4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hargai Kehidupan dan Kematian Tak Meminta Perhatian

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
October 5, 2020
in Esai
Hal-hal Lucu Saat Wabah Covid-19

Kita takkan pernah tahu, kapan dan di mana hembusan nafas kita berakhir. Segalanya misteri abadi yang senantiasa disegani. Bahkan jika kematian itu dipersiapkan dan direncanakan sekali pun, sesungguhnya selalu, ia tak pernah diharapakan. Sebuah kematian yang direncanakan dan dipersiapkan pastilah sebuah hukuman. Entah itu oleh orang lain atau pun dari diri sendiri. Eksekusi di tiang gantungan yang disahkan negara, tebasan sadis di leher oleh belati dendam kesumat atau keputusan untuk bunuh diri yang hampa. Kelahiran sebaliknya, selamanya dinanti dan diharapkan. Maka jika ada kelahiran yang tak diharapkan, itu jelas sebuah hukuman yang telah dijatuhkan jauh sebelum kelahiran menyapa. Satu drama kehidupan manusia yang diselimuti segala kesuraman dan selalu menyiksa nurani. Hingga pada baris ini, kalimat yang tertulis masih menggambarkan betapa kematian selalu saja menuntut pengakuan yang tak biasa-biasa saja. Ia adalah kemewahan yang tetap minta untuk selalu disegani, ditakuti dan diperdebatkan bahkan dijadikan alasan untuk berperang.  

Hari ini, dalam kepungan wabah global Covid-19, kematian berdatangan silih berganti dan tak sedikit yang menuntut kemewahannya. Kemewahan sering kali bukan sekutu kebahagiaan, namun dapat pula sebagai wakil alam bawah sadar dari sebuah pemberontakan akan kemiskinan. Ada gelimang  rasa jengah, mungkin rasa bersalah. Atau dapat juga lantaran satu tradisi yang telah menjauhkan hati manusia dengan kehidupan, namun menyanderanya bersama rasa pahit kehilangan akibat kematian. Hati manusia kian jauh dengan kehidupan yang segar berseri, sederhana dan bersahaja namun semakin dekat dengan kematian yang kelam dan penuh kesombongan. Hampir setiap hari petugas  pemulasaraan jenazah bersitegang dan saling salah pengertian dengan keluarga pasien yang meninggal akibat Covid-19 atau terduga. Hal ini terutama terjadi di daerah-daerah dengan tradisi adat istiadat yang tebal dan mendarah daging seperti di Bali ini. Satu pihak mesti bertahan pada prinsip-prinsip asepsis yang diperintahkan negara sementara tentu saja hal ini dapat meniadakan akses keluarga untuk melaksanakan ritual yang secara tradisional sedemikian penting dan prinsip.

Kematian, sekali lagi, akan selalu misterius dan meninggalkan kita dalam kebingungan. Protokol universal memang telah memisahkan jenazah pengidap Covid-19 dengan keluarganya.  Keduanya tak dapat bertemu dalam spirit budaya mendalam dan penuh emosional yang dalam sejarah tradisi selalu memberi rasa lega. Sedemikian fundametal kah, tradisi itu? Terutama di saat kita dihadapkan pada situasi yang sangat sulit seperti ini? Sebetulnya ada berbagai keadaan yang juga dapat memberikan keadaan seperti ini seperti kematian akibat kecelakaan pesawat terbang, kapal laut, aktivitas di alam seperti mendaki gunung, korban penculikan dan pembunuhan yang dapat melenyapkan jenazah dari keluarganya. Maka, sedemikian jelas tampaknya, kematian takkan bisa kita kuasai tempat dan waktunya. Namun kehidupanlah yang sedang menunggu kita untuk dikuasai dan dimuliakan. 

Kita sering lupa untuk menghargai kehidupan yang menyimpan segala kebaikan, namun sebaliknya, mengagungkan kematian dengan penuh emosional dan tak rasional. Contoh di atas, kematian karena virus Corona, sudah memberi gambaran yang cukup jelas akan hal ini. Kita abai dengan protokol Covid-19 yang begitu sederhana seperti memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan. Sebagian dari kita memilih untuk berdebat dan saling menyalahkan. Bahkan tokoh dunia sekaliber presiden Donald Trump pun punya reputasi buruk menolak dengan skeptis anjuran protokol ini. Dan seperti yang kita ketahui bersama, Trump dan Ivana, ibu negara Paman Sam itu, kini harus menjalani karantian mandiri selama paling tidak 14 hari lantaran terkonfirmasi positif SARS-Cov-2. Tak melulu terkait wabah saat ini, sejujurnya kita memang kurang menghargai kehidupan, alam dan sesama. Entah berapa juta hektar hutan yang telah kita babat tanpa belas kasihan, dan saat banjir atau tanah longsor menyerang balik dan mengambil beberapa nyawa dari kita, kita pun riuh rendah simpati dan memuja nestapa ini berhari-hari.

Pun dengan sesama, kita belum betul-betul sepenuhnya merayakan hidup ini dengan sehebat-hebatnya dalam welas asih dan humanisme. Sebagian dari kita masih sulit menerima perbedaan dalam nilai-nilai pluralisme. Sentimen SARA yang kerap menciptakan konflik rasial masih sering mencorang-coreng kehidupan yang semestinya indah berwarna-warni. Bahkan di sana sini masih terdengar sikap-sikap buruk stigmatisasi terhadap penderita Covid-19 alih-alih mendukung mereka. Di bangsal-bangsal rumah sakit yang penuh penderitaan, tak sedikit orang tua yang kehilangan harapan karena telah ditelantarkan anak-anaknya sendiri. Bukankah perhatian dan kasih sayang semasa mereka hidup jauh lebih bermakna ketimbang hingar bingar dengan biaya besar saat upacara ngaben? Mari kita renungkan bersama gagasan ini. Saat kita telah menghargai dengan kedalaman hati, kehidupan yang sebetulnya sederhana ini, maka kita takkan sekalipun perlu menatap kematian dengan penuh kerumitan. Ia, seharusnya hanyalah akhir dari sebuah cerita film, semua film yang selalu harus ada akhirnya, film-film yang kesemuanya telah meninggalkan kisah cerita yang sangat mengesankan untuk penontonnya.[T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dayu Ani, “Kenapa Legong?” – Karena Ia Bisa Menjelma Apa Saja

Next Post

Surat Raja Buleleng ke Stamford Raffles —Menelusuri Perjalanan Ketut Jubeleng Budak Buleleng

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Covid-19 dalam Alam Pikir Religi Nusantara – Catatan Harian Sugi Lanus

Surat Raja Buleleng ke Stamford Raffles —Menelusuri Perjalanan Ketut Jubeleng Budak Buleleng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co