4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dayu Ani, “Kenapa Legong?” – Karena Ia Bisa Menjelma Apa Saja

Julio Saputra by Julio Saputra
October 2, 2020
in Khas
Dayu Ani, “Kenapa Legong?” – Karena Ia Bisa Menjelma Apa Saja

Pementasan “Kenapa Legong” yang dibawakan oleh Komunitas Bumi Bajra Sandhi dalam kegiatan Panggung Seni Online Streaming, Rabu, 30 September 2020 [Foto Dok Antida]

Pementasan tari bertajuk “Kenapa Legong” yang dibawakan oleh Komunitas Bumi Bajra Sandhi dalam kegiatan Panggung Seni Online Streaming pada Rabu, 30 September 2020, pukul 20.00 WITA di kanal Youtube Budayasaya, hingga kini terasa masih terasa getarannya dan terngiang di benak saya.

Pementasan yang menjadi bentuk kerjasama Antida Musik Productions dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tersebut menampilkan eksplorasi gerakan-gerakan dinamis karya seniman dan koreografer mumpuni Ida Ayu Wayan Arya Satyani atau disapa Dayu Ani. Secara mandalam, ia mengeksplorasi Tari Legong, menjadikannya sebuah pagelaran yang tak seperti Tari Legong pada umumnya, sebuah pagelaran yang terinspirasi dari teks Japatwan yang menceritakan petualangan kakak beradik Gagak Turas dan Japatwan ketika menyusul Ratnaningrat ke Siwaloka.

“Panggung ini merupakan wadah bagi para seniman untuk bereksplorasi, bahkan menjadi ruang ekspresi yang membebaskan untuk menampilkan karya-karya mereka yang tiada memberi sekat pada tradisi atau modern,” ungkap Anom Darsana, pendiri Antida Music Production.

Hal senada juga disampaikan oleh Direktur Jenderal Kebudayaan, Himar Farid. Menurutnya, kekayaan seni tari tradisi di Indonesia begitu beragam dari Sabang sampai Merauke dan tiada habis untuk dijelajahi. Itulah sebabnya khasanah budaya tersebut dapat memberikan inspirasi untuk menciptakan karya kreasi baru, seperti halnya eksplorasi Tari Legong dalam pagelaran panggung seni streaming online yang diadakan.

“Pemerintah Indonesia melalui Kemendikbud mendukung kegairahan para seniman tari untuk kembali ke panggung. Selain untuk menjaga spirit para pelaku seni dan budaya, juga melihat bahwa pentingnya untuk melestarikan tari tradisi dan mengajak generasi muda untuk mencintai seni tari tradisi di balik gempuran budaya dari luar,” pungkasnya.

Panggung Seni Online Streaming tersebut juga didukung oleh HMJ Tari ISI Denpasar, Prodi Tari Fakultas Seni Pertunjukan ISI Denpasar, Sanggar Lokananta, International Bali Rental, dan Purnham Event Planner.

Kenapa Legong dari Komunitas Bumi Bajra karya Dayu Ani [Foto Dok Antida]

Kenapa Legong?

“Kenapa Legong adalah wujud kekaguman saya pada proses penciptaan legong, pada kelanggengan yang ditawarkan oleh tarian-tarian klasik. Apanya yang langgeng? Ya, tarian-tarian itu sendiri. Bagaimana prosesnya lentur menembus zaman tanpa kehilangan rohnya.” Ungkap Dayu Ani. Ia tampil dalam balutan kebaya hitam elegan dengan rambut panjangnya yang dikepang satu menjuntai di balik punggungnya, yang juga menjadi ciri khas dalam kesehariannya.

Dayu Ani kemudian mengutip Prof. I Made Bandem.  Bahwa perjalanan dan perkembangan Tari Legong di Bali bermula dari Tari Sanghyang yang mendapat sedikit sentuhan, artikulasi ide, dan koreografi formil dari Tari Gambuh. Kemudian dilanjutkan oleh kesakralan Legong Topeng yang menjadi tarian istana (Legong Keraton) pada abad ke-15. Saat itu, istana atau kerajaan memiliki peranan penting bagi tumbuhnya kesenian-kesenian dengan standar kualitas yang tinggi. Lalu, ketika memasuki era Kebyar, Tari Legong menjelma menjadi Tari Kebyar. Ada banyak tari-tari kreasi palegongan yang diiringi oleh gong kebyar. Tari Truna Jaya salah satunya. Hingga sekarang, di zaman modern ini, di era kontemporer, Tari Legong Keraton masih menjadi inspirasi.

“Kenapa Legong juga menjadi wujud kerinduan saya pada karakteristik tari bali kuna, ketika pakem tari bali belum begitu teknis seperti sekarang. Itu sebabnya saya mengajak anak-anak yang belum mendapat teknis dasar tari bali secara intens.” Imbuhnya.

Saat mengawali proses “Kenapa Legong”, ada pesan dari Cok Sawitri – seorang seniman dan sastrawan ternama Bali – yang ia ingat ketika beliau memberi seminar di ISI Denpasar beberapa tahun lalu.

“Kata beliau, seni klasik itu adiluhung, begitu agung, begitu mulia begitu tinggi. Justru karena itu jangan takut berkreasi. ‘Nakal-nakalah’. Ia takkan terluka oleh kenakalan kreativitas yang kita lakukan. Paling karya kita yang akan rubuh, seumur jagung, dan bernasib tragis, bila apa yang kita lakukan belum cukup dalam. Seni klasik itu tak akan terluka. Jadi jangan baper sebelum mencoba”

Sebagaimana Tari Legong pada umumnya, pementasan yang berdurasi 1 jam tersebut diawali oleh Yuning yang membawakan Tari Condong Keraton sebagai pembuka acara. Dalam balutan busana tari yang cukup khas berwarna merah, lengkap dengan rangkaian bunga memanjang di sisi kanan dan kiri mahkotanya, gadis muda itu menari dengan tajam dan intens. Kepiawaiannya menari memang tidak boleh diragukan. Gerakannya cukup memukau, ia seperti tidak pernah kehilangan tenaga saat menari. Tak heran jika ia selalu menjadi juara dalam perlombaan tari bali, seperti yang dikatakan Dayu Ani saat bincang proses kreatif di akhir acara.

Pementasan Kidung Pengraksa Jiwa {Foto Dok Antida]

Setelah menari selama kurang lebih 7 menit, pementasan kemudian dilanjutkan dengan Kenapa Legong Japatuwan. Tarian utama dalam pementasan tersebut dibawakan oleh 7 orang laki-laki yang masih belia, muda, dan bujang, Masing-masing dari mereka adalah Aditya Guna Eka Putra, Amrita Dharma Darsanam, Sena, Made Manipuspaka, Dhira Aditya, Pande Surya, dan Krisna Yoga. Mereka menari membawa kipas berwarna hitam, bagian bawah mereka ditutupi kain putih, ada juga selendang hijau yang dililitkan di pinggang, serta secarik bunga dan daun yang diselipkan di telinga kanan. Gerakan mereka juga tak kalah dinamis.

Terkadang mereka menari dengan cepat, atau dengan sangat cepat. Terkadang juga mereka menari dengan pelan, atau juga sangat pelan. Sesekali mereka bersimpuh, atau berjongkok, dan bahkan berkali-kali mereka melompat dan bersalto. Meski begitu, keindahan gerak dan nilai esetetika yang ditawarkan seperti tidak lepas dari masing-masing tubuh mereka. Setiap gerakan menyimpan sukma tersendiri. Mereka seolah-olah sudah mengunci jiwa seni yang bersarang dalam tubuh mereka ketika menari.

Bahkan, meski sudah menari cukup lama, mereka juga seperti tidak kehilangan tenaga. Terlihat di bagian akhir, 2 orang di antara mereka mengangkat 2 orang penari lain yang sudah selesai mengenakan busana tari tertentu. Tak hanya itu, penampilan mereka juga semakin diperkuat dengan alunan gamelan dan kidung yang lambat-lambat terdengan seperti sebuah rapalan doa atau mantra. Bisa disimpulkan, penampilan mereka penuh dengan taksu. Lewat gerakan-gerakan tari, mereka menghidupkan diri mereka sendiri menjadi nilai seni bermakna tinggi.

Ada satu lagi pementasan yang ditampilkan dalam Panggung Seni Online Streaming tersebut, yaitu Kidung Pangraksa Jiwa, sebuah kidung yang diyakini dapat memperkuat jiwa, menjauhkannya dari hal-hal buruk, menangkal semua energi negatif yang ada, menjaganya untuk selaras dalam lindungan kasih sayang semesta pada setiap hidup dan kehidupan. Kidung tersebut menjadi symbol tolerasi yang tertanam dalam jiwa. Jika dikaitkan dengan situasi pandemic saat ini, kidung tersebut menjelma doa dan mantra, serta harapan agar seluruh jiwa senantiasa mendapat keselamatan. 

Menari Bukan Masalah Gender

Pada proses bincang kreatif di akhir pementasan “Kenapa Legong”, ada hal bermakna yang diucapkan oleh Dayu Ani menjawab pertanyaan mengapa para penari yang membawakan tarian tersebut bukanlah perempuan, tapi laki-laki.

“Kenapa laki-laki? Karena melalui proses ini saya ingin berbagi bahwa menari bukanlah tentang gender. Melainkan menari adalah tentang jiwa yang menggunakan medium tubuh, entah itu laki-laki, entah itu perempuan, untuk menyampaikan karakter yang dibawakan. Jadi pada tari ini, kita sedang mengangkat maskulinitas dari Legong.” Ujarnya.

Barangkali, itu juga yang membuat suami Dayu Ani, Ida Made Dwipayana, memposting sebuah kata-kata inspiratif dan menarik di beranda akun facebook miliknya. “Kami berkumis, kami berjakun, kami menari, kami melompat, kami bersalto, kami ngelegong, kami mendelik, kami melirik, kami telanjang dada, kami berani, karena kami laki-laki.” [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Purnama Kapat dan Ingatan tentang “Rajer Babat”

Next Post

Hargai Kehidupan dan Kematian Tak Meminta Perhatian

Julio Saputra

Julio Saputra

Alumni Mahasiswa jurusan Bahasa Inggris Undiksha, Singaraja. Punya kesukaan menulis status galau di media sosial. Pemain teater yang aktif bergaul di Komunitas Mahima

Related Posts

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
0
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

Read moreDetails
Next Post
Hal-hal Lucu Saat Wabah Covid-19

Hargai Kehidupan dan Kematian Tak Meminta Perhatian

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co