23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Budaya yang Menjadi Entah

Vito Prasetyo by Vito Prasetyo
February 11, 2024
in Esai
Budaya yang Menjadi Entah

Foto ilustrasi tatkala.co

DALAM buku Lingkungan Hidup dan Kapitalisme, Fred Magdoff  dan John Bellamy Foster (2017) menyitir teorema  ketidak-mungkinan  (Herman Daly), yang menyatakan bahwa ekonomi tidak mungkin bisa tumbuh secara terbatas. Teori yang sekaligus sindiran terhadap penguasaan ekonomi oleh kapitalis.

Maka menciptakan lingkungan sempit mempertajam gerak kapitalis dengan cara-cara masif. Salah satu cara untuk menguasai karakter manusia termasuk mengabaikan karakter budaya. Dan menjadi ritme permainan yang kian menarik dalam sistem perpolitikan. Apalagi waktunya yang begitu dekat dengan kontestasi pemilu.

Masih adakah kenuranian etika, di tengah demokrasi yang kian terpuruk? Mungkin hanya logika orang kurang normal yang menganggap situasi kini aman-aman saja. Sebab jika sudah bersentuhan dengan norma-norma demokrasi, maka rakyat dan negara ada di dalamnya, tidak terpisah satu sama lainnya.

Benarkah zaman kini memunculkan rasa ketakutan; rasa was-was; ketidakpastian yang berkepanjangan, hingga melahirkan asumsi logika yang disebut sebagai zaman nalar. Revolusi logika seakan memacu pemikiran moderat yang mematahkan teori-teori masa lalu. Pemikiran antitesis seakan menyejajarkan pemikiran manusia dengan konsepsi malaikat. Membangun mimpi dengan tangan-tangan manusia yang kemudian memunculkan asumsi baru.

Menyitir sebuah catatan peristiwa yang dirilis Majalah Tempo berjudul: “2023 Tahun Politik yang Mengerikan” (31 Desember 2023), apakah ini dampak dari kemerosotan demokrasi dan kebebasan hukum menjadi stagnan? Secara logika, dinamika politik akan berimbas pada perilaku sosial (etika budaya). Kondisi kestabilan politik tentunya akan memengaruhi struktur sosial yang dihadapkan pada pilihan-pilihan dilematis. Maka, sangat wajar jika muncul istilah annus horribilis (tahun yang mengerikan).

Seyogianya, jika ada dinamika dalam politik ini bisa dianggap sebagai hal yang wajar. Tetapi karena kebijakan yang dilaksanakan melanggar tata normatif hukum, oleh sekelompok orang yang mengatas-namakan negara, ini artinya tidak ada lagi etika pada putusan-putusan tersebut. Munculnya kerusakan-kerusakan demokrasi yang memperparah kondisi dalam kehidupan bangsa dan negara, hingga konsep pemikiran bisa terstimulasi oleh hal-hal yang agak sensitif.

Budaya yang dianggap sebagai tradisi peninggalan masa lalu, seperti memacu kereta-kereta konvensional, berjalan terseok-seok di antara deru zaman yang bertransformasi diri menjadi kapitalis teknologi. Kekuatan baru yang meruntuhkan nilai-nilai entitas manusia, yang seyogianya tetap menjadi manusia beradab dan berintelektual. Konsep ini, mungkin hanya penggalan sejarah yang tidak lagi relevan dengan tantangan kini.

Pemikiran manusia terpacu. Risiko yang harus ditanggung oleh pengendali dunia, yang dinamakan manusia, sudah melupakan siapa sesungguhnya manusia itu. Hari kiamat seperti yang tertulis dalam kitab suci, seakan menjadi penghalang untuk mewujudkan impian sekelompok manusia. Meski risiko terbesar adalah sebuah ketakutan luar biasa. Penyakit psikologis bermunculan di mana-mana.

Dunia berubah menjadi apokaliptik; dunia berubah menjadi ketidakpastian, ketidaktahuan, keterbatasan, bahkan ketidakadilan yang akan menjadi penghalang impian manusia. Ancaman badai, seperti katastrofe, juga kondisi internal psikis manusia, seperti distopia, seharusnya tidak boleh mengiringi kehidupan manusia. Hidup adalah pilihan yang menempatkan penanda dan petanda untuk terus abadi. Mungkin  puisi adalah frasa terindah untuk wujudkan impian. Menunda ajal!

Silang pendapat, memaksa manusia tidak mampu berlaku adil pada pikirannya sendiri. Manusia lupa, bahwa ada estetika budaya yang melekat pada dirinya. Media sosial yang menjadi sarana untuk melahirkan pemikiran baru; sumber ilmu pengetahuan dan wawasan baru, sering menjadi alih fungsi yang disalahgunakan dalam normatif etika.

Gejala silang pendapat atau perdebatan seolah menjadi keseharian di media sosial. Ironisnya, ini memunculkan kekuatan emosional yang mengalahkan penalaran sehat. Kemampuan analisis orang tentang sebab-akibat; yang  merupakan kemampuan nalar – penting  untuk menghadapi sesuatu yang samar; sesuatu yang entah penyebabnya.

Perenungan dan permenungan tentang kehidupan, seolah itu hanya menjadi urusan wilayah pribadi dan Tuhan. Entitas manusia itu bergerak maju dari ketidaktahuan, yang kemudian diketahui berubah menjadi sebuah persoalan (masalah) dalam spektrum ruang besar. Entah dan samar ini dihadapkan kepada manusia sebagai persoalan yang harus dipecahkan dan diterobos.

Mungkin kita atau seseorang harus merumuskan pengertian “entah” dan “samar” yang berpusar pada peristiwa-peristiwa. Kemudian rumusan ini menjadi rujukan sejarah kelak. Di mana, kelak ini menjadi perjalanan waktu yang memunculkan analisis-analisis baru. Bisa jadi membentuk peradaban baru. Kenapa demikian, karena kelak (waktu yang tanpa kepastian) memunculkan fenomena di mana manusia menjadi terasing, kelaparan, menanti datangnya maut, menghadapi musibah, dan lain sebagainya.

“Entah” kemudian berkembang dalam keilmuan futurolog; yang berhadapan dengan kemajuan sains dan teknologi, serta munculnya adaptasi baru dalam fenomena sosial. Bisa juga, munculnya berbagai penyakit baru yang belum terdeteksi. Maka, sains dan teknologi menjadi terapan bagi disiplin ilmu kedokteran. Ini pastinya juga berkutat pada persoalan sebab-akibat.

Babak atau fase penyakit yang berdampak langsung pada kesehatan manusia, hanya mampu dilakukan simultan, jika kondisi ini terjadi di beberapa negara atau seluruh dunia mengalami hal yang sama. Hanya disayangkan, hal-hal yang bersentuhan dengan kemanusiaan juga memunculkan persoalan ketidakadilan, misalnya dana diselewengkan atau dikorupsi.

Semua menjadi “entah”, apa penyebabnya; dari mana asalnya; penyakit yang tidak dikenal, karena sudah membudaya, entah karena belum ada yang menganalisis dan menelaahnya. Hukum yang menjadi pembatas norma seperti kehilangan nalar dan naluri logika. Bicara kebenaran hanyalah hari-hari yang menakutkan;  akal manusia seakan buntu, bagaimana menghentikan sesuatu yang disebut dengan -entah-

Sesuatu yang berhubungan dengan etika moral, jika terjadi perubahan yang sangat signifikan dalam kontekstual keseharian bisa dianggap sebagai gejala atau isyarat baru atas sebelumnya. Munculnya peradaban baru dengan manifestasi  budaya yang juga baru. Apakah saat ini terjadi dengan ditandai pembangunan IKN? Bisa jadi, karena perspektif orang sudah diracuni oleh hal-hal yang terkesan fantastis. Atau hanya memaksakan membangun mimpi seseorang menjadi nyata. – entah!

Maka ketika zaman modern terdesak dengan silogisme kapitalis, harus ada cara untuk memberangus kebenaran, keadilan, humanisme, dengan penciptaan “entah” yang baru. Memunculkan rasa takut, rasa cemas yang berlebihan dan menyamarkan nilai-nilai budaya yang dianggap tidak lagi relevan dengan kebutuhan zaman.

Persoalan-persoalan moralitas menjadi antitesis budaya, yang mungkin cukup hanya dikaji dan didiskusikan dalam ruang-ruang agama. Manusia harus menjadi pemberani, yang tidak harus didasari oleh ketidaktahuan dan ketidakadilan. Ini sudah menjadi wilayah revolusi logika, yang mampu menjamah ruang-ruang di luar nalar logika dan etika.

Manusia menjadi tidak dewasa dengan kesakralan budaya. Peradaban dunia modern tidak hanya cukup dirancang dengan budaya. Kedewasaan harus tumbuh dengan keberanian menggunakan akal, intelektual dan kearifan diri. Kontemplasi nalar logika seharusnya menjadi kendali dalam sistem. Ada kalanya menjadi penghangat, tetapi di sisi lain juga harus berfungsi pendingin. Pertanyaannya, siapa yang jadi kendali atas  kondisi ini, yang tampaknya memang tidak sedang baik?

Zaman sudah semakin dewasa, konsep “entah” menjadi senjata pelindung diri. Yang dimainkan oleh aktor-aktor yang perannya sama cerdasnya dengan robot-robot pintar kecerdasan buatan (artificial intelligence). Ketidakdewasaan juga membuat manusia harus dituntun dalam tatanan sosial, agama dan penguasa. Orang  tak akan mampu menjadi dewasa karena tidak mencari jalan sendiri. Zaman telah terprovokasi dalam elipsis revolusi logika, bila perlu menelanjangi hukum!

Hanya menghitung hari, yang kian sempit untuk membuat orang harus lebih berpikir jernih dan rasionalitas dalam menentukan pilihan, siapa calon presiden terbaik bagi bangsa ini. Calon yang tentunya lebih mengedepankan kepentingan masyarakat luas; calon yang tetap menjaga etika moral, sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari tradisi bangsa. Calon yang memiliki konsep perubahan yang lebih substantif. Yang tentunya, harkat dan martabat  bangsa menjadi tingkat pencapaian di mata dunia, bukan dengan cara kapitalis dan oligarki.    Keberanian ini tentunya akan menjawab keresahan: budaya yang menjadi entah! Bangsa seharusnya memilih seorang presiden, bukan untuk memilih penguasa. [T]

Sastra dalam Stereotip Modern
Tags: Budayakebudayaan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ambivalen, Surat Edaran Dirjen GTK 0559/B.B1/GT.02.00/2024  tentang Pengelolaan Kinerja Guru dan Kepala Sekolah

Next Post

Politik Uang Tampaknya Masih Tumbuh Subur Pada Pemilu 2024

Vito Prasetyo

Vito Prasetyo

Lahir di Makassar, Februari 1964. Kini tinggal di Kabupaten Malang. Pernah kuliah di IKIP Makassar.

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Menggugat Notaris

Politik Uang Tampaknya Masih Tumbuh Subur Pada Pemilu 2024

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co