingga memaksa manusia untuk mencari pelbagai cara yang berfokus pada perlindungan dan keselamatan, bukan mencari cara untuk mencegahnya. Kondisi yang bisa membuat manusia berada pada tekanan-tekanan sosial. Juga munculnya fenomena alam yang berdampak pada penurunan kualitas psikologis manusia, seperti adanya distopia, dan sejenisnya.

Dalam terminologi logika, ada yang mendefinisikan logika sebagai sarana untuk berpikir dengan sistematis, tertaut, terarah dan valid. Bahkan pada masa sebelum masehi, seorang filsuf, Aristoteles, memperkenalkan logika pertama kali sebagai peralatan teknis penalaran yang tepat. Ajarannya mengenai logika termasuk dalam induksi, deduksi dan silogisme. Yang kemudian dalam perkembangannya, tidak hanya bersentuhan dengan dimensi manusia sebagai subjek, tetapi interaksi sosial juga memengaruhi fase peradaban manusia. Keraguan-keraguan yang muncul karena keterbatasan ruang gerak yang memperkecil hakikat kebenaran.

Lantas, sistem edukasi apa yang benar, jika revolusi logika ini dianggap sebagai siklus hidup untuk mempertahankan diri dari ancaman-ancaman zaman? Pada gilirannya nanti, bisa jadi senjata pembunuh untuk membunuh karakter manusia itu sendiri. Jika landasan berpikir adalah pendidikan, sebagai instrumen utama dalam menciptakan keseimbangan sosial, maka kita membutuhkan sistem pendidikan yang kuat dan sehat.

Dalam perspektif lain, ada hal yang penting lainnya untuk disusupkan pada materi pendidikan kini. Yakni, bagaimana membaca dan menganalisis realisme sosial yang sangat kental hubungannya dengan kehidupan sehari-hari. Sejauh ini, mungkin sistem pendidikan terlalu fokus pada nilai ukur atau kualitas keilmuan. Karena lembaga pendidikan formal selalu dianalogikan dengan ruang pencetak kaum intelektual. Ruang ini juga sekaligus meningkatkan daya kritisasi sebagai alat kontrol. Hanya sayangnya, kritisasi kaum akademik sering dianggap penentangan terhadap penguasa.

Sebuah keraguan (skeptisisme) dalam nalar manusia, karena memandang pergerakan zaman melalui materi (kebendaan). Ironisnya, hal-hal yang sifatnya hakikat hingga  akidah justru menjadi pertentangan. Hal yang perlu dijaga adalah konsep pemikiran pendidikan harus selalu kritis, tetapi bukan menjadi antitesis pemikiran. Karena hal-hal yang menyangkut pertentangan, pada strata tertinggi bisa berpotensi melahirkan bentuk-bentuk radikalisme baru.

Dalam analisis sebab-akibat yang mewarnai dunia pendidikan kita, gejala sosial peradaban terjadi adanya pengikisan nilai-nilai budaya. Penggunaan kurikulum merdeka itu, secara konsep desain bagus, tetapi sistematikanya tidak sesuai dengan kebutuhan nilai budaya kita. Apa dampaknya? Salah satu bukti dalam 5 tahun terakhir ini, ada banyak budaya lokal, terutama bahasa ibu (daerah) tergerus bahkan nyaris punah. Ini sungguh ironis, sementara di sisi lain keberlangsungan dan kelestarian budaya harus tetap dijaga. Dalam riset budaya sering dibenturkan dengan nilai-nilai agama. Persoalan moderasi agama dalam perspektif pendidikan, dalam  kerangka kebangsaan sering dibenturkan dengan pemikiran-pemikiran baru yang berorientasi modernitas. Lantas, tradisi-tradisi agama yang juga merupakan bagian dari kebebasan dan kemerdekaan beragama, lambat-laun bisa dianggap sebagai penghambat modernisasi pemikiran!

Penulis tidak bisa bayangkan, seandainya tradisi ubudiyah (dalam Islam), dianggap tidak lagi relevan dengan tuntutan zaman. Ini memang belum terjadi, tetapi 10 atau 20 tahun ke depan apakah kita bisa menjamin keberlangsungannya. Sementara pemikiran kita selalu dihantui oleh ketakutan-ketakutan global. Yang akhirnya kita mencari jawaban dari situasi “entah” ini. Dunia menjadi apokaliptik oleh pemikiran-pemikiran baru dan dianggap sebagai simbolisme dari revolusi logika. Bisa jadi, semesta yang menjadi tempat peradaban, semua dianggap berpotensi memicu katastrofe!

Hal-hal di atas tentu perlu ditelaah lebih dalam. Mengingat beberapa kasus yang menjadi riset global, bahwa kini banyak terjadi dan munculnya perang logika. Dunia tidak disibukkan dengan perang fisik yang melibatkan kekuatan militer, tetapi perang nalar logika melalui penguasaan ilmu. Pada eksistensi tinggi, penguasaan ini menjadi bentuk kapitalis. Perang tanpa wujud, yang kesemuanya bermuara pada penguasaan ekonomi. Untuk menguasai pasar, salah satu cara dengan melakukan perang budaya. Kita selalu tertinggal dengan gagasan lingkungan yang mengadopsi modernisasi.

Tradisi budaya lokal semakin tergerus, bahkan nyaris punah. Eksistensi perilaku manusia secara simultan telah terpengaruh dengan budaya-budaya modern yang dikemas dalam improvisasi seni dan pemikiran modern. Pendidikan pun menjadi pintu masuk dalam persaingan globalisasi keilmuan, yang kebanyakan mulai bergantung dengan kecepatan teknologi.

Seyogianya, harus ada komitmen yang kuat untuk menahan lajunya modernisasi, tanpa menampik kehadirannya. Jika dalam lingkungan lembaga pendidikan, maka perlunya memperkuat simpul-simpul pengetahuan yang tidak semata bergantung pada informasi bersifat digitalisasi. Tentu kita sangat prihatin, jika kebijakan-kebijakan yang ada selalu bermuara pada kepentingan politik. Seyogianya kita tetap membutuhkan regulasi melalui kebijakan-kebijakan politik, tetapi yang perlu diperhatikan risiko analisis yang mengakibatkan dampak perubahan itu bagi kelangsungan pendidikan jangka panjang. Jangan sampai kita kehilangan identitas bangsa. Maka disini harus ada ekosistem yang bagus, antara modernitas Logika, bahasa dan budaya.

Adanya larangan yang menganalogikan pandangan logika nalar sebagai landasan berpijak, tentu harus dibandingkan dengan kajian-kajian teori tentang identitas suatu bangsa.

Sebagai rujukan dalam tulisan ini, ada beberapa pendapat tentang teori identitas, antara lain:

  • Sheldon Stryker (1981) mengatakan, bahwa identitas adalah teori yang memusatkan perhatiannya pada hubungan saling memengaruhi di antara individu dengan struktur sosial yang lebih besar lagi (masyarakat).
  • Henri Tajfel (dalam Hoggs & Abrams, 1998) mendefinisikan identitas sosial sebagai pengetahuan seseorang terhadap keanggotaan di dalam suatu kelompok bersama dengan nilai dan emosional yang dirasakan di dalamnya.

Maka konsep pendidikan dalam negara, adalah sebuah proses transisi, transformasi dan edukasi dalam penalaran sehat. Di mana revolusi logika tidak boleh ikut mengatur dalam sistem pendidikan. Jika itu dianggap sebagai bagian dari instrumen pendidikan, seyogianya ada parameter jelas untuk mengukur kebutuhan reproduksi zaman. Setiap generasi penerus bangsa tentu memiliki tantangan yang berbeda dalam pendidikan. [T]

BACA puisi dan esai lain dari penulis VITO PRASETYO

Sastra dalam Stereotip Modern
Budaya yang Menjadi Entah
Tags: modernmodernitasPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Fenomena Bawa Mayat ke Setra dengan Mobil Terbuka di Nusa Penida

Next Post

Ibu Menemaniku Saat Skizofrenia Mendera

Vito Prasetyo

Vito Prasetyo

Lahir di Makassar, Februari 1964. Kini tinggal di Kabupaten Malang. Pernah kuliah di IKIP Makassar.

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Telenovela

Ibu Menemaniku Saat Skizofrenia Mendera

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co