2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Garis-garis Puitika Karya-karya Made Kaek

Hartanto by Hartanto
November 11, 2024
in Ulas Rupa
Salah satu karya Made Kaek

 “Seni adalah bahasa, instrumen pengetahuan, instrumen komunikasi“ (Jean Dubuffet)

PETIKAN pemikiran dari perupa Jean Dubuffet, sungguh menarik bagi saya. Pasalnya, bagi saya sebuah karya rupa juga merupa ‘bahasa’ atau alat penyampaian secara visual. Anasirnya bukanlah kosa kata, tapi  ; kosa warna, kosa garis, kosa bidang, dan kosa-kosa lainnya yang berkait dengan anasir karya visual.  Semua itu, karya rupa, juga merupakan sarana untuk menyampaikan gagasan secara visual.

Atas dasar pemikiran Dubuffet di atas, perkenankan saya memakai pendekatan sastra, dalam menikmati karya rupa sahabat saya, perupa Made Kaek. Selain itu, saya memang menikmati karya-karya bli Kaek sebagai ‘puisi-puisi visual’. Sebab, dalam menikmati karya-karya perupa asal banjar Palak, Sukawati Gianyar ini saya merasakan tebaran puitika garis, warna, bidang, irama, bentuk dan lain sebagainya. Dan yang menguatkan penilaian saya tentang puitika karya rupa bli Kaek adalah, torehan garis yang bebas dan ekspresif.

Tentang referen sastra untuk ‘membaca’ karya rupa bli Kaek, tentu ada dasarnya. Sebab, bahasa dalam karya sastra mempunyai nilai lebih dari bahasa sehari-sehari. Ada muatan imaji , uraian falsafah yang bersifat simbolik, puitik, dan konseptual. Itu mengandung perpaduan makna dan kesadaran. Karya  sastra menyampaikan makna secara simbolik melalui imaji yang mengungkapkan pengalaman inderawi dan metafora yang diserap oleh indra. Bisa kita simak pendapat penyair William Wordsworth yang mengatakan : “Puisi adalah luapan perasaan yang kuat secara spontan: berasal dari emosi yang diingat dalam ketenangan.”

Tentu, untuk menikmati sebuah karya sastra-puisi, diperlukan interpretasi. Sementara itu, karya puisi cenderung ‘multi-interpretabilitas’. Untuk itulah diperlukan kepekaan rasa, perenungan yang dalam dan kesadaran akan kekuatan ‘kata berjiwa’. ‘Tanda’ dalam bahasa sastra yang bermuatan ‘simbolik’, perlu dipahami pembaca (penikmat)  bahwa tanda tersebut ‘mengandung’ makna konotatif, metaforikal, dan sugestif.

Menurut pemikiran saya – karena sifatnya yang multi tafsir – dalam menikmati karya sastra, penikmat terkadang tak mudah untuk memahami nya, meski karya sastra tersebut memberikan pengalaman fiksional. Atau bisa saya sebut sebagai pengalaman akan kebenaran yang ‘lentur’, kebenaran yang prespektifnya luas. Meski terkedang juga mengandung realita faktual – itu lebih dikarenakan ke’piawai’an rekayasa imajinasi dan intelektualitas penulisnya. Begitulah karya sastra senantiasa memiliki kenyataan artistik dari produk cita rasa, imajinasi dan intelektualitas senimannya.

Oleh karena itu, karya sastra puisi tidak memberi kemungkinan bagi penikmatnya untuk mengalami dan memahami secara faktual. Berdasarkan kenyataan ini, pendekatan hermeneutik diperlukan. Untuk karya sastra, potografi, film masih memungkinkan mempergunakan pendekatan hermenutika. Entah dengan seni rupa, saya tak menemukan tulisan tentang kajian hermeneutika untuk seni rupa.

Kekuatan imajinasi seorang penyair ‘terbaca’ dari  kreatifitasnya dalam susunan kata – manakala  mengungkapkan pengalaman inderawi atau sensoris, seperti penglihatan, pendengaran,  perasaan,  intelektualitas, serta pengalaman batin dalam menjalani kehidupan nyata. Hal ini, diperkuat oleh pendapat penyair Ahmad Yulden Erwin.

Esensinya, menurut  almarhum Ahmad Yulden Erwin penyair asal Lampung, penciptaan karya puisi perlu memikirkan 5 unsur komposisi puitik, yaitu kedalaman tema, ketepatan linguistik, ketepatan lukisan puitik/gaya bahasa, ketepatan gita puitik/irama, dan inovasi. Lima unsur ini harus ada dalam puisi. Jadi puisi Octavio Paz, Derek Walcott, pokoknya seluruh penyair dunia sangat memikirkan hal itu.

Begitulah sekilas penjelasan saya tentang proses kreatif penyair. Tentu tak jauh berbeda dengan proses kreatif perupa Made Kaek yang saya anggap juga ‘penyair visual’, karena saya bisa menikmati ‘garis-garis puisi’ pada karya-karyanya yang menurut pemahaman saya bergenre Art Brut. Karya-karya Made Kaek ‘bermuatan’ anasir-anasir penciptaan puisi seperti yang saya sebut di atas. Terutama, pada garis-garis spontan yang mengikuti imajinya membentuk figure-figur imajiner, figure-figur arkaik.

Mengapa, saya berpendapat imajinasi bli Kaek lah yang digerakkan oleh ‘daya’ bawah sadar serta ia ‘artikulasi’ kan dengan kosa rupa, antara lain ; puitika kosa garis, kosa warna, kosa bidang, kosa irama, kosa bentuk dan lain sebagainya? Pasalnya, mengkutip pendapat penyair Robert Bly, bahwa ; “Imajinasi adalah Rahim kesadaran yang malahirkan karya-karya kreatif. Yang terkadang justru tercipta hal-hal yang muncul dari bawah sadar. Begitulah seni”.

Tentang pendapat saya mengenai genre karya rupa bli Kaek, karena saya melihat karya-karyanya amat dekat dengan karya seniman Art Brut, Jean Dubuffet. Baik spontanitas garis, bentukan figure imajiner dan ‘tebaran’ warna. Transformasi bentuk-bentuknya  didukung dengan kuat, eksplisit warna, dengan perpaduan warna yang menyatu, kontras dan semburat bebas. Bahkan, beberapa figur yang tercipta adalah figure ‘rekaan’ Kaek sendiri, dengan ke’piawai’annya me-depormasi figur. Figure yang muncul adalah bentuk aneh yang anomaly. (gambar di bawah ini). 

Salah satu karya Made Kaek | Foto: Ist

Lebih lanjut, pada karya di bawah ini, bli Kaek  menorehkan garis-garis  formal (putih, coklat, biru),  di mana ia telah berpindah dari kenyataan sesuai dengan sifat pemikiran atau pola estetika (bebas) yang ia yakini sendiri. Pada gilirannya, ini menunjukkan adanya beberapa distorsi pada elemen nyata sebagai ia mengubah wujud imajinernya menjadi wujud yang dirubah oleh abstraksi, penyederhanaan, dan pengkodean. Ini juga menjadi satu bukti kekuatan karya rupa bli Kaek yang cenderung bergenre art Brut.

Salah satu karya Made Kaek | Foto: Ist

Art Brut sebagai seni yang, “benar-benar murni, mentah, diciptakan kembali dalam semua fasenya oleh pelukisnya, hanya berdasarkan pada dorongan hatinya sendiri. Oleh karena itu, senilah yang mewujudkan suatu fungsi penemuan.” Maksudnya, perupa art brut menciptakan karya kreatif rekaan dengan kemampuan visualnya dalam mencipta ‘dunia kecil’ di atas kanvas, yang merupakan refleksi ‘dunia besar’ pada realita kehidupan.

Manakala media dwi matra terbatas untuk menampung ide, gagasan, dan imaji bli Made Kaek – maka dia memilih performance – melukis dengan media seng. Disini, lengkaplah kriteria puisi rupa dari karya kreatif Tri Matra Made Kaek. Sebab unsur fenotik bisa kita dengar dari bunyi seng yang sesekali menghentak, mengagetkan para penikmat. Apakah bunyi itu mempunyai ‘makna’, kita bisa tanyakan pada perupanya. Dan ini bisa jadi bahan diskusi juga, tentunya.

Berkait dengan pendapat saya tentang karya rupa bi Kaek ke genre art brut, tentu beralasan karena bli Kaek memang seniman otodidak, mengabaikan semua konvensi formal, sosial dan akademis. Namun, soal anasir skizofrenia pada seniman Art Brut, saya tak bisa komentar apakah bli Kaek ‘mengidap’ ini, sebab untuk memperkuat pendapat ini diperlukan riset yang mendalam. Oleh karenanya, perkenankan saya berkomentar sedikit (maaf bli Kaek).

Membaca seklias tentang perjalanan hidup bli Kaek, yang pernah mengidap penyakit berbahaya dan dekat dengan ‘maut’, serta riwayat hidup lainnya yang begitu dramatic, tentu ada gangguan psikis secara tak disadari. Inilah yang menyebabkan muncul halusinasi, delusi dan ‘dekontruksi imaji’. Namun, Bli Kaek tetap memiliki kemampuan berinteraksi dengan masyarakat disekitarnya. Ini yang menurut saya pembedaan Bli Made Kaek yang penyitas penyakit berat, dengan pasien  Skizofrenia. Semuanya berkait dengan problema psikis.

Seorang sahabat penyair, setuju dengan pendapat saya tentang genre Art Brut karya-karya rupa bli Made Kaek. Namun, Kendati dia setuju, namun menambahkan kesannya saat  menikmati karya-karya blki Kaek ; “Ada kesan abstrak figurtaif ya??” ujarnya. Saya terdiam sejenak, sebelum menjawabnya. Sebab, sebagaimana puisi yang bebas tafsir atau ‘multiinterpretable’, saya mesti berhati-hati menjawabnya. Pasalnya, saya mengenak, sebelum menjawabnya. Sebab, sebagaimana puisi yang bebas tafsir atau ‘multiinterpretable’, saya mesti berhati-hati menjawabnya. Pasalnya, saya menganggap karya-karya bli Made Kaek adalah ‘Puisi visual, multi tafsir. Sedangkan saya belum menemukan referen pendekatan ‘Hermeneutika’ untuk senirupa.

Menurut Jean Dubuffet,  semua karya lukis, mampu menjadi abstrak dan figuratif, mungkin secara bersamaan. “Namun dalam kasus sebagian besar pasien Skizofrenia, mereka sering mengaku melaporkan penglihatan spesifik yang mereka terima dalam halusinasi mereka. Dalam kasus lain, mereka melukis kisah-kisah rumit tentang kehidupan yang mereka bayangkan, dan gambar-gambar yang mereka buat adalah ilustrasi dari kisah-kisah tersebut. Dalam hal ini, karya mereka harus dianggap kiasan. Itu adalah ilustrasi dunia mereka, sebagaimana mereka melihatnya secara realistis”, ujarnya dalam buku Artistry of the Mentally Ill.

Terlepas dari pokok bahasan tentang ‘abstrak figuratif’, karya Bli Kaek memang muncul langsung dari dunia gagasan. Ada ide-ide yang tidak dapat diketahui yang mengilhami nya selama berkarya, dan ada ide-ide yang mungkin diekstrapolasi oleh penikmat saat menafsirkan apa yang tampilkan di kanvas oleh bli Kaek. Tapi nampaknya,  bli Kaek bersikukuh bahwa Art Brut tak kalah unggul daripada aliran akademis dan avant-garde yang sudah mapan. Sebab, tambah bli Kaek, karena Art Brut bersifat spontan, tidak terdidik dan polos, bebas dari kepentingan pribadi atau motif keuntungan. Apakah Kecenderungan meromantisasi Art Brut ini berlanjut hingga saat ini??? Ini menarik untuk bahan diskusi.

Begitulah ulasan saya tentang puisi-puisi garis karya rupa bli Made Kaek. Sebenarnya masih ada wilayah bahasan yang berkait dengan karya art brut bli Kaek, yakni ‘poem brut’, namun waktu tak mencukupi.  Bagi saya, sangat penting menelisik karya-karya rupa Bli Kaek, dengan pendekatan sastra, khususnya puisi. ‘Puisi Brut’ mencakup kemungkinan estetika dan semua metode puisi artistik yang mungkin dalam menulis, membuat, dan menyajikan puisi. Pada saat yang sama, aktivitasnya berakar pada pemikiran yang cermat tentang potensi  neurologis (traumatik) dan beberapa hal lainnya,  untuk sebuah karya yang memperluas pemahaman kita tentang Art Brut. Baik puisi mapun karya rupa.

Seorang penyair, tentu menulis puisi yang tiada henti. Demikian juga harapan saya pada bli Made Kaek dalam berkarya ‘puisi-puisi visualnya’, ayo terus berkutat , menoreh ‘garis garis puitik’. Untuk itu, sebagai penutup, saya petikkan kata-kata penyair Chili, Pablo Neruda.

“Bagi saya, menulis itu seperti bernafas. Saya tidak bisa hidup tanpa bernapas dan saya tidak bisa hidup tanpa menulis” — Pablo Neruda.

Tentu, begitu pula semangat bli Made Kaek, ‘melukis’ seperti bernapas. Selamat berkreatif tanpa henti. Astungkara. Swaha. [T][Dari berbagai Sumber]

“Kala Api, The Age of Pawns”: Pameran Made Kaek di Yogyakarta untuk Sang Kakek
40 Karya Made Kaek  dalam “Lines of Poetry” di Russ Gallery Canggu
Insan-insan Imajiner Made Kaek Dipamerkan di Chiang Mai, Thailand
Pameran Tunggal Made Kaek | Penemuan Stilistik dan Estetik dari Periode ke Periode
Tags: Made KaekSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Belajar Vokasi ke Universitas Indonesia : Mewujudkan Cita-Cita Pahlawan

Next Post

Ada Lelakut di Subak Spirit Festival 2024

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Mantra Visual Made Wiradana

by Hartanto
August 2, 2026
0
Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

Read moreDetails

SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

by Gustra Adnyana
July 31, 2026
0
SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

Di tepian aliran sungai Petanu, sebuah ruang seni baru tumbuh di tengah lanskap hijau Ubud. Buki Gallery di Bumi Kinar...

Read moreDetails

Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew

by Angga Wijaya
July 30, 2026
0
Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew

ADA perubahan yang menarik dalam lanskap seni kriya Indonesia dalam dua dekade terakhir. Jika dahulu kriya lebih sering dipahami sebagai...

Read moreDetails

Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

by Hartanto
July 30, 2026
0
Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

EMPAT karya dari empat pelukis Bali kontemporer yang turut berpartisipasi dalam Jogja Annual Art ke-11, yakni I Made Ruta, Ida...

Read moreDetails

Tanah yang Mengingat ——Membaca “Pataka Majapahit III” Karya Dr. Noor Sudiyati

by Angga Wijaya
July 28, 2026
0
Tanah yang Mengingat ——Membaca “Pataka Majapahit III” Karya Dr. Noor Sudiyati

TIDAK semua peninggalan masa lalu hadir sebagai bangunan megah atau artefak yang tersimpan di museum. Ada warisan yang jauh lebih...

Read moreDetails

Orkestra Warna Kun Adnyana

by Hartanto
July 25, 2026
0
Orkestra Warna Kun Adnyana

YOGYA Annual Art ke-11 tahun 2026 dengan tema Direction (Arah) ini, menurut saya, dibuka dengan sebuah kesadaran yang tajam: bahwa...

Read moreDetails

Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.

by Angga Wijaya
July 24, 2026
0
Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.

BARANGKALI kita terlalu sering memandang alam sebagai sesuatu yang berada di luar diri. Gunung adalah bentang yang dikunjungi ketika musim...

Read moreDetails

Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu

by Hartanto
July 24, 2026
0
Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu

Pameran Yogya Annual Art ke-11 yang mengambil tema Direction (Arah) digelar di Bale Banjar Sangkring, Nitiprayan No. 88, Ngestiharjo, Kasihan,...

Read moreDetails

Kosmologi Sulur Wayan Setem

by Hartanto
July 23, 2026
0
Kosmologi Sulur Wayan Setem

PAMERAN Yogya Annual Art #11 dengan tema Direction (Arah) sangatlah menarik. Sebab, pameran ini menghadirkan medan ‘refleksi’ yang unik, terutama...

Read moreDetails

Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca “Sundari Rajata” Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]

by Angga Wijaya
July 23, 2026
0
Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca “Sundari Rajata” Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]

JIKA seni memiliki kemampuan mengembalikan sesuatu yang biasa menjadi luar biasa, maka Sundari Rajata melakukannya melalui sebuah kebaya. Busana yang...

Read moreDetails
Next Post
Ada Lelakut di Subak Spirit Festival 2024

Ada Lelakut di Subak Spirit Festival 2024

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co