24 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sastra dalam Stereotip Modern

Vito Prasetyo by Vito Prasetyo
January 8, 2024
in Esai
Sastra dalam Stereotip Modern

Ilustrasi diolah tatkala.co dari Canva

SEBUAH stigma dalam revolusi sosial, bahwa dunia sastra seolah-olah terlepas dari dunia pendidikan. Orang tidak lagi melihat spektrum sastra sebagai bidang keilmuan yang juga turut membangun dan memajukan dunia pendidikan. Orang di sini, dalam artian kelompok masyarakat, yang hanya mengenal dunia pendidikan sebagai tempat atau lembaga penyerapan ilmu pengetahuan.

Sementara revolusi sosial sebagai pergeseran keilmuan dan pengetahuan yang disebabkan makin majunya era teknologi. Perspektif sastra dianalogikan sebagai ruang untuk berkreativitas bagi para pegiat sastra. Apakah ini sebuah konsepsi yang subjektif dan tidak tepat (stereotip).

Hal di atas tentunya harus dikaji dari beberapa dimensi, karena seyogianya konsep pemikiran sastra itu berorientasi humanis dan sastrawi. Sehingga kita tidak terjebak dengan asumsi yang menjustifikasi sebuah simpulan.

Kita tidak bisa bayangkan, jika suatu  saat ruang  sastra tak mampu lagi melakukan afagosis terhadap nilai-nilai sastrawi. Peradaban menjadi samar dan menakutkan. Pemikiran terhadap nilai-nilai teosentrisme (keyakinan untuk beragama) berubah menjadi ateisme. Bahkan, bumi ini menjadi ekstrem, peradaban berkecenderungan menuju sebuah muara yang diistilahkan dengan apokaliptik (berkaitan dengan kehancuran atau kiamat).

Pemikiran manusia menjadi dewa, menjadi Tuhan, dan ruang sastra dijadikan alat penindasan rasionalitas kepada orang-orang yang “tetap setia” pada nilai-nilai sakral teosentrisme. Afagosis yang secara terminologi adalah ketidakmampuan untuk makan, dianggap sebagai simbol kegagalan fisik untuk melepaskan kegelisahan, keresahan serta ikatan primordial— dalam interaksi sosial. Bisa jadi, muncul stigma tentang peradaban samar.

Tiga tahun silam atau lebih, ketika kita seakan dibelenggu oleh kondisi pandemi yang berkepanjangan, nalar kritis kita menjadi tersumbat, buntu, dan melahirkan kondisi-kondisi ambivalen, antara wujud dan tidak berwujud. Semua ruang seakan memunculkan potensi sikap kecurigaan, imbas dari wujud keterbatasan sosial dan ruang gerak ketika melewati fase kritis pandemi.

Dampaknya begitu lekat dengan mata manusia, di mana manusia memandang dunia luar seolah-olah seperti musuh yang harus diwaspadai. Ini menjadi ritmis duka yang begitu liris. Kehidupan seperti sebuah prosais yang menjenuhkan dan melelahkan.

Manusia menjadi apriori dan berperilaku sensitif. Fase genting dilewati, bagaimana harus keluar dari kota-kota yang digembok dan diawasi secara ketat, dengan apa yang dianalogikan lapisan regulasi. Dalam sebutan arkais, kota menjadi makna ambigu dan diistilahkan: panoptikum!

Pemaknaan ruang lingkup menjadi terbatas yang diakibatkan oleh penyebaran virus mematikan, memunculkan sebab-akibat, yang sebetulnya manusia gagal membacanya. Perilaku sosial yang menjadi tidak lazim, seakan mengubah peradaban.

Munculnya pemikiran baru dalam desakan frasa “samar dan entah”—tetapi  tetap diawasi oleh otoritas pemerintah. Maka, panoptikum menjadi alat yang dapat melihat atau menangkap semua benda sekaligus. Termasuk gerak-gerik masyarakat.

Di satu sisi, pilihan hidup adalah bagaimana harus bertahan dan dihadapkan pada aspek kestabilan ekonomi. Setiap fase masa, tentu ada yang diuntungkan dan ada yang dirugikan. Bagaimanapun, manusia adalah entitas sosial yang dilengkapi dengan nalar logika. Tinggal bagaimana cara konsep pilihan dalam pengejawantahan kondisi untuk melalui fase-fase sulit. Logika kita berkata, situasi ini dihadapi oleh hampir semua orang. Kondisi di mana dunia seakan dikepung oleh kecemasan akut.

Tidak terlepas dari sebuah pilihan, bahwa ruang kreativitas sastra adalah sebuah wujud dari entitas seni yang juga butuh dipertahankan dan dikembangkan. Semarak untuk mengembangkan kesasteraan, boleh dianggap sebagai upaya dari pelestarian sebagian cagar budaya. Ingat, pada satu sisi, manusia memiliki entitas sosial sebagai pengendali dari nilai-nilai budaya.

Tetapi, dalam kosakata budaya, sering dianggap bersentuhan dengan hal-hal yang secara kasat mata tidak nampak. Maka, dengan rumusan sederhana, kegiatan-kegiatan yang berbasis nilai seni dapat dianggap sebagai bagian dari kebudayaan.

Persoalannya, kebijakan yang bersifat politis memunculkan sikap pragmatis, bahwa untuk melepaskan diri dari keterpurukan ekonomi, harus ada  yang dikorbankan. Tekstual budaya dianggap kurang penting, dan menghambat teknis regulasi.

Setelah melewati fase kritis pandemi, muncul pertanyaan, ke arah mana dimensi dan konsep sastra ini dikembangkan? Di sini, penulis ingin mempersempit ruang dan berorientasi pada sastra. Di lain pihak, makin pesatnya teknologi informasi berbasis digital, ada hal-hal positif yang mendorong para pegiat sastra untuk tetap berkarya. Informasi akurat dan cepat, lebih mudah dijangkau karena makin banyaknya ruang digital yang setiap waktu dapat digunakan oleh siapa saja.

Seiring waktu berjalan, siapa pun sudah terjebak oleh kebutuhan teknologi, pembacaan era modern menjadi alibi pembenaran dalam menggunakan alat komunikasi berteknologi android. Melalui alat ini, siapa saja dapat menempatkan dirinya pada strata sosial yang instan.

Bagaimana dengan mudahnya orang mengakses sumber-sumber informasi sampai ke ujung dunia, hanya dengan bantuan perangkat teknologi, yang dinamakan ponsel, HP android, gadget, gawai, dan sejenisnya.

Bagaimana seseorang atau siapa saja yang menulis karya sastra, dan terpublikasi dalam jejaring sosial apa pun, dengan mudahnya menjadi sastrawan; menjadi penyair; menjadi penulis, sekalipun indikator karyanya sangat subjektif.

Ruang kreativitas sastra menjadi terbuka lebar, yang kemudian siapa pun berlomba-lomba ingin disebut penyair, atau ingin disebut sastrawan, tanpa memahami apa esensi dan tujuan penulisannya. Di mana-dimana, tampilan karya sastra lebih menonjolkan aspek popularitas seseorang daripada bobot tulisannya. Zaman menjadi sebuah era pencitraan.

Tentu kita tidak menolak dan bersikap skeptis terhadap karya-karya sastra baru, yang setiap waktu bermunculan. Mungkin karena keterbatasan para penulis atau pengarang yang menerjemahkan konsep modernitas sastra. Dalam sudut pandang penulis, karya-karya sastra yang hadir kini, sangat minim dengan kritikan.

Bisa jadi, karena para pegiat sastra menjadi saling memafhumkan satu sama lainnya dan lebih memilih cara serta jalannya sendiri-sendiri. Entah apakah sastra itu akan terjun bebas, atau sekadar lewat dalam ruang-ruang virtual. Sebuah penafsiran sangat ambivalen, sastra menjadi inferior (bermutu rendah).

Dalam kisah klasik, perseteruan “dunia barat” dan “dunia timur” seakan memunculkan persaingan tiada henti. Di mana, dalam anggapan tipo, merupakan tempat yang tidak memiliki garis batas dengan jelas. Kita terjebak dengan sebuah frasa, yang sebetulnya kandungan makna linguistik.

Kita digiring dalam pemahaman imaji, yang membuat batasan-batasan logika kita menganggap dunia barat jauh lebih maju dari dunia timur. Seolah-olah konsep peradaban dunia dimulai dari barat. Dunia barat dianggap sebagai pencetus peradaban maju dan modern.

Lebih lanjut, dalam ruang waktu berbeda, karya-karya sastra menjadi jalan dalam memunculkan aliran atau genre sastra. Tetapi, jika ditelisik lebih mendalam, apakah esensi sastra mengenal dengan sebuah pembaharuan seperti peredaran zaman yang menuju era modern?

Maka, konsep ini melengkapi garis-garis batas yang tidak jelas. Mungkin akan muncul pertanyaan, bagaimana dengan peredaran masa sastra Indonesia yang dibatasi oleh sebutan “angkatan”? Katakan seperti Angkatan Pujangga Lama, Angkatan Pujangga’45, Angkatan Pujangga Baru, Balai Pustaka, dan seterusnya.

Dalam kutipan seorang penulis, Ayu Utami mengatakan: “bukan hiduplah jika tak terus bergerak”. Ini mungkin bisa kita anggap sebagai pembenaran bagi masa-masa yang dilewati oleh pelaku-pelaku sastra.

Maka, kalau saat ini bermunculan pegiat-pegiat sastra yang memaknai kreativitasnya sebagai sebuah ukuran di mana sastra itu juga hidup dan bergerak, ini karena ekses dari buntunya ruang kreatif pada masa pandemi. Pemikiran menjadi tersekat, dan terkadang dalam makna arkais seakan terpenjara.

Judul di atas sepertinya memunculkan analogi sarkasme atau yang lebih santun, mungkin sedikit arkais, meski bagi penulis tidak bermaksud menciptakan satire liar seperti dalam karya-karya puisi. Tetapi bagaimana karya sastra berada pada kedudukannya, yang seyogianya melewati fase-fase terukur seperti dalam proses pendidikan. Sebab sastra tidak hanya semata dilihat pada kacamata hiburan, karena dalam proses penulisannya lebih banyak menggunakan imajinasi, tetapi ini harus dimaknai sebagai sebuah edukasi yang mampu membaca dan menelaah stereotip modern.

Maka dalam pengukuhan karya sastra yang berada dalam ruang stereotip modern, ada 3 (tiga) hal yang harus dicapai, yakni: transisi, transformasi, dan edukasi. Meski dalam perjalanannya untuk mencapai sebuah tujuan, dapat dilakukan secara individu maupun kelompok atau komunitas.

Konsep modernitas, tidak hanya sekadar membaca transisi dan transformasi teknologi digital, tetapi bagaimana aspek ini dijadikan proses pematangan karya-karya sastra. Termasuk juga pada aspek edukasi bagaimana sebuah karya sastra ini mampu memberikan resultansi positif dalam konteks sosial. Sebab konsep modernitas sastra itu, adalah keseluruhan dunia semesta dalam persaingan karya sastra dunia.

Dalam kilas balik sastra Indonesia, kadang atau bahkan menjadi sebuah seremonial, yang mengukuhkan pengakuan kesasteraan Indonesia ini dengan kejayaan penyair Chairil Anwar. Tetapi kita tidak menutup mata, bahwa dunia sastra itu juga banyak melahirkan penulis-penulis hebat melalui karya novel, cerpen, esai atau bentuk-bentuk lainnya dalam bentuk karya fiksi. Bisa jadi, karena terlalu banyaknya sudut pandang berbeda terhadap karya sastra kekinian, yang semuanya butuh label modernitas.

Jika kita mengaca pada proses transisi, transformasi dan edukasi, maka selayaknya kehidupan semarak sastra itu menjadi simpul perekat dalam dunia pendidikan. Bagaimana karya sastra yang dihasilkan membuka cakrawala pengetahuan dan wawasan baru dalam pendidikan.

Sastra yang merupakan peninggalan budaya bangsa, dalam konteks pendidikan nasional, merupakan aset bangsa karena kedudukannya sama dengan bahasa. Kajian ini didasarkan pada PP Nomor 57 Tahun 2014 tentang Pengembangan, Pembinaan dan Perlindungan Bahasa & Sastra, serta Peningkatan Fungsi Bahasa.

Memang tidak mudah, untuk menempatkan ruang sastra dalam pendidikan formal, karena kerangka pendidikan tidak akan terlepas dengan sistem kurikulum. Sementara semarak kehidupan sastra bersifat kontekstual, berjalan dengan cara dan tujuannya masing-masing. Serta adanya asumsi teori, membedakannya dalam keilmuan yang melihat definisi sastra sebagai ruang kreasi yang tidak bersifat otonom. Sementara pendidikan sebagai fase pembelajaran yang di dalamnya dituntut untuk penyerapan ilmu pengetahuan.

Maka secara eksplisit kita bisa melihat konsep modernitas itu menjadi tidak sejalan antara dunia pendidikan dan dunia sastra. Pendidikan dalam kesejatian pemikiran kebanyakan orang lebih bersifat formal, sementara sastra lebih cenderung kepada nilai-nilai imajiner yang berada dalam lingkup sosial untuk menghasilkan nilai seni keindahan kata. Pendidikan berada dalam kerangka keterikatan sistem, sementara sastra pada ranahnya sendiri.

Sebagaimana deskripsi di atas, konsepsi stereotip modern bagi pelaku sastra memiliki definisi yang berbeda, karena tidak ada aturan yang mengikat secara legal formal. Karya sastra menjadi ajang perlombaan yang tidak memiliki arah jelas.

Dunia sastra menjadi medium tanpa pandangan yang terorganisir dalam pencapaian keilmuan, meski ini begitu pragmatis (jika) disebut sebagai keilmuan. Dalam perspektif penulis, keilmuan itu harus memiliki indikator (nilai ukur) yang jelas. Sastra lebih cenderung kepada nilai-nilai subjektif.

Dalam pencapaian tertinggi di bidang sastra, sebetulnya banyak lomba atau wadah yang bisa dijadikan keberhasilan karya sastra. Misalnya, melalui penerbitan di media cetak atau media online. Sayangnya, karya-karya semacam ini sering dianalogikan sebagai pencapaian dalam membangun pencitraan diri.

Sungguh prihatin, jika definisi modernitas sastra dalam pendidikan kini berjalan limbung, sastra terjun bebas! Atau  bisa jadi, sastra menjadi impresif untuk mencari jati diri baru. Memaknai revolusi zaman sebagai perubahan era modern menuju era postmodernis.[T]

Grehasta Sastra: Sastra sebagai Pegangan dalam Membina Rumah Tangga
Menduniakan Sastra Indonesia, Pemerintah Bisa Tiru Korea
Merayakan Chairil, Membincangkan Sastra dalam Pekan Sastra Saraswati 2023
Ubud, Bukan Hanya Terasering Tetapi Juga Festival Sastra
Tags: modernpandemisastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pembinaan Bahasa Indonesia di Lingkungan Keluarga Dengan Media Game Wordwall

Next Post

Suara Dalang Mengalun Lantang: Melintas Hingga Ranah Politik

Vito Prasetyo

Vito Prasetyo

Lahir di Makassar, Februari 1964. Kini tinggal di Kabupaten Malang. Pernah kuliah di IKIP Makassar.

Related Posts

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

by Chusmeru
June 24, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

Read moreDetails

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails
Next Post
Kepopuleran Pengundang Leak Dalam Wayang Calonarang

Suara Dalang Mengalun Lantang: Melintas Hingga Ranah Politik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja
Pemerintahan

Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja

SINGARAJA – TATKALA.CO | Wajah baru kawasan Titik Nol Kota Singaraja mulai terlihat. Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, didampingi Wakil...

by tatkala
June 24, 2026
Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co