4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Percik Estetik Made Gunawan

Hartanto by Hartanto
November 7, 2024
in Ulas Rupa
Percik Estetik Made Gunawan

Karya Made Gunawan | Foto-foto diambil dari katalog pameran

SANGAT menarik bagi saya, bahwa kali ini perupa Made Gunawan mengangkat thema Harvest atau Panen. Kata singkat ini memiliki makna yang luas tentang ‘perolehan hasil’ dari suatu usaha atau kerja dengan proses yang cukup panjang.

Mengikuti perjalanan ‘refleksi konten’ karya Made Gunawan, terbukti ia senantiasa mengangkat thema hal-hal yang positip; keberhasilan bukan kegagalan,  panen raya bukan gagal panen,  kegembiraan bukan kesedihan, keceriaan bukan kemurungan, tentang terang cahaya bukan kegelapan, bahagia bukan duka,  fajar hari bukan senja hari, harmoni bukan disharmoni, dan lain sebagainya.

Sebagai orang Bali yang berasal dari Kabupaten Tabanan, yang memang semenjak dulu sebagian besar masyarakatnya bercocok tanam – maka tak heran jika Made Gunawan amat dekat dengan ‘Kultur Agraris’. Salah satu teknologi pertanian tradisional Bali yang cukup terkenal di dunia Internasional, adalah system Subak. Sejak 29 Juni 2012,  Subak telah tercatat sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO.

Sistem Subak dalam pertanian Bali adalah sistem irigasi kuno berbasis komunitas serta, berakar kuat dalam budaya dan tradisi pulau Dewata ini. Adapun aspek Utama Subak, antara lain: Sistem Manajemen Masyarakat yang dikelola secara kolektif oleh petani lokal. Setiap Subak beroperasi secara demokratis, dengan keputusan dibuat melalui pertemuan komunitas.

Sistem demokrasi secara praksis  juga ada di dalam organisasi Subak ini, yakni tentang distribusi air yang adil. Air dari sumber yang sama, biasanya sungai, didistribusikan secara adil di antara semua petani, memastikan bahwa setiap orang/anggota Subak mendapatkan bagian mereka.

Dalam masyarakat Bali, setiap gerak kehidupan senantiasa berkait dengan ritual keagamaan. Demikian juga dengan sistem Subak, juga mencakup ritual keagamaan untuk menghormati Dewi Sri – dewi padi, yang mencerminkan hubungan spiritual antara pertanian dan kepercayaan agama Hindu Dharma di Bali.

Sistem Subak mempromosikan praktik pertanian berkelanjutan, menjaga kesuburan tanah dan memastikan penggunaan air yang efisien. Sistem ini mencontohkan bagaimana praktik tradisional dapat mengelola sumber daya alam secara efektif sambil mendorong kerja sama masyarakat dan pelestarian budaya. Ini adalah perpaduan yang indah antara kepraktisan, spiritualitas, dan harmoni sosial.

Dan masih banyak lagi teknologi tradisional Bali yang berkait dengan tata sosial kehidupan masyarakat. Semua ilmu pengetahuan itu, tertulis dengan teks kuno di daun lontar, dan masih tersimpan baik. Seperti Lontar ‘wariga’ ,  Lontar ‘Usada Sawah’, Lontar Dharma Pemaculan, dan lain sebagainya.

Tentang pengetahuan yang tertulis di lontar Dharma Pemaculan, juga tak kalah menariknya. Dharma Pemaculan, adalah manuskrip tradisional Bali yang memberikan pedoman komprehensif tentang praktik pertanian, yang berakar kuat pada nilai-nilai spiritual dan budaya Bali. Teks tersebut mencakup berbagai aspek pertanian, mulai dari menanam dan memelihara tanaman hingga memanen dan menyimpannya.

Teknologi sistem pertanian di Bali yang tertulis pada Lontar Dharma Pemaculan  merupakan salah satu ilmu pengetahuan lokal yang telah ada dan ditemukan sendiri oleh nenek moyang Bali di masa lalu. Uniknya, setiap aktivitas pertanian tersebut, selalu disertai dengan proses ritual khusus.

Demikian juga dalam proses mengusir datangnya hama. Kala itu, hama  tak dibunuh dengan pestisida dan semacamnya, namun hanya mempergunakan bahan-bahan organic seperti daun ’intaran’ (mimba), dan lain sebagainya. Sementara itu, untuk hama burung, hanya diusir dengan ‘lelakut’ (orang-orangan) atau dengan ‘sunari’ (suara), tidak dibunuh.

Begitulah kaya nya ilmu pengetahuan tradisional Bali – yang bermanfaat bagi tata kehidupan masyarakatnya. Itu merupakan produk yang genial dari nenek moyang masyarakat Bali, dan bermanfaat bagi kehidupan masyarakat hingga kini. Dan Made Gunawan, ‘merefleksikan’ warisan yang amat berharga itu lewat karya-karya rupanya di periode ini.

Bagi saya sangat menarik. Pasalnya yang dihasilkan oleh Made Gunawan tak hanya estetika karya semata – namun juga sebuah upaya membangkitkan ‘kesadaran’ bagi seluruh masyarakat tentang ilmu pengetahuan karya nenek moyang. Dan ini tidak hanya sebatas bagi masyarakat Bali semata, melainkan seluruh masyarakat yang peduli pada ‘pemuliaan’ tradisi dan seni budaya milik bangsa kita.

Pada pameran karyanya  kali ini, Made Gunawan, tetap konsisten . Ia tetap menggabungkan teknik senirupa tradisi dan kontemporer. Pada teknik tradisi, Gunawan mengetengahkan  teknik nyawi, repetitive dan sigar-mangsi/mayunan. Gunawan, secara apik menggabungkan dengan pemahaman teknik senirupa modern, antara lain ; garis, warna, bentuk imajinatif, tekstur, nada (tone), depormasi figure, dan konten dengan prespektif kekinian.

Selain itu, Made Gunawan banyak mempergunakan warna-warna cerah, hingga mampu menciptakan keseimbangan harmonis antara kedua gaya, tradisional dan kontemporer. Dengan memadukan gaya seni yang berbeda – Gunawan menciptakan kedalaman dan dimensi yang genial pada karyanya.

Yang menarik lagi pada prosesnya dalam berkarya kali ini adalah penemuan ‘teknik percik’ untuk menciptakan ‘latar belakang’ (background) dan tekstur karyanya. Gunawan, menemukan ‘teknik percik’ yang ia anggap sebagai hal baru dalam berkarya selama ini. Menurut Gunawan, dengan teknik percik – ia seperti menemukan ‘alternatif’ yang lebih luas dalam menempatkan ‘obyek’ secara lebih variatif, untuk mendapatkan pencapaian harmoni yang apik.

Penemuan teknik percik Made Gunawan ini, mengingatkan saya pada proses Jackson Pollock dalam menemukan Drip Technique (Teknik tetes). Dengan cara memercikkan  ke kanvas yang diletakkan di lantai, Ini memungkinkannya untuk bekerja dari semua sudut, menciptakan komposisi yang dinamis dan energik. Maka yang tercipta adalah backround, tone dan tekstur – yang estetik dan mendalam.

Karya-karyanya sering menutupi seluruh kanvas, tanpa titik fokus tunggal, kecuali obyek tertentu, seperti pohon, binatang atau rembulan sebagai aksentuasi. Selain itu, karya-karyanya juga menciptakan  ‘daya’ dan semburat warna yang dinamis. Ini dihadirkan untuk menarik perhatian  intelek optic penikmatnya. Dengan demikian, Gunawan  menghadirkan pengalaman visual yang baru bagi penikmat karya-karyanya.

Teknik percik Made Gunawan ini sangat spontan, cerminan keadaan emosional dan pikiran bawah sadarnya. Dia percaya dalam mengekspresikan perasaan batinnya melalui seninya, akan menghasilkan suatu estetika karya yang berkait dengan realita perjalanan hidupnya sebagai masyarakat dengan latar kultur agraris..

Pendekatan inovatif Made Gunawan  dalam perjalanan proses kreatifnya ini – menandakan bahwa ia sedang ‘merevolusi’ teknik karya seninya yang berdampak besar pada penggayaan Ekspresionis Abstrak Figuratifnya yang kian dinamis dan variatif.

Oleh karenanya, ia bereksperimen dengan cara-cara baru untuk mengaplikasikan cat ke kanvas. Ia tidak puas dengan sapuan kuas tradisional dan mencari metode yang lebih langsung dan ekspresif, maka ketemulah tektnik percik yang sangat menarik dan membangun kreatifitas  berkarya Made Gunawan, tanpa batas.

Secara tak disadari oleh Made Gunawan, ia sedang dipengaruhi oleh teknik Surealis, khususnya gagasan untuk memanfaatkan pikiran bawah sadar melalui teknik perciknya. Ia ingin menciptakan seni yang spontan dan bebas dari kendali kesadaran. Dengan memercikkan cat ke kanvas, ini memberinya kebebasan untuk bekerja dengan cepat dan penuh semangat, untuk menghasilkan estetika ‘bawah sadar’.

Barulah kemudian, ‘narasi visual’, di bangun oleh Made Gunawan, mengikuti proses bawah sadar sebelumnya. Teknik ini menekankan tindakan kreatifitas melukis dan keadaan emosional nya, menjadikan proses tersebut sama pentingnya antara proses ‘percik’ dengan ‘narasi visual’ produk akhir. Demikianlah ulasan saya tentang proses kreatif berkarya Made Gunawan yang akan memamerkan karya-karyanya yang bertajuk ‘HARVEST’ di Galeri Hadiprana Jakarta. Selamat dan sukses selalu. Salam Budaya, salam kreatif tanpa henti. [T]

Redaksi Rupa : Kone Keto, Keto Kone?
Dirah dan Pilkada dalam Mozaik Asik,  Sebuah Pameran Kebebasan Seniman Muda Undiksha
Dewi Sri dan Spirit Kemerdekaan dalam Pameran Seni Rupa di Undiksha Singaraja
Tulang, Tubuh, dan Puisi dalam Ruang-Waktu | Dari Pameran Seni Instalasi Sampi Duwe di Desa Tambakan
Tags: I Made GunawanPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bersiaplah Menghadapi 5 Pergeseran Diplomasi Global di Era Trump 2.0

Next Post

Memeluk Masa Lalu dengan Ingatan Yang Sadar: Catatan Festival Kala Monolog

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails
Next Post
Memeluk Masa Lalu dengan Ingatan Yang Sadar: Catatan Festival Kala Monolog

Memeluk Masa Lalu dengan Ingatan Yang Sadar: Catatan Festival Kala Monolog

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co