23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ubud, Bukan Hanya Terasering Tetapi Juga Festival Sastra

Puspa Seruni by Puspa Seruni
November 7, 2022
in Esai
Ubud, Bukan Hanya Terasering Tetapi Juga Festival Sastra

Puspa Seruni di Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2022

Meski tinggal di Bali, tepatnya di Jembrana, setiap kali mendengar kata Ubud yang pertama kali terbetik dalam benak saya adalah hamparan sawah terasering dengan warna hijau yang menyegarkan mata. Belum lagi suhu udara yang sejuk khas pegunungan, serta  pemandangan lembah, liukan sungai, membuat Ubud selalu jadi tujuan yang menyenangkan untuk menyepi sambil liburan.

Sawah terasering di Ubud sudah menjadi obyek wisata yang populer dan ramai dikunjungi wisatawan. Tampilan sawah berundak-undak, pohon-pohon kelapa yang ada di antara pemisah sawah menjadi pemandangan yang unik untuk dijadikan latar belakang foto.

Akan tetapi, saat membaca undangan yang dikirim melalui email dari Yayasan Mudra Swarisaraswati untuk menghadiri acara Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) tahun 2022, satu kata yang terlintas dalam benak saya adalah buku. Bukan karena saya dan sembilan penulis emerging UWRF 2022 lainnya akan mengadakan launching buku antologi Memayu Hayuning Bawana, melainkan karena acara tersebut sudah memiliki jadwal diskusi buku yang padat selama empat hari.

Puspa Seruni (pegang mik) pada sesi launching buku Memayu Hayuning Bhawana di Ubud Writers and Readers Festival 2022

Ada lebih dari seratus penulis, baik dari dalam negeri atau dari luar negeri yang diundang untuk memeriahkan festival sastra yang katanya terbesar di Asia Tenggara itu.

Bukan hal baru, sih, kalau UWRF dihadiri oleh penulis-penulis keren karena sejak pertama kali digelar UWRF sudah mampu mendatangkan banyak penulis untuk berdiskusi di festival yang sudah berlangsung selama sembilan belas tahun itu. Sebenarnya bukan hanya penulis yang berkumpul di acara UWRF itu, ada sutradara film, penyair, pendongeng, orang teater, juga pemusik.

Foto bersama 10 penulis emerging Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2022

Sejak hari pertama festival yaitu tanggal 27 Oktober 2022, saya mengikuti beberapa program utama yang sudah dijadwalkan oleh panitia penyelenggara. Banyaknya program unggulan membuat saya sempat bingung memilih mana yang harus saya ikuti.

Rasanya semua perlu dan semua penting bagi saya yang masih pemula. Saya ingin, acara UWRF ini menjadi semacam pengisi baterai pengetahuan saya tentang dunia sastra. Saya datang dengan gelas kosong dan berharap pulang dengan gelas penuh.

Biasanya saya datang ke lokasi festival mulai pukul sembilan pagi dan pulang menjelang pukul sebelas malam. Setiap hari saya beranjak dari satu acara ke acara lainnya, dari panel diskusi, bedah buku, launching buku dari penulis, pemutaran film dokumenter hingga acara musik atau pembacaan puisi yang biasanya di gelar malam hari.

Saya pulang ke penginapan hanya untuk istirahat, supaya keesokan harinya kembali segar untuk mengikuti festival.

Di acara itu, kami—para emerging UWRF 2022—mendapat kesempatan untuk mengisi panel diskusi. Tentu saja sangat menyenangkan, mengingat kami sebagai penulis pemula mendapat panggung untuk berbicara dan menyuarakan pemikiran dan gagasan tentang topik yang diangkat.

Lebih menyenangkan lagi, dalam setiap sesi panel diskusi peserta yang hadir selalu penuh dan sangat antusias mengikuti jalannya diskusi. Kami—saya khususnya—merasa sangat tersanjung dan dihargai meski secara pengalaman tentu masih sangat jauh dari para penulis lain yang sudah terlebih dahulu berkiprah di panggung sastra.

Ada pemandangan unik yang saya perhatikan di acara UWRF itu, menurut perkiraan saya yang datang dan menghadiri kegiatan tersebut 80% adalah warga asing. Sebagaimana semua orang ketahui, Bali memang surga bagi para pelancong dari laur negeri. Akan tetapi uniknya, orang bule yang datang ke acara UWRF itu sangat aktif berdiskusi dan memberi apresiasi pada panel diskusi yang diikuti.

Saya merasakan sendiri, saat hari ketiga saya mengisi panel diskusi bersama Diana Reid dari Australia, Emily Brugman dari New South Wales dan Muhamad Nada Fauzan, rekan sesama emerging UWRF 2022, peserta diskusi lebih banyak orang asing. Mungkin orang Indonesianya hanya 10-20%, itupun dari rekan sesama penulis, media partner atau editor buku yang sedang memburu penulis baru.

Ada rasa bangga dan haru, apalagi saat sesi diskusi hampir semua pertanyaan—yang bertanya semuanya orang bule—ditujukan kepada saya. Akan tetapi, sekaligus saya merasa miris dan bertanya-tanya, apakah kehadiran warga Indonesia di ajang sastra besar semacam UWRF ini dapat dikatakan merepresentasikan tingkat literasi kita? Saya harap tidak.

Puspa Seruni (saya) saat mengisi sesi diskusi di Ubud Writers and Readers Festival 2022

Antusiasme dan apresiasi yang diberikan peserta diskusi serupa ucapan motivator yang menggema dalam kepala saya, yang membuat semangat saya untuk terus menulis semakin terpompa. UWRF membuat perspektif saya tentang Ubud bukan semata hamparan hijau sawah dengan terasering tetapi tempat berkumpulnya sastrawan dari berbagai daerah bahkan hingga mancanegara.

UWRF tahun ini menjadi pengalaman pertama saya, dan saya berharap tidak menjadi yang terakhir karena saya ingin merasakan lagi kemeriahan UWRF di tahun-tahun mendatang. Mungkin tidak bisa lagi datang sebagai emerging UWRF, tetapi siapa tahu bisa jadi pembicara yang diundang atau bahkan menjadi salah satu dewan kurator yang menyeleksi naskah para calon emerging UWRF selanjutnya. Siapa tahu, kan.

Saya tidak akan kapok datang ke Ubud meski bukan untuk liburan dan menepi, karena bagi saya buku dan sastra sudah menjadi liburan itu sendiri. Ubud dalam kepala saya bukan lagi identik dengan sawah berundak tetapi dengan festival sastra terbesar di Asia Tenggara. [T]

Cerita Anak dan Masa Depan Bumi | Dari Peluncuran Buku Nana Ernawati dan Nurul Ilmi di Ubud
Teater-Dongeng Komunitas Mahima: Mengalirlah Bahasa Bali-Kawi-Indonesia-Inggris di Atas Panggung
Royyan Julian: Aku Tidak Mau Meromantisasi Madura
Memasuki Museum Masa Kecil Avianti Armand | Hidup dan Hidup Lagi Berkali Kali
Dua Penulis Lolos ke Ubud – Gairah Sastra di Bangkalan Kian Nyala
Tags: CerpenPuspa SerunisastraUbudUbud Writers and Readers Festival
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Kerta Masa” dari Penggak Men Mersi: Pertanian Adalah Ibu Kebudayaan Bali

Next Post

In Memoriam Ni Wayan Murdi | Arja dan Pengabdian Tiada Henti

Puspa Seruni

Puspa Seruni

Lahir di Situbondo, Jawa Timur. Penulis cerpen. Kini mengajar di Politeknik Kelautan dan Perikanan, Jembrana, Bali. Terpilih sebagai penulis emerging Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2022

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
In Memoriam Ni Wayan Murdi |  Arja dan Pengabdian Tiada Henti

In Memoriam Ni Wayan Murdi | Arja dan Pengabdian Tiada Henti

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co