23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dayu Ani, “Kenapa Legong?” – Karena Ia Bisa Menjelma Apa Saja

Julio Saputra by Julio Saputra
October 2, 2020
in Khas
Dayu Ani, “Kenapa Legong?” – Karena Ia Bisa Menjelma Apa Saja

Pementasan “Kenapa Legong” yang dibawakan oleh Komunitas Bumi Bajra Sandhi dalam kegiatan Panggung Seni Online Streaming, Rabu, 30 September 2020 [Foto Dok Antida]

Pementasan tari bertajuk “Kenapa Legong” yang dibawakan oleh Komunitas Bumi Bajra Sandhi dalam kegiatan Panggung Seni Online Streaming pada Rabu, 30 September 2020, pukul 20.00 WITA di kanal Youtube Budayasaya, hingga kini terasa masih terasa getarannya dan terngiang di benak saya.

Pementasan yang menjadi bentuk kerjasama Antida Musik Productions dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tersebut menampilkan eksplorasi gerakan-gerakan dinamis karya seniman dan koreografer mumpuni Ida Ayu Wayan Arya Satyani atau disapa Dayu Ani. Secara mandalam, ia mengeksplorasi Tari Legong, menjadikannya sebuah pagelaran yang tak seperti Tari Legong pada umumnya, sebuah pagelaran yang terinspirasi dari teks Japatwan yang menceritakan petualangan kakak beradik Gagak Turas dan Japatwan ketika menyusul Ratnaningrat ke Siwaloka.

“Panggung ini merupakan wadah bagi para seniman untuk bereksplorasi, bahkan menjadi ruang ekspresi yang membebaskan untuk menampilkan karya-karya mereka yang tiada memberi sekat pada tradisi atau modern,” ungkap Anom Darsana, pendiri Antida Music Production.

Hal senada juga disampaikan oleh Direktur Jenderal Kebudayaan, Himar Farid. Menurutnya, kekayaan seni tari tradisi di Indonesia begitu beragam dari Sabang sampai Merauke dan tiada habis untuk dijelajahi. Itulah sebabnya khasanah budaya tersebut dapat memberikan inspirasi untuk menciptakan karya kreasi baru, seperti halnya eksplorasi Tari Legong dalam pagelaran panggung seni streaming online yang diadakan.

“Pemerintah Indonesia melalui Kemendikbud mendukung kegairahan para seniman tari untuk kembali ke panggung. Selain untuk menjaga spirit para pelaku seni dan budaya, juga melihat bahwa pentingnya untuk melestarikan tari tradisi dan mengajak generasi muda untuk mencintai seni tari tradisi di balik gempuran budaya dari luar,” pungkasnya.

Panggung Seni Online Streaming tersebut juga didukung oleh HMJ Tari ISI Denpasar, Prodi Tari Fakultas Seni Pertunjukan ISI Denpasar, Sanggar Lokananta, International Bali Rental, dan Purnham Event Planner.

Kenapa Legong dari Komunitas Bumi Bajra karya Dayu Ani [Foto Dok Antida]

Kenapa Legong?

“Kenapa Legong adalah wujud kekaguman saya pada proses penciptaan legong, pada kelanggengan yang ditawarkan oleh tarian-tarian klasik. Apanya yang langgeng? Ya, tarian-tarian itu sendiri. Bagaimana prosesnya lentur menembus zaman tanpa kehilangan rohnya.” Ungkap Dayu Ani. Ia tampil dalam balutan kebaya hitam elegan dengan rambut panjangnya yang dikepang satu menjuntai di balik punggungnya, yang juga menjadi ciri khas dalam kesehariannya.

Dayu Ani kemudian mengutip Prof. I Made Bandem.  Bahwa perjalanan dan perkembangan Tari Legong di Bali bermula dari Tari Sanghyang yang mendapat sedikit sentuhan, artikulasi ide, dan koreografi formil dari Tari Gambuh. Kemudian dilanjutkan oleh kesakralan Legong Topeng yang menjadi tarian istana (Legong Keraton) pada abad ke-15. Saat itu, istana atau kerajaan memiliki peranan penting bagi tumbuhnya kesenian-kesenian dengan standar kualitas yang tinggi. Lalu, ketika memasuki era Kebyar, Tari Legong menjelma menjadi Tari Kebyar. Ada banyak tari-tari kreasi palegongan yang diiringi oleh gong kebyar. Tari Truna Jaya salah satunya. Hingga sekarang, di zaman modern ini, di era kontemporer, Tari Legong Keraton masih menjadi inspirasi.

“Kenapa Legong juga menjadi wujud kerinduan saya pada karakteristik tari bali kuna, ketika pakem tari bali belum begitu teknis seperti sekarang. Itu sebabnya saya mengajak anak-anak yang belum mendapat teknis dasar tari bali secara intens.” Imbuhnya.

Saat mengawali proses “Kenapa Legong”, ada pesan dari Cok Sawitri – seorang seniman dan sastrawan ternama Bali – yang ia ingat ketika beliau memberi seminar di ISI Denpasar beberapa tahun lalu.

“Kata beliau, seni klasik itu adiluhung, begitu agung, begitu mulia begitu tinggi. Justru karena itu jangan takut berkreasi. ‘Nakal-nakalah’. Ia takkan terluka oleh kenakalan kreativitas yang kita lakukan. Paling karya kita yang akan rubuh, seumur jagung, dan bernasib tragis, bila apa yang kita lakukan belum cukup dalam. Seni klasik itu tak akan terluka. Jadi jangan baper sebelum mencoba”

Sebagaimana Tari Legong pada umumnya, pementasan yang berdurasi 1 jam tersebut diawali oleh Yuning yang membawakan Tari Condong Keraton sebagai pembuka acara. Dalam balutan busana tari yang cukup khas berwarna merah, lengkap dengan rangkaian bunga memanjang di sisi kanan dan kiri mahkotanya, gadis muda itu menari dengan tajam dan intens. Kepiawaiannya menari memang tidak boleh diragukan. Gerakannya cukup memukau, ia seperti tidak pernah kehilangan tenaga saat menari. Tak heran jika ia selalu menjadi juara dalam perlombaan tari bali, seperti yang dikatakan Dayu Ani saat bincang proses kreatif di akhir acara.

Pementasan Kidung Pengraksa Jiwa {Foto Dok Antida]

Setelah menari selama kurang lebih 7 menit, pementasan kemudian dilanjutkan dengan Kenapa Legong Japatuwan. Tarian utama dalam pementasan tersebut dibawakan oleh 7 orang laki-laki yang masih belia, muda, dan bujang, Masing-masing dari mereka adalah Aditya Guna Eka Putra, Amrita Dharma Darsanam, Sena, Made Manipuspaka, Dhira Aditya, Pande Surya, dan Krisna Yoga. Mereka menari membawa kipas berwarna hitam, bagian bawah mereka ditutupi kain putih, ada juga selendang hijau yang dililitkan di pinggang, serta secarik bunga dan daun yang diselipkan di telinga kanan. Gerakan mereka juga tak kalah dinamis.

Terkadang mereka menari dengan cepat, atau dengan sangat cepat. Terkadang juga mereka menari dengan pelan, atau juga sangat pelan. Sesekali mereka bersimpuh, atau berjongkok, dan bahkan berkali-kali mereka melompat dan bersalto. Meski begitu, keindahan gerak dan nilai esetetika yang ditawarkan seperti tidak lepas dari masing-masing tubuh mereka. Setiap gerakan menyimpan sukma tersendiri. Mereka seolah-olah sudah mengunci jiwa seni yang bersarang dalam tubuh mereka ketika menari.

Bahkan, meski sudah menari cukup lama, mereka juga seperti tidak kehilangan tenaga. Terlihat di bagian akhir, 2 orang di antara mereka mengangkat 2 orang penari lain yang sudah selesai mengenakan busana tari tertentu. Tak hanya itu, penampilan mereka juga semakin diperkuat dengan alunan gamelan dan kidung yang lambat-lambat terdengan seperti sebuah rapalan doa atau mantra. Bisa disimpulkan, penampilan mereka penuh dengan taksu. Lewat gerakan-gerakan tari, mereka menghidupkan diri mereka sendiri menjadi nilai seni bermakna tinggi.

Ada satu lagi pementasan yang ditampilkan dalam Panggung Seni Online Streaming tersebut, yaitu Kidung Pangraksa Jiwa, sebuah kidung yang diyakini dapat memperkuat jiwa, menjauhkannya dari hal-hal buruk, menangkal semua energi negatif yang ada, menjaganya untuk selaras dalam lindungan kasih sayang semesta pada setiap hidup dan kehidupan. Kidung tersebut menjadi symbol tolerasi yang tertanam dalam jiwa. Jika dikaitkan dengan situasi pandemic saat ini, kidung tersebut menjelma doa dan mantra, serta harapan agar seluruh jiwa senantiasa mendapat keselamatan. 

Menari Bukan Masalah Gender

Pada proses bincang kreatif di akhir pementasan “Kenapa Legong”, ada hal bermakna yang diucapkan oleh Dayu Ani menjawab pertanyaan mengapa para penari yang membawakan tarian tersebut bukanlah perempuan, tapi laki-laki.

“Kenapa laki-laki? Karena melalui proses ini saya ingin berbagi bahwa menari bukanlah tentang gender. Melainkan menari adalah tentang jiwa yang menggunakan medium tubuh, entah itu laki-laki, entah itu perempuan, untuk menyampaikan karakter yang dibawakan. Jadi pada tari ini, kita sedang mengangkat maskulinitas dari Legong.” Ujarnya.

Barangkali, itu juga yang membuat suami Dayu Ani, Ida Made Dwipayana, memposting sebuah kata-kata inspiratif dan menarik di beranda akun facebook miliknya. “Kami berkumis, kami berjakun, kami menari, kami melompat, kami bersalto, kami ngelegong, kami mendelik, kami melirik, kami telanjang dada, kami berani, karena kami laki-laki.” [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Purnama Kapat dan Ingatan tentang “Rajer Babat”

Next Post

Hargai Kehidupan dan Kematian Tak Meminta Perhatian

Julio Saputra

Julio Saputra

Alumni Mahasiswa jurusan Bahasa Inggris Undiksha, Singaraja. Punya kesukaan menulis status galau di media sosial. Pemain teater yang aktif bergaul di Komunitas Mahima

Related Posts

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

Read moreDetails

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
0
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

Read moreDetails

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
0
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

Read moreDetails

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

by Jaswanto
August 7, 2026
0
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

Read moreDetails

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

by tatkala
August 6, 2026
0
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

Read moreDetails
Next Post
Hal-hal Lucu Saat Wabah Covid-19

Hargai Kehidupan dan Kematian Tak Meminta Perhatian

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co