4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sastra dalam Stereotip Modern

Vito Prasetyo by Vito Prasetyo
January 8, 2024
in Esai
Sastra dalam Stereotip Modern

Ilustrasi diolah tatkala.co dari Canva

SEBUAH stigma dalam revolusi sosial, bahwa dunia sastra seolah-olah terlepas dari dunia pendidikan. Orang tidak lagi melihat spektrum sastra sebagai bidang keilmuan yang juga turut membangun dan memajukan dunia pendidikan. Orang di sini, dalam artian kelompok masyarakat, yang hanya mengenal dunia pendidikan sebagai tempat atau lembaga penyerapan ilmu pengetahuan.

Sementara revolusi sosial sebagai pergeseran keilmuan dan pengetahuan yang disebabkan makin majunya era teknologi. Perspektif sastra dianalogikan sebagai ruang untuk berkreativitas bagi para pegiat sastra. Apakah ini sebuah konsepsi yang subjektif dan tidak tepat (stereotip).

Hal di atas tentunya harus dikaji dari beberapa dimensi, karena seyogianya konsep pemikiran sastra itu berorientasi humanis dan sastrawi. Sehingga kita tidak terjebak dengan asumsi yang menjustifikasi sebuah simpulan.

Kita tidak bisa bayangkan, jika suatu  saat ruang  sastra tak mampu lagi melakukan afagosis terhadap nilai-nilai sastrawi. Peradaban menjadi samar dan menakutkan. Pemikiran terhadap nilai-nilai teosentrisme (keyakinan untuk beragama) berubah menjadi ateisme. Bahkan, bumi ini menjadi ekstrem, peradaban berkecenderungan menuju sebuah muara yang diistilahkan dengan apokaliptik (berkaitan dengan kehancuran atau kiamat).

Pemikiran manusia menjadi dewa, menjadi Tuhan, dan ruang sastra dijadikan alat penindasan rasionalitas kepada orang-orang yang “tetap setia” pada nilai-nilai sakral teosentrisme. Afagosis yang secara terminologi adalah ketidakmampuan untuk makan, dianggap sebagai simbol kegagalan fisik untuk melepaskan kegelisahan, keresahan serta ikatan primordial— dalam interaksi sosial. Bisa jadi, muncul stigma tentang peradaban samar.

Tiga tahun silam atau lebih, ketika kita seakan dibelenggu oleh kondisi pandemi yang berkepanjangan, nalar kritis kita menjadi tersumbat, buntu, dan melahirkan kondisi-kondisi ambivalen, antara wujud dan tidak berwujud. Semua ruang seakan memunculkan potensi sikap kecurigaan, imbas dari wujud keterbatasan sosial dan ruang gerak ketika melewati fase kritis pandemi.

Dampaknya begitu lekat dengan mata manusia, di mana manusia memandang dunia luar seolah-olah seperti musuh yang harus diwaspadai. Ini menjadi ritmis duka yang begitu liris. Kehidupan seperti sebuah prosais yang menjenuhkan dan melelahkan.

Manusia menjadi apriori dan berperilaku sensitif. Fase genting dilewati, bagaimana harus keluar dari kota-kota yang digembok dan diawasi secara ketat, dengan apa yang dianalogikan lapisan regulasi. Dalam sebutan arkais, kota menjadi makna ambigu dan diistilahkan: panoptikum!

Pemaknaan ruang lingkup menjadi terbatas yang diakibatkan oleh penyebaran virus mematikan, memunculkan sebab-akibat, yang sebetulnya manusia gagal membacanya. Perilaku sosial yang menjadi tidak lazim, seakan mengubah peradaban.

Munculnya pemikiran baru dalam desakan frasa “samar dan entah”—tetapi  tetap diawasi oleh otoritas pemerintah. Maka, panoptikum menjadi alat yang dapat melihat atau menangkap semua benda sekaligus. Termasuk gerak-gerik masyarakat.

Di satu sisi, pilihan hidup adalah bagaimana harus bertahan dan dihadapkan pada aspek kestabilan ekonomi. Setiap fase masa, tentu ada yang diuntungkan dan ada yang dirugikan. Bagaimanapun, manusia adalah entitas sosial yang dilengkapi dengan nalar logika. Tinggal bagaimana cara konsep pilihan dalam pengejawantahan kondisi untuk melalui fase-fase sulit. Logika kita berkata, situasi ini dihadapi oleh hampir semua orang. Kondisi di mana dunia seakan dikepung oleh kecemasan akut.

Tidak terlepas dari sebuah pilihan, bahwa ruang kreativitas sastra adalah sebuah wujud dari entitas seni yang juga butuh dipertahankan dan dikembangkan. Semarak untuk mengembangkan kesasteraan, boleh dianggap sebagai upaya dari pelestarian sebagian cagar budaya. Ingat, pada satu sisi, manusia memiliki entitas sosial sebagai pengendali dari nilai-nilai budaya.

Tetapi, dalam kosakata budaya, sering dianggap bersentuhan dengan hal-hal yang secara kasat mata tidak nampak. Maka, dengan rumusan sederhana, kegiatan-kegiatan yang berbasis nilai seni dapat dianggap sebagai bagian dari kebudayaan.

Persoalannya, kebijakan yang bersifat politis memunculkan sikap pragmatis, bahwa untuk melepaskan diri dari keterpurukan ekonomi, harus ada  yang dikorbankan. Tekstual budaya dianggap kurang penting, dan menghambat teknis regulasi.

Setelah melewati fase kritis pandemi, muncul pertanyaan, ke arah mana dimensi dan konsep sastra ini dikembangkan? Di sini, penulis ingin mempersempit ruang dan berorientasi pada sastra. Di lain pihak, makin pesatnya teknologi informasi berbasis digital, ada hal-hal positif yang mendorong para pegiat sastra untuk tetap berkarya. Informasi akurat dan cepat, lebih mudah dijangkau karena makin banyaknya ruang digital yang setiap waktu dapat digunakan oleh siapa saja.

Seiring waktu berjalan, siapa pun sudah terjebak oleh kebutuhan teknologi, pembacaan era modern menjadi alibi pembenaran dalam menggunakan alat komunikasi berteknologi android. Melalui alat ini, siapa saja dapat menempatkan dirinya pada strata sosial yang instan.

Bagaimana dengan mudahnya orang mengakses sumber-sumber informasi sampai ke ujung dunia, hanya dengan bantuan perangkat teknologi, yang dinamakan ponsel, HP android, gadget, gawai, dan sejenisnya.

Bagaimana seseorang atau siapa saja yang menulis karya sastra, dan terpublikasi dalam jejaring sosial apa pun, dengan mudahnya menjadi sastrawan; menjadi penyair; menjadi penulis, sekalipun indikator karyanya sangat subjektif.

Ruang kreativitas sastra menjadi terbuka lebar, yang kemudian siapa pun berlomba-lomba ingin disebut penyair, atau ingin disebut sastrawan, tanpa memahami apa esensi dan tujuan penulisannya. Di mana-dimana, tampilan karya sastra lebih menonjolkan aspek popularitas seseorang daripada bobot tulisannya. Zaman menjadi sebuah era pencitraan.

Tentu kita tidak menolak dan bersikap skeptis terhadap karya-karya sastra baru, yang setiap waktu bermunculan. Mungkin karena keterbatasan para penulis atau pengarang yang menerjemahkan konsep modernitas sastra. Dalam sudut pandang penulis, karya-karya sastra yang hadir kini, sangat minim dengan kritikan.

Bisa jadi, karena para pegiat sastra menjadi saling memafhumkan satu sama lainnya dan lebih memilih cara serta jalannya sendiri-sendiri. Entah apakah sastra itu akan terjun bebas, atau sekadar lewat dalam ruang-ruang virtual. Sebuah penafsiran sangat ambivalen, sastra menjadi inferior (bermutu rendah).

Dalam kisah klasik, perseteruan “dunia barat” dan “dunia timur” seakan memunculkan persaingan tiada henti. Di mana, dalam anggapan tipo, merupakan tempat yang tidak memiliki garis batas dengan jelas. Kita terjebak dengan sebuah frasa, yang sebetulnya kandungan makna linguistik.

Kita digiring dalam pemahaman imaji, yang membuat batasan-batasan logika kita menganggap dunia barat jauh lebih maju dari dunia timur. Seolah-olah konsep peradaban dunia dimulai dari barat. Dunia barat dianggap sebagai pencetus peradaban maju dan modern.

Lebih lanjut, dalam ruang waktu berbeda, karya-karya sastra menjadi jalan dalam memunculkan aliran atau genre sastra. Tetapi, jika ditelisik lebih mendalam, apakah esensi sastra mengenal dengan sebuah pembaharuan seperti peredaran zaman yang menuju era modern?

Maka, konsep ini melengkapi garis-garis batas yang tidak jelas. Mungkin akan muncul pertanyaan, bagaimana dengan peredaran masa sastra Indonesia yang dibatasi oleh sebutan “angkatan”? Katakan seperti Angkatan Pujangga Lama, Angkatan Pujangga’45, Angkatan Pujangga Baru, Balai Pustaka, dan seterusnya.

Dalam kutipan seorang penulis, Ayu Utami mengatakan: “bukan hiduplah jika tak terus bergerak”. Ini mungkin bisa kita anggap sebagai pembenaran bagi masa-masa yang dilewati oleh pelaku-pelaku sastra.

Maka, kalau saat ini bermunculan pegiat-pegiat sastra yang memaknai kreativitasnya sebagai sebuah ukuran di mana sastra itu juga hidup dan bergerak, ini karena ekses dari buntunya ruang kreatif pada masa pandemi. Pemikiran menjadi tersekat, dan terkadang dalam makna arkais seakan terpenjara.

Judul di atas sepertinya memunculkan analogi sarkasme atau yang lebih santun, mungkin sedikit arkais, meski bagi penulis tidak bermaksud menciptakan satire liar seperti dalam karya-karya puisi. Tetapi bagaimana karya sastra berada pada kedudukannya, yang seyogianya melewati fase-fase terukur seperti dalam proses pendidikan. Sebab sastra tidak hanya semata dilihat pada kacamata hiburan, karena dalam proses penulisannya lebih banyak menggunakan imajinasi, tetapi ini harus dimaknai sebagai sebuah edukasi yang mampu membaca dan menelaah stereotip modern.

Maka dalam pengukuhan karya sastra yang berada dalam ruang stereotip modern, ada 3 (tiga) hal yang harus dicapai, yakni: transisi, transformasi, dan edukasi. Meski dalam perjalanannya untuk mencapai sebuah tujuan, dapat dilakukan secara individu maupun kelompok atau komunitas.

Konsep modernitas, tidak hanya sekadar membaca transisi dan transformasi teknologi digital, tetapi bagaimana aspek ini dijadikan proses pematangan karya-karya sastra. Termasuk juga pada aspek edukasi bagaimana sebuah karya sastra ini mampu memberikan resultansi positif dalam konteks sosial. Sebab konsep modernitas sastra itu, adalah keseluruhan dunia semesta dalam persaingan karya sastra dunia.

Dalam kilas balik sastra Indonesia, kadang atau bahkan menjadi sebuah seremonial, yang mengukuhkan pengakuan kesasteraan Indonesia ini dengan kejayaan penyair Chairil Anwar. Tetapi kita tidak menutup mata, bahwa dunia sastra itu juga banyak melahirkan penulis-penulis hebat melalui karya novel, cerpen, esai atau bentuk-bentuk lainnya dalam bentuk karya fiksi. Bisa jadi, karena terlalu banyaknya sudut pandang berbeda terhadap karya sastra kekinian, yang semuanya butuh label modernitas.

Jika kita mengaca pada proses transisi, transformasi dan edukasi, maka selayaknya kehidupan semarak sastra itu menjadi simpul perekat dalam dunia pendidikan. Bagaimana karya sastra yang dihasilkan membuka cakrawala pengetahuan dan wawasan baru dalam pendidikan.

Sastra yang merupakan peninggalan budaya bangsa, dalam konteks pendidikan nasional, merupakan aset bangsa karena kedudukannya sama dengan bahasa. Kajian ini didasarkan pada PP Nomor 57 Tahun 2014 tentang Pengembangan, Pembinaan dan Perlindungan Bahasa & Sastra, serta Peningkatan Fungsi Bahasa.

Memang tidak mudah, untuk menempatkan ruang sastra dalam pendidikan formal, karena kerangka pendidikan tidak akan terlepas dengan sistem kurikulum. Sementara semarak kehidupan sastra bersifat kontekstual, berjalan dengan cara dan tujuannya masing-masing. Serta adanya asumsi teori, membedakannya dalam keilmuan yang melihat definisi sastra sebagai ruang kreasi yang tidak bersifat otonom. Sementara pendidikan sebagai fase pembelajaran yang di dalamnya dituntut untuk penyerapan ilmu pengetahuan.

Maka secara eksplisit kita bisa melihat konsep modernitas itu menjadi tidak sejalan antara dunia pendidikan dan dunia sastra. Pendidikan dalam kesejatian pemikiran kebanyakan orang lebih bersifat formal, sementara sastra lebih cenderung kepada nilai-nilai imajiner yang berada dalam lingkup sosial untuk menghasilkan nilai seni keindahan kata. Pendidikan berada dalam kerangka keterikatan sistem, sementara sastra pada ranahnya sendiri.

Sebagaimana deskripsi di atas, konsepsi stereotip modern bagi pelaku sastra memiliki definisi yang berbeda, karena tidak ada aturan yang mengikat secara legal formal. Karya sastra menjadi ajang perlombaan yang tidak memiliki arah jelas.

Dunia sastra menjadi medium tanpa pandangan yang terorganisir dalam pencapaian keilmuan, meski ini begitu pragmatis (jika) disebut sebagai keilmuan. Dalam perspektif penulis, keilmuan itu harus memiliki indikator (nilai ukur) yang jelas. Sastra lebih cenderung kepada nilai-nilai subjektif.

Dalam pencapaian tertinggi di bidang sastra, sebetulnya banyak lomba atau wadah yang bisa dijadikan keberhasilan karya sastra. Misalnya, melalui penerbitan di media cetak atau media online. Sayangnya, karya-karya semacam ini sering dianalogikan sebagai pencapaian dalam membangun pencitraan diri.

Sungguh prihatin, jika definisi modernitas sastra dalam pendidikan kini berjalan limbung, sastra terjun bebas! Atau  bisa jadi, sastra menjadi impresif untuk mencari jati diri baru. Memaknai revolusi zaman sebagai perubahan era modern menuju era postmodernis.[T]

Grehasta Sastra: Sastra sebagai Pegangan dalam Membina Rumah Tangga
Menduniakan Sastra Indonesia, Pemerintah Bisa Tiru Korea
Merayakan Chairil, Membincangkan Sastra dalam Pekan Sastra Saraswati 2023
Ubud, Bukan Hanya Terasering Tetapi Juga Festival Sastra
Tags: modernpandemisastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pembinaan Bahasa Indonesia di Lingkungan Keluarga Dengan Media Game Wordwall

Next Post

Suara Dalang Mengalun Lantang: Melintas Hingga Ranah Politik

Vito Prasetyo

Vito Prasetyo

Lahir di Makassar, Februari 1964. Kini tinggal di Kabupaten Malang. Pernah kuliah di IKIP Makassar.

Related Posts

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

by Sugi Lanus
August 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

Read moreDetails

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails
Next Post
Kepopuleran Pengundang Leak Dalam Wayang Calonarang

Suara Dalang Mengalun Lantang: Melintas Hingga Ranah Politik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  
Khas

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

SAYA bersyukur  menjadi Panyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan merangkap sebagai Kepala Sekolah yang membina  remaja SMA. Posisi...

by I Nyoman Tingkat
August 4, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

by Sugi Lanus
August 4, 2026
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita
Ulas Pentas

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia
Khas

Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

TIM Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, yang diketuai oleh Ashlikhatul Fuaddah, pada Sabtu, 25 Juli 2026 menyelenggarakan kegiatan...

by Ashlikhatul Fuaddah
August 4, 2026
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co