22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tutur  Sejarah Dari Museum Sejarah  Jakarta    

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
November 7, 2024
in Tualang
Tutur  Sejarah Dari Museum Sejarah  Jakarta    

Siswa SMAN 2 Kuta Selatan di Museum Jakarta

SELASA Umanis Klurut, 5 November 2024 perjalanan widya wisata SMA Negeri 2 Kuta memasuki hari ketiga mengunjungi Museum Sejarah Jakarta. Kunjungan museum ini erat kaitannnya dengan pembelajaran Sejarah di kelas sekolah yang kebetulan dilaksanakan pada bulan November. Sejarah mencatat Hari Pahlawan jatuh pada 10 November. November juga ditetapkan oleh Mendikdasnas Prof. Dr. Abdul Mu’ti sebagai Bulan Guru Nasional (BGN) sejak 1 November 2024. 

 Ada relasi kesejarahan yang intim antara kunjungan rombongan widya wisata SMA Negeri 2 Kuta ke Museum Jakarta dengan penetapan BGN dan Hari Pahlawan. Penetapan BGN mengambil momentum kelahiran organisasi PGRI pada 25 November 1945, seratus hari setelah Proklamasi Kemerdekaan. Aura hari ke-100 setelah Proklamasi Kemerdekaan RI dapat dipastikan dengan semangat patriotik para pahlawan menyentuh hati yang paling dalam. Namun, pemerintah baru menetapkan Hari Guru Nasional pada 1994, berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994 tanggal 24 November 1994 oleh Presiden Soeharto, 30 tahun silam. Persisnya 4 tahun menjelang Reformasi yang melengserkan Soeharto.

 

Sementara itu, Hari Pahlawan ditetapkan Presiden Soekarno berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959. Tiga puluh lima tahun lebih dulu  dibandingkan penetapan Hari Guru Nasional. Penetapan Hari Pahlawan itu berdasarkan kejuangan arek-arek Suroboyo melawan Pasukan Sekutu (NICA) yang terdiri atas Inggris dan Belanda yang ingin merebut kembali Kemerdekaan RI yang baru diproklamasikan 85 hari. Perbedaan penetapan waktu yang cukup panjang, antara Hari Pahlawan dan Hari Guru tampaknya tidak  penting untuk diperdebatkan. Ibarat mendebatkan ayam dan telor, mana duluan. Begitu pula, antara guru dan pahlawan. Mana duluan ? Guru melahirkan pahlawan atau pahlawan melahirkan guru. Atau kedua-duanya guru, kedua-duanya juga pahlawan.

Dalam konteks widya wisata ke Museum Sejarah Jakarta, dalam cuaca Jakarta yang kontradiktif panas membara siang hari dan hujan lebat sore hari, ada pembelajaran yang pantas dicatat dan direfleksikan. Pertama, ketuaan gedung menyimpan harta karun peradaban yang mesti diingat dan diteladani generasi kini. Bukan saja isinya yang menggambarkan peradaban masa silam yang jitu, tetapi juga fisik gedungnya yang tua bertuah dengan keaslian bahan-bahan yang digunakan. Bahan-bahan itu juga mencitrakan kekuatan dan daya tahan dalam waktu lama. Berbeda dengan proyek pembangunan kini, belum lima tahun sudah bocor sepertinya bahan yang dipakai kurang berkualitas dan orang yang mengerjakan tergesa-gesa pula. Persis generasi strawberry yang ingin serba instan tak tahan lama.

Kedua, para siswa dan guru dapat berkolaborasi bukan saja dengan teman satu sekolah melainkan juga dengan sekolah lain dari daerah lain. Seperti saat kunjungan SMA Negeri 2 Kuta berkolaborasi dengan SMA Pelita IV Jakarta Barat. Selain menambah relasi pertemanan antarsekolah juga dapat ngobrol tentang pembelajaran secara umum atau ngobrol tentang Pelajaran Sejarah yang sering membosankan karena keringnya asupan literasi kesejarahan. Kunjungan ke Museum dapat menjadi jempatan komunikasi antara guru dan siswa untuk membangun hubungan empati yang saling memahami dan menghargai seraya memasukkan gizi lterasi sejarah masa lampau untuk melawan lupa. Guru juga dapat memahami kebutuhan siswa melalui komunikasi secara informal di meja makan atau saat-saat kunjungan ke objek kunjungan. Pemahaman demikian dapat membangn empati dan tumbuhnya saling pengertian antara kedua belah pihak.

Ketiga, sebagai sebuah metode pembelajaran, widya wisata memberikan kesan belajar yang menyenangkan bagi para siswa selaras dengan Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) yang digagas oleh pasangan suami istri dari UGM Yogyakarta Muhammad Nur Rizal dan dan Novi Poespita Candra. GSM diterjemahkan oleh  Ketua Widya Wisata SMA Negeri 2 Kuta Agus Suputrayasa yang memimpin rombongan hadir dengan yel-yel penyemangat yang diikuti seluruh peserta : SMANDUTA :  gaskan ! Ke mana kita : bersenang-senang (sambal meliuk-liukkan tangan seperti gelombang air). Jadi, widya wisata memadukan ice breaking  melalui perjalanan dan penjelajahan dengan pembelajaran sejarah real  yang tersimpan di Museum Sejarah Jakarta.

Keempat, kesempatan guru dan murid berguru kepada pemandu perjalanan dan pemandu Museum   yang  kompeten di bidangnya. Banyak cerita dan juk yang diproduksi pemandu selama perjalanan di bus untuk mengusir kantuk. Kadang-kadang dengan tawa berderai spontanitas mendapat respon dari siswa. Sementara itu, pemandu Museum menjelaskan secara detail keberadaan Museum Sejarah Jakarta yang sering salah kaprah disebut Museum Fatahillah yang kini dipromosikan sebagai Objek Wisata Kota Tua sebagai heritage. Sebelumnya Museum Sejarah Jakarta disebut Gedung Balai Kota Jakarta diarsiteki oleh W.J. van de Velde. Dalam sejarah disebutkan Gedung Museum ini dibangun selama tiga tahun (1707 – 1710) dan diresmikan sebagai Museum Sejarah Jakarta oleh Gubernur DKI Ali Sadikin 30 Maret 1971.

Menyusuri Gedung Museum Sejarah Jakarta, kita mendapatkan banyak tutur dari gedung-gedung tua. Gedung Museum Sejarah Jakarta misalnya, membawahi 4 museum : Museum Joeang 45, Museum Prasasti, Museum M.H. Thamrin, dan Museum Sejarah Kota Tua yang dijadikan objek wisata edukasi bagi siswa/mahasiswa/peneliti dan masyarakat umum.  Sebagai heritage Kota Tua, berkunjung ke museum, kita diingatkan akan peradaban masa lampau sejak masa berburu zaman Pra Hindu. Perlu dicatat, di museum ini juga terdapat Sumur tua sebagai sumber air peradaban yang mengalir melampaui zamannya.

Museum Sejarah Kota Jakarta ini juga menerima siswa SMK untuk magang. Mereka juga berkolaborasi antarsiswa  SMK yang berbeda di Museum. Pengalaman mereka berkomunikasi dan beretika dengan tetamu yang berkunjung adalah bagian dari upaya mengasah kemampuan soft skill yang kelak sangat dibutuhkan. Mereka juga fasih menjelaskan tatacara perawatan Gedung Museum Sejarah Jakarta  dan isinya yang tampak bersih walaupun bahan-bahan lawas  digunakan tampak masih kokoh. Kuat dan kekar.

Di seputar Gedung Museum Sejarah Jakarta  juga terdapat Museum Wayang yang tidak dibuka karena dalam proses perbaikan. Selain itu juga terdapat Kantor Pos Kuno dengan kegiatan perposan masih berlangsung tetapi aktivitasnya tidak tampak. Yang tampak dominan justru kafe-nya. “Aktivitas kantor pos masih berlangsung di belakang. Di bagian ruang depan dimanfaatkan untuk kafe, daripada ruangannya nganggur dioptimalkan pemanfaatannya”, kata Wisnu petugas keamanan di wilayah kantor Pos.

Begitu pula di Kompleks Jasindo yang merupakan asuransi rintisan, yang tampak adalah Indomart tempat menjual makanan camilan dan minuman. Pengunjung juga tampak keluar masuk Indomart membeli minuman dan camilan sambil menuju ke Gedung Museum. Yang rada aneh, di seputar Museum juga ada diskotek yang tampaknya kontras dengan kondisi museum yang semestinya dengan sajian keheningan bukan dengan kebisingan.

Inovasi Pengelola Museum Sejarah Jakarta juga tampak dari penyewaan sepeda gayung dengan aneka warna yang banyak diminati para pengunjung umumnya para siswa. Ada yang nebeng dengan temannya, ada pula yang dikendarai sendiri dengan harga Rp 20.000,00 dapat untuk keliling di halaman museum. Mereka tampak bersenang-senang dan temannya mengabadikan  dengan latar gedung-gedung tua peninggalan sejarah mau lampau. Sungguh kenangan yang indah menggali kejayaan masa lampau sebagai inspirasi kini untuk menatap peradaban masa depan yang lebih baik dan bermutu. Inilah momentum memuliakan sejarah masa lalu yang diperjuangkan para pahlawan sampai titik darah penghabisan. Selamat Hari Pahlawan.  Teladani Pahlawanmu, Cintai Negerimu! [T]

BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT

Berguru ke Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
Shopping Puisi di Malioboro 
Yang Tercecer dari Borobudur dan Prambanan
Pasih Kauh Desa Adat Kedonganan dan Kafe yang Dikelola Banjar-banjar   
Pasih Kangin Desa Adat Kedonganan: Dulu “Leke-leke”, Kini Jadi Incaran   
Tags: Jakartamuseum jakartaPendidikanSMAN 2 Kuta Selatan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Memeluk Masa Lalu dengan Ingatan Yang Sadar: Catatan Festival Kala Monolog

Next Post

Punahnya “Nyoman” & “Ketut”, Malas Bikin Anak atau Takut Stunting?: Dari Uji Publik Calon Pemimpin Bali di Undiksha

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
0
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

Read moreDetails

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails
Next Post
Punahnya “Nyoman” & “Ketut”, Malas Bikin Anak atau Takut Stunting?: Dari Uji Publik Calon Pemimpin Bali di Undiksha

Punahnya “Nyoman” & “Ketut”, Malas Bikin Anak atau Takut Stunting?: Dari Uji Publik Calon Pemimpin Bali di Undiksha

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co