2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Garis-garis Puitika Karya-karya Made Kaek

Hartanto by Hartanto
November 11, 2024
in Ulas Rupa
Salah satu karya Made Kaek

 “Seni adalah bahasa, instrumen pengetahuan, instrumen komunikasi“ (Jean Dubuffet)

PETIKAN pemikiran dari perupa Jean Dubuffet, sungguh menarik bagi saya. Pasalnya, bagi saya sebuah karya rupa juga merupa ‘bahasa’ atau alat penyampaian secara visual. Anasirnya bukanlah kosa kata, tapi  ; kosa warna, kosa garis, kosa bidang, dan kosa-kosa lainnya yang berkait dengan anasir karya visual.  Semua itu, karya rupa, juga merupakan sarana untuk menyampaikan gagasan secara visual.

Atas dasar pemikiran Dubuffet di atas, perkenankan saya memakai pendekatan sastra, dalam menikmati karya rupa sahabat saya, perupa Made Kaek. Selain itu, saya memang menikmati karya-karya bli Kaek sebagai ‘puisi-puisi visual’. Sebab, dalam menikmati karya-karya perupa asal banjar Palak, Sukawati Gianyar ini saya merasakan tebaran puitika garis, warna, bidang, irama, bentuk dan lain sebagainya. Dan yang menguatkan penilaian saya tentang puitika karya rupa bli Kaek adalah, torehan garis yang bebas dan ekspresif.

Tentang referen sastra untuk ‘membaca’ karya rupa bli Kaek, tentu ada dasarnya. Sebab, bahasa dalam karya sastra mempunyai nilai lebih dari bahasa sehari-sehari. Ada muatan imaji , uraian falsafah yang bersifat simbolik, puitik, dan konseptual. Itu mengandung perpaduan makna dan kesadaran. Karya  sastra menyampaikan makna secara simbolik melalui imaji yang mengungkapkan pengalaman inderawi dan metafora yang diserap oleh indra. Bisa kita simak pendapat penyair William Wordsworth yang mengatakan : “Puisi adalah luapan perasaan yang kuat secara spontan: berasal dari emosi yang diingat dalam ketenangan.”

Tentu, untuk menikmati sebuah karya sastra-puisi, diperlukan interpretasi. Sementara itu, karya puisi cenderung ‘multi-interpretabilitas’. Untuk itulah diperlukan kepekaan rasa, perenungan yang dalam dan kesadaran akan kekuatan ‘kata berjiwa’. ‘Tanda’ dalam bahasa sastra yang bermuatan ‘simbolik’, perlu dipahami pembaca (penikmat)  bahwa tanda tersebut ‘mengandung’ makna konotatif, metaforikal, dan sugestif.

Menurut pemikiran saya – karena sifatnya yang multi tafsir – dalam menikmati karya sastra, penikmat terkadang tak mudah untuk memahami nya, meski karya sastra tersebut memberikan pengalaman fiksional. Atau bisa saya sebut sebagai pengalaman akan kebenaran yang ‘lentur’, kebenaran yang prespektifnya luas. Meski terkedang juga mengandung realita faktual – itu lebih dikarenakan ke’piawai’an rekayasa imajinasi dan intelektualitas penulisnya. Begitulah karya sastra senantiasa memiliki kenyataan artistik dari produk cita rasa, imajinasi dan intelektualitas senimannya.

Oleh karena itu, karya sastra puisi tidak memberi kemungkinan bagi penikmatnya untuk mengalami dan memahami secara faktual. Berdasarkan kenyataan ini, pendekatan hermeneutik diperlukan. Untuk karya sastra, potografi, film masih memungkinkan mempergunakan pendekatan hermenutika. Entah dengan seni rupa, saya tak menemukan tulisan tentang kajian hermeneutika untuk seni rupa.

Kekuatan imajinasi seorang penyair ‘terbaca’ dari  kreatifitasnya dalam susunan kata – manakala  mengungkapkan pengalaman inderawi atau sensoris, seperti penglihatan, pendengaran,  perasaan,  intelektualitas, serta pengalaman batin dalam menjalani kehidupan nyata. Hal ini, diperkuat oleh pendapat penyair Ahmad Yulden Erwin.

Esensinya, menurut  almarhum Ahmad Yulden Erwin penyair asal Lampung, penciptaan karya puisi perlu memikirkan 5 unsur komposisi puitik, yaitu kedalaman tema, ketepatan linguistik, ketepatan lukisan puitik/gaya bahasa, ketepatan gita puitik/irama, dan inovasi. Lima unsur ini harus ada dalam puisi. Jadi puisi Octavio Paz, Derek Walcott, pokoknya seluruh penyair dunia sangat memikirkan hal itu.

Begitulah sekilas penjelasan saya tentang proses kreatif penyair. Tentu tak jauh berbeda dengan proses kreatif perupa Made Kaek yang saya anggap juga ‘penyair visual’, karena saya bisa menikmati ‘garis-garis puisi’ pada karya-karyanya yang menurut pemahaman saya bergenre Art Brut. Karya-karya Made Kaek ‘bermuatan’ anasir-anasir penciptaan puisi seperti yang saya sebut di atas. Terutama, pada garis-garis spontan yang mengikuti imajinya membentuk figure-figur imajiner, figure-figur arkaik.

Mengapa, saya berpendapat imajinasi bli Kaek lah yang digerakkan oleh ‘daya’ bawah sadar serta ia ‘artikulasi’ kan dengan kosa rupa, antara lain ; puitika kosa garis, kosa warna, kosa bidang, kosa irama, kosa bentuk dan lain sebagainya? Pasalnya, mengkutip pendapat penyair Robert Bly, bahwa ; “Imajinasi adalah Rahim kesadaran yang malahirkan karya-karya kreatif. Yang terkadang justru tercipta hal-hal yang muncul dari bawah sadar. Begitulah seni”.

Tentang pendapat saya mengenai genre karya rupa bli Kaek, karena saya melihat karya-karyanya amat dekat dengan karya seniman Art Brut, Jean Dubuffet. Baik spontanitas garis, bentukan figure imajiner dan ‘tebaran’ warna. Transformasi bentuk-bentuknya  didukung dengan kuat, eksplisit warna, dengan perpaduan warna yang menyatu, kontras dan semburat bebas. Bahkan, beberapa figur yang tercipta adalah figure ‘rekaan’ Kaek sendiri, dengan ke’piawai’annya me-depormasi figur. Figure yang muncul adalah bentuk aneh yang anomaly. (gambar di bawah ini). 

Salah satu karya Made Kaek | Foto: Ist

Lebih lanjut, pada karya di bawah ini, bli Kaek  menorehkan garis-garis  formal (putih, coklat, biru),  di mana ia telah berpindah dari kenyataan sesuai dengan sifat pemikiran atau pola estetika (bebas) yang ia yakini sendiri. Pada gilirannya, ini menunjukkan adanya beberapa distorsi pada elemen nyata sebagai ia mengubah wujud imajinernya menjadi wujud yang dirubah oleh abstraksi, penyederhanaan, dan pengkodean. Ini juga menjadi satu bukti kekuatan karya rupa bli Kaek yang cenderung bergenre art Brut.

Salah satu karya Made Kaek | Foto: Ist

Art Brut sebagai seni yang, “benar-benar murni, mentah, diciptakan kembali dalam semua fasenya oleh pelukisnya, hanya berdasarkan pada dorongan hatinya sendiri. Oleh karena itu, senilah yang mewujudkan suatu fungsi penemuan.” Maksudnya, perupa art brut menciptakan karya kreatif rekaan dengan kemampuan visualnya dalam mencipta ‘dunia kecil’ di atas kanvas, yang merupakan refleksi ‘dunia besar’ pada realita kehidupan.

Manakala media dwi matra terbatas untuk menampung ide, gagasan, dan imaji bli Made Kaek – maka dia memilih performance – melukis dengan media seng. Disini, lengkaplah kriteria puisi rupa dari karya kreatif Tri Matra Made Kaek. Sebab unsur fenotik bisa kita dengar dari bunyi seng yang sesekali menghentak, mengagetkan para penikmat. Apakah bunyi itu mempunyai ‘makna’, kita bisa tanyakan pada perupanya. Dan ini bisa jadi bahan diskusi juga, tentunya.

Berkait dengan pendapat saya tentang karya rupa bi Kaek ke genre art brut, tentu beralasan karena bli Kaek memang seniman otodidak, mengabaikan semua konvensi formal, sosial dan akademis. Namun, soal anasir skizofrenia pada seniman Art Brut, saya tak bisa komentar apakah bli Kaek ‘mengidap’ ini, sebab untuk memperkuat pendapat ini diperlukan riset yang mendalam. Oleh karenanya, perkenankan saya berkomentar sedikit (maaf bli Kaek).

Membaca seklias tentang perjalanan hidup bli Kaek, yang pernah mengidap penyakit berbahaya dan dekat dengan ‘maut’, serta riwayat hidup lainnya yang begitu dramatic, tentu ada gangguan psikis secara tak disadari. Inilah yang menyebabkan muncul halusinasi, delusi dan ‘dekontruksi imaji’. Namun, Bli Kaek tetap memiliki kemampuan berinteraksi dengan masyarakat disekitarnya. Ini yang menurut saya pembedaan Bli Made Kaek yang penyitas penyakit berat, dengan pasien  Skizofrenia. Semuanya berkait dengan problema psikis.

Seorang sahabat penyair, setuju dengan pendapat saya tentang genre Art Brut karya-karya rupa bli Made Kaek. Namun, Kendati dia setuju, namun menambahkan kesannya saat  menikmati karya-karya blki Kaek ; “Ada kesan abstrak figurtaif ya??” ujarnya. Saya terdiam sejenak, sebelum menjawabnya. Sebab, sebagaimana puisi yang bebas tafsir atau ‘multiinterpretable’, saya mesti berhati-hati menjawabnya. Pasalnya, saya mengenak, sebelum menjawabnya. Sebab, sebagaimana puisi yang bebas tafsir atau ‘multiinterpretable’, saya mesti berhati-hati menjawabnya. Pasalnya, saya menganggap karya-karya bli Made Kaek adalah ‘Puisi visual, multi tafsir. Sedangkan saya belum menemukan referen pendekatan ‘Hermeneutika’ untuk senirupa.

Menurut Jean Dubuffet,  semua karya lukis, mampu menjadi abstrak dan figuratif, mungkin secara bersamaan. “Namun dalam kasus sebagian besar pasien Skizofrenia, mereka sering mengaku melaporkan penglihatan spesifik yang mereka terima dalam halusinasi mereka. Dalam kasus lain, mereka melukis kisah-kisah rumit tentang kehidupan yang mereka bayangkan, dan gambar-gambar yang mereka buat adalah ilustrasi dari kisah-kisah tersebut. Dalam hal ini, karya mereka harus dianggap kiasan. Itu adalah ilustrasi dunia mereka, sebagaimana mereka melihatnya secara realistis”, ujarnya dalam buku Artistry of the Mentally Ill.

Terlepas dari pokok bahasan tentang ‘abstrak figuratif’, karya Bli Kaek memang muncul langsung dari dunia gagasan. Ada ide-ide yang tidak dapat diketahui yang mengilhami nya selama berkarya, dan ada ide-ide yang mungkin diekstrapolasi oleh penikmat saat menafsirkan apa yang tampilkan di kanvas oleh bli Kaek. Tapi nampaknya,  bli Kaek bersikukuh bahwa Art Brut tak kalah unggul daripada aliran akademis dan avant-garde yang sudah mapan. Sebab, tambah bli Kaek, karena Art Brut bersifat spontan, tidak terdidik dan polos, bebas dari kepentingan pribadi atau motif keuntungan. Apakah Kecenderungan meromantisasi Art Brut ini berlanjut hingga saat ini??? Ini menarik untuk bahan diskusi.

Begitulah ulasan saya tentang puisi-puisi garis karya rupa bli Made Kaek. Sebenarnya masih ada wilayah bahasan yang berkait dengan karya art brut bli Kaek, yakni ‘poem brut’, namun waktu tak mencukupi.  Bagi saya, sangat penting menelisik karya-karya rupa Bli Kaek, dengan pendekatan sastra, khususnya puisi. ‘Puisi Brut’ mencakup kemungkinan estetika dan semua metode puisi artistik yang mungkin dalam menulis, membuat, dan menyajikan puisi. Pada saat yang sama, aktivitasnya berakar pada pemikiran yang cermat tentang potensi  neurologis (traumatik) dan beberapa hal lainnya,  untuk sebuah karya yang memperluas pemahaman kita tentang Art Brut. Baik puisi mapun karya rupa.

Seorang penyair, tentu menulis puisi yang tiada henti. Demikian juga harapan saya pada bli Made Kaek dalam berkarya ‘puisi-puisi visualnya’, ayo terus berkutat , menoreh ‘garis garis puitik’. Untuk itu, sebagai penutup, saya petikkan kata-kata penyair Chili, Pablo Neruda.

“Bagi saya, menulis itu seperti bernafas. Saya tidak bisa hidup tanpa bernapas dan saya tidak bisa hidup tanpa menulis” — Pablo Neruda.

Tentu, begitu pula semangat bli Made Kaek, ‘melukis’ seperti bernapas. Selamat berkreatif tanpa henti. Astungkara. Swaha. [T][Dari berbagai Sumber]

“Kala Api, The Age of Pawns”: Pameran Made Kaek di Yogyakarta untuk Sang Kakek
40 Karya Made Kaek  dalam “Lines of Poetry” di Russ Gallery Canggu
Insan-insan Imajiner Made Kaek Dipamerkan di Chiang Mai, Thailand
Pameran Tunggal Made Kaek | Penemuan Stilistik dan Estetik dari Periode ke Periode
Tags: Made KaekSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Belajar Vokasi ke Universitas Indonesia : Mewujudkan Cita-Cita Pahlawan

Next Post

Ada Lelakut di Subak Spirit Festival 2024

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails
Next Post
Ada Lelakut di Subak Spirit Festival 2024

Ada Lelakut di Subak Spirit Festival 2024

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co