15 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Memeluk Masa Lalu dengan Ingatan Yang Sadar: Catatan Festival Kala Monolog

Rosmah Tami by Rosmah Tami
November 7, 2024
in Ulas Pentas
Memeluk Masa Lalu dengan Ingatan Yang Sadar: Catatan Festival Kala Monolog

Pertunjukan Monolog “Perempuan Etalase Mitos". Aktor Annisa Effendi\. Penulis Naskah Nurul Inayah. Sutradara Annisa Effendi

SUATU pagi 19 Oktober 2024 di Perpustakaan Umum Gowa, seorang seniman Jepang, Satoko Ichihara, ketika ditanya tentang ruh yang menggerakkan naskahnya yang nampak ditulis untuk menghibur dan mengajak penonton merayakan kehidupan, ia berpikir lama kemudian menjawab “negara kami tak pernah mengalami penjajahan itu mungkin bedanya”. Jawaban ini menjadi kalimat kunci mengapa ingatan akan masa lalu begitu banyak mengungkapkan kegelisahan, trauma, dan kecemasan yang banyak diungkapkan oleh Festival Kala Monolog tahun ini.

Menyusuri masa lalu, entah melalui ingatan atau merasai vibrasi benda-benda yang menjadi saksi peristiwa, mampu mendeteksi banyak hal. Ingatan dapat menjumpai sedimentasi kisah yang mungkin terungkap dalam bentuk luapan emosi masyarakat kota. Luapan yang dulu disangka sebagai tradisi yang mengakar atau budaya yang agung, akan tetapi ternyata energi emosi ini berakar dari masa lalu yang menakutkan. Bagi sebuah kota atau negara yang mempunyai masa lalu yang kelam, sisa-sisa perang masih dapat terdeteksi sampai hari ini, entah itu melalui cerita hantu yang dipelihara, luapan kecemasan, dan ketakutan yang entah dari mana. Tulisan ini berusaha mengaitkan teks-teks yang terurai di atas panggung dari beberapa pagelaran monolog pada Festival Kala Monolog oleh Kala Teater tahun 2024. 

Saya mulai menyatukan teks dari beberapa monolog ketika saya mengingat buku karya Faruk, yang berjudul Hilangnya Pesona Dunia. Buku ini berkisah tentang modernisme yang mengubah tatanan dunia dan dunia berubah menakutkan. Lalu, ilmu pengetahuan modern memperkenalkan dunia dengan dua ruang, ruang publik, dan ruang privat. Apa yang dilakukan dalam Festival Kala Monolog tahun ini adalah kembali mengenali dan mengingat ruang-ruang itu. Para seniman menggunakan tubuh mereka untuk merasai energi atau mengumpulkan ingatan mereka akan masa lalu ruang di kota ini. Panggung yang menghadirkan energi masa lalu ternyata banyak mengungkapkan hal tak terduga.

Trauma Ruang Publik

Hal yang pertama terasa adalah trauma dari ruang publik. Trauma ini dapat terihat dalam luapan emosi Annisa Effendi ketika menginterpretasikan naskah monolog Nurul Inayah “Perempuan Etalase Mitos”. Di atas panggung, sang aktris meluapkan rasa sangat jengah pada ibunya yang mendidiknya menjadi perempuan malebbi’. Ia seorang perempuan Bugis, terlahir dari seorang wanita Bugis yang menjaga harkat dan harga dirinya. Sang ibu meyakini perempuan malebbi’ adalah simbol keagungan wanita Bugis. Ia menjadi panutan setiap ibu untuk mendisiplinkan anak gadisnya, dari cara bertutur hingga cara bergerak.  Imaji ini adalah letupan ketakutan ibunya akan pandangan masyarakat. Sang ibu senantiasa merasa menjadi objek yang dilihat banyak mata. Dirinya dan anak perempuannya seakan berada dalam etalase.

Dari mana perasaan ini berasal? Dari tuturan sang aktris, terungkap bahwa sang ibu mewarisi kisah dari orang tuanya. Dua generasi di atasnya hidup dalam masa perang. Masa ketika dunia telah kehilangan pesonanya dan tak lagi ramah bagi perempuan. Dunia bukan lagi tempat yang nyaman untuk bermain, alam tak lagi menjadi teman sejati. Pengalaman perang yang dikisahkan turun-temurun mewariskan trauma yang tak pernah selesai. Ketakutan perempuan menghadapi peperangan, kehilangan lelaki atau trauma lelaki yang tersisa dari medan perang. Perempuan telah kehilangan kekuatan untuk mempercayai semesta yang selalu ada mengayomi hidupnya. Ketakutan itu terwariskan pada sang anak padahal dunia telah berubah.

Meskipun sang anak membawa jiwa semesta dan jiwanya yang suci masih menangkap pesona dunia, jiwa itu terbelah dalam asuhan ibunya. Keinginan mengikuti gerak hatinya sekaligus realitas ruang publik yang ditunjukkan ibunya; tentang kota yang mendudukkan perempuan dalam kasta yang paling rendah tetapi menjadi simbol kehormatan yang paling tinggi. Ia menjadi simbol siri yang harus dijaga karena harkat keluarga ada pada selangkangannya. Ia tak serendah itu, dan ia mengungkapkannya dengan penuh amarah dan kecemasan.

Serupa dengan monolog “Perempuan Etalase Mitos”, monolog “Belanja Cinta” naskah Nurul Inayah yang dituturkan oleh Dwi Lestari Johan juga mengungkapkan kemarahan akibat siksaan karena merasa orang-orang senantiasa mengawasinya. Ia mengutuki toples uang di atas meja karena ruang hidupnya tersiksa. Ia mulai mengingat, uang panaik yang diinginkan orang tuanya untuk menarik kesan masyarakat luas, dan untuk menaikkan harkat keluarganya. Orang tuanya puas meraih simpati masyarat tetapi ia tak berhasil menikahi lelaki yang dicintainya, bahkan berujung dalam perceraian yang menyakitkan. Namun panaik tak pernah menjadi miliknya, tetapi menjadi milik keluarga untuk berpesta pora.

Ia benar-benar marah. Betapa ia merasa tak berharga di hadapan masyarakat. Pada masa kecil ia menjalani banyak disiplin untuk menjadi perempuan yang menjaga harkat agar ia bernilai yang dibuktikan dengan panaik. Ia merasa dikorbankan, panaik tak pernah ia miliki. Ia merasa tak memiliki jiwa tetapi hanya dianggap sebagai tubuh. Masyarakatnya masih membayangkan putrinya adalah I We Tenri Abeng yang berada dalam pingitan, suci, berilmu tinggi, dan berjodoh dengan manusia langit. Ia tak pernah bahagia dengan perkawinannya yang materialistik. Dalam hitungan waktu, ia segera akan menyandang gelar janda dan ia menjadi bulan-bulanan lelaki usil. Ia meluapkan kemarahannya merasa menjadi korban objek yang diperdagangkan. Ia adalah media eksistensi keluarga untuk memberi kesan di ruang publik.

Pada panggung lain, seorang TKW yang berani berhasil melangkah keluar dari ruang privatnya. Bukan hanya itu, ia bahkan telah berhasil keluar dari negaranya seorang diri, tanpa suami atau ayah. Apakah ia merupakan penggambaran kegagalan lelakinya membawa makanan segar penghangat perut anak-anaknya ataukah mimpi akan standar kehidupan yang memberi label ke setiap individu? Tak ada yang tahu. Karena ia seorang perempuan, ia terdampar pada ruang privat orang lain dan melayani kebutuhan-kebutuhan privat tuannya.

Ia tak lagi mempunyai ruang privat untuk dirinya sendiri, ruang yang sakral tempatnya memulihkan tenaga, sehingga jiwanya tak menetap terbang ke sana kemari mengikuti arah pikirannya. Jiwa menjadi budak pikirannya. Ia tak hanya tak memiliki tubuhnya, bahkan jiwanya pun sudah tak punya rumah. Sepanjang hayat ia mengutuki apa saja yang terlintas dalam pikirannya. Kekuatan femininnya telah menjelma menjadi maskulin, kata-katanya penuh kutukan, ketakutan, tangis air mata, amarah, dan sumpah serapah. Ia telah kehilangan kepercayaannya pada semesta.  

Di panggung lain, seorang perempuan, Mega Herdiyanti, menarasikan pesona dunia di masa depan dalam naskah Mutiara Pulau. Mega memerankan seorang perempuan dari pulau yang berpendidikan rendah namun terpesona dengan janji pendidikan tinggi. Semua pasti percaya bahwa pendidikan tinggi adalah tangga menuju kelas sosial yang lebih tinggi. Harapan itu ia letakkan pada putrinya. Ia mengambil upah sebagai pappalimbang dengan memberi tumpangan bagi orang yang hendak menyebrang ke pulau lain. Upah itu sebagai bekal sekolah anaknya kelak.

Ia satu-satunya perempuan yang bekerja sebagai pappalimbang. Sampai hari ini sekolah adalah harapan satu-satunya bagi mereka yang berada dalam level sosial yang lebih rendah. Sekolah merupakan jalan untuk membayarkan dendam mereka pada kesulitan hidup, meski mereka harus melupakan doa-doa pujian mereka di gelap malam karena terlelap lelah diburu mimpi yang kian dekat. Ia tahu, puji-pujian feminin mereka adalah elixir yang mampu mengubah dunia. Namun mereka tak lagi bersabar menunggu keajaiban karena esok anak-anak akan mati kelaparan. Lelaki yang berjuang di medan ruang publik telah melupakan mereka tanpa tanggung jawab. Naskah Mutiara Pulau tak berisi keluhan, kecemasan, tapi penuh harapan. Mega merayakan perannya dengan suka cita.

Nostalgia pada Energi Feminin

Percakapan tentang sepak terjang maskulin di ruang publik dapat terlihat dalam lakon Kasir Kita, Sopir 1989, dan Pendekar Pena.  Ketiga lakon ini juga memperlihatkan teknik mengingat. Ingatan akan asal mula kemenangan mereka yang bersumber dari energi feminin. Sama seperti Adam, kehidupan duniawi baru ia mulai setelah Hawa tercipta mendampinginnya. Hawa adalah energi yang berada pada I We Tenriabeng yang memberi inspirasi pada Sawerigading untuk memulai perjalanan, yang menyulap Walenreng menjadi perahu Sawerigading mengarungi lautan luas untuk menemukan I We Cudai. Energi feminin memang berada dalam ruang yang dalam yang sulit ditemukan, namun ia senantiasa merupakan sumber energi yang sanggup mengubah dunia. Energi ini diakui oleh pemeran laki-laki dalam beberapa lakon.

Pertunjukan Monolog “Jalan Terakhir” Aktor, Penulis Naskah, dan Sutradara Alghifahri Jasin | Foto: Ist

Lakon “Kasir Kita” menuturkan lelaki yang telah kehilangan kekuatan. Ia mengenang istrinya yang telah pergi dan istrinya membawa kekuatannya bersamanya. Ia berharap dengan cemas sang istri kembali. Lakon ini menegaskan keseimbangan maskulin dan feminin adalah kekuatan dan ketidakberdayaan maskulin ketika feminin absen. Pengekangan maskulin terhadap feminin ibarat pasir yang digenggam erat, ia akan menghilang dalam hitungan waktu. Kehadiran feminin sebagai kekuatan dapat terlihat dalam lakon Sopir Kita. Pemeran Sopir Kita, Ince Muhammad Alwan, menunjukkan emosi yang lebih intens ketika menggambarkan kehadiran istrinya sebagai tawanan. Ia dengan segala kekuatannya berusaha melakukan perlawanan terhadap kekuatan dominan meskipun ia hanya seorang sopir.

Kekuatan feminin semakin nyata ketika Haris Dogol melakonkan Kwee Tek Hoay, Sang Pendekar Pena. Meski pemerannya adalah lelaki, apa yang dinarasikan sebenarnya oleh Haris adalah energi feminin yang berperan dalam hidupnya sehingga ia mampu mempunyai kekuasaan ruang publik. Kwee Tek Hoay mempunyai seorang ibu yang selalu bangga ketika ia menulis.

Kemudian, ia merayakan kehidupan ketika ayahnya menyuruhnya kawin dengan seorang perempuan. Sebagai orang yang hanya berpikir untuk mencerdaskan bangsanya, kehidupan perkawinan tak pernah ia bayangkan. Namun ketika seorang perempuan memasuki kehidupannya ia sungguh takjub. Kwee Tek Hoay bagai seorang penyihir. Ia mampu mengubah ide-idenya menjadi kenyataan. Semua itu karena istrinya. Energi feminin adalah energi penciptaan. Energi ini berada dalam rahim perempuan yang diyakini merupakan representasi dari sifat Tuhan yang maha kasih.

Ia adalah cinta yang merupakan sumber kedamaian dan cinta kasih yang diberikan Tuhan. Kedamaian dan cinta kasih merupakan syarat wajib fokus yang merupakan mata air dari kekuatan penciptaan.  Dialah yang mengandung ide-ide Hoay sehingga ia bisa terlahir dalam berbagai bentuk simbol keberhasilan. Ia bahkan mengandung Hoay dan melahirkannya sebagai tokoh yang mengubah dunia.  Namun setelah energi itu kembali ke pemilikNya. Kwee tek Hoay juga memudar. Ia hidup pada kenangan dan ia pun pergi menyusul kekuatannya itu.

Ingatan dan Kesadaran

Festival Kala Monolog tahun ini menjadi pengingat bahwa manusialah yang memberi label pada ruang dan waktu sebagai masa lalu atau masa sekarang dan masa depan. Pada kenyataannya, waktu tak pernah berlalu dan selalu ada saat ini untuk dikunjungi melalui ingatan. Waktu yang hadir dalam ingatan dapat mempengaruhi ruang dalam tubuh manusia dan terekspresikan melalui penanda.

Dalam dunia mindfulness, mengingat masa lalu bukan berarti menyadari masa lalu, karena ingatan adalah pikiran yang mampu mempengaruhi kesadaran manusia, tetapi bukan kesadaran. Bagi para praktisi mindfulness, ingatan harus didampingi oleh kesadaran. Ketika ingatan memberi label pada masa lalu sebagai kesedihan, ketakutan, atau kenangan indah, label yang diberikan pikiran dapat mempengaruhi perasaan dan jiwa manusia. Mindfulness mengawasi pikiran karena pikiran bukanlah diri manusia yang sejati. Pikiran hanyalah teman sekamar yang tak pernah berhenti berbicara, dan dia akan terus menerus berbicara, melompat dari waktu ke waktu. Praktisi mindfulness melatih untuk menyadari dan mengenalinya.

Dalam teori sastra, ingatan menempati salah satu struktur yang mempengaruhi pikiran dan perasaan pembaca. Pembaca digiring ke masa lalu (nostalgia) atau ke masa depan (paranoia) untuk melarikan diri dari masa sekarang yang penuh konflik.  Struktur ini membentuk karya-karya romantisisme, karya yang menjadi penggerak modernisasi. Manusia modern dibentuk untuk berkonflik dengan masa kini, cemas dengan masa depan dan melarikan diri ke masa lalu. Jiwa modern menjadi sangat rapuh dalam menghadap berbagai macam konflik, ia menjadi trauma yang terwariskan melalui penceritaan meskipun generasi selanjutnya tidak mengalaminya. Trauma tak selesai pada orang yang mengalami saja.

Hari ini, manusia telah jauh berjalan melampui era modern. Oleh karena itu, mengunjungi masa lalu kali ini seharusnya dipandu kesadaran bahwa realitas sekarang telah dibangun atas dasar modernisme di masa lalu yang traumatik. Mengunjugi masa lalu dengan kesadaran bukan untuk mengutuki dengan sumpah serapah akan tetapi untuk memeluk dan menerima masa itu apa adanya, untuk mengerti apa yang terjadi dan membuka ruang pemahaman sebagai terapi pembebasan dan pelepasan emosi yang melekat melalui penanda budaya.

Para lelaki yang telah terlibat perang dan para perempuan yang menjadi rumah tumpahan kepedihan trauma peperangan memerlukan kunjungan untuk kita peluk hari untuk menerimanya sebagai kenyataan apa adanya. Hanya dengan penerimaanlah, emosi masa lalu dapat melepaskan dirinya dengan bebas. Kembali memeluk masa lalu, menerimanya dan memaafkannya akan membuka lembaran bagi kita semua.

Ia akan membuka peluang kembalinya pesona dunia yang telah lama hilang. Sebagaimana hari lebaran, kita berziarah pada yang telah mati, kita memberi pelukan pada mereka yang masih hidup dan kita berharap lembaran baru kehidupan terbuka lebar.  Karya senilah yang mengayomi penemuan-penemuan kemanusiaan dan menyeimbang kehidupan. Seni yang merayakan kehidupan bukan mengutuki kehidupan. [T]

Merayakan Perjalanan Setelah Menonton Pertunjukan Kelas Teater Shiro-San
Yang Terhubung: Ancaman dan Harapan | Catatan Pentas Kala Teater
Tags: Festival Kala MonologKala TeaterMonologTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Percik Estetik Made Gunawan

Next Post

Tutur  Sejarah Dari Museum Sejarah  Jakarta    

Rosmah Tami

Rosmah Tami

Dr. Rosmah Tami, adalah Dosen Bahasa dan Sastra UIN Alauddin Makassar, Indonesia. Bidang spesialisasinya adalah Sastra Komparatif, Sastra Islam, Perempuan dan Sastra, Sosiologi Sastra, Semiotika dan Estetika Islam.

Related Posts

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
0
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

Read moreDetails

‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

by Azzahra Naya R
July 1, 2026
0
‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII),...

Read moreDetails

Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

by IM Gede Nesa Saputra
June 30, 2026
0
Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses...

Read moreDetails

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

by Yudi Laksana
June 24, 2026
0
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

Read moreDetails

Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

by Kadek Surya Jayadi
June 20, 2026
0
Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

 “Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….”  ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian...

Read moreDetails

Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

by I Nyoman Darma Putra
June 15, 2026
0
Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

MENERJEMAHKAN tema Pesta Kesenian Bali (PKB) ke dalam seni pertunjukan kerap menjadi tantangan bagi para seniman. Pertama, tema-tema PKB dirumuskan...

Read moreDetails

Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

by Rezky Chiki
June 9, 2026
0
Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

“Salah satu hal yang membuat pelecehan sulit dikenali adalah karena ia sering hadir dalam bentuk yang tampak biasa: candaan, gurauan,...

Read moreDetails

Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

by Mas Ruscitadewi
June 7, 2026
0
Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

Lomba monolog dalam rangka Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Bali 2026 yang diadakan di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Sabtu,...

Read moreDetails

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

by Helvi Carnelis
April 14, 2026
0
Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

SAYA merasakan dengan kuat budaya rantau hari ini, sebuah beban tanggung jawab yang tidak ringan dalam kebudayaan Minangkabau. Pengalaman itu...

Read moreDetails

Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

by Radha Dwi Pradnyani
March 30, 2026
0
Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

PEMAIN masuk arena secara bergiliran. Dengan gerakan berbeda-beda mereka berjalan tergesa, dinamis, kadang saling silang, kadang sejajar. Mereka bersuara meniru...

Read moreDetails
Next Post
Tutur  Sejarah Dari Museum Sejarah  Jakarta    

Tutur  Sejarah Dari Museum Sejarah  Jakarta    

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026
Khas

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café
Budaya

Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café

Di tengah riuh kafe yang biasanya dipenuhi aroma kopi dan percakapan santai, sebuah ruang diskusi tentang seni akan dibuka di...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co