22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Setelah Suami Berpulang

Angga Wijaya by Angga Wijaya
December 10, 2024
in Esai
Telenovela

Angga Wijaya

DITINGGAL mati orang terkasih rasanya berat. Itu yang saya amati dari ibu saya, setelah ayah “pulang” lebih dulu. Ibu seperti kehilangan “teman hidup” yang pernah menemaninya puluhan tahun lamanya. Ibu tidak ke rumah sakit pada waktu menjelang kematian ayah, saat-saat “sakratul maut”. “Takut,” katanya.

Ibu punya trauma tentang kematian. Beliau hanya berkata-kata kepada ayah melalui telepon genggam, kata-kata terakhir sebelum ayah meninggalkan badan fisiknya.

Ibu kulihat kerap kali melamun, terutama saat pagi hari. Matanya menerawang memandang langit yang tampak dari pintu rumah. Ia sedih, merasa sendiri, tidak ada lagi suami yang bisa diajak berbagi banyak hal. Dunia terasa hampa baginya.

Begitu “derita” istri setelah suami berpulang. Hal itu pula yang saya dapati dari mengamati media sosial para ibu yang mana suaminya telah meninggal. Meskipun anak-anak mereka sukses, telah berkeluarga, punya anak-anak yang lucu, tetap saja terasa kurang ketika ayah bagi anak dan kakek bagi cucu-cucunya tidak ada.

Saat suami meninggal, biasanya istri akan tetap hidup sendiri, mengisi hidup dengan tidak lagi menikah dengan laki-laki selain suami mereka. Menyandang status “janda” hingga akhir hayat. Status yang kadang berat sebelah, tidak adil.

Ini tentu berbeda dengan laki-laki. Saat misalnya sang istri berpulang lebih dulu, suami dengan mudahnya membuka hati pada perempuan “baru”, menikahinya, dengan cepat melupakan kenangan akan perempuan yang pernah menjadi istrinya yang dengan setia menemaninya dalam waktu lama; menjadi ibu bagi anak-anaknya, teman diskusi dan “curhat” kala suami menemui kebuntuan baik itu soal pekerjaan, uang, maupun hubungan personal dengan saudara atau keluarga besar.

Perempuan dengan sangat baik menyimpan kenangan tentang laki-laki dalam ingatannya. Tengoklah dalam kehidupan sehari-hari: yang paling ingat tanggal pernikahan atau ulang tahun suami dan anak-anak (juga cucu-cucu) adalah perempuan.

Piranti pernikahan, misalnya cincin kawin, juga dengan bangga dikenakan istri, sebagai simbol cinta yang tidak lekang oleh waktu. Saat misalnya kondisi ekonomi keluarga sedang terpuruk, perempuanlah yang menangis diam-diam ketika misalnya cincin kawin mesti digadai atau dijual, sebagai jalan terakhir untuk bertahan hidup yang semakin hari terasa semakin keras.

Para ibu yang suaminya meninggal juga lebih banyak menghabiskan masa-masa hidupnya untuk dekat dengan anak-anak, menantu dan cucu-cucu mereka. Memasak, membuat kue, atau menulis bagi perempuan penulis adalah contoh aktivitas sehari-hari yang mereka lakukan.

Ada juga yang rutin bepergian ke luar kota atau ke luar pulau untuk sejenak berkumpul kepada keluarga asal, melepas kerinduan terutama bagi yang telah lama “keluar rumah” untuk menikah, mengabdi pada suami dan keluarganya, dalam sistem perkawinan patriarki yang banyak dianut dalam kelompok masyarakat di Indonesia.

Suami yang berpulang menyisakan bahagia dan bisa pula meninggalkan derita, jika istri tidak punya sumber ekonomi karena misalnya semenjak menikah tidak bekerja, menggantungkan penghasilan keluarga pada suaminya. Syukur jika suami meninggal saat anak-anak sudah lulus sekolah atau universitas dan telah mampu bekerja serta hidup mandiri.

Ada kalanya, suami meninggal saat anak-anak masih kecil atau masih sekolah yang membuat perubahan drastis pada keluarga yang ditinggalkan. Sumber ekonomi hilang, istri kemungkinan akan menikah lagi dan tidak jarang dengan tega meninggalkan anak-anak yang masih kecil; atau juga sebaliknya, membawa anak-anak pada suami “baru”-nya, dengan segala konsekuensi psikologis—punya ayah tiri yang belum tentu hangat dan baik.

Maka itu, patut diperhatikan tentang kemandirian perempuan. Terdapat “tren” kini di Bali, misalnya, tentang keluarga suami yang lebih menghargai istri yang bekerja dibandingkan dengan istri yang hanya menjadi ibu rumah tangga dan tidak punya penghasilan.

Di satu sisi, perlakuan ini secara permukaan terlihat “tidak adil”, “kejam”, bahkan terkesan “diskriminatif”. Namun jika kita lihat dengan lebih tenang dan jernih, istri yang bekerja di samping membuat perekonomian keluarga lebih stabil, juga menjadi “bekal” jikalau (maaf) suami tidak berumur panjang; entah karena sakit keras, kecelakaan lalu lintas, atau juga oleh sebab lain yang menjadi takdir dan karmanya.

Istri yang bekerja memang membuat waktu kebersamaan dengan anak-anak lebih pendek. Hal ini tentu bisa disiasati jika keluarga besar suami turut dilibatkan dalam pengasuhan anak.

Pada banyak wilayah di Bali dan juga daerah lain di Indonesia, menjadi jamak dan biasa jika anak diasuh oleh kakek dan nenek mereka, juga paman dan bibinya.

Komunalitas menjadi contoh budaya gotong-royong yang sayangnya kini makin hilang; individualisme mengakibatkan anggota keluarga hanya memikirkan diri dan kepentingannya saja: punya rumah sendiri-sendiri, terpisah dari keluarga besar, ayah dan ibu yang telah renta hidup sendirian—jika tidak dititipkan di panti jompo, seperti kehidupan di negara-negara maju.

Suami yang berpulang menjadi “lapang” jalan pulangnya jika istri melepasnya untuk melanjutkan perjalanan dengan ikhlas. Secara kasat mata, istri yang ditinggalkan suami tidak banyak menemui kesusahan setelah ditinggal mati suami. Tentu kematian menjadi perlu untuk dibicarakan, tidak dianggap tabu dan menakutkan seperti dalam kebiasaan masyarakat sekarang.

Kemungkinan terburuk—dan solusi atas itu, perlu sering didiskusikan, sehingga kematian kemudian tidak menjadi derita terutama bagi istri dan anak-anak, serta juga keluarga besar yang ditinggalkan.

Ini juga berlaku sebaliknya, jika istri yang meninggal lebih dulu dari suami, apa saja yang menjadi pesan istri perlu dijalankan. Termasuk untuk misalnya menikah lagi, perlu persetujuan dari istri. Tidak lantas menjadikan budaya patriarki sebagai pembenaran, jika misalnya istri wanti-wanti agar setelah ia meninggal suami tidak boleh menikah lagi dan dengan baik menjaga anak-anak mereka. Begitu kira-kira.[T]

BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA

Enam Bulan Kerinduan
Perlukah Mal di Bali: Sebuah Kajian Antropologis
Dilema Membuka Diri Orang dengan Gangguan Jiwa
Meditasi Selamatkan Hidup Saya
Menjadi Terbuka Itu Berbahaya | Catatan Akhir Tahun
Tags: budaya patriarkiPerempuan Balirefleksi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Berkelana Sambil Belajar di Hutan Adat Desa Buahan: Menjaga Hutan, Merawat Kebudayaan

Next Post

Mendengar Lantunan Gending-Gending Sanghyang Dedari Desa Rejasa, Tabanan, yang Sakral dan Magis

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Mendengar Lantunan Gending-Gending Sanghyang Dedari Desa Rejasa, Tabanan, yang Sakral dan Magis

Mendengar Lantunan Gending-Gending Sanghyang Dedari Desa Rejasa, Tabanan, yang Sakral dan Magis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co