12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Garis-garis Puitika Karya-karya Made Kaek

Hartanto by Hartanto
November 11, 2024
in Ulas Rupa
Salah satu karya Made Kaek

 “Seni adalah bahasa, instrumen pengetahuan, instrumen komunikasi“ (Jean Dubuffet)

PETIKAN pemikiran dari perupa Jean Dubuffet, sungguh menarik bagi saya. Pasalnya, bagi saya sebuah karya rupa juga merupa ‘bahasa’ atau alat penyampaian secara visual. Anasirnya bukanlah kosa kata, tapi  ; kosa warna, kosa garis, kosa bidang, dan kosa-kosa lainnya yang berkait dengan anasir karya visual.  Semua itu, karya rupa, juga merupakan sarana untuk menyampaikan gagasan secara visual.

Atas dasar pemikiran Dubuffet di atas, perkenankan saya memakai pendekatan sastra, dalam menikmati karya rupa sahabat saya, perupa Made Kaek. Selain itu, saya memang menikmati karya-karya bli Kaek sebagai ‘puisi-puisi visual’. Sebab, dalam menikmati karya-karya perupa asal banjar Palak, Sukawati Gianyar ini saya merasakan tebaran puitika garis, warna, bidang, irama, bentuk dan lain sebagainya. Dan yang menguatkan penilaian saya tentang puitika karya rupa bli Kaek adalah, torehan garis yang bebas dan ekspresif.

Tentang referen sastra untuk ‘membaca’ karya rupa bli Kaek, tentu ada dasarnya. Sebab, bahasa dalam karya sastra mempunyai nilai lebih dari bahasa sehari-sehari. Ada muatan imaji , uraian falsafah yang bersifat simbolik, puitik, dan konseptual. Itu mengandung perpaduan makna dan kesadaran. Karya  sastra menyampaikan makna secara simbolik melalui imaji yang mengungkapkan pengalaman inderawi dan metafora yang diserap oleh indra. Bisa kita simak pendapat penyair William Wordsworth yang mengatakan : “Puisi adalah luapan perasaan yang kuat secara spontan: berasal dari emosi yang diingat dalam ketenangan.”

Tentu, untuk menikmati sebuah karya sastra-puisi, diperlukan interpretasi. Sementara itu, karya puisi cenderung ‘multi-interpretabilitas’. Untuk itulah diperlukan kepekaan rasa, perenungan yang dalam dan kesadaran akan kekuatan ‘kata berjiwa’. ‘Tanda’ dalam bahasa sastra yang bermuatan ‘simbolik’, perlu dipahami pembaca (penikmat)  bahwa tanda tersebut ‘mengandung’ makna konotatif, metaforikal, dan sugestif.

Menurut pemikiran saya – karena sifatnya yang multi tafsir – dalam menikmati karya sastra, penikmat terkadang tak mudah untuk memahami nya, meski karya sastra tersebut memberikan pengalaman fiksional. Atau bisa saya sebut sebagai pengalaman akan kebenaran yang ‘lentur’, kebenaran yang prespektifnya luas. Meski terkedang juga mengandung realita faktual – itu lebih dikarenakan ke’piawai’an rekayasa imajinasi dan intelektualitas penulisnya. Begitulah karya sastra senantiasa memiliki kenyataan artistik dari produk cita rasa, imajinasi dan intelektualitas senimannya.

Oleh karena itu, karya sastra puisi tidak memberi kemungkinan bagi penikmatnya untuk mengalami dan memahami secara faktual. Berdasarkan kenyataan ini, pendekatan hermeneutik diperlukan. Untuk karya sastra, potografi, film masih memungkinkan mempergunakan pendekatan hermenutika. Entah dengan seni rupa, saya tak menemukan tulisan tentang kajian hermeneutika untuk seni rupa.

Kekuatan imajinasi seorang penyair ‘terbaca’ dari  kreatifitasnya dalam susunan kata – manakala  mengungkapkan pengalaman inderawi atau sensoris, seperti penglihatan, pendengaran,  perasaan,  intelektualitas, serta pengalaman batin dalam menjalani kehidupan nyata. Hal ini, diperkuat oleh pendapat penyair Ahmad Yulden Erwin.

Esensinya, menurut  almarhum Ahmad Yulden Erwin penyair asal Lampung, penciptaan karya puisi perlu memikirkan 5 unsur komposisi puitik, yaitu kedalaman tema, ketepatan linguistik, ketepatan lukisan puitik/gaya bahasa, ketepatan gita puitik/irama, dan inovasi. Lima unsur ini harus ada dalam puisi. Jadi puisi Octavio Paz, Derek Walcott, pokoknya seluruh penyair dunia sangat memikirkan hal itu.

Begitulah sekilas penjelasan saya tentang proses kreatif penyair. Tentu tak jauh berbeda dengan proses kreatif perupa Made Kaek yang saya anggap juga ‘penyair visual’, karena saya bisa menikmati ‘garis-garis puisi’ pada karya-karyanya yang menurut pemahaman saya bergenre Art Brut. Karya-karya Made Kaek ‘bermuatan’ anasir-anasir penciptaan puisi seperti yang saya sebut di atas. Terutama, pada garis-garis spontan yang mengikuti imajinya membentuk figure-figur imajiner, figure-figur arkaik.

Mengapa, saya berpendapat imajinasi bli Kaek lah yang digerakkan oleh ‘daya’ bawah sadar serta ia ‘artikulasi’ kan dengan kosa rupa, antara lain ; puitika kosa garis, kosa warna, kosa bidang, kosa irama, kosa bentuk dan lain sebagainya? Pasalnya, mengkutip pendapat penyair Robert Bly, bahwa ; “Imajinasi adalah Rahim kesadaran yang malahirkan karya-karya kreatif. Yang terkadang justru tercipta hal-hal yang muncul dari bawah sadar. Begitulah seni”.

Tentang pendapat saya mengenai genre karya rupa bli Kaek, karena saya melihat karya-karyanya amat dekat dengan karya seniman Art Brut, Jean Dubuffet. Baik spontanitas garis, bentukan figure imajiner dan ‘tebaran’ warna. Transformasi bentuk-bentuknya  didukung dengan kuat, eksplisit warna, dengan perpaduan warna yang menyatu, kontras dan semburat bebas. Bahkan, beberapa figur yang tercipta adalah figure ‘rekaan’ Kaek sendiri, dengan ke’piawai’annya me-depormasi figur. Figure yang muncul adalah bentuk aneh yang anomaly. (gambar di bawah ini). 

Salah satu karya Made Kaek | Foto: Ist

Lebih lanjut, pada karya di bawah ini, bli Kaek  menorehkan garis-garis  formal (putih, coklat, biru),  di mana ia telah berpindah dari kenyataan sesuai dengan sifat pemikiran atau pola estetika (bebas) yang ia yakini sendiri. Pada gilirannya, ini menunjukkan adanya beberapa distorsi pada elemen nyata sebagai ia mengubah wujud imajinernya menjadi wujud yang dirubah oleh abstraksi, penyederhanaan, dan pengkodean. Ini juga menjadi satu bukti kekuatan karya rupa bli Kaek yang cenderung bergenre art Brut.

Salah satu karya Made Kaek | Foto: Ist

Art Brut sebagai seni yang, “benar-benar murni, mentah, diciptakan kembali dalam semua fasenya oleh pelukisnya, hanya berdasarkan pada dorongan hatinya sendiri. Oleh karena itu, senilah yang mewujudkan suatu fungsi penemuan.” Maksudnya, perupa art brut menciptakan karya kreatif rekaan dengan kemampuan visualnya dalam mencipta ‘dunia kecil’ di atas kanvas, yang merupakan refleksi ‘dunia besar’ pada realita kehidupan.

Manakala media dwi matra terbatas untuk menampung ide, gagasan, dan imaji bli Made Kaek – maka dia memilih performance – melukis dengan media seng. Disini, lengkaplah kriteria puisi rupa dari karya kreatif Tri Matra Made Kaek. Sebab unsur fenotik bisa kita dengar dari bunyi seng yang sesekali menghentak, mengagetkan para penikmat. Apakah bunyi itu mempunyai ‘makna’, kita bisa tanyakan pada perupanya. Dan ini bisa jadi bahan diskusi juga, tentunya.

Berkait dengan pendapat saya tentang karya rupa bi Kaek ke genre art brut, tentu beralasan karena bli Kaek memang seniman otodidak, mengabaikan semua konvensi formal, sosial dan akademis. Namun, soal anasir skizofrenia pada seniman Art Brut, saya tak bisa komentar apakah bli Kaek ‘mengidap’ ini, sebab untuk memperkuat pendapat ini diperlukan riset yang mendalam. Oleh karenanya, perkenankan saya berkomentar sedikit (maaf bli Kaek).

Membaca seklias tentang perjalanan hidup bli Kaek, yang pernah mengidap penyakit berbahaya dan dekat dengan ‘maut’, serta riwayat hidup lainnya yang begitu dramatic, tentu ada gangguan psikis secara tak disadari. Inilah yang menyebabkan muncul halusinasi, delusi dan ‘dekontruksi imaji’. Namun, Bli Kaek tetap memiliki kemampuan berinteraksi dengan masyarakat disekitarnya. Ini yang menurut saya pembedaan Bli Made Kaek yang penyitas penyakit berat, dengan pasien  Skizofrenia. Semuanya berkait dengan problema psikis.

Seorang sahabat penyair, setuju dengan pendapat saya tentang genre Art Brut karya-karya rupa bli Made Kaek. Namun, Kendati dia setuju, namun menambahkan kesannya saat  menikmati karya-karya blki Kaek ; “Ada kesan abstrak figurtaif ya??” ujarnya. Saya terdiam sejenak, sebelum menjawabnya. Sebab, sebagaimana puisi yang bebas tafsir atau ‘multiinterpretable’, saya mesti berhati-hati menjawabnya. Pasalnya, saya mengenak, sebelum menjawabnya. Sebab, sebagaimana puisi yang bebas tafsir atau ‘multiinterpretable’, saya mesti berhati-hati menjawabnya. Pasalnya, saya menganggap karya-karya bli Made Kaek adalah ‘Puisi visual, multi tafsir. Sedangkan saya belum menemukan referen pendekatan ‘Hermeneutika’ untuk senirupa.

Menurut Jean Dubuffet,  semua karya lukis, mampu menjadi abstrak dan figuratif, mungkin secara bersamaan. “Namun dalam kasus sebagian besar pasien Skizofrenia, mereka sering mengaku melaporkan penglihatan spesifik yang mereka terima dalam halusinasi mereka. Dalam kasus lain, mereka melukis kisah-kisah rumit tentang kehidupan yang mereka bayangkan, dan gambar-gambar yang mereka buat adalah ilustrasi dari kisah-kisah tersebut. Dalam hal ini, karya mereka harus dianggap kiasan. Itu adalah ilustrasi dunia mereka, sebagaimana mereka melihatnya secara realistis”, ujarnya dalam buku Artistry of the Mentally Ill.

Terlepas dari pokok bahasan tentang ‘abstrak figuratif’, karya Bli Kaek memang muncul langsung dari dunia gagasan. Ada ide-ide yang tidak dapat diketahui yang mengilhami nya selama berkarya, dan ada ide-ide yang mungkin diekstrapolasi oleh penikmat saat menafsirkan apa yang tampilkan di kanvas oleh bli Kaek. Tapi nampaknya,  bli Kaek bersikukuh bahwa Art Brut tak kalah unggul daripada aliran akademis dan avant-garde yang sudah mapan. Sebab, tambah bli Kaek, karena Art Brut bersifat spontan, tidak terdidik dan polos, bebas dari kepentingan pribadi atau motif keuntungan. Apakah Kecenderungan meromantisasi Art Brut ini berlanjut hingga saat ini??? Ini menarik untuk bahan diskusi.

Begitulah ulasan saya tentang puisi-puisi garis karya rupa bli Made Kaek. Sebenarnya masih ada wilayah bahasan yang berkait dengan karya art brut bli Kaek, yakni ‘poem brut’, namun waktu tak mencukupi.  Bagi saya, sangat penting menelisik karya-karya rupa Bli Kaek, dengan pendekatan sastra, khususnya puisi. ‘Puisi Brut’ mencakup kemungkinan estetika dan semua metode puisi artistik yang mungkin dalam menulis, membuat, dan menyajikan puisi. Pada saat yang sama, aktivitasnya berakar pada pemikiran yang cermat tentang potensi  neurologis (traumatik) dan beberapa hal lainnya,  untuk sebuah karya yang memperluas pemahaman kita tentang Art Brut. Baik puisi mapun karya rupa.

Seorang penyair, tentu menulis puisi yang tiada henti. Demikian juga harapan saya pada bli Made Kaek dalam berkarya ‘puisi-puisi visualnya’, ayo terus berkutat , menoreh ‘garis garis puitik’. Untuk itu, sebagai penutup, saya petikkan kata-kata penyair Chili, Pablo Neruda.

“Bagi saya, menulis itu seperti bernafas. Saya tidak bisa hidup tanpa bernapas dan saya tidak bisa hidup tanpa menulis” — Pablo Neruda.

Tentu, begitu pula semangat bli Made Kaek, ‘melukis’ seperti bernapas. Selamat berkreatif tanpa henti. Astungkara. Swaha. [T][Dari berbagai Sumber]

“Kala Api, The Age of Pawns”: Pameran Made Kaek di Yogyakarta untuk Sang Kakek
40 Karya Made Kaek  dalam “Lines of Poetry” di Russ Gallery Canggu
Insan-insan Imajiner Made Kaek Dipamerkan di Chiang Mai, Thailand
Pameran Tunggal Made Kaek | Penemuan Stilistik dan Estetik dari Periode ke Periode
Tags: Made KaekSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Belajar Vokasi ke Universitas Indonesia : Mewujudkan Cita-Cita Pahlawan

Next Post

Ada Lelakut di Subak Spirit Festival 2024

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails

Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

by Hartanto
August 29, 2026
0
Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

PADA tulisan kali ini, saya ingin menekuni proses kreatif karya rupa Putu Fajar Arcana yang bagi saya cukup menarik. Pasalnya,...

Read moreDetails

Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

by Hartanto
August 26, 2026
0
Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

DI penghujung bulan Agustus, tepatnya pada tanggal 25 hingga 31 agustus mendatang – akan digelar Pameran senirupa yang bertajuk “The...

Read moreDetails

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
0
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

Read moreDetails

Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

by I Wayan Sujana Suklu
August 16, 2026
0
Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

SAYA berkesempatan menyaksikan pameran tunggal Sutjipto Adi (Mas Adi) yang dibuka pada malam 14 Agustus 2026, di Maya Sanur, Denpasar....

Read moreDetails

Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

by Hartanto
August 13, 2026
0
Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

MASIH berlanjut soal pameran The Power of Colours , perhelatan ini berlangsung 25 hingga 31 Agustus mendatang. Pameran digelar  di...

Read moreDetails

Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

by Hartanto
August 11, 2026
0
Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

PADA tanggal 25 hingga 31 Agustus mendatang akan digelar pameran seni rupa yang bertajuk The Power of Colour. Pameran akan...

Read moreDetails

Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

by I Wayan Sujana Suklu
August 11, 2026
0
Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

---Catatan seorang seniman tentang ketidaktahuan, pengetahuan, dan keberanian menggambar kembali Noe mengambar karena belum mengenal aturan, saya menjadi naif karena...

Read moreDetails
Next Post
Ada Lelakut di Subak Spirit Festival 2024

Ada Lelakut di Subak Spirit Festival 2024

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co