14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tutur  Sejarah Dari Museum Sejarah  Jakarta    

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
November 7, 2024
in Tualang
Tutur  Sejarah Dari Museum Sejarah  Jakarta    

Siswa SMAN 2 Kuta Selatan di Museum Jakarta

SELASA Umanis Klurut, 5 November 2024 perjalanan widya wisata SMA Negeri 2 Kuta memasuki hari ketiga mengunjungi Museum Sejarah Jakarta. Kunjungan museum ini erat kaitannnya dengan pembelajaran Sejarah di kelas sekolah yang kebetulan dilaksanakan pada bulan November. Sejarah mencatat Hari Pahlawan jatuh pada 10 November. November juga ditetapkan oleh Mendikdasnas Prof. Dr. Abdul Mu’ti sebagai Bulan Guru Nasional (BGN) sejak 1 November 2024. 

 Ada relasi kesejarahan yang intim antara kunjungan rombongan widya wisata SMA Negeri 2 Kuta ke Museum Jakarta dengan penetapan BGN dan Hari Pahlawan. Penetapan BGN mengambil momentum kelahiran organisasi PGRI pada 25 November 1945, seratus hari setelah Proklamasi Kemerdekaan. Aura hari ke-100 setelah Proklamasi Kemerdekaan RI dapat dipastikan dengan semangat patriotik para pahlawan menyentuh hati yang paling dalam. Namun, pemerintah baru menetapkan Hari Guru Nasional pada 1994, berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994 tanggal 24 November 1994 oleh Presiden Soeharto, 30 tahun silam. Persisnya 4 tahun menjelang Reformasi yang melengserkan Soeharto.

 

Sementara itu, Hari Pahlawan ditetapkan Presiden Soekarno berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959. Tiga puluh lima tahun lebih dulu  dibandingkan penetapan Hari Guru Nasional. Penetapan Hari Pahlawan itu berdasarkan kejuangan arek-arek Suroboyo melawan Pasukan Sekutu (NICA) yang terdiri atas Inggris dan Belanda yang ingin merebut kembali Kemerdekaan RI yang baru diproklamasikan 85 hari. Perbedaan penetapan waktu yang cukup panjang, antara Hari Pahlawan dan Hari Guru tampaknya tidak  penting untuk diperdebatkan. Ibarat mendebatkan ayam dan telor, mana duluan. Begitu pula, antara guru dan pahlawan. Mana duluan ? Guru melahirkan pahlawan atau pahlawan melahirkan guru. Atau kedua-duanya guru, kedua-duanya juga pahlawan.

Dalam konteks widya wisata ke Museum Sejarah Jakarta, dalam cuaca Jakarta yang kontradiktif panas membara siang hari dan hujan lebat sore hari, ada pembelajaran yang pantas dicatat dan direfleksikan. Pertama, ketuaan gedung menyimpan harta karun peradaban yang mesti diingat dan diteladani generasi kini. Bukan saja isinya yang menggambarkan peradaban masa silam yang jitu, tetapi juga fisik gedungnya yang tua bertuah dengan keaslian bahan-bahan yang digunakan. Bahan-bahan itu juga mencitrakan kekuatan dan daya tahan dalam waktu lama. Berbeda dengan proyek pembangunan kini, belum lima tahun sudah bocor sepertinya bahan yang dipakai kurang berkualitas dan orang yang mengerjakan tergesa-gesa pula. Persis generasi strawberry yang ingin serba instan tak tahan lama.

Kedua, para siswa dan guru dapat berkolaborasi bukan saja dengan teman satu sekolah melainkan juga dengan sekolah lain dari daerah lain. Seperti saat kunjungan SMA Negeri 2 Kuta berkolaborasi dengan SMA Pelita IV Jakarta Barat. Selain menambah relasi pertemanan antarsekolah juga dapat ngobrol tentang pembelajaran secara umum atau ngobrol tentang Pelajaran Sejarah yang sering membosankan karena keringnya asupan literasi kesejarahan. Kunjungan ke Museum dapat menjadi jempatan komunikasi antara guru dan siswa untuk membangun hubungan empati yang saling memahami dan menghargai seraya memasukkan gizi lterasi sejarah masa lampau untuk melawan lupa. Guru juga dapat memahami kebutuhan siswa melalui komunikasi secara informal di meja makan atau saat-saat kunjungan ke objek kunjungan. Pemahaman demikian dapat membangn empati dan tumbuhnya saling pengertian antara kedua belah pihak.

Ketiga, sebagai sebuah metode pembelajaran, widya wisata memberikan kesan belajar yang menyenangkan bagi para siswa selaras dengan Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) yang digagas oleh pasangan suami istri dari UGM Yogyakarta Muhammad Nur Rizal dan dan Novi Poespita Candra. GSM diterjemahkan oleh  Ketua Widya Wisata SMA Negeri 2 Kuta Agus Suputrayasa yang memimpin rombongan hadir dengan yel-yel penyemangat yang diikuti seluruh peserta : SMANDUTA :  gaskan ! Ke mana kita : bersenang-senang (sambal meliuk-liukkan tangan seperti gelombang air). Jadi, widya wisata memadukan ice breaking  melalui perjalanan dan penjelajahan dengan pembelajaran sejarah real  yang tersimpan di Museum Sejarah Jakarta.

Keempat, kesempatan guru dan murid berguru kepada pemandu perjalanan dan pemandu Museum   yang  kompeten di bidangnya. Banyak cerita dan juk yang diproduksi pemandu selama perjalanan di bus untuk mengusir kantuk. Kadang-kadang dengan tawa berderai spontanitas mendapat respon dari siswa. Sementara itu, pemandu Museum menjelaskan secara detail keberadaan Museum Sejarah Jakarta yang sering salah kaprah disebut Museum Fatahillah yang kini dipromosikan sebagai Objek Wisata Kota Tua sebagai heritage. Sebelumnya Museum Sejarah Jakarta disebut Gedung Balai Kota Jakarta diarsiteki oleh W.J. van de Velde. Dalam sejarah disebutkan Gedung Museum ini dibangun selama tiga tahun (1707 – 1710) dan diresmikan sebagai Museum Sejarah Jakarta oleh Gubernur DKI Ali Sadikin 30 Maret 1971.

Menyusuri Gedung Museum Sejarah Jakarta, kita mendapatkan banyak tutur dari gedung-gedung tua. Gedung Museum Sejarah Jakarta misalnya, membawahi 4 museum : Museum Joeang 45, Museum Prasasti, Museum M.H. Thamrin, dan Museum Sejarah Kota Tua yang dijadikan objek wisata edukasi bagi siswa/mahasiswa/peneliti dan masyarakat umum.  Sebagai heritage Kota Tua, berkunjung ke museum, kita diingatkan akan peradaban masa lampau sejak masa berburu zaman Pra Hindu. Perlu dicatat, di museum ini juga terdapat Sumur tua sebagai sumber air peradaban yang mengalir melampaui zamannya.

Museum Sejarah Kota Jakarta ini juga menerima siswa SMK untuk magang. Mereka juga berkolaborasi antarsiswa  SMK yang berbeda di Museum. Pengalaman mereka berkomunikasi dan beretika dengan tetamu yang berkunjung adalah bagian dari upaya mengasah kemampuan soft skill yang kelak sangat dibutuhkan. Mereka juga fasih menjelaskan tatacara perawatan Gedung Museum Sejarah Jakarta  dan isinya yang tampak bersih walaupun bahan-bahan lawas  digunakan tampak masih kokoh. Kuat dan kekar.

Di seputar Gedung Museum Sejarah Jakarta  juga terdapat Museum Wayang yang tidak dibuka karena dalam proses perbaikan. Selain itu juga terdapat Kantor Pos Kuno dengan kegiatan perposan masih berlangsung tetapi aktivitasnya tidak tampak. Yang tampak dominan justru kafe-nya. “Aktivitas kantor pos masih berlangsung di belakang. Di bagian ruang depan dimanfaatkan untuk kafe, daripada ruangannya nganggur dioptimalkan pemanfaatannya”, kata Wisnu petugas keamanan di wilayah kantor Pos.

Begitu pula di Kompleks Jasindo yang merupakan asuransi rintisan, yang tampak adalah Indomart tempat menjual makanan camilan dan minuman. Pengunjung juga tampak keluar masuk Indomart membeli minuman dan camilan sambil menuju ke Gedung Museum. Yang rada aneh, di seputar Museum juga ada diskotek yang tampaknya kontras dengan kondisi museum yang semestinya dengan sajian keheningan bukan dengan kebisingan.

Inovasi Pengelola Museum Sejarah Jakarta juga tampak dari penyewaan sepeda gayung dengan aneka warna yang banyak diminati para pengunjung umumnya para siswa. Ada yang nebeng dengan temannya, ada pula yang dikendarai sendiri dengan harga Rp 20.000,00 dapat untuk keliling di halaman museum. Mereka tampak bersenang-senang dan temannya mengabadikan  dengan latar gedung-gedung tua peninggalan sejarah mau lampau. Sungguh kenangan yang indah menggali kejayaan masa lampau sebagai inspirasi kini untuk menatap peradaban masa depan yang lebih baik dan bermutu. Inilah momentum memuliakan sejarah masa lalu yang diperjuangkan para pahlawan sampai titik darah penghabisan. Selamat Hari Pahlawan.  Teladani Pahlawanmu, Cintai Negerimu! [T]

BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT

Berguru ke Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
Shopping Puisi di Malioboro 
Yang Tercecer dari Borobudur dan Prambanan
Pasih Kauh Desa Adat Kedonganan dan Kafe yang Dikelola Banjar-banjar   
Pasih Kangin Desa Adat Kedonganan: Dulu “Leke-leke”, Kini Jadi Incaran   
Tags: Jakartamuseum jakartaPendidikanSMAN 2 Kuta Selatan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Memeluk Masa Lalu dengan Ingatan Yang Sadar: Catatan Festival Kala Monolog

Next Post

Punahnya “Nyoman” & “Ketut”, Malas Bikin Anak atau Takut Stunting?: Dari Uji Publik Calon Pemimpin Bali di Undiksha

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

by Chusmeru
April 30, 2026
0
Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

NAMA Kabupaten Banyumas selalu identik dengan bahasa “Ngapak” yang sering dijadikan lelucon dalam film dan komedi. Banyumas lantas seolah mendapat...

Read moreDetails

Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

by I Nyoman Tingkat
April 19, 2026
0
Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

JUMAT, 17 April 2026, sebanyak 67 siswa,  guru, dan tenaga kependidikan SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) melaksanakan pembelajaran di...

Read moreDetails

Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

by Laurensia Junita Della
April 19, 2026
0
Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

“Tanpa seni, dunia jadi hambar.” Saya tidak yakin dari mana saya mendapatkan kata-kata ini, tapi saya setuju. Sebagai orang yang...

Read moreDetails

Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
April 14, 2026
0
Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

HARI itu adalah hari yang telah lama saya nantikan. Hari ketika akhirnya saya bisa menyaksikan dunia dari ketinggian 3.145 mdpl,...

Read moreDetails

Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

by Jaswanto
March 29, 2026
0
Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

APA ada Surabaya di Shanghai? Saya kira tidak. Tapi ada Shanghai di Surabaya—meski hanya Shanghai-Shanghaian. Maksudnya, bukan Shanghai betulan. Hanya...

Read moreDetails

Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

by Dede Putra Wiguna
March 24, 2026
0
Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

KABUT tipis masih menggantung saat saya tiba di dataran tinggi Kintamani, Bangli, Bali. Udara dingin menempel di kulit, sementara di...

Read moreDetails

Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

by Ahmad Sihabudin
March 8, 2026
0
Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

DESEMBER 1982, kami baru naik kelas dua SMA. Umur masih belasan, dada penuh angin, kepala penuh peta yang belum tentu...

Read moreDetails

Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

by Kadek Surya Jayadi
February 28, 2026
0
Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

ADA banyak cara merayakan hari jadi suatu kota. Tak selamanya meski meriah, sebab yang sederhana pun kadang terasa semarak. Sebagaimana...

Read moreDetails

Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

by Nyoman Nadiana
February 26, 2026
0
Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

TANGGAL 4-8 Februari 2026 lalu, saya kembali menapaki Jakarta. Saya berkesempatan terlibat di pameran INACRAFT 2026, pameran craft dan textile...

Read moreDetails

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

by Kadek Surya Jayadi
February 21, 2026
0
Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

RINTIK hujan mengiringi perjalanan kami Keluarga Mahasiswa Sejarah (KEMAS) Universitas Udayana, menuju Puri Agung Karangasem, Jumat 20 Februari 2026. Percuma...

Read moreDetails
Next Post
Punahnya “Nyoman” & “Ketut”, Malas Bikin Anak atau Takut Stunting?: Dari Uji Publik Calon Pemimpin Bali di Undiksha

Punahnya “Nyoman” & “Ketut”, Malas Bikin Anak atau Takut Stunting?: Dari Uji Publik Calon Pemimpin Bali di Undiksha

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co