25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sastra dalam Stereotip Modern

Vito Prasetyo by Vito Prasetyo
January 8, 2024
in Esai
Sastra dalam Stereotip Modern

Ilustrasi diolah tatkala.co dari Canva

SEBUAH stigma dalam revolusi sosial, bahwa dunia sastra seolah-olah terlepas dari dunia pendidikan. Orang tidak lagi melihat spektrum sastra sebagai bidang keilmuan yang juga turut membangun dan memajukan dunia pendidikan. Orang di sini, dalam artian kelompok masyarakat, yang hanya mengenal dunia pendidikan sebagai tempat atau lembaga penyerapan ilmu pengetahuan.

Sementara revolusi sosial sebagai pergeseran keilmuan dan pengetahuan yang disebabkan makin majunya era teknologi. Perspektif sastra dianalogikan sebagai ruang untuk berkreativitas bagi para pegiat sastra. Apakah ini sebuah konsepsi yang subjektif dan tidak tepat (stereotip).

Hal di atas tentunya harus dikaji dari beberapa dimensi, karena seyogianya konsep pemikiran sastra itu berorientasi humanis dan sastrawi. Sehingga kita tidak terjebak dengan asumsi yang menjustifikasi sebuah simpulan.

Kita tidak bisa bayangkan, jika suatu  saat ruang  sastra tak mampu lagi melakukan afagosis terhadap nilai-nilai sastrawi. Peradaban menjadi samar dan menakutkan. Pemikiran terhadap nilai-nilai teosentrisme (keyakinan untuk beragama) berubah menjadi ateisme. Bahkan, bumi ini menjadi ekstrem, peradaban berkecenderungan menuju sebuah muara yang diistilahkan dengan apokaliptik (berkaitan dengan kehancuran atau kiamat).

Pemikiran manusia menjadi dewa, menjadi Tuhan, dan ruang sastra dijadikan alat penindasan rasionalitas kepada orang-orang yang “tetap setia” pada nilai-nilai sakral teosentrisme. Afagosis yang secara terminologi adalah ketidakmampuan untuk makan, dianggap sebagai simbol kegagalan fisik untuk melepaskan kegelisahan, keresahan serta ikatan primordial— dalam interaksi sosial. Bisa jadi, muncul stigma tentang peradaban samar.

Tiga tahun silam atau lebih, ketika kita seakan dibelenggu oleh kondisi pandemi yang berkepanjangan, nalar kritis kita menjadi tersumbat, buntu, dan melahirkan kondisi-kondisi ambivalen, antara wujud dan tidak berwujud. Semua ruang seakan memunculkan potensi sikap kecurigaan, imbas dari wujud keterbatasan sosial dan ruang gerak ketika melewati fase kritis pandemi.

Dampaknya begitu lekat dengan mata manusia, di mana manusia memandang dunia luar seolah-olah seperti musuh yang harus diwaspadai. Ini menjadi ritmis duka yang begitu liris. Kehidupan seperti sebuah prosais yang menjenuhkan dan melelahkan.

Manusia menjadi apriori dan berperilaku sensitif. Fase genting dilewati, bagaimana harus keluar dari kota-kota yang digembok dan diawasi secara ketat, dengan apa yang dianalogikan lapisan regulasi. Dalam sebutan arkais, kota menjadi makna ambigu dan diistilahkan: panoptikum!

Pemaknaan ruang lingkup menjadi terbatas yang diakibatkan oleh penyebaran virus mematikan, memunculkan sebab-akibat, yang sebetulnya manusia gagal membacanya. Perilaku sosial yang menjadi tidak lazim, seakan mengubah peradaban.

Munculnya pemikiran baru dalam desakan frasa “samar dan entah”—tetapi  tetap diawasi oleh otoritas pemerintah. Maka, panoptikum menjadi alat yang dapat melihat atau menangkap semua benda sekaligus. Termasuk gerak-gerik masyarakat.

Di satu sisi, pilihan hidup adalah bagaimana harus bertahan dan dihadapkan pada aspek kestabilan ekonomi. Setiap fase masa, tentu ada yang diuntungkan dan ada yang dirugikan. Bagaimanapun, manusia adalah entitas sosial yang dilengkapi dengan nalar logika. Tinggal bagaimana cara konsep pilihan dalam pengejawantahan kondisi untuk melalui fase-fase sulit. Logika kita berkata, situasi ini dihadapi oleh hampir semua orang. Kondisi di mana dunia seakan dikepung oleh kecemasan akut.

Tidak terlepas dari sebuah pilihan, bahwa ruang kreativitas sastra adalah sebuah wujud dari entitas seni yang juga butuh dipertahankan dan dikembangkan. Semarak untuk mengembangkan kesasteraan, boleh dianggap sebagai upaya dari pelestarian sebagian cagar budaya. Ingat, pada satu sisi, manusia memiliki entitas sosial sebagai pengendali dari nilai-nilai budaya.

Tetapi, dalam kosakata budaya, sering dianggap bersentuhan dengan hal-hal yang secara kasat mata tidak nampak. Maka, dengan rumusan sederhana, kegiatan-kegiatan yang berbasis nilai seni dapat dianggap sebagai bagian dari kebudayaan.

Persoalannya, kebijakan yang bersifat politis memunculkan sikap pragmatis, bahwa untuk melepaskan diri dari keterpurukan ekonomi, harus ada  yang dikorbankan. Tekstual budaya dianggap kurang penting, dan menghambat teknis regulasi.

Setelah melewati fase kritis pandemi, muncul pertanyaan, ke arah mana dimensi dan konsep sastra ini dikembangkan? Di sini, penulis ingin mempersempit ruang dan berorientasi pada sastra. Di lain pihak, makin pesatnya teknologi informasi berbasis digital, ada hal-hal positif yang mendorong para pegiat sastra untuk tetap berkarya. Informasi akurat dan cepat, lebih mudah dijangkau karena makin banyaknya ruang digital yang setiap waktu dapat digunakan oleh siapa saja.

Seiring waktu berjalan, siapa pun sudah terjebak oleh kebutuhan teknologi, pembacaan era modern menjadi alibi pembenaran dalam menggunakan alat komunikasi berteknologi android. Melalui alat ini, siapa saja dapat menempatkan dirinya pada strata sosial yang instan.

Bagaimana dengan mudahnya orang mengakses sumber-sumber informasi sampai ke ujung dunia, hanya dengan bantuan perangkat teknologi, yang dinamakan ponsel, HP android, gadget, gawai, dan sejenisnya.

Bagaimana seseorang atau siapa saja yang menulis karya sastra, dan terpublikasi dalam jejaring sosial apa pun, dengan mudahnya menjadi sastrawan; menjadi penyair; menjadi penulis, sekalipun indikator karyanya sangat subjektif.

Ruang kreativitas sastra menjadi terbuka lebar, yang kemudian siapa pun berlomba-lomba ingin disebut penyair, atau ingin disebut sastrawan, tanpa memahami apa esensi dan tujuan penulisannya. Di mana-dimana, tampilan karya sastra lebih menonjolkan aspek popularitas seseorang daripada bobot tulisannya. Zaman menjadi sebuah era pencitraan.

Tentu kita tidak menolak dan bersikap skeptis terhadap karya-karya sastra baru, yang setiap waktu bermunculan. Mungkin karena keterbatasan para penulis atau pengarang yang menerjemahkan konsep modernitas sastra. Dalam sudut pandang penulis, karya-karya sastra yang hadir kini, sangat minim dengan kritikan.

Bisa jadi, karena para pegiat sastra menjadi saling memafhumkan satu sama lainnya dan lebih memilih cara serta jalannya sendiri-sendiri. Entah apakah sastra itu akan terjun bebas, atau sekadar lewat dalam ruang-ruang virtual. Sebuah penafsiran sangat ambivalen, sastra menjadi inferior (bermutu rendah).

Dalam kisah klasik, perseteruan “dunia barat” dan “dunia timur” seakan memunculkan persaingan tiada henti. Di mana, dalam anggapan tipo, merupakan tempat yang tidak memiliki garis batas dengan jelas. Kita terjebak dengan sebuah frasa, yang sebetulnya kandungan makna linguistik.

Kita digiring dalam pemahaman imaji, yang membuat batasan-batasan logika kita menganggap dunia barat jauh lebih maju dari dunia timur. Seolah-olah konsep peradaban dunia dimulai dari barat. Dunia barat dianggap sebagai pencetus peradaban maju dan modern.

Lebih lanjut, dalam ruang waktu berbeda, karya-karya sastra menjadi jalan dalam memunculkan aliran atau genre sastra. Tetapi, jika ditelisik lebih mendalam, apakah esensi sastra mengenal dengan sebuah pembaharuan seperti peredaran zaman yang menuju era modern?

Maka, konsep ini melengkapi garis-garis batas yang tidak jelas. Mungkin akan muncul pertanyaan, bagaimana dengan peredaran masa sastra Indonesia yang dibatasi oleh sebutan “angkatan”? Katakan seperti Angkatan Pujangga Lama, Angkatan Pujangga’45, Angkatan Pujangga Baru, Balai Pustaka, dan seterusnya.

Dalam kutipan seorang penulis, Ayu Utami mengatakan: “bukan hiduplah jika tak terus bergerak”. Ini mungkin bisa kita anggap sebagai pembenaran bagi masa-masa yang dilewati oleh pelaku-pelaku sastra.

Maka, kalau saat ini bermunculan pegiat-pegiat sastra yang memaknai kreativitasnya sebagai sebuah ukuran di mana sastra itu juga hidup dan bergerak, ini karena ekses dari buntunya ruang kreatif pada masa pandemi. Pemikiran menjadi tersekat, dan terkadang dalam makna arkais seakan terpenjara.

Judul di atas sepertinya memunculkan analogi sarkasme atau yang lebih santun, mungkin sedikit arkais, meski bagi penulis tidak bermaksud menciptakan satire liar seperti dalam karya-karya puisi. Tetapi bagaimana karya sastra berada pada kedudukannya, yang seyogianya melewati fase-fase terukur seperti dalam proses pendidikan. Sebab sastra tidak hanya semata dilihat pada kacamata hiburan, karena dalam proses penulisannya lebih banyak menggunakan imajinasi, tetapi ini harus dimaknai sebagai sebuah edukasi yang mampu membaca dan menelaah stereotip modern.

Maka dalam pengukuhan karya sastra yang berada dalam ruang stereotip modern, ada 3 (tiga) hal yang harus dicapai, yakni: transisi, transformasi, dan edukasi. Meski dalam perjalanannya untuk mencapai sebuah tujuan, dapat dilakukan secara individu maupun kelompok atau komunitas.

Konsep modernitas, tidak hanya sekadar membaca transisi dan transformasi teknologi digital, tetapi bagaimana aspek ini dijadikan proses pematangan karya-karya sastra. Termasuk juga pada aspek edukasi bagaimana sebuah karya sastra ini mampu memberikan resultansi positif dalam konteks sosial. Sebab konsep modernitas sastra itu, adalah keseluruhan dunia semesta dalam persaingan karya sastra dunia.

Dalam kilas balik sastra Indonesia, kadang atau bahkan menjadi sebuah seremonial, yang mengukuhkan pengakuan kesasteraan Indonesia ini dengan kejayaan penyair Chairil Anwar. Tetapi kita tidak menutup mata, bahwa dunia sastra itu juga banyak melahirkan penulis-penulis hebat melalui karya novel, cerpen, esai atau bentuk-bentuk lainnya dalam bentuk karya fiksi. Bisa jadi, karena terlalu banyaknya sudut pandang berbeda terhadap karya sastra kekinian, yang semuanya butuh label modernitas.

Jika kita mengaca pada proses transisi, transformasi dan edukasi, maka selayaknya kehidupan semarak sastra itu menjadi simpul perekat dalam dunia pendidikan. Bagaimana karya sastra yang dihasilkan membuka cakrawala pengetahuan dan wawasan baru dalam pendidikan.

Sastra yang merupakan peninggalan budaya bangsa, dalam konteks pendidikan nasional, merupakan aset bangsa karena kedudukannya sama dengan bahasa. Kajian ini didasarkan pada PP Nomor 57 Tahun 2014 tentang Pengembangan, Pembinaan dan Perlindungan Bahasa & Sastra, serta Peningkatan Fungsi Bahasa.

Memang tidak mudah, untuk menempatkan ruang sastra dalam pendidikan formal, karena kerangka pendidikan tidak akan terlepas dengan sistem kurikulum. Sementara semarak kehidupan sastra bersifat kontekstual, berjalan dengan cara dan tujuannya masing-masing. Serta adanya asumsi teori, membedakannya dalam keilmuan yang melihat definisi sastra sebagai ruang kreasi yang tidak bersifat otonom. Sementara pendidikan sebagai fase pembelajaran yang di dalamnya dituntut untuk penyerapan ilmu pengetahuan.

Maka secara eksplisit kita bisa melihat konsep modernitas itu menjadi tidak sejalan antara dunia pendidikan dan dunia sastra. Pendidikan dalam kesejatian pemikiran kebanyakan orang lebih bersifat formal, sementara sastra lebih cenderung kepada nilai-nilai imajiner yang berada dalam lingkup sosial untuk menghasilkan nilai seni keindahan kata. Pendidikan berada dalam kerangka keterikatan sistem, sementara sastra pada ranahnya sendiri.

Sebagaimana deskripsi di atas, konsepsi stereotip modern bagi pelaku sastra memiliki definisi yang berbeda, karena tidak ada aturan yang mengikat secara legal formal. Karya sastra menjadi ajang perlombaan yang tidak memiliki arah jelas.

Dunia sastra menjadi medium tanpa pandangan yang terorganisir dalam pencapaian keilmuan, meski ini begitu pragmatis (jika) disebut sebagai keilmuan. Dalam perspektif penulis, keilmuan itu harus memiliki indikator (nilai ukur) yang jelas. Sastra lebih cenderung kepada nilai-nilai subjektif.

Dalam pencapaian tertinggi di bidang sastra, sebetulnya banyak lomba atau wadah yang bisa dijadikan keberhasilan karya sastra. Misalnya, melalui penerbitan di media cetak atau media online. Sayangnya, karya-karya semacam ini sering dianalogikan sebagai pencapaian dalam membangun pencitraan diri.

Sungguh prihatin, jika definisi modernitas sastra dalam pendidikan kini berjalan limbung, sastra terjun bebas! Atau  bisa jadi, sastra menjadi impresif untuk mencari jati diri baru. Memaknai revolusi zaman sebagai perubahan era modern menuju era postmodernis.[T]

Grehasta Sastra: Sastra sebagai Pegangan dalam Membina Rumah Tangga
Menduniakan Sastra Indonesia, Pemerintah Bisa Tiru Korea
Merayakan Chairil, Membincangkan Sastra dalam Pekan Sastra Saraswati 2023
Ubud, Bukan Hanya Terasering Tetapi Juga Festival Sastra
Tags: modernpandemisastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pembinaan Bahasa Indonesia di Lingkungan Keluarga Dengan Media Game Wordwall

Next Post

Suara Dalang Mengalun Lantang: Melintas Hingga Ranah Politik

Vito Prasetyo

Vito Prasetyo

Lahir di Makassar, Februari 1964. Kini tinggal di Kabupaten Malang. Pernah kuliah di IKIP Makassar.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Kepopuleran Pengundang Leak Dalam Wayang Calonarang

Suara Dalang Mengalun Lantang: Melintas Hingga Ranah Politik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co