14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ibu Menemaniku Saat Skizofrenia Mendera

Angga Wijaya by Angga Wijaya
December 21, 2024
in Esai
Telenovela

Angga Wijaya

SUARA dari kotak pesan itu kudengar kembali. Ibu meminjam ponsel pintar milik kakak untuk mengirim pesan suara padaku. Beliau meminta agar aku dan pasanganku saling mengalah dan bersabar. Pesan itu sering kudengarkan saat kami berselisih paham. Ibu telah berpulang tiga tahun lalu, pada dini hari saat beliau tidur. Keluarga kami kehilangan sosok baik hati lagi penyayang. Ibu meninggalkan banyak kenangan berarti di hati kami, anak-anak dan cucu beliau.

Menikah dengan lelaki berbeda budaya dan agama, ibu pernah berkata padaku, tidak mudah. Ibu blasteran Belanda dan Jawa. Ayah berdarah Bali. Mereka bertemu saat bersekolah di Jawa Timur. Ayah memboyong ibu ke Bali, dan menikahinya. Mereka menikah di usia teramat muda.

Ibu mengalami kesulitan beradaptasi dengan keluarga besar ayah yang ketika itu kaya. Kakek pengusaha hasil bumi. Anak-anaknya diajaknya bekerja dengannya, termasuk ayah. Ibu kurang setuju dengan pola itu. Ia ingin ayah bisa mandiri dan tidak tergantung kepada keluarga besar. Ibu dan ayah kemudian mencoba usaha kuliner, membuka rumah makan dan berjualan tiket bus.

Perlahan, usaha mereka maju. Bus-bus yang hendak menuju Pulau Jawa dari Denpasar mampir di rumah makan “Melati” di kota Negara, kabupaten Jembrana, Bali bagian barat. Soto ayam buatan ibu amat digemari para penumpang bus. Ibu menjadi perempuan pengusaha yang disegani di kota kecil kami. Beliau aktif di IWAPI (Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia) dan banyak punya teman pejabat. Aku dilahirkan saat ibu sedang berjaya secara ekonomi maupun pekerjaan.

Sayangnya, aku lahir muda atau dikenal dengan istilah prematur. Tiga bulan lamanya aku berada di inkubator sebuah klinik di kota Negara. Klinik itu milik yayasan Katolik. Ayah yang dilahirkan dalam keluarga Hindu berdoa di depan potret Bunda Maria, agar aku bisa pulih dan segera pulang, berkumpul dengan keluarga. Saat kesehatanku berangsur baik, ada anggota keluarga dekat yang kerapkali menyambangiku.

Mereka dua gadis bersaudara anak-anak dari paman, yang merasa “jatuh-hati” denganku. Dengan meminta izin dari ibu, mereka merawatku dan mengajakku ke rumah keluarga paman, kakak dari ayah. Dua minggu “dipinjam” lalu dipulangkan kembali, satu minggu berikutnya “dipinjam” lagi, dua minggu hingga satu bulan lamanya. Akhirnya, kakek menyarankan kepada paman untuk seterusnya mengasuhku. Ibu dan ayahku setuju.

Pada usia enam bulan, aku resmi menjadi bagian dari keluarga paman dan bibi. Mereka mengganti nama belakangku agar sama dengan saudara-saudara “angkat”-ku. Di samping itu, karena saat kecil aku sering menderita sakit parah.

Keterpisahan dengan ibu dan ayah baru berdampak saat aku duduk di sekolah dasar. Mulanya aku tak tahu bahwa keluarga yang mengasuhku bukan keluarga “kandung” Aku justru mengetahui hal sebenarnya dari para tetangga yang dengan kelakar dan canda mengejekku. Aku sedikit terguncang, tetapi aku diam dan tak menanyakannya pada paman dan bibi. Aku takut jikalau mereka yang telah menganggapku sebagai anak sendiri menjadi sedih atau tersinggung. Kenyataan bahwa aku anak “adopsi” aku terima dengan setengah hati, karena perasaan yang muncul kemudian adalah aku merasa sebagai anak yang tidak diharapkan dan “terbuang”; mengapa kedua orang tua kandungku dengan mudah memberi izin aku diasuh keluarga lain? Itu sering aku pertanyakan. Aku juga menganggap hidup dan Tuhan sangatlah tidak adil.

“Sampah” pikiran dan perasaan tersebut aku terus bawa hingga aku SMA. Aku sering mengalami sulit tidur, gampang tersinggung dan marah-marah. Terutama saat aku kelas tiga saat ujian akhir sekolah segera tiba. Saat mengerjakan soal-soal ujian, ada bisikan-bisikan suara yang mengatakan aku akan menjadi juara—nilaiku tertinggi di tingkat kabupaten.

Karena bisikan-bisikan itu aku tiap kali mengikuti ujian menjadi siswa pertama yang mengumpulkan jawaban, sementara siswa lain masih mengerjakan soal ujian. Saat itu sebenarnya aku sedang tidak baik-baik saja. Aku mengalami ketegangan karena mulai sering menginap di rumah keluarga kandung dan hal tersebut tidak disukai oleh keluarga “angkat” terutama oleh paman atau ayah angkatku.

Aku mengalami depresi. Itu aku tahu sewaktu kakak kandungku mengajakku berobat pada salah satu psikiater di Denpasar. Aku diberi obat, hanya saja pengobatan tidak berlanjut lagi setelah obat dari psikiater habis. Entah mengapa, mungkin kakakku merasa malu bahwa aku dirawat psikiater. Stigma tentang penyakit jiwa begitu kental di masyarakat, termasuk di Bali.

Pada 2002 aku menamatkan studiku di SMA. Oleh paman dan bibi aku disuruh untuk berkuliah. Biaya akan ditanggung oleh dua anaknya. Aku mengiyakan saja. Ketika itu aku telah diterima menjadi mahasiswa jurusan Antropologi Budaya Fakultas Sastra Universitas Udayana melalui jalur PMDK. Hanya saja, keluarga angkat tidak setuju dengan jurusan yang kupilih.. Aku merasa kecewa. Akhirnya aku kuliah di program diploma satu bahasa Inggris di Universitas Udayana.

Setamat diploma satu, aku melanjutkan studi di Program Ekstensi S1 Sastra Inggris di universitas yang sama. Bertahan hanya satu tahun, sebelum akhirnya aku diam-diam mendaftar Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) agar bisa kuliah di jurusan Antropologi Budaya. Aku lulus ujian. Cita-cita lama akhirnya tercapai. Kuliah Antropologi dengan penuh antusiasme aku jalani. Hingga hampir lima tahun lamanya. Mahasiswa Antropologi saat itu dikenal kuliah dengan waktu yang lebih lama dari biasanya,

Bahkan, ada yang tujuh tahun baru tamat. Rata-rata mereka “aktivis” dan pegiat organisasi kampus dan luar kampus, membuat mereka terlalu larut sehingga melupakan untuk tamat tepat waktu, menjadi sarjana dan menjadi kebanggaan keluarga.

Menginjak semester sebelas, ada dua mata kuliah yang aku harus ulang. Praktik kerja lapangan (PKL) dan ujian PKL telah aku ikuti sehingga hanya tinggal menyusun skripsi yang belum aku jalani. Kesulitan tidur aku alami kembali. Bahkan hingga dua minggu lamanya. Ketika itu aku tinggal di rumah kost dekat kampus. Jarang dijenguk keluarga karena sebelumnya mereka tahu aku lama menetap di ashram—sejenis padepokan atau pesantren dalam terminologi Islam. Sejak keluar dari ashram, aku bekerja di sebuah warung internet (warnet) karena biaya dari keluarga angkat diputus terlebih setelah mereka kecewa saat tahu aku pindah jurusan kuliah diam-diam.

Salahku juga mengapa tidak terbuka. Aku pribadi yang tertutup waktu itu. Semua masalah aku pendam sendiri. Sering mengambil sebuah keputusan sendiri tanpa berkonsultasi atau berdiskusi dengan keluarga. Kondisiku saat itu lebih parah dari saat aku depresi pertama kali saat SMA. Aku merasa sebagai “orang suci” yang mempunyai misi tertentu. Gejala ini kemudian hari aku tahu bernama waham atau delusi, pola pikir dan keyakinan yang dirasakan benar walaupun sebenarnya keliru, tidak logis, dan jauh dari realitas atau kenyataan.

Pada 2009, aku didiagnosa mengidap skizofrenia paranoid oleh psikiater di rumah sakit jiwa (RSJ) provinsi Bali. Dua minggu lamanya aku dirawat disana, setelah sebelumnya mengamuk dan merusak warung milik warga saat aku berkunjung ke rumah bibiku di salah satu kabupaten di Bali. Aku diamankan pihak berwenang yang menghubungi keluargaku untuk menjemput dan membawaku berobat di RSJ. Hatiku remuk-redam. Kuliah tidak bisa aku selesaikan padahal hampir tamat. Sebenarnya bisa saja mengambil cuti kuliah selama aku sakit, tetapi itu tidak dilakukan kakak-kakakku. Mereka memutuskan aku tidak lagi tinggal di Denpasar dan kembali ke kampung halaman di Negara, Jembrana, Bali.

Aku dianggap tidak punya masa depan. Obat-obatan anti-psikotik membuat badanku kaku bagai seonggok robot. Aku juga sering mengantuk dan tidak bisa beraktivitas secara “normal”. Tak punya pekerjaan. Gagal menjadi sarjana. Aku benar-benar terpuruk dan berada di titik nol kehidupan. Hanya ibu kandungku yang menerima kondisiku dengan apa adanya. Setelah aku sakit, oleh keluarga angkat aku “dikembalikan” kepada keluaraga kandung. Aku menjadi mengenal kembali ibu dan ayah kandungku yang sempat “terpisah” lama sekali.

Ibu pada usia senja masih aktif bekerja. Bersama ayah ia membuka usaha laundry. Banyak pelanggan yang menyukai hasil cucian ibu. Aku diberi tugas untuk menjaga ruangan depan dan menerima orang yang membawa cucian untuk dicatat. Aku juga bertugas mengantar cucian yang sudah selesai dicuci dan disterika ke beberapa pelanggan. Biasanya sore dan malam hari.

Aktivitas harian itu sedikit banyak berperan pada pemulihan skizofrenia yang aku idap, selain tentunya berobat rutin ke Puskesmas yang saat itu setiap bulan dikunjungi tenaga kesehatan dari RSJ Provinsi Bali. Biaya pengobatan gratis. Itu tentu membantu orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) dan keluarganya, terutama yang termasuk keluarga pra-sejahtera.

Semua kejadian yang menimpa kita, betapa pun buruknya, pasti memiliki hikmah. Itu pula yang aku rasakan saat kembali berkumpul bersama ayah dan juga ibu yang melahirkanku. Kami banyak mengobrol tentang kisah masa lalunya sewaktu kecil dan remaja. Ibu dididik untuk mandiri semenjak kecil. Beliau juga kehilangan sosok ayah yang wafat sewaktu menjadi tentara NICA. Sementara ibunya (nenek) mengalami depresi semenjak ditinggal kakek bertugas di banyak tempat di Indonesia. Ibu lalu diasuh anggota keluarga lain di Surabaya. Hingga remaja, saat ia ingin mengenal ibu kandungnya  dan pulang ke Negara, tempat nenek lahir dan dibesarkan.

Ibu melepasku dengan kesedihan, saat aku diterima bekerja di sebuah desa di Buleleng, Bali bagian utara, sebagai pengajar bahasa Inggris untuk anak-anak sekolah dasar. Sebuah yayasan pendidikan membuka lowongan pekerjaan yang informasinya aku dapatkan di media sosial. Aku mengirim lamaran lalu diwawancarai melalui telepon dan akhirnya diterima bekerja di yayasan tersebut.

Aku bekerja di Buleleng hanya tiga bulan lamanya, tidak lolos masa percobaan, karena kompetensiku sebagai pengajar dinilai kurang cukup. Setelah itu aku kembali ke kampung halaman untuk kemudian menuju Denpasar, bekerja sebagai jurnalis dan menekuni lagi kegemaran menulis yang tumbuh sejak SMA. Ibu membaca puisi-puisi dan esai yang aku tulis. Beliau sangat senang dan selalu mendukung apa yang aku tekuni sejauh itu baik.

Ibu menemaniku dalam masa pemulihan skizofrenia, yang orang lain kerap kali tertawa melihat kondisi mentalku yang hancur. Beberapa kali aku pulang ketika hari raya setelah menetap dan bekerja di Denpasar. Ibu selalu ada untukku. Lima tahun lamanya kami bersama dalam suka dan duka. Puisi aku tulis dari kebersamaan kami. Berikut salah satunya:

Lagu untuk Ibu

Jika engkau selalu berdendang tentang
kepalsuan dunia, aku pernah ingin mati
tinggalkan semua kenangan tentang diri

Mimpi buruk hantui malam, walau aku
tahu masa lalu telah lama berlalu dan
kalender berganti tanpa pernah kusadari

Engkau di mana saat aku kecil dirawat
di rumah sakit dan terus menanyakan
mengapa kau belum juga datang melihat

Aku terpaksa pulang ke kampung halaman
saat skizofrenia merampas mimpi indah
hidupku, harapan yang sekejap kandas

Akhirnya aku mengenalmu, tak ada lagi
sesal kelahiran, kupeluk masa lalu seperti
memeluk tubuh tuamu di dingin dini hari

Kutemui lagi ibu yang dulu tak sempat
kukenal, ia mengusap kesedihan di hati
yang gundah dan kalah oleh kenyataan

Ibu membaca puisi-puisiku dalam buku.
Ia sangat senang melihat diriku kembali
temukan kepingan diri yang dulu hilang

Kudengar suara pelan di telepon, ibu
datang ke kota tempatku kini bekerja
Kami saling menatap penuh rasa haru

2020

BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA

Pekerja Anak Dalam Kenangan
“Galbay” di Negeri “Wakanda”: Sebuah Renungan
Setelah Suami Berpulang
Enam Bulan Kerinduan
Perlukah Mal di Bali: Sebuah Kajian Antropologis

Tags: ibuibu dan anakskizofrenia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Modernitas Logika dalam Perspektif Pendidikan

Next Post

Surealisme Tari Bali

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Surealisme Tari Bali

Surealisme Tari Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co