12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Surealisme Tari Bali

Hartanto by Hartanto
December 21, 2024
in Esai
Surealisme Tari Bali

Pura Payogan Agung, Ketewel, Sukawati - Gianyar | Foto: Hartanto

PADA antologi puisi Kumpicak karya Prof. Dibia kali ini, saya seperti tergerak untuk mendalami ‘esensi’ alih wahana dari seni tari ke puisi. Saya merasa ada sesuatu (asumsi saya) yang mesti ditelisik lebih dalam. Padahal, sebelumnya, Prof. Dibia sudah berkarya lewat antologi puisinya pada 5 seri ; Puitika Tari. Namun, ketika itu saya belum tergerak.

Saya mulai tergerak, karena beberapa puisi Prof. Dibia banyak saya temui elemen Budaya dan spiritual, serta simbol-simbol yang terhimpun jadi narasi sebuah tari. Ini parallel dengan wawancara saya dengan maestro tari dari Budakeling, almarhum Ida Wayan Padang dan putranya, Ida Made Basma, 30 tahun lalu. Isi wawancara tersebut tentang Dasa Aksara dan Mudra dalam tari Bali. Belakangan Ida Made Basma menjadi seorang pedanda, berganti nama Ida Pedanda Gede Made Jelantik Gotama.

Tebaran kata-kata symbolis pada antologi ini – menghadirkan imaji yang kuat dan hidup. Tentu sangat membantu pembaca merasakan atmosfer dan energi dari tarian. Selain itu, deskripsi yang apik, tentu mampu menciptakan pengalaman yang mempesona bagi pembaca. Bagi yang serius menyimaknya – maka dapat dirasakannya cahaya spiritual dan komunikasi dengan yang ilahi.

Simbolisme adalah gerakan seni dan sastra yang muncul pada akhir abad ke-19, terutama di Perancis. Ini menekankan penggunaan simbol untuk menyampaikan makna yang lebih dalam dan abstrak. Simbolisme acap menggunakan metafora, alegori, dan simbol untuk menggambarkan emosi, ide, dan konsep yang tidak bisa diungkapkan dengan cara langsung. Karya-karyanya cenderung bersifat subjektif, penuh dengan misteri dan spiritualitas. Charles Baudelaire, Stéphane Mallarmé, dan Paul Verlaine adalah beberapa penyair terkenal dari gerakan simbolisme.

Begitulah indahnya seni tari di Bali. Jadi, proses kreatif alih wahana yang dilakukan Prof. Dibia – dari tari ke puisi sangatlah  menarik. Pasalnya, Prof. Dibia sangat paham hal-ihwal tari secara mendalam. Dari beberapa sajak yang disajikan, baik dalam antologi ini, atau seri Puitika Tari, memberi ‘kesadaran’ pada kita, bahwa tari Bali adalah puisi.

 Jadi, bisa saya simpulkan, narasi yang tersaji oleh seni tari Bali, lewat bahasa tubuh yang tersusun dari ‘aksara badani’, adalah ‘puisi non verbal’. Sebab, Bahasa Tubuh (wahana berbahasa) pada Tari Bali adalah jenis komunikasi yang menggunakan perilaku fisik, bukan kata-kata — untuk mengekspresikan atau menyampaikan eksistensi, gagasan, cita rasa estetika dan produk pemikiran. Perilaku tersebut meliputi ekspresi wajah, postur tubuh, gerakan, gerakan mata, sentuhan, dan penggunaan ruang , dan seluruh ‘kosa gerak’ yang indah. Daya ini terkombinasi oleh Dasa Aksara dan Mudra.

Pada puisi Ritual Sanghyang, kita temukan ‘Mudra Anjali’ pada bait terakhir, coba simak ; ..//di akhir semua khusyuk memuja//kedua tangan tercakup diatas kepala//Memohon lindungan Hyang Kuasa//membasmi segala duka nestapa//penghuni jagat raya//. Mudra ini sering digunakan pada awal atau akhir tarian sebagai bentuk penghormatan kepada dewa-dewa, penonton, atau para penari lainnya. Kedua telapak tangan diletakkan bersama di depan dada atau kepala. Ini adalah gerakan dasar yang mengekspresikan rasa hormat dan kesucian. Selain itu, kita temui juga aksara “A” dari ‘Dasa Aksara’ pada gerakan tangan yang melambangkan Ketuhanan,. Ini bisa kita simak pada kalimat ; //Memohon lindungan Hyang Kuasa//

Lantas dimanakah bisa kita temukan keberadaan ‘Dasa aksara’ yang lain pada tari ini. Menurut interpretasi saya, bisa kita temui pada bait pertama, baris 3 sampai baris 6. //kidung berkumandang mengantar doa//puja dan mantra permohonan suci//para dewa di alam niskala//segera turun ke alam sekala//.. Esensi dari permohonan suci ini adalah aksara “I” pada ‘Dasa Aksara’. Aksara Ini dipergunakan untuk mohon kekuatan dan pencerahan dari Siwa Raditya.

Dasa Aksara adalah elemen penting dalam tari Bali yang digunakan untuk menyampaikan makna spiritual dan simbolis. Setiap aksara memiliki gerakan dan mantra tersendiri yang membantu penari menyampaikan cerita dan emosi, serta meningkatkan kekuatan spiritual tarian. Integrasi Dasa Aksara dalam tari Bali tidak hanya menambah keindahan visual tetapi juga mendalamkan makna dan pengalaman spiritual bagi penari dan penonton. Sementara itu, Aksara Badani dalam tari Bali adalah kombinasi dari gerakan tubuh yang digunakan untuk mengekspresikan emosi, karakter, dan cerita. Setiap elemen gerakan memiliki makna simbolis yang mendalam dan berkontribusi pada keindahan serta kedalaman tarian Bali.

Untuk lebih memahami Aksara Badani, ada baiknya, saya petik sedikit transkrip wawancara dengan maestro Ida Wayan Padang. Beliau menjelaskan “Bahasa tubuh, terdiri dari beberapa unsur kunci yang digunakan dalam tari Bali, antara lain : Gerakan Kepala (Tenggek). Kepala memainkan peran penting dalam ekspresi emosi dan karakter dalam tari. Contoh gerakan: tenggek ngeliyer (gerakan kepala ke samping dengan lembut), tenggek nyengkalang (gerakan kepala ke atas)”, almarhum menjelaskan.

Sementara itu, Gerakan Mata (Ngenjit) tambah Ida Wayan Padang, digunakan untuk mengungkapkan berbagai emosi, seperti kegembiraan, kesedihan, kemarahan, dan kebingungan. Mata, menurut Ida Wayan Padang, mengikuti gerakan kepala, memberikan fokus dan intensitas pada tarian. Dan masih banyak lagi ‘kosa gerak tubuh’, dari ujung kepala hingga ujung kaki dalam Tari Bali. Begitulah sedikit petikan wawancara saya dengan almarhum.

Selanjutnya – melihat anasir yang ada pada tari Bali, baik yang sakral maupun profan. Perkenankan saya berpendapat bahwa tari Bali yang memiliki anasir Dasa Aksara dan Mudra adalah ‘puisi surealis’ . Dan keberadaan surealisme Tari Bali, jauh sebelum Andre Breton memperkenalkan surealisme di Eropa pada awal abad ke-20. Surealisme Breton adalah gerakan seni dan sastra yang berfokus pada eksplorasi alam bawah sadar, mimpi, imajinasi, dan logika yang tidak konvensional. Jadi- asumsi saya – elemen-elemen surealis dalam tari Bali, seperti Mudra dan Dasa Aksara, sudah ada jauh sebelum surealisme modern muncul.

Seni tari surealis yang mengambil thema L’Acte manqué /The Unconsummated Act pernah dipentaskan Pada Exposition Internationale du Surréalisme pada tahun 1938. Adalah Helene Vanel penarinya. Tarian ini merupakan bagian dari pameran yang dirancang untuk mengekspresikan konsep-konsep psikoanalisis dan surrealisme. Unconsummated Act memiliki struktur yang kompleks dan menarik, yang mengubah peristiwa tersebut menjadi contoh menarik dari pendekatan artistik avant-garde terhadap histeria, yang dianggap oleh para surealis sebagai tindakan pemberontakan sosial.

Kembali ke surealisme tari Bali — dalam surealisme modern, ada penekanan kuat pada alam bawah sadar, dan mimpi. Mudra dan Dasa Aksara, dengan makna spiritual dan simbolis nya, juga dapat dianggap sebagai cara untuk mengeksplorasi dan mengekspresikan aspek-aspek yang lebih dalam dari pikiran manusia. Simbolis disini yang saya maksud adalah karakteristik, bukan gerakan seni, — Simbol memang sering kali memiliki makna yang berlapis-lapis dan memerlukan interpretasi yang lebih mendalam.

Tentang anasir mimpi dalam surealisme modern yang mengacu dari teori Sigmund Freud, juga terdapat pada Tari Bali. Menurut Freud, alam bawah sadar adalah gudang dari keinginan, ketakutan, dan ingatan yang ditekan. Mimpi adalah cara bagi pikiran bawah sadar untuk mengekspresikan dirinya. Hal ini juga bisa kita simak pada proses penciptaan tari Legong Topeng di Pura Payogan Agung, Ketewel.

Pencipta tarian Topeng Legong Topeng adalah Dewa Agung Karna, seorang petinggi dari puri Sukawati. Tarian ini tercipta setelah Dewa Agung Karna bermimpi melihat bidadari menari di surga saat sedang melakukan meditasi di Pura Payogan Agung, Desa Ketewel, Sukawati. Setelah sadar dari mimpinya, Dewa Agung Karna memerintahkan Bendesa Ketewel untuk membuat topeng dan tarian yang mirip dengan mimpinya. Bendesa Ketewel berhasil menyelesaikan sembilan topeng sakral. Ini bukti otentik tentang anasir ‘surealisme’ pada tari Bali

Untuk tarian sakral yang hingga masuk ke kondisi trans, apakah tak bisa di analogikan sebagai gerakan ‘bawah sadar’? Bukankah Tarian yang menggunakan Mudra dan Dasa Aksara sering kali membawa penari dan penonton ke dalam keadaan meditatif atau trans, mirip dengan cara surealisme modern yang berusaha membawa pemirsa ke dalam dunia mimpi dan imajinasi.

Pada sisi lain, Surealisme modern menggunakan simbol dan metafora untuk mengungkapkan ide-ide kompleks dan tidak logis. Mudra dan Dasa Aksara juga sarat dengan simbol, di mana setiap gerakan tangan atau aksara memiliki makna yang mendalam dan bisa mengekspresikan narasi dan emosi yang kompleks.

Lebih lanjut, karya surealis modern sering kali menggabungkan elemen-elemen estetika yang luar biasa indah namun aneh. Tarian Bali, dengan penggunaan Mudra dan Dasa Aksara, juga menciptakan pengalaman estetika yang luar biasa, penuh dengan keindahan dan kekuatan spiritual. Kombinasi gerakan yang halus dan penuh makna dalam Mudra dan Dasa Aksara dapat dibandingkan dengan cara surealis modern menciptakan imaji-imaji yang indah dan memikat namun penuh dengan makna tersembunyi.

Berkait dengan Transformasi Realitas, Surealisme modern berusaha untuk melampaui realitas biasa dan mengeksplorasi dunia yang lebih luas. Tarian Bali, melalui penggunaan Mudra dan Dasa Aksara, juga menciptakan dunia yang melampaui realitas sehari-hari, membawa penari dan penonton ke dalam dimensi spiritual dan magis.

Jadi, Meskipun berasal dari konteks budaya dan artistik yang berbeda, Mudra dan Dasa Aksara dalam tari Bali memiliki beberapa kesamaan dengan prinsip-prinsip surealisme modern. Keduanya menggunakan simbolis yang mendalam, mengakses alam bawah sadar, dan menciptakan pengalaman estetika yang melampaui realitas biasa.

Begitulah penelisikan asumsi saya yang terstimulasi dari antologi Kumpicak karya Prof. Dibia ini. Siapa tahu, suatu saat ada yang tertarik melakukan penelitian ilmiah tentang ; surealisme seni tari Bali, tentang puisi ‘nir-kata’, tentang puisi ‘non-verbal’.  Kita (terutama saya) menunggu. Selain itu, saya juga berharap, kian banyak teman-teman sastrawan lainnya yang juga terinspirasi dari kekayaan seni-budaya yang dimiliki Bali.  Selamat buat Prof. Dibia yang produktif menulis dan membuat kita yang berkecimpung di dunia kreatif menjadi semakin ‘iri’ (dalam tanda petik dari saya). Astungkara. Swaha. [T]

BACA artikel lain dari penulis HARTANTO

Garis-garis Puitika Karya-karya Made Kaek
Percik Estetik Made Gunawan
Dayu Ani, “Kenapa Legong?” – Karena Ia Bisa Menjelma Apa Saja
Tari Panji Masutasoma: Memaknai Kemerdekaan, Memerdekakan Makna-makna
Tags: kesenian baliseni taritari bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ibu Menemaniku Saat Skizofrenia Mendera

Next Post

Kembalinya Sistem Pemerintahan Adat Baduy

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

Kembalinya Sistem Pemerintahan Adat Baduy

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co