24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Percik Estetik Made Gunawan

Hartanto by Hartanto
November 7, 2024
in Ulas Rupa
Percik Estetik Made Gunawan

Karya Made Gunawan | Foto-foto diambil dari katalog pameran

SANGAT menarik bagi saya, bahwa kali ini perupa Made Gunawan mengangkat thema Harvest atau Panen. Kata singkat ini memiliki makna yang luas tentang ‘perolehan hasil’ dari suatu usaha atau kerja dengan proses yang cukup panjang.

Mengikuti perjalanan ‘refleksi konten’ karya Made Gunawan, terbukti ia senantiasa mengangkat thema hal-hal yang positip; keberhasilan bukan kegagalan,  panen raya bukan gagal panen,  kegembiraan bukan kesedihan, keceriaan bukan kemurungan, tentang terang cahaya bukan kegelapan, bahagia bukan duka,  fajar hari bukan senja hari, harmoni bukan disharmoni, dan lain sebagainya.

Sebagai orang Bali yang berasal dari Kabupaten Tabanan, yang memang semenjak dulu sebagian besar masyarakatnya bercocok tanam – maka tak heran jika Made Gunawan amat dekat dengan ‘Kultur Agraris’. Salah satu teknologi pertanian tradisional Bali yang cukup terkenal di dunia Internasional, adalah system Subak. Sejak 29 Juni 2012,  Subak telah tercatat sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO.

Sistem Subak dalam pertanian Bali adalah sistem irigasi kuno berbasis komunitas serta, berakar kuat dalam budaya dan tradisi pulau Dewata ini. Adapun aspek Utama Subak, antara lain: Sistem Manajemen Masyarakat yang dikelola secara kolektif oleh petani lokal. Setiap Subak beroperasi secara demokratis, dengan keputusan dibuat melalui pertemuan komunitas.

Sistem demokrasi secara praksis  juga ada di dalam organisasi Subak ini, yakni tentang distribusi air yang adil. Air dari sumber yang sama, biasanya sungai, didistribusikan secara adil di antara semua petani, memastikan bahwa setiap orang/anggota Subak mendapatkan bagian mereka.

Dalam masyarakat Bali, setiap gerak kehidupan senantiasa berkait dengan ritual keagamaan. Demikian juga dengan sistem Subak, juga mencakup ritual keagamaan untuk menghormati Dewi Sri – dewi padi, yang mencerminkan hubungan spiritual antara pertanian dan kepercayaan agama Hindu Dharma di Bali.

Sistem Subak mempromosikan praktik pertanian berkelanjutan, menjaga kesuburan tanah dan memastikan penggunaan air yang efisien. Sistem ini mencontohkan bagaimana praktik tradisional dapat mengelola sumber daya alam secara efektif sambil mendorong kerja sama masyarakat dan pelestarian budaya. Ini adalah perpaduan yang indah antara kepraktisan, spiritualitas, dan harmoni sosial.

Dan masih banyak lagi teknologi tradisional Bali yang berkait dengan tata sosial kehidupan masyarakat. Semua ilmu pengetahuan itu, tertulis dengan teks kuno di daun lontar, dan masih tersimpan baik. Seperti Lontar ‘wariga’ ,  Lontar ‘Usada Sawah’, Lontar Dharma Pemaculan, dan lain sebagainya.

Tentang pengetahuan yang tertulis di lontar Dharma Pemaculan, juga tak kalah menariknya. Dharma Pemaculan, adalah manuskrip tradisional Bali yang memberikan pedoman komprehensif tentang praktik pertanian, yang berakar kuat pada nilai-nilai spiritual dan budaya Bali. Teks tersebut mencakup berbagai aspek pertanian, mulai dari menanam dan memelihara tanaman hingga memanen dan menyimpannya.

Teknologi sistem pertanian di Bali yang tertulis pada Lontar Dharma Pemaculan  merupakan salah satu ilmu pengetahuan lokal yang telah ada dan ditemukan sendiri oleh nenek moyang Bali di masa lalu. Uniknya, setiap aktivitas pertanian tersebut, selalu disertai dengan proses ritual khusus.

Demikian juga dalam proses mengusir datangnya hama. Kala itu, hama  tak dibunuh dengan pestisida dan semacamnya, namun hanya mempergunakan bahan-bahan organic seperti daun ’intaran’ (mimba), dan lain sebagainya. Sementara itu, untuk hama burung, hanya diusir dengan ‘lelakut’ (orang-orangan) atau dengan ‘sunari’ (suara), tidak dibunuh.

Begitulah kaya nya ilmu pengetahuan tradisional Bali – yang bermanfaat bagi tata kehidupan masyarakatnya. Itu merupakan produk yang genial dari nenek moyang masyarakat Bali, dan bermanfaat bagi kehidupan masyarakat hingga kini. Dan Made Gunawan, ‘merefleksikan’ warisan yang amat berharga itu lewat karya-karya rupanya di periode ini.

Bagi saya sangat menarik. Pasalnya yang dihasilkan oleh Made Gunawan tak hanya estetika karya semata – namun juga sebuah upaya membangkitkan ‘kesadaran’ bagi seluruh masyarakat tentang ilmu pengetahuan karya nenek moyang. Dan ini tidak hanya sebatas bagi masyarakat Bali semata, melainkan seluruh masyarakat yang peduli pada ‘pemuliaan’ tradisi dan seni budaya milik bangsa kita.

Pada pameran karyanya  kali ini, Made Gunawan, tetap konsisten . Ia tetap menggabungkan teknik senirupa tradisi dan kontemporer. Pada teknik tradisi, Gunawan mengetengahkan  teknik nyawi, repetitive dan sigar-mangsi/mayunan. Gunawan, secara apik menggabungkan dengan pemahaman teknik senirupa modern, antara lain ; garis, warna, bentuk imajinatif, tekstur, nada (tone), depormasi figure, dan konten dengan prespektif kekinian.

Selain itu, Made Gunawan banyak mempergunakan warna-warna cerah, hingga mampu menciptakan keseimbangan harmonis antara kedua gaya, tradisional dan kontemporer. Dengan memadukan gaya seni yang berbeda – Gunawan menciptakan kedalaman dan dimensi yang genial pada karyanya.

Yang menarik lagi pada prosesnya dalam berkarya kali ini adalah penemuan ‘teknik percik’ untuk menciptakan ‘latar belakang’ (background) dan tekstur karyanya. Gunawan, menemukan ‘teknik percik’ yang ia anggap sebagai hal baru dalam berkarya selama ini. Menurut Gunawan, dengan teknik percik – ia seperti menemukan ‘alternatif’ yang lebih luas dalam menempatkan ‘obyek’ secara lebih variatif, untuk mendapatkan pencapaian harmoni yang apik.

Penemuan teknik percik Made Gunawan ini, mengingatkan saya pada proses Jackson Pollock dalam menemukan Drip Technique (Teknik tetes). Dengan cara memercikkan  ke kanvas yang diletakkan di lantai, Ini memungkinkannya untuk bekerja dari semua sudut, menciptakan komposisi yang dinamis dan energik. Maka yang tercipta adalah backround, tone dan tekstur – yang estetik dan mendalam.

Karya-karyanya sering menutupi seluruh kanvas, tanpa titik fokus tunggal, kecuali obyek tertentu, seperti pohon, binatang atau rembulan sebagai aksentuasi. Selain itu, karya-karyanya juga menciptakan  ‘daya’ dan semburat warna yang dinamis. Ini dihadirkan untuk menarik perhatian  intelek optic penikmatnya. Dengan demikian, Gunawan  menghadirkan pengalaman visual yang baru bagi penikmat karya-karyanya.

Teknik percik Made Gunawan ini sangat spontan, cerminan keadaan emosional dan pikiran bawah sadarnya. Dia percaya dalam mengekspresikan perasaan batinnya melalui seninya, akan menghasilkan suatu estetika karya yang berkait dengan realita perjalanan hidupnya sebagai masyarakat dengan latar kultur agraris..

Pendekatan inovatif Made Gunawan  dalam perjalanan proses kreatifnya ini – menandakan bahwa ia sedang ‘merevolusi’ teknik karya seninya yang berdampak besar pada penggayaan Ekspresionis Abstrak Figuratifnya yang kian dinamis dan variatif.

Oleh karenanya, ia bereksperimen dengan cara-cara baru untuk mengaplikasikan cat ke kanvas. Ia tidak puas dengan sapuan kuas tradisional dan mencari metode yang lebih langsung dan ekspresif, maka ketemulah tektnik percik yang sangat menarik dan membangun kreatifitas  berkarya Made Gunawan, tanpa batas.

Secara tak disadari oleh Made Gunawan, ia sedang dipengaruhi oleh teknik Surealis, khususnya gagasan untuk memanfaatkan pikiran bawah sadar melalui teknik perciknya. Ia ingin menciptakan seni yang spontan dan bebas dari kendali kesadaran. Dengan memercikkan cat ke kanvas, ini memberinya kebebasan untuk bekerja dengan cepat dan penuh semangat, untuk menghasilkan estetika ‘bawah sadar’.

Barulah kemudian, ‘narasi visual’, di bangun oleh Made Gunawan, mengikuti proses bawah sadar sebelumnya. Teknik ini menekankan tindakan kreatifitas melukis dan keadaan emosional nya, menjadikan proses tersebut sama pentingnya antara proses ‘percik’ dengan ‘narasi visual’ produk akhir. Demikianlah ulasan saya tentang proses kreatif berkarya Made Gunawan yang akan memamerkan karya-karyanya yang bertajuk ‘HARVEST’ di Galeri Hadiprana Jakarta. Selamat dan sukses selalu. Salam Budaya, salam kreatif tanpa henti. [T]

Redaksi Rupa : Kone Keto, Keto Kone?
Dirah dan Pilkada dalam Mozaik Asik,  Sebuah Pameran Kebebasan Seniman Muda Undiksha
Dewi Sri dan Spirit Kemerdekaan dalam Pameran Seni Rupa di Undiksha Singaraja
Tulang, Tubuh, dan Puisi dalam Ruang-Waktu | Dari Pameran Seni Instalasi Sampi Duwe di Desa Tambakan
Tags: I Made GunawanPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bersiaplah Menghadapi 5 Pergeseran Diplomasi Global di Era Trump 2.0

Next Post

Memeluk Masa Lalu dengan Ingatan Yang Sadar: Catatan Festival Kala Monolog

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

by Emi Suy
October 19, 2026
0
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

Read moreDetails

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
0
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

Read moreDetails

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

by Made Chandra
October 10, 2026
0
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

Read moreDetails

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails
Next Post
Memeluk Masa Lalu dengan Ingatan Yang Sadar: Catatan Festival Kala Monolog

Memeluk Masa Lalu dengan Ingatan Yang Sadar: Catatan Festival Kala Monolog

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co