12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ada Lelakut di Subak Spirit Festival 2024

Jaswanto by Jaswanto
November 11, 2024
in Khas
Ada Lelakut di Subak Spirit Festival 2024

Nengah Darmika Yasa sedang mmembuat lelakut di Subak Spirit Festival 2024 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

“SEBENTAR lagi mulai, Bu. Ini masih persiapan,” seorang lelaki paruh baya menjawab pertanyaan perempuan yang usianya tampak lebih muda darinya. Meski demikian, lelaki itu tetap memanggilnya “ibu”. Semacam ada relasi “kasta” di sana. Siapa yang memerintah dan siapa yang diperintah. Lelaki berusia setengah abad yang mengenakan kamen dan udeng itu kini sedang menancapkan bambu dengan panjang semeteran lebih di pinggir pematang sawah berjenjang.

Hari semakin terik. Sebutir-dua butir keringat merembes dari pelipisnya. Ia menyekanya dengan kasar. Merasa bambu yang ditancapkannya sudah sesuai dengan yang ia inginkan, lelaki itu berpindah ke seikat ilalang dan beberapa butir kelapa yang sudah dibentuk sedemikian rupa.

Sementara lelaki itu sibuk melepas ikatan-ikatan padang kering itu dan mulai menyusunnya di kerangka salib—yang belakangan dilengkapi dengan sepasang tangan, kaki, dan kepala—yang ia satukan dengan balok yang ia tancapkan, di sekitarnya orang-orang tak henti-henti memotretnya. Seolah model sebuah produk, beberapa kali ia juga diarahkan—jika bukan disuruh-suruh.

Nengah Darmika Yasa saat menancapkan bambu di pinggir pematang di Subak Spirit Festival 2024 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Lelaki itu melempar senyum kepada setiap orang yang hendak mengambil gambarnya. Dan kini keringatnya sudah benar-benar membasahi wajahnya yang ramah. Sedangkan tepat di depannya, di seberang sawah tempatnya berdiri, orang-orang datang tak putus-putus. Mereka seperti laron yang obral saat musim hujan. Di sana, selain sekadar bergerombol-ngobrol-dan merokok, beberapa orang memilih duduk sambil menikmati kudapan yang dijajakan di stand-stand kecil beratap ilalang.

Tak lama berselang, sekelompok remaja (laki-perempuan) menghampiri lelaki paruh baya yang sibuk membuat orang jadi-jadian itu. Ia hampir selesai. Tangan dan kaki sudah ia bereskan. Kini tinggal menancapkan kepala di tempat semestinya.

“Bikin apa, Pak?” tanya salah seorang remaja yang mengenakan baju olahraga sekolahnya. Di pinggung bocah-bocah itu terpacak tulisan SMP N 6 Abang, Karangasem.

“Lelakut. Sini bantu bapak. Sekalian kalian belajar membuatnya!” seru lelaki itu.

Jadilah mereka membuat lelakut atau petakut (istilah rakyat Bali yang populer untuk orang-orangan sawah—atau weden dalam bahasa Jawa) bersama. Dan memang begitulah seharusnya. Sebab, ini bukan sekadar pertunjukan, tapi juga lokakarya membuat sosok manusia jadi-jadian yang berfungsi menakut-nakuti burung di masa padi menjelang panen itu.

Nengah Darmika Yasa sedang mengajari siswa-siswi membuat lelakut di Subak Spirit Festival 2024 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Ya, lokakarya tersebut dipandu Nengah Darmika Yasa, lelaki yang berusia setengah abad itu. Pelatihan yang singkat tersebut merupakan bagian dari Subak Spirit Festival 2024 yang diselenggarakan oleh Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan, Kementerian Kebudayaan di Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali, dari 9 sampai 10 November 2024.

Nengah Darmika Yasa, atau yang akrab dipanggil Pak Bobong, adalah seorang petani Jatiluwih yang masih membuat dan memanfaatkan lelakut—untuk mengusir burung—di sawah miliknya. Alih-alih membuat ala kadarnya—sekadar kerangka kayu yang dibungkus baju bekas sebagaimana kerap kita temui di sawah-sawah lainnya—Bobong perlu sedikit repot dengan membentuk sebutir kelapa menyerupai wajah manusia, lengkap dengan mata, hidung, dan mulutnya. Bahkan ia enggan membungkus orang-orangan sawahnya dengan baju bekas. Ia memilih menyusun padang ilalang kering sebagai badan lelakut-lelakut-nya.

“Ilalang ini saya beli di pengepul, di Tabanan sana. Katanya si didatangkan dari Lombok,” terang Bobong kepada tatkala.co sesaat setelah mengajari anak-anak sekolah menengah pertama itu meyusun ilalang kering kemudian mengikatnya dengan baik dan benar, Minggu (10/11/2024) siang.

Bobong mengaku, untuk membuat satu lelakut lengkap dengan—meminjam bahasa yang ia gunakan—“tapelnya”, ia tak sampai membutuhkan waktu berhari-hari. “Dua hari saja selesai,” ujarnya, penuh rasa percaya diri. Di sawah miliknya, katanya, lelakut masih cukup efektif dalam bertugas. Mahluk kecil bersayap macam pingai, pipi, gelatik, dan branjangan, atau sejenisnya, tak berani menginjakkan kaki di tangkai-tangkai padi milik Bobong. “Tapi saya memasang lelakut di hari baik. Saya percaya itu,” kata Bobong.

Lelakut buatan Nengah Darmika Yasa di Subak Spirit Festival 2024 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Di Jatiluwih, yang sawahnya berjenjang (terasering) seperti lukisan Hindia Molek itu, petani tidak pernah menggunakan alat-alat yang aneh-aneh untuk mengusir burung, sebagaimana petani di beberapa daerah di Jawa—mereka juga tidak mengenakan senapan atau meriam-meriam karbit-spirtus yang berbunyi menggelegar.

“Cukup pakai lelakut atau tarikan [tali yang dibentangkan di sawah, yang kadang digantungi kaleng-kaleng bekas]. Kadang juga pakai kepuakan [alat pengusir burung lainnya yang terbuat dari bambu],” terang Bobong.

Apa yang dilakukan petani Jatiluwih dapat kita lihat dari dua sudut pandang. Pertama karena ingin melestarikan alat-alat pertanian tradisional; kedua oleh sebab desa tersebut termasuk tujuan wisata yang populer di Bali. Oh, atau bahkan keduanya memang saling berhubungan. Karena tempat tujuan wisata, maka sawah-sawah di Jatiluwih harus dihias pakai lelakut, sunari, dan haram hukumnya petani membunyikan meriam karbit atau spirtus seperti kebanyakan petani di Jawa.

Tapi tak banyak petani Jatiluwih yang membuat lelakut seperti yang dibikin oleh Bobong. Mereka tak mau ribet. Mereka mau yang praktis-praktis saja, sekadar membuat kerangka kayu kemudian membungkusnya menggunakan baju dan celana bekas. Cukup. Meski tak terlihat estetik dan eksotis. Toh bukan itu tujuan utamanya. Tapi bukankah turis-turis suka yang estetik dan eksotis?

Bobong bersama siswa-siswi dari SMPN 6 Abang dan SMA Hindu Utama Widyalaya Astika Dharma berhasil merampungkan satu lelakut yang tampan—dengan topi pandan yang nangkring di kepala kelapanya. Mereka bersorak dan bertepuk tangan.

Lelakut, Bagian dari Lanskap Budaya

Burung liar selalu menjadi ancaman bagi padi petani. Oleh karena itulah, petani padi di seluruh dunia melahirkan orang-orangan sawah—atau apalah sebutannya—sebagai alat pengusir burung-burung. Mengenai penggunaan boneka sebagai alat pengusir binatang liar, laporan tertulis pertama berasal dari zaman kuno. Sejak 2500 tahun yang lalu, orang-orang Yunani menyembah Priapus, dewa yang dipercaya melindungi ladang gandum dan anggur mereka—pun alat kelamin laki-laki.

Priapus adalah model untuk boneka pertama yang ditempatkan di antara tanaman pangan untuk mengusir hama. Pengusiran burung juga dilakukan di Mesir lebih dari 3000 tahun yang lalu. Boneka yang menyerupai manusia ditempatkan di tepi Sungai Nil untuk melindungi tanaman pangan dari burung. Dokumen-dokumen Jepang sebelum 2500 tahun juga menggambarkan kebiasaan mengusir binatang dengan boneka yang dibuat menyerupai manusia.

Orang-orangan sawah atau lelakut dalam konteks Bali, dulu memiliki tempat di lanskap pedesaan di daerah-daerah di Indonesia dan cukup umum ditemukan di hampir setiap sawah. Tak jarang mereka ditempatkan di kebun belakang rumah, ladang pertanian, dekat jalan, di kebun buah, atau dekat petak sayuran.

Sebagaimana telah disinggung di atas, pekerjaan lelakut adalah untuk menakut-nakuti binatang liar, termasuk babi hutan, rusa, dan unggas. Menurut kronik rakyat, ‘banyak orang-orangan sawah berdiri di ladang. Masing-masing lebih pintar dari yang lain. Terkadang, sulit untuk mengatakan, apakah itu petani yang sedang meluruskan kakinya atau orang-orangan sawah yang berjaga di posnya’.

Nengah Darmika Yasa sedang mmembuat lelakut di Subak Spirit Festival 2024 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Ya, bentuk tubuh lelakut harus menyerupai petani. Maka, orang-orangan sawah itu dibuat dari dua batang kayu yang disilangkan. Pada masa kejayaannya, batang-batang kayu itu ditutupi dengan jerami atau ilalang kering lengkap dengan aksesorisnya—bisa caping, topi, atau semacamnya—yang membuatnya menyerupai petani. Bobong melakukan itu.

Dalam khazanah Bali, lelakut menggabungkan dua realitas yang saling bertentangan. Di satu sisi, orang-orangan sawah itu bisa terlihat kumuh, berbahaya, atau bahkan menakutkan di malam hari. Di sisi lain, sosok orang jadi-jadian itu terkadang terlihat baik hati, yang membawa konotasi positif berupa “roh yang baik”, pelindung, dan pembantu. Oleh karena itu, orang-orangan sawah bisa terlihat jahat dan baik hati. Tapi, terlepas dari anggapan tersebut, lelakut sepertinya adalah lambang budaya pertanian rakyat dan harapan petani untuk hasil panen yang baik.

Namun, meski demikian, lelakut juga sering kali memberi kesan dilupakan, ditinggalkan, dan dibiarkan sendiri. Pun alam tidak memiliki belas kasihan untuknya. Sebagian besar lelakut itu memudar karena sinar matahari, terbakar matahari, dan hampir runtuh. Dan kini, barangkali makna budaya dari orang-orangan sawah telah hilang, dilupakan, seiring terus berkurangnya jumlah petani dan lahan pertanian karena alihfungsi lahan.

Nengah Darmika Yasa sedang mmembuat lelakut di Subak Spirit Festival 2024 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Dulu, lelakut dibuat dengan hati-hati—sekali lagi, seperti yang dilakukan Bobong di Jatiluwih—untuk mewakili petani dan membuat mereka bangga atas tugasnya. Orang-orangan sawah memang mulia. Mereka “bernasib baik”—”tuan tanah” yang sebenarnya. Tapi saat ini, di tengah zaman yang bergerak lebih cepat dari kepak pipit terbang, lelakut pelan-pelan dilupakan. Hampir tidak ada orang yang mau repot-repot membuatnya dengan hati-hati dan penuh perhatian.

Mungkin aliran waktu telah merusak reputasi orang-orangan sawah. Hama padi tak hanya burung-burung. Dan burung-burung tampaknya tak lagi takut dengan lelakut. Mungkinkah karena ia kini tidak lagi terlihat seperti petani sebenarnya? Tapi siapa yang akan menghormati—atau bahkan takut—“kain tua di atas tongkat”?

Kini, orang-orangan sawah itu sendiri hanyalah gombal lusuh yang dibuat dengan lebih atau kurang hati-hati, sekadarnya, penuh kecerobohan. Oleh karena itu, bagi sebagian orang, lelakut adalah “kain lap pada tongkat”, sementara bagi yang lain, “karakter misterius yang mistis”.

Tapi perkembangan teknologi dan pertumbuhan budaya digital telah menghilangkan sifat mistis, menyeramkan, dan orang-orangan sawah (lelakut) sebagian besar atau bahkan seluruhnya, dalam budaya populer, menjelma hiasan di festival-festival yang berkaitan dengan sawah, pertanian, atau hanya sekadar ingatan masa lalu yang lamat-lamat terdengar—meskipun lelakut sebagai bagian dari lanskap budaya Bali.[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Made Adnyana

Subak Spirit Festival 2024: Merayakan Subak, Menjaga Entitas dan Identitas Masyarakat Bali
Subak Spirit Festival 2024, Pesta Rakyat, dan Usaha Pemuliaan Air
Tags: baliJatiuwihKementerian KebudayaanlelakutSubak Spirit Festival
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Garis-garis Puitika Karya-karya Made Kaek

Next Post

Pertukaran Budaya Indonesia-Korea: Menyatukan Cita Rasa dan Tradisi

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails
Next Post
Pertukaran Budaya Indonesia-Korea: Menyatukan Cita Rasa dan Tradisi

Pertukaran Budaya Indonesia-Korea: Menyatukan Cita Rasa dan Tradisi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co