14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bayang-Bayang Belanda di Bali Abad XIX: Catatan dari Kidung Bhuwana Winasa dan Yadnyeng Ukir Karya Ida Padanda Ngurah

Putu Eka Guna Yasa by Putu Eka Guna Yasa
September 3, 2023
in Esai
Pawisik Durga, Galungan, dan Cinta Kasih

Putu Eka Guna Yasa

MEMASUKI bulan September, kenangan tentang perang Puputan Badung yang menewaskan ribuan rakyat Bali  selalu membayangi kening. Kita yang hidup saat ini seperti amnesia bahwa nun jauh di abad XIX gerombolan orang berkulit putih, berhidung mancung, dan berambut pirang pernah menyerang rakyat Bali dengan bedil-meriam. Tak sedikit anak-anak dan perempuan yang seharusnya tidak turun ke medan laga, justru dengan nyali yang menyala ikut melakukan perlawanan.

Pertumpahan darah pun tak terelakkan. Peristiwa berdarah yang terjadi pada tanggal 20 September 1906 itu menjadi penanda sejarah tunduknya Bali Selatan di bawah kekuasaan Belanda. Menyusul dua tahun setelahnya, Belanda akhirnya berhasil pula mengalahkan Kerajaan Klungkung pada tanggal 28 April 1908.

Peristiwa kelam atas perang Puputan Badung dan Puputan Klungkung tampaknya sangat membekas di hati seorang kawi-wiku (pendeta-sastrawan) Ida Padanda Ngurah yang berasal dari Gria Gede Belayu-Tabanan. Ida Padanda Ngurah sendiri secara khusus telah mencatat perang dahsyat yang menelan ribuan korban tersebut dalam karya sastra berjudul Kidung Bhuwana Winasa atau Rundah Pulina. Dari kreativitas yang dilakukan Ida Padanda Ngurah, kredo yang menyatakan bahwa sejarah hanya ditulis oleh pemenang tampaknya tidak berlaku dalam konteks Bali. Sebab, usai kalah bertempur dengan keris, para pujangga justru tak kenal lelah mengangkat pisau tulis untuk mengabadikan peristiwa itu dari sudut pandangnya sendiri.

Puputan Badung dan Klungkung dalam Bhuwana Winasa

Dari Kidung Bhuwana Winasa yang ditulis oleh Ida Padanda Ngurah kita tahu bahwa Puputan Badung diawali dengan tuduhan Belanda atas perampasan kapal dagang Sri Komala oleh masyarakat Sanur. I Gusti Ngurah Made Agung sebagai Raja Denpasar melakukan konfirmasi atas tudingan itu. Setelah masyarakat Sanur menyatakan bahwa mereka tidak melakukan penjarahan melalui sumpah, Raja Denpasar memaknai  itu sebagai alasan Belanda untuk menyerang Kerajaan Badung. Maka, Raja Denpasar pun mempersiapkan diri dengan melakukan serangkaian upacara pitra yadnya untuk kakaknya, berkonsultasi dengan para pendeta penasihat kerajaan, termasuk memercikkan tirta pangentas bagi mereka yang akan turun ke medan tempur.

Pilihan Raja Denpasar dalam suatu diskusi yang sangat intim dengan para penasihat kerajaan jatuh pada mati di jalan sunya merta yang artinya gugur di medan tempur. Rakyat Badung yang merasa terancam kedaulatan atas tanah dan natahnya ikut dalam keputusan sang raja. Pertempuran dimulai dari Sanur menuju arah Tanjung Bungkak lalu menuju Sanglah dan merangsek ke wilayah Tain Siat. Di tempat itu, Raja Badung mengeluarkan keris Jala Kadingding dan Singaparaga sebagai senjata pamungkasnya, meski akhirnya tak sanggup melawan desing peluru yang ke luar dari bedil dan meriam Belanda. Raja Denpasar yang juga sastrawan itu menyatu dengan keabadian pada tanggal 20 September 1906 diiringi dengan peristiwa masatya dari rakyat dan permaisurinya.

Tak puas dengan kekalahan Kerajaan Denpasar, tantara Belanda memasang strategi lanjutan untuk menyerang Kerajaan Klungkung. Raja Klungkung yang bernama Ida I Dewa Agung Jambe tampaknya masih mewarisi prinsip bahwa jalan mati terbaik untuk ksatria bukanlah di tempat tidur, tetapi medan tempur. Cara bertahan yang terbaik adalah menyerangpun akhirnya dilakukan oleh ksatria Klungkung, meski kekalahan sejak awal sudah bisa dibayangkan. Setelah melewati pertarungan yang sengit, kepala pangeran yang pecah akibat peluru dan kematian sang raja pada tanggal 28 Apirl 1908 menjadi tanda takluknya Kerajaan Bali secara penuh di bawah kendali Belanda.

Bayang-Bayang Kekuasaan Belanda

Meski sudah menarasikan dengan sangat rinci peristiwa Puputan Badung dan Klungkung, bayang-bayang suram atas kekalahan Bali menghadapi Belanda juga masih muncul dalam karya sastra karangan Ida Padanda Ngurah yang lain, yaitu Kidung Yadnyeng Ukir. Kidung Yadnyeng Ukir yang berarti ‘senandung yadnya di gunung’ memang tidak langsung membahas konflik Bali vs Belanda. Karya sastra ini mengisahkan penyucian jagat di tiga puncak penting Bali yaitu Pucak Padang Dawa, Pura Beratan-Bedugul, dan Pura Luhur Wangaya (Batukaru). Entah ada hubungan apa upacara-upacara besar ini dengan tapak kekuasaan Belanda di Bali yang diraih melalui jalur perang. Adakah upacara ini dilakukan sebagai upaya untuk memulihkan keadaan Bali usai terjadi pertumpahan darah di berbagai wilayah? Kita simpan pertanyaan ini untuk benih tulisan yang lain.

Yang jelas, Ida Padanda Ngurah seolah merasa terpanggil untuk mewacanakan kembali peristiwa Puputan Badung dan kekalahan Sri Bandana Raja atau Raja Badung melalui Kidung Yadnyeng Ukir. Ida Padanda Ngurah bahkan mengatakan kekalahan Raja Badung oleh prawira Jawi sekaligus menandai kekalahan Kerajaan Bali (nging wus alah, ikanang bali puliṇnā, denikang prawirā jawi, saka kalān ikā, liman netra asti nattā, śiwa guru we anneki, antakān nira, śri natteng nambangan nguni). Jawi yang dimaksud dalam konteks ini adalah Belanda, sedangkan Sri Nateng Nambangan adalah Raja Badung.

Ungkapan Ida Padanda Ngurah ini secara tidak langsung mengindikasikan betapa kuat kerajaan Badung yang dimaknai merepresentasikan Bali, tentu selain Kerajaan Klungkung yang dijadikan junjungan raja-raja Bali. Secara politis, Kerajaan Badung di tahun tersebut memang baru saja mengalahkan Kerajaan Mengwi tahun 1891 Masehi yang bentang wilayahnya juga sangat luas. Di sisi lain, Kerajaan Badung memiliki koalisi dengan Kerajaan Tabanan karena berasal dari leluhur yang sama yaitu Arya Damar. Oleh sebab itu, dengan mengalahkan Badung, tiga kerajaan di Bali selatan secara tidak langsung dapat ditundukkan. Bagaimana dengan posisi kerajaan Bali yang lain? Kerajaan Bali yang lain tampaknya memilih jalur kompromis dengan Belanda! Hitunglah kerajaan Bali yang tidak melakukan puputan. Dari sana kita akan tahu kerajaan-kerajaan yang takluk terhadap Belanda tanpa sekalipun menghunus senjata.

Dengan demikian, sangat beralasan bagi Belanda untuk menyerang wilayah Bali Selatan dengan pintu masuk Kerajaan Badung. Badunglah yang dijadikan sasaran oleh Belanda setelah menaklukkan Kerajaan Singaraja tahun 1849. Belanda membutuhkan sekitar 57 tahun untuk mengalahkan Kerajaan Badung dan 59 tahun untuk menundukkan Kerajaan Klungkung. Apabila dihitung sejak keruntuhan Kerajaan Buleleng hingga kemerdekaan Indonesia tahun 1945, Belanda menguasai Bali sekitar 96 tahun. Nyaris satu abad.

Pasca penaklukkan Kerajaan Bali, Ida Padanda Ngurah secara samar-samar menyinggung wilayah Bali yang ditempati Belanda dan proses koordinasi raja-raja Bali dalam penyelenggaraan upacara yang juga harus mendapat persetujuan Belanda.

Dalam suatu perjalanan pulang dari tirta yatra di Pura Pulaki menuju Tabanan, Ida Padanda Ngurah menunjuk salah satu wilayah di Buleleng yang ditempati Belanda. Di wilayah yang bernama Panyabangan, pendeta yang gemar mendaki ini menyebut bahwa wilayah itu ditempati oleh seorang Belanda bernama Tuan van De Par (Tūr tinuju angungṣi ring panyabangān, twan pan dhĕ par angubonin). Entah siapa Tuan van De Par yang disebut oleh Ida Padanda Ngurah dan perannya dalam sistem pemerintahan Belanda. Yang jelas, ia masuk dalam ingatan sang pendeta.

Tidak hanya menyebutkan wilayah yang dikuasai Belanda, Ida Padanda Ngurah juga menarasikan realisasi penyelenggaraan suatu upacara di Pura Beratan-Tabanan yang dikoordinasikan oleh Kerajaan Belayu kepada Belanda. Sebelumnya, Kerajaan Belayu yang menjadi manggala karya telah melaporkan kepada Kerajaan Mengwi mengenai rencana upacara yang akan digelar di Pura Hulun Danu Beratan pada bulan Oktober. Setelah mendapat persetujuan dari Raja Kawya Pura (Mengwi), Raja Belayu selanjutnya meminta persetujuan dari Belanda. Ida Padanda Ngurah menyatakan bahwa Sri Raja Tuan telah setuju rencana tersebut (śri subalā tan anger pawtunning jagat, sigrā ya tta apanguning, ring śri raja tuwan, sampun pwa yā pinisarjjā).

Sri Raja Tuan yang dimaksud oleh Ida Padanda Ngurah di atas adalah Penguasa Belanda. Penggunaan kata “Tuan” untuk menandai orang Belanda tidak berbeda dengan “Tuan van De Par” yang telah disinggung di atas. Yang menarik di sini, penyelenggaraan suatu upacara sekalipun tak luput dari pengawasan Belanda. Belanda mencengkram Bali hingga ke tata cara manusia Bali berhubungan dengan Tuhannya!

Kekuasaan Belanda atas Kerajaan Bali berulang kali disebut oleh Ida Padanda Ngurah sebagai zaman kali (Kaliyuga), bahkan Kali Agung. Zaman Kali Agung adalah zaman kehancuran yang dahsyat. Kehancuran dalam hal ini tentu bukan hanya kehancuran fisik, tetapi juga tatanan sosial yang sebelumnya telah mapan di Bali. Pikiran orang yang salah arah (idĕppi wong nasar laku) dan mengabdi pada orang beruang (prasamma apti danendrā, angamu hamu ring buddi) adalah dua ciri zaman kali yang ditonjolkan oleh Ida Padanda Ngurah. Dua hal yang masih terasa relevan hingga saat ini.

Lalu bagaimana cara menghadapi zaman kali itu? Mari kita simak petikan Kidung Yadnyeng Ukir di bawah ini.

Apan rakwa titahing hyang, angdhanning idĕpping wong sasar sisir, pangriduning kali agung, hawya sira nirupekṣā, ĕnto krańna sastra gammane ya tinut, tan len maka paṇdhipaṇnan, idĕppe hala mwang yukti.

Terjemahan.

Karena sudah titah Tuhan, menakdirkan pikiran manusia salah arah, sebagai imbas dari zaman kekacauan yang dahsyat, janganlah engkau lengah, oleh karena itu patuhilah sastra agama, tiada lain sebagai alat penerang, pikiran yang baik atau buruk.

Berdasarkan petikan di atas, Ida Padanda Ngurah menawarkan jalan untuk menghadapi zaman kali dengan cara mematuhi sastra agama. Dalam situasi pikiran orang yang bingung dan salah arah serta hanya tunduk kepada para orang kaya, tidak ada jalan lain kecuali menjadikan sastra sebagai pelita. Ida Padanda Ngurah menyebut peran sastra itu sebagai pandhipanan idep ‘penerang pikiran’.  [T]

  • Klik untuk BACA artikel lain dari penulis PUTU EKA GUNA YASA
Hari Lahir dan Pantangan Makanannya dalam Lontar Pawetuan Jadma Ala Ayu
Menjadi Manusia Merdeka: Catatan dari Adikawya Kakawin Rāmāyana
“Nglawang”: Sumber Sastra dan Realita
Tags: baliBelandasastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Bali Nanem Tuwuh”, Buku Persembahan Peradah untuk Bali

Next Post

Perayaan 81 Tahun Penyair Pelukis Frans Nadjira: Meriah dengan Diskusi dan Baca Puisi

Putu Eka Guna Yasa

Putu Eka Guna Yasa

Pembaca lontar, dosen FIB Unud, aktivitis BASAbali Wiki

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Perayaan 81 Tahun Penyair Pelukis Frans Nadjira: Meriah dengan Diskusi dan Baca Puisi

Perayaan 81 Tahun Penyair Pelukis Frans Nadjira: Meriah dengan Diskusi dan Baca Puisi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co