14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Setelah Suami Berpulang

Angga Wijaya by Angga Wijaya
December 10, 2024
in Esai
Telenovela

Angga Wijaya

DITINGGAL mati orang terkasih rasanya berat. Itu yang saya amati dari ibu saya, setelah ayah “pulang” lebih dulu. Ibu seperti kehilangan “teman hidup” yang pernah menemaninya puluhan tahun lamanya. Ibu tidak ke rumah sakit pada waktu menjelang kematian ayah, saat-saat “sakratul maut”. “Takut,” katanya.

Ibu punya trauma tentang kematian. Beliau hanya berkata-kata kepada ayah melalui telepon genggam, kata-kata terakhir sebelum ayah meninggalkan badan fisiknya.

Ibu kulihat kerap kali melamun, terutama saat pagi hari. Matanya menerawang memandang langit yang tampak dari pintu rumah. Ia sedih, merasa sendiri, tidak ada lagi suami yang bisa diajak berbagi banyak hal. Dunia terasa hampa baginya.

Begitu “derita” istri setelah suami berpulang. Hal itu pula yang saya dapati dari mengamati media sosial para ibu yang mana suaminya telah meninggal. Meskipun anak-anak mereka sukses, telah berkeluarga, punya anak-anak yang lucu, tetap saja terasa kurang ketika ayah bagi anak dan kakek bagi cucu-cucunya tidak ada.

Saat suami meninggal, biasanya istri akan tetap hidup sendiri, mengisi hidup dengan tidak lagi menikah dengan laki-laki selain suami mereka. Menyandang status “janda” hingga akhir hayat. Status yang kadang berat sebelah, tidak adil.

Ini tentu berbeda dengan laki-laki. Saat misalnya sang istri berpulang lebih dulu, suami dengan mudahnya membuka hati pada perempuan “baru”, menikahinya, dengan cepat melupakan kenangan akan perempuan yang pernah menjadi istrinya yang dengan setia menemaninya dalam waktu lama; menjadi ibu bagi anak-anaknya, teman diskusi dan “curhat” kala suami menemui kebuntuan baik itu soal pekerjaan, uang, maupun hubungan personal dengan saudara atau keluarga besar.

Perempuan dengan sangat baik menyimpan kenangan tentang laki-laki dalam ingatannya. Tengoklah dalam kehidupan sehari-hari: yang paling ingat tanggal pernikahan atau ulang tahun suami dan anak-anak (juga cucu-cucu) adalah perempuan.

Piranti pernikahan, misalnya cincin kawin, juga dengan bangga dikenakan istri, sebagai simbol cinta yang tidak lekang oleh waktu. Saat misalnya kondisi ekonomi keluarga sedang terpuruk, perempuanlah yang menangis diam-diam ketika misalnya cincin kawin mesti digadai atau dijual, sebagai jalan terakhir untuk bertahan hidup yang semakin hari terasa semakin keras.

Para ibu yang suaminya meninggal juga lebih banyak menghabiskan masa-masa hidupnya untuk dekat dengan anak-anak, menantu dan cucu-cucu mereka. Memasak, membuat kue, atau menulis bagi perempuan penulis adalah contoh aktivitas sehari-hari yang mereka lakukan.

Ada juga yang rutin bepergian ke luar kota atau ke luar pulau untuk sejenak berkumpul kepada keluarga asal, melepas kerinduan terutama bagi yang telah lama “keluar rumah” untuk menikah, mengabdi pada suami dan keluarganya, dalam sistem perkawinan patriarki yang banyak dianut dalam kelompok masyarakat di Indonesia.

Suami yang berpulang menyisakan bahagia dan bisa pula meninggalkan derita, jika istri tidak punya sumber ekonomi karena misalnya semenjak menikah tidak bekerja, menggantungkan penghasilan keluarga pada suaminya. Syukur jika suami meninggal saat anak-anak sudah lulus sekolah atau universitas dan telah mampu bekerja serta hidup mandiri.

Ada kalanya, suami meninggal saat anak-anak masih kecil atau masih sekolah yang membuat perubahan drastis pada keluarga yang ditinggalkan. Sumber ekonomi hilang, istri kemungkinan akan menikah lagi dan tidak jarang dengan tega meninggalkan anak-anak yang masih kecil; atau juga sebaliknya, membawa anak-anak pada suami “baru”-nya, dengan segala konsekuensi psikologis—punya ayah tiri yang belum tentu hangat dan baik.

Maka itu, patut diperhatikan tentang kemandirian perempuan. Terdapat “tren” kini di Bali, misalnya, tentang keluarga suami yang lebih menghargai istri yang bekerja dibandingkan dengan istri yang hanya menjadi ibu rumah tangga dan tidak punya penghasilan.

Di satu sisi, perlakuan ini secara permukaan terlihat “tidak adil”, “kejam”, bahkan terkesan “diskriminatif”. Namun jika kita lihat dengan lebih tenang dan jernih, istri yang bekerja di samping membuat perekonomian keluarga lebih stabil, juga menjadi “bekal” jikalau (maaf) suami tidak berumur panjang; entah karena sakit keras, kecelakaan lalu lintas, atau juga oleh sebab lain yang menjadi takdir dan karmanya.

Istri yang bekerja memang membuat waktu kebersamaan dengan anak-anak lebih pendek. Hal ini tentu bisa disiasati jika keluarga besar suami turut dilibatkan dalam pengasuhan anak.

Pada banyak wilayah di Bali dan juga daerah lain di Indonesia, menjadi jamak dan biasa jika anak diasuh oleh kakek dan nenek mereka, juga paman dan bibinya.

Komunalitas menjadi contoh budaya gotong-royong yang sayangnya kini makin hilang; individualisme mengakibatkan anggota keluarga hanya memikirkan diri dan kepentingannya saja: punya rumah sendiri-sendiri, terpisah dari keluarga besar, ayah dan ibu yang telah renta hidup sendirian—jika tidak dititipkan di panti jompo, seperti kehidupan di negara-negara maju.

Suami yang berpulang menjadi “lapang” jalan pulangnya jika istri melepasnya untuk melanjutkan perjalanan dengan ikhlas. Secara kasat mata, istri yang ditinggalkan suami tidak banyak menemui kesusahan setelah ditinggal mati suami. Tentu kematian menjadi perlu untuk dibicarakan, tidak dianggap tabu dan menakutkan seperti dalam kebiasaan masyarakat sekarang.

Kemungkinan terburuk—dan solusi atas itu, perlu sering didiskusikan, sehingga kematian kemudian tidak menjadi derita terutama bagi istri dan anak-anak, serta juga keluarga besar yang ditinggalkan.

Ini juga berlaku sebaliknya, jika istri yang meninggal lebih dulu dari suami, apa saja yang menjadi pesan istri perlu dijalankan. Termasuk untuk misalnya menikah lagi, perlu persetujuan dari istri. Tidak lantas menjadikan budaya patriarki sebagai pembenaran, jika misalnya istri wanti-wanti agar setelah ia meninggal suami tidak boleh menikah lagi dan dengan baik menjaga anak-anak mereka. Begitu kira-kira.[T]

BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA

Enam Bulan Kerinduan
Perlukah Mal di Bali: Sebuah Kajian Antropologis
Dilema Membuka Diri Orang dengan Gangguan Jiwa
Meditasi Selamatkan Hidup Saya
Menjadi Terbuka Itu Berbahaya | Catatan Akhir Tahun
Tags: budaya patriarkiPerempuan Balirefleksi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Berkelana Sambil Belajar di Hutan Adat Desa Buahan: Menjaga Hutan, Merawat Kebudayaan

Next Post

Mendengar Lantunan Gending-Gending Sanghyang Dedari Desa Rejasa, Tabanan, yang Sakral dan Magis

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Mendengar Lantunan Gending-Gending Sanghyang Dedari Desa Rejasa, Tabanan, yang Sakral dan Magis

Mendengar Lantunan Gending-Gending Sanghyang Dedari Desa Rejasa, Tabanan, yang Sakral dan Magis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co