2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Grehasta Sastra: Sastra sebagai Pegangan dalam Membina Rumah Tangga

Putu Eka Guna Yasa by Putu Eka Guna Yasa
October 15, 2023
in Esai
Pawisik Durga, Galungan, dan Cinta Kasih

Putu Eka Guna Yasa

DALAM siklus hidup masyarakat Hindu Bali, memasuki masa grehasta ‘menikah dan membina rumah tangga’ merupakan suatu kewajiban. Tujuannya jelas, hanya dengan memasuki masa grehasta seseorang bisa menghasilkan keturunan. Keturanan inilah yang nantinya diharapkan bisa membebaskan orang tuanya dari berbagai duka nestapa, baik pada saat hidup maupun setelah kematian. 

Saat hidup, seorang anak diharapkan menjadi pelita penerang keluarga terutama ketika umur orang tua sudah memasuki masa senja. Anaklah tumpuan harapan para orang tua untuk merawatnya, sama seperti ketika mereka dulu merawat putra atau putrinya dengan penuh kasih.

Tak hanya saat hidup, cerita Jaratkaru dengan benderang menarasikan bahwa leluhur Sang Jaratkaru sangat menderita ketika dirinya memutuskan untuk melakukan brahmacari alias tak menikah seumur hidup. Meski leluhurnya seorang pertapa hebat, jiwanya tetap saja menderita. Sebab, jiwa leluhurnya digantung di sebuah bambu yang tumbuh di atas jurang terjal, dan setiap saat ada seekor tikus menggerogotinya. Jiwa sang pertapa yang melayang di jurang itu hanya bisa diselamatkan dengan satu cara yaitu menikahkan Sang Jaratkaru sehingga menghasilkan keturunan. Sebagai anak yang bakti, tentu Sang Jaratkaru memutuskan untuk menikah. Ia akhirnya menikah dengan seseorang yang bernama sama dengan dirinya, yaitu Nagini Jaratkaru-keturunan bangsa ular.

Cerita ini menegaskan bahwa menikah bukan hanya sekedar kebutuhan, tetapi kewajiban. Meski menjadi kewajiban, memasuki gerbang pernikahan bukanlah suatu yang mudah. Dalam konteks Bali, setidaknya ada tiga hal yang menjadi potensi konflik ketika mulai membangun suatu rumah tangga.

Tiga hal itu dalam bahasa Bali adalah genah, galah, dan jinah. Genah bermakna tempat dan cara menempatkan diri. Galah bermakna waktu dan cara memanajemen waktu. Jinah bermakna uang dan cara mengelola uang. Ketiga hal itulah yang menentukan benyah atau bagianya kehidupan seseorang yang baru menempuh masa awal pernikahan.

Genah atau tempat biasanya menjadi sumber masalah apabila seseorang dan satu keluarga sama-sama tidak bisa menempatkan diri. Terlebih, keluarga yang baru menikah itu masih satu atap dengan orang tuanya. Potensi konflik tentu berasal dari intens dan seringnya interaksi yang terjalin. Orang Bali biasanya menyatakan dengan ungkapan paak mabo bengu, joh mabo miik ‘dekat berbau busuk, jauh beraroma harum’. Intinya, seorang anak yang sudah menikah mesti memberi sedikit jarak dengan keluarganya sehingga ada ruang-ruang sayang dan relung-relung rindu yang masih tersisa.

Kemampuan menempatkan diri menjadi sama-sama penting dalam memasuki kehidupan rumah tangga baru. Mertua, ipar, dan keluarga lain mesti sadar bahwa seorang perempuan yang baru menikah pasti perlu waktu untuk beradaptasi. Sebab, istri dari anaknya itu menghabiskan waktu belasan tahun di keluarga asalnya. Di keluarga asal itu, mereka pasti punya kebiasaan dan aturan yang tidak sama dengan keluarga barunya. Sementara itu, sang menantu juga mesti rendah hati melihat berbagai hal baru yang ada di lingkungannya. Dengan cara itulah ia akan bisa menyesuaikan diri dengan cepat dan tepat. Tak hanya itu, perempuan yang bisa rendah hati tak akan bisa dijatuhkan.

Di samping genah, potensi konflik biasanya muncul dari galah atau cara mengatur waktu. Dengan jarak ruang yang ada ketika pacaran, seseorang selalu berusaha mengatur waktu untuk bisa berkomunikasi dan bertemu. Bahkan, ada yang lebih dari tiga hari sekali menghubungi pasangannya masing-masing. Hal ini tentu sangat berbeda dengan situasi ketika sudah menikah, apalagi kebutuhan keluarga yang semakin meningkat ketika kelahiran orang ketiga yaitu anak. Sang ibu cenderung sibuk bersama anaknya, sementara sang ayah cenderung sibuk dengan pekerjaannya mencari nafkah. Situasi ini tak jarang menyebabkan setiap pasangan kehilangan waktu-waktu intim seperti masa pacaran sehingga berujung perceraian.

Berangkat dari sejumlah hal itulah mengatur waktu menjadi sangat penting dalam membina keluarga baru. Waktu memiliki nilai yang tidak pernah kembali, meski sejam, semenit, dan sedetik sekalipun. Oleh sebab itulah, pemberian yang tertinggi sesungguhnya terletak pada pemberian waktu. Terlebih, hidup ini sesungguhnya sangat singkat, karena dipotong tidur, lupa, sakit, dan mungkin pula bermain media sosial.

Jika masalah dengan waktu sudah bisa diatasi, potensi konflik yang lain bisa berasal dari jinah atau kemampuan mengelola keuangan. Mengatur keuangan adalah salah satu kunci penting membina keluarga. Pengaturan keuangan tak selalu berhubungan dengan besar atau kecilnya penghasilan. Meski penghasilannya kecil, jika uang keluarga diatur dengan baik, sebuah keluarga pasti bisa memenuhi segala kebutuhan hidupnya. Demikian pula sebaliknya, meski penghasilannya besar, jika keluarga itu selalu memenuhi segala keinginan maka segala kebutuhan keluarga bisa saja selalu kekurangan. 

Demikianlah, genah, galah, dan jinah selalu menjadi riak-riak dan gelombang dalam mengayuh perahu rumah tangga. Lalu apakah kunci agar bisa selalu tenang menghadapi ketiga hal itu? Jawabannya sederhana, yaitu ‘kesetiaan’. [T]

  • Klik untuk BACA artikel lain dari penulis PUTU EKA GUNA YASA
Ulah Telu dalam Niti Raja Sasana: Cara Menakar Rekam Jejak Pemimpin dari Literasi Politik Bali
Bayang-Bayang Belanda di Bali Abad XIX: Catatan dari Kidung Bhuwana Winasa dan Yadnyeng Ukir Karya Ida Padanda Ngurah
Hari Lahir dan Pantangan Makanannya dalam Lontar Pawetuan Jadma Ala Ayu
Menjadi Manusia Merdeka: Catatan dari Adikawya Kakawin Rāmāyana

Tags: hinduRumah Tanggasastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kini Ada “Rumah Tanjung Bungkak” di Denpasar: Seni, Creative Hub, dan Socio-Commercial Enterprise

Next Post

Kita Semua Adalah Politisi

Putu Eka Guna Yasa

Putu Eka Guna Yasa

Pembaca lontar, dosen FIB Unud, aktivitis BASAbali Wiki

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Kisah-kisah Unik Pendidikan Dokter | Merayakan HUT ke-4 FK Undiksha

Kita Semua Adalah Politisi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co