23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hargai Kehidupan dan Kematian Tak Meminta Perhatian

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
October 5, 2020
in Esai
Hal-hal Lucu Saat Wabah Covid-19

Kita takkan pernah tahu, kapan dan di mana hembusan nafas kita berakhir. Segalanya misteri abadi yang senantiasa disegani. Bahkan jika kematian itu dipersiapkan dan direncanakan sekali pun, sesungguhnya selalu, ia tak pernah diharapakan. Sebuah kematian yang direncanakan dan dipersiapkan pastilah sebuah hukuman. Entah itu oleh orang lain atau pun dari diri sendiri. Eksekusi di tiang gantungan yang disahkan negara, tebasan sadis di leher oleh belati dendam kesumat atau keputusan untuk bunuh diri yang hampa. Kelahiran sebaliknya, selamanya dinanti dan diharapkan. Maka jika ada kelahiran yang tak diharapkan, itu jelas sebuah hukuman yang telah dijatuhkan jauh sebelum kelahiran menyapa. Satu drama kehidupan manusia yang diselimuti segala kesuraman dan selalu menyiksa nurani. Hingga pada baris ini, kalimat yang tertulis masih menggambarkan betapa kematian selalu saja menuntut pengakuan yang tak biasa-biasa saja. Ia adalah kemewahan yang tetap minta untuk selalu disegani, ditakuti dan diperdebatkan bahkan dijadikan alasan untuk berperang.  

Hari ini, dalam kepungan wabah global Covid-19, kematian berdatangan silih berganti dan tak sedikit yang menuntut kemewahannya. Kemewahan sering kali bukan sekutu kebahagiaan, namun dapat pula sebagai wakil alam bawah sadar dari sebuah pemberontakan akan kemiskinan. Ada gelimang  rasa jengah, mungkin rasa bersalah. Atau dapat juga lantaran satu tradisi yang telah menjauhkan hati manusia dengan kehidupan, namun menyanderanya bersama rasa pahit kehilangan akibat kematian. Hati manusia kian jauh dengan kehidupan yang segar berseri, sederhana dan bersahaja namun semakin dekat dengan kematian yang kelam dan penuh kesombongan. Hampir setiap hari petugas  pemulasaraan jenazah bersitegang dan saling salah pengertian dengan keluarga pasien yang meninggal akibat Covid-19 atau terduga. Hal ini terutama terjadi di daerah-daerah dengan tradisi adat istiadat yang tebal dan mendarah daging seperti di Bali ini. Satu pihak mesti bertahan pada prinsip-prinsip asepsis yang diperintahkan negara sementara tentu saja hal ini dapat meniadakan akses keluarga untuk melaksanakan ritual yang secara tradisional sedemikian penting dan prinsip.

Kematian, sekali lagi, akan selalu misterius dan meninggalkan kita dalam kebingungan. Protokol universal memang telah memisahkan jenazah pengidap Covid-19 dengan keluarganya.  Keduanya tak dapat bertemu dalam spirit budaya mendalam dan penuh emosional yang dalam sejarah tradisi selalu memberi rasa lega. Sedemikian fundametal kah, tradisi itu? Terutama di saat kita dihadapkan pada situasi yang sangat sulit seperti ini? Sebetulnya ada berbagai keadaan yang juga dapat memberikan keadaan seperti ini seperti kematian akibat kecelakaan pesawat terbang, kapal laut, aktivitas di alam seperti mendaki gunung, korban penculikan dan pembunuhan yang dapat melenyapkan jenazah dari keluarganya. Maka, sedemikian jelas tampaknya, kematian takkan bisa kita kuasai tempat dan waktunya. Namun kehidupanlah yang sedang menunggu kita untuk dikuasai dan dimuliakan. 

Kita sering lupa untuk menghargai kehidupan yang menyimpan segala kebaikan, namun sebaliknya, mengagungkan kematian dengan penuh emosional dan tak rasional. Contoh di atas, kematian karena virus Corona, sudah memberi gambaran yang cukup jelas akan hal ini. Kita abai dengan protokol Covid-19 yang begitu sederhana seperti memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan. Sebagian dari kita memilih untuk berdebat dan saling menyalahkan. Bahkan tokoh dunia sekaliber presiden Donald Trump pun punya reputasi buruk menolak dengan skeptis anjuran protokol ini. Dan seperti yang kita ketahui bersama, Trump dan Ivana, ibu negara Paman Sam itu, kini harus menjalani karantian mandiri selama paling tidak 14 hari lantaran terkonfirmasi positif SARS-Cov-2. Tak melulu terkait wabah saat ini, sejujurnya kita memang kurang menghargai kehidupan, alam dan sesama. Entah berapa juta hektar hutan yang telah kita babat tanpa belas kasihan, dan saat banjir atau tanah longsor menyerang balik dan mengambil beberapa nyawa dari kita, kita pun riuh rendah simpati dan memuja nestapa ini berhari-hari.

Pun dengan sesama, kita belum betul-betul sepenuhnya merayakan hidup ini dengan sehebat-hebatnya dalam welas asih dan humanisme. Sebagian dari kita masih sulit menerima perbedaan dalam nilai-nilai pluralisme. Sentimen SARA yang kerap menciptakan konflik rasial masih sering mencorang-coreng kehidupan yang semestinya indah berwarna-warni. Bahkan di sana sini masih terdengar sikap-sikap buruk stigmatisasi terhadap penderita Covid-19 alih-alih mendukung mereka. Di bangsal-bangsal rumah sakit yang penuh penderitaan, tak sedikit orang tua yang kehilangan harapan karena telah ditelantarkan anak-anaknya sendiri. Bukankah perhatian dan kasih sayang semasa mereka hidup jauh lebih bermakna ketimbang hingar bingar dengan biaya besar saat upacara ngaben? Mari kita renungkan bersama gagasan ini. Saat kita telah menghargai dengan kedalaman hati, kehidupan yang sebetulnya sederhana ini, maka kita takkan sekalipun perlu menatap kematian dengan penuh kerumitan. Ia, seharusnya hanyalah akhir dari sebuah cerita film, semua film yang selalu harus ada akhirnya, film-film yang kesemuanya telah meninggalkan kisah cerita yang sangat mengesankan untuk penontonnya.[T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dayu Ani, “Kenapa Legong?” – Karena Ia Bisa Menjelma Apa Saja

Next Post

Surat Raja Buleleng ke Stamford Raffles —Menelusuri Perjalanan Ketut Jubeleng Budak Buleleng

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Covid-19 dalam Alam Pikir Religi Nusantara – Catatan Harian Sugi Lanus

Surat Raja Buleleng ke Stamford Raffles —Menelusuri Perjalanan Ketut Jubeleng Budak Buleleng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co