2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ibu Menemaniku Saat Skizofrenia Mendera

Angga Wijaya by Angga Wijaya
December 21, 2024
in Esai
Telenovela

Angga Wijaya

SUARA dari kotak pesan itu kudengar kembali. Ibu meminjam ponsel pintar milik kakak untuk mengirim pesan suara padaku. Beliau meminta agar aku dan pasanganku saling mengalah dan bersabar. Pesan itu sering kudengarkan saat kami berselisih paham. Ibu telah berpulang tiga tahun lalu, pada dini hari saat beliau tidur. Keluarga kami kehilangan sosok baik hati lagi penyayang. Ibu meninggalkan banyak kenangan berarti di hati kami, anak-anak dan cucu beliau.

Menikah dengan lelaki berbeda budaya dan agama, ibu pernah berkata padaku, tidak mudah. Ibu blasteran Belanda dan Jawa. Ayah berdarah Bali. Mereka bertemu saat bersekolah di Jawa Timur. Ayah memboyong ibu ke Bali, dan menikahinya. Mereka menikah di usia teramat muda.

Ibu mengalami kesulitan beradaptasi dengan keluarga besar ayah yang ketika itu kaya. Kakek pengusaha hasil bumi. Anak-anaknya diajaknya bekerja dengannya, termasuk ayah. Ibu kurang setuju dengan pola itu. Ia ingin ayah bisa mandiri dan tidak tergantung kepada keluarga besar. Ibu dan ayah kemudian mencoba usaha kuliner, membuka rumah makan dan berjualan tiket bus.

Perlahan, usaha mereka maju. Bus-bus yang hendak menuju Pulau Jawa dari Denpasar mampir di rumah makan “Melati” di kota Negara, kabupaten Jembrana, Bali bagian barat. Soto ayam buatan ibu amat digemari para penumpang bus. Ibu menjadi perempuan pengusaha yang disegani di kota kecil kami. Beliau aktif di IWAPI (Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia) dan banyak punya teman pejabat. Aku dilahirkan saat ibu sedang berjaya secara ekonomi maupun pekerjaan.

Sayangnya, aku lahir muda atau dikenal dengan istilah prematur. Tiga bulan lamanya aku berada di inkubator sebuah klinik di kota Negara. Klinik itu milik yayasan Katolik. Ayah yang dilahirkan dalam keluarga Hindu berdoa di depan potret Bunda Maria, agar aku bisa pulih dan segera pulang, berkumpul dengan keluarga. Saat kesehatanku berangsur baik, ada anggota keluarga dekat yang kerapkali menyambangiku.

Mereka dua gadis bersaudara anak-anak dari paman, yang merasa “jatuh-hati” denganku. Dengan meminta izin dari ibu, mereka merawatku dan mengajakku ke rumah keluarga paman, kakak dari ayah. Dua minggu “dipinjam” lalu dipulangkan kembali, satu minggu berikutnya “dipinjam” lagi, dua minggu hingga satu bulan lamanya. Akhirnya, kakek menyarankan kepada paman untuk seterusnya mengasuhku. Ibu dan ayahku setuju.

Pada usia enam bulan, aku resmi menjadi bagian dari keluarga paman dan bibi. Mereka mengganti nama belakangku agar sama dengan saudara-saudara “angkat”-ku. Di samping itu, karena saat kecil aku sering menderita sakit parah.

Keterpisahan dengan ibu dan ayah baru berdampak saat aku duduk di sekolah dasar. Mulanya aku tak tahu bahwa keluarga yang mengasuhku bukan keluarga “kandung” Aku justru mengetahui hal sebenarnya dari para tetangga yang dengan kelakar dan canda mengejekku. Aku sedikit terguncang, tetapi aku diam dan tak menanyakannya pada paman dan bibi. Aku takut jikalau mereka yang telah menganggapku sebagai anak sendiri menjadi sedih atau tersinggung. Kenyataan bahwa aku anak “adopsi” aku terima dengan setengah hati, karena perasaan yang muncul kemudian adalah aku merasa sebagai anak yang tidak diharapkan dan “terbuang”; mengapa kedua orang tua kandungku dengan mudah memberi izin aku diasuh keluarga lain? Itu sering aku pertanyakan. Aku juga menganggap hidup dan Tuhan sangatlah tidak adil.

“Sampah” pikiran dan perasaan tersebut aku terus bawa hingga aku SMA. Aku sering mengalami sulit tidur, gampang tersinggung dan marah-marah. Terutama saat aku kelas tiga saat ujian akhir sekolah segera tiba. Saat mengerjakan soal-soal ujian, ada bisikan-bisikan suara yang mengatakan aku akan menjadi juara—nilaiku tertinggi di tingkat kabupaten.

Karena bisikan-bisikan itu aku tiap kali mengikuti ujian menjadi siswa pertama yang mengumpulkan jawaban, sementara siswa lain masih mengerjakan soal ujian. Saat itu sebenarnya aku sedang tidak baik-baik saja. Aku mengalami ketegangan karena mulai sering menginap di rumah keluarga kandung dan hal tersebut tidak disukai oleh keluarga “angkat” terutama oleh paman atau ayah angkatku.

Aku mengalami depresi. Itu aku tahu sewaktu kakak kandungku mengajakku berobat pada salah satu psikiater di Denpasar. Aku diberi obat, hanya saja pengobatan tidak berlanjut lagi setelah obat dari psikiater habis. Entah mengapa, mungkin kakakku merasa malu bahwa aku dirawat psikiater. Stigma tentang penyakit jiwa begitu kental di masyarakat, termasuk di Bali.

Pada 2002 aku menamatkan studiku di SMA. Oleh paman dan bibi aku disuruh untuk berkuliah. Biaya akan ditanggung oleh dua anaknya. Aku mengiyakan saja. Ketika itu aku telah diterima menjadi mahasiswa jurusan Antropologi Budaya Fakultas Sastra Universitas Udayana melalui jalur PMDK. Hanya saja, keluarga angkat tidak setuju dengan jurusan yang kupilih.. Aku merasa kecewa. Akhirnya aku kuliah di program diploma satu bahasa Inggris di Universitas Udayana.

Setamat diploma satu, aku melanjutkan studi di Program Ekstensi S1 Sastra Inggris di universitas yang sama. Bertahan hanya satu tahun, sebelum akhirnya aku diam-diam mendaftar Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) agar bisa kuliah di jurusan Antropologi Budaya. Aku lulus ujian. Cita-cita lama akhirnya tercapai. Kuliah Antropologi dengan penuh antusiasme aku jalani. Hingga hampir lima tahun lamanya. Mahasiswa Antropologi saat itu dikenal kuliah dengan waktu yang lebih lama dari biasanya,

Bahkan, ada yang tujuh tahun baru tamat. Rata-rata mereka “aktivis” dan pegiat organisasi kampus dan luar kampus, membuat mereka terlalu larut sehingga melupakan untuk tamat tepat waktu, menjadi sarjana dan menjadi kebanggaan keluarga.

Menginjak semester sebelas, ada dua mata kuliah yang aku harus ulang. Praktik kerja lapangan (PKL) dan ujian PKL telah aku ikuti sehingga hanya tinggal menyusun skripsi yang belum aku jalani. Kesulitan tidur aku alami kembali. Bahkan hingga dua minggu lamanya. Ketika itu aku tinggal di rumah kost dekat kampus. Jarang dijenguk keluarga karena sebelumnya mereka tahu aku lama menetap di ashram—sejenis padepokan atau pesantren dalam terminologi Islam. Sejak keluar dari ashram, aku bekerja di sebuah warung internet (warnet) karena biaya dari keluarga angkat diputus terlebih setelah mereka kecewa saat tahu aku pindah jurusan kuliah diam-diam.

Salahku juga mengapa tidak terbuka. Aku pribadi yang tertutup waktu itu. Semua masalah aku pendam sendiri. Sering mengambil sebuah keputusan sendiri tanpa berkonsultasi atau berdiskusi dengan keluarga. Kondisiku saat itu lebih parah dari saat aku depresi pertama kali saat SMA. Aku merasa sebagai “orang suci” yang mempunyai misi tertentu. Gejala ini kemudian hari aku tahu bernama waham atau delusi, pola pikir dan keyakinan yang dirasakan benar walaupun sebenarnya keliru, tidak logis, dan jauh dari realitas atau kenyataan.

Pada 2009, aku didiagnosa mengidap skizofrenia paranoid oleh psikiater di rumah sakit jiwa (RSJ) provinsi Bali. Dua minggu lamanya aku dirawat disana, setelah sebelumnya mengamuk dan merusak warung milik warga saat aku berkunjung ke rumah bibiku di salah satu kabupaten di Bali. Aku diamankan pihak berwenang yang menghubungi keluargaku untuk menjemput dan membawaku berobat di RSJ. Hatiku remuk-redam. Kuliah tidak bisa aku selesaikan padahal hampir tamat. Sebenarnya bisa saja mengambil cuti kuliah selama aku sakit, tetapi itu tidak dilakukan kakak-kakakku. Mereka memutuskan aku tidak lagi tinggal di Denpasar dan kembali ke kampung halaman di Negara, Jembrana, Bali.

Aku dianggap tidak punya masa depan. Obat-obatan anti-psikotik membuat badanku kaku bagai seonggok robot. Aku juga sering mengantuk dan tidak bisa beraktivitas secara “normal”. Tak punya pekerjaan. Gagal menjadi sarjana. Aku benar-benar terpuruk dan berada di titik nol kehidupan. Hanya ibu kandungku yang menerima kondisiku dengan apa adanya. Setelah aku sakit, oleh keluarga angkat aku “dikembalikan” kepada keluaraga kandung. Aku menjadi mengenal kembali ibu dan ayah kandungku yang sempat “terpisah” lama sekali.

Ibu pada usia senja masih aktif bekerja. Bersama ayah ia membuka usaha laundry. Banyak pelanggan yang menyukai hasil cucian ibu. Aku diberi tugas untuk menjaga ruangan depan dan menerima orang yang membawa cucian untuk dicatat. Aku juga bertugas mengantar cucian yang sudah selesai dicuci dan disterika ke beberapa pelanggan. Biasanya sore dan malam hari.

Aktivitas harian itu sedikit banyak berperan pada pemulihan skizofrenia yang aku idap, selain tentunya berobat rutin ke Puskesmas yang saat itu setiap bulan dikunjungi tenaga kesehatan dari RSJ Provinsi Bali. Biaya pengobatan gratis. Itu tentu membantu orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) dan keluarganya, terutama yang termasuk keluarga pra-sejahtera.

Semua kejadian yang menimpa kita, betapa pun buruknya, pasti memiliki hikmah. Itu pula yang aku rasakan saat kembali berkumpul bersama ayah dan juga ibu yang melahirkanku. Kami banyak mengobrol tentang kisah masa lalunya sewaktu kecil dan remaja. Ibu dididik untuk mandiri semenjak kecil. Beliau juga kehilangan sosok ayah yang wafat sewaktu menjadi tentara NICA. Sementara ibunya (nenek) mengalami depresi semenjak ditinggal kakek bertugas di banyak tempat di Indonesia. Ibu lalu diasuh anggota keluarga lain di Surabaya. Hingga remaja, saat ia ingin mengenal ibu kandungnya  dan pulang ke Negara, tempat nenek lahir dan dibesarkan.

Ibu melepasku dengan kesedihan, saat aku diterima bekerja di sebuah desa di Buleleng, Bali bagian utara, sebagai pengajar bahasa Inggris untuk anak-anak sekolah dasar. Sebuah yayasan pendidikan membuka lowongan pekerjaan yang informasinya aku dapatkan di media sosial. Aku mengirim lamaran lalu diwawancarai melalui telepon dan akhirnya diterima bekerja di yayasan tersebut.

Aku bekerja di Buleleng hanya tiga bulan lamanya, tidak lolos masa percobaan, karena kompetensiku sebagai pengajar dinilai kurang cukup. Setelah itu aku kembali ke kampung halaman untuk kemudian menuju Denpasar, bekerja sebagai jurnalis dan menekuni lagi kegemaran menulis yang tumbuh sejak SMA. Ibu membaca puisi-puisi dan esai yang aku tulis. Beliau sangat senang dan selalu mendukung apa yang aku tekuni sejauh itu baik.

Ibu menemaniku dalam masa pemulihan skizofrenia, yang orang lain kerap kali tertawa melihat kondisi mentalku yang hancur. Beberapa kali aku pulang ketika hari raya setelah menetap dan bekerja di Denpasar. Ibu selalu ada untukku. Lima tahun lamanya kami bersama dalam suka dan duka. Puisi aku tulis dari kebersamaan kami. Berikut salah satunya:

Lagu untuk Ibu

Jika engkau selalu berdendang tentang
kepalsuan dunia, aku pernah ingin mati
tinggalkan semua kenangan tentang diri

Mimpi buruk hantui malam, walau aku
tahu masa lalu telah lama berlalu dan
kalender berganti tanpa pernah kusadari

Engkau di mana saat aku kecil dirawat
di rumah sakit dan terus menanyakan
mengapa kau belum juga datang melihat

Aku terpaksa pulang ke kampung halaman
saat skizofrenia merampas mimpi indah
hidupku, harapan yang sekejap kandas

Akhirnya aku mengenalmu, tak ada lagi
sesal kelahiran, kupeluk masa lalu seperti
memeluk tubuh tuamu di dingin dini hari

Kutemui lagi ibu yang dulu tak sempat
kukenal, ia mengusap kesedihan di hati
yang gundah dan kalah oleh kenyataan

Ibu membaca puisi-puisiku dalam buku.
Ia sangat senang melihat diriku kembali
temukan kepingan diri yang dulu hilang

Kudengar suara pelan di telepon, ibu
datang ke kota tempatku kini bekerja
Kami saling menatap penuh rasa haru

2020

BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA

Pekerja Anak Dalam Kenangan
“Galbay” di Negeri “Wakanda”: Sebuah Renungan
Setelah Suami Berpulang
Enam Bulan Kerinduan
Perlukah Mal di Bali: Sebuah Kajian Antropologis

Tags: ibuibu dan anakskizofrenia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Modernitas Logika dalam Perspektif Pendidikan

Next Post

Surealisme Tari Bali

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Surealisme Tari Bali

Surealisme Tari Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co