15 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Percik Estetik Made Gunawan

Hartanto by Hartanto
November 7, 2024
in Ulas Rupa
Percik Estetik Made Gunawan

Karya Made Gunawan | Foto-foto diambil dari katalog pameran

SANGAT menarik bagi saya, bahwa kali ini perupa Made Gunawan mengangkat thema Harvest atau Panen. Kata singkat ini memiliki makna yang luas tentang ‘perolehan hasil’ dari suatu usaha atau kerja dengan proses yang cukup panjang.

Mengikuti perjalanan ‘refleksi konten’ karya Made Gunawan, terbukti ia senantiasa mengangkat thema hal-hal yang positip; keberhasilan bukan kegagalan,  panen raya bukan gagal panen,  kegembiraan bukan kesedihan, keceriaan bukan kemurungan, tentang terang cahaya bukan kegelapan, bahagia bukan duka,  fajar hari bukan senja hari, harmoni bukan disharmoni, dan lain sebagainya.

Sebagai orang Bali yang berasal dari Kabupaten Tabanan, yang memang semenjak dulu sebagian besar masyarakatnya bercocok tanam – maka tak heran jika Made Gunawan amat dekat dengan ‘Kultur Agraris’. Salah satu teknologi pertanian tradisional Bali yang cukup terkenal di dunia Internasional, adalah system Subak. Sejak 29 Juni 2012,  Subak telah tercatat sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO.

Sistem Subak dalam pertanian Bali adalah sistem irigasi kuno berbasis komunitas serta, berakar kuat dalam budaya dan tradisi pulau Dewata ini. Adapun aspek Utama Subak, antara lain: Sistem Manajemen Masyarakat yang dikelola secara kolektif oleh petani lokal. Setiap Subak beroperasi secara demokratis, dengan keputusan dibuat melalui pertemuan komunitas.

Sistem demokrasi secara praksis  juga ada di dalam organisasi Subak ini, yakni tentang distribusi air yang adil. Air dari sumber yang sama, biasanya sungai, didistribusikan secara adil di antara semua petani, memastikan bahwa setiap orang/anggota Subak mendapatkan bagian mereka.

Dalam masyarakat Bali, setiap gerak kehidupan senantiasa berkait dengan ritual keagamaan. Demikian juga dengan sistem Subak, juga mencakup ritual keagamaan untuk menghormati Dewi Sri – dewi padi, yang mencerminkan hubungan spiritual antara pertanian dan kepercayaan agama Hindu Dharma di Bali.

Sistem Subak mempromosikan praktik pertanian berkelanjutan, menjaga kesuburan tanah dan memastikan penggunaan air yang efisien. Sistem ini mencontohkan bagaimana praktik tradisional dapat mengelola sumber daya alam secara efektif sambil mendorong kerja sama masyarakat dan pelestarian budaya. Ini adalah perpaduan yang indah antara kepraktisan, spiritualitas, dan harmoni sosial.

Dan masih banyak lagi teknologi tradisional Bali yang berkait dengan tata sosial kehidupan masyarakat. Semua ilmu pengetahuan itu, tertulis dengan teks kuno di daun lontar, dan masih tersimpan baik. Seperti Lontar ‘wariga’ ,  Lontar ‘Usada Sawah’, Lontar Dharma Pemaculan, dan lain sebagainya.

Tentang pengetahuan yang tertulis di lontar Dharma Pemaculan, juga tak kalah menariknya. Dharma Pemaculan, adalah manuskrip tradisional Bali yang memberikan pedoman komprehensif tentang praktik pertanian, yang berakar kuat pada nilai-nilai spiritual dan budaya Bali. Teks tersebut mencakup berbagai aspek pertanian, mulai dari menanam dan memelihara tanaman hingga memanen dan menyimpannya.

Teknologi sistem pertanian di Bali yang tertulis pada Lontar Dharma Pemaculan  merupakan salah satu ilmu pengetahuan lokal yang telah ada dan ditemukan sendiri oleh nenek moyang Bali di masa lalu. Uniknya, setiap aktivitas pertanian tersebut, selalu disertai dengan proses ritual khusus.

Demikian juga dalam proses mengusir datangnya hama. Kala itu, hama  tak dibunuh dengan pestisida dan semacamnya, namun hanya mempergunakan bahan-bahan organic seperti daun ’intaran’ (mimba), dan lain sebagainya. Sementara itu, untuk hama burung, hanya diusir dengan ‘lelakut’ (orang-orangan) atau dengan ‘sunari’ (suara), tidak dibunuh.

Begitulah kaya nya ilmu pengetahuan tradisional Bali – yang bermanfaat bagi tata kehidupan masyarakatnya. Itu merupakan produk yang genial dari nenek moyang masyarakat Bali, dan bermanfaat bagi kehidupan masyarakat hingga kini. Dan Made Gunawan, ‘merefleksikan’ warisan yang amat berharga itu lewat karya-karya rupanya di periode ini.

Bagi saya sangat menarik. Pasalnya yang dihasilkan oleh Made Gunawan tak hanya estetika karya semata – namun juga sebuah upaya membangkitkan ‘kesadaran’ bagi seluruh masyarakat tentang ilmu pengetahuan karya nenek moyang. Dan ini tidak hanya sebatas bagi masyarakat Bali semata, melainkan seluruh masyarakat yang peduli pada ‘pemuliaan’ tradisi dan seni budaya milik bangsa kita.

Pada pameran karyanya  kali ini, Made Gunawan, tetap konsisten . Ia tetap menggabungkan teknik senirupa tradisi dan kontemporer. Pada teknik tradisi, Gunawan mengetengahkan  teknik nyawi, repetitive dan sigar-mangsi/mayunan. Gunawan, secara apik menggabungkan dengan pemahaman teknik senirupa modern, antara lain ; garis, warna, bentuk imajinatif, tekstur, nada (tone), depormasi figure, dan konten dengan prespektif kekinian.

Selain itu, Made Gunawan banyak mempergunakan warna-warna cerah, hingga mampu menciptakan keseimbangan harmonis antara kedua gaya, tradisional dan kontemporer. Dengan memadukan gaya seni yang berbeda – Gunawan menciptakan kedalaman dan dimensi yang genial pada karyanya.

Yang menarik lagi pada prosesnya dalam berkarya kali ini adalah penemuan ‘teknik percik’ untuk menciptakan ‘latar belakang’ (background) dan tekstur karyanya. Gunawan, menemukan ‘teknik percik’ yang ia anggap sebagai hal baru dalam berkarya selama ini. Menurut Gunawan, dengan teknik percik – ia seperti menemukan ‘alternatif’ yang lebih luas dalam menempatkan ‘obyek’ secara lebih variatif, untuk mendapatkan pencapaian harmoni yang apik.

Penemuan teknik percik Made Gunawan ini, mengingatkan saya pada proses Jackson Pollock dalam menemukan Drip Technique (Teknik tetes). Dengan cara memercikkan  ke kanvas yang diletakkan di lantai, Ini memungkinkannya untuk bekerja dari semua sudut, menciptakan komposisi yang dinamis dan energik. Maka yang tercipta adalah backround, tone dan tekstur – yang estetik dan mendalam.

Karya-karyanya sering menutupi seluruh kanvas, tanpa titik fokus tunggal, kecuali obyek tertentu, seperti pohon, binatang atau rembulan sebagai aksentuasi. Selain itu, karya-karyanya juga menciptakan  ‘daya’ dan semburat warna yang dinamis. Ini dihadirkan untuk menarik perhatian  intelek optic penikmatnya. Dengan demikian, Gunawan  menghadirkan pengalaman visual yang baru bagi penikmat karya-karyanya.

Teknik percik Made Gunawan ini sangat spontan, cerminan keadaan emosional dan pikiran bawah sadarnya. Dia percaya dalam mengekspresikan perasaan batinnya melalui seninya, akan menghasilkan suatu estetika karya yang berkait dengan realita perjalanan hidupnya sebagai masyarakat dengan latar kultur agraris..

Pendekatan inovatif Made Gunawan  dalam perjalanan proses kreatifnya ini – menandakan bahwa ia sedang ‘merevolusi’ teknik karya seninya yang berdampak besar pada penggayaan Ekspresionis Abstrak Figuratifnya yang kian dinamis dan variatif.

Oleh karenanya, ia bereksperimen dengan cara-cara baru untuk mengaplikasikan cat ke kanvas. Ia tidak puas dengan sapuan kuas tradisional dan mencari metode yang lebih langsung dan ekspresif, maka ketemulah tektnik percik yang sangat menarik dan membangun kreatifitas  berkarya Made Gunawan, tanpa batas.

Secara tak disadari oleh Made Gunawan, ia sedang dipengaruhi oleh teknik Surealis, khususnya gagasan untuk memanfaatkan pikiran bawah sadar melalui teknik perciknya. Ia ingin menciptakan seni yang spontan dan bebas dari kendali kesadaran. Dengan memercikkan cat ke kanvas, ini memberinya kebebasan untuk bekerja dengan cepat dan penuh semangat, untuk menghasilkan estetika ‘bawah sadar’.

Barulah kemudian, ‘narasi visual’, di bangun oleh Made Gunawan, mengikuti proses bawah sadar sebelumnya. Teknik ini menekankan tindakan kreatifitas melukis dan keadaan emosional nya, menjadikan proses tersebut sama pentingnya antara proses ‘percik’ dengan ‘narasi visual’ produk akhir. Demikianlah ulasan saya tentang proses kreatif berkarya Made Gunawan yang akan memamerkan karya-karyanya yang bertajuk ‘HARVEST’ di Galeri Hadiprana Jakarta. Selamat dan sukses selalu. Salam Budaya, salam kreatif tanpa henti. [T]

Redaksi Rupa : Kone Keto, Keto Kone?
Dirah dan Pilkada dalam Mozaik Asik,  Sebuah Pameran Kebebasan Seniman Muda Undiksha
Dewi Sri dan Spirit Kemerdekaan dalam Pameran Seni Rupa di Undiksha Singaraja
Tulang, Tubuh, dan Puisi dalam Ruang-Waktu | Dari Pameran Seni Instalasi Sampi Duwe di Desa Tambakan
Tags: I Made GunawanPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bersiaplah Menghadapi 5 Pergeseran Diplomasi Global di Era Trump 2.0

Next Post

Memeluk Masa Lalu dengan Ingatan Yang Sadar: Catatan Festival Kala Monolog

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

by I Gede Made Surya Darma
May 7, 2026
0
Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

DI tengah geliat seni rupa kontemporer yang semakin cair dan lintas disiplin, pameran “Roots & Routes” yang berlangsung di Biji...

Read moreDetails

Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

by Made Chandra
May 4, 2026
0
Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

Artikel ini adalah catatan kuratorial pameran seni rupa “Refracted” pada 2 Mei 2026 di Ruang Arta Derau, Tegallalang. Tak pernah...

Read moreDetails

Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

by Made Chandra
April 14, 2026
0
Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

HARI itu rasanya begitu spesial, hari dimana buku-buku tersusun bertumpuk untuk dirayakan kehadirannya. Semerebak wangi dupa menyeruak sampai menyentil dalam-dalam...

Read moreDetails

Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan? —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

by I Wayan Sujana Suklu
March 27, 2026
0
Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan?  —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

Membaca Aurora Blue dan Red Blossom karya Wayan Kun Adnyana, pameran Parama Paraga Retrospective of Biographical Metaphoric Figure to New...

Read moreDetails

SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

by I Wayan Sujana Suklu
March 24, 2026
0
SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

Liminalitas sebagai Ambang Kosmologis LIMINALITAS, dalam pengertian paling mendasar, bukan sekadar fase peralihan, melainkan kondisi ontologis di mana batas-batas eksistensi...

Read moreDetails

Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

by Agung Bawantara
March 23, 2026
0
Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

Di tengah hiruk-pikuk malam pengerupukan, sehari menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Baru Çaka 1948, ketika ogoh-ogoh diarak dalam gegap gempita, sosok...

Read moreDetails

Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

by Agung Bawantara
March 17, 2026
0
Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

Karya ogoh-ogoh berjudul “Tugu Mayang” dari ST. Pandawa Banjar Tarukan, Desa Adat Mas, Ubud, Gianyar, menguatkan sebuah kecenderungan estetika yang...

Read moreDetails

Gerabah dan Manusia yang Berubah

by Mas Ruscitadewi
March 7, 2026
0
Gerabah dan Manusia yang Berubah

Dalam pameran Bali Bhuwana Rupa oleh ISI Denpasar di ARMA Museum Ubud, yang bertajuk ' Adhi Jnana Astam (Mastery-Mind-Marvel), banyak...

Read moreDetails

SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

by Hartanto
February 24, 2026
0
SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

BENCANA banjir bandang di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat dan beberapa daerah di Indonesia – menurut saya, bukanlah sekedar bencana...

Read moreDetails

Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

by Agung Bawantara
February 22, 2026
0
Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

OGOH-OGOH Kalabendu karya Sekaa Teruna (ST) Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu, Kuta Selatan, menempatkan figur bhutakala bertangan enam sebagai pusat komposisi....

Read moreDetails
Next Post
Memeluk Masa Lalu dengan Ingatan Yang Sadar: Catatan Festival Kala Monolog

Memeluk Masa Lalu dengan Ingatan Yang Sadar: Catatan Festival Kala Monolog

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co