2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Budaya yang Menjadi Entah

Vito Prasetyo by Vito Prasetyo
February 11, 2024
in Esai
Budaya yang Menjadi Entah

Foto ilustrasi tatkala.co

DALAM buku Lingkungan Hidup dan Kapitalisme, Fred Magdoff  dan John Bellamy Foster (2017) menyitir teorema  ketidak-mungkinan  (Herman Daly), yang menyatakan bahwa ekonomi tidak mungkin bisa tumbuh secara terbatas. Teori yang sekaligus sindiran terhadap penguasaan ekonomi oleh kapitalis.

Maka menciptakan lingkungan sempit mempertajam gerak kapitalis dengan cara-cara masif. Salah satu cara untuk menguasai karakter manusia termasuk mengabaikan karakter budaya. Dan menjadi ritme permainan yang kian menarik dalam sistem perpolitikan. Apalagi waktunya yang begitu dekat dengan kontestasi pemilu.

Masih adakah kenuranian etika, di tengah demokrasi yang kian terpuruk? Mungkin hanya logika orang kurang normal yang menganggap situasi kini aman-aman saja. Sebab jika sudah bersentuhan dengan norma-norma demokrasi, maka rakyat dan negara ada di dalamnya, tidak terpisah satu sama lainnya.

Benarkah zaman kini memunculkan rasa ketakutan; rasa was-was; ketidakpastian yang berkepanjangan, hingga melahirkan asumsi logika yang disebut sebagai zaman nalar. Revolusi logika seakan memacu pemikiran moderat yang mematahkan teori-teori masa lalu. Pemikiran antitesis seakan menyejajarkan pemikiran manusia dengan konsepsi malaikat. Membangun mimpi dengan tangan-tangan manusia yang kemudian memunculkan asumsi baru.

Menyitir sebuah catatan peristiwa yang dirilis Majalah Tempo berjudul: “2023 Tahun Politik yang Mengerikan” (31 Desember 2023), apakah ini dampak dari kemerosotan demokrasi dan kebebasan hukum menjadi stagnan? Secara logika, dinamika politik akan berimbas pada perilaku sosial (etika budaya). Kondisi kestabilan politik tentunya akan memengaruhi struktur sosial yang dihadapkan pada pilihan-pilihan dilematis. Maka, sangat wajar jika muncul istilah annus horribilis (tahun yang mengerikan).

Seyogianya, jika ada dinamika dalam politik ini bisa dianggap sebagai hal yang wajar. Tetapi karena kebijakan yang dilaksanakan melanggar tata normatif hukum, oleh sekelompok orang yang mengatas-namakan negara, ini artinya tidak ada lagi etika pada putusan-putusan tersebut. Munculnya kerusakan-kerusakan demokrasi yang memperparah kondisi dalam kehidupan bangsa dan negara, hingga konsep pemikiran bisa terstimulasi oleh hal-hal yang agak sensitif.

Budaya yang dianggap sebagai tradisi peninggalan masa lalu, seperti memacu kereta-kereta konvensional, berjalan terseok-seok di antara deru zaman yang bertransformasi diri menjadi kapitalis teknologi. Kekuatan baru yang meruntuhkan nilai-nilai entitas manusia, yang seyogianya tetap menjadi manusia beradab dan berintelektual. Konsep ini, mungkin hanya penggalan sejarah yang tidak lagi relevan dengan tantangan kini.

Pemikiran manusia terpacu. Risiko yang harus ditanggung oleh pengendali dunia, yang dinamakan manusia, sudah melupakan siapa sesungguhnya manusia itu. Hari kiamat seperti yang tertulis dalam kitab suci, seakan menjadi penghalang untuk mewujudkan impian sekelompok manusia. Meski risiko terbesar adalah sebuah ketakutan luar biasa. Penyakit psikologis bermunculan di mana-mana.

Dunia berubah menjadi apokaliptik; dunia berubah menjadi ketidakpastian, ketidaktahuan, keterbatasan, bahkan ketidakadilan yang akan menjadi penghalang impian manusia. Ancaman badai, seperti katastrofe, juga kondisi internal psikis manusia, seperti distopia, seharusnya tidak boleh mengiringi kehidupan manusia. Hidup adalah pilihan yang menempatkan penanda dan petanda untuk terus abadi. Mungkin  puisi adalah frasa terindah untuk wujudkan impian. Menunda ajal!

Silang pendapat, memaksa manusia tidak mampu berlaku adil pada pikirannya sendiri. Manusia lupa, bahwa ada estetika budaya yang melekat pada dirinya. Media sosial yang menjadi sarana untuk melahirkan pemikiran baru; sumber ilmu pengetahuan dan wawasan baru, sering menjadi alih fungsi yang disalahgunakan dalam normatif etika.

Gejala silang pendapat atau perdebatan seolah menjadi keseharian di media sosial. Ironisnya, ini memunculkan kekuatan emosional yang mengalahkan penalaran sehat. Kemampuan analisis orang tentang sebab-akibat; yang  merupakan kemampuan nalar – penting  untuk menghadapi sesuatu yang samar; sesuatu yang entah penyebabnya.

Perenungan dan permenungan tentang kehidupan, seolah itu hanya menjadi urusan wilayah pribadi dan Tuhan. Entitas manusia itu bergerak maju dari ketidaktahuan, yang kemudian diketahui berubah menjadi sebuah persoalan (masalah) dalam spektrum ruang besar. Entah dan samar ini dihadapkan kepada manusia sebagai persoalan yang harus dipecahkan dan diterobos.

Mungkin kita atau seseorang harus merumuskan pengertian “entah” dan “samar” yang berpusar pada peristiwa-peristiwa. Kemudian rumusan ini menjadi rujukan sejarah kelak. Di mana, kelak ini menjadi perjalanan waktu yang memunculkan analisis-analisis baru. Bisa jadi membentuk peradaban baru. Kenapa demikian, karena kelak (waktu yang tanpa kepastian) memunculkan fenomena di mana manusia menjadi terasing, kelaparan, menanti datangnya maut, menghadapi musibah, dan lain sebagainya.

“Entah” kemudian berkembang dalam keilmuan futurolog; yang berhadapan dengan kemajuan sains dan teknologi, serta munculnya adaptasi baru dalam fenomena sosial. Bisa juga, munculnya berbagai penyakit baru yang belum terdeteksi. Maka, sains dan teknologi menjadi terapan bagi disiplin ilmu kedokteran. Ini pastinya juga berkutat pada persoalan sebab-akibat.

Babak atau fase penyakit yang berdampak langsung pada kesehatan manusia, hanya mampu dilakukan simultan, jika kondisi ini terjadi di beberapa negara atau seluruh dunia mengalami hal yang sama. Hanya disayangkan, hal-hal yang bersentuhan dengan kemanusiaan juga memunculkan persoalan ketidakadilan, misalnya dana diselewengkan atau dikorupsi.

Semua menjadi “entah”, apa penyebabnya; dari mana asalnya; penyakit yang tidak dikenal, karena sudah membudaya, entah karena belum ada yang menganalisis dan menelaahnya. Hukum yang menjadi pembatas norma seperti kehilangan nalar dan naluri logika. Bicara kebenaran hanyalah hari-hari yang menakutkan;  akal manusia seakan buntu, bagaimana menghentikan sesuatu yang disebut dengan -entah-

Sesuatu yang berhubungan dengan etika moral, jika terjadi perubahan yang sangat signifikan dalam kontekstual keseharian bisa dianggap sebagai gejala atau isyarat baru atas sebelumnya. Munculnya peradaban baru dengan manifestasi  budaya yang juga baru. Apakah saat ini terjadi dengan ditandai pembangunan IKN? Bisa jadi, karena perspektif orang sudah diracuni oleh hal-hal yang terkesan fantastis. Atau hanya memaksakan membangun mimpi seseorang menjadi nyata. – entah!

Maka ketika zaman modern terdesak dengan silogisme kapitalis, harus ada cara untuk memberangus kebenaran, keadilan, humanisme, dengan penciptaan “entah” yang baru. Memunculkan rasa takut, rasa cemas yang berlebihan dan menyamarkan nilai-nilai budaya yang dianggap tidak lagi relevan dengan kebutuhan zaman.

Persoalan-persoalan moralitas menjadi antitesis budaya, yang mungkin cukup hanya dikaji dan didiskusikan dalam ruang-ruang agama. Manusia harus menjadi pemberani, yang tidak harus didasari oleh ketidaktahuan dan ketidakadilan. Ini sudah menjadi wilayah revolusi logika, yang mampu menjamah ruang-ruang di luar nalar logika dan etika.

Manusia menjadi tidak dewasa dengan kesakralan budaya. Peradaban dunia modern tidak hanya cukup dirancang dengan budaya. Kedewasaan harus tumbuh dengan keberanian menggunakan akal, intelektual dan kearifan diri. Kontemplasi nalar logika seharusnya menjadi kendali dalam sistem. Ada kalanya menjadi penghangat, tetapi di sisi lain juga harus berfungsi pendingin. Pertanyaannya, siapa yang jadi kendali atas  kondisi ini, yang tampaknya memang tidak sedang baik?

Zaman sudah semakin dewasa, konsep “entah” menjadi senjata pelindung diri. Yang dimainkan oleh aktor-aktor yang perannya sama cerdasnya dengan robot-robot pintar kecerdasan buatan (artificial intelligence). Ketidakdewasaan juga membuat manusia harus dituntun dalam tatanan sosial, agama dan penguasa. Orang  tak akan mampu menjadi dewasa karena tidak mencari jalan sendiri. Zaman telah terprovokasi dalam elipsis revolusi logika, bila perlu menelanjangi hukum!

Hanya menghitung hari, yang kian sempit untuk membuat orang harus lebih berpikir jernih dan rasionalitas dalam menentukan pilihan, siapa calon presiden terbaik bagi bangsa ini. Calon yang tentunya lebih mengedepankan kepentingan masyarakat luas; calon yang tetap menjaga etika moral, sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari tradisi bangsa. Calon yang memiliki konsep perubahan yang lebih substantif. Yang tentunya, harkat dan martabat  bangsa menjadi tingkat pencapaian di mata dunia, bukan dengan cara kapitalis dan oligarki.    Keberanian ini tentunya akan menjawab keresahan: budaya yang menjadi entah! Bangsa seharusnya memilih seorang presiden, bukan untuk memilih penguasa. [T]

Sastra dalam Stereotip Modern
Tags: Budayakebudayaan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ambivalen, Surat Edaran Dirjen GTK 0559/B.B1/GT.02.00/2024  tentang Pengelolaan Kinerja Guru dan Kepala Sekolah

Next Post

Politik Uang Tampaknya Masih Tumbuh Subur Pada Pemilu 2024

Vito Prasetyo

Vito Prasetyo

Lahir di Makassar, Februari 1964. Kini tinggal di Kabupaten Malang. Pernah kuliah di IKIP Makassar.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Menggugat Notaris

Politik Uang Tampaknya Masih Tumbuh Subur Pada Pemilu 2024

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co