12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bayang-Bayang Belanda di Bali Abad XIX: Catatan dari Kidung Bhuwana Winasa dan Yadnyeng Ukir Karya Ida Padanda Ngurah

Putu Eka Guna Yasa by Putu Eka Guna Yasa
September 3, 2023
in Esai
Pawisik Durga, Galungan, dan Cinta Kasih

Putu Eka Guna Yasa

MEMASUKI bulan September, kenangan tentang perang Puputan Badung yang menewaskan ribuan rakyat Bali  selalu membayangi kening. Kita yang hidup saat ini seperti amnesia bahwa nun jauh di abad XIX gerombolan orang berkulit putih, berhidung mancung, dan berambut pirang pernah menyerang rakyat Bali dengan bedil-meriam. Tak sedikit anak-anak dan perempuan yang seharusnya tidak turun ke medan laga, justru dengan nyali yang menyala ikut melakukan perlawanan.

Pertumpahan darah pun tak terelakkan. Peristiwa berdarah yang terjadi pada tanggal 20 September 1906 itu menjadi penanda sejarah tunduknya Bali Selatan di bawah kekuasaan Belanda. Menyusul dua tahun setelahnya, Belanda akhirnya berhasil pula mengalahkan Kerajaan Klungkung pada tanggal 28 April 1908.

Peristiwa kelam atas perang Puputan Badung dan Puputan Klungkung tampaknya sangat membekas di hati seorang kawi-wiku (pendeta-sastrawan) Ida Padanda Ngurah yang berasal dari Gria Gede Belayu-Tabanan. Ida Padanda Ngurah sendiri secara khusus telah mencatat perang dahsyat yang menelan ribuan korban tersebut dalam karya sastra berjudul Kidung Bhuwana Winasa atau Rundah Pulina. Dari kreativitas yang dilakukan Ida Padanda Ngurah, kredo yang menyatakan bahwa sejarah hanya ditulis oleh pemenang tampaknya tidak berlaku dalam konteks Bali. Sebab, usai kalah bertempur dengan keris, para pujangga justru tak kenal lelah mengangkat pisau tulis untuk mengabadikan peristiwa itu dari sudut pandangnya sendiri.

Puputan Badung dan Klungkung dalam Bhuwana Winasa

Dari Kidung Bhuwana Winasa yang ditulis oleh Ida Padanda Ngurah kita tahu bahwa Puputan Badung diawali dengan tuduhan Belanda atas perampasan kapal dagang Sri Komala oleh masyarakat Sanur. I Gusti Ngurah Made Agung sebagai Raja Denpasar melakukan konfirmasi atas tudingan itu. Setelah masyarakat Sanur menyatakan bahwa mereka tidak melakukan penjarahan melalui sumpah, Raja Denpasar memaknai  itu sebagai alasan Belanda untuk menyerang Kerajaan Badung. Maka, Raja Denpasar pun mempersiapkan diri dengan melakukan serangkaian upacara pitra yadnya untuk kakaknya, berkonsultasi dengan para pendeta penasihat kerajaan, termasuk memercikkan tirta pangentas bagi mereka yang akan turun ke medan tempur.

Pilihan Raja Denpasar dalam suatu diskusi yang sangat intim dengan para penasihat kerajaan jatuh pada mati di jalan sunya merta yang artinya gugur di medan tempur. Rakyat Badung yang merasa terancam kedaulatan atas tanah dan natahnya ikut dalam keputusan sang raja. Pertempuran dimulai dari Sanur menuju arah Tanjung Bungkak lalu menuju Sanglah dan merangsek ke wilayah Tain Siat. Di tempat itu, Raja Badung mengeluarkan keris Jala Kadingding dan Singaparaga sebagai senjata pamungkasnya, meski akhirnya tak sanggup melawan desing peluru yang ke luar dari bedil dan meriam Belanda. Raja Denpasar yang juga sastrawan itu menyatu dengan keabadian pada tanggal 20 September 1906 diiringi dengan peristiwa masatya dari rakyat dan permaisurinya.

Tak puas dengan kekalahan Kerajaan Denpasar, tantara Belanda memasang strategi lanjutan untuk menyerang Kerajaan Klungkung. Raja Klungkung yang bernama Ida I Dewa Agung Jambe tampaknya masih mewarisi prinsip bahwa jalan mati terbaik untuk ksatria bukanlah di tempat tidur, tetapi medan tempur. Cara bertahan yang terbaik adalah menyerangpun akhirnya dilakukan oleh ksatria Klungkung, meski kekalahan sejak awal sudah bisa dibayangkan. Setelah melewati pertarungan yang sengit, kepala pangeran yang pecah akibat peluru dan kematian sang raja pada tanggal 28 Apirl 1908 menjadi tanda takluknya Kerajaan Bali secara penuh di bawah kendali Belanda.

Bayang-Bayang Kekuasaan Belanda

Meski sudah menarasikan dengan sangat rinci peristiwa Puputan Badung dan Klungkung, bayang-bayang suram atas kekalahan Bali menghadapi Belanda juga masih muncul dalam karya sastra karangan Ida Padanda Ngurah yang lain, yaitu Kidung Yadnyeng Ukir. Kidung Yadnyeng Ukir yang berarti ‘senandung yadnya di gunung’ memang tidak langsung membahas konflik Bali vs Belanda. Karya sastra ini mengisahkan penyucian jagat di tiga puncak penting Bali yaitu Pucak Padang Dawa, Pura Beratan-Bedugul, dan Pura Luhur Wangaya (Batukaru). Entah ada hubungan apa upacara-upacara besar ini dengan tapak kekuasaan Belanda di Bali yang diraih melalui jalur perang. Adakah upacara ini dilakukan sebagai upaya untuk memulihkan keadaan Bali usai terjadi pertumpahan darah di berbagai wilayah? Kita simpan pertanyaan ini untuk benih tulisan yang lain.

Yang jelas, Ida Padanda Ngurah seolah merasa terpanggil untuk mewacanakan kembali peristiwa Puputan Badung dan kekalahan Sri Bandana Raja atau Raja Badung melalui Kidung Yadnyeng Ukir. Ida Padanda Ngurah bahkan mengatakan kekalahan Raja Badung oleh prawira Jawi sekaligus menandai kekalahan Kerajaan Bali (nging wus alah, ikanang bali puliṇnā, denikang prawirā jawi, saka kalān ikā, liman netra asti nattā, śiwa guru we anneki, antakān nira, śri natteng nambangan nguni). Jawi yang dimaksud dalam konteks ini adalah Belanda, sedangkan Sri Nateng Nambangan adalah Raja Badung.

Ungkapan Ida Padanda Ngurah ini secara tidak langsung mengindikasikan betapa kuat kerajaan Badung yang dimaknai merepresentasikan Bali, tentu selain Kerajaan Klungkung yang dijadikan junjungan raja-raja Bali. Secara politis, Kerajaan Badung di tahun tersebut memang baru saja mengalahkan Kerajaan Mengwi tahun 1891 Masehi yang bentang wilayahnya juga sangat luas. Di sisi lain, Kerajaan Badung memiliki koalisi dengan Kerajaan Tabanan karena berasal dari leluhur yang sama yaitu Arya Damar. Oleh sebab itu, dengan mengalahkan Badung, tiga kerajaan di Bali selatan secara tidak langsung dapat ditundukkan. Bagaimana dengan posisi kerajaan Bali yang lain? Kerajaan Bali yang lain tampaknya memilih jalur kompromis dengan Belanda! Hitunglah kerajaan Bali yang tidak melakukan puputan. Dari sana kita akan tahu kerajaan-kerajaan yang takluk terhadap Belanda tanpa sekalipun menghunus senjata.

Dengan demikian, sangat beralasan bagi Belanda untuk menyerang wilayah Bali Selatan dengan pintu masuk Kerajaan Badung. Badunglah yang dijadikan sasaran oleh Belanda setelah menaklukkan Kerajaan Singaraja tahun 1849. Belanda membutuhkan sekitar 57 tahun untuk mengalahkan Kerajaan Badung dan 59 tahun untuk menundukkan Kerajaan Klungkung. Apabila dihitung sejak keruntuhan Kerajaan Buleleng hingga kemerdekaan Indonesia tahun 1945, Belanda menguasai Bali sekitar 96 tahun. Nyaris satu abad.

Pasca penaklukkan Kerajaan Bali, Ida Padanda Ngurah secara samar-samar menyinggung wilayah Bali yang ditempati Belanda dan proses koordinasi raja-raja Bali dalam penyelenggaraan upacara yang juga harus mendapat persetujuan Belanda.

Dalam suatu perjalanan pulang dari tirta yatra di Pura Pulaki menuju Tabanan, Ida Padanda Ngurah menunjuk salah satu wilayah di Buleleng yang ditempati Belanda. Di wilayah yang bernama Panyabangan, pendeta yang gemar mendaki ini menyebut bahwa wilayah itu ditempati oleh seorang Belanda bernama Tuan van De Par (Tūr tinuju angungṣi ring panyabangān, twan pan dhĕ par angubonin). Entah siapa Tuan van De Par yang disebut oleh Ida Padanda Ngurah dan perannya dalam sistem pemerintahan Belanda. Yang jelas, ia masuk dalam ingatan sang pendeta.

Tidak hanya menyebutkan wilayah yang dikuasai Belanda, Ida Padanda Ngurah juga menarasikan realisasi penyelenggaraan suatu upacara di Pura Beratan-Tabanan yang dikoordinasikan oleh Kerajaan Belayu kepada Belanda. Sebelumnya, Kerajaan Belayu yang menjadi manggala karya telah melaporkan kepada Kerajaan Mengwi mengenai rencana upacara yang akan digelar di Pura Hulun Danu Beratan pada bulan Oktober. Setelah mendapat persetujuan dari Raja Kawya Pura (Mengwi), Raja Belayu selanjutnya meminta persetujuan dari Belanda. Ida Padanda Ngurah menyatakan bahwa Sri Raja Tuan telah setuju rencana tersebut (śri subalā tan anger pawtunning jagat, sigrā ya tta apanguning, ring śri raja tuwan, sampun pwa yā pinisarjjā).

Sri Raja Tuan yang dimaksud oleh Ida Padanda Ngurah di atas adalah Penguasa Belanda. Penggunaan kata “Tuan” untuk menandai orang Belanda tidak berbeda dengan “Tuan van De Par” yang telah disinggung di atas. Yang menarik di sini, penyelenggaraan suatu upacara sekalipun tak luput dari pengawasan Belanda. Belanda mencengkram Bali hingga ke tata cara manusia Bali berhubungan dengan Tuhannya!

Kekuasaan Belanda atas Kerajaan Bali berulang kali disebut oleh Ida Padanda Ngurah sebagai zaman kali (Kaliyuga), bahkan Kali Agung. Zaman Kali Agung adalah zaman kehancuran yang dahsyat. Kehancuran dalam hal ini tentu bukan hanya kehancuran fisik, tetapi juga tatanan sosial yang sebelumnya telah mapan di Bali. Pikiran orang yang salah arah (idĕppi wong nasar laku) dan mengabdi pada orang beruang (prasamma apti danendrā, angamu hamu ring buddi) adalah dua ciri zaman kali yang ditonjolkan oleh Ida Padanda Ngurah. Dua hal yang masih terasa relevan hingga saat ini.

Lalu bagaimana cara menghadapi zaman kali itu? Mari kita simak petikan Kidung Yadnyeng Ukir di bawah ini.

Apan rakwa titahing hyang, angdhanning idĕpping wong sasar sisir, pangriduning kali agung, hawya sira nirupekṣā, ĕnto krańna sastra gammane ya tinut, tan len maka paṇdhipaṇnan, idĕppe hala mwang yukti.

Terjemahan.

Karena sudah titah Tuhan, menakdirkan pikiran manusia salah arah, sebagai imbas dari zaman kekacauan yang dahsyat, janganlah engkau lengah, oleh karena itu patuhilah sastra agama, tiada lain sebagai alat penerang, pikiran yang baik atau buruk.

Berdasarkan petikan di atas, Ida Padanda Ngurah menawarkan jalan untuk menghadapi zaman kali dengan cara mematuhi sastra agama. Dalam situasi pikiran orang yang bingung dan salah arah serta hanya tunduk kepada para orang kaya, tidak ada jalan lain kecuali menjadikan sastra sebagai pelita. Ida Padanda Ngurah menyebut peran sastra itu sebagai pandhipanan idep ‘penerang pikiran’.  [T]

  • Klik untuk BACA artikel lain dari penulis PUTU EKA GUNA YASA
Hari Lahir dan Pantangan Makanannya dalam Lontar Pawetuan Jadma Ala Ayu
Menjadi Manusia Merdeka: Catatan dari Adikawya Kakawin Rāmāyana
“Nglawang”: Sumber Sastra dan Realita
Tags: baliBelandasastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Bali Nanem Tuwuh”, Buku Persembahan Peradah untuk Bali

Next Post

Perayaan 81 Tahun Penyair Pelukis Frans Nadjira: Meriah dengan Diskusi dan Baca Puisi

Putu Eka Guna Yasa

Putu Eka Guna Yasa

Pembaca lontar, dosen FIB Unud, aktivitis BASAbali Wiki

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Perayaan 81 Tahun Penyair Pelukis Frans Nadjira: Meriah dengan Diskusi dan Baca Puisi

Perayaan 81 Tahun Penyair Pelukis Frans Nadjira: Meriah dengan Diskusi dan Baca Puisi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co