4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dilema Membuka Diri Orang dengan Gangguan Jiwa

Angga Wijaya by Angga Wijaya
May 31, 2024
in Esai
Telenovela

Angga Wijaya

“TATAPAN matamu kok kosong? Kamu (mengalami) depresi, ya?” kalimat itu masih saya ingat, datang dari pemilik sebuah galeri seni di Kuta Selatan, Badung, Bali. Kala itu saya melamar pekerjaan sebagai staf, informasi lowongan pekerjaan saya dapatkan dari internet.

Setelah mengirim surat lamaran dan curriculum vitae melalui surel, beberapa hari kemudian saya dihubungi untuk hadir dalam wawancara kerja. Saya datang dengan hati senang, menjawab setiap pertanyaan pemilik galeri dengan lancar. Dia pun rupanya tertarik untuk mempekerjakan saya. Ketika itu dia mengatakan saya diterima bekerja dan akan dihubungi lagi melalui telepon.

Tiga hari berikutnya, dia menelepon saya dan membatalkan penerimaan kerja sebelumnya. Kecewa, tentu. Tetapi saya mencoba untuk sabar dan menerima apa yang terjadi saat itu. Masa-masa tersebut saya masih dalam pemulihan dari skizofrenia.

Usai lima tahun menetap di kampung halaman, saya memberanikan diri untuk kembali ke Denpasar untuk mencari pekerjaan. Tidak mudah ternyata bagi orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang telah pulih untuk kembali bekerja. Stigma tentang kesehatan mental begitu kental di masyarakat.

Mereka menganggap ODGJ pasti tidak bisa bekerja, padahal banyak dari kami yang bahkan punya prestasi di tempat kerja, terlepas dari gangguan jiwa yang dialami. Asalkan rutin berkonsultasi pada psikolog/psikiater, juga tidak pernah putus obat, rasanya ODGJ tidak berbeda dengan orang lain, mampu untuk bekerja.

Karena stigma itu pula, kawan-kawan ODGJ yang saya kenal menjadi takut untuk membuka diri, terutama pada saat melamar pekerjaan. Syarat penerimaan kerja yang sejak dulu ada, yakni “sehat jasmani dan rohani” seakan membatasi dan terkesan menjadi sebuah diskriminasi terutama bagi penyandang disabilitas, termasuk di dalamnya disabilitas mental—para penyintas gangguan jiwa yang telah pulih dan baik-baik saja.

Inklusivitas

Di Indonesia, sejak beberapa tahun belakangan, mulai banyak perusahaan yang menerima karyawan dan karyawati penyandang disabilitas. Ini sangat bagus. Inklusivitas menjadi tidak hanya jargon dan slogan, tetapi benar-benar dilaksanakan.

Inklusivitas adalah keadaan di mana semua orang dihargai dan diterima apa adanya, terlepas dari perbedaan mereka. Dalam konteks ketenagakerjaan, inklusivitas berarti menciptakan lingkungan kerja yang ramah dan terbuka bagi semua orang, termasuk penyandang disabilitas.

Perusahaan di Indonesia diwajibkan untuk mempekerjakan penyandang disabilitas sejak tahun 2016, dengan terbitnya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. Undang-undang ini mengatur perusahaan swasta wajib mempekerjakan paling sedikit 1% (satu persen) penyandang disabilitas dari jumlah pegawai atau pekerja. (Pasal 53 ayat (2)).

Selain itu, perusahaan wajib menyediakan aksesibilitas di tempat kerja bagi penyandang disabilitas. (Pasal 54). Terakhir, perusahaan dilarang mendiskriminasi penyandang disabilitas dalam proses rekrutmen, pelatihan, dan pengembangan karir. (Pasal 55).

Inklusivitas di tempat kerja sangat penting untuk menciptakan lingkungan kerja yang ramah dan terbuka bagi semua orang. Bagi perusahaan, mempekerjakan penyandang disabilitas dapat memberikan banyak manfaat bagi perusahaan, seperti meningkatkan keragaman, inklusivitas, citra perusahaan, produktivitas, dan kinerja.

Persentase perusahaan di Indonesia yang menerima pekerja penyandang disabilitas masih tergolong rendah. Menurut survei Kementerian Ketenagakerjaan tahun 2021, hanya 13,56% perusahaan yang telah memenuhi kuota minimal 1% pekerja penyandang disabilitas.

Penelitian Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) tahun 2022 menyebut, hanya 30,3% perusahaan yang sudah memiliki kebijakan inklusi disabilitas, dan hanya 14,2% perusahaan yang telah mempekerjakan penyandang disabilitas.

Meskipun masih rendah, ada beberapa perusahaan di Indonesia yang sudah berkomitmen untuk inklusivitas disabilitas dan telah mempekerjakan penyandang disabilitas dengan proporsi yang lebih tinggi dari kuota minimal.

Meskipun masih banyak tantangan, inklusivitas disabilitas di tempat kerja di Indonesia terus berkembang. Dengan komitmen dan kerjasama dari semua pihak, diharapkan semakin banyak perusahaan yang menerima dan mempekerjakan penyandang disabilitas, sehingga mereka dapat berkontribusi dan mencapai potensi penuh mereka.

Stigma “gila”

Berbeda dengan penyandang disabilitas fisik, penyandang disabilitas mental seperti penyintas skizofrenia, gangguan cemas, bipolar bahkan mereka yang mengalami depresi lebih sulit untuk mencari pekerjaan karena stigma bahwa mereka adalah ODGJ yang dalam bahasa awam adalah “gila”.

Dalam pandangan umum, ODGJ tidak akan bisa pulih, tak punya masa depan, membahayakan dan dianggap tidak mampu mengerjakan apa yang menjadi tugas mereka jika diterima bekerja baik pada perusahaan kecil maupun perusahaan besar.

Karena itulah ODGJ yang telah pulih banyak yang memilih untuk tidak berterus terang tentang penyakit mereka saat proses rekruitmen pekerja. Sulitnya, ketika jadwal berobat, biasanya satu bulan sekali, ODGJ yang telah diterima sebagai karyawan atau karyawati, mereka mesti berbohong untuk meminta izin tak bekerja dari kantor.

Lama-kelamaan, perusahaan pasti akan tahu kondisi sebenarnya bahwa mereka adalah penyintas gangguan jiwa meskipun tampak dari luar mereka tidak sakit.

Menurut saya, tidak salah jika sedari awal ODGJ jujur dan terbuka perihal penyakit mereka. Meskipun berdasarkan pengalaman saya, hal itu bisa membuat pemilik perusahaan akan berpikir dua kali untuk menerima ODGJ bekerja.

Namun saya yakin, tidak semua perusahaan seperti itu. Ada yang memberikan kesempatan bagi ODGJ untuk bekerja, apalagi ada anjuran pemerintah untuk mempekerjakan penyandang disabilitas.

Membuka diri tentang kesehatan mental merupakan sebuah langkah besar, menurut saya. Setelah itu dilakukan, akan ada rekan kerja yang mencibir tetapi akan ada juga yang memberi semangat dan dukungan untuk ODGJ. Toh, pada masa sekarang isu kesehatan mental telah banyak diperbincangkan dan menjadi kian “umum” karena ternyata banyak orang Indonesia mengalami masalah kesehatan mental, dari yang paling ringan hingga gangguan psikotik yang berat.

Dengan ini, semoga tidak ada lagi dilema bagi ODGJ untuk membuka diri; berani speak-up tentang apa yang mereka alami dan rasakan. Sehingga, di masa mendatang inklusivitas benar-benar terwujud, tidak hanya di tempat kerja tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat tanpa stigma dan saling mendukung satu sama lain. Semoga ini bukan mimpi di siang bolong.[T]

BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA

Meditasi Selamatkan Hidup Saya
Menjadi Terbuka Itu Berbahaya | Catatan Akhir Tahun
Tags: Gangguan JiwaODGJ
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Festival Komponis Perempuan Wrdhi Cwaram: Bentuk Dukungan dan Pengakuan untuk Komponis Perempuan

Next Post

Nilai Pancasila dan Karakter Bangsa

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Nilai Pancasila dan Karakter Bangsa

Nilai Pancasila dan Karakter Bangsa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co