13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ada Lelakut di Subak Spirit Festival 2024

Jaswanto by Jaswanto
November 11, 2024
in Khas
Ada Lelakut di Subak Spirit Festival 2024

Nengah Darmika Yasa sedang mmembuat lelakut di Subak Spirit Festival 2024 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

“SEBENTAR lagi mulai, Bu. Ini masih persiapan,” seorang lelaki paruh baya menjawab pertanyaan perempuan yang usianya tampak lebih muda darinya. Meski demikian, lelaki itu tetap memanggilnya “ibu”. Semacam ada relasi “kasta” di sana. Siapa yang memerintah dan siapa yang diperintah. Lelaki berusia setengah abad yang mengenakan kamen dan udeng itu kini sedang menancapkan bambu dengan panjang semeteran lebih di pinggir pematang sawah berjenjang.

Hari semakin terik. Sebutir-dua butir keringat merembes dari pelipisnya. Ia menyekanya dengan kasar. Merasa bambu yang ditancapkannya sudah sesuai dengan yang ia inginkan, lelaki itu berpindah ke seikat ilalang dan beberapa butir kelapa yang sudah dibentuk sedemikian rupa.

Sementara lelaki itu sibuk melepas ikatan-ikatan padang kering itu dan mulai menyusunnya di kerangka salib—yang belakangan dilengkapi dengan sepasang tangan, kaki, dan kepala—yang ia satukan dengan balok yang ia tancapkan, di sekitarnya orang-orang tak henti-henti memotretnya. Seolah model sebuah produk, beberapa kali ia juga diarahkan—jika bukan disuruh-suruh.

Nengah Darmika Yasa saat menancapkan bambu di pinggir pematang di Subak Spirit Festival 2024 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Lelaki itu melempar senyum kepada setiap orang yang hendak mengambil gambarnya. Dan kini keringatnya sudah benar-benar membasahi wajahnya yang ramah. Sedangkan tepat di depannya, di seberang sawah tempatnya berdiri, orang-orang datang tak putus-putus. Mereka seperti laron yang obral saat musim hujan. Di sana, selain sekadar bergerombol-ngobrol-dan merokok, beberapa orang memilih duduk sambil menikmati kudapan yang dijajakan di stand-stand kecil beratap ilalang.

Tak lama berselang, sekelompok remaja (laki-perempuan) menghampiri lelaki paruh baya yang sibuk membuat orang jadi-jadian itu. Ia hampir selesai. Tangan dan kaki sudah ia bereskan. Kini tinggal menancapkan kepala di tempat semestinya.

“Bikin apa, Pak?” tanya salah seorang remaja yang mengenakan baju olahraga sekolahnya. Di pinggung bocah-bocah itu terpacak tulisan SMP N 6 Abang, Karangasem.

“Lelakut. Sini bantu bapak. Sekalian kalian belajar membuatnya!” seru lelaki itu.

Jadilah mereka membuat lelakut atau petakut (istilah rakyat Bali yang populer untuk orang-orangan sawah—atau weden dalam bahasa Jawa) bersama. Dan memang begitulah seharusnya. Sebab, ini bukan sekadar pertunjukan, tapi juga lokakarya membuat sosok manusia jadi-jadian yang berfungsi menakut-nakuti burung di masa padi menjelang panen itu.

Nengah Darmika Yasa sedang mengajari siswa-siswi membuat lelakut di Subak Spirit Festival 2024 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Ya, lokakarya tersebut dipandu Nengah Darmika Yasa, lelaki yang berusia setengah abad itu. Pelatihan yang singkat tersebut merupakan bagian dari Subak Spirit Festival 2024 yang diselenggarakan oleh Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan, Kementerian Kebudayaan di Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali, dari 9 sampai 10 November 2024.

Nengah Darmika Yasa, atau yang akrab dipanggil Pak Bobong, adalah seorang petani Jatiluwih yang masih membuat dan memanfaatkan lelakut—untuk mengusir burung—di sawah miliknya. Alih-alih membuat ala kadarnya—sekadar kerangka kayu yang dibungkus baju bekas sebagaimana kerap kita temui di sawah-sawah lainnya—Bobong perlu sedikit repot dengan membentuk sebutir kelapa menyerupai wajah manusia, lengkap dengan mata, hidung, dan mulutnya. Bahkan ia enggan membungkus orang-orangan sawahnya dengan baju bekas. Ia memilih menyusun padang ilalang kering sebagai badan lelakut-lelakut-nya.

“Ilalang ini saya beli di pengepul, di Tabanan sana. Katanya si didatangkan dari Lombok,” terang Bobong kepada tatkala.co sesaat setelah mengajari anak-anak sekolah menengah pertama itu meyusun ilalang kering kemudian mengikatnya dengan baik dan benar, Minggu (10/11/2024) siang.

Bobong mengaku, untuk membuat satu lelakut lengkap dengan—meminjam bahasa yang ia gunakan—“tapelnya”, ia tak sampai membutuhkan waktu berhari-hari. “Dua hari saja selesai,” ujarnya, penuh rasa percaya diri. Di sawah miliknya, katanya, lelakut masih cukup efektif dalam bertugas. Mahluk kecil bersayap macam pingai, pipi, gelatik, dan branjangan, atau sejenisnya, tak berani menginjakkan kaki di tangkai-tangkai padi milik Bobong. “Tapi saya memasang lelakut di hari baik. Saya percaya itu,” kata Bobong.

Lelakut buatan Nengah Darmika Yasa di Subak Spirit Festival 2024 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Di Jatiluwih, yang sawahnya berjenjang (terasering) seperti lukisan Hindia Molek itu, petani tidak pernah menggunakan alat-alat yang aneh-aneh untuk mengusir burung, sebagaimana petani di beberapa daerah di Jawa—mereka juga tidak mengenakan senapan atau meriam-meriam karbit-spirtus yang berbunyi menggelegar.

“Cukup pakai lelakut atau tarikan [tali yang dibentangkan di sawah, yang kadang digantungi kaleng-kaleng bekas]. Kadang juga pakai kepuakan [alat pengusir burung lainnya yang terbuat dari bambu],” terang Bobong.

Apa yang dilakukan petani Jatiluwih dapat kita lihat dari dua sudut pandang. Pertama karena ingin melestarikan alat-alat pertanian tradisional; kedua oleh sebab desa tersebut termasuk tujuan wisata yang populer di Bali. Oh, atau bahkan keduanya memang saling berhubungan. Karena tempat tujuan wisata, maka sawah-sawah di Jatiluwih harus dihias pakai lelakut, sunari, dan haram hukumnya petani membunyikan meriam karbit atau spirtus seperti kebanyakan petani di Jawa.

Tapi tak banyak petani Jatiluwih yang membuat lelakut seperti yang dibikin oleh Bobong. Mereka tak mau ribet. Mereka mau yang praktis-praktis saja, sekadar membuat kerangka kayu kemudian membungkusnya menggunakan baju dan celana bekas. Cukup. Meski tak terlihat estetik dan eksotis. Toh bukan itu tujuan utamanya. Tapi bukankah turis-turis suka yang estetik dan eksotis?

Bobong bersama siswa-siswi dari SMPN 6 Abang dan SMA Hindu Utama Widyalaya Astika Dharma berhasil merampungkan satu lelakut yang tampan—dengan topi pandan yang nangkring di kepala kelapanya. Mereka bersorak dan bertepuk tangan.

Lelakut, Bagian dari Lanskap Budaya

Burung liar selalu menjadi ancaman bagi padi petani. Oleh karena itulah, petani padi di seluruh dunia melahirkan orang-orangan sawah—atau apalah sebutannya—sebagai alat pengusir burung-burung. Mengenai penggunaan boneka sebagai alat pengusir binatang liar, laporan tertulis pertama berasal dari zaman kuno. Sejak 2500 tahun yang lalu, orang-orang Yunani menyembah Priapus, dewa yang dipercaya melindungi ladang gandum dan anggur mereka—pun alat kelamin laki-laki.

Priapus adalah model untuk boneka pertama yang ditempatkan di antara tanaman pangan untuk mengusir hama. Pengusiran burung juga dilakukan di Mesir lebih dari 3000 tahun yang lalu. Boneka yang menyerupai manusia ditempatkan di tepi Sungai Nil untuk melindungi tanaman pangan dari burung. Dokumen-dokumen Jepang sebelum 2500 tahun juga menggambarkan kebiasaan mengusir binatang dengan boneka yang dibuat menyerupai manusia.

Orang-orangan sawah atau lelakut dalam konteks Bali, dulu memiliki tempat di lanskap pedesaan di daerah-daerah di Indonesia dan cukup umum ditemukan di hampir setiap sawah. Tak jarang mereka ditempatkan di kebun belakang rumah, ladang pertanian, dekat jalan, di kebun buah, atau dekat petak sayuran.

Sebagaimana telah disinggung di atas, pekerjaan lelakut adalah untuk menakut-nakuti binatang liar, termasuk babi hutan, rusa, dan unggas. Menurut kronik rakyat, ‘banyak orang-orangan sawah berdiri di ladang. Masing-masing lebih pintar dari yang lain. Terkadang, sulit untuk mengatakan, apakah itu petani yang sedang meluruskan kakinya atau orang-orangan sawah yang berjaga di posnya’.

Nengah Darmika Yasa sedang mmembuat lelakut di Subak Spirit Festival 2024 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Ya, bentuk tubuh lelakut harus menyerupai petani. Maka, orang-orangan sawah itu dibuat dari dua batang kayu yang disilangkan. Pada masa kejayaannya, batang-batang kayu itu ditutupi dengan jerami atau ilalang kering lengkap dengan aksesorisnya—bisa caping, topi, atau semacamnya—yang membuatnya menyerupai petani. Bobong melakukan itu.

Dalam khazanah Bali, lelakut menggabungkan dua realitas yang saling bertentangan. Di satu sisi, orang-orangan sawah itu bisa terlihat kumuh, berbahaya, atau bahkan menakutkan di malam hari. Di sisi lain, sosok orang jadi-jadian itu terkadang terlihat baik hati, yang membawa konotasi positif berupa “roh yang baik”, pelindung, dan pembantu. Oleh karena itu, orang-orangan sawah bisa terlihat jahat dan baik hati. Tapi, terlepas dari anggapan tersebut, lelakut sepertinya adalah lambang budaya pertanian rakyat dan harapan petani untuk hasil panen yang baik.

Namun, meski demikian, lelakut juga sering kali memberi kesan dilupakan, ditinggalkan, dan dibiarkan sendiri. Pun alam tidak memiliki belas kasihan untuknya. Sebagian besar lelakut itu memudar karena sinar matahari, terbakar matahari, dan hampir runtuh. Dan kini, barangkali makna budaya dari orang-orangan sawah telah hilang, dilupakan, seiring terus berkurangnya jumlah petani dan lahan pertanian karena alihfungsi lahan.

Nengah Darmika Yasa sedang mmembuat lelakut di Subak Spirit Festival 2024 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Dulu, lelakut dibuat dengan hati-hati—sekali lagi, seperti yang dilakukan Bobong di Jatiluwih—untuk mewakili petani dan membuat mereka bangga atas tugasnya. Orang-orangan sawah memang mulia. Mereka “bernasib baik”—”tuan tanah” yang sebenarnya. Tapi saat ini, di tengah zaman yang bergerak lebih cepat dari kepak pipit terbang, lelakut pelan-pelan dilupakan. Hampir tidak ada orang yang mau repot-repot membuatnya dengan hati-hati dan penuh perhatian.

Mungkin aliran waktu telah merusak reputasi orang-orangan sawah. Hama padi tak hanya burung-burung. Dan burung-burung tampaknya tak lagi takut dengan lelakut. Mungkinkah karena ia kini tidak lagi terlihat seperti petani sebenarnya? Tapi siapa yang akan menghormati—atau bahkan takut—“kain tua di atas tongkat”?

Kini, orang-orangan sawah itu sendiri hanyalah gombal lusuh yang dibuat dengan lebih atau kurang hati-hati, sekadarnya, penuh kecerobohan. Oleh karena itu, bagi sebagian orang, lelakut adalah “kain lap pada tongkat”, sementara bagi yang lain, “karakter misterius yang mistis”.

Tapi perkembangan teknologi dan pertumbuhan budaya digital telah menghilangkan sifat mistis, menyeramkan, dan orang-orangan sawah (lelakut) sebagian besar atau bahkan seluruhnya, dalam budaya populer, menjelma hiasan di festival-festival yang berkaitan dengan sawah, pertanian, atau hanya sekadar ingatan masa lalu yang lamat-lamat terdengar—meskipun lelakut sebagai bagian dari lanskap budaya Bali.[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Made Adnyana

Subak Spirit Festival 2024: Merayakan Subak, Menjaga Entitas dan Identitas Masyarakat Bali
Subak Spirit Festival 2024, Pesta Rakyat, dan Usaha Pemuliaan Air
Tags: baliJatiuwihKementerian KebudayaanlelakutSubak Spirit Festival
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Garis-garis Puitika Karya-karya Made Kaek

Next Post

Pertukaran Budaya Indonesia-Korea: Menyatukan Cita Rasa dan Tradisi

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
0
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

Read moreDetails

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
0
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

Read moreDetails

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

FESTIVAL Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 dipastikan hadir lebih semarak. Festival yang menjadi ruang apresiasi seni modern, kontemporer,...

Read moreDetails

Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

PAGI itu, suasana Pantai Cemara, Sanur, mulai dipenuhi antusiasme. Meski sinar matahari sudah terasa menyengat, puluhan orang tetap bersemangat mengikuti...

Read moreDetails

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

by Rohmah Nia Chandra Sari
July 9, 2026
0
Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

RANGKAIAN ajang bergengsi Pekan Seni Mahasiswa FISIP (PEKSIMASIF) 2026 yang berlangsung selama tiga hari, sejak 28 hingga 30 April 2026,...

Read moreDetails

Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

by Chandra Manikan
July 9, 2026
0
Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

SAMPAI HARI INI, pupuh itu mengendap lebih lama di pikiranku. Buku “Bali, Pandemi, Refleksi: Dinamika Politik Kebijakan dan Kritisme Komunitas”,...

Read moreDetails

Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 8, 2026
0
Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

“SETIAP penyair kalau ia menyuarakan lukanya, ia sebenarnya menyuarakan luka manusia.” Kalimat itu meluncur dari Yahya Umar, Sabtu, 4 Juli...

Read moreDetails

Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 7, 2026
0
Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

AROMA kopi yang baru diseduh bercampur dengan wangi siobak dan tipat santok menyambut setiap langkah pengunjung di belakang panggung utama...

Read moreDetails

Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

by Agung Sudarsa
July 7, 2026
0
Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

MINGGU, 21 Juni 2026, di Griya Yangloni milik Dokter Ida Bagus Kesnawa, MM, di Banjar Buruan, Gianyar, sebuah pengalaman sederhana...

Read moreDetails

Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
0
Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

BAGAI pasukan di medan perang, petugas kebersihan dalam ajang Singaraja Literary Festival (SLF) 2026 tak membiarkan sepotong sampah pun tertinggal....

Read moreDetails
Next Post
Pertukaran Budaya Indonesia-Korea: Menyatukan Cita Rasa dan Tradisi

Pertukaran Budaya Indonesia-Korea: Menyatukan Cita Rasa dan Tradisi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co